Andalan
Diposkan pada chapter, Romance, SUPER JUNIOR, Tak Berkategori

IMMOLATION 2END

IMMOLATION [2 end]

 immolation end

 

Title      : IMMOLATION [Twoshoot]

Author : LinaElf144

Cast :

  • Song Hyera
  • Lee Hyukjae
  • Lee Donghae

Other Cast :

  • Cha Min Seo

Category : School life, Sad romance, Little comedy.

 

—Happy Reading—

 

1 hari sebelum keberangkatan..

 

Rambutnya berkibar diterpa angin yang tercipta karena Lee Hyukjae yang ugal-ugalan mengendarai motor sportnya. Apa namja ini ingin balas dendam padanya karena insiden wahana mematikan tempo hari ?. Lagi-lagi Hyera menggeram kesal saat dengan tak berperasaan namja monyet ini menarik rem mendadak membuat kepalanya membentur punggung Hyukjae. Jika saja akalnya sudah terbang terbawa angin, saat itulah ia memantapkan hati memukul kepala orang ini sekeras yang ia bisa. Urusan sakit tidaknya itu belakangan.

Belum 3 detik ia membenarkan posisi duduknya, lampu traffic berubah warna menjadi hijau. Seperti sebelumnya, Hyukjae memacu motornya dengan kecepetan laju di atas normal. Dalam hati Hyera merapal segala macam doa. Tuhan, besok adalah hari keberangkatanku. Tolong lindungi aku dari ulah gila Lee Hyukjae. Pelukannya mengerat di area pinggang Hyukjae saat namja gila itu meningkatkan kecepatan berusaha mendahului truck barang yang berada di depan mereka. Astaga, aku masih menyayangi nyawaku. Selamatkan kami. Terus seperti itu hingga 5 menit kemudian mereka sampai di tujuan.

“Kau tidak ingin turun ?” Hyera bertahan pada posisinya memeluk Hyukjae dengan mata terpejam. “Yakk Song Hyera, buka matamu dan cepat turun. Kau menarik banyak perhatian jika terus seperti ini.” Saat itulah telinganya bekerja dari kadar normal. Hyera mendengar bisikan orang-orang yang melintasi mereka. Kelopaknya terbuka cepat. BANG !!. Burung yang melintas di atas kepalanya seolah ikut menertawakannya sekarang.

“Yakkk.. kenapa tidak mengatakannya sejak tadi ? Kau ingin membuatku malu ha ?” Hyera menekan sangat dalam suaranya hingga hanya mereka berdua saja yang bisa mendengarnya.

“Kebiasaanmu menyalahkan orang itu harus kau hilangkan. Bahaya saat kau di negeri orang.” Hyukjae melepas helmnya, merapikan tatanan rambutnya yang ia biarkan jatuh menutupi dahi putihnya. “Cepat turun. Aku sudah sangat terlambat Ra-ya.” Hyera berhasil menapakkan ujung sepatunya ke permukaan tanah.

“Heol. Kau berkendara seperti angin tornado, masih yakin terlambat ?. Ini bahkan masih jam 8 Lee Hyukjae. Kuingatkan jika kau lupa melihat jam tadi.” Hyera berceloteh sambil melepas helmnya. Sementara lawan bicaranya hanya menatap iba melihat penampilan putri semata wayang Tuan Song itu. Beruntung tempat parkir tak seramai tadi, setidaknya gadis itu tak akan menahan malu berkepanjangan karena penampilan awut-awutannya saat ini. Bisa mati muda –Hyukjae- jika sampai Hyera tau keadaan rambutnya saat ini. Ide yang bagus untuk menjauhkan diri secepatnya sebelum Hyera menyadari akibat dari ulahnya berkendara tadi.

“Ra-ya, aku harus menemui pihak panitia terlebih dulu. Kita bertemu dilantai 3 setelah kau selesai dengan urusanmu.” Hyukjae meraih tas gitar yang masih tergantung di pundak Hyera. “Heheheh annyeong.” Melambaikan tangannya dengan cengiran aneh yang membuat Hyera mengerutkan dahi.

“Arraseo, cepat selesaikan urusanmu. Kita tidak punya banyak waktu eoh.” Hyukjae bergegas melarikan diri memasuki gedung utama agency terbesar di Seoul itu. Percayalah, saat ini waktu yang tepat untuk lari daripada dihabisi Hyera saat gadis itu menyadarinya. “Aishhh.. namja aneh itu. Agensi ini juga aneh karena menjadikannya trainee.” Kakinya mulai melangkah hendak meninggalkan area parkir, jika saja bukan karena jendela yang terpasang di sisi kirinya sudah pasti dirinya masuk ke lobi SM. Disana, kaca bening itu menampilkan sosok yeoja dengan penampilan yang amat mengerikan. Meski samar namun Hyera cukup pintar menangkap siapa yang terpantul di kaca jendela itu.

“LEE HYUKJAE KUBUNUH KAU !!!!”

 

®IMMOLATION®

 

5 menit.. 6 menit.. 6 menit setengah.. hingga 10 menit dirinya menunggu kedatangan namja pembuat masalah itu. Namun kenyataannya namja itu menghilang seperti tertelan bumi, sungguh menyebalkan. Hyera menekan layar ponselnya penuh emosi, mencoba menghubungi Hyukjae. Tersambung tapi namja monyet itu tak menjawabnya. Hyera kembali mencoba peruntungannya berharap Hyukjae mengangkatnya kali ini karena kesabarannya sudah mulai habis. “Jangan coba-coba lari dariku monyet tengil. Akan kupastikan kau menyesali perbuatanmu ini huh.” Dalam hati ia mulai menghitung. Hana.. Dul.. Set.

“Yeoboseyo.”

“YAKK..” Hyukjae menjauhkan ponsel itu dari telinganya begitu lengkingan suara Hyera memekakan telinganya. Kepalanya pusing seketika. Apa kabar dengan gendang telinganya ? Terluka mungkin.

“Ingat tempat Song Hyera. Kau berteriak ditengah keramaian.”

“Jangan mengalihkan topik Lee Hyukjae, karena usahamu itu sia-sia. Lebih baik kau segera turun sebelum kesabaranku benar-benar habis.”

“Anio. Kau terlalu menakutkan untuk ditemui sekarang. Aku masih ingin melihat matahari terbit besok.” Ucapnya sakratis. Hyukjae memperhatikan gerak gerik Hyera dari balik pilar besar di lobi. Sebenarnya sudah sejak 5 menit yang lalu ia bertahan di posisi yang sama. Enggan menampakkan diri.

“Hyukjae-ah.” Suara Hyera berubah lembut terkesan manja saat memanggil namanya. Tapi justru terdengar menakutkan saat menyapa gendang telinganya. “Waktumu hanya 10 detik. Jika kau tidak muncul ma-”

“Aku disini.” Kepalanya menoleh ke samping. Song Hyera, gadis itu berjalan pelan mendekati Hyukjae. Menyingsing lengan bajunya dengan pandangan terkunci pada satu objek yang tersenyum bodoh di depan sana.

“Awalnya aku berpikir untuk pergi denganmu sampai matahari terbenam. Tapi aku merubah rencana awal karena ulahmu.” Tutur Hyera dengan tangan bersedekap di depan dada. Menatap sebal sosok tinggi di depannya.

“Salahkan pihak penyelenggara yang terlalu berbelit menjelaskannya. Aku sudah mengerti tapi mereka mengu-” Ucapannya terhenti begitu jari telunjuk Hyera menyentuh bibirnya. Memberinnya isyarat untuk diam.

“Tidak ada alasan Lee Hyukjae. Kau membuatku bangun lebih pagi di hari libur. Memaksaku menyentuh air dingin, menculikku dari rumah bahkan sebelum aku sempat menyentuh sarapanku. Membuatku malu di tempat parkir, menghancurkan riasanku. Dan baru saja kau membuatku menunggu seperti keledai dungu selama hampir 30 menit. Wuahhh lengkap sudah rencana balas dendammu.”

“Nona Song Hyera, akan kuluruskan beberapa hal disini. Pertama, ini bukan hari libur karena nyatanya ini justru awal pekan. Aku memberimu cukup waktu untuk menyiapkan air hangat, keurigo jangan limpahkan salah angin padaku yang membuat riasanmu hancur. Kau menghitung 30 menit sejak kita sampai disini, faktanya aku membuatmu menunggu hanya 15 menit Ra-ya. Dan untuk masalah sarapanmu aku minta maaf.” Keduanya saling menatap sengit. Sama-sama tak terima di salahkan. Dua orang yang keras kepala sedang bertemu.

“Jadi kau menyalahkanku ?”

“Anigoden.”

“Apanya yang tidak ?. Barusan kau menyalahkanku monyet tengil.”

“ARGHHH.. molla.” Jengah, Hyukjae meninggalkan Hyera di tengah lobi. Kepalanya akan pecah jika terus berdebat dengan gadis itu. Solusi terbaik jika kau punya teman macam Song Hyera, lebih baik jangan cari masalah dengannya. Sekecil semutpun jangan pernah, bisa panjang urusannya. Malangnya nasib Hyukjae, karena hatinya justru berlabuh pada yeoja yang kini berlari mengejarnya itu.

Keduanya berjalan menuju tempat parkir berteman dengan diam. Harga diri mereka terlalu tinggi untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Dalam situasi seperti ini Hyera-lah yang lebih dirugikan. Kurang dari 24 jam dirinya akan segera meninggalkan tanah kelahirannya. Bisa dibilang ini adalah hari terakhirnya menikmati hiruk pikuk kota Seoul sebelum menetap di negeri orang selama 3 tahun lamanya. Langkahnya kian memelan seiring dengan detik jam yang ia sadari terbuang sia-sia. Kilat amarah yang beberapa menit lalu terpancar di matanya kini berubah menjadi tatapan sendu. Kaki pendeknya berhenti melangkah, hingga hanya punggung Hyukjae yang menjadi objek pandangnya kali ini.

Punggung itu menyimpan banyak kenangan untuknya. Kilasan memori kebersamaannya dengan Hyukjae berputar memenuhi otaknya, terulang kembali di depan mata seolah dirinya kembali ke masa itu.

“Aigoo punggungku.”

“Yakk, aku tidak seberat itu eoh. Jangan bercanda.” Hyera mengeratkan lingkaran tangannya di leher Hyukjae. Menyandarkan kepalanya di pundak Hyukjae, menikmati semilir angin sore kala itu.

“Tidak cukupkah kau menyiksaku dengan badanmu. Apa kepalamu juga ingin menyiksa pundakku ?”

“Ide bagus. Hal yang paling ku suka adalah menyiksamu Lee Hyukjae.” Hyera menggerak-gerakkan kepalanya mencari posisi ternyaman di pundak Hyukjae. “Cheotta.” Matanya terpejam dengan posisi wajah yang menghadap ke arah Hyukjae, membuat jantung namja itu melompat kesana kemari di dalam sana. Sebenarnya bukan masalah berat tidaknya, yang jadi masalahnya adalah kerja jantungnya yang seperti turbin berkekuatan super.

Hyukjae memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan. Mencoba memfokuskan kembali otak dan kesadarannya untuk tidak terpaku pada pemandangan di samping kanannya. Sore itu mereka melakukan sedikit olahraga ringan di taman dekat kompleks rumah, tempat yang biasa mereka gunakan untuk lari pagi. Naas, terjadi insiden kecil saat gadis ceroboh itu berusaha memanjat pohon karena tak tega pada seekor burung kecil yang tersangkut di ranting pohon. Alhasil, kakinya salah mengambil pijakan dan jatuh dari ketinggian 3 meter. Kalau seperti ini siapa yang repot ?.

“Omooo…” di tengah ketenangan yang menyelimuti, Hyukjae dibuat kaget saat Hyera tiba-tiba berteriak.

“Wae ? Wae ?. Kakimu sakit ?” berbeda dari raut cemas yang seluruhnya terpancar di wajah Hyukjae, mata almond itu justru menatap kagum jauh ke depan. Menatap langit sore dengan perpaduan warna orange-biru, begitu indah untuk dilewatkan.

“Hyuk-ah, kita berhenti sebentar disana. Aku ingin melihat sunset.” Tak menghiraukan pertanyaan Hyukjae, gadis itu justru memberikan arahan lain. Hyera mengarahkan jari telunjukkanya ke salah satu kursi taman di pinggir sungai.

“Ani.”

“Heol. Itu tidak akan lama Hyuk-ah. Jebal hmmm ?” Hyera memasang aegyo, berharap Hyukjae akan luluh karenanya. Sayangnya, dewi fortuna sedang tak berpihak padanya. Namja itu tetap melanjutkan langkah melewati kursi yang ditunjuknya tadi. “Yakk..”

“Ani Ra-ya. Kakimu bengkak dan harus segera diobati. Kita bisa melihatnya lagi besok.” Keputusan Hyukjae sudah bulat. Dengan wajah murung, kepalanya kembali bersandar nyaman di pundak Hyukjae.

“Ku anggap itu sebagai janji Lee Hyukjae. Call ?”Mengangkat tangan kanannya, menawarkan jari kelingking untuk membuat janji.

“Call.” Keduanya saling bertukar senyum manis. Bagi sebagian orang asing, besar kemungkinan mereka akan berpikir bahwa keduanya adalah sepasang kekasih yang tengah menikmati waktu kencannya. Siapa yang akan berpikir bahwa sebenarnya mereka hanya pasangan ‘debat’. Bertengkar sudah menjadi agenda rutin bagi mereka. Lee Hyukjae dan Song Hyera sudah seperti kutub utara dan selatan yang tak pernah menemukan mufakat. Tapi ada kalanya mereka berdua terlihat begitu manis saat bersama, seperti saat ini misalnya.

Siapa yang tahu kenyataan hati masing-masing. Meski sering mendebat dan terkesan acuh, hukum alam mengantarkan hatinya untuk berlabuh pada yeoja di gendongannya ini. Hyera selalu bersikap kasar padanya, berlaku seenaknya sendiri tapi hatinya –Hyukjae- seolah buta akan semua itu. Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu buta.

Perasaan apa yang tengah menyapa hatinya saat ini ?. Ingatan itu kenapa membuat hatinya menghangat ?. Bagaimana bisa ?. Matanya masih memperhatikan objek yang sama, punggung Hyukjae yang semakin menjauh darinya. Keadaan berubah senyap, seakan hanya ada mereka berdua disana. Saat itulah ia mampu mendengar degup jantungnya. Kian cepat, kian keras bersamaan dengan kenangan lain yang berkelibatan di kepalanya.

Di malam natal, Hyera yang ketakutan saat itu refleks memeluk Hyukjae dari belakang saat lampu di rumahnya mati. Tak lepas dari fakta dirinya yang takut gelap membuatnya memeluk namja itu begitu erat, bahkan enggan melepasnya hingga lampu benar-benar menyala tak berselang lama setelahnya. Lalu berganti ke memori lain di malam valentine, 2 bulan yang lalu. Saat itu mereka berempat memutuskan untuk pergi bersama ke wahana ice sky di dekat Namsan Tower. Dirinya bukanlah pemain yang handal, maka dari itu sepanjang permainan Hyera berpegang pada pinggang Hyukjae dan mengikuti kemanapun namja itu menggiringnya. Seperti anak ayam yang mengikuti induknya.

Mengingat semua itu membuat hormon dalam tubuhnya memanas hingga berujung pada matanya yang berkabut. Kenapa ia begitu sedih mengingat perpisahannya dengan namja aneh itu ?. Pertanyaan itu yang menguasai kepalanya sejak 3 hari yang lalu. Hyera hanya bisa meyakinkan dirinya bahwa kesedihannya ini hanya karena persahabatan mereka. Ya, sejauh ini ia membatasi pikirannya hanya sampai batas itu.

“Ra-ya.” Panggilan Hyukjae membuat lamunannya buyar, matanya berkedip hingga setetes air mata tumpah membelah pipinya. Layaknya bocah umur 10 tahun, Hyera berjalan menghampiri Hyukjae dengan punggung tangan mengusap tumpahan air mata di wajahnya. “Kau menangis ?”

“Nde ?. Ahh aniya. Tadi angin berhembus terlalu kencang membuat mataku perih. Itu sebabnya mataku sedikit berair.” Kilah Hyera. Mau ditaruh mana wajahnya jika sampai Hyukjae tahu ia menangis karena mengingat kenangan mereka. Lebih baik ia lompat dari pohon daripada harus mengakuinya.

“Gadis ceroboh, jika angin kencang datang seharusnya kau menutup matamu.” Hyukjae beringsut turun dari motornya. Menangkup wajah Hyera, menelisik ke arah mata beningnya. Hyera mengedipkan mata berulang kali, seolah mengatakan bahwa matanya benar-benar perih karena kemasukan debu. “Chankamman.” Hyera terdiam menunggu hal apa yang akan Hyukjae lakukan.

Di luar dugaannya, Hyukjae justru mendekat dengan wajah yang semakin condong ke depan. “Apa yang kau lakukan monyet tengil ?.” Hyera menahan pergerakan Hyukjae dengan menempatkan kedua tangannya di dada Hyukjae. Mendorong tubuh itu ke belakang. Tak bertahan lama, Hyukjae justru mencekal tangan Hyera dan kembali mencondongkan tubuhnya.

“Diamlah.” Hanya sebatas itu Hyukjae bicara. Tak ingin menjelaskan apa yang akan ia lakukan pada Hyera. Posisi mereka saat ini membuat Hyera berspekulasi ke arah lain. Semacam, mencium.

Hingga pikiran anehnya itu terpatahkan oleh sapuan angin lembut yang bertiup dari mulut namja di depannya ini. Bagaimana bisa kau berpikir bahwa Hyukjae akan menciummu ?. Hatinya berteriak menertawakannya. “Bagaimana rasanya ?” Pertanyaan ambigu yang Hyukjae lontarkan berhasil membuat Song Hyera kelimpungan berpikir keras. Bukan jawaban tetapi lebih kearah maksud di balik pertanyaan itu.

“Mwoya ?” berakhir dengan pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulutnya. Kepalanya seperti tempurung kosong yang tidak bisa berpikir jernih kali ini. Salahkan Lee Hyukjae yang membuat otaknya kehilangan fungsi karena ulahnya.

“Aku bertanya bagaimana rasanya ?. Apa masih perih atau sudah baikan Ra-ya.” Barulah ia tahu yang Hyukjae maksud tak lain adalah matanya.

“Gwenchana. Sudah lebih baik.” Jawab Hyera dengan mata yang berkeliaran ke arah lain. Menghindari kontak langsung dengan Hyukjae.

“Sepertinya kau memikirkan hal lain. Machi ?”

“Aniyo.” Sangkal Hyera cepat. Tingkahnya ini justru membuat Hyukjae memicing curiga.

“Kau tidak berpikir bahwa aku akan menciummu bukan ?” begitu Hyukjae menyelesaikan kalimatnya tersebut, Hyera membuang pandang ke segela arah. Menyapu semua arah yang terbebas dari mata sipit Hyukjae.

“Awww pogepo. Kau tidak dengar suara perutku ?. Ishhhh.. kita harus segera pergi. Sebentar lagi jam makan siang, Kajja.” Rupannya kau memang berpikir bahwa aku akan menciummu Ra-ya. Kau mengalihkan pembicaraan. Dasar pembohong ulung. Hyukjae bergerak menaiki motornya dengan senyum geli di wajahnya. Sementara Hyera merutuki kebodohannya dengan menunjukkan kegugupannya di depan Hyukjae. Sudah pasti namja ini tahu bahwa ia bohong tadi. Sialan kau Hyukjae. Rutuknya.

“Kau tidak ingin naik ? Kukira perutmu berteriak kelaparan tadi.” Dengan tawa garingnya Hyera memenuhi jok belakang motor sport keluaran terbaru koleksi Hyukjae itu. Tubuhnya duduk tegap di belakang tanpa ingin berpegangan pada Hyukjae seperti saat mereka berangkat tadi pagi. Melihat hal itu, Hyukjae tak kehabisan akal. Begitu sampai di tikungan pertama, ia menambah kecepatan laju motornya membuat Hyera melingkarkan kedua tangan di pinggangnya.

“Yakkk.. kau ingin mati eoh ?. Maaf saja Lee Hyukjae, aku masih ingin menghirup udara besok pagi.” Omel Hyera.

“Upsss sorry.” Jawab Hyukjae dengan aksen yang dibuat-buat. Biarlah hari ini akan lebih banyak perdebatan diantara mereka. Setidaknya ia bisa menikmati saat-saat terakhirnya dengan Hyera sebelum matahari kembali terbit esok hari dan membunyikan lonceng di kepalanya, mengingatkan waktunya telah berakhir kala itu.

‘Saat itu pula akan kupastikan semuanya benar-benar berakhir Ra-ya. Mian jika ini akan menjadi hadiah kepergianmu. Percayalah padaku.’

 

®IMMOLATION®

 

Saat-saat terakhir memanglah moment yang paling berkesan meski faktanya tak banyak hal yang mampu dilakukan karena hati dan pikiran yang resah gelisah memikirkan perpisahan yang tak lama lagi akan datang. Seperti yang dirasakan namja berambut coklat itu. Mengingat tak banyak waktu yang tersisa, namja dengan julukan ‘monyet tengil’ itu menyibukkan diri merekam senyum serta tawa Hyera di dalam otak dan juga hatinya. Layar lebar yang menampilkan film bergenre sad romance di depan sana sudah tak lagi menarik perhatiannya sejak 5 menit film itu diputar. Seluruh fokusnya tercurah penuh untuk Hyera yang anteng di sebelah kanannya. Gadis itu begitu menghayati film yang tengah mereka tonton saat ini membuatnya tak sadar telah menjadi tontonan tersendiri bagi Hyukjae sejak tadi. Baguslah.

Saat matanya terfokus pada layar lebar di depan sana, tangan kirinya bergerak menggapai-gapai kotak popcorn di samping tubuhnya. Kepalanya hampir menoleh saat tak kunjung mendapat popcornnya, namun terurungkan karena tangannya yang lebih dulu menemukan makanan berbahan dasar jagung itu. Pergerakannya sejak tadi tak lepas dari tatapan intens Hyukjae disana. Bodohnya, Hyera yang sudah fokus ke depan sehingga tak menyadarinya.

Beberapa menit berselang, film berjudul 7 Days itu mencapai klimaksnya. Isakan mulai tertangkap oleh daun telinganya, bukan dari film yang mereka tonton melainkan dari mulut penontonnya. Astaga, apa mereka semua menangis karena sebuah adegan film ?. Ckckck.. Konyol. Hyukjae membatin dengan kepala menggeleng tak habis pikir. Merasa bahwa penonton disini bertingkah berlebihan, belum sadar dengan reaksi gadis di samping kursinya. Hingga kepalanya menoleh dan mendapati pemandangan tak jauh beda disana. “Sudah kuduga.” Ucapnya.

“Hyuk-ah… hiks.. hiks..” Yang dipanggil hanya menghela nafas malas dengan bola mata berputar.

“Wae ?” Jawab Hyukjae malas-malasan. Seharusnya kau tau bahwa gadis itu akan bersikap berlebihan. Tak jauh beda dengan mereka semua. Apa bagusnya adegan itu sampai membuat mereka menangis tersedu ?. Toh itu hanya rekayasa bukan kenyataan yang patut untuk ditangisi. Jika kalian menyangkal dengan mengatakan perasaan yeoja itu lebih peka daripada namja. Itu tidak salah, tapi tetap saja. Itu hanya rekayasa si penulis dan kepiawaian aktornya dalam mendalami karakter. Selebihnya mereka hanya bersandiwara.

“Bisa ambilkan tisu di dalam tasku ?” Pinta Hyera dengan suara serak khas orang menangis. Namja itu bisa apa selain menurutinya. Dengan malas, Hyukjae mengaduk-aduk isi tas Hyera mencari sekotak tisue yang entah sejak kapan berada disana. Sempat terpikir di kepalanya, Hyera sudah merencanakannya sejak pagi tadi. Pantas saja gadis itu bersikeras memilih film ini bahkan sebelum mereka sampai di bioskop sore tadi. “Gomawo hiks.. hiks.” Hyera menarik beberapa lembar tisue, menggunakannya untuk mengelap air mata serta ingus yang keluar dari lubang hidungnya.

“Aigooo..” Hyukjae menempatkan jari telunjuknya ke pelipis Hyera, mendorongnya hingga wajah itu bergerak ke sisi lain. “Jangan tunjukkan ingusmu padaku. Menjijikan Ra-ya.” Hyera justru tak ambil pusing dengan ucapan Hyukjae yang bagi sebagian banyak yeoja akan menjatuhkan harga dirinya. Gadis itu kembali menekuni filmnya, kembali mengacuhkan namja di samping kirinya.

“Melihatmu seperti ini membuatku penasaran. Apa kau juga akan menangis jika aku mengalami kecelakaan dan sekarat seperti adegan barusan ?” Bukannya mendapat jawaban, justru pukulan keras yang Hyera layangkan ke kepala Hyukjae.

“Jangan bicara yang tidak-tidak. Tidak akan terjadi apa-apa padamu.” Setelah mengatakan hal sedemikian rupa, Hyera kembali anteng di kursinya. Hanyut untuk kesekian kalinya pada alur cerita dari sebuah film yang menurut Hyukjae sangat membosankan itu.

“Aku hanya penasaran. Cukup mulutmu saja yang menjawabnya, kenapa tanganmu ambil bagian.” Hyukjae menggerutu sambil mengelus kepala bagian belakang, terasa nyeri akibat pukulan Hyera barusan. Gadis ini tidak bisa dianggap remeh. Tak ada kesan feminimnya sama sekali.

30 menit berlalu saat layar lebar di depan sana menampilkan sederet kalimat yang menunjukkan bahwa film membosankan itu telah berakhir. Dari sekian banyak orang yang memenuhi kursi, hanya Hyukjae seorang yang merasa sangat senang bisa keluar dari ruangan luas yang entah kenapa justru membuatnya sesak dan mati bosan. Lalu bagaimana kabar Hyera ?. Jangan tanya karena kalian tahu jawabannya. Gadis itu masih terbawa suasana mellow. “Kau benar-benar menggelikan Song Hyera. Berhentilah menangis, kau membuat semua orang berpikir bahwa aku namja brengsek yang mencampakkanmu.” Saat matahari kembali ke peraduannya, percayalah bahwa saat itu adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi bioskop. Wajar jika Hyukjae merasa risih saat begitu banyak pasang mata memperhatikan mereka. Lobi bioskop yang awalnya senggang kini penuh dengan pengunjung. Kau harus merelakan wajahmu terekspos lebih dulu sebelum debut Lee Hyukjae.

“Apa hatimu sama sekali tidak tersentuh ?” Tanya Hyera sambil mengusap sisa air mata di pipi kanannya.

“A-N-I-Y-A. Cih, cerita membosankan seperti itu bagian mananya yang menyentuh.”

“Hatimu saja yang seperti batu. Kau mana bisa berkorban demi orang yang kau sayang.” Ungkapan Hyera berhasil menghentikan langkah kakinya seketika. Orang yang ku sayang ?. Bola matanya tertuju pada sosok yeoja kuncir kuda yang kini berada di depannya.

eunhyuk-cxyp9-7u0aebntv

“Aku bahkan rela mengorbankan segalanya untuk melihatmu tersenyum. Jika kau tertawa bersama orang lain, maka aku yang akan mengalah.” Namja itu hanya mampu tersenyum kecut. Ia tahu resiko memendam rasa akan seperti ini jadinya. Terlebih di lubuk hatinya yang paling dalam muncul rasa takut akan sebuah penolakan. Hal inilah yang membuatnya ragu dan semakin ragu untuk mengungkapkan perasaannya. Kurang dari 15 jam, si penguasa hatinya itu akan pergi jauh. Jika ia melewatkan 15 jam sisa waktunya, sebut saja ia pengecut. Lee Hyukjae bertekad mengungkap semuanya esok.

Terlepas dari apapun respon yang akan Hyera tunjukan besok. Ia hanya mampu menyiapkan mental. Selama 3 hari mereka menghabiskan waktu bersama, jujur Hyukjae kadang menemukan satu hal yang berbeda dari cara pandang dan perlakuan Hyera padanya. Tapi satu hal itu bukanlah sesuatu yang patut ia jadikan patokan. Perasaan Hyera padanya begitu samar atau bahkan terlalu abu untuk ia lihat. Ya sudahlah, untuk besok kita pikirkan besok. Sekarang, nikmati saja.

“Kau darimana saja ?”

“Tali sepatuku lepas. Jadi aku mengikatnya dulu tadi.” Good think Lee Hyukjae. Hyera sibuk ber’o’ria sampai pada Hyukjae yang kembali membahas topik tersensitif untuknya hari ini. Monyet ini tak pernah bosan cari masalah dengannya.

“Aku berani bertaruh. Kau tidak akan menangis saat aku yang berada di posisinya.” Ujar Hyukjae yang mengarah pada aktor dalam film tadi. Bertumpu pada adegan si aktor mengorbankan nyawanya untuk melindungi sang kekasih saat sebuah truck melaju kencang ke arahnya.

“Kita sudah membahasnya tadi, dan jawabanku teramat jelas untuk kau pahami.” Ketus Hyera, seiring langkah kakinya yang bertambah cepat menuju area parkir. Ia benci saat Hyukjae membahas masalah ini, lebih tepatnya saat Hyukjae membahas kecelakaan yang mungkin saja menimpanya. Jujur itu membuatnya dihinggapi rasa khawatir. Orang tua sering bilang bahwa ucapan adalah doa tidak langsung yang terucap tanpa sadar. Terhitung sudah dua kali namja bodoh itu mengungkit hal yang sama.

Hyukjae tahu Hyera marah padanya, namun terkadang otaknya itu perlu diasah lagi untuk lebih peka pada sekitar. Hyukjae adalah tipe namja yang payah dalam mengerti perasaan yeoja. Namja semacam Lee Hyukjae itu sulit menangkap maksud di balik kalimat Hyera. Jadi sejauh ini, dirinya hanya mengartikan bahwa Hyera muak membahasa masalah adegan film yang berpotensi membuatnya kembali menangis. Sekarang siapa yang kolot Lee Hyukjae.

Saat keduanya semakin dekat dengan area parkir, Hyukjae menyadari ada hal yang kurang pada dirinya. Dari sini ia bisa melihat motor sport warna putih dengan aksen hitam di kedua sisinya. Itu jagoannya. Seperti dilempar bata tepat di kepalanya, Hyukjae mengingat satu hal. “Pabbo. Bagaimana bisa aku melupakan jaketku.” Hyukjae berniat menegur Hyera tapi melihat cara berjalan gadis itu yang menghentak-hentak tanah. Ohh lebih baik mengabaikannya saat ini. Hyera bukan tipe gadis manis. “Aku tidak akan lama Ra-ya. Bersabarlah.” Bisiknya pada angin malam dengan harapan pesannya bisa tersampai hingga daun telinga yeoja di depan sana. Memutar kakinya berbalik arah kembali ke dalam, keduanya kini saling membelakangi.

“Awas saja jika sampai dia membahas masalah ini lagi. Ku sumpal mulut cerewetnya itu dengan tisue.” Setiap langkah yang ia ambil tak jauh-jauh dari yang namanya menggerutu. Hyera belum sadar jika Hyukjae berbalik arah. Hingga debuman keras dari belakang tubuhnya membuat yeoja itu refleks menutup telinga dengan jeritan kaget.

Degup jantungnya bertambah keras hingga mampu tertangkap oleh telinga. Nafasnya memburu entah kenapa dan tubuhnya ia paksa berbalik dengan sekujur tubuh yang bergetar. Matanya melebar saat mengetahui di depan sana sebuah mobil sedan menabrak pohon besar yang tumbuh rindang di depan pintu masuk bioskop. Seketika kepalanya dipenuhi nama Hyukjae. Kemana namja itu ?. Hyera menyapukan arah pandanganya ke sekitar berharap menemukan siluet tubuh Hyukjae. Memastikan bahwa namja itu baik-baik saja dan hatinya kembali tenang. Sialnya ketika pemikiran tentang ucapan Hyukjae beberapa saat lalu membuat tingkat kecemasannya melambung sampai ubun.

“Hyukjae-ah keumanhae. Kali ini bercandamu tidak lucu jadi cepat keluar.” Berharap Hyukjae tengah bersembunyi di suatu tempat untuk mengerjainya seperti yang pernah namja itu lakukan dulu. “Lee Hyukjae.. ku peringatkan kau. Cepat keluar.” Kakinya serasa lemas, Hyukjae tak kunjung menampakkan dirinya. Matanya bahkan mulai berkabut dengan segala macam kemungkinan buruk yang terjadi memenuhi kepalanya.

Dengan sisa keberanian, kaki gemetarnya berjalan mendekat ke kerumunan orang di depan sana. Bau amis dari darah segar mulai menyeruak masuk ke dalam hidungnya membuat nyalinya kian menciut. Ia tak sanggup. “Ani. Kau pasti berada di suatu tempat karena bersembunyi.” Ketakutan dan rasa cemas yang membuncah di hatinya membuat liquid bening di dalam kelopak mata almondnya tumpah membelah pipi chubby-nya. Tiba saat dirinya berusaha menyelinap masuk lewat celah yang ia temukan diantara kerumunan di depan sana, mencoba mencari tahu keadaan korban. Tangan lain mencekal tangannya, hingga niatannya terhenti.

“Apa yang kau lakukan ?” Saat itulah Hyera merasa ikatan erat yang melilit dadanya terlepas. Ia bernafas lega saat wajah cemas Hyukjae memenuhi pandangnya.

“Neo gwenchana. K-ku kira k-kau..” Hyera sesenggukan menumpahkan air matanya. Hyukjae yang melihatnya sedikit heran dengan pikiran yang menerka. Apa yang terjadi pada Hyera ?.

“Sssstttt…” Hyukjae membenturkan kepala gadis itu ke dada bidangnya, mengusap surainya yang terikat dengan lembut. Menciptakan ketenangan. “Ulljima. Apa yang sebenarnya terjadi ?. Kenapa menangis hmm ?” Hyukjae bertanya dengan nada lembut bak kapas yang baru saja di petik dari pohonnya.

Sebelum menjawabnya, Hyera mengusap air matanya dengan kasar. Menarik kepalanya menjauh, menatap garang Hyukjae yang justru menatap teduh kepadanya. “Kau darimana saja ?. Kenapa pergi tanpa mengatakan apapun ?. Kau tau betapa cemasnya aku. Ku kira kau…” Hyera tak sanggup melanjutkan kalimatnya, kata-kata itu adalah doa. Yang terpenting sekarang, Hyukjae baik-baik saja itu membuatnya bersyukur. “Dwesseo.”

“Mian, aku meninggalkan jaketku di dalam. Jadi aku kembali untuk mengambilnya.” Jelasnya dengan tampang penuh penyesalan. “Ngomong-ngomong apa disana ada kecelakaan ?.” Bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan untuknya, Hyera memilih bungkam dan berlalu begitu saja kembali ke tujuan semula. Tempat parkir. “Yakkk… kenapa tidak menjawab pertanyaanku ?. Oddiya ?”

“Diamlah, aku sedang tidak ingin mengatakan apapun. Lebih baik kita segera pulang. Aku lelah.” Sebenarnya rangkaian kegiatan yang ia rancang hari ini belum selesai. Hanya saja keadaan tidak mendukung untuknya menghabiskan lebih banyak waktu malam ini. Setelah mendapat senam jantung karena namja monyet itu, tenaganya terkuras habis. Kakinya serasa mati rasa.

“Pulang ?. Kau yakin ?. Ini bahkan belum ada jam 7 malam.”

“Sangat yakin.”

“Shireo. Aku belum puas bersenang-senang.”

“Kalau begitu bersenang-senanglah sendiri. Aku tetap akan pulang.”

“Andwae. Berhenti disana.” Seperti robot yang dikendalikan, Hyera menuruti apa yang Hyukjae perintahkan. “Sejak tadi aku mengikuti kemanapun kau mengajakku pergi. Sekarang, aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat sebelum kita benar-benar pulang. Setidaknya kau pulang dalam keadaan kenyang Ra-ya. Karena jam makan malam sudah lewat, aku yakin ahjushi dan ahjumma sudah makan lebih dulu tanpamu.” Tak ada jawaban bahkan gerakan tubuh sebagai respon pun tidak. Hyera terdiam seperti patung di bawah langit malam. “Diam berarti setuju. Tunggu disana, aku akan segera kembali.” Hyukjae melangkah mendekati motor sportnya. Menaikinya bersama Hyera menuju suatu tempat yang sudah bersarang di otaknya sejak tadi sore. Ini malam terakhirnya di Seoul bukan ?. Jadi Sungai Han adalah destinasi yang wajib untuk mereka datangi malam ini.

 

®IMMOLATION®

 

Musim semi akan segera berakhir, pergantian bulan segera datang menyambut musim baru. Saat menikmati malam di tepi sungai tak akan pernah lepas dari angin yang berhembus kencang menerpa wajah. Itulah yang Hyera rasakan saat ini. Benda kasat mata itu tak tersentuh tapi begitu nyata ia rasakan membelai kulit putihnya hingga terasa ke tulang. Apa jadinya jika ia menolak ajakan Hyukjae tadi. Angin pergantian musim yang menenangkan seperti ini tak akan ia rasakan selama 3 tahun kedepan. Tak masalah jika harus kedinginan di hari terakhirmu memijak tanah kelahiran. Setidaknya kau harus membuat moment yang begitu membekas untuk di kenang bukan ?.

Tangannya bergerak mengambil setusuk Soondae yang mengepul dari tangan Hyukjae. “Emmm mashita.” Ungkapnya riang setelah berhasil mengambil gigitan besar di mulutnya. Jajanan hangat memang cocok di saat seperti ini.

Selesai dengan Soondae, Hyera beralih ke jajanan selanjutnya. Tteobeokki. Angin yang berhembus menyulitkannya untuk menikmati sepotong tteobeokki lezat itu karena beberapa helai rambutnya yang terlepas dari ikatan, terbang terbawa angin hingga menutupi wajahnya. “Hyuk-ah, bisa bantu aku merapikan ikatan rambutnya. Ini mengangguku.”

“Ohhh..” Hyukjae beringsut mendekat setelah berhasil memindahkan kotak tteobeoki miliknya ke sisi yang lain. Pertama ia melepas ikatan rambut Hyera yang sudah tak berbentuk, mengurai rambutnya untuk memudahkan dirinya mengumpulkan kembali rambut tebal Hyera ke dalam satu ikat. “Chankamman.” Hyukjae menahan gerakan tangannya yang hendak mengikat ulang rambut Hyera, melepas genggamannya sehingga rambut itu kembali tergerai indah.

“Wae ?” Menghiraukan pertanyaan Hyera, tubuhnya justru di balik paksa oleh Hyukjae hingga mereka berhadapan. “Waeyo ?. Ada yang salah dengan rambutku ?”

“Kesalahannya bukan pada rambutmu tapi pemiliknya saja yang bodoh.”

“Mwo ?” Setelah berhasil membangunkan setan pada diri Song Hyera dengan kalimat pedasnya. Namja pembuat masalah itu seolah acuh akan bahaya yang tengah mengintainya sekarang dan memilih menyambung kalimatnya.

“Percayalah, kau lebih cantik seperti ini.” Jika kalimat pertama membuatnya tersulut emosi hingga kehilangan nafsu makan, maka kalimat berikutnya justru membuat dadanya berdesir. Angin musim semi bertiup di dadanya. Menyejukkan.

“Apa maksudmu ?. Jangan menggodaku Lee Hyukjae. Itu sangat tidak menarik.” Hyera berusaha menguasai dirinya sendiri untuk tidak terlihat gugup di hadapan Hyukjae.

“Aku berkata sesuai fakta dan aku sedang tidak menggodamu.”

“Cih.. kau itu selalu membual. Bagaimana mungkin aku percaya ucapanmu. Aku tidak sebodoh itu monyet tengil.” Hyera mengalihkan fokusnya ke arah lain. Kemanapun asal tidak ke arah Hyukjae. Namja ini benar-benar membuatnya gugup. Nyatanya reaksi tubuh dan ucapannya barusan bertolak belakang.

“Bagaimana jika Donghae yang mengatakannya ?. Apa kau akan percaya ?” Satu nama berhasil membuat tubuhnya berubah kaku. Nama yang dengan susah payahnya ia lenyapkan dari ruang pikirnya dan juga ruang khusus di hatinya. Kini kembali mencuat hanya dengan satu kali sebut.

Sejak malam itu, Hyera tak pernah lagi bertemu dengan Donghae ataupun Min Seo. Tak ada niat. Hanya Hyukjae yang berada di dekatnya, menemani kemanapun ia pergi. Bisa dibilang Lee Hyukjae sudah seperti bodyguard dadakan untuknya, terlepas dari tingkahnya yang lebih banyak berulah dan membuatnya naik darah ketimbang melindunginya. Kehadiran namja ini sedikit banyak membantunya melupakan kesedihannya akan cinta sepihaknya. Tapi malam ini dengan bodohnya Hyukjae menyebut nama penuh sakral bagi seorang Song Hyera. Membuka luka lama yang mulai mengering.

Reaksi yang Hyera tunjukkan membuka mata hati Hyukjae. Sulit melupakan orang terkasih, terlebih lagi perasaanmu belum sempat tersampaikan padanya. Lee Hyukjae, namja itu menatap penuh kepedihan ke arah Hyera yang memandang lurus ke depan. “Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih Ra-ya.”

“Bagaimana kabarnya ? Apa hubungan mereka berjalan dengan baik ?” Sungguh di luar ekspetasinya. Tak pernah ia sangka pertanyaan itu yang justru muncul dari bibir cherry miliknya.

“Semuanya baik.” Jawab Hyukjae seadanya.

“Syukurlah.” Kenyataannya sekarang, ia tak mampu mengendalikan hatinya untuk bertingkah acuh pada mantan penunggu hatinya itu. Yang ia dapat hanya rasa sesak berkepanjangan jika bersikeras membodohi perasaannya sendiri. Maka dari itulah, gadis itu menyerah menekan hatinya.

“Kau tidak ingin mengatakan kebenarannya pada mereka ?. Bagaimanapun mereka teman kita Ra-ya.” Hyera menggeleng menegaskan jawabannya. Kepergiannya besok, hanya keluarga dan Hyukjae yang akan tahu perihal hal itu. Ia tidak ingin mengambil resiko berlarut-larut dalam kesedihan jika lebih banyak orang terdekat yang tahu.

“Semuanya tetap pada rencana awal.” Meninggalkanmu saja itu sudah sangatlah sulit Hyuk-ah. Perasaanku padamu membuatku ragu akan arti dirimu bagiku. Sebatas teman dekat atau ada hal lain ?.  Ungkapnya dalam hati.

“Jika itu keputusanmu. Baiklah.” Berwatak keras kepala, tidak akan pernah bisa dibujuk. Hyukjae mencoba mengerti dengan keputusan final yang gadis itu ambil. “Lanjutkan makanmu.”

“Kemarikan ikat rambutku.” Hyukjae menggeleng dengan tampang tak berdosanya. Menyembunyikan ikat rambut Hyera di balik tubuhnya.

“Sudah kubilang kau lebih cantik jika seperti ini.”

“Cantik tidaknya itu urusanku. Aku cantik sudah dari lahir.” Hyera berusaha menggapai kedua tangan Hyukjae yang tersembunyi di balik tubuh kekarnya. “Yakkkk.. jangan main-ain denganku eoh.” Teriaknya merasa kesal karena Hyukjae begitu gencar menyembunyikan ikat rambutnya saat dirinya sudah mulai risih karena rambutnya beterbangan akibat tiupan angin.

“Ambil saja kalau bisa.”

“Menantangku rupanya.” Keduanya bertukar tawa licik dengan tatapan saling meremehkan. Hyera meletakkan sumpit kayunya ke dalam kotak tteobeoki miliknya. Meniup beberapa helai rambut yang jatuh ke depan wajahnya sebelum mengambil ancang-ancang menyerang ‘monyet’ lepas di depannya ini. Sudah saatnya monyet kembali ke tempatnya. Batinnya berkata.

“Kemari kau Lee Hyukjae.” Hyukjae tak kehabisan akal. Saat Hyera mengambil langkah untuk menyerangnya. Posisi keduanya yang dekat dengan sungai memudahkannya untuk melempar ikat rambut itu kesana. Tepat sebelum Hyera mengambil langkah ke 2, ikat rambut itu sudah tenggelam lebih dulu ke sungai.

“Upsss.. Mian.” Begitulah akhir perjalanan mereka. Jika kalian membayangkan akhir yang damai dan tenang penuh suasana haru. Jangan berharap bisa menemukannya jika itu berkaitan dengan dua anak manusia berlainan jenis itu. Kalian tidak bisa memprediksi apa yang mungkin terjadi pada mereka berdua.

Puas bertengkar karena hal sepele, rasa lelah mulai merayap ke tubuh mereka. Keduanya memutuskan untuk segera pulang saat jarum jam berturut-turut menunjuk angka 8 dan 4. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke rumah. Meninggalkan hiruk pikuk kebisingan Seoul saat malam, suasana di kompleks rumah mereka cenderung lebih sunyi ketika malam. Bahkan beberapa rumah terlihat dalam keadaan gelap seolah tak berpenghuni, wajar saja karena mereka tinggal di kawasan elit Gangnam. Kebanyakan penghuni rumah menghabiskan malamnya di tempat kerja mereka atau bahkan lebih memilih apartement meski nyatanya rumah jauh lebih nyaman. Pemikiran orang berbeda satu sama lain.

“Hyuk-ah..”

“Hmm..” Yang dipanggil hanya berdehem sebagai respon. Melepas helm yang menutup hampir seluruh wajahnya, untuk kemudian menatap penuh ke arah Hyera yang berdiri di samping motornya.

“Gomawo, sudah menemaniku selama 3 hari ini. Keurigo mian karena membuatmu ketakutan tempo hari.” Hyukjae memutar otak hingga ingatannya merekam kejadian 2 hari lalu di Lotte World. Masalah wahana itu ya.

“Gwenchana. Bukan masalah besar. Sesekali hidup perlu tantangan.”

“Geurae. Kalau begitu saat aku kembali nanti, temani aku kesana.” Celetuk Hyera penuh semangat. Berbeda 180 derajat dengan lawan bicaranya yang mati gaya karena merasa salah memilih kalimat.

“Mwo ?. Shireo. Aku tidak akan naik wahana itu lagi, cukup sekali seumur hidup.”

“Ck.. dasar payah.”

“Terserah apa katamu.” Setelahnya tak ada lagi diantara mereka yang mengeluarkan suara. Nampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya berdiri di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Song, anteng menatap objek yang berbeda. Hyera yang lebih tertarik pada sepatunya dan Hyukjae yang terfokus pada jalanan di depan sana.

Longlongan anjing dari rumah megah di seberang sana cukup untuk mengagetkan mereka berdua. Seolah anjingpun tak suka dengan keheningan yang mereka ciptakan. Mau tak mau Hyukjae membuka suaranya. “Diluar sangat dingin. Masuklah.”

“Ohh.. kau pulanglah. Aku akan masuk saat kau tiba dirumah.” Rumah Hyukjae hanya berjarak 2 rumah dari kediaman Song. Dari sinipun gerbang kediaman Lee sudah bisa tertangkap oleh mata keduanya.

“Aishh.. mana bisa begitu. Aku harus memastikan kau masuk ke dalam. Baru aku akan pulang. Cepatlah masuk Ra-ya. Kau harus segera istirahat.” Meski rasanya berat tapi Hyera tak mampu membantah. Sedikit aneh memang seolah sarafnya mengikuti apapun yang namja itu katakan. Dirinyapun juga merasa asing dengan segala bentuk respon yang tubuhnya tunjukan seharian ini. Terlebih saat insiden di bioskop tadi. Rasanya jantung ini lompat dari tempatnya karena khawatir.

Ketika gerbang itu terbuka, langkahnya mendadak terhenti. Ada hal yang hampir terlupa untuk ia katakan pada orang di belakang sana. “Lee Hyukjae.” Suara rendahnya menggema memanggil nama Hyukjae. Namja itu masih bertahan di posisi yang sama, duduk di atas motornya.

“Wae ?. Kau melupakan sesuatu ?”

“Ani. Hanya ingin mengatakan satu hal.” Mengambil jeda sejenak untuk menghirup udara, menambah pasokan udara dalam paru-parunya yang terasa semakin menipis karena tatapan Hyukjae. Hey, kau tidak sedang gugup karena Lee Hyukjae menatapmu seperti itu kan Hyera ?. Sadarlah. “Besok… kuharap kau ikut mengantar kepergianku besok.”

Tak ada jawaban yang terdengar. Hyukjae hanya terdiam dengan raut wajah yang sulit diartikan. Menatap sayu padanya yang menanti dengan gelisah akan sebuah jawaban dari Hyukjae. Permintaanya sangat mudah, hanya memintanya untuk datang besok. Tidak akan lama jika mungkin Hyukjae sudah ada janji lain. Entahlah, tapi hatinya seakan menginginkan Hyukjae berada disana besok. Terbesit sebuah keinginan melihat wajah itu di hari terakhirnya menginjak bumi Seoul esok hari.

“Geureom. Aku akan datang besok.” Hal paling melegakan yang ia rasakan hari ini. Jawaban Hyukjae membuat sesuatu di dalam dirinya membuncah. Senyum itu tak ingin menyingkir dari wajah cantiknya. Hyera menutup mata kala malam dengan sebingkai senyum cantik menghias wajah. Besok akan menjadi hari yang bersejarah dalam hidupnya, ia harus menyiapkan mental untuk sebuah perpisahan.

Saat matanya mulai terpejam, hanya selang 3 detik kelopak itu kembali terbuka. Terbangun dari posisi berbaring untuk duduk di atas rajang queen size miliknya. “Mari kita berpikir Song Hyera.” Ucapnya pada diri sendiri. “Aku yakin ada yang aneh dengaku dan ini berhubungan dengan Hyukjae. Cha.. mari kita mengingatnya kembali. Kau begitu bersemangat saat bersamanya meskipun monyet itu selalu membuatmu marah, dan lagi akhir-akhir ini aku tidak pernah serius marah padanya disaat jelas-jelas Hyukjae bersikap menyebalkan.”

“Dan kenapa aku selalu berdebar dan gugup karena tatapannya ?. Heol.. sadarlah dia itu Lee Hyukjae si monyet tengil yang selalu cari masalah denganku.” Spontan tangan kanannya bergerak menampar pelan wajahnya. Siapa tahu otaknya sedang gesrek hingga mampu membuatnya berubah sejauh ini pada Hyukjae. “Sadarlah… Sadarlah Song Hyera.”

Kilasan-kilasan singkat wajah Hyukjae yang tersenyum padanya, menatap ke arahnya, memperhatikannya, mencemaskannya, semua macam jenis ekspresi dan tingkah Hyukjae terekam jelas oleh otaknya dan kini berputar cepat di dalam sana. “Mwo.. mwo.. mwoo. Kenapa aku justru memikirkannya ?” Hyera berulang kali memukul kepalanya, berharap otaknya yang cerdas ini kembali bekerja dengan benar. “Wahh aku benar-benar sudah gila.”

Kepalanya kembali mengingat kepingan-kepingan memori 3 hari terakhir saat mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Kini Hyera tak menggunakan otaknya untuk berpikir tapi ia memanfaatkan hatinya untuk merasakan. “Aku berhasil melupakan Donghae saat bersama Hyukjae.” Kesimpulan terakhir yang berhasil hatinya ungkap adalah.. “Seolma…” (Mungkinkah)

Aku menyukai Lee Hyukjae ?.

 

®IMMOLATION®

 

Bandara Incheon pukul 10 tepat, Hyera bersama dengan Tuan dan Nyonya Song duduk dalam diam di kursi tunggu. Satu jam lagi jadwalnya take off, gadis itu benar-benar risau sekaligus cemas. Sosok yang ia gadang-gadang akan datang di menit-menit terakhirnya justru tak menampakkan batang hidunya sama sekali. Kepalanya yang sejak tadi menunduk dengan raut wajah murung, mendongak saat dirasakannya sebuah tangan menyentuh pundaknya. “Tenanglah. Dia pasti akan datang.” Tuan Song yang mengerti kerisauan putrinya berusaha membuatnya tenang dengan kalimatnya. Meski ia sendiri juga tak yakin dengan yang ia ucapkan barusan.

Lee Hyukjae, namja itu pergi dari rumah pagi-pagi sekali setelah menyelesaikan sarapannya. Tanpa menjelaskan kemana tujuannya, Hyukjae belum memberi kabar sejak tadi. Saat Hyera dan keluarga datang ke rumahnya untuk berpamitanpun, Hyukjae belum kembali dari urusannya. Hyera berusaha menghubungi ponselnya tapi tak ada jawaban. Terhitung sudah 10 panggilan lebih dan 6 sms yang ia tujukan untuk Hyukjae sejak 1 jam yang lalu hingga sekarang belum ada notif balasan.

“Apa ada kabar kemana perginya anak itu ?” Suara itu adalah suara Tuan Lee Soo Man, appa Hyukjae. Bahkan kedua orang tua Hyukjae ikut mengantarnya hari ini. Kedua orang tuanya dan orang tua Hyukjae adalah teman semasa kuliah. Secara kebetulan mereka tinggal di kompleks yang sama saat keluarga Hyukjae pindah rumah 5 tahun yang lalu. Dan mereka baru mengetahuinya saat Hyukjae dan Hyera bertemu di SHS. Itu 3 tahun yang lalu.

Gelengan lemah dari sang istri membuat Tuan Lee menggeram kesal. Bagaimana bisa putranya pergi tanpa kabar di saat jelas-jelas temannya akan bertolak ke negeri orang dalam kurun waktu yang lama. Bukannya tidak tahu seperti apa hubungan dua anak remaja ini, Tuan Lee bahkan sadar perasaan tersembunyi putranya pada putri semata wayang Song Jong Ki itu. Jika ia boleh berkata, putranya itu sudah jadi namja pengecut selama ini karena menyimpan perasaannya sendiri tanpa ingin mengungkapnya. Bukan perkara sulit untuk mengetahuinya, terlepas dari fakta bahwa keduanya adalah ayah dan anak. Tuan Lee melihat jelas lewat sorot mata sang putra setiap mereka berada pada satu tempat yang sama dengan gadis manis itu. Lee Hyukjae tidak pandai menyembunyikan sesuatu.

“Yeobbo, teruslah mencoba menghubunginya.” Perintahnya pada Nyonya Lee. “Dia pasti akan datang nak. Tunggulah sebentar lagi.” Ujarnya pada Hyera yang nampak murung disana. Gadis itu terlihat memaksakan senyum menanggapi ucapannya.

Sejenak kita tinggalkan si kuncir kuda dengan perasaan abunya. Kita perhatikan hiruk pikuk jalanan Seoul yang tak pernah lepas dari kemacetan. Sejauh 4 km dari Bandara Incheon terlihat kemacetan panjang karena sebuah truck bermuatan berat terguling di persimpangan. Sejauh mata memandang, siluet motor sport warna putih milik Hyukjae terlihat begitu dengan pengendaranya. Namja itu terjebak di tengah kemacetan panjang, membuatnya mengumpat sejak 10 menit yang lalu. Matanya melirik jarum jam di pergelangan tangannya. “Shit !!.”

Tak ada waktu untuk menunggu lebih lama. Hyukjae melepas helmnya, menepikan motornya ke sisi kanan jalan dan berlari menuju bandara. Hanya akan ada penyesalan jika ia memaksa menunggu. Di tengah larinya, ia merasakan getaran pada ponselnya. Sambil terus berlari, tangannya merogoh benda pipih berwarna silver itu dari saku jaketnya. “Eomma.” Jawabnya dengan nafas tersengal karena sambil berlari. Ia masih harus menempuh jarak 4 km untuk sampai dan tak ada tambahan waktu baginya jika harus berhenti untuk sekedar menerima telpon.

“Kau dimana nak ?. Cepatlah kemari, kami semua menunggumu.”

“Tunggu sebentar lagi eomma. Aku akan segera sampai.”

-BIP-

Panggilan diputus secara sepihak oleh Hyukjae. Dalam hati ia mengucap maaf karena berlaku tak sopan pada ibunya. Tak ada pilihan lain karena jarak bandara masih jauh, ia akan kehabisan nafas jika berlari sambil menjawab telpon ibunya. Sampai ditempat parkir bandara, Hyukjae berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Sejauh 4 km ia berlari tanpa henti cukup membuat dadanya sesak kurang pasokan oksigen. Setelah dirasa cukup, ia melanjutkan kembali larinya masuk bandara. Langsung menuju ruang tunggu pemberangkatan.

Mulutnya mengutuk arsitek yang merancang bangunan ini. Kenapa menempatkan ruang tunggu di lantai dua. Batinnya menyalahkan. Eskalator yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua –tujuannya- cukup jauh dari pintu masuk. Hyukjae harus berlari ke balik tangga untuk menemukan eskalator. Dan akhirnya setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan.

Hatinya lega saat tubuh mungil itu memenuhi pandangannya. Gadis dengan jeans ketat warna putih dan kemeja biru langitnya yang melekat cantik di tubuhnya. Rambut yang selalu terkumpul dalam satu ikatan menyisakan beberapa helai yang lepas dan tergantung di kiri-kanan pelipisnya, membuat Song Hyera terlihat manis di setiap kesempatan. Wajahnya yang murung dengan fokusnya yang mengarah pada ponsel di genggaman membuatnya tak menyadari kehadiran Hyukjae. Jarak mereka masih terbilang jauh.

“Song Hyera.” Teriakan Hyukjae membuat seluruh pandangan orang disana mengarah kepadanya. Begitu pula dengan pemilik mata almond di depan sana.

“Hyuk-ah.” Tubuhnya langsung berdiri saat menyadari kehadiaran Hyukjae. Untuk kedua kalinya ia merasakan yang namanya lega, terlepas dari ikatan kencang yang membelenggu hatinya sejak tadi. Sejauh ini yang ia tahu, semuanya adalah karena Lee Hyukjae. Namja itu berlari ke arahnya dan menerjang tubuhnya dengan pelukan erat, membuat dirinya terdorong ke belakang sangking kencangnya.

Jantungnya berdegup, tubuhnya sekaku lantai marmer di bawah sana. Pelukan Hyukjae membuat seluruh organ dalam tubuhnya mengalami kejang mendadak. “Bernafas Ra-ya.” Bisikan Hyukjae barusan menyadarkannya. Ohhh betapa besarnya pengaruh Lee Hyukjae bagimu sekarang Song Hyera sampai lupa bahwa kau menahan nafas sejak tadi. Good, kau terlihat bodoh di depannya.

“Mianhae karena terlambat mengantarmu. Aku harus pergi ke suatu tempat untuk mengambil ini.” Jelas Hyukjae saat dirinya mengeluarkan kotak persegi dari saku jaketnya. Kotak kecil dengan warna biru dongker itu berhasil menarik perhatian Hyera. Bahkan semua orang yang sejak tadi menyaksikan perilaku manis Hyukjae pada Hyera.

Untuk menjawab rasa penasaran semua orang, Hyukjae perlahan membuka kotak itu dan menunjukkan isinya. Sebuah kalung dengan bandul namanya –Hyera- berhasil mengejutkan semua orang tak terkecuali dua pasang orang tua di sana. Pertanyaan yang sama muncul di kepala mereka semua. Apa maksud Hyukjae memberikan sebuah kalung pada Hyera ?.

Hyera yang terlampau terkejut hanya bisa menatap mata sipit itu dengan ekspresi tak percayanya. Lewat ekspresi itulah ia menanyakan kepastian pada sosok di depannya ini. Apa ini untukku ?. “Ya, aku memesannya 2 hari yang lalu khusus untukmu Ra-ya.” Jelasnya seakan mengerti arti tatapan Hyera. “Kau tidak perlu bertanya apa alasannya karena tanpa kau mintapun aku akan menjelaskannya sekarang.” Hyera hanya diam karena terlalu terkejut dengan semua hal yang barusan terjadi. Pertama Hyukjae membuatnya menunggu dengan rasa cemas, lalu muncul dan memeluknya serta memberikan sebuah kalung yang tak bisa dianggap barang biasa bahkan bukan di hari ulang tahunnya. Apa maksud semua ini ?.

Pria yang kini berdiri di hadapannya dengan keringat yang merembes keluar di pelipisnya menambah kesan maskulin pada diri Lee Hyukjae. Calon trainee SM itu nampak mengatur sirkulasi nafasnya sebelum memantapkan hati untuk mengatakan kebenaran perasaannya pada Hyera. Masa bodoh dengan jawaban yang akan ia dapat nantinya, tekadnya sudah bulat memilih hari ini sebagai hari pengakuannya.

Satu hembusan nafas keluar dari mulutnya. Kedua tangannya mendarat di pundak Hyera, memastikan fokus gadis itu hanya padanya. Hyukjae membasahi bibirnya yang terasa kering karena suhu tubuhnya dirasa meningkat karena gugup. “Song Hyera, ada hal yang ingin ku katakan padamu.” Gadis itu hanya diam dengan anggukan ringan sebagai bentuk responnnya atas ucapan Hyukjae.

“Kau ingat gadis yang pernah ku ceritakan waktu itu ?. Cinta 3 tahunku, kau ingat ?” Lagi, Hyera mengangguk dalam diam dengan kedua mata yang menatap sepenuhnya ke wajah Hyukjae. “Hari ini aku akan mengungkapkan perasaanku padanya.” Muncul kerutan di dahinya menandakan bahwa dirinya tak mengerti maksud ucapan Hyukjae barusan.

“Apa gadis itu juga ada disini ?. Apa dia juga akan ke luar negeri atau sebaliknya ?. Nuguya ?” Tanyanya tak mampu menutupi rasa penasarannya. Gadis yang selalu ingin tahu.

Lee Hyukjae mengumbar senyum termanisnya mendengar pertanyaan Hyera. Inilah yang ia tunggu. “Mmm dia ada disini.” Hyera mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tunggu. Tak ada gadis seumur mereka disini. Lalu dimana gadis yang Hyukjae maksud. “Kaulah gadis itu Ra-ya.”

Telinganya terasa kebas begitu sederet kalimat pengakuan itu menyeruak masuk ke dalam sana. Mengejutkan jantungnya kemudian merambat turun menyentuh hatinya. “Mworago ?” Pada akhirnya hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirnya.

“Gadis yang ku temui 3 tahun lalu, membuatku jatuh karena pesonannya. Setiap aku melihat tawanya entah kenapa perasaan ingin memiliki itu muncul. Seiring berjalannya waktu rasa itu tumbuh dan membuatku sadar bahwa aku telah menaruh hati padanya. Cinta 3 tahunku, Song Hyera.” Kata demi kata terucap penuh kesungguhan dari bibir tipis Hyukjae membuat Hyera menatap penuh ketidak percayaan disana. Tak ada kebohongan yang tersorot di matanya membuat kepalanya di hinggapi rasa pening saking terkejutnya. Sungguh menguji jantungnya.

Saat Hyera terpengkur dalam diam, Hyukjae melingkarkan tangannya ke area leher Hyera bermaksud memasang kalung disana. Bersamaan dengan itu, pengumuman dari intercrome memberitahukan keberangkatan dengan tujuan Amerika akan siap dalam 15 menit. Saatnya pergi. Ungkapnya dalam hati.

Hyera menundukkan kepalanya dalam menghindari tatapan Hyukjae. Sungguh dirinya ingin menangis sekarang. Bukan karena ia akan segera pergi tapi karena pengakuan Hyukjae barusan membuatnya sadar dan menyesali sesuatu. Kenapa kau memilih hari ini untuk mengakuinya Lee Hyukjae. Tidakkah kau merasa ini terlalu kejam.

“Tak banyak waktu yang tersisa. Aku tau ini terlambat Ra-ya, sangat. Aku hanya tidak ingin memaksakan perasaanmu karena aku tahu di dalam hatimu masih ada nama lain yang menghuninya. Bagaimanapun aku merasa lega karena berhasil mengakuinya di saat terakhir pertemuan kita.” Jangan katakan akhir Lee Hyukjae. Hyera masih menunduk dengan mata yang berair. Dadanya dirasa penuh sesak mendengar penuturan Hyukjae. “Aku akan mengatakannya. Na Lee Hyukjae mencintai Song Hyera dan berjanji akan menunggunya sampai dia kembali dari studynya di Amerika.”

Akhirnya kata sakral itu terucap dari mulutnya. Semua orang dibuat terkejut tak terkecuali Hyera yang menatap Hyukjae dengan mata melebar dan setetes liquid bening yang lolos dari kelopaknya. Hyukjae menyapukan ibu jarinya menghapus air mata itu. “Ulljima. Aku mengungkapkan perasaanku bukan untuk membuatmu menangis Ra-ya.” Di dekapnya tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Mengusap surai coklatnya dengan gerakan lembut seolah Hyera adalah barang yang mudah pecah bila disentuh terlalu kuat.

“Aku tidak menuntut sebuah jawaban sekarang. Aku akan menunggu jawaban itu keluar dari mulutmu 3 tahun lagi, saat kau kembali ke Korea. Aku ingin mendengarnya saat itu. Keurigo, jangan menganggapnya sebagai beban. Aku ingin sebuah jawaban yang muncul dari dalam hatimu. Arrachi ?” Perlahan tapi pasti tangan itu terangkat membalas pelukan Hyukjae dan mengangguk dalam diam. Sekali lagi pemberitahuan bahwa seluruh penumpang harus segera masuk ke pesawat membuat Hyukjae menelan kepahitan. Hatinya kian berat melepas Hyera. Tapi ia tak bisa bersikap egois meski ia ingin.

“Cha.. pergilah. Sampai jumpa 3 tahun lagi kuncir kuda.” Panggilan itu, ia akan sangat merindukan panggilan itu. Sangat. Setelah berpamitan pada semua orang yang mengantarnya hari itu, Hyera mengambil langkah menuju pintu pemberangkatan dengan mata memerah. Sekali lagi untuk terakhir kalinya, Hyera membalikan tubuhnya dengan air mata yang jatuh seketika.

“Yakkk monyet tengil..” Teriaknya dengan suara serak. Gadis itu berusaha terlihat ceria meski nyatanya tak mampu menutupi air mata dan pandangan sendunya. Yang dipanggil pun tak jauh beda. Hyukjae tersenyum dengan mata yang mulai memerah. Bahkan tertawa sumbang saat Hyera melambaikan tangan kearahnya.

Jadi ini yang kurasakan Lee Hyukjae. Bodohnya aku karena tak menyadarinya sejak dulu. Tubuh itu berbalik melanjutkan langkah semakin dekat dengan pintu pemberangkatan. Kejadian hari ini menjadi kenangan tersendiri baginya termasuk pengakuan mengejutkan dari seorang namja yang selama ini menjadi temannya. Yang justru membuatnya sadar akan arti seorang Lee Hyukjae dalam hidupnya. Arti yang sesungguhnya bagi Song Hyera. Tangannya bergerak meraba lehernya dimana sebuah kalung emas dengan bandul bertuliskan namanya terpasang apik disana mengundang senyum manis terbit di wajahnya.

“Sampai jumpa 3 tahun lagi Lee Hyukjae.”

 

®IMMOLATION®

 

Satu bulan berlalu semenjak sosok itu pergi. Hyukjae mulai disibukkan oleh jadwal latihan karena dirinya resmi menjadi seorang trainee 3 minggu lalu. Bahkan calon pewaris itu kini tak tinggal lagi bersama kedua orang tuanya. Seorang trainee di wajibkan tinggal di asrama khusus untuk –mereka- trainee SM. Mulai latihan pagi hari dan selesai saat malam. Jadwal latihannya ini membuat Hyukjae sering melupakan jam makannya. Seperti saat ini contohnya, ambisinya untuk segera debut membuatnya melanjutkan latihan hingga larut malam. Sebenarnya tanpa giat latihanpun ia sudah bisa menguasai tiap materi yang diberikan. Talentanya jangan dianggap remeh.

“Jangan terlau memforsir tubuhmu untuk berlatih Oppa. Kau bisa sakit.” Meski baru 3 minggu menjadi trainee tapi Hyukjae sudah bisa mengenali siapa pemilik suara yang baru saja menegurnya itu.

“Yoobi-ssi ?. Apa yang kau lakukan disini ?. Bukankah hari ini tidak ada jadwal latihan untuk grup yeoja ?” Keseluruhan trainee di bagi menjadi 2 kelompok –yeoja & namja- dan hari ini setahunya grup yeoja di liburkan karena pelatih yang berhalangan hadir. Lantas apa yang dilakukan gadis itu disini.

“Hanya sedang bosan di dorm. Jadi aku berlatih sebentar tadi.” Jelasnya.

Lee Yoobi, gadis cantik dengan suara merdu dan kemampuan aktingnya berhasil membawanya masuk menjadi bagian dari trainee SM. Di hari pertama para trainee berkumpul mereka semua saling bertegur sapa dan berkenalan. Itulah awal mula Yoobi mengenal sosok Hyukjae. Namja dengan multi talent juga berhati lembut dan sangat sopan itu berhasil merebut hatinya di kesan pertama mereka berkenalan. Ya, Lee Yoobi jatuh hati pada sosok penuh kharisma Lee Hyukjae. Selama 3 minggu ini ia menunjukkan perhatiannya pada Hyukjae, berusaha menjalin obrolan-obrolan ringan yang membuat keduanya semakin dekat satu sama lain. Namun jauh dari yang ia bayangkan ternyata Hyukjae hanya menganggap dirinya sebagai adik. Umur mereka hanya terpaut satu tahun jika kalian ingin tahu. Kecewa, sudah pasti tapi Yoobi tak menyerah begitu saja. Masih ada banyak waktu untuk mengambil hati Hyukjae dan tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

“Kau pasti belum makan. Aku bawakan kimbap untukmu oppa, makanlah.” Ujarnya sambil menyodorkan sekotak penuh kimbap yang di tata sedemikian rupa hingga terlihat manis saat dipandang.

“Letakkan saja disana. Aku akan memakannya nanti. Masih ada beberapa bagian yang perlu ku perbaiki.” Hyukjae mulai menggerakkan tubuhnya sesuai irama music beat yang ia putar. Bagian akhir dari gerakannya terlihat kurang dan ia rasa perlu memperbaikinya supaya nampak sempurna esok lusa.

Selesai latihan, Hyukjae menyandarkan tubuhnya di dinding yang terbalut cermin. Meski pendingin ruangan tak pernah mati nyatanya tak mampu menghalau laju keringatnya yang merembas keluar di dahi putihnya yang tertutup rambut. Nafasnya tersengal dan Hyukjae masih dalam proses mengatur ulang pasokan udara. Ia rasa cukup latihan hari ini, tubuhnya benar-benar lelah.

“Minumlah oppa.” Ucap Yoobi riang sambil menyodorkan sebotol air putih kearahnya.

“Gomawo.” Jawab Hyukjae sewajarnya orang yang baru saja menerima bantuan. Yoobi mengambil posisi di samping kanannya saat tangan itu terangkat hendak mengusap peluh di pelipisnya. Tapi Hyukjae menghindar dengan menolaknya secara halus. Tak ingin menyakiti perasaan yeoja itu. “Biar aku saja Yoobi-ssi. Terima kasih untuk air minum dan kimbapnya.” Hyukjae meraih handuk yang teronggok tak jauh dari posisinya saat ini. Terasingkan bersama ponselnya disana sejak ia fokus latihan beberapa menit yang lalu.

“Oppa, ingin makan malam bersama besok ?” Ajakan Yoobi penuh nada ceria membuat Hyukjae memutar otak mencari alasan yang kuat untuk menolaknya. Gadis ini tipikal yang pantang menyerah membuatnya sering kesulitan menolak ajakan Yoobi.

“Mian Yoobi-ssi, aku sudah ada janji dengan orang tuaku besok. Aku mengambil libur sehari untuk urusan keluarga.” Jelas Hyukjae membuat wajah cantik di seberang sana berubah murung.

“Arraseo. Lagipula masih ada malam berikutnya. Ku harap kita bisa makan malam bersama oppa, ada kedai Jjangmyeon di dekat sini. Kebetulan aku sangat ingin makan jjangmyeon.” Benar-benar gadis yang pantang menyerah. Tak ada besok masih ada hari lain untuknya. Harus dengan apalagi ia menolaknya sekarang.

“Bukankah kau harus menjaga pola makanmu. Kurasa Jjangmyeon sangat ampuh membuat tubuhmu membengkak. Itu akan menyulitkanmu.” Senyumnya kian rekah mendengar perkataan Hyukjae barusan. Dalam kepalanya ia beranggapan Hyukjae tengah mengkhawatirkannya saat ini dan itu membuatnya senang bukan main.

“Tidak masalah jika hanya sekali oppa.”

“Baiklah. Semoga lusa ada waktu luang.” Hanya sebatas itu yang mampu ia ucapkan. Ingat bahwa dirinya tak mengatakan kata ‘sanggup’ atau kalimat yang mengarah pada membuat janji dengan Yoobi. Jadi masih bisa berkilah besok.

Bukannya tak tahu hanya mencoba acuh pada perasaan Yoobi terhadapnya. Ia tahu betul gadis ini menaruh rasa lebih dari sekedar teman pada dirinya dan itu membuat Hyukjae perlahan merasa risih. Yoobi selalu muncul dimanapun ia berada, setiap mata lebar itu menangkap keberadaannya, Yoobi tak akan berpikir dua kali untuk menghampirinya. Sialnya Hyukjae bukan tipe namja yang dengan mudahnya menyakiti perasaan yeoja. Ia anti akan satu hal itu. Maka dari itu terkadang ia kualahan menghadapi ambisi Lee Yoobi.

“Berhati-hatilah oppa.”

“Ohh neo-do.” Keduanya berpisah di depan gedung SM. Yoobi mengambil jalur kiri dan Hyukjae sebaliknya karena arah dorm mereka tidak sama. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Hyukjae tiba tepat pukul 9 malam dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi dan mengistirahatkan badan setelahnya. Keadaan dorm sudah sepi saat ia pulang, semua trainee sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Menghabiskan waktu istirahat mereka untuk melakukan hal-hal menyenangkan di dalam sana. Bermain game, nonton film, atau sekedar tidur-tiduran di ranjang seperti yang tengah ia lakukan saat ini.

Mata sipitnya melirik jam dinding di sisi kiri kamarnya. “Pukul set 10 malam, itu berarti jam set 8 pagi disana.” Ujarnya sambil menimang-nimang apakah harus menghubunginya atau tidak. “Tapi aku sangat merindukannya.” Finally, Hyukjae menyerah pada rasa lelahnya dan mengetikkan pesan singkat untuk Hyera.

‘Sudah bangun ?’, menunggu beberapa saat hingga bunyi ‘bip’ terdengar dari ponselnya.

‘Eoh, aku ada kuliah pagi hari ini.’

‘Sudah sarapan ?. Bagaimana makanan disana ?. Aku tahu kau pemilih soal makanan.’

‘Sudah. Aku tidak terlalu menyukai makanan barat tapi aku harus membiasakannya karena sangat sulit mencari restoran Asia di sekitar sini. Bisa mati kurus aku jika memaksakan diri mencari restoran yang menjual makanan Korea.’

‘Apapun itu kau tidak boleh terlambat makan. Arrachi ?. Gunakan pakaian hangat jika udara dingin dan hilangkan kebiasaan berdiri di balkon saat malam. Itu sangat tidak baik untuk kesehatanmu Ra-ya.’ Kali ini balasan yang ia terima lebih lama dari sebelumnya. Ia berpikir bahwa mungkin Hyera sedang menyebrang jalan, makanya ia menunda membalas pesannya. Hingga tak berselang lama ponselnya bergetar, kali ini bukan pesan tapi panggilan dari Hyera.

“Yeob…”

“Yakkk.. berhenti bersikap baik padaku monyet tengil. Kau tidak tahu apa yang ku rasakan setiap kau bersikap begitu baik dan perhatian padaku. Aku merasa telah berbuat salah padamu Lee Hyukjae.” Hyera mengataknnya dalam satu tarikan nafas dan nada lirih di akhir kalimatnya membuat Hyukjae justru menerbitkan senyum di wajahnya.

“Wae ?. Kau merasa bersalah karena tidak menyadarinya. Sudah ku bilang untuk tidak menjadikan pengakuanku sebagai beban Ra-ya.”

“Aku tidak merasa bahwa itu sebuah beban. Aku hanya merasa bersalah karena ketidak tahuanku, selama itu aku selalu menceritakan tentang perasaanku pada Donghae. Itu pasti menyakiti perasaanmu.”

“Kau benar, hatiku sakit setiap kau mengungkitnya. Baguslah jika kau tahu, setidaknya dengan begini kau tidak akan membahasnya lagi. Jangan berpikir untukku tapi lebih untuk hatimu sendiri. Kau harus melupakan Donghae sepenuhnya Ra-ya.” Gadis itu terdiam membuat Hyukjae kembali menelan rasa pahit sebuah fakta bahwa Hyera belum bisa melupakan cinta sepihaknya. Topik ini terlalu sensitif untuk mereka bicarakan. Hyukjae mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar Hyera merasa lebih nyaman.

“Bagaimana kuliahmu disana ?” masih tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya nafas tenang Hyera disana. “Kau masih disana ?. Kau tidak tertidur di tempat umum bukan ?”

“Pemikiran yang konyol.” Keduanya tertawa bersama. Perbedaan waktu yang begitu kentara membuat mereka jarang berkomunikasi, di saat Hyukjae mendapat jam istirahatnya giliran Hyera yang menjalani kesibukan disana begitupun sebaliknya. Menjadi faktor utama mereka jarang berkomunikasi seperti ini. Mungkin hanya sebatas balas membalas chat seperti sebelumnya. “Pikirkan saja latihanmu disana. Kau kan calon idol Korea.”

“Hari ini benar-benar melelahkan…” dan percakapan itu berlanjut hingga hampir 1 jam lamanya. Nyatanya kuliahnya masih akan dimulai 30 menit lagi jadi Hyera menikmati saat-saat seperti ini. Berbagi cerita dengan Hyukjae adalah hal yang paling ia tunggu sejak bertolak ke negeri Paman Sam itu. Sesekali ia juga menghubungi kedua orang tuanya untuk sekedar bertukar kabar dan melepas rindu lewat suara mereka. Tapi rasanya berbeda saat itu dengan Hyukjae. Ia merasakan yang namanya nyaman. Mungkinkah hatinya sudah menetapkan pilihan ?. Tapi ini masih terlalu awal.

“Aku ingin tahu keadaanmu disana. Aku ingin memastikan bahwa kau tak kehilangan berat badan karena terlalu memilih makanan. Kirimkan aku beberapa fotomu.”

“Ck, arraseo. Aku akan mengirimnya nanti malam. Kurasa kau harus segera tidur, aku yakin disana sudah sangat larut.” Benar saja, jam dinding sudah menunjukkan angka 11 malam.

“Aku akan tidur sebentar lagi. Besok aku tidak ada jadwal latihan jadi tidur lebih malam tidak masalah.” Tolak Hyukjae, karena dirinya merindukan sosok di seberang sana itu sebabnya ia menolak mengakhiri teleponnya.

“Eihhh mana bisa begitu. Kau tetaplah manusia Lee Hyukjae, meski aku sering memanggilmu monyet. Jangan lupakan kodratmu sebagai manusia yang punya sisi lemah. Kau bisa sakit jika kurang tidur.”

“Senang rasanya bisa mendengar orang yang ku sukai mengkhawatirkanku. Rasanya aku akan mimpi indah malam ini.” Beruntungnya Hyera karena Hyukjae tak bisa melihat perubahan warna wajahnya menjadi semerah tomat saat ini. Secara tak langsung Hyukjae mengakui perasaannya pada Hyera meski kata yang digunakan masih terbilang umum, belum menjurus ke kata sakral yang begitu dinantikan bagi sebagian banyak yeoja di dunia.

“Bicaramu semakin ngelantur. Cepatlah tidur, aku harus memulai kuliah sebentar lagi. Jaljayo Hyuk-ah.”

“Ingin mendengar sesuatu. Aku yakin bisa menambah semangat belajarmu.” Hyera dibuat penasaran olehnya. Dirinya meminta dengan pasti Hyukjae mengucapkan apa yang hendak ia katakan. “Na… chowayeo Song Hyera.”  Dan setelahnya panggilan itu benar-benar berakhir. Menyisakan Hyera yang mematung dengan ponsel yang masih menempel di telinganya terlalu terkejut dengan ucapan Hyukjae beberapa detik yang lalu itu.

Namun ekspresinya itu tak bertahan lama, berganti senyum geli dari wajah cantiknya. “Heol. Manis sekali.” Ungkapnya riang sambil berjalan di trafficlight. Benar-benar memberi suntikan semangat untuknya. Kurang lebih seperti inilah efek Lee Hyukjae bagi seorang Song Hyera.

Namja itu terang-terangan dan lebih berani mengumbar perasaanya membuat Hyera sering dilanda kejang jantung karena ungkapannya. Tak jarang Hyera teramat sering mengumbar senyum tanpa sebab karena teringat kata-kata Hyukjae. Hubungan antara keduanya masih belum jelas memang, tapi perlahan gadis itu merasakan perbedaan dengan hatinya. Ada gelenyar aneh setiap kali ia mengingat Hyukjae dan dirinya tak lagi menolak kata hatinya. Ia juga mulai menyukai Hyukjae, itulah fakta yang mampu ia tangkap sekarang.

Bumi terus bergulir mengikuti arah perputaran porosnya hingga terjadi pergantian siang dan malam. Saat ini di Amerika jarum jam menunjukkan pukul 10 malam itu tandanya jam 8 pagi di Korea. Hyera sengaja menunda tidurnya karena menunggu waktu untuk menghubungi Hyukjae. Padahal baru pagi tadi mereka bertukar kabar lewat panggilan singkat tapi hatinya sudah berteriak merindukan sosok itu sejak tadi sore. Yakin jika hanya hatinya yang merasa rindu ?. Entahlah.

Dimulai dengan pesan singkat sekedar basa-basi untuk memulai obrolan. ‘Selamat pagi.’

3 menit setelahnya balasan dari Hyukjae berhasil masuk ke ponselnya. ‘Kurasa disana malam hari. Seharusnya kau mengatakan selamat malam.’

“Cih.. disini aku menggunakan waktu Korea bodoh.” Gerutunya begitu membaca balasan sakratis dari Hyukjae. Satu lagi pesan masuk dan segera ia buka. ‘Jangan mengumpat di belakangku. Aku tahu kau menggerutu disana. Hahahaha.’

“Omo. Apa dia punya kamera pengintai disini ?” Hyera menelisik sekitar kamarnya, siapa tahu dugaannya yang tak beralasan itu terbukti benar. Jarinya dengan lincah mengetikkan balasan pesan untuk Hyukjae.

‘Jangan merusak suasana dengan mulut pedasmu itu Tuan Lee. Itu menyinggungku.’

‘Baiklah aku menyerah Nona Song. Kau tidak lupa dengan janjimu bukan.’

‘Tentu saja tidak. Aku menghubungi untuk mengirim foto itu.’

‘Eiiihh.. bilang saja kau merindukanku nona. Kau tidak pandai berbohong, kuingatkan jika kau lupa.’

“Mwoya ?. Apa dia punya kemampuan khusus ?. Kenapa tebakannya selalu benar.” Ujarnya heran. Kemudian mengetikkan balasan dan beberapa foto dirinya yang paling bagus dan cantik menurutnya.

‘Berhenti bicara yang tidak-tidak karena semua dugaanmu salah.’

cast-142f89b5706d0247e420087603a0a353

Satu foto yang diambil salah seorang temannya tanpa ia tahu. Saat itu dirinya fokus membaca buku referensi di depan gedung perpustakaan. Dengan kacamata yang membingkai mata almondya nampak apik serta ikatan rambut sebagai ciri khasnya, Hyera tersenyum puas melihat hasil fotonya dan mengirimkannya pada Hyukjae. Dalam kepalanya sudah beterbangan kalimat pujian yang mungkin akan Hyukjae katakan padanya begitu melihat fotonya barusan. Hyera tak sabar menanti balasan pesan masuk.

Senyum itu kian merekah tatkala bunyi ‘bip’ terdengar dari ponselnya. Jari lentiknya menggeser layar ponsel tidak sabaran. Membaca sederet kalimat yang membuat senyumnya hilang seketika. ‘Mwoya ?. Kau masih menguncir rambutmu ?. Tidak ingat dengan yang kukatakan malam itu ?’

Hyera mengetikkan balasan dengan raut malas. ‘Aku ingat. Hanya saja saat itu udara sangat panas jadi aku menguncir rambutku. Lagipula kenapa aku harus menurutimu ?. Tidak ada alasan untukku mendengarkan ocehanmu. Dasar cerewet.’

‘Aku hanya tidak ingin kau membuang percuma kecantikanmu itu karena rasa malasmu yang berlebihan Ra-ya.’

‘Terima kasih pujiannya. Keundae, aku sudah cantik sejak dulu. Nyatanya kau terpesona padaku meski aku tetap menguncir rambutku. Cinta yang tulus tidak memandang cantik buruknya rupa tapi hati.’ Dengan emosi yang menggebu Hyera mengetikkan kalimat panjang untuk Hyukjae. Ia tak terima Hyukjae mengomentari penampilannya.

Tak berselang lama panggilan dari Hyukjae mengejutkannya yang sibuk menggerutu. Dengan malas tapi jantung yang berdebar Hyera menjawab panggilannya. “Wae ?” Ucapnya dengan nada dibuat cuek.

“Kau marah ?.”

“Sudah jelas masih berani bertanya ?” Jawabnya lagi dengan nada geram, tak berniat menutup-nutupinya karena ia tahu itu akan sia-sia saja. Hyukjae mengenal dirinya dengan baik. Meski hanya lewat suara saja.

“Oooo.. sepertinya aku mengatakan hal yang salah. Kalimatmu tadi sangat menyindirku Song Hyera.”

“Baguslah jika kau merasa. Aku tidak perlu mengulanginya lagi.”

“Baiklah.. baiklah aku salah. Mianhae hmm ?. Jangan marah lagi eoh, kita bukan anak di bawah umur yang bertengkar hanya karena masalah kecil Ra-ya.” Mwo ? masalah kecil dia bilang. Ledaknya membatin. Ia hampir lupa bahwa namja yang perlahan mulai menempati posisi Donghae di dalam hatinya ini sangat payah dalam hal memahami perasaan yeoja. Hyukjae yang polos.

“Arraseo. Aku memaafkanmu. Setidaknya kau tahu kalau aku baik-baik saja disini. Berat badanku tidak turun secara drastis. Hanya 2 kilo sejauh ini.”

“Masih dalam tahap wajar. Tapi aku tidak ingin berat badanmu turun lagi. Berusahalah makan apapun yang mampu membuatmu kenyang disana. Jangan pilih-pilih makanan.”

“Ne ne arraseo seongsaenim.” Keduanya tertawa bersama mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut masing-masing. Kata itu keluar begitu saja tanpa kontrol mengundang tawa, menambah kehangatan dalam obrolan mereka. “Kau dimana sekarang ? Terdengar bising.”

“Aku sedang di restoran dekat dorm. Disini masih pagi jadi aku mencari makanan di luar.” Hyera mangut-mangut mengerti meski ia sadar Hyukjae tak mungkin tahu akan reaksinya itu.

“Kau sudah makan malam ?”

“Oo. Ahjumma memasak ayam goreng hari ini jadi aku tidak ragu untuk memakannya.” Hyera bercerita dengan nada riangnya membuat sesuatu di hati Hyukjae berdesir aneh. Seolah angin musim semi tengah bertiup tenang di dalam sana. Hingga bunga yang semula kuncup kini mekar hanya karena membayangkan senyum Hyera.

“Senang mendengarnya.”

“Oppa…” Seruan seseorang mengejutkan keduanya. Terlebih Hyera yang jelas mendengar suara yeoja itu. Terdengar riang di telinga siapa saja yang berhasil menangkap lengkingan suara merduanya.

“Ohh Yoobi-ssi. Kau disini ?” Tanya Hyukjae sedikit terkejut melihat kedatangan yeoja yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. Tangannya tetap terangkat dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.

“Beruntung sekali bisa bertemu oppa disini. Kita sarapan bersama nde ?” Tak peduli dengan raut muka Hyukjae disana. Yoobi cekatan memesan makanan untuk dirinya dan Hyukjae. Sambungan teleponnya belum terputus membuat Hyera mendengar dengan jelas apa saja yang keduanya bicarakan. Atau lebih tepatnya ia fokus pada si yeoja yang kalau tidak salah namanya tadi Yoobi.

“Cihh, sok kemanisan sekali.” Gerutunya tanpa sadar merasa muak dengan suara sok imut dari yeoja bernama Yoobi itu. Ada emosi dalam dadanya yang mendorongnya untuk mengumpat segala macam yang gadis itu katakan. Kupingnya serasa pengar mendengar ocehannya. Dan semua macam gerutuannya terdengar jelas di telinga Hyukjae membuat namja itu terkekeh geli. Hyera cemburukah ?.

“Hey, aku mendengar semua ucapanmu barusan Ra-ya.” Saat ini Yoobi sedang menuju kasir untuk memesan sesuatu jadi Hyukjae masih leluasa mengobrol dengan Hyera yang membahas tentang tingkah Lee Yoobi.

“Uppss sorry. Aku berkata buruk soal temanmu.” Ucapnya penuh penekanan di kata ‘teman’.

“Apa kau cemburu ?”

“Heol. Masih terlalu cepat untuk sampai tahap itu. Jangan pedulikan aku, nikmati saja waktumu bersamanya. Bye.” Tanpa alasan yang jelas, Hyera memutus sepihak teleponnya membuat Hyukjae tertawa senang disana. Sudah ia bilang berulang kali-kan, Hyera itu bukan orang yang pandai menyembunyikan sesuatu terlebihi itu darinya. Dalam sekali tebak ia sudah tau bahwa Hyera cemburu.

“Menggemaskan. Aku sangat ingin memelukmu Ra-ya. Ouchhh aku sudah sangat merindukannya.” Bibir tipis itu tak pernah sekalipun kehilangan lengkungannya. Hyukjae menatap lalu lalang pejalan kaki yang melintas di depan restoran dengan pikiran yang melayang jauh pada sosok di belahan bumi lainnya sana. Ini bahkan belum berjalan setahun tapi ia sudah rindu berat pada Hyera dan ingin memeluknya. Jika saja kesibukkan latihan tak menghalanginya untuk berkunjung ke sana, sudah sejak lama ia akan terbang ke Amerika dan menemui penunggu hatinya.

Aku akan menunggumu kembali Ra-ya. Tak akan ada yang bisa menggeser namamu di dalam hatiku. Cepatlah kembali agar aku bisa mengatakan kata cinta untukmu secara langsung. Aku mencintaimu dan begitu merindukanmu, kuncir kuda.

Di belahan bumi lain, waktu sudah menunjukkan keangkuhannya dengan mengarahkan jarum pada angka 11 untuk jarum pendek dan angka 9 untuk jarum panjangnya. Hyera meletakkan ponselnya di atas nakas. Melepas ikat rambutnya dan menarik selimut hingga batas dada. Mata beningnya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang melayang ke lain tempat. Dalam hati ia berkata sebelum jatuh ke alam mimpi karena lelah.

Aku merindukanmu Hyukjae-ah.

 

®IMMOLATION®

 

New York adalah kota besar di benua Amerika yang memiliki populasi penduduk terbanyak sepanjang sejarah. Kota yang berdiri di negara adidaya itu menunjukkan potensinya dalam bersaing di kancah internasional pada berbagai bidang. Universitas ternama banyak kita jumpai disana, tak jarang pula mahasiswanya berasal dari negara di seluruh dunia.

Suhu udara naik drastis di awal pergantian musim. Pakaian tebal bukan pilihan yang cocok untuk musim ini, nyatanya musim panas disana lebih hot. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh gadis cantik berambut coklat bergelombangnya yang sedang asyik membaca buku dengan segelas jus jeruk di balkon kamarnya. Kaca mata berframe coklat itu menjadi alat terpenting yang selalu ia pakai ketika membaca. Maklum, matanya sedikit bermasalah karena kegiatan seorang mahasiswa yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan berkutat di depan buku dan laptop daripada beristirahat.

T-shirt berwarna soft pink yang dipadu padankan dengan celana tiga perempatnya, gadis itu terlihat menikmati waktu senggangnya di hari libur musim panas. Sesekali fokusnya teralih pada benda pipih yang ia sebut ponsel di atas meja sebelah kiri. Berharap benda itu akan menyala karena sebuah pesan masuk atau panggilan dari seseorang yang ia tunggu sejak semalam. Sayangnya, helaan nafas syarat akan orang yang frustasi justru keluar dari mulutnya. Pasalnya yang di tunggu tak kunjung memberi kabar.

“Sepertinya dia kelelahan. Baiklah, aku akan menunggu lebih lama.” Pada akhirnya ia menyerah menunggu siang itu. Bukan menyerah untuk seterusnya, hanya menundanya saja hingga malam tiba. Sebab saat malam itu tandanya disana pagi menyambut dan orang yang ditunggu tidak mungkin tidak menghubunginya. Siapa orang di dunia yang tidak memeriksa ponsel saat bangun tidur ?. 99% berbanding 1% kemungkinannya.

“Hyera, makan malam sudah siap. Ayo turun.”

“Nde ahjumma.”

Gadis yang sejak petang menyambut hanya berdiam di depan ponselnya, mau tak mau harus turun untuk makan malam. Akan sangat tidak sopan jika ia mementingkan egonya dan melewatkan makan malam yang jelas sudah di siapkan oleh keluarga pamannya.

Song Hyera, dengan rambut coklatnya yang berkibar karena terpaan angin yang ia ciptakan sendiri –saat berjalan cepat menuruni tangga- itu menempati satu kursi di samping Bibi Ahn. “Chalmok keseumnida.” Ucapnya sebelum melahap santapan makan malam yang Bibi Ahn siapkan. Makanan itu bukan masakan Asia tapi Hyera sudah terbiasa dengan semua rasa ini. Meski awalnya terasa asing dan pengar di lidah, tapi seiring berjalannya waktu ia mulai bisa menerima dan tidak lagi sulit makan. Satu tahun ia rasa cukup untuk membiasakan diri dengan kehidupan di negeri ini.

Ya, satu tahun adalah waktu yang sudah ia lewati sejauh ini. Terhitung 15 bulan lamanya ia tinggal di negeri orang, meninggalkan tanah kelahirannya bersama orang-orang tersayang di belahan bumi lainnya. Dan selama itu pula ia berhasil menjadi Song Hyera yang lebih dewasa dengan banyak perubahan baik secara fisik ataupun hal lain. Tak ada lagi gadis kuncir kuda karena faktanya kini Hyera lebih sering mengurai rambutnya dan hanya akan mengikatnya jika cuaca panas. Bahkan Hyera terlihat lebih dewasa dari sisi manapun orang melihat, dan jangan ragukan kecantikannya. Gadis itu bukan lagi anak remaja kemarin sore. Hyera sudah bisa merawat diri dan menggunakan make up meski tipis. Pandai berdandan sekarang.

“Bagaimana kuliahmu nak ?. Apa semuanya lancar ?” Tanya Paman Ahn saat tak tersisa banyak makanan di piring mereka.

“Baik paman. Semuanya berjalan lancar, dan nilaiku selalu di atas rata-rata.” Hyera bercerita dengan senyum sumringah di wajahnya.

“Keponakanku memang yang paling pintar. Kau tidak ingin pulang selama libur musim panas ?”

Hyera menggeleng yakin sebagai jawabannya. “Aku tidak akan pulang sebelum benar-benar lulus paman. Aku hanya takut tidak bisa kembali lagi jika aku pulang nantinya.” Ia tak mau ambil resiko ketika dirinya memutuskan untuk pulang dan merasa berat untuk kembali. Lebih baik menekan rasa rindunya lebih lama daripada usahanya selama ini sia-sia.

“Paman akan mendukung apapun keputusanmu nak. Belajarlah dengan sungguh-sungguh dan selesaikan kuliahmu lebih cepat. Paman tau kau sangat merindukan laki-laki itu bukan ?” Mendengar perkataan pamannya barusan seketika merubah raut wajahnya. Hyera sering berbagi cerita dengan paman dan bibinya karena memang itulah kebiasaannya saat bersama orang tuanya. Termasuk cerita cintanya dengan namja yang sejak semalam membuatnya uring-uringan itu.

“Hyukjae belum membalas pesanku paman. Sejak semalam ia sulit di hubungi.” Hyera mengatakannya dengan wajah murung. Perutnya sudah kenyang dan sekarang saatnya ia mengosongkan beban di hatinya.

“Mungkin dia sibuk mempersiapkan perihal debutnya Ra-ya. Bukankah kau bilang bahwa beberapa hari lagi Hyukjae akan menjalani debut pertamanya.” Bibi Ahn ikut andil dalam percakapan kedua orang itu.

“Setidaknya membalas satu pesanku tidak akan menyita banyak waktunya bibi. Aku hanya takut ia menyerah menungguku.” Terbesit semacam emosi dalam hatinya saat ia mengutarakan ketakutannya itu. Sebenarnya pikiran itu tak pernah terbesit di kepalanya meski hanya sedetik. Namun, ingatannya kembali mengingat gadis bernama Lee Yoobi yang menurut penjelasan dari Hyukjae sendiri bahwa gadis itu selalu mengganggunya. Kali ini hal itu mulai mengusik ketenangannya.

Hyera merasakan sebuah usapan di tangannya. Itu bibi Ahn yang berusaha menenangkannya. “Kau percaya padanya bukan ?” Kepalanya mengangguk membenarkan. “Lalu apalagi yang kau ragukan ?. Kami yakin, Hyukjae adalah pria yang baik. Jika pria itu hanya main-main denganmu mana mungkin dia mengirim hadiah di hari ulang tahunmu.”

Itu memang benar. Di hari ulang tahunnya tahun lalu, Hyukjae mengirim beberapa hadiah. Ada boneka beruang dengan lambang cinta di dadanya, lalu sebuah jepitan bentuk capung yang sangat indah dengan pesan singkatnya ‘Aku membayangkan kau yang begitu cantik saat memakainya di rambutmu.’, dan yang paling spesial diantara semuanya adalah sebuah cincin couple dengan inisial nama mereka disana. Hyukjae mengirim cincin couple dengan ukiran namanya –Lee Hyukjae- pada Hyera. Bersamaan dengan itu, Hyukjae menulis pesan singkat di secarik kertas warna pink yang berisi. ‘Jika aku sukses dengan karirku. Akan kupastikan sebuah cincin berlian dengan ukiran yang sama akan tersemat di jari manismu Ra-ya.’

Mengingat hal itu membuat semburat merah di wajahnya kian kentara. Secara tidak langsung Hyukjae melamarnya bukan ?. Pandangannya beralih menatap penuh binar cincin yang tersemat di jari manis tangan kanannya. “Nde, aku sangat percaya padanya bibi.” Raut murung itu telah berganti dengan senyum cantiknya. “Paman benar, Hyukjae pasti sibuk untuk persiapan debutnya. Itu adalah impian terbesarnya dan aku yakin dia berusaha melakukan yang terbaik. Karena seperti itulah Hyukjae yang ku kenal.” Acara makan malam itu ditutup dengan kisah cinta Hyera. Hubungan mereka memang masih terbilang semu dan belum menemukan kejelasan. Tapi Hyera yakin Hyukjae tidak main-main dengannya.

Dan benar saja, selang beberapa jam setelah makan malam, Hyukjae menghubunginya. Minta maaf padanya karena tidak sempat membalas pesannya dan menjelaskan alasannya pada Hyera. Hari itu Hyukjae menyelesaikan penggarapan MV pertamanya sebagai seorang solois. Rencananya MV itu akan di rilis 3 hari lagi, dan akan melakukan promosi selama 3 minggu. Malam itu Hyukjae juga mengatakan kemungkinan bahwa selama masa promosi mungkin dirinya akan sangat sibuk. Besar kemungkinan debutnya menjadi seorang idol akan membuat komunikasi mereka terganggu. Dan Hyera memaklumi itu meski hatinya terasa berat menerima. Saling mengerti adalah kunci utama sebuah hubungan bukan ?.

 

®IMMOLATION®

 

Hari demi hari kian bergulir mengikuti perputaran bumi yang tak pernah berhenti. 32 bulan sudah ia mengenyam pendidikan di Amerika. Hanya tersisa beberapa bulan lagi untuk menyelesaikan skripsinya dan lulus dari sana. Hyera menaiki satu per satu anak tangga dengan sepasang earphone yang menggantung di telinganya, memutar lagu yang sudah ia hafal di luar kepala. Lagu milik idola barunya.

Pintu kayu berwarna putih itu terbuka dan menunjukkan dengan jelas seluruh isi kamar milik yeoja yang kini berdiri di depan poster seorang idol namja yang tingginya hampir mencapai setengah tinggi badannya. Menatap poster itu dengan senyum merekahnya. “Tunggu sebentar lagi Lee Hyukjae. Aku akan segera kembali membawa jawaban yang kau tunggu selama ini.” Ucapnya penuh keseriusan, membayangkan ekspresi namja itu manakala mendengar jawabannya nanti.

eunhyuk-7018139fd0f130558e37f73cab25bc74a9ddc92_hq

Hyera mengusap poster itu seolah ia tengah menyentuh langsung kulit mulus Hyukjae. Mengusap rambut coklatnya dengan mata tertutup membayangkan bahwa kini yang di depannya bukan hanya sekedar poster. “Aku benar-benar merindukanmu Hyukjae-ah.”

Hingga dirinya mengingat pesan singkat yang Hyukjae kirim padanya pagi tadi. “Acara itu akan tayang sebentar lagi.” Hyera bergegas mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih santai. Menggulung rambutnya asal dan turun menuju ruang tengah. Menyalakan televisi, langsung ke chanel music korea. “Dia bilang akan tampil setelah Super Junior.”

Selesai di lagu terakhir Super Junior, Hyera menunggu dengan sabar banyak iklan hanya untuk melihat penampilan idola barunya, tak lain dan tak bukan adalah Eunhyuk. Nama itu adalah nama panggung Hyukjae sejak ia debut menjadi seorang idol. Antusiasnya kian kentara saat MC menyebut nama Eunhyuk berikut judul lagu terbarunya Sweater Jeans, yang akan Hyukjae nyanyikan malam itu di acara Music Bank. Hyera berteriak histeris layaknya fans fanatik seorang Lee Hyukjae begitu namja itu menyelesaikan penampilan pertamanya dengan sempurna. “Kita lihat. Apa dia akan mengabulkan permintaanku ?” Hyera menunggu dengan rasa penasaran tingkat tinggi. Hari ini ia meminta pada Hyukjae untuk menyanyikan sebuah lagu saat tampil nanti. Lagu favoritnya di album pertama Hyukjae, pria itu hanya bilang ‘kita lihat saja nanti’ membuat Hyera menggigit bibirnya, berharap.

Setelah cukup lama menyimak interview singkat Hyukjae dengan MC malam itu. Alunan musik dari lagu yang sudah sangat ia kenal mengalun di sana. “Kau melakukannya. Kau bernyanyi untukku Hyukjae-ah.” Hyera ikut bernyanyi saat lagu itu mencapai lirik pertamanya. Begitu seterusnya hingga satu lagu penuh ia selesaikan. Penampilan Hyukjae menjadi penutup acara Music Bank hari ini dan itu membuat Hyera mendesah kecewa setelah sebelumnya berteriak seperti sasaeng fans karena sosok di dalam layar elektronik disana.

“Na jeongmal bogoshipeo. Aku ingin segera kembali ke sana dan menemuimu.” Hyera mengambil ponselnya, mengetikkan satu kata kunci untuk pencariannya di web browsing. Satu kali tekan maka deretan foto Hyukjae memenuhi layar ponselnya seketika. Hanya dengan cara ini ia bisa sedikit mengobati rasa rindunya pada namja yang 2 tahun belakangan telah berhasil menguasai hatinya itu.

Jarinya menekan opsi ‘berita’ pada salah satu web yang menampilkan berbagai hal tentang idola korea, termasuk Eunhyuk. 3 berita utama hari itu salah satunya berisi tentang idola muda yang sedang berada pada puncak karirnya, Lee Hyukjae. Hyera membaca beritanya beserta berkolom-kolom komentar yang terkirim pada laman tersebut. Tidak ada komentar buruk tentangnya dan itu membuat Hyera bernafas lega. Pasalnya ia khawatir saat beberapa waktu yang lalu seorang fans fanatik dari idola Korea yang menjadi rival Hyukjae, menyebar luaskan gosip yang tidak benar tentang Hyukjae. Gadis cantik itu dirundung rasa cemas hingga tak mengambil jeda sejenak untuk menanyakan bagaimana keadaan Hyukjae.

Saat jari itu men-scroll layar ponsel ke bawah, tanpa sengaja mata beningnya menangkap satu berita dengan judul yang mampu membuat tubuhnya menegang. TERLIHAT MESRA DI SEBUAH IKLAN, IDOL TAMPAN EUNHYUK MENJALIH HUBUNGAN DENGAN AKTRIS LEE YOOBI ??. Seolah petir di langit yang cerah menyambar langsung menuju hatinya saat itu juga. Artikel itu mucul hari ini 4 jam yang lalu –dilihat dari waktu penerbitannya. Hyera merasa detik waktu berhenti saat pundaknya jatuh lemas karena beberapa foto cuplikan iklan Hyukjae dan Yoobi tepat di bawah judul artikel tersebut.

Hyukjae terlihat sangat tampan dengan potongan rambut yang di tata sedemkian rupa memperlihatkan dahi putihnya yang mulus. Berbalut jas navy dengan dalaman kaos bermodel v-neck warna putih membuat sosok itu terlihat sempurna di mata siapapun yang melihatnya termasuk Hyera. Di foto berikutnya Hyera menahan nafas saat melihat Hyukjae dan Yoobi nampak mengumbar tawa dengan tangan yang bertaut, entah kenapa itu terlihat mesra dan nyata di mata Hyera. Gadis itu merasakan hatinya tertikam berulang kali, menyadari wajah Hyukjae yang berseri saat bersama gadis lain. Kenapa dari sekian banyak aktris di Korea, kenapa harus Lee Yoobi yang menjadi lawan mainnya ?. Apa itu semacam kebetulan atau memang sudah di takdirkan ?.

Tak kuasa menahan sesak, Hyera mengclose web browsernya dan membuang asal ponsel itu ke sisi sofa yang lain. Ia marah, dadanya sesak dan terasa begitu sakit untuk bernafas dengan benar. Sungguh, ia ingin percaya pada Hyukjae bahwa namja itu setia menunggunya. Setia pada perasaannya terhadap Hyera. Tapi fakta yang ia temukan membuat gadis itu meragukan kepercayaannya. Terlepas dari kebenaran artikel tersebut, Hyera hanya mempercayai apa yang baru saja ia lihat. Otaknya terlalu naif untuk menolak apa yang baru saja ia lihat dan tak mampu berpikir rasional saat hatinya mulai berteriak marah. Ia cemburu.

Mulai hari itu ia menolak semua panggilan dan pesan dari Hyukjae. Bahkan Hyera melarang paman dan bibi Ahn untuk mengatakan apapun menyangkut Hyukjae di rumah. Kali ini ia menolak untuk menceritakan masalah apa yang sebenarnya terjadi. Ia tahu jika Hyukjae kerap kali menghubungi telpon rumah untuk sekedar menanyakan kabarnya dan berusaha mencari tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga gadis itu enggan untuk bicara lagi dengannya. Hyukjae dibuat frustasi karena Hyera yang uring-uringan. Meski paman dan bibi Ahn tidak tahu duduk permasalahannya, tapi mereka yakin bahwa keponakannya itu tengah terbakar api cemburu. Kerap kali mereka mencuri dengar umpatan Hyera pada poster dan deretan foto Hyukjae yang terpajang di dinding kamarnya bersangkutan dengan nama asing yang ikut terucap dari bibir cherry itu. Seorang gadis keras kepala yang cemburu itu nyatanya lebih menakutkan dari singa betina.

 

®IMMOLATION®

 

Sisa 12 hari setelah hari ini ia resmi dinyatakan lulus dari New York University, Hyera akan kembali ke tanah kelahirannya. Tiket pesawat, visa, dan keperluan lain untuk kepulangannya pun sudah ia urus sejak seminggu yang lalu. Tepat di akhir bulan Agustus nanti ia bertolak dari negeri Paman Sam menuju Seoul.

“Chukae untuk kelulusanmu nak. Bibi sangat bangga padamu.” Puji Bibi Ahn disambut pelukan hangat darinya untuk Hyera.

“Terima kasih bibi. Semua ini juga berkat kalian. Aku tidak akan bisa hidup disini jika tidak ada kalian.” Ungkapnya dengan senyum lepas di wajahnya. Setelah menerima sebucket bunga mawar putih kesukaannya dan berfoto bersama, ketiganya memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat. Tubuh mereka terasa pegal setelah melewati acara panjang selama wisuda.

Hyera nampak menuruni satu per satu anak tangga mencari ponselnya yang ia lupa menaruhnya dimana. Langkahnya mengantarkannya ke nakas samping televisi di ruang tengah, tempat dimana ia mencharger ponselnya. “Ternyata kau disini. Ishhh aku mencari kemana-mana.” Celotehnya seolah ponsel itu bisa mengerti ucapannya. Mendudukkan diri di sofa panjang ruang tengah sambil menonton acara variety show favoritnya adalah kegiatan yang dilakukannya sepanjang sore itu. Sampai telinganya menangkap dentingan dari ponsel pertanda pesan masuk.

‘Bukankah hari ini kelulusanmu ?. Mungkin aku bukan yang pertama mengucapkannya karena aku yakin acara wisuda sudah selesai. Tapi aku jadi yang pertama disini –Seoul- nyatanya disini masih jam 6 pagi. Saengil Chukae atas kelulusanmu Ra-ya.’ Pesan itu dari Hyukjae. Hyera hanya membacanya dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja hingga satu lagi pesan masuk menghentikan niatannya.

‘Jika saja Ahn ahjushi tidak memberitahuku mungkin aku tidak akan pernah tau jika hari ini adalah hari penting untukmu. Aku senang karena akhirnya kau akan segera pulang Ra-ya. Jadi kapan tepatnya kau akan pulang ?’

‘Baiklah, tidak masalah jika kau tetap ingin mengabaikanku seperti ini. Tapi setidaknya katakan sesuatu Ra-ya, kau membuatku cemas jika terus diam. Ini bahkan sudah hampir 4 bulan kau seperti ini, tidakkah kau merindukanku ?. Aku sangat merindukanmu sayang.’ Hyera meremas ponsel dalam genggamannya dengan perasaan yang tak karuan bentuknya. Bohong besar jika ia bilang tidak merindukan sosok yang mengiriminya begitu banyak pesan dalam sehari itu. Hyera juga merasakan rindu yang mendalam pada Hyukjae tapi rasa cemburu lebih menguasai hatinya meski sudah 4 bulan lamanya.

Jika saja orang itu tau betapa ia tersiksa selama ini karena rasa rindunya. Setiap malam Hyera hanya mampu mengobati rindunya dengan menatap senyum Hyukjae lewat foto-foto koleksinya, mendengar suara indah Hyukjae lewat lagunya, dan sesekali ia membaca ulang deretan pesan yang Hyukjae kirim untuknya. Tak jarang pula ia menangis karena sesak yang ia rasakan. Mencoba melupakan dan menghapus rasa cemburu itu nyatanya tak semudah membalik telapak tangan, Hyera mencobanya selama ini tapi bayangan wajah Hyukjae dan Yoobi selalu berkelibatan di kepalanya. Hatinya sakit tiap kali mengingat mereka –Hyukjae & Yoobi- bersama.

Lamunannya buyar karena getaran kuat dari ponsel yang ia genggam. Panggilan dari Hyukjae. Lagi-lagi membuat Hyera berpikir keras antara harus menerimanya atau mengalihkannya. Mengabaikan panggilan Hyukjae, itu hal tersulit yang ia lakukan selama 3 bulan belakangan ini. Namun hari ini hal itu terkalahkan oleh perasaan sesak di dada yang menuntunnya menggeser tombol hijau pada layar ponsel. Mendengar suara lelaki itu bukan berarti ia melupakan cemburunya bukan ?. Ia hanya mencoba mengurangi rasa rindu pada sosoknya.

“Yeoboseyo.. Ra-ya, kau kah itu ?” Hatinya teramat lega saat suara di sebrang sana menyelinap masuk ke telinganya. Perasaannya menghangat hanya karena mendengar suaranya. Lihatlah betapa besar pengaruhmu Lee Hyukjae.

“Na-ya.” (Ini aku). Jawabnya lemah.

“Astaga sayang. Akhirnya kau mau mengangkat teleponku.” Panggilan ‘sayang’ dari Hyukjae berhasil menggetarkan seluruh tubuhnya hingga terbitlah bulan sabit lewat bibir cherrynya. Hanya saja Hyera masih terlalu enggan untuk banyak bicara. “Bagaimana kabarmu ?. Apa kau baik-baik saja ?. Kau tahu betapa aku sangat mencemaskanmu Ra-ya. Kau membuatku berpikir keras tentang kesalahan apa yang ku lakukan hingga kau mendiamiku selama 4 bulan. Bagaimana bisa kau melakukan hal ini padaku, aku sangat tersiksa karena merindukanmu.” Hyera tetap menutup mulutnya tak ingin memberi respon.

“Sayang.. katakan sesuatu. Kumohon.” Melas Hyukjae saat Hyera tak kunjung memberinya respon.

“Aku baik.” Hyera berkata lebih seperti bisikan. Tapi apapun itu membuat hati Hyukjae lega.

“Sungguh aku sangat merindukanku Ra-ya. Kapan kau akan pulang ke Korea ?. Aku akan menjemputmu di bandara.”

“Akhir bulan ini. Kau tidak perlu menjemputku, bukankah waktu itu kau pernah bilang tanggal 28 sampai 2 September akan ada jadwal pemotretan. Kurasa kau tidak akan bisa.” Ungkapnya. Hyera memang mengabaikan Hyukjae selama ini tapi ia membaca semua pesan yang Hyukjae kirim padanya termasuk jadwal kegiatan pria itu yang rutin dikirimkan padanya.

“Ahh aku lupa jika ada jadwal pemotretan. Mianhae, aku tidak bermaksud membuat janji palsu Ra-ya.” Sesal Hyukjae. Dijawab Hyera hanya dengan dengungan di mulutnya yang terkatup rapat. Sesaat keduanya kehilangan kata-kata untuk di ucapkan.

“Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan. Aku tutup teleponnya.” Kesal Hyera karena hampir 5 menit Hyukjae hanya diam disana.

“Chankamman, jangan tutup teleponnya. Aku masih ingin mendengar suaramu Ra-ya. Apa kau tidak merindukanku seperti halnya aku yang begitu merindukanmu ?.” Aku merindukanmu Hyukjae-ah. Sangat. “Tolong katakan apa kesalahanku hingga kau seperti ini. Aku sudah berusaha memikirkannya tapi tak ada satu hal pun yang muncul di kepalaku. Kita tidak bisa terus berada dalam situasi ini jadi kumohon sayang, kita selesaikan masalah ini sekarang.”

“Tidak ada yang perlu ku katakan. Hanya beri aku sedikit waktu untuk berpikir ulang.”

“Kita selesaikan bersama Ra-ya. Ini masalah kita berdua.”

“Tidak. Masalahnya ada padaku. Pada hatiku Hyukjae.” Suaranya bergetar. Mengatakan hal itu sama artinya dengan ia meragukan cintanya pada Hyukjae. Dan itu menyakitinya atau mungkin juga menyakiti Hyukjae.

“Sebenarnya apa kesalahanku hingga kau mulai ragu dengan perasaanmu Ra-ya.” Hyukjae berujar dengan nada lemah. Tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada Hyera. Ia kecewa gadis itu enggan berbagi masalah dengannya. Ia kecewa Hyera meragukannya. Atau mungkin gadis itu tak lagi menganggap keberadaanya sebagai orang yang mencintainya selama ini. Ia ingin marah tapi terlalu lemah jika itu menyangkut gadis bermarga Song yang teramat sangat ia rindukan itu. Terlalu sulit untuk marah pada Hyera, itu faktanya. “Baiklah jika itu keinginanmu. Aku akan memberimu waktu sampai kau bisa mengetahui keinginan hatimu yang sebenarnya. Jangan memaksakan diri Ra-ya, aku tahu kau melakukannya saat ini. Jangan menyiksa diri sendiri, atau aku yang akan turun tangan jika kau sampai sakit. Jaga dirimu baik-baik. Maaf jika aku mengatakan hal ini disaat hubungan kita sedang kurang baik. Aku akan mengadakan konser tunggal bulan depan, dan sesuai janjiku. Satu tiket VVIP akan kukirim khusus untukmu. Semoga kau menyukainya.”

“Aku tetap menunggumu disini, dan setelah sekian lama kau akan kembali dengan jawaban atas perasaanku padamu. Aku tidak lagi menyukaimu Ra-ya…” Hyera merasa seolah hatinya baru saja tertimpa beton hingga hancur berkeping tak tersisa. “Aku sadar ini bukan lagi sekedar rasa suka. Kurasa rasa itu mulai berkembang satu tingkat lebih serius dari sekedar suka. Aku mengakui bahwa…. Aku mencintaimu Song Hyera.”

 

®IMMOLATION®

 

Teriakan histeris dari para fans langsung terdengar nyaring begitu kaki panjang berhias high heels warna pink setinggi 7 centi itu keluar dari balik pintu mobil. Yang jadi pusat perhatianpun melambaikan tangan sekedar menunjukkan sisi ramahnya pada puluhan fans yang rela menunggu kehadirannya di depan gedung utama SM Entertaiment pagi itu. Berbalut dress pink selutut dengan model mengembang di bagian bawahnya, Yoobi menebar senyum cantik di depan kamera yang menyorotnya.

“Lee Yoobi-ssi, bagaimana persiapan anda untuk tampil di konser tunggal Eunhyuk ?. Apakah benar bahwa kalian akan membawakan lagu duet nantinya ?”

“Lee Yoobi-ssi sejauh mana latihan anda dengan Eunhyuk-ssi ?. Benarkah kalian menjalin sebuah hubungan ?”

“Lee Yoobi-ssi katakan sesuatu.. Lee Yoobi-ssi.” Begitu banyak pertanyaan yang wartawan lempar kepadanya, namun sesuai perintah atasan bahwa Yoobi harus pura-pura tak mendengar semua itu dan mengabaikannya. Atau jika tidak, akan ada gosip yang berpotensi membuat karirnya –yang terbilang baru- itu hancur. Tidak hanya dia tapi juga Hyukjae.

Meski kenyataannya Yoobi sangat ingin menjawab semua pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa mereka –dirinya dan Hyukjae- memanglah menjalin hubungan. Hanya dengan menyebut kata hubungan maka semua akan mengira bahwa dirinya dan Hyukjae berada pada suatu hubungan kekasih, meski kenyataannya hanya hubungan sebatas teman bahkan bukan teman dekat. Karena Hyukjae selalu berusaha menghindarinya sejak ia mengutarakan perasaan sukanya 6 bulan yang lalu.

Dirinya bukan gadis bodoh yang tidak tau alasan di balik penolakan Lee Hyukjae. Meski mereka seorang public figure tidak ada larangan untuk berbuat curang demi mengejar cintanya bukan ?. Ada gadis lain yang Hyukjae cintai, dan rencana Yoobi adalah membuat gadis itu tahu bahwa kini Hyukjae adalah miliknya. Miliknya seorang. Setahunya, hubungan Hyukjae dengan gadis itu sedang tidak baik sudah cukup lama. Dan ia yakin hal itu karena berita tentang kedekatannya dengan Hyukjae beberapa bulan yang lalu. Bukan perkara sulit untuk tahu apa yang terjadi pada Hyukjae, namja itu terlihat murung beberapa bulan terakhir ini dan Yoobi punya telinga dimana saja. Jangan lupakan fakta bahwa dirinya adalah putri bungsu dari pemilik stasiun TV sekelas SBS. So, mudah baginya untuk tahu semua yang ia inginkan. Termasuk siapa gadis yang Hyukjae cintai itu. Song Hyera.

“Yoobi-ah setelah ini kau ada pemotretan untuk persiapan konser Eunhyuk.” Kata managernya yang berjalan di belakang.

“Apa Eunhyuk oppa juga ada disana ?”

“Nde.”

“Kalau begitu siapkan semuanya dengan baik. Aku ingin tampil sempurna di depannya.” Perintahnya tak bisa ditolak. Manager Go mengangguk dan segera menghubungi pihak penata gaya Yoobi untuk segera mempersiapkan semuanya. Ia tahu betul ambisi gadis itu jika menyangkut Eunhyuk.

2 jam berikutnya Yoobi berhasil bertransformasi bak putri awan dengan gaun putih menjuntai panjang dengan hiasan ornamen mawar putih di sekitar pinggul dan juga perutnya. Rambutnya tergerai indah dengan mawar putih yang dirangkai menjadi mahkota bunga. Disampingnya berdiri sosok tampan Lee Hyukjae dengan celana jeans yang menggantung pas di pinggulnya dan jaket kulit hitam serta dalaman hitam yang membuat tubuh kurusnya terlihat begitu keren. Salah satu kostum panggungnya nanti.

Keduanya selesai melakukan sesi pemotretan bersama, kini hanya tinggal Hyukjae yang masih punya beberapa pose untuk dilakukan. Kharisma seorang Lee Hyukjae membuat Yoobi enggan mengalihkan pandangannya dari sana. Fokus matanya terkunci pada wajah rupawan idol muda teman duetnya itu. Mengikuti kemanapun sosok itu bergerak, dan hal terakhir yang ia lihat sebelum Hyukjae berlari keluar ruangan meninggalkan pemotretannya adalah raut bahagia yang selama ini belum pernah ia temukan pada diri Lee Hyukjae. Membuatnya bertanya-tanya alasan apa yang membuat Hyukjae meninggalkan pemotretannya ?.

Penasaran, Yoobi pun memanggil salah seorang suruhannya untuk mengikuti kemana Hyukjae pergi. “Ikuti kemana dia pergi dan laporkan padaku. Apapun itu. Kau mengerti ?”

 

®IMMOLATION®

 

Mobilnya berbelok memasuki garasi rumah. Tak berselang lama sosoknya turun dari mobil dengan wajah lelah yang kentara. Memaksa kakinya menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar yang sudah lama ia tinggalkan. Pintu kamar itu terbuka seketika mengundang senyum cantiknya untuk terbit di wajah sayunya. Dengan sisa tenaga dalam dirinya, Hyera menyeret kakinya mendekati ranjang queen size dengan seprei berwarna biru langit di tengah-tengah kamarnya. Menjatuhkan dirinya ke atas kasur empuk seketika memejamkan mata melepas penat setelah hampir 9 jam perjalanan.

“Eomma tahu kau lelah Ra-ya, tapi makanlah dulu sebelum tidur. Kim ahjumma sudah menghangatkan makanan untukmu sayang. Ingin eomma bawakan makanannya kesini ?” Hyera bangun dari posisi terlentangnya, menatap Nyonya Song dengan raut lelahnya dan menggeleng.

“Aku akan membersihkan diri terlebih dulu lalu turun untuk makan. Eomma beristirahatlah, aku yakin eomma juga lelah karena menungguku di bandara.”

“Mandilah dengan air hangat. Itu akan membantu merilekskan tubuhmu yang pegal.” Sepeninggal Nyonya Song, Hyera beregas membersihkan diri dengan air hangat sesuai saran sang eomma. Sekitar 30 menit kemudian dirinya turun menuju meja makan untuk menyantap makan malam. Seorang diri tentunya, karena makan malam sudah lewat dan sekarang jam menunjukkan pukul setengah 9 malam.

Baru 5 suap nasi yang masuk ke perutnya sampai kegiatan makan malamnya itu terusik oleh bunyi bel rumahnya. “Siapa yang berkunjung malam-malam seperti ini ?” Dirinya sibuk berpikir hingga bel berikutnya terdengar. Penasaran, akhirnya Hyera memutuskan untuk melihat siapa orang yang dengan tidak sopannya datang di waktu malam saat orang sedang istirahat. Setidaknya ia dirasa perlu memberi orang itu sedikit ceramah.

Kaki telanjangnya melangkah pasti mendekati pintu utama berplitur putih gading itu. Tak berselang lama pintu itu pun terbuka, menunjukkan sosok berpakaian nyentrik serba hitam dengan gaya rambut yang dibuat jatuh menutupi dahinya. Belum sempat melihat wajahnya, sosok itu sudah lebih dulu menerjang tubuhnya dengan pelukan. Melesatkan kepalanya ke ceruk leher Hyera, menciptakan sensasi hangat pada sekujur tubuhnya terlebih hatinya.

“Akhirnya kau pulang Ra-ya. Aku begitu merindukanmu.” Bisik Hyukjae.

“Darimana kau tahu ?.” Hyera terheran. Pasalnya ia tidak memberitahu namja ini saat sampai di Seoul. Lalu siapa ?.

Hyukjae melepas pelukannya. “Ahn ahjushi yang memberitahukannya padaku.”

“Seharusnya aku sudah bisa menduganya.” Cibir Hyera, melipat kedua tangan di depan dada. Paman memang tidak bisa menjaga rahasia.

“Kenapa sepi sekali ?. Dimana Song ahjushi dan yang lainnya ?” Tanya Hyukjae sambil menelisik ke setiap sudut ruangan yang sebagian terlihat gelap.

“Apa kau tidak melihat jam sebelum berkunjung ?. Ini sudah hampir jam 9 malam Lee Hyukjae. Jika saja bukan kau yang muncul di depan pintu sudah pasti ku hajar orang yang berkunjung di waktu malam seperti ini.” Ucapnya sambil mengangkat tinjunya ke depan wajah Hyukjae.

“Woahh.. ingin terlihat garang nona ?. Sayangnya kau justru terlihat menggemaskan.” Kekehannya membuat Hyera kian muak. Gadis itu memutar bola matanya malas. Rasa rindu yang ia simpan seolah menguap tersapu angin malam begitu di suguhi tingkah polah Hyukjae saat ini.

“Whatever.” Ucapnya sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam berniat melanjutkan makannya. “Jangan lupa tutup pintunya. Udara begitu dingin.” Perintahnya pada orang di belakang sana. Bukan perkara sulit untuk tahu jika namja itu akan tetap masuk tanpa di suruh si pemilik rumahnya lebih dulu.

“Apa yang kau lakukan ?” Tanyanya saat melihat Hyera yang sibuk sendiri di depan kompor.

“Dilihat dari penampilanmu, aku tahu kau kabur dari pemotretan.”

“Lalu apa hubungannya dengan kau yang sibuk di sana. Kulihat sudah ada makanan di atas meja. Makanan sebanyak itu apa masih kurang ?” Ucapnya sakratis sambil menunjuk satu piring penuh nasi goreng kimchi dan segelas susu coklat yang mengepulkan asapnya. Ughh itu pasti nikmat. Tangannya bergerak mengelus perut kosongnya yang baru saja mengeluarkan suara aneh. Ia kelaparan.

“Lain kali sebelum kabur, tunggu sampai perutmu itu diisi. Atau paling tidak kau pulang dulu untuk makan baru kemari.” Hyera datang dengan sepiring nasi goreng kimchi dan coklat hangat, meletakanya di depan Hyukjae lalu duduk kembali di kursinya. Di samping kanan Hyukjae. “Makanlah setelah itu baru pulang.”

“Huwaaa.. jadi kau membuatnya untukku ?” Matanya berbinar, sudah seperti anak kecil yang mendapat permen kesukaannya.

“Tidak perlu berterima kasih. Cepat makan.” Tanpa berkomentar dan hanya tersenyum tiga jari sebelum melahap makanannya dalam diam. Sesekali Hyera menangkap decak kagum Hyukjae, mengatakan bahwa itu sangat lezat. Syukurlah jika kau menyukainya. Dalam hati ia tersenyum meski kenyataan yang ditunjukkan wajahnya saat ini hanya ekspresi datar dan tenang, bersikap sok acuh lebih tepatnya.

10 menit setelah itu, keduanya terlihat berdiri berdampingan di depan wastafel. Mencuci piring bersama. Bukankah mereka terlihat manis. “Duduk saja disana. Untuk apa kau disini ?. Kau ini seorang idol, apa kau tidak khawatir jika kulitmu akan teriritasi karena sabun ?” Celetuk Hyera berusaha mengusir Hyukjae dengan mendorong pelan tubuh itu menjauh. Pasalnya debaran jantung mulai berulah dan bahaya jika Hyukjae mendengarnya. Namja itu akan gencar menggodanya nanti.

“Ahh wae… aku hanya ingin membantu dan aku tidak peduli dengan statusku saat ini. Bagiku Lee Hyukjae yang sekarang sama saja dengan yang dulu. Kenapa harus di spesialkan.” Gerutunya manja. Itu memang benar, ia sama sekali tak peduli dengan hal ini. Hyera saja yang terlalu berlebihan menurutnya.

“Tapi kau menghambat pekerjaanku Hyukjae.”

“Apanya yang menghambat. Aku justru membantumu sejak tadi.”

“Kau membuat jantungku berdebar sejak tadi. Apa kau tidak tahu ha ?” Teriaknya frustasi. Seketika tubuhnya kaku, matanya bergerak gelisah menelisik sekitar menghindari tatapan intens Hyukjae di depannya.

“Matjayo. Na molla, karena yang kutahu hanyalah aku yang begitu merindukanmu Ra-ya.” Hyukjae melangkah maju, bersamaan dengan itu Hyera memundurkan kakinya. “Jadi.. ” Tubuh gadis itu menegang saat punggungnya tak lagi menemukan ruang yang tersisa, punggungnya membentur counter dapur. Sementara Hyukjae masih tetap melangkah maju, mencondongkan tubuhnya ke depan dan membisikkan sesuatu di telinga Hyera. “.. Aku sangat ingin mendengar jawabanmu Ra-ya.”

Hyera mendorong kuat-kuat tubuh Hyukjae hingga namja itu menjauh darinya. “Aku sangat lelah Hyukjae-ah. Kau tau sendiri aku baru saja melakukan perjalanan panjang jadi lebih baik kau segera pulang karena aku ingin istirahat.” Hyera melepas apron dan sarung tangan karetnya, selanjutnya berlalu pergi meninggalkan Hyukjae.

Aku belum siap untuk mengatakan jawabanku sebelum aku tahu ada hubungan apa kau dengan Lee Yoobi.

Mata almondnya menatap kepergian Hyukjae dari balik dinding tempatnya bersembunyi. Mata itu mulai berair saat melihat raut kecewa begitu kentara di wajah Hyukjae. Pria itu, sungguh Hyera tak berniat menyakiti perasaannya. Hanya saja disini waktunya sedang tidak tepat, hatinya masih perlu kejelasan. Mungkin ia tak akan ragu jika saja tempo hari tak melihat berita sialan itu. Untuk pertama kalinya setelah ia kembali ke Seoul, ia menangis karena hal berbeda tapi subjek yang sama. Kali ini ia menangis karena menyakiti perasaan Hyukjae, bukan seperti sebelum-sebelumnya yang menangis karena rindu.

Akibat menangis semalaman, paginya mata itu membengkak hingga terasa berat untuk terbuka. Tangannya sibuk memegang dua sendok perak untuk mengompres matanya. Kegiatan ini sudah ia lakukan selama 30 menit sejak selesai sarapan. Kini dirinya duduk di taman belakang menikmati semilir angin yang rasanya sudah semakin dingin mendekati musim salju.

“Nona muda, ada kiriman untuk nona.” Salah satu pelayan di rumahnya menghampiri Hyera yang masih sibuk dengan kompresannya. Sebuah amplop berwarna silver dengan tulisan warna emas berhasil berpindah ke tangannya.

“Kamsahamnida ahjumma.” Hyera membuka amplop tersebut dengan rasa penasaran. Ditariknya isi amplop tersebut keluar. “Tiket VVIP ?. Konser tunggal Eunhyuk ?. Wuahh dia benar-benar mengirimiku tiket cuma-cuma.” Hyera memasukkan kembali tiket tersebut ke amplopnya dan melanjutkan kegiatan mengompresnya.

“Hanya seperti itu reaksimu ?.”

“Kkamchagiya..” suara itu tiba-tiba muncul dari belakang tubuhnya, begitu dekat hingga membuatnya terkejut. “YAKKK, kenapa muncul tiba-tiba. Kau ingin membuatku pingsan karena jantungan ha ?” Semburan langsung untuk Hyukjae yang seketika mematung di sana.

“Terkadang aku lupa bagaimana menakutkannya kau saat marah.” Ungkapnya sambil mengelus dadanya yang tersentak akibat suara dahsyat Hyera barusan. Hyukjae menyambar jus jeruk yang tercepak di atas meja, meneguknya hingga separuh gelas. Ia yakin itu milik Hyera. Tindakannya ini justru membuat Hyera makin kesal.

“Kemari kau.. akan ku bunuh kau Lee Hyukjae.” Hyera memutari meja yang menghalangi dirinya dengan Hyukjae di seberang sana. Jadilah keduanya seperti anak usia belasan tahun yang bermain kejar-kejaran di taman belakang. Padahal umurnya sudah berkepala 2.

“Berhenti mengejarku. Setelah ini aku masih ada pemotretan Ra-ya. Panjang urusannya jika aku kembali berkeringat.”

“Heol. Lalu apa kabar dengan jantungku yang kau buat kejang tadi ha ?. Tidak, aku tidak akan berhenti sebelum memberimu pelajaran. Kemari kau..”

“Shireo. Kalau begitu aku tidak punya cara lain.” Kejadiannya begitu cepat, Hyukjae berputar dan menangkap tubuh Hyera. Menggendongnya ala bridal style. “Hahaha, tertangkap kau.”

“Turunkan aku Lee Hyukjae.. Ppalli.”

“Aku akan menurunkanmu nona. Tapi tidak disini.” Hyukjae membawa tubuh Hyera ke sisi kanan rumah dimana sebuah kolam renang terbangun disana.

“Ya..ya..ya, jangan berani-berani melakukannya Lee Hyukjae.” Mengerti dengan maksud tersembunyi Hyukjae, Hyera tak berkutik saat namja itu membawanya ke bibir kolam. Sudah jelas namja ini ingin menceburkannya ke kolam. “Keumanhae.. atau aku akan-”

“Masih berani mengancam nona cantik ?. Daripada mengancam bagaimana jika kau menjawab pertanyaanku saja. Jika jawabanmu sesuai harapanku maka kau kulepaskan. Otte ?” Ucapnya memotong perkataan Hyera sebelumnya.

Hyera geram, ingin rasanya mencakar wajah tampan di depannya ini. Pandangannya beralih ke arah kolam, membayangkan tubuhnya tercebur ke dalam sana dengan air yang pasti sangat dingin terlebih ini masih terbilang pagi. Bisa menggigil tubuhnya. Sudah pasti itu. Tubuhnya bergidik tatkala angin berhembus ke arah mereka. Rambutnya yang tergerai indah beterbangan ikut terbawa angin dan itu membuat orang yang menggendongnya terpana karenanya. Gadis itu tidak tahu bahwa pandangan Hyukjae terhadapnya sudah berubah, mata itu menatap redup ke arahnya dengan sorot penuh kerinduan.

“Baiklah, apa pertanyaanmu ?. Cepat katakan.” Hyera sedikit meringkukan tubuh rampingnya dalam gendongan Hyukjae, merasa tersengat oleh angin yang berhembus. Ia sangat benci dingin, jika saja bukan karena Hyukjae sudah sejak tadi ia masuk ke rumah dan menyalakan penghangat ruangan.

Melihat tingkah polah Hyera, Hyukjae semakin mendekatkan tubuh mereka. Memaksa kepala itu untuk bersandar di bahunya. “Kau bisa mengeratkan pelukanmu jika kedinginan.”

“Mimpi saja kau.” Senyum miring itu tersungging di bibirnya, membuat Hyera menatap penuh heran kearahnya. “Akhhhh…” Hyera refleks mengalungkan tangannya di leher Hyukjae saat tubuhnya hampir saja jatuh karena ulah namja menyebalkan semacam Lee Hyukjae ini. Ohh orang ini benar-benar menguji kesabaranku.

“Ini lebih baik.” Ucapnya penuh senyum di wajahnya. Sikapnya memang menyebalkan tapi senyum itu membuat Hyera terhenyak. Dia benar-benar tampan.

“Sudah tidak ada banyak waktu, jadi jawab saja pertanyaanku tanpa membantah.” Senyum itu masih bertengger di kedua sudut bibirnya.

“Aku menyuruhmu mengatakannya sejak tadi Lee Hyukjae. Kau saja yang mengulur waktu.”

“Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu. Apa itu salah ?” Ujarnya enteng. Kalimat itu mungkin ringan di ucapkan tapi berat pengaruhnya bagi yang mendengar.

“Langsung saja ke pertanyaan pertama monyet tengil.” Elaknya.

“Baiklah. Pertanyaan pertamaku, bagaimana kabarmu ?”

“Kau lihat sendiri, aku baik-baik saja.”

“Apa kau tidak merindukanku ?” berbeda dari pertanyaan sebelumnya, kini Hyera mengambil jeda cukup lama untuk menjawabnya.

Hyera memalingkan wajahnya saat menjawab. “Aku merindukanmu.”

“Sudah kuduga.” Hyukjae berucap, lega. “Di Amerika kau sering menangis setiap malam. Apa penyebabnya ?”

“Kau.” Jawabnya cepat disertai tatapan yang perlahan mengarah ke mata sipit milik Hyukjae. “.. dan Yoobi.” Akhirnya ia mengatakannya. Dengan nada lirih, terdengar penuh rasa sakit di telinga Hyukjae.

“Yoobi ?. Apa hal itu yang membuatmu marah padaku selama 4 bulan ini ?”

“Jika sudah tau jangan bertanya lagi, pabbo.” Katanya sengit.

“Baiklah, kita akan membahas itu nanti. Aku akan melanjutkan pertanyaanku. Apa di hatimu masih tersimpan nama yang sama ?. Lee Donghae ?”

“Ani. Nama itu sudah lenyap sejak 2 tahun yang lalu.” Karena namamu yang sudah mengusirnya dari sana.

“Lalu siapa penggantinya sekarang ?.” Hyukjae yakin jika Hyera akan terpancing oleh pertanyaannya dan mengatakan jawaban atas pengakuannya 3 tahun yang lalu. Tujuan dari semua ini hanyalah jawaban Hyera.

“Eobseo. Hatiku masih kosong belum ada pria yang bisa menggantikannya.” Jawab Hyera cuek. Dalam hati ia bersorak senang, rasakan kau Lee Hyukjae. “Sebenarnya ada satu nama yang hampir saja menempatinya, keundae.. namja pemilik nama itu membuatku kecewa 4 bulan yang lalu dan itu membuat hatiku kembali ragu.” Jelasnya menekan kata hampir disana. Kalimatnya benar-benar menohok langsung ke hati Hyukjae. Tepat sasaran.

“Apa ini berkaitan dengan Lee Yoobi ?. Apa kau cemburu ?. Benar begitu ?.”

“Ani, siapa bilang ini karena kau dan gadis bernama Yoobi itu. Cemburu ?. Heol, kau pikir kau siapa sampai aku harus cemburu padamu.” Ketus Hyera. Rasa cemburu mulai menguasai hatinya hingga mulutnya berucap tanpa disaring lebih dulu. Kalimatnya barusan sungguh melukai perasaan Hyukjae.

Hyera terheran saat Hyukjae menurunkan tubuhnya begitu saja. Tanpa mengucap sepatah kata bahkan tanpa menatapnya, pria itu pergi setelah menyambar jaket yang tersampir di sandaran kursi. Ia tak sempat memperhatikan raut wajah Hyukjae, membuatnya berspekulasi akan banyak hal. “Apa ucapanku menyakitinya ?” Namun Hyera buru-buru menampik pikiran tersebut. “Huh.. kau mana bisa marah padaku Lee Hyukjae. Kita lihat saja nanti. Sebentar lagi aku yakin akan ada banyak pesan masuk darimu.” Hyera membereskan kompresannya begitu juga dengan undangan VVIP itu, membawanya masuk dan melanjutkan ritualnya di dalam.

Di lain tempat, Hyukjae memacu mobilnya diatas kecepatan normal membelah jalanan Seoul yang lumayan lenggang saat itu menuju tempat konsernya yang akan diadakan esok lusa. Persetan dengan kendaraan lain yang sejak tadi membunyikan klaksonnya memprotes cara berkendara Hyukjae yang terkesan mainstrem di jalan raya. Pria itu tengah di selubungi kabut emosi karena ucapan Hyera beberapa waktu yang lalu terus berputar di dalam otaknya. Fokusnya teralihkan ke ponsel yang tergeletak di kursi samping kemudi. Berharap itu panggilan dari Hyera namun harapannya ikut tertinggal di belakang sana, nyatanya yang terlihat justru nama managernya.

“Wae hyung ?”

“Ani, aku akan langsung ke tempat konser untuk latihan. Hari ini batalkan semua jadwal pemotretan, aku hanya ingin fokus berlatih. Ahh.. beritahu Yoobi untuk segera menuju tempat konser. Kami ada jadwal latihan bersama.” Hyukjae memutus panggilannya sepihak. Tak ada cara lain untuk meluapkan amarahnya. Ia tidak bisa membentak orang yang menyebabkan kemarahan ini, alhasil selama latihan di tempat konser Hyukjae meluapkan amarahnya ke orang lain. Entah itu manager, staf atau backing dancer.

“Minumlah dulu oppa. Kau terlihat tidak baik hari ini. Apa ada masalah yang mengganggumu ?” Pertanyaan itu terucap dari bibir ranum milik Yoobi. Gadis itu sejak tadi memperhatikan tingkah polah Hyukjae, dirinya cukup dibuat tercengang mendengar gelegar teriakan amarah Hyukjae hanya karena namja itu salah mengambil koregrafi.

“Kau tidak perlu ikut campur Yoobi-ssi. Fokuslah pada latihanmu hari ini.” Hyukjae berlalu pergi mengambil botol minumnya sendiri. Melihat wajah Yoobi membuatnya teringat pada Hyera, karena duduk permasalahan mereka hingga Hyera mengatakan hal yang menyakiti perasaannya adalah karena Lee Yoobi. Secara tidak langsung gadis itu biang masalah dalam hubungannya dengan Hyera.

Latihan mereka berlanjut hingga pukul 4 sore. Bagian terakhir dari sesi latihan mereka adalah simulasi jalannya konser. Tiba dibagian akhir dari lagu duet Yoobi bersama Hyukjae, gadis itu terpeleset. “Lee Yoobi-ssi gwenchana ?.” Tanya Hyukjae.

“Kakiku oppa.. akhhh” Yoobi merintih sakit di bagian pergelangan kaki. Ini kabar buruk.

“Cepat panggil ambulance.” Teriak Hyukjae pada staf disana. Dengan cekatannya ia menyelipkan kedua tangannya diantara lutut dan punggung Yoobi, menggendongnya bridal style ke belakang panggung.

 

®IMMOLATION®

 

Manakala langit di atas sana berubah warna menjadi hitam, Hyera menapakkan kaki dari halte bus ke tempat tujuan. Dengan menenteng paper bag ditangan kanannya gadis itu melangkah santai sambil bersiul sepanjang jalan. Celana jeans yang membungkus cantik kakinya, cardigan rajut warna cream dan syal senada mempercantik penampilannya petang itu. Rambutnya yang tergerai dengan gelombang kecil di bagian bawahnya membuatnya terlihat sempurna meski tanpa polesan make up yang berlebihan.

Sore tadi ia berkunjung ke kediaman keluarga Lee, sekedar untuk mengucapkan salam dan berbagi cerita selama ia berada di Amerika sana. Hyera bercerita banyak hal pada Nyonya Lee hingga pukul 5 sore tadi beliau menerima panggilan dari sang putra untuk mengantarkan beberapa baju ganti ke gedung agency karena Hyukjae tak akan pulang malam ini. Terjadi kecelakaan kecil di tempat latihan yang membuatnya harus merubah beberapa konsep segera mungkin. Itulah yang dijelaskan Nyonya Lee tadi, dan Hyera menawarkan diri untuk mengantar pakaian itu ke gedung SM. Sekaligus minta maaf pada Hyukjae.

Pria itu benar-benar marah padanya, terbukti sejak tadi pagi satupun pesan tak ada yang masuk ke ponselnya. Dan saat Hyera berusaha menghubungi Hyukjae lebih dulu, namja itu tak mengangkatnya. Setalah ia berpikir ulang, mungkin kalimatnya tadi pagi salah satunya ada yang menyinggung perasaan Hyukjae. Memang mulutnya ini sekali-kali perlu di tumpulkan ia rasa, agar tidak terlalu tajam saat berucap.

10 menit berjalan kaki, sampailah ia di depan gedung utama SM Entertaiment. Kepalanya mendongak menatap poster besar yang terpasang di atas pintu utama gedung tersebut. Menurut perhitungannya poster itu memiliki panjang 15 meter dan lebar 6 meter. “Kau benar-benar terkenal sekarang Hyuk-ah.” Ucapnya lirih disertai senyuman. Poster lebar di atas sana terisi penuh oleh gambar Hyukjae dengan nama panggungnya Eunhyuk tertulis di kanan bawah.

Puas menatap poster itu, Hyera melanjutkan langkah hendak masuk lewat pintu kaca di depannya namun terhenti begitu sebuah mobil van putih berhenti tepat di depan gedung. Tangannya yang sudah memegang handle pintu kaca itu berhenti untuk mendorongnya karena penasaran dengan idol yang diangkut van putih itu. Seseorang begitu tergesa-gesa turun dari sisi kemudi dan membukakan pintu untuk orang lain di kursi penumpang. Senyum di bibir Hyera kian mengembang saat Hyukjae-lah yang keluar dari balik pintu itu. Suaranya sudah hampir keluar hendak menyuarakan nama Hyukjae namun tertahan saat mata almondnya menangkap ada sosok lain di dalam mobil itu. Hyukjae terlihat sedang mengalungkan tangan seseorang ke pundaknya. Hingga sosok lain itu keluar dari sana dalam gendongan Hyukjae. Luntur sudah senyum manisnya 5 detik yang lalu.

“Lee Yoobi-ssi…” Suaranya tercekat. Paper bag dalam genggamannya terlepas begitu saja menimbulkan suara yang mampu menarik perhatian semua orang di dekatnya termasuk pria itu.

“Ra-ya..” Hyukjae juga tercekat, terkejut mendapati gadis itu berdiri disana. Nampak rapuh dari yang ia lihat. Mata almond yang selalu nampak cerah itu kini tertutup air mata yang menggenang. Dapat ia lihat tubuh Hyera yang sedikit bergetar memungut kembali paper bag itu dan berjalan kearahnya.

“Jwesonghamnida.” Hyera menundukkan kepalanya sebentar sekaligus mengucap maaf karena keributan kecil yang ia buat. Suaranya bergetar begitu jelas di telinganya, sayangnya gadis itu enggan untuk menatap kearahnya. Hyera menggeser tubuhnya menghadap manager Hyukjae. “Nyonya Lee menitipkan ini untuk Lee Hyukjae.” Ucapnya menyodorkan paper bag itu pada manager Hyukjae. “Geureom.” Tugasnya hanya mengantar pakaian itu dan selesai. Hyera pamit untuk kemudian pergi dari sana membawa luka hati yang sebenarnya sudah hilang namun kembali lagi.

“Hyera berhenti disana.” Interupsi itu berasal dari bibir Hyukjae. Sama seperti sebelum-sebelumnya, tubuhnya seolah menuruti apapun yang namja itu perintahkan. Kakinya berhenti melangkah namun enggan berbalik. Dengan posisi mereka seperti membantu Hyera menyembunyikan air matanya. Menangis di hadapan Hyukjae bukan masalah, tapi tidak jika ada gadis itu disana. Menangis di depan Yoobi sama saja dengan menginjak harga dirinya. Kapan awalnya ia tak tahu tapi yang pasti Lee Yoobi adalah rivalnya.

Hyukjae bergerak hendak menurunkan Yoobi namun terurungkan karena gadis itu mengerang sakit. Jangan lupakan fakta gadis itu adalah aktris yang sedang naik daun belakangan ini, seorang aktris sudahlah pasti pandai berakting. “Oppa, kakiku benar-benar sakit. Jika oppa menurunkanku disini, aku tidak yakin bisa berjalan ke dalam.”

“Ada manager Kim disini. Kau masuk dengannya saja.” Hyukjae sudah setengah proses menurunkan Yoobi, namun kembali terhenti saat gadis itu mengeluarkan kalimat protesnya.

“Apa kau tidak lihat manager Kim sibuk membawa barang kita ?. Oppa, setidaknya kau lebih bertanggung jawab padaku karena secara tidak langsung hal ini juga karena emosimu yang tanpa sebab itu.” Sindir Yoobi.

Persetan dengan perdebatan di belakang sana, Hyera tak lagi peduli. Ia mendengar semua yang mereka katakan, dan ketidaktegasan Hyukjae dalam mengambil keputusan membuatnya muak. Kakinya kembali melangkah, benar-benar pergi dari sana.

Sementara itu, Hyukjae memutuskan untuk membawa Yoobi masuk ke dalam terlebih dulu. Langkahnya begitu tergesa-gesa, hal itu membuat Yoobi merasakan hatinya panas seketika. Tanpa ingin menutup-nutupinya Hyukjae menunjukkan bahwa dirinya benar-benar telah jatuh pada pesona Song Hyera. Selepas kepergian Hyukjae, Yoobi menghubungi kaki tangannya untuk memberi pelajaran pada gadis bermarga Song itu. “Buat ia jera dan tak lagi berani mendekati Eunhyuk oppa.” Perintahnya.

 

®IMMOLATION®

 

Malam semakin larut saat dirinya memutuskan untuk pulang. Jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengah 9. Hyera berjalan kaki menuju rumahnya karena halte bus hanya ada di depan kompleks perumahan Gangnam, pada akhirnya gadis itu harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sendirian menyusuri jalan yang hari itu nampak lebih gelap dari biasanya. Lampu jalan seakan lebih redup pencahayaannya daripada biasanya. Entah hanya perasaanya saja atau memang benar adanya.

“Malam ini semuanya terasa kelam.” Bisiknya di tengah keheningan. Ia merasa dunia ikut merasakan apa yang tengah dirasakan hatinya malam ini. Sekelam malam, begitulah keadaan salah satu organ di tubuhnya itu.

Disela langkahnya yang lesu tak bersemangat, sebuah mobil berjalan dari arah belakang dengan lampu depan yang menyorot dirinya. Awalnya Hyera tak begitu menganggap mobil itu, berpikir itu hanya mobil salah satu penghuni kompleks. Cukup lama namun mobil itu tak kunjung melewatinya, penasaran gadis itu memutar kepalanya bermaksud mengecek ada apa sebenarnya dengan mobil di belakang sana. Lampu yang begitu kuat menusuk ke retina membuat Hyera kesulitan melihat. Dengan bantuan tangan kiri menghalau cahaya, Hyera bisa melihat seorang pria ternyata sedang mengutak-atik mesin mobil itu. “Mogok ternyata. Hufffttt membuatku takut saja.” Merasa tak ada yang perlu ditakutkan gadis itu kembali melanjutkan langkah.

Satu belokan ia lewati, itu artinya kurang satu belokan lagi di depan sana dan ia akan sampai ke rumah megahnya. Keadaan sekitar amat sepi membuat Hyera mampu menangkap suara benturan sepatu pantofel dengan aspal dingin di bawah sana. Kakinya melambat bermaksud memperjelas suara itu namun semakin ia memperlambat langkah maka suara itu ikut lenyap dan saat tubuhnya berbalik anehnya tak ada seorangpun di belakang. “Aku yakin tidak salah dengar.” Ada seseorang yang mengikutiku. Lanjutnya dalam hati.

Tak ingin ambil resiko dengan sok berani, Hyera kembali melanjutkan jalannya dengan ritme lebih cepat. Suara itu kembali terdengar membuatnya semakin yakin bahwa memang ada orang di belakang sana yang mengikutinya. Pikiran-pikiran buruk mulai menyapa kepalanya membuat Hyera ketakutan. Sialnya jika ia berlari, ia yakin pria itu akan mengejarnya dan sudah pasti ia akan kalah. Berita buruk selanjutnya adalah rumahnya masih lumayan jauh. Setelah cukup lama bergelut dengan akal sehatnya, akhirnya kemungkinan pertamalah yang ia ambil. “Tidak ada pilihan lain.” Putusnya sebelum berlari sekencang yang ia bisa.

Benar saja, pria yang tak tahu siapa itu mengejarnya. Meneriakinya untuk berhenti atau jika tidak ia akan menyesal nanti. Ohh ancaman yang mengerikan. Putri tunggal keluarga Song yang tersohor itu terus berlari semampu yang ia bisa. Syal cream yang melilit lehernya telah tandas dari sana, terbang tersapu angin malam. Kini nyata ia rasakan hawa dingin menelusup masuk dari baju tanpa kerahnya. Buruknya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengeluh kedinginan. Melarikan diri dari pria asing yang berniat jahat terhadapnya itu jauh lebih penting. Rambutnya yang tergerai nampak awut-awutan karena terpaan angin, beterbangan kesana kemari menutupi sebagian wajahnya, menyulitkan Hyera melihat depan.

BRUKKK !!!

“AAAAA..” Teriak Hyera begitu seseorang menangkap tubuhnya dari depan. Matanya tertutup dengan tubuh yang terus meronta minta di lepas. “Lepaskan aku.. aku tidak mengenalmu jadi lepaskan aku.” Si pria hanya diam menelisik wajah Hyera.

“Hey buka matamu Song Hyera dan lihat siapa yang ada di depanmu saat ini.” Ucap pria itu. Nyatanya Hyera tidak serta merta menurut. Gadis itu ketakutan, dilihat dari tubuhnya yang bergetar dan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. “Hyera buka matamu. Ada apa sebenarnya ?. Ini aku Lee Hyukjae.” Mendengar nama itu membuat Hyera mendapat keberanian untuk membuka mata.

“Hyukjae-ah..” Tubuhnya menubruk tubuh Hyukjae, memeluk erat mencari perlindungan. Tak bisa ia tutupi hatinya lega mengetahui namja inilah yang muncul di depannya. Disaat yang tepat dan menyelamatkannya. “Disana..” jari telunjuk tangan kanannya menunjuk ke belakang tanpa melepas pelukannya. Hyera terlalu takut untuk melihat ke belakang. “.. ada orang yang mengejarku. Aku sangat takut Jae-ah.” Dan selanjutnya gadis itu menangis dalam pelukan Lee Hyukjae.

Tak ada seorangpun di sana selain mereka. Saat Hyukjae muncul dari belokan dan akhirnya menemukan Hyera yang tengah berlari ketakutan, sama sekali ia tak melihat orang lain disana. Ia yakin Hyera tak mungkin berbohong jika melihat keadaan gadis ini sekarang. Sembari menenangkan Hyera dalam pelukannya, Hyukjae menyisir keadaan sekitar dan menemukan sebuah CCTV tak jauh dari mereka. Aku akan memeriksanya setelah mengantarkan Hyera pulang. “Tenanglah, ada aku sekarang. Aku akan melindungimu jadi kau tak perlu takut lagi. Aku akan mengantarmu pulang. Tubuhmu menggigil.”

Selesai mengantar pulang Hyera dan memastikan gadis itu tertidur di ranjang empuknya, Hyukjae bergegas ke suatu tempat untuk mengecek reka ulang CCTV malam itu. “Bisa tunjukkan rekaman CCTV satu jam yang lalu ?. Di kompleks perumahan Gangnam. Salah seorang temanku hampir saja mengalami aksi kejahatan disana.” Mendengar penjelasan tersebut, petugaspun tak keberatan membagi rekaman sesuai permintaan Hyukjae tadi.

“Berhenti disana.” Perintah Hyukjae saat mata sipitnya melihat pria berjas dan bertubuh kekar mengejar Hyera dan berakhir tak lama setelah Hyukjae muncul. Pria itu bersembunyi di balik tembok rupanya. Tak berselang lama setelah Hyukjae dan Hyera pergi dari sana, sebuah mobil sedan hitam metalik nampak berhenti di dekatnya. Pria itu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kompleks. Jadi tujuan mereka adalah Hyera. Ada masalah apa mereka dengan Hyera ?.

“Apa kau mengenal plat mobilnya ?. Kita bisa melacak mereka lewat plat mobilnya anak muda.”

“Bisakah ?.” Petugas mengangguk yakin. Hyukjae memperhatikan dengan teliti plat mobil itu, si petugas memperbesar gambarnya men­-close up rekaman hingga jelas kini terlihat nomer plat kendaraan yang mengejar Hyera. “Plat itu… ”

 

®IMMOLATION®

 

Sepotong sandwich berhasil masuk ke dalam mulutnya, berlanjut dengan segelas jus jeruk yang menyegarkan di pagi menjelang siang ini. Saat tangan kanannya sibuk memegang sandwich maka tangan kirinya memiliki pekerjaan lain. Mengetik pesan balasan untuk orang yang mengganggunya sejak pagi tadi. “Wahh benar-benar keras kepala.” Dengusnya begitu mendapat telepon dari pengganggunya itu. Dengan malas Hyera menggeser layar ponselnya menerima telepon tersebut.

“Manager Kim, aku benar-benar tidak ingin merepotkan anda. Aku akan datang ke konser itu sendiri. Katakan pada Hyukjae bahwa aku akan pergi kesana dengan supir jika dia tidak ingin aku pergi sendirian.”

“Hyera-ssi, kau kenal anak itu dengan baik. Eunhyuk bersi keras agar kau datang bersamaku atau jika tidak maka ia akan menunda konsernya sampai kau mau datang denganku.”

Hyera mendengus lelah. “Dasar kekanakkan.”

“Aku mendengarnya Song Hyera.” Mulutnya terkatup ratap begitu suara di seberang sana berganti. Ia kenal pemilik suara ini.

“Lee Hyukjae, kau berlebihan dan kekanakkan apa kau tahu itu ?.”

“Jangan membantah Ra-ya, aku tidak ingin kejadian tempo hari terulang. Manager Kim akan menjemputmu sekarang, jadi bersiaplah.”

“Mwo ?. Jigeum ?. Bukankah konsermu masih 3 jam lagi ?”

“Ada sesuatu hal yang harus kulakukan dan aku membutuhkanmu. Kita akan menangkap orang itu sekarang.” Perkataan Hyukjae terdengar begitu meyakinkan.

“Kau mencarinya selama ini ?.” Tanya Hyera tak percaya, di jawab Hyukjae dengan deheman. “Jae-ah, lebih baik kita lupakan saja masalah itu. Biar appa yang mengurusnya, kau tidak perlu bertindak sejauh ini dengan menangkap pelakunya sendiri. Negara ini punya penegak hukum sendiri. Jangan bertindak seperti pahlawan dan membahayakan keselamatanmu sendiri.”

“Jika yang kau khawatirkan adalah orang itu melukaiku, maka kau salah. Aku yakin orang itu tidak akan berani melukaiku karena sasarannya hanyalah kau Ra-ya. Aku sudah tau dalang di balik semua ini.” Hyera tak mampu melawan, nyatanya meski mulutnya berkata ‘melupakan’ lain dengan hatinya yang selalu ingin tahu.

“Baiklah, aku akan bersiap sekarang. Berjanjilah untuk tidak terluka Hyuk-ah atau aku akan menyesali keputusanku ini.”

“Aku berjanji.”

30 menit setelahnya, disinilah ia bersama Manager Kim. Sejak tadi matanya lebih tertarik menatap cincin cantik yang melingkari jari manisnya sejak 2 tahun yang lalu itu. Seharusnya ia sadari ini sejak dulu. Hyukjae sudah banyak memberinya cinta, menunjukkan perasaannya tanpa ragu sedikitpun bahkan sejak ia masih mencintai Lee Donghae. Tapi apa yang sudah ia berikan untuk namja itu ?. Daripada memberi, ia sadar lebih banyak menyakiti perasaan Hyukjae dengan berkata pedas dan acuh. Melihat apa yang pria itu lakukan untuknya, apa itu masih tidak cukup untuk membuat hatinya kembali yakin ?. Tidak, hatinya ragu pada perasaan Hyukjae itu saja sudah kesalahan besar yang ia lakukan.

“Apa cincin itu dari Eunhyuk ?.” Tanya manager Kim membuyarkan lamunannya.

“Ahh n-nde.” Jawabnya gugup.

“Aku sudah memikirkannya sejak lama dan kurasa memang benar bahwa diantara kalian memang ada hubungan khusus. Machi ?” Pria itu masih fokus ke depan tapi begitu antusias mengetahui jawaban Hyera. Dilihat dari ekspresi wajahnya.

“Mmm seperti itulah.” Jawabnya malu-malu. Kedua pipinya memerah disana.

“Hahaha.. kau tidak perlu malu seperti itu Hyera-ssi. Justru sebaliknya kau harusnya bangga bisa dicintai olehnya. Ketahuilah bahwa kekasihmu itu masuk sepuluh besar kategori pria yang paling di idamkan.”

“Jinjja ?.” Sahutnya cepat. Ditanggapi dengan anggukan dan senyum hangat manager Kim. Orang ini ramah. Batinnya. “Aku memang beruntung. Tidak seharusnya aku menyakiti perasaannya kemarin.” Ujarnya dengan nada lemah.

“Kalian bertengkar ?. Kelihatannya tidak seperti itu tadi.”

“Tidak hari ini tapi kemarin. Aku mengatakan hal yang menyakiti hatinya.” Jelasnya masih dengan nada lemah dan kepala tertunduk memainkan cincin di jarinya.

“Ahh jadi kau penyebabnya.” Seru manager Kim mampu menarik seluruh perhatian Hyera untuk menoleh kearahnya. Mengerutkan kening. “Asal kau tahu saja Hyera-ssi, kemarin Eunhyuk marah seharian penuh di tempat latihan dan meluapkan rasa kesalnya itu pada seluruh staf dan back dancer. Awalnya aku mengira memang staf membuat kesalahn tapi setelah kuperhatikan, bocah itu marah-marah tanpa sebab yang jelas. Berteriak seperti orang kerasukan saat dirinya sendiri melupakan koreagrafinya.” Jelasnya panjang lebar lengkap dengan segala macam raut muka. Kesal, geli, datar dan lain sebagainya ditunjukkan dari wajah pria berumur 40-an itu.

“Monyet itu memang berlebihan. Jika memang marah kenapa tidak meluapkannya padaku saja.” Gerutunya.

“Mwo ?. Kita tidak sedang membicarakan spesies primata Hyera-ssi. Yang kita bicarakan adalah kekasihmu Lee Hyukjae.” Hyera memutar mata malas mendengar penuturan manager Kim barusan. Benar apa yang ia pikir selama ini, apapun yang menyangkut Lee Hyukjae maka semuanya ‘aneh’ untuknya.

“Bisa kau ceritakan hal apa yang ia lakukan kemarin manager Kim.” Hyera mengembalikan pembicaraan ke topik semula.

“Ahh geureom. Tidak banyak yang ia lakukan kemarin selain marah-marah, membuat kami semua kualahan menuruti permintaannya. Mungkin ini terdengar jahat tapi kami bersyukur karena kemarahannya berakhir saat Lee Yoobi-ssi mengalami kecelakaan kecil ketika latihan.” Nama itu lagi, mendengarnya membuat telinganya panas dan berujung pada hatinya yang terasa nyeri. Sayangnya kali ini ia penasaran dengan kelanjutan cerita itu, tak menutup kemungkinan ia juga akan mendapat penjelasan dari pertemuan tak disengajanya dengan Hyukjae petang itu di depan gedung utama SM. Awal dari malam kelamnya.

“Lalu apa yang terjadi setelahnya ?.” Mobil mereka terhenti saat lampu merah menyala.

“Tentu saja kami membawa Yoobi-ssi ke rumah sakit. Setelah itu Eunhyuk ingin kembali melanjutkan latihan namun Yoobi-ssi menahannya dan meminta pertanggung jawaban Eunhyuk untuk menemaninya sampai pemeriksaannya selesai. Sampai akhirnya kita bertemu di depan gedung agency petang itu.” Lampu berganti warna menjadi hijau tanda untuk berjalan. Manager Kim memasukkan pedal gas sambil melanjutkan ceritanya. “Aku tahu saat itu kau pasti cemburu melihat Eunhyuk bersama Yoobi.”

“Ahh.. A-anio. Bukan seperti itu manager Kim. Hehehe..” tawa sumbang itu justru membuat Manager Kim semakin yakin. Ia sudah ahli dalam hal perasaan wanita. Percuma juga Hyera membohonginya.

“Kau tidak akan bisa berbohong padaku Hyera-ssi. Aku bisa menebak dengan benar saat itu juga.” Ocehan Kim Kibum –manager- itu berhasil membuat wajahnya memerah menahan malu. Ternyata tidak semua pria di dunia ini yang tidak peka seperti Hyukjae. Batinnya. “Kau tidak perlu cemburu pada mereka Hyera-ssi. Jika saja kau tahu usaha Eunhyuk untuk menjaga jarak dari Lee Yoobi yang berambisi padanya, kau pasti tidak akan sampai hati untuk marah pada Eunhyuk. Gadis itu benar-benar gila. Meski dia cantik dan dari keluarga terpandang, aku berani bertaruh Yoobi-ssi akan sulit mendapat kekasih. Dia sangat mengerikan jika sudah menginginkan sesuatu. Apapun akan gadis itu lakukan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.”

“Kalau tidak salah 10 bulan yang lalu, Lee Yoobi menyatakan perasaanya pada Eunhyuk. Dan kurasa hubungan kalian sudah lama karena Eunhyuk dengan pasti menolak Yoobi dan mengatakan sudah ada seseorang yang ia cintai saat itu. Aku yakin itu kau, Hyera-ssi.”

Tangannya terangkat menyentuh lehernya yang tertutup coat putih. Di leher itu masih tersemat kalung –pemberian Hyukjae- berinisalkan namanya yang selalu ia kenakan. Pria itu begitu besar mencintainya, Hyera yakin dan ini begitu menyentuh jauh ke dalam lubuk hatinya. Hanya satu hal lagi yang masih mengusik pikirannya. “Manager Kim, bisa kau jelaskan iklan yang mereka berdua perankan beberapa bulan yang lalu sampai menimbulkan berita yang mengira bahwa keduanya menjalin hubungan khusus ?. Jika aku boleh jujur, karena berita itulah aku sempat marah pada Hyukjae sampai berbulan-bulan.”

Kim Kibum nampak berpikir sesaat, karena begitu banyak iklan yang Hyukjae perankan membuat daya ingatnya tertantang. Iklan yang berujung skandal ya.. biar dia ingat-ingat. “Ah matta. Aku ingat iklan itu. Ishhh iklan itu adalah projek yang mendapat penolakan keras dari Eunhyuk. Sayangnya, CEO kami menginginkan Eunhyuk menerima iklan tersebut. Bagaimanapun juga, Eunhyuk tetaplah idol baru yang sedang naik daun, jadi untuk tetap mempertahankan popularitasnya itu semua idol perlu bumbu-bumbu sensasi. Ya.. seperti itulah dunia hiburan di dunia.”

“Kau tidak perlu khawatir mengenai berita itu. Mereka para wartawan memang suka melebih-lebihkan apa yang mereka lihat, entah itu benar atau tidak. Percaya saja pada cinta kalian. Selama aku bekerja dengan Eunhyuk, bocah itu tidak pernah membicarakan wanita lain.”

Terungkap sudah semuanya. Kecemburuannya tidak pernah benar selama ini. Lee Hyukjae tidak pernah mengkhianatinya, seharusnya ia sadari itu sejak awal bukannya malah bertingkah seperti bocah remaja yang labil. Semua kebenaran yang sudah terungkap memantapkan Hyera untuk mengakhiri kebimbangan dan ketidakjelasan hubungan mereka hari ini. Jawaban itu akan ia berikan hari ini.

Begitu mobil itu berhenti di pintu masuk khusus staf dan panitia pelaksana konser, Hyera bergegas keluar dari sana dan berlari masuk meninggalkan Kibum. Keinginan untuk mengatakan kebenarannya akan perasaannya pada Hyukjae membuatnya tak ingin menunggu detik berganti rasanya. Rambutnya dibuat lurus kali ini, lengkap dengan poni lurus yang menutup dahi. Dress berwarna pink yang terbungkus white coat itu melindungi tubuhnya dengan apik. Hyera sungguh sangat manis dan cantik.

Kakinya masih berlari mencari ruang make up artis. “Chogiyo.. bisa kau tunjukkan dimana ruangan make up artis ?.” tanyanya pada salah seorang staff yang lewat.

“Ruangan itu ada diujung lorong ini nona.”

“Apa Lee Hyukjae ada disana ?” Tanyanya tak sabaran.

“Eunhyuk-ssi sedang melakukan blocking di atas panggung.” Setelah mengucapkan terima kasih, Hyera bergegas menuju panggung. Kain hitam di depan sana adalah sekat antara panggung utama dan backstage. Tak jauh lagi.

Manakala mata bening itu menangkap siluet tubuh pria yang dicarinya tengah bernyanyi diatas panggung dengan rivalnya –Lee Yoobi- senyumnya merekah indah. “Lee Hyukjae..” Panggilnya, membuat seluruh perhatian tertuju padanya saat itu juga. Tak terkecuali Lee Yoobi.

Hyera berlari ke tengah panggung dimana Hyukjae dan Yoobi berada, membenturkan tubuhnya ke tubuh namja berbeda marga itu. Memeluknya erat, tak peduli lagi dengan keadaan sekitar mereka yang menatap terkejut. “Saranghae. Nado saranghae Lee Hyukjae.”

Terlampau terkejut itu yang Hyukjae rasakan, tapi satu hal yang tak bisa ia bohongi bahwa rasa lega bercampur bahagia itu ada. Tangannya terangkat mengelus surai rambut Hyera, mendekapnya lebih erat. Menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Hyera, memenuhi paru-parunya dengan aroma tubuh gadisnya. “Akhirnya aku mendengar jawabanmu Ra-ya. Apa perlu bonus waktu seminggu untuk mendapat jawabanku ?.” Canda Hyukjae.

Hyera menarik tubuhnya dari dekapan hangat tubuh Hyukjae. Menatap penuh cinta ke dalam mata sipit di depannya ini, menangkup wajah prianya. “Mianhae karena sempat meragukan perasaanmu. Aku salah karena mengira kau mengkhianatiku Hyuk-ah. Aku mengakuinya sekarang bahwa saat itu aku sedang cemburu. Aku marah melihatmu bersama-”

“Lee Yoobi berhenti disana.” Hyera melihat raut wajah Hyukjae yang mengeras saat menyebut nama Yoobi. Tangkupan tangannya kini beralih ke dalam genggaman tangan pria itu di tangannya. Masih dengan wajah seriusnya, Hyukjae membawa Hyera berjalan mendekati Yoobi. “Kau jadi salah satu dari sekian banyak orang yang menjadi saksi bersatunya kami. Apa kau tidak ingin memberi selamat ?.” Hyera dibuat heran sekaligus bingung dengan kalimat Hyukjae barusan. Apa maksudnya melakukan hal ini ?.

“Huh.. Kau pikir aku senang kalian bersama ?. Kau tau sendiri jawabannya oppa.” Ucapnya sengit menatap tangan Hyukjae dan Hyera yang saling bertaut.

“Sepertinya kau begitu membenci Hyera, kekasihku. Machi ?”

“Jika sudah tau jawabannya kenapa harus repot-repot menanyakannya lagi oppa ?. Aku sangat membenci gadis itu.” Yoobi mengarahkan telunjukkan ke arah Hyera dengan pandangan menusuk. “Dan melihat kalian bermesraan seperti ini membuatku muak. Cukup sudah aku bersikap baik di depanmu oppa. Kau tidak akan pernah mau melihatku, perasaan tulusku terhadapmu.” Tatapannya berubah sendu ketika menatap Hyukjae. Terlalu banyak kepedihan di dalam matanya dan juga ucapannya. Hyera merasakan hal itu.

“Yoobi-ssi, aku tahu apa yang kau rasakan saat ini karena aku juga pernah mengalaminya. Keundae, jangan beranggapan bahwa semuanya sudah berakhir untukmu.” Hyera mengambil langkah lebih dekat pada Yoobi namun sempat terhalang oleh cekalan Hyukjae yang melarangnya. Song Hyera adalah gadis keras kepala, jangan lupakan fakta penting itu. Yeoja itu meyakinkan Hyukjae bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sesama yeoja akan saling mengerti, percayalah. Seperti itulah kalimat yang terucap dari tatapannya. Mau tak mau, Hyukjae melepas cekalannya.

“Seseorang pernah berkata padaku untuk tidak menyia-nyiakan hidup hanya karena ambisi sesaat. Tidak mendapatkan apa yang hatimu inginkan itu bukanlah akhir dari segalanya. Kau gadis yang cantik dan aku yakin banyak pria di luar sana yang mencintaimu dengan tulus. Hanya saja Tuhan belum mempertemukan kalian Yoobi-ssi.” Tutur Hyera panjang lebar dengan senyum tulus di wajahnya. Ia mengingat ucapan Hyukjae malam –saat final party- itu.

“Huh.. kau justru terdengar sedang tertawa puas di atas kepedihanku Song Hyera-ssi.” Cerca Yoobi.

“Yoobi-ah keumanhae. Kita harus bersiap sekarang karena konser ini akan segera di mulai.” Manager Go menengahi. Konser akan dimulai sekitar 2 jam lagi dan butuh waktu 1 jam untuk mempersiapkan semuanya, hanya saja kondisi yang tidak kondusif membuatnya mengambil tindakan untuk memutuskan konflik yang terjadi. Hampir 2 tahun ia menjadi manager Yoobi dan ia sudah hafal betul sifat egois gadis bermarga Lee ini.

Yoobi terlihat melirik managernya dengan ekor mata bulatnya sebelum menatap sengit ke arah Hyera. Lagi. “Kau beruntung karena aku sedang sangat sibuk hari ini Hyera-ssi.” Yoobi mengambil langkah lebih dekat bermaksud membisikkan sesuatu pada Hyera. “Tunggu saja kejutan dariku Song Hyera.” Bisiknya sebelum berbalik badan hendak meninggalkan panggung.

“Berhenti melakukan hal gila Lee Yoobi. Aku tahu yang kau lakukan pada Hyera selama ini.” Teriakan Hyukjae berhasil menghentikan langkahnya yang baru 4 langkah itu. “Kau menggunakan pengawal-pengawalmu untuk melukai Hyera, apa kau pikir aku bodoh untuk tidak mengetahui hal ini. Tidak kusangka kau akan punya pikiran sepicik ini Lee Yoobi.” Semuanya terkejut mendengar kalimat Hyukjae barusan. Kebenaran apa yang baru saja mereka dengar sungguh memberi shock jantung yang lumayan kuat bagi semua yang ada disana. Termasuk si tersangka utama dan si korban.

“Hyuk-ah… apa maksudmu ?” Hyukjae mengabaikan pertanyaan Hyera, fokusnya teraha pada Yoobi yang menegang disana. Tertangkap basah berbuat salah.

“Ambisimu padaku sudah menggelapkan matamu Yoobi-ssi. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, terlebih lagi marga kita sama membuatku mengira pada awalnya bahwa kita akan menjadi teman baik kelak. Tapi apa yang kuketahui sekarang membuatku kecewa padamu dan menyesali pertemuan kita.” Mendengarnya membuat Yoobi tersenyum miris dengan mata yang memerah menahan tangis. “Aku… menyesal mengenalmu Lee Yoobi.” Kata-kata itu bukanlah kalimat panjang namun dampaknya melebihi kalimat sebelumnya. Satu tetes dilanjutkan dengan lelehan air mata berikutnya hingga wajah cantik itu banjir air mata.

“Kau memang tidak pernah mengerti perasaanku oppa. Aku tahu apa yang kulakukan salah. Keundae.. tidakkah kau berpikir akan perasaanku hingga berani mengambil langkah yang salah ?.” Lee Yoobi mengatakannya dengan suara parau menahan isakan. Gadis itu berusaha terlihat kuat meski yang ditunjukkan sekarang justru sebaliknya. Yoobi sedikit menggerakkan kepalanya hingga ekor matanya menangkap sosok Hyera di samping Hyukjae. “Kau menang Song Hyera-ssi. Aku berjanji akan mengakhiri perasaan ini saat oppa yang memintaku pergi dengan sendirinya. Akhirnya.. oppa mengatakannya padaku.” Yoobi mengambil jeda sejenak. Melempar senyum mirisnya namun tersimpan ketulusan kali ini. “Kau tidak perlu khawatir Hyera-ssi. Aku akan mengakhirinya sekarang.” Begitulah kalimat terakhir yang terucap dari bibirnya sebelum tubuh bergetar itu lenyap di balik kain sekat berwarna hitam.

 

®IMMOLATION®

 

Perhelatan akbar itu berjalan dengan lancar. Konser pertama yang ia gelar sesuai dengan apa yang ia rencanakan selama ini meski di awal banyak sekali kendala yang bermunculan satu per satu. Terlihat duo Lee –Hyukjae dan Yoobi- melambaikan tangan kepada para fans yang datang hari ini dan membungkuk hormat sebagi ucapan terima kasih mereka karena sudah mengikuti rangkaian acara konser hingga sampai pada penghujungnya. Keduanya tertawa lepas seakan tak pernah ada masalah diantara mereka. Benar-benar jago berakting.

“Sudah sejauh mana hubungan kalian ?.” Lamunannya terusik karena pertanyaan dadakan dari sahabatnya yang turut hadir disana. Duduk di kursi samping kirinya. Cha Min Seo.

Mereka bertiga sempat terjebak dalam suasana mengharukan karena bisa kembali bertemu setelah 3 tahun lamanya tak bertukar kabar. Ya bertiga karena Lee Donghae juga sahabatnya kan ?. Namja itu ada disana bersama sang kekasih –Min Seo. Mengenai bagaimana mereka bisa duduk di baris kursi yang sama, sudah pasti Hyukjae yang mengaturnya. Siapa lagi yang bisa berbuat seenak jidatnya kalau bukan namja monyet bersuara emas di depan sana itu.

“Yang pasti lebih jauh dari yang kalian bayangkan.” Jawabnya penuh kebanggaan dan raut percaya diri. Donghae dan Min Seo menunjukkan ekspresi ‘wow’ seperti mendengar kabar pernikahan pangeran Inggris.

“Seolma.. apa kalian sudah-”

“Eishhh.. pikiranmu Lee Donghae. Kami bahkan belum sampai pada tahap berciuman.”

“MWO…” keduanya kompak berteriak terkejut. Untungnya penonton yang lain sedang sibuk histeris karena dua sosok diatas panggung sana.

“Ada apa dengan kalian ?. Reaksi kalian itu membuatku ingin tertawa.” Gurau Hyera sekaligus menyindir.

“Aku tidak menyangka, Lee Hyukjae benar-benar penakut.” Remeh Donghae seketika mendapat tatapan memicing dari Hyera. Tak terima kekasihnya di remehkan.

“Heol.. kau tidak sadar siapa yang baru saja kau bicarakan itu Ikan Mokpo. Jaga bicaramu karena aku tidak akan membiarkan Hyukjae menjadi bahan sindiranmu.” Ancam Hyera sambil mengepalkan tinjunya ke udara.

“Sepertinya dia lebih ganas dari terakhir kali kita bertemu oppa.” Bisik Min Seo.

“Kau benar chagi. Aku tidak menyangka Hyera akan berubah karena Hyukjae. Mereka pasangan yang aneh.” Jelas Donghae mendapat anggukan setuju dari Min Seo. Menatap waspada pada gadis yang dulunya selalu menguncir rambutnya itu kini sudah berubah menjadi gadis cantik dengan pesona yang memancar. Namun jauh dilubuk hati mereka mengucap syukur karena Hyera-nya sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan menemukan pasangan hidup yang pantas. Pandangan keduanya beralih pada pria yang jadi tokoh utama malam ini. Satu lagi temannya sudah menemukan jati dirinya, yang mengantarkannya pada takdir sesungguhnya.

Mari kita menyelam ke masa lalu. Berawal dari perkenalan singkat penuh canggung hingga membuat ikatan persahabatan yang kental dan kuat. Terjebak dalam kisah cinta yang rumit untuk mereka berempat, sampai salah satu diantara mereka harus mengalah dan satunya lagi mundur perlahan dengan segudang rahasia yang ia pendam sendiri. Dilihat sekilas, mereka berdua adalah pihak yang tersakiti disana. Siapa sangka waktu telah menghapus status ‘pihak tersakiti’ itu menjadi pasangan kekasih sekarang. Inti dari semua kisah dalam hidup manusia hanyalah masalah waktu. Selama waktu masih berjalan maka takdir masih bisa diubah hingga hidup ini menemukan akhirnya. Hidup tidak akan sesederhana itu kawan, terkesan rumit dan berat. Hanya saja beda cerita jika kau menikmatinya maka semua akan berjalan ringan di atas pundakmu. Jalan hidup sederhana itu lebih membosankan jika dibandingkan kehidupan manusia yang ditaburi bumbu pemanis sebagai pelengkapnya. Dalam hal ini, cintalah yang mengambil perannya.

 

The End

Iklan
Andalan
Diposkan pada chapter, Fantasy, Hurt, Romance, SAD, SUPER JUNIOR

Found You In Joseon Part 7

Found You In Joseon (Part 7)

joseon part 7

 

Title      : Found You In Joseon

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Kim So Eun / Kim Myung Hui

Other Cast :

  • Shim Changmin
  • Kim Sung Yeol / Kim Jaejoong
  • Cha Yang Sun
  • Jessica Jung
  • Lee Yoobi
  • Cha Min Seo
  • Kim Won Ill

Category : Fantasy, Romance, Sad.

 

************Happy Reading************

 

Sejak kembali ke istana siang tadi, raut wajahnya menunjukkan ekspresi berbeda dari biasanya. Cho Kyuhyun yang akan selalu berhias senyum di wajahnya setiap kali bertemu dengan Kim Myung Hui, kini justru puas dengan diamnya. Tangan kirinya dengan apik menyangga beban kepalanya diatas meja. Tatapan kosong, mulut yang terdiam dan jari-jari tangan kanan yang bergemelatuk di permukaan meja. Berpikir. Hanya seperti itu sejak matahari mencapai puncaknya dan kini telah menyingsing ke barat, bersembunyi. Gulungan kertas di depannya pun, urung ia sentuh. Lantas apa sebenarnya yang membuat Cho Kyuhyun berpikir begitu keras ?

 

“JEONHA.. JUNJONG-MAMA MOHON IZIN BERTEMU.” Teriakan Ming Sun di luar sana membuatnya tertarik ke dunia nyata. Tubuhnya ia atur sedemikian rupa hingga kembali pada posisi tegap. Raut wajahnya pun diatur ulang hingga kembali pada wajah aslinya. Dingin dan penuh wibawa, menatap gulungan yang sebelumnya teronggok di atas meja. Meninggalkan pikirannya yang kusut memikirkan hal yang sama sejak tadi, tanpa titik temu.

 

Satu per satu pintu terbuka, hingga pada pintu ke 5 Cha Min Seo muncul di hadapannya. Dengan senyum memuakkan menurut Kyuhyun, membuatnya enggan menatap wajah ratunya itu. Seharusnya ia tidak perlu bersikap sejahat ini pada Min Seo, hanya saja jika mengingat sang ayah –Cha Yang Sun- yang membuatnya bahkan enggan untuk bicara pada anggota keluarga Cha. Cha Yang Sun yang mendesaknya saat itu. Saat dirinya sudah teguh dan yakin untuk menunggu Myung Hui yang ia yakini akan kembali. Namun, Cha Yang Sun dengan semua omong kosongnya berhasil menarik perhatian seluruh petinggi kerajaan untuk memaksanya segera menikahi salah satu calon putri mahkota. Di masa kepemimpinannya yang bahkan belum genap satu hari, Kyuhyun harus berhadapan dengan keputusan besar. Dan sekarang, see. Menyesal, itu jawabannya.

 

Seharusnya ia lebih sabar menunggu Myung Hu kembali. Seharusnya ia tidak termakan omong kosong Cha Yang Sun. Seharusnya yang kini berdiri di depannya bukanlah yeoja bermarga Cha. Dan masih banyak kata ‘seharusnya’ yang jika dijabarkan tidak akan cukup waktu sehari. Kembali pada fakta.

 

minseo-kim-min-se2

Min Seo berjalan mendekati Kyuhyun, mendudukkan dirinya dihadapan Kyuhyun dengan gerakan selembut dan se-elegan mungkin. Masih dengan senyum yang mengembang disana. Bahkan Kyuhyun tak meliriknya. “Hamba dengar Jeonha belum makan sejak siang tadi. Apa jeonha akan terus berkutat pada gulungan-gulungan itu dan tidak makan ?.” Cha Min Seo, dengan nadanya yang lembut bertanya pada Kyuhyun. Tatapan matanya begitu memuja sosok Kyuhyun di depan sana. Tak bisa ia hitung seberapa besar cintanya pada Kyuhyun, yang ia tahu bahwa cintanya lebih besar daripada nyawanya. Berlebihan.

 

“Aku akan makan setelah ini.” Kalimat sepanjang itu, hanya di jawab Kyuhyun dengan 5 kata membuat hatinya mencelos. Kecewa.

 

“Hamba akan meminta dayang untuk membawakan makanannya kemari.” Masih dengan senyum di wajahnya, sekalipun tak mendapat tanggapan berarti dari Kyuhyun. Pintu di belakangnya bergeser, salah seorang dayang istana yang mendapat bagian di istana ratu masuk dengan meja kecil yang penuh dengan makanan di atasnya. Meletakannya sepelan mungkin disamping Min Seo.

 

“Makanlah sedikit saja jika jeonha tidak bisa meninggalkan gulungan-gulungan itu terlalu lama.” Tangannya sudah berkelana menghampiri setiap jenis makanan diatas meja. Mengambil potongan kecil dari tiap makanan yang ada untuk diletakkan pada sendok perak. Memastikan sendok perak itu terisi penuh oleh makanan, dan siap masuk ke mulut Kyuhyun. “Cha, makanlah jeonha.” Min Seo menyodorkan satu sendok penuh makanan pada Kyuhyun. Perlu diingat, masih dengan senyum manis yang bertahan di wajahnya.

 

“Aku akan memakannya nanti. Kau bisa pergi.” Tak berniat memandang wajah Min Seo, Kyuhyun mengatakannya dengan mata yang terfokus membaca isi gulungan ditangannya. Sendok perak itu terlempar keatas meja dengan bunyi dentingan yang cukup keras. Perlahan senyum itu lenyap. Cha Min Seo melepas topengnya.

 

“Apa jeonha harus bersikap sejelas itu ?.” Perubahan nada bicaranya menarik mata Kyuhyun untuk melirik kearahnya. Hanya sebentar. “Sejak Kim Myung Hui kembali masuk ke istana, sedikitpun jeonha tak pernah menganggap kehadiranku. Sekali saja aku tidak pernah mendapat senyummu untukku. Apa harus sejelas itu ?”

 

Cho Kyuhyun meletakkan gulungan terakhir yang ada di mejanya hari ini. Menarik nafas perlahan, menatap Min Seo yang menitikan air mata. Wajahnya tenang bahkan setelah melihat kekacauan yang Min Seo ciptakan di ruang istirahatnya. Tak menganggap gertakan Min Seo sebagai masalah serius.

 

“Jangan melibatkan Myung Hui dalam masalahmu. Aku yang meminta Ming untuk membawa Myung Hui ke istana. Berhenti berteriak karenanya.” Dengan nada dingin dan acuhnya, tak kenal ampun Kyuhyun mengucapkan sederet kalimat yang nyatanya justru semakin membuat hati Min Seo terbakar cemburu. Memanas.

 

“Ingatlah posisimu jeonha. Dia bukan lagi wanitamu. Joseon sudah memiliki ratunya sendiri.” Dengan emosi yang menggebu, Min Seo tak peduli lagi dengan sikap lembut seperti diawal ia masuk ke ruangan ini. Mengabaikan seluruh ajaran yang ia dapat semasa menjadi putri mahkota tentang bagaimana bersikap kepada raja. Bicara dengan kata-kata dan nada yang lembut. Hanya diam saat raja mulai menunjukkan amarahnya, dan kembali bicara ketika dirasa emosi raja mulai mereda. Cha Min Seo melanggar itu semua. Terlalu sesak menahan perlakuan Kyuhyun.

 

“Kau ratu Joseon, bukan ratu dalam hidupku. Hanya ada satu ratu dalam hatiku dan selamanya akan tetap sama. Sayangnya itu bukan kau Ratu Cha.” Kyuhyun tak peduli jika kalimat yang nantinya ia keluarkan akan begitu menyakiti perasaan yeoja ini. Ia merasa sikap Min Seo sudah melewati batas. Ia mulai mengklaim Kyuhyun sebagai miliknya seorang.

 

“Jeonha.” Min Seo, ratu malang itu semakin deras menitihkan air mata. Membuat hujannya sendiri yang turun membanjiri wajahnya. Sulit dipercaya Kyuhyun akan mengatakan hal itu dengan begitu gamblang. Kyuhyun bahkan tak memikirkan betapa hancurnya perasaannya saat ini.

 

“MING.” Dengan lantang Kyuhyun memanggil Ming Sun, merasa jengah dengan sikap Min Seo. Muak dengan sandiwara yang Min Seo berikan padanya di setiap pertemuan singkat mereka. Pertemuan tidak penting menurutnya.

 

Jung Ming Sun muncul dari balik pintu tak lama setelah panggilan Kyuhyun menggema di seluruh ruangan. Bahkan dayang istana yang berdiri di balik pintu terlonjak kaget mendengar teriakan dadakan Kyuhyun. Pasalnya mereka mendengar pertengkaran Kyuhyun dengan sang ratu. Hingga suara tangisan Min Seo, membuat semua dayang diluar sana membatin. Kasihan.

 

“Antarkan ratu kembali ke istananya. Perintahkan beberapa pengawal untuk mengawalnya.” Caramu mengusir patut diacungi jempol Kyuhyun. Ming Sun pamit undur diri menerima perintah Kyuhyun. Sementara Min Seo masih dengan keterkejutannya, dirinya baru saja di usir secara tidak langsung oleh Kyuhyun. Miris sekali. Batinnya. “Pergilah.”

 

Tak ingin mendengar kalimat pengusiran Kyuhyun lebih dari itu, Min Seo berdiri dengan arogannya. Tak ada kesan bangsawan sama sekali. Dengan pandangan yang menyalang, bibir yang menipis menahan emosi. Cha Min Seo berlalu pergi. Selalu seperti ini, datang dengan senyum setelah itu keluar dengan tangis dan amarah. Susah payah ia menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk, tak ingin terlihat menyedihkan di depan pengawal dan dayang istana. Sialnya, semua ucapan Kyuhyun terus berlarian di otaknya. Langkah cepatnya mendadak berhenti tepat di anak tangga terakhir di depan istana Kyuhyun. Matanya memerah, antara marah dan menangis yang melebur jadi satu.

 

“ARGGGHHHH…” Tak peduli dimana ia berada dan dengan siapa dirinya sekarang, Min Seo berteriak frustasi. Dadanya sesak. Hatinya sesak. Tubuhnya menegang memikirkan semua perlakuan Kyuhyun padanya. Kalimat yang Kyuhyun ucapkan, menyakiti hatinya. Seperti ini rasanya tak diinginkan oleh orang yang kau cintai. Sesak dan tertekan. Kecewa, terluka, menyedihkan. Semua kata itu pantas untuk kau sandang Cha Min Seo. Tangisnya meraung-raung di depan istana Kyuhyun dengan dayang dan pengawal di belakangnya yang tak berani menatap. Mereka dipaksa menulikan telinga dan membutakan mata sejenak.

 

“Mama.” Dayang Suh menyerukan sebutan ratu saat Min Seo luruh ke tanah dengan tangis yang memecah senja kala itu. Langit yang perlahan berubah warna hitam-orange diatas sana menjadi saksi bisu tangis pilu seorang Cha Min Seo, ratu yang menyedihkan.

 

***

 

“Ming, panggil cenayang Jang kesini.” Selepas kepergian Min Seo, Kyuhyun teringat dengan Changmin dan Raja Sejong. Kyuhyun belum mendengar kabar mengenai keadaan keluarganya hari ini. Menanti kedatangan Jang Ok Nam dengan hati yang terus berbisik doa, berharap akan ada kabar baik datang padanya hari ini. Setidaknya hanya itu yang bisa mengalihkan fokus otaknya.

 

“Hamba datang memenuhi panggilan Jeonha.” Kyuhyun menerima hormat cenayang Jang, memberinya ijin untuk duduk.

 

“Apa ada kabar baik hari ini ?” Mengerti dengan pertanyaan Kyuhyun yang ambigu, Ok Nam menunduk sejenak sebelum mulai penjelasannya.

 

“Hamba semakin yakin jika ini adalah pengaruh ilmu hitam. Seseorang telah merencanakan hal mengerikan untuk keluarga kerajaan.”

 

“Bagaimana bisa kau begitu yakin ?. Apa kau menemukan bukti yang menguatkan ucapanmu cenayang Jang.” Dengan penuh keyakinan Jang Ok Nam mengangguk, membenarkan ucapan Kyuhyun.

 

“Hamba terlambat menyadari hal ini jeonha. Seseorang dengan pengaruh ilmu hitam mengalami semacam perubahan pada tubuhnya. Sedikit tekanan pada tubuhnya akan menimbulkan semacam luka memar di tempat yang sama dimana bagian tubuh itu ditekan. Hari ini hamba menemukan memar hitam di dahi Changmin Jeonha. Begitu pula di lehernya. Hal yang sama juga terjadi pada Sejong Jeonha.” Bukan kabar baik seperti harapannya, namun berita ini cukup kuat menyita seluruh perhatiannya.

 

“Katakan. Apa yang harus kulakukan agar mereka sembuh. Bagaimana melenyapkan ilmu hitam itu dari tubuh Hyungnim dan Abamama.”

 

“Hanya ada satu jalan keluar dari masalah ini Jeonha. Secepat mungkin kita harus menemukan siapa pengendali ilmu hitam itu. Sebelum semuanya terlambat.” Ok Nam menyampaikan semua yang ingin ia sampaikan, sedikit ragu pada kalimat terakhirnya. Melihat raut wajah Kyuhyun yang penuh beban pikiran di depan sana.

 

“Apa maksudmu dengan terlambat ?.” Otaknya yang kelewat tajam itu menangkap arti tersembunyi dari ucapan Ok Nam barusan.

 

“Ilmu hitam yang terlalu lama berada dalam tubuh manusia yang masih hidup, membuat iblis di dalamnya ingin menguasai tubuh itu. Changmin Jeonha dan Sejong Jeonha, mereka____akan kehilangan nyawa jika kita tidak bisa menemukan pengendali itu. Hanya dengan kematian si pengendali yang bisa membunuh ilmu hitam dalam tubuh Jeonha. –Changmin dan Sejong-” Pundak yang selalu terlihat tegap dengan semua wibawanya itu kini terkulai lemah. Merasa putus asa. Bagaimana caranya menemukan orang itu. Jika hanya mengandalkan Jang Ok Nam, dalam waktu singkat Kyuhyun tak dapat menjaminnya. Memberikan semacam pengumuman pada seluruh penduduk ibukota ?. Dan kau akan membuat pengendali itu semakin menjauh dari jangkauanmu Kyuhyun. Itu bukan jalannya. Lalu apa ?.

 

“Jeonha.” Disela perang batin yang tengah Kyuhyun lakoni, suara Ok Nam kembali menarik perhatiannya. Wajah putus asa itu terangkat perlahan. Masa bodoh dengan wibawa dan topeng ‘baik-baik saja’ nya. Kyuhyun berada di titik terlemah selama hidupnya. “Hamba mampu merasakan keberadaan pengendali itu ada di dalam istana.” Secercah cahaya seolah muncul di depannya. Satu beban di pundaknya berkurang.

 

“Kau yakin ?. Aku akan meminta Ming untuk melakukan penggeledahan pada semua petinggi dan pejabat kerajaan.” Emosi sudah pasti muncul dalam dirinya sejak mengetahui kebenaran apa yang menimpa keluarga kerajaan. Semangat untuk menemukan akar masalah itu membuatnya tak mampu berpikir jernih, yang terbesit di dalam kepalanya hanya keyakinan bahwa lebih cepat bertindak akan lebih baik. Tak terpikir akan dampak yang mungkin terjadi karena tindak gegabah Kyuhyun.

 

“Itu bukan cara yang tepat Jeonha. Butuh rencana yang matang untuk menangkapnya. Hamba rasa, dengan berpura-pura tidak tahu menjadi jalan keluar yang tepat. Hamba berharap, hal ini menjadi rahasia sampai semuanya menemukan titik temu yang lain. Jangan sampai ada orang lain yang tahu mengenai hal ini, sekalipun orang yang Jeonha percaya. Beuttaekktirimnida Jeonha.”

 

“Baiklah Cenayang Jang. Aku akan mengikuti caramu.”

 

***Found You In Joseon***

 

Tiba waktu berganti pagi ini, mentari yang harusnya muncul dengan gagahnya sebagai penguasa langit justru bersembunyi di balik awan gelap yang membawa hujan deras. Langit kembali menangis. Bagi rakyat Joseon, hujan adalah sebuah anugerah dari Sang Kuasa dimana sumber pangan melimpah di musim ini. Musim yang di nanti hampir seluruh penghuni ibukota. Namun tidak untuk satu orang, yang akan selalu mengutuk hujan diatas sana. Turun tanpa kenal waktu dan membuatnya tidak bebas menikmati sekitar. Masih sama pada posisinya sejak 30 menit yang lalu, Kim So Eun hanya terduduk lesu bersandar tiang kayu di depan pintu rumahnya. Merundung hujan yang dengan serakahnya menculik matahari diatas sana.

 

“Kim Jaejoong dan Kim Sung Yeol. Saat itu hujan dan sekarang hujan. See, beruntung sekali kau Kim So Eun.” Gumamnya. Tak habis pikir, kenapa sejak dulu di zaman Joseon hidupnya dikelilingi segala macam yang ia benci. Kim Jaejoong di masa depan dan sekarang pun ia bertemu Kim Jaejoong di masa lalu. Lalu musim hujan di masa depan dan hujan di masa lalu. Membosankan.

 

Tangannya terulur mengadah air hujan yang turun teratur di depannya. Dingin. Sedingin hidupnya saat ini, merasa asing dengan orang-orang di sekelilingnya. Lembab. Selembab ruang dalam hatinya yang terasa tak pernah tersentuh sinar mentari. Tertutup rapat, seolah tak mengijinkan cahaya sekecil apapun masuk. So Eun menarik kembali tangan kanannya, tak tahan lagi merasakan dinginnya air hujan.

 

Nafasnya berhembus pelan. Sudah satu minggu ia berada di dunia ini. Dunia dengan orang-orang yang aneh baginya. Hidup tanpa keluarganya, kedua temannya, kuliahnya, dan semua hal yang tak bisa ia temui disini. Bahkan ia sendiri ragu, apakah dirinya ini masih hidup atau sebenarnya sudah mati. “Bogoshipeo.”

 

“Siapa yang kau rindukan ?. Merindukanku ?” Moodnya yang memang sudah buruk, semakin down melihat wajah ‘mengerikan’ Kim Sung Yeol disampingnya. Sejak kapan namja ini berada disini ?. Apa dia mendengar ucapanku sebelumnya ?. Mati kau Kim So Eun jika ‘kakak zaman lampau’ mu ini sampai curiga.

 

“Sejak kapan orabeoni ada disini ?.”

 

“Tentu saja sudah lama.” Terkejut, sudah pasti. Kepalanya yang bersandar dengan lesu di tiang kayu, berganti tegap menatap tegang Sung Yeol disampingnya. Berbeda dengan namja di depannya yang justru terlihat santai menikmati rintik hujan dengan tangannya seperti yang dilakukan So Eun sebelumnya.

 

Pikirannya kalut, mulutnya terkatup rapat bahkan bergetar. Seakan kelu ingin berkata apa pada Sung Yeol. So Eun yakin di dalam kepala kakaknya itu muncul berbagai macam pertanyaan yang mungkin akan meledak sesaat lagi. Atau yang lebih parahnya lagi, Sung Yeol akan langsung menendangnya dari sini. Dengan hujan deras di luar sana tanpa baju ganti, bahkan ia belum makan apapun pagi ini. Menjadi gelandangan cantik kesana kemari tanpa tujuan. Oh, mimpi buruk.

 

“Apa yang kau lakukan ?.” Suara itu sekarang terdengar seperti panggilan maut untuknya. Refleks tangannya bergerak menutup kedua lubang telinganya, tak mengijinkan suara Sung Yeol tertangkap pendengarannya. “Hui-ah, kau kenapa ?” Kepalanya menggeleng semakin kuat saat suara Sung Yeol masih bisa ia dengar meskipun samar-samar. Jika ia tidak mendengarnya, akan ada alasan baginya untuk tetap bertahan di rumah ini. Karena faktanya ia tidak mendengar kalimat pengusiran yang Sung Yeol ucapkan.

 

Melihat adiknya yang bertingkah aneh, menggeleng tanpa sebab dengan mata yang tertutup seolah menahan sesuatu membuat Kim Sung Yeol dihinggapi rasa khawatir. Sejak tadi ia melafalkan pertanyaan yang sama namun tak mendapat jawaban justru gelengan adiknya itu semakin menjadi. Ada apa sebenarnya ?. “Yak, Kim Myung Hui. Apa yang terjadi padamu ?” Sung Yeol mencengkram pundak So Eun berusaha menyadarkan adiknya dan berhenti melakukan hal yang menurutnya aneh dan membuatnya cemas bukan main. Menepuk-nepuk pipi So Eun mencoba membuat mata adiknya terbuka.

 

“Kim Myung Hui, buka matamu. Ada apa denganmu ?” Sung Yeol mengguncang lebih kuat dari sebelumnya, namun So Eun tetap keras kepala menutup matanya semakin erat. “Astaga, ada apa denganmu ?” Sung Yeol hendak menggendong So Eun, membawanya masuk ke dalam. Rasa cemasnya sudah melewati batas normal. Adiknya seperti orang kerasukan.

 

“Apa yang orabeoni lakukan ?.” So Eun bereaksi saat merasakan tangan Sung Yeol yang berada di bawah lututnya. Hendak menggendongnya. Kim So Eun adalah tipikal orang yang sensitif dengan hal itu. Sepanjang kaki dan leher adalah pantangan bagi orang lain untuk menyentuhnya. Itu adalah spot sensitifnya. Sekalipun orang itu keluarganya.

 

“Hui-ah gwenchana ?” Sung Yeol dengan raut cemasnya, menangkup wajah So Eun dengan kedua tangannya. Menelisik setiap inchi wajah adiknya, memastikan bahwa orang yang selalu ingin ia lindungi selain ibunya itu dalam keadaan baik-baik saja.

 

Mereka memang berwajah sama, namun sikap keduanya tetaplah berbeda. Kim So Eun bukanlah Kim Myung Hui yang akan selalu tersenyum lembut mendapati perhatian kakaknya. Perlu diingatkan kembali jika kalian lupa, Kim So Eun dan Kim Jaejoong tak kenal waktu saat berdebat. Dimanapun dan kapanpun tanpa jeda.

 

“Gwenchana.”

 

PLETAK !!

 

“Awww.. waeirae ?. Kenapa orabeoni memukulku ?” Kim So Eun mengaduh protes mendapati sentilan Sung Yeol di dahinya. Tidak cukup kuat untuk bisa disebut sebagai ‘pukulan’, hanya sentilan lemah.

 

“Apa yang kau lakukan barusan ?. Kupikir kau baru saja kerasukan.” So Eun mengerucutkan bibirnya mendengar omelan Sung Yeol. Hujan mulai reda tapi sekarang justru omelan kakak tampannya ini yang ‘membasahi’ telinganya.

 

“Mianhamnida orabeoni.”

 

“Apa tujuanmu berlaku seperti tadi ?. Apa kau tau betapa cemasnya aku ?. Kenapa kau bertingkah seperti anak kecil Hui-ah.”

 

“Mianhaeyo orabeoni.” Itu karena aku tidak ingin kau mengusirku. Sung Yeol tak henti-hentinya memberikan ceramah pagi untuk So Eun. Gadis itu hanya menunduk mengakui kesalahannya, tanpa sepatah katapun.

 

“Apa kau mendengarkanku ?” So Eun cukup mengangguk sebagai jawabannya. Terlalu malas untuk bersuara. Kenapa ‘kakak zaman lampau’nya ini dua kali lipat lebih menyebalkan dari Kim Jaejoong. Batinnya.

 

“Aku hanya tidak ingin orabeoni mengusirku dari sini ?” Dengan kepala tertunduk, So Eun berucap lirih. Sangat lirih, terdengar seperti bisikan angin jika saja Sung Yeol tak berada di dekatnya saat ini.

 

“Ye ?. Kau ini bicara apa ? Berhenti menggunakan bahasa aneh itu. Aku tidak mengerti. Entah darimana kau mempelajarinya.” Kim So Eun berkedip berulang kali, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Jika kalian belum pernah melihat tampang bodoh seorang Kim So Eun, maka inilah moment yang tepat untuk mengabadikannya.

 

“Orabeoni..” Bolehkah aku melemparmu ke lubang cacing ?. “Apa orabeoni yakin mendengar ucapanku tadi ?.” Tanya So Eun, mulai tak yakin jika Sung Yeol benar-benar mendengar monolognya di awal tadi.

 

“Ucapan yang mana ?. Kau mengatakan banyak hal sejak tadi.” Sabar Kim So Eun, kau memerankan seorang Kim Myung Hui yang lemah lembut. Tahan tanganmu yang sangat terlampau ingin memukul kepala orabeonimu ini.

 

“Ucapanku di awal orabeoni disini. Orabeoni bilang sudah lama berada disini. Kukira orabeoni mendengar semua ucapanku sejak awal.”

 

“Kau bilang merindukan seseorang. Ahh matja, kau belum menjawab siapa yang kau rindukan. Nugu ? Kyuhyun Jeonha ?” Pundaknya jatuh seiring dengan nafasnya yang terbuang kasar. Habis sudah kesabarannya. Waktunya terbuang sia-sia untuk obrolan panjang tak berarti dengan Kim Sung Yeol.

 

“Jika hanya itu yang orabeoni dengar. Kenapa mengatakan sudah lama berada disana ?.” Tidak ada teriakan, hanya nada lemah. Lelah menghadapi orang yang berasal dari zaman yang berbeda dengannya itu. Kapasitas otaknya sudah berbeda.

 

“Memang benar aku sudah lama berada di rumah ini. Bahkan sebelum kau lahir.” Saat itu juga So Eun berdiri dari duduk manisnya, terasa tak senyaman beberapa saat lalu saat Sung Yeol belum muncul. Tanpa menoleh kebelakang, So Eun pergi meninggalkan kediaman keluarga Kim pagi itu.

 

***

 

Pasar di pusat kota tak seramai biasanya, mengingat hujan baru saja reda. Kim So Eun, yeoja itu hanya melangkah tanpa tujuan menyusuri jalan dengan mulut yang tak absen merundung ‘kakak zaman lampau’nya. Emosi yang menguasai dirinya karena Kim Sung Yeol membuatnya tak sadar bahwa aksinya itu telah berhasil menarik beberapa pengunjung pasar untuk mengalihkan fokus mereka kearahnya. Wajah cantiknya akan selalu nampak bersinar meski awan kelabu masih menghias langit di atas kepalanya. Raut kesal di wajahnya justru membuat Kim So Eun nampak menggemaskan.

 

“Bagaimana bisa Kim Myung Hui bertahan dengan orang macam Kim Sung Yeol. Apa gadis itu tak tersiksa batin bertahun-tahun berada di dekat namja itu.”

 

“Ohh baru kali ini aku bersyukur memiliki saudara seperti Jaejoong oppa. Meskipun wajah mereka sama, setidaknya oppa jauh lebih baik dari orabeoni.” Masih berjalan tanpa tujuan, So Eun hanya ingin menjauh dari Sung Yeol. Mencari udara segar di luar untuk mendinginkan otak dan pikirannya yang mendidih, menyerah berhadapan dengan Sung Yeol.

 

Percakapannya dengan Sung Yeol kembali berputar bak roll film di dalam kepalanya. Membuat So Eun mendengus kesal tiap mengingat raut wajah ‘luar biasa’ kakaknya itu. Dan tiba saat potongan kalimat yang Sung Yeol ucapkan beberapa saat lalu membuat langkah cepatnya agak melambat. Hentakan kaki di atas tanah yang tergenang air beberapa saat lalu, berganti dengan langkah ringan yang suara tapakannya saja tak terdengar. Nama yang terbesit itulah penyebabnya. ‘Siapa yang kau rindukan ? Kyuhyun Jeonha ?’

 

“Benarkah aku juga merindukannya ?” Tak yakin dengan apa yang ia rasakan. Namun senyum manis yang perlahan muncul di wajahnya cukup menjadi bukti, seorang Kim So Eun sedang jatuh hati pada si Raja Muda. Hanya mengingat namanya saja atmosfir hatinya begitu cepat berganti. Kim So Eun kembali jinak hanya karena mengingat Kyuhyun.

 

“Apa raja itu sudah bangun ?. Aku sangat ingin bertemu dengannya.” Sejenak otaknya memutar kembali memori kebersamaannya dengan Kyuhyun tempo hari. Senyum Kyuhyun, tawa Kyuhyun, suara bass, dan mata elang Kyuhyun. So Eun benar-benar merindukannya.

 

Wajahnya kembali murung ketika fakta menamparnya di pagi buta, bahkan saat tetes-tetes air masih terasa menyentuh kulit kepalanya. Kyuhyun bukanlah namja yang bebas berkeliaran di luar istana meninggalkan singgasananya. Ini zaman Joseon, bukan era 21 yang booming  dengan K-Pop. Kini ia benar-benar merasakan yang namanya sendirian. Kembali ke rumah menteri Kim bukan ide yang bagus, jika tidak ingin tekanan darahnya naik. Lalu ia harus kemana sekarang ?.

 

Setelah cukup lama, hanya berputar-putar di pasar yang mulai menunjukkan keadaan wajarnya. Ramai pengunjung. So Eun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Perutnya terus berteriak minta asupan. Kepalanya hanya terus tertunduk dengan mata yang tertuju pada ujung kakinya dibawah sana. Entahlah, sepasang kaki yang berhias sepatu kain menyerupai flatshoes di zamannya itu terlihat lebih menarik dari pada menatap ke depan.

 

DUGH !!

 

“Apa berjalan menunduk menjadi kebiasaanmu sekarang Hui-ah..?” Suara itu, suara bass yang ia rindukan hari ini. Kepalnya mendongak hingga pandangan keduanya bertemu. Disana, Kim So Eun seolah menjadi manekin dadakan. Senyum Kyuhyun membuatnya lupa cara bicara, menjawab pertanyaan Kyuhyun sebelumnya yang lebih mirip sindiran.

 

“Sepertinya aku terlambat.”

 

“Ye ?” Saat senyumnya membuatmu terdiam seribu bahasa karena sibuk terpesona, maka suara bass-nya yang akan membawamu kembali pada kenyataan.

 

“Aku ingin mengajakmu berkeliling hari ini. Menghirup udara segar, tapi sepertinya kau baru saja pulang. Istana membuatku bosan.” Jalan-jalan ? Hanya berdua dengan Kyuhyun ? Tentu saja. Tidak perlu ragu.

 

“Ani, aniya. Animnida Jeonha. Aku hanya sedang mencari oraeboni, tapi sepertinya orabeoni pergi entah kemana.” Jawaban yang membuat Kyuhyun menarik sudut bibirnya keatas, meloloskan senyum geli tanpa So Eun ketahui. Myung Hui mencari Sung Yeol, disaat Sung Yeol baru saja keluar tak lama sebelum kedatangannya. Kau tertangkap basah Kim Myung Hui. Serunya –Kyuhyun- dalam hati.

 

“Ingin mencari Sung Yeol hyungnim bersama ?” Tawaran Kyuhyun justru terdengar seperti ajakan kencan di telinga So Eun. Yeoja itu benar-benar terperangkap dalam pesona Kyuhyun. Lupakan masalah siapa Kyuhyun dan dimana ia berada sekarang, perasaan itu tumbuh terlalu jauh dan tak mampu lagi dikendalikan. Pertemuan keduanya yang hampir tak ada jeda seolah menjadi garam yang ditabur diatas api kecil. Sedikit saja mampu membuat api itu berkobar. Seperti rasa sukanya pada Kyuhyun, mungkin akan berubah menjadi kata ‘cinta’ sebentar lagi.

 

Dan disana-lah ia berdiri dengan Kyuhyun di sampingnya, menyusuri sepanjang jalan di pasar yang ramai pengunjung. Lagi. Terhitung sudah 4 kali ia melewati jalan yang sama dalam waktu kurang dari setengah hari. 3 kalinya tanpa tujuan dengan rintik hujan yang menjadi temannya. Seharusnya ini menjadi rekor.

 

Pernak-pernik di sepanjang jalan menjadi saksi bisu keheningan diantara mereka berdua. Dari langkah awal yang mereka ambil di depan rumah Myung Hui beberapa waktu lalu, Kyuhyun hanya diam dengan wajah datarnya. Mata tajam yang selalu menatap penuh puja sosok Kim Myung Hui itu hanya tarpaku lurus kedepan. Apa aku ada di depan sana ?. Aku disini Jeonha.

 

Bosan. Tentu saja. Tidak seperti yang ia bayangkan, Kyuhyun bersikap aneh hari ini. So Eun bukan tipikal yang sabar dengan segala macam hal yang membuatnya menunggu. Baginya menunggu adalah kegiatan terbodoh dalam hidup manusia. Dan sekarang, ia hanya diam tak mampu mencela Kyuhyun yang sudah membuatnya menunggu layaknya orang bodoh. Kaki jenjangnya menendang-nendang kerikil kecil yang menyebar di sepanjang jalan. Nafasnya berhembus pelan berulang kali, dan semua itu terdengar di telinga Kyuhyun.

 

“Hui-ah.” Panggilan Kyuhyun mampu menarik kedua sudut bibirnya keatas. Membentuk bulan sabitnya sendiri disana. Perubahan raut wajah So Eun tertangkap jelas di mata Kyuhyun, membuatnya menyesal karena tak menghiraukan keberadaan wanita itu dan lebih memilih terpaku pada hal yang menguasai kepalanya saat ini.

 

“Nde jeonha.” Tubuhnya berjengit kaget, menegang saat tangan hangat milik Kyuhyun mengurung kelima jarinya. Menarik lembut tubuh ringan So Eun menepi ke salah satu penjual hiasan rambut di sisi kanan. Mata almond-nya tertuju pada tautan di bawah sana. Kyuhyun menggenggamnya dengan erat, hingga tiba saat Kyuhyun melepaskan genggamannya guna memilah-milah jepitan rambut disana. Perasaan macam apa ini, hatinya seakan kehilangan.

 

“Cha..” Jari telunjuknya terbang diatas hiasan rambut yang berjejer, dibarengi dengan mata elangnya yang menatap penuh minat pernak-pernik cantik disana. Hingga pilihannya jatuh pada hiasan rambut warna ungu berbentuk burung elang yang tengah mengepakkan sayapnya dengan bunga teratai di atas kepalanya. “Yeppeuda.” Kata itu lolos dari mulutnya begitu hiasan rambut yang ia pilih berlabuh dengan apik di atas surai So Eun.

 

Wanita mana di dunia ini yang tak akan tersipu saat seorang namja yang mulai mengetuk pintu hatinya, dengan segala pesona yang dimiliki mengucapkan satu kata bak mantra sihir. ‘Yeppeuda’, mantra sihir yang Kyuhyun pilih untuk menumbuhkan benih kecil di hatinya menjadi sebesar saat ini. Membludak di dalam sana. Mengundang senyum termanis terbit di wajahnya.

 

Tanpa sepatah kata yang mengintrupsi, Kyuhyun kembali menggenggam jemarinya. Berlari menembus lalu lalang pedagang dan pembeli di pasar. “Apa ada yang mengenal Jeonha ?. Kenapa tiba-tiba berlari ?” Kyuhyun hanya terus berlari tanpa mempedulikan pertanyaan So Eun. Entah kemana ia akan membawanya, namun raut wajahnya menunjukkan segalanya. Wajah dingin itu akan selalu menerbitkan senyum manisnya tiap putri semata wayang menteri Kim itu bersamanya. Kim Myung Hui, adalah pusat dari semua rasa bahagia seorang Raja Joseon. Kyuhyun.

 

Meski ragu dan penuh pertanyaan yang bersarang di kepalanya, So Eun tetap berlari mengikuti Kyuhyun. Terlepas dari pikiran tentang kemana kali ini Kyuhyun akan membawanya serta lapar yang kembali ia rasakan melilit perutnya, Kim So Eun tak mampu menampik musim semi yang tumbuh di dalam hatinya saat ini. Seindah musim semi yang penuh dengan kehangatan, Kyuhyun adalah musim semi baginya. Perlahan namun pasti senyum itu kembali muncul di wajahnya. Tak terhitung berapa kali ia akan menuai senyum dalam waktu kurang dari sehari saat bersama Kyuhyun. Kim So Eun telah menemukan sumber kebahagiaannya.

 

Ketika hati dan tubuhmu menerima kehadirannya. Seseorang yang membuatmu merasa nyaman dan bahagia. Maka, sejauh akal sehatmu berusaha menolaknya suatu hari nanti. Kau tak akan sanggup untuk menjauh darinya. Kim So Eun telah jatuh pada perasaan yang akan membawa malapetaka untuknya suatu hari nanti. Cinta, menggelapkan matanya dan menumpulkan akal sehatnya untuk menyerah pada tujuannya tertarik pada masa itu. Fakta yang membuatnya tertarik ke zaman yang jauh dari asalnya, yang bahkan belum ia ketahui alasan sebenarnya.

 

***Found You In Joseon***

 

Saat ular merasa terancam, maka hewan berbisa itu akan menajamkan taringnya dengan setumpuk bisa di dalamnya. Seperti halnya manusia ketika merasa ‘bangkai’ yang berusaha mereka tutupi se-apik mungkin mulai terapung ke permukaan. Dengan segala persiapan dan rencana, mereka menjadi ‘ular’ yang siap dengan bisa mematikan.

 

Pagi dimana matahari kembali merajai langit setelah berhasil lepas dari awan mendung yang menyembunyikannya, Cha Yang Sun bersama 3 kawanannya melangkah keluar dari tempat para gisaeng setelah puas menuruti nafsu birahinya. Keempatnya kembali terlibat dalam percakapan serius.

 

“Keputusanmu untuk menunda serangan itu nampaknya tak berjalan semulus yang kau bayangkan daegam. Kita justru membiarkan cenayang itu mengetahui masalah ini lebih jauh.” Pembuka percakapan yang keluar dari mulut So Bang mampu membuat menteri keuangan kerajaan itu mengertakan giginya. Geram dan kesal menjadi satu, bukan karena ucapan So Bang yang benar adanya namun karena fakta dimana ‘bangkai’ itu mulai tercium.

 

“Cenayang itu bermain lebih cepat dari yang kubayangkan. Apa kita hanya akan diam saja dan membiarkannya daegam ?.” suara itu muncul dari mulut Bong Sa Nom. Namun, sama halnya seperti ucapan So Bang sebelumnya yang tak mendapat tanggapan berarti dari Yang Sun. Bangsawan yang paling tersohor di Joseon itu hanya mengunci mulutnya seolah masa bodoh dengan ucapan rekannya. Namun siapa sangka jika di dalam kepalanya telah bersarang rencana mengerikan.

 

Sejak semalam, dimana sang putri Cha Min Seo mengutus salah seorang pesuruhnya untuk mendatanginya secara rahasia di kediamannya. Semuanya terungkap. Raja terakhir yang tersisa dari keturunan Sejong itu telah mengetahui penyebab ayahanda dan hyeongnimnya terkapar, setia menutup mata. Bak petir yang menyambar di saat langit malam berhias bintang di atas sana, Cha Yang Sun seakan di dorong ke dalam jurang maut. Meski Kyuhyun belum menemukan siapa dalang di balik ilmu hitam itu, namun jika penyelidikannya berlajut maka tak menutup kemungkinan bahwa rencana yang ia gagas bertahun-tahun lamanya akan pupus hanya karena satu ‘tikus’ yang tak bisa dianggap remeh. Jang Ok Nam. Dengan cara apapun, ia bertekad untuk menghabisinya.

 

“Menteri Yoo, kerahkan anak buahmu untuk mencari tahu latar belakang Jang Ok Nam. Apakah cenayang itu memiliki keluarga atau tidak ?.” Meski umurnya mencapai setengah abad, namun suara tuanya itu tetap terdengar bengis tak terbantahkan.

 

“Ye daegam.”

 

“Lee Chang Suk, kumpulkan semua prajurit dan menteri lainnya yang berpihak pada kita. Beritahukan pada mereka semua untuk menyiapkan diri. Bocah –Kyuhyun- itu terlalu sering bermain-main dengan kekuasaannya.” Ucapan tajam penuh penekanan di tiap kata yang keluar dari mulutnya membuat bulu di tubuh ketiga rekannya menegak, berdiri. Demi harta yang mereka miliki, Cha Yang Sun terlihat mengerikan saat ini. Dan apa yang mereka dengar barusan ? menyiapkan diri ?. Itu artinya ini akan menjadi akhir dari segalanya. Cha Yang Sun memilih menghunus pedangnya di depan Raja. Serangan terbuka.

 

“Allgeseumnida Cha daegam.”

 

“Dan kau Bong Sa Nom. Awasi putri menteri Kim. Gadis itu akan menjadi senjata rahasia kita.” Bong Sa Nom menyanggupi perintah Yang Sun. Entah berapa banyak lagi rencana kriminal yang terbesit di kepala Cha Yang Sun, mereka hanya bisa mengikutinya. Berharap rahasia ini tidak pernah muncul ke permukaan. Atau jika tidak, maka kejadian 15 tahun lalu akan terulang kembali. Pertumpahan darah di Joseon.

 

“Apa kita akan melakukan serangan terbuka pada Raja daegam ?”

 

“Anak itu bermain terlalu jauh. Sudah tiba saatnya kita membuatnya jatuh hingga tak berkutik lagi.” Tak terbantahkan. Cha Yang Sun, masih bisakah ia disebut sebagai manusia. Bagiamana seorang manusia mempermainkan nyawa dan kehidupan manusia lain seperti biduk allkkagi yang semudah itu disingkarkan hanya dengan sentilan jari. Cha Yang Sun telah kehilangan rasa kemanusiaannya.

 

Tak ada suara lagi setelahnya. Mereka terlalu larut dan sibuk dalam pikiran masing-masing. Berperang dengan mental dan kemanusiaannya, tegakah mereka bertindak lebih jauh dari ini. Tenangkah hidup mereka jika suatu hari nanti Cha Yang Sun berhasil menghancurkan keluarga Raja. Sanggupkah mereka hidup dengan dihantui rasa bersalah selama sisa hidupnya ?. Lalu apa yang sebaiknya mereka lakukan. Melawan Cha Yang Sun juga terasa sangat mustahil, keterlibatan mereka sejauh ini bisa menjadi senjata ampuh bagi menteri Cha untuk memutarbalikkan fakta. Cha Yang Sun terlalu kuat. Fatal akibatnya jika mereka berkhianat. Besar kemungkinan kepala mereka taruhannya.

 

“Ada apa Cha daegam ?. Kenapa tiba-tiba berhenti ?” Cha Yang Sun menghentikan laju kakinya saat mata tuanya menangkap 2 orang yang sangat ia kenal berdiri di salah satu stand penjual hiasan rambut tak jauh dari posisi mereka saat ini. Bertahan dengan wajah angkuhnya, Cha Yang Sun mengangkat jari telunjuknya kearah Kyuhyun dan So Eun di depan sana. Barulah ketiga rekannya itu mengerti alasan Yang Sun berhenti tanpa sebab.

 

“Panjang umur sekali mereka. Belum lama kita menyusun rencana untuk mereka berdua, dan sekarang keduanya muncul dihadapan kita. Bukankah ini pertanda bahwa mereka memang ditakdirkan bersama.” So Bang tertawa meremehkan.

 

“Lebih tepatnya untuk mati bersama. Bukankah begitu daegam ?” Timpal Chang Suk. Mencoba mencari dukungan dari Cha Yang Sun.

 

“Raja muda itu telah berani bermain dengan wanita selain ratu. Hal ini bisa menjadi poin lebih untuk menggulingkan tahtanya. Terlalu banyak ‘cacat’ pada kepemimpinannya. Lee Chang Suk, pastikan kau menggunakan hal ini sebagai alat untuk menambah pasukan. Kita akan memprovokasi petinggi kerajaan untuk berbalik menyerang Kyuhyun.”

 

“Ye daegam.”

 

Keempat pasang mata itu tak lepas menatap gerak-gerik Kyuhyun dan So Eun. Mulai dari senyum Kyuhyun, wajah merona Kim So Eun yang mereka anggap sebagai Kim Myung Hui. Hingga kini Kyuhyun yang menarik So Eun untuk berlari menjauh dari mereka –Cha Yang Sun-. Jangan lupakan tawa bahagia yang tak luput dari tatapan menyalang dari mata Cha Yang Sun. Pikirannya melayang pada sang putri, Ratu Min Seo. Putriku yang malang. Kau memang sangat bodoh dengan semua perasaan terkutuk yang kau sebut cinta itu.

 

***

 

Puas bersenang-senang, Kyuhyun mengajak So Eun ke istana untuk bertemu dengan Sung Yeol. Mengingat tujuan mereka pergi bersama sebelumnya adalah untuk mencari Kim Sung Yeol. Meskipun Kyuhyun tahu jika itu semua hanya kebohongan ‘Myung Hui-nya’. Keduanya nampak berjalan beriringan menuju istana.

 

“Apa tidak ada yang akan curiga jika Jeonha keluar selama ini dari istana ?”

 

“Tidak ada yang berani mengusik Raja selama aku tidak memanggil mereka. Jadi, tidak akan ada yang tahu kecuali Ming.”

 

“Ming ?.” Jelas bahwa raut wajahnya kini menunjukkan tanda tanya besar. Baru kali ini So Eun mendengar nama itu. Siapa Ming ?. Kenapa hanya dia yang tahu ?. Yeoja ?. Apa selir Kyuhyun ?. Lipatan di dahinya tak luput dari pandangan Kyuhyun.

 

“Kau tidak mengenalnya ?” So Eun hanya memberi gelengan sebagai jawaban atas pertanyaan Kyuhyun. Membuat si penanya kembali teringat akan suatu hal yang membuatnya berpikir keras beberapa hari ini. “Hui-ah, apa kau pernah mengalami benturan di kepala ?” Pertanyaan itu terucap tanpa sadar dari mulutnya, mencoba mencari jawaban yang logis untuk hal aneh yang terbesit di kepalanya.

 

“Animnida Jeonha.”

 

“Kau yakin ?.” So Eun mengangguk meyakinkan Kyuhyun. Tak terpikir sedikitpun dalam otaknya bahwa pertanyaan Kyuhyun terdengar aneh. Kyuhyun sedang mengkhawatirkanku ?. Justru pertanyaan itu yang memenuhi ruang pikirnya. Dan lebih bodohnya lagi seorang Kim So Eun yang sebenarnya kemampuan otaknya tak perlu diragukan lagi –di zamannya- itu tak pernah berpikir untuk mengajukan pertanyaan ‘Kenapa’ pada Kyuhyun. Kenapa Kyuhyun tiba-tiba bertanya seperti itu padanya. Oh, kau dibodohkan oleh cinta Kim So Eun.

 

Senyum di wajahnya pudar, Kyuhyun kembali memasang wajah datar dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan. Otaknya kembali dipenuhi pikiran-pikiran aneh. Hatinya menolak untuk mengakuinya namun semuanya semakin dirasa kuat. Ada yang aneh denganmu Hui-ah. Kau seperti bukan Myung Hui yang ku kenal.

 

“Hui-ah, aku tidak mungkin masuk ke istana lewat pintu utama. Kau masuklah lebih dulu. Aku akan menemuimu di dalam.” Tak menunggu jawaban So Eun, Kyuhyun berlalu begitu saja.

 

“Wajah itu lagi.” Masih belum curiga, So Eun hanya menggeleng singkat melihat sikap Kyuhyun. Dengan pasti kakinya melangkah mendekati gerbang istana. Membayangkan akan bertemu dengan Kyuhyun membuat senyum terbit di wajahnya.

 

Langkah ringannya, seringan senyum yang tak berniat untuk surut dari wajahnya membuat Kim So Eun sesekali menyapa dengan riang dayang istana dan penjaga istana yang tak sengaja berpapasan dengannya. Sebesar itukah efek Kyuhyun terhadapnya.

 

“Putri Kim.” Tubuhnya terhenti tepat setelah berpapasan dengan seseorang seumuran ayahnya –Menteri Kim-. Tubuhnya berbalik memastikan bahwa benar orang itu yang baru saja memanggilnya. “Ternyata benar. Kau Kim Myung Hui, putri menteri Kim. Lama tidak bertemu.”

 

“Ye, annyeonghasimnika. Naneun Kim Myung Hui, keundae… Nuguseyo ?” Raut wajah di depan sana tak menunjukkan perubahan apapun, meskipun di balik topengnya itu tak mampu dipungkiri keterkejutan tatkala mendengar jawaban So Eun.

 

“Kau tidak mengenalku ?. Padahal dulu kau begitu dekat dengan putriku, tidak kusangka akan secepat ini kau melupakanku.”

 

“Jwesonghamnida.” Tak ada kata lain yang mampu ia keluarkan, pasalnya memang baru pertama kali ini So Eun melihat wajah tua namun tegas di depan sana. Anehnya, So Eun merasa pernah melihat wajah itu tapi entah dimana. Hanya melihat saja tanpa ada percakapan ataupun tutur sapa. Dimana ?.

 

“Tidak masalah. Semenjak putriku menjadi Ratu Joseon, sudah menjadi keharusan untuknya tak sembarangan bertemu dengan orang luar.” Otaknya mencerna kalimat yang baru saja masuk melalui indra pendengarnya. Ratu Joseon ?.

 

“Ratu Min Seo ?.” mulutnya membeo sesaat setelah otak pintarnya itu menangkap arti dari ucapan sebelumnya. Bukan itu yang membuatnya terkejut, hanya saja pengakuan sebelumnya dari orang di depan sana bahwa dirinya dan Min Seo dulunya adalah teman baik. Benarkah ?. Mengingat pertemuan terakhir mereka di hari pertama So Eun masuk ke istana, Min Seo terlihat lebih seperti musuh ketimbang teman semasa kecil.

 

“Ku dengar kau menghilang di hari penobatan Kyuhyun Jeonha. Apa terjadi sesuatu saat itu ?” Sosok tua dengan wajah tegasnya itu tak lain adalah Cha Yang Sun. Niatnya untuk berganti pakaian dengan seragam kerajaan terurungkan begitu melihat ‘kunci kemenangannya’ berada tepat di hadapannya saat ini. Sejauh ini dirinya cukup aneh dengan sikap dan cara bicara Myung Hui padanya, seolah baru kali ini mereka bertemu dan terlibat dalam percakapan ringan. Tentu saja ini bukan yang pertama kali, sekalipun Myung Hui adalah ancaman untuk putrinya menyandang status Ratu Joseon, namun sering kali Cha Yang Sun bertemu dan bercakap ringan dengan Myung Hui. Sekedar basa-basi sebelum rencana melenyapkan adik kandung Kim Sung Yeol ini terbesit di kepalanya.

 

“Ahh ye.. saat itu aku tersesat di dalam hutan.” Tertangkap jelas di matanya bahwa putri dari menteri ‘kesayangan’ Sejong Jeonha itu gugup, pandangan matanya tak lagi fokus ke depan melainkan berlarian ke lain sisi. Nada suaranya yang bergetar membuat smirk kecil di wajah Cha Yang Sun muncul ke permukaan. Gadis kecil, kenapa kau berbohong heuh ?.

 

“Syukurlah kau selamat dan segera ditemukan. Sayang sekali aku harus segera menemui Ratu. Senang bertemu denganmu Kim Myung Hui.” Tunggu permainan dariku. Cha Yang Sun berlalu begitu saja dengan sejuta akal licik di kepalanya. Menyusun permainan kecil untuk mainan lamanya itu. Seperti halnya yang Kyuhyun dan Sung Yeol rasakan bahwa gadis itu agak berbeda. Smirk di wajahnya lenyap seiring dengan rencana baru yang akan dan harus ia lakukan sebelum memulai semuanya. Khusus untuk Kim Myung Hui.

 

Sementara di belakang sana, So Eun tak lepas menatap heran punggung Cha Yang Sun yang semakin menjauh hingga hilang di balik pintu. Masih sibuk dengan pikirannya yang merasa familiar dengan wajah itu. “Dimana aku pernah melihatnya ?.” Lama ia berpikir, dadanya berdenyut sakit. Tepatnya di bagian jantung, So Eun merasakan nyeri teramat sangat disana. Seolah jarum tajam tengah menusuk berulang kali di dalam dadanya. Menghunus dan melukai jantungnya. Suara pekikan dan rintihan sakit menguar dari bibir ranumnya, tangannya meremas kuat dada bagian kiri. “Akhhhhh..” hingga tubuhnya luruh, kakinya tak mampu lagi menopang beban tubuhnya.

 

“ARGHHH..” Seakan belati terlempar dan menembus jantungnya, So Eun menjerit merasakan sakitnya. Apa yang terjadi padaku ?. Kenapa begitu sakit ?. Mulutnya tak mampu lagi mengucapkan sepatah katapun. Tubuhnya melemas. Di sisa kesadarannya, mata almondnya menangkap bayang-bayang Sung Yeol yang berlari kearahnya. Hingga semuanya menjadi gelap, sinar mentari yang terik di atas sana tak mampu menembus pelupuk mata yang tertutup itu. Kim So Eun kehilangan kesadaran.

 

“Myung Hui-ah ireonayo… Kim Myung Hui berhenti bercanda… YAKK KIM MYUNG HUI.” Seolah anak panah melesat hingga melukai tubuhnya, Sung Yeol merasakan sakit dalam hatinya saat melihat tubuh adik kesayangannya itu jatuh ke tanah tepat di depan matanya. Jeritan So Eun yang sebelumnya ia dengar menyayat hatinya, membuatnya panik hingga berlari mencari sumber suara dan menemukan So Eun yang terkapar diatas tanah dengan wajah yang memerah dan mata yang berkaca menahan sakit.

 

“Astaga, apa yang terjadi padamu Hui-ah.” Sung Yeol membawa tubuh lemas So Eun dalam gendongannya. Membawanya sesegera mungkin menemui tabib istana.

 

***

 

Min Seo menyesap teh hijau yang dibuat khusus untuknya, lain halnya dengan Yang Sun yang setia berteman dengan bayangan sikap Myung Hui yang nampak aneh dan tidak biasa di matanya. Cha Yang Sun mencium sebuah rahasia disini, yang berusaha Myung Hui tutupi. Tapi apa ?.

 

“Apa ada hal penting yang ingin abeoji katakan ?” Mulai jenuh dengan Cha Yang Sun yang hanya diam melamun sendiri di depannya, Min Seo mengeluarkan suara. Cukup tahu jika tujuan abeojinya kemari pastilah ada hal penting. Tapi sudah cukup lama suara tua, dingin, dan tegas khas Cha Yang Sun tak kunjung ia dengar. Bahkan teh hijau itu mungkin sudah dingin tak tersentuh sedikitpun. “Terlalu aneh jika abeoji kemari hanya untuk melamun.”

 

Sadar dengan maksud putrinya, Cha Yang Sun kembali pada ekspresi datar dan dinginnya. Dengan pandangan mata yang tajam. Sepasang mata itu menghunus ke arah Min Seo. “Kau terlalu sibuk dengan peran Ratumu di kerajaan Mama. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan olehnya diluar sana.” Masih tak mengerti dengan maksud ucapan Yang Sun, Min Seo hanya diam mengijinkan Yang Sun untuk melanjutkan kalimatnya.

 

“Apa kau puas hanya memilikinya di dalam istana ?. Kau terlalu tenang bahkan setelah sainganmu jelas-jelas telah kembali. Ingatlah Mama, seorang selir masih bisa hadir dalam kerajaan.” Perlahan ia mulai sadar siapa tokoh utama yang sedang ayahnya itu bicarakan.

 

“Apa maksud abeoji ? Apa yang Jeonha lakukan ?. Abeoji tahu sesuatu ?.”

 

“Putriku yang malang. Kau hanya terkurung di istana tanpa tahu apa yang Raja muda itu lakukan di luar sana.”

 

“Apa yang abeoji katakan. Jangan membuatku semakin bingung. Apa sebenarnya yang terjadi pada Jeonha diluar sana ?” Agaknya ia mulai tersulut emosi, disaat rasa ingin tahunya semakin membuncah. Ayahnya itu justru membuatnya pusing dengan kalimat yang terlalu banyak basa-basi.

 

“Kyuhyun bersama dengan Kim Myung Hui.” Terkejut hingga tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, itulah yang terjadi pada Cha Min Seo. Emosi yang sebelumnya muncul kini semakin membuncah mendengar nama wanita bermarga Kim itu menyapa telinganya. “Sudah kuduga. Kau terlalu nyaman dengan istanamu ini hingga melupakan gadis itu. Membiarkan Raja bebas keluar masuk istana untuk bertemu dengannya.”

 

“Kim Myung Hui.” Giginya mengertak menyebutkan nama Myung Hui dengan amarah yang siap meledak kapan saja. Membayangkan Kyuhyun yang berada di samping Myung Hui, tersenyum dan tertawa bersama, sementara dirinya disini hanya sibuk dengan kain jahitannya yang ia buat khusus sebagai hadiah di hari kelahiran Kyuhyun saat bulan baru muncul di langit malam. “Kali ini tak kan kubiarkan kau menang untuk yang kesekian kalinya. Aku Ratu Joseon. Satu-satunya Ratu dalam hidup Kyuhyun. Akan kupastikan itu.”

 

“Jangan lupakan tujuan awalmu Cha Min Seo.”

 

“Ini bukan saatnya membicarakan ambisimu abeoji. Sejak dulu tujuan awalku adalah Kyuhyun, dan sampai kapanpun akan tetap sama.” Mata itu beralih menatap nyalang Cha Yang Sun yang terlihat menahan emosi akibat ucapannya barusan. Sungguh ia tak peduli lagi dengan ambisi ayahnya untuk menjadi pusat Joseon –Raja- yang ia pedulikan hanyalah membuat Kyuhyun sepenuhnya menatap padanya. Hanya padanya. “Semua ini tidak akan terjadi jika abeoji melakukan semuanya dengan benar. Cenayang itu telah membohongi kita. Kim Myung Hui bahkan masih hidup meskipun aku sudah-”

 

“Jaga ucapanmu Mama.” Cha Yang Sun tak habis pikir dengan jalan pikiran putri bodohnya ini. Apa cinta membuatnya kehilangan kewarasan. Hampir saja mulut tipisnya itu menggali kuburannya sendiri jika saja ia tak menghentikan ucapannya. Di luar sana banyak orang yang tak segan-segan memasang telinganya guna mendengar semua ucapan mereka berdua. “Apa kau ingin Kyuhyun tahu semua rencana kejimu. Mulutmu itu harus tahu batasannya Cha Min Seo.”

 

Sakit hati mendengar ucapan Yang Sun namun ia tak mampu berkata apapun karena ayahnya berkata benar. Hampir saja ia hilang kendali. “Pergilah abeoji.”

 

“Kau harus ingat. Ancaman terbesarmu masih berkeliaran di luar sana. Kau tidak perlu cemas mengenai Kim Myung Hui. Tugasmu hanya mengawasi Kyuhyun dan menyibukannya di dalam istana hingga ia tak punya kesempatan untuk menyelinap keluar istana. Kim Myung Hui, aku yang akan mengurusnya.” Cha Yang Sun menunduk singkat sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Min Seo yang masih berteman amarah dengan hatinya. Harga dirinya kini berada di bawah kaki Myung Hui. Gadis itu tertawa diatas penderitaannya. Saat dirinya harus mengemis cinta dan perhatian pada Kyuhyun, gadis itu justru hanya tinggal membuka pintu rumahnya dan Kyuhyun yang akan menghampirinya.

 

minseo-44d5cc6478b5d18075e9777b72e8eb6f9a31979c

 

“Kali ini aku benar-benar akan melenyapkanmu Kim Myung Hui.”

 

***Found You In Joseon***

 

Raja langit telah kembali ke tempatnya. Sembunyi di balik bukit dengan bulan sebagai gantinya. Berbeda dengan matahari yang sendiri sepanjang hari, maka bulan yang hampir sempurna di atas sana memiliki pendamping menemani malamnya yang dingin. Istana Bintang nampak lenggang dengan beberapa cenayang yang sedang tidak bertugas. Termasuk Kepala Cenayang Jang Ok Nam.

 

“Tabib istana mengatakan jika Myung Hui tidak sakit sedikitpun. Tapi aku melihatnya cenayang Jang. Aku mendengar jeritannya dan wajah adikku yang kentara menahan sakit. Mustahil jika tidak ada yang terjadi padanya. Itulah sebabnya aku menemuimu.” Jelas Sung Yeol panjang lebar, menjawab pertanyaan Ok Nam beberapa saat lalu yang menanyakan alasannya membawa Myung Hui ke Istana Bintang.

 

Awalnya mungkin perasaan ragu lebih mendominasi dirinya namun kini keyakinannya mengalahkan segalanya. Gadis ini, Kim Myung Hui. Sejauh apapun ia mencoba menyelam kedalam alam bawah sadarnya, tak ada satu hal pun yang ia temukan. Seolah Kim Myung Hui tidak pernah memiliki kenangan atau hal apapun yang membekas dalam ingatannya. Ini aneh, hingga aura itu muncul begitu kuat menguar dari tubuh gadis yang masih setia menutup matanya. Aura yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kim Myung Hui memiliki pancaran aura yang begitu kontras dengan manusia lainnya. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya bahwa gadis ini bukan berasal dari masa ini. Kim Myung Hui, gadis dari dimensi ruang yang lain.

 

“Apa yang terjadi padanya Cenayang Jang ?. Kenapa Myung Hui belum juga sadar ?” Fokusnya terusik mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sung Yeol. Bisa saja ia mengatakan apa yang ia rasakan mengenai Myun Hui, hanya saja Ok Nam belum yakin. Hingga ia menemukan cukup bukti untuk mendukung pemikirannya ini, Ok Nam akan menutupi fakta yang ia temukan tentang Myung Hui. Dilain sisi dari dirinya merasa, bahwa kehadiran gadis ini sangat berpengaruh besar untuk Joseon.

 

“Apa Putri Kim memiliki ketakutan pada sesuatu ?”

 

“Dia sangat takut pada kucing. Saat kecil Myung Hui demam selama hampir 5 hari hanya karena seekor kucing yang tak sengaja melewati kakinya.” Jelas Sung Yeol, mencoba mengingat-ingat lagi kejadian apa yang terjadi antara adiknya dengan seekor kucing akhir-akhir ini.

 

“Sepertinya Putri Kim dikagetkan oleh semacam hal yang membuatnya begitu terkejut hingga memicu kerja jantungnya.” Sung Yeol tak benar-benar mendengarkan penjelasan Ok Nam, dirinya masih larut dalam memori yang mengingatkannya dengan sikap aneh Myung Hui beberapa hari yang lalu.

 

“Tapi…. ada hal aneh yang terjadi padanya akhir-akhir ini.” Jang Ok Nam memasang telinga mendengarkan ucapan Sung Yeol meski matanya tak memandang Sung Yeol disana. Tangan serta mata tajamnya sibuk meracik rempah-rempah yang nantinya akan ia gunakan untuk membuat ramuan diperuntukkan untuk Myung Hui. Hanya sekedar syarat agar Sung Yeol tak curiga padanya.

 

“Aneh ?.”

 

“Sikapnya berubah Cenayang Jang. Anni, bukan hanya sikapnya tapi semuanya berubah. Cara bicara, kebiasaannya, bahkan ketakutannya pada seekor kucing lenyap begitu saja. Bukankah itu aneh, mengingat adikku itu seperti mayat hidup saat melihat kucing. Apa kau bisa menjelaskan alasannya ?. Karena sejauh aku memikirkan alasan yang mampu kuterima, tak ada satupun yang meyakinkan.” Kalimat panjang itu mampu menghentikan gerakan tangan Ok Nam, menarik seluruh perhatiannya untuk mengorek lebih jauh tentang apa yang Sung Yeol rasakan terhadap adiknya.

 

“Alasan apa yang sempat kau pikirkan Naeuri ?”

 

“Awalnya aku mengira Myung Hui kehilangan ingatannya hingga ia melupakan beberapa hal. Namun mustahil untuk diterima jika hanya kehilangan ingatan karena Myung Hui juga menunjukkan perubahan pada pola makan dan ketakutannya pada kucing. Lalu pikiran itu muncul. Mungkin aku sudah gila dan putus asa karena sempat berpikir bahwa Myung Hui bukanlah adikku.” Sung Yeol mengakhiri kalimat panjangnya dengan kekehan ringan yang justru terdengar aneh di telinga siapa saja yang mendengarnya. Seolah ada keraguan dalam tawanya itu.

 

“Alasan terkahirmu itu. Kau meyakininya Naeuri.” Sung Yeol terhenyak mendengar ucapan Ok Nam. Bagaimana bisa pemikiran tak masuk akal itu justru terdengar lebih meyakinkan bagi orang lain.

 

“Cenayang Jang, sejauh ini alasan itu adalah yang paling tidak masuk akal untukku. Kim Myung Hui adikku. Kami tumbuh bersama sejak kecil, bagaimana bisa itu justru terdengar mungkin di telingamu.” Ok Nam meletakkan ramuan yang ia genggam sebelumnya. Berjalan lebih dekat kearah Sung Yeol hingga keduanya berhadapan satu sama lain.

 

“Aku belum bisa menjelaskan semuanya padamu Naeuri. Sesungguhnya ada beberapa hal yang perlu ku selidiki lebih dulu. Putri Kim…” Belum selesai dengan kalimat terakhirnya. Ok Nam membalikkan tubuhnya, berjalan perlahan dengan mata yang sepenuhnya tertuju pada So Eun. Aksinya ini tak tanggung-tanggung membuat Kim Sung Yeol bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ingin Ok Nam katakan padanya. Putri Kim wae ?. Batinnya.

 

“Myung Hui wae ?” tanpa ia tahu, Jang Ok Nam mengulas senyum sebelum mengucapkan 4 kata yang sulit untuk Sung Yeol cerna.

 

“….Dia gadis yang baik.” Tak khayal kalimat itu membuat kerutan di dahi Sung Yeol kian bertambah. Hari ini kenapa semua ucapan Cenayang Jang sangat sulit untuk ia cerna. Dirinya yang kurang fokus atau memang ada yang wanita ini sembunyikan. Sengaja memutar mainkan kata per kata hingga membuatnya pusing untuk sekedar mengetahui maksud dari kalimatnya.

 

Meskipun tanda tanya besar jelas tergambar di wajahnya dan menguasai seluruh ruang di kepalanya, namun Sung Yeol tak sekalipun berniat untuk membuka mulut menanyakannya. Dirinya cukup menyibukkan diri dengan banyak pertanyaan dan akan mencari moment yang tepat untuk menanyakannya suatu saat nanti. Toh saat ini Myung Hui jauh lebih penting daripada rasa penasarannya akan ucapan Jang Ok Nam. Beruntunglah Jang Ok Nam, karena Sung Yeol adalah tipe orang yang mengutamakan orang yang ia sayangi –keluarganya- daripada rasa penasarannya.

 

“Cepatlah sadar Hui-ah. Aku sangat mencemaskanmu. Sebenarnya apa yang terjadi padamu Kim Myung Hui ?”

 

To Be Continue..

 Next Chapter

“Siapa kau sebenarnya ?.”

.

.

“Tangkap dia sekarang.”

.

.

“Belajarlah menjaga sikap Jeonha, jika tidak ingin kejadian mengerikan kembali terulang di istana.”

.

.

“CEPAT TEMUKAN MYUNG HUI SEKARANG !!!”

 

Andalan
Diposkan pada chapter, Romance, SAD, school story

Be Love You 3

Be Love You 3

be love you7

 

Title      : Be Love You

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Kim Hye Ji

Other Cast :

  • Lee Chang Suk
  • Kwon Sara
  • Song Jieun
  • Kang Jiwoon
  • Han Soo Ya
  • Lee Hyukjae

Category : School story, Romance, Sad.

 

************Happy Reading************

 

Kim Hye Ji, putri tunggal keluarga Kim itu tengah menyibukkan dirinya selama kurang lebih 2 jam berkutat dengan buku-buku tebal di perpustakaan. Seakan tiada hari tanpa sebuah buku di kehidupannya.Hye Ji memanglah sosok yeoja yang rajin serta tekun dalam setiap hal yang ia kerjakan. Sebab itulah banyak guru yang memuji kebiasaannya ini. Bukan untuk melengkapi tugas Kim Hye Ji mengumpulkan begitu banyak buku di perpustakaan, hanya sekedar mengisi waktu luangnya dengan membaca. Seperti itulah hobinya. Abad 21 masih saja ada kutu buku. Mungkin seperti itulah pikiran orang lain ketika melihat sosok Hye Ji yang tak pernah absen menghuni perpustakaan.

 

“Nona Kim” hingga satu panggilan mengintrupsi kegiatannya.

 

“Oh, Yoon seongsaenim. Annyeonghaseyo.” Hye Ji membungkuk hormat begitu mengetahui siapa yang menyerukan namanya saat itu.

 

“Kau tidak makan siang ?. Ku perhatikan sejak tadi kau terus saja membaca buku.” Yoon So Bang mendudukkan dirinya di salah satu kursi di meja yang sama dengan Hye Ji. Keduanya saling berhadapan.

 

“Terima kasih sudah mengingatkan seongsaenim. Tapi, aku sedang tidak lapar.” Jawaban yang selalu sama setiap ia menanyakan pertanyaan itu. Yoon So Bang, bisa menebak dengan tepat jawaban yang akan keluar dari mulut Hye Ji. Maka dari itu Yoon So Bang telah membawakan sesuatu untuk Hye Ji.

 

“Igo. Aku membelinya saat makan siang tadi. Makanlah.”

 

“Seongsaenim animnida. Aku benar-benar tidak lapar.” Hye Ji bersikeras menolak pemberian So Bang.

 

“Setidaknya makanlah nanti saat kau merasa lapar. Aku pergi dulu, lanjutkan membacamu.” So Bang berlalu meninggalkan Hye Ji menuju mejanya. Yoon So Bang, orang tua berumur 50 tahunan yang sudah 23 tahun mengabdikan hidupnya untuk Haneul School, mengenal betul sosok Hye Ji yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri. 1 tahun yang lalu saat Hye Ji resmi menjadi murid Haneul, So Bang kerap kali mendapati Kim Hye Ji tertidur di perpustakaan dengan buku di kanan-kirinya. Bukan hanya sekali-dua kali namun hampir 2 minggu Hye Ji berada di perpustakaan hingga larut.

 

Awalnya So Bang mengira bahwa Kim Hye Ji adalah murid nakal yang selalu tidak mengerjakan tugas rumahnya dan mendapat hukuman untuk tugas baru di perpustakaan. Seiring berjalannya waktu, So Bang mulai mengenal lebih dalam sosok Kim Hye Ji yang sebenarnya. Jauh dari dugaanya, bahkan satupun dugaannya tidak ada yang benar. Sejak saat itulah So Bang dengan senang hati dan merasa terbantu atas kehadiran Hye Ji. Bagaimana tidak terbantu, jika Hye Ji dengan senang hati meluangkan waktunya membantunya menata buku-buku serta membersihkan perpustakaan. Di umurnya yang kian rentan, perpustakaan seluas ini mustahil untuk ia rawat sendirian.

 

Selepas kepergian So Bang dengan meninggalkan satu porsi tteobokki disana, Hye Ji tak tahu harus berbuat apa. Masih terkejut dan tak percaya bahwa di Haneul School ternyata masih ada orang yang baik padanya selain Chang Suk dan Soo Ya tentunya. “Kamsahamnida ahjushi.” Hye Ji kembali melanjutkan aktivitas membacanya yang tertunda.

 

Drrrtt.. getaran dari ponselnya membuat fokus Hye Ji teralihkan. Satu pesan muncul di layar ponselnya. ‘Neo oddiga ?’ pesan singkat dari Soo Ya. Jarinya bergerak lihai menekan tuts-tuts touchscreen mengetik balasan singkat untuk Soo Ya. ‘Arra, tetaplah disana.’ Hye Ji meletakkan kembali ponsel pintarnya selepas membaca balasan Soo Ya. Melanjutkan aktivitas membaca novel favoritnya.

 

“Pantas saja suasana pepustakaan terasa suram. Kim Hye Ji telah menghancurkan pemandangan disini. Lihat saja, pelayan kita sedang bersantai rupanya.” Lee Yoonbi murid kelas 2 yang juga satu kelas dengan Hye Ji, bersama dengan 2 orang temannya datang menghampiri meja dimana Hye Ji menikmati waktu senggangnya. Jelas Kim Hye Ji mendengar setiap kata menyakitkan yang keluar dari mulut Yoonbi. Pelayan, rendahan, kampungan, semua sebutan telah tertangkap oleh telinganya selama 2 tahun ini. Entah dari apa hati Hye Ji terbuat hingga ia mampu bertahan dengan semua cemooh yang hampir setiap hari ia dengar.

 

“Kim Hye Ji. Cepat pergi dan belikan makanan untukku. Waktu istirahat tidak selama yang kau pikirkan. Ppalli.” Dengan santai Yoonbi memerintahkan Hye Ji untuk melayaninya. Bukan tanpa sebab Yoonbi menyebutnya sebagai pelayan, sebab tempo hari tanpa sengaja keluarga Yoobi mengadakan makan malam di restoran tempatnya bekerja. Dan sejak saat itulah, Yoonbi semakin gencar mengganggunya.

 

“Mianhae Yoonbi-ssi, aku harus mengerjakan beberapa tugas.” Hye Ji beranjak dari duduknya berniat meninggalkan Yoonbi dan 2 temannya disana. Hingga kejadian kecil membuat Hye Ji untuk kesekian kalinya berhasil di permalukan. Novel yang sejak tadi ia tekuni kini terbuang entah kemana. Rambutnya yang tergerai, berjatuhan menutupi wajahnya yang memerah menahan tangis.

 

“Kim Hye Ji, sepertinya kau baru saja mendapat hukuman karena melawan perintah atasanmu. Keundae, jika kau masih belum sadar juga dimana seharusnya kau berada maka disanalah kau seharusnya. Kau dan lantai ini terlihat cocok.” Hye Ji tak mampu menatap Yoonbi, bahkan untuk mengangkat kepalanya ia terlalu malu. Se-begitu tidak pantasnya kah ia disini, bahkan untuk bernafas pun apa ia tidak pantas ?. Atau hidupnya memang sudah dikutuk sejak dulu. Apa kehadirannya di dunia ini ditolak oleh banyak orang ?.

 

Tawa, bisik kasihan, serta tatapan iba ditunjukkan oleh murid lain yang menyaksikan insiden jatuhnya Hye Ji karena ulah Yoonbi. Begitu pula dengan Cho Kyuhyun yang sebelumnya tengah menyelami buku referensi matematika, kini ikut bergabung dalam kerumunan murid yang menyaksikan permainan Yoonbi. Tubuhnya yang tinggi tak menjadi masalah untuknya meskipun harus berdiri paling belakang. Kyuhyun tetap bisa menyaksikan permainan itu dari awal hingga akhir.

 

Yoonbi berjalan santai mendekati Hye Ji yang hanya terdiam di lantai, mengabaikan kerumunan dalam skala cukup besar yang mengelilinginya. Keduanya tanganya terlipat di depan dada, dengan tangkapan angkuh dan smirk di wajahnya Yoonbi mensejajarkan posisinya dengan Hye Ji yang terduduk di lantai. Membisikkan sebait kalimat yang seketika membuat Hye Ji berlari menembus kerumunan murid dan meninggalkan perpustakaan dengan air mata yang membasahi wajahnya. Sementara disana, semua murid mulai mempertanyakan apa yang telah Yoonbi katakan hingga membuat Hye Ji melarikan diri seperti tadi. Hanya Yoonbi dan Hye Ji yang tahu.

 

“Lee Yoonbi, tidakkah kau terlalu serakah dengan ketenaran. Setidaknya carilah cara yang lebih baik daripada dengan membuat keributan seperti ini.” Seorang namja yang mengikuti semua permainan Yoonbi bahkan sebelum hari ini, angkat bicara setelah melihat Yoonbi yang dinilainya sudah kelewat batas dalam hal membully Hye Ji yang notabene memang tak bersalah.

 

“Bukankah kau juga menikmati permainanku Go Kwang Hee-ssi ?.” Go Kwang Hee tak ingin menanggapi pertanyaan Yoonbi yang lebih mengarah pada sindiran untuknya. Menanggapinya hanya akan memperkeruh keadaan.

 

“Semuanya bubar !. Yoon seongsaenim akan segera kembali.” Go Kwang Hee dengan sikap kepemimpinannya yang memang seorang ketua kelas mengumumkan pada kerumunan untuk segera membubarkan diri. Sementara Yoonbi dan kedua temannya telah lenyap entah kemana perginya. Tersisa namja berwajah dingin dengan ekspresi datarnya yang tetap pada posisinya. Mata elangnya masih terpaku pada pintu perpustakaan dimana ia menyaksikan gadis itu –Kim Hye Ji- berlari dari permainan bodoh yang tak ia mengerti. Meninggalkan orang-orang memuakkan disini yang mempermainkan hidupnya.

 

Kyuhyun membenci yeoja yang lemah dan mudah menangis. Dalam kamus hidupnya, air mata hanyalah sebuah topeng andalan bagi semua yeoja di dunia untuk menarik perhatian orang lain terlebih lagi namja yang mereka sukai. Mendapat simpati dari si namja hingga akhirnya mereka menjadi dekat. Cihhh, cara picisan menurutnya. Seperti halnya Hye Ji, Cho Kyuhyun sangat membenci Hye Ji yang cengeng. Begitu lemah, dengan hanya terdiam dan menerima semua perlakuan dari yeoja yang ia ketahui bernama Lee Yoonbi tadi. Sangat lemah, pikirnya. Namun ada satu hal yang entah kenapa membuat hatinya tergerak. Satu hal yang belum ia ketahui apa sebenarnya namun berhasil menarik perhatiannya. Simpati ? Iba ? mungkinkah sejenis itu ?. Molla. “ Aku harus mencari tahu.” Kyuhyun bergerak keluar perpustakaan berniat mencari kemana perginya Hye Ji. Langkah yang ia tempuh ke depan akan membawa sebuah takdir yang telah ditentukan untukknya dari Sang Pencipta. Takdir baru, entah akan berakhir indah atau justru sebaliknya.

 

**Be Love You**

 

Mobil sport keluaran terbaru sejenis lamborghini berhenti di area parkir sekolah Haneul. Sejak mobil itu menunjukkan bentuknya di pelataran Haneul, seluruh pasang mata tak pernah lepas memandangnya. Menanti siapa gerangan pemilik mobil keren itu.

 

Kang Jiwoon, dengan setelan casual muncul dari balik pintu kemudi. Dengan kacamata hitam yang bertengger indah di wajahnya, Jiwoon melangkah masuk lebih dalam ke gedung utama Haneul. Mengabaikan tatapan kagum dan segala macam pertanyaan yang mungkin muncul di kepala semua orang yang melihatnya. Hingga langkahnya terhenti di lorong sekolah, dimana ia terjebak pada situasi yang menuntunya untuk bertanya pada salah satu murid disana. “Chogiyo, apa kau mengenal Kim Hye Ji ?” tanya Jiwoon pada salah seorang murid yeoja yang berada dekat dengannya.

 

“Ye ?. Kim Hye Ji ?. Nuguseyo ?” Lipatan heran muncul di kening Jiwoon mendengar jawaban yang yeoja ini lontarkan. Tak ingin membuang waktu, Jiwoon mengajukan pertanyaan yang sama ke murid lain.

 

“Apa kau melihat Kim Hye Ji ?” Namun dirinya kembali dibuat heran dengan tanggapan murid lain. Hampir semua murid di lorong ini menjawab bahwa mereka tak tahu menahu siapa itu Kim Hye Ji. Mungkinkah ia salah mengira jika yeoja yang ia temui tempo hari itu adalah murid Haneul ?. “Tidak mungkin aku lupa dengan seragam sekolahku sendiri. Aku yakin itu seragam sekolah Haneul.” Jiwoon berhnti sejenak untuk berpikir. Ia rasa ada yang salah dengan murid disini. Tidak mungkin ia salah mengenali seragam yang bahkan pernah ia kenakan selama 3 tahun. Meskipun keadaan waktu itu terlalu gelap, tapi Jiwoon yakin jika yeoja bernama Kim Hye Ji salah satu murid di Haneul School. “Aku harus mencari tahu.”

 

Jiwoon melangkah lebih dalam berniat menemui Kepala Sekolah untuk menanyakan kebenarannya, hingga langkahnya terhenti saat mata coklatnya menemukan siluet orang yang begitu ia kenal menyebrangi lapangan basket tak jauh dari posisinya berdiri sekarang. “Kenapa aku bisa lupa jika dia sekolah disini. Seharusnya aku bertanya padanya saja sejak tadi.” Jiwoon bergegas menghampiri sosok tersebut, berulang kali mencoba menghentikan  langkahnya dengan memanggil namanya namun jarak mereka yang terlalu jauh membuat suaranya tersamarkan oleh angin yang berhembus.

 

“Sepertinya aku tahu jalan ini ?” Jiwoon bermonolog mencoba menerka kemana sebenarnya sosok itu pergi. Semakin mendekat dugaannya semakin kuat. Sebuah pohon besar di samping taman Haneul. Tempat dimana ia menghabiskan banyak waktu dulu. Tak menyangka bahwa namja itu tahu tempat seperti ini, mengingat sikap dan kebiasaan sepupunya itu membuatnya berpikir dua kali untuk meyakini apa yang ia lihat sekarang. “Kita lihat, apa yang akan kau lakukan disini Cho Kyuhyun.” Penasaran dengan itu, Jiwoon lebih berhati-hati mengikuti kemana tepatnya Kyuhyun melabuhkan kaki nantinya.

 

KANG JIWOON. Mungkin bagi sebagian besar orang tak mengenal siapa sebenarnya Kang Jiwoon. Namja tinggi yang hampir menyamai tinggi Kyuhyun itu adalah putra dari Cho Dong Pal yang tak lain adalah kakak Cho Younghwan, ayah Kyuhyun. Lebih tepatnya adalah anak angkat yang di adopsi Dong Pal sejak Jiwoon berumur 7 tahun. Menjadi putra semata wayang dari seorang pengusaha ternama di Seoul seperti halnya Cho Kyuhyun nyatanya tak membuat Jiwoon besar kepala dan melupakan tempat asalnya. Salah satu alasan tak banyak orang yang tahu mengenai Cho Jiwoon, karena namja bermarga asli Kang itu menolak untuk dikenalkan pada publik. Cukup korelasi dan saudara terdekat saja. Itulah permintaan Jiwoon kepada sang ayah 7 tahun yang lalu saat dirinya berusia 18 tahun. Terutama perihal penggunaan marga Kang yang masih kerap bahkan lebih sering ia gunakan daripada marga kebesaran milik keluarga Cho. Bukan tidak mau atau tidak menghormati kebesaran hati Cho Dong Pal yang mau mengadopsinya 14 tahun yang lalu, hanya saja ia tidak ingin membuang kenangan terkahir yang orang tua kandungnya tinggalkan untuknya. Beruntung Cho Dong Pal mengerti perasaan Jiwoon saat mengutarakan keinginannya itu di hari ulang tahunnya yang ke-18. Dan jadilah sosok Kang Jiwon yang kita kenal saat ini.

 

“Kim Hye Ji ?” Langkahnya seketika terhenti di balik tembok tinggi, dimana ia mampu melihat semua di depan sana dengan jelas termasuk Kyuhyun yang saat ini tengah memberikan sesuatu pada Hye Ji yang menangis di bawah pohon.

 

***

 

Dirinya ragu, kakinya terhenti 5 langkah dari pohon besar di depannya. Berulang kali ia memikirkan semua kemungkinan seiringan dengan langkahnya kemari hingga ia akhirnya menemukan yeoja yang bahkan tak ia kenal. Apa yang sebenarnya ku lakukan ?. Ada apa denganku ?. Ini bukan urusanku. Aku hanya ingin membantu. Tapi itu bukan gayaku ?. Kyuhyun berperang dengan batinnya yang tak sejalan dengan otak dan sarafnya hingga ia berakhir menatap cukup lama punggung Hye Ji yang bergetar akibat tangisan tanpa suara di depan sana. Haruskah aku mendekat ?. Batinnya ragu namun lagi-lagi otak dan sarafnya tidak sinkron. Kaki itu mulai bergerak maju, selangkah demi selangkah hingga sura isakan yang hampir tak terdengar karena terbawa angin mampu tertangkap daun telinganya.

 

Cukup lama ia hanya diam terpaku di samping Hye Ji yang masih menangis. Menunggu hingga tangisnya mereda baru ia akan… akan apa ?. Oh God, sebenarnya apa yang kulakukan. Batin Kyuhyun berteriak, namun kakinya enggan untuk pergi. Saat Kyuhyun sibuk berdebat dengan batin dan otaknya, Hye Ji mulai menyadari akan kehadiran seseorang di sampingnya.

 

“Kau siapa ?” Kyuhyun hampir saja terlonjak mendengar pertanyaan Hye Ji. “Pergilah, sebentar lagi bel masuk.” Hye Ji mengelap kasar sisa air mata yang masih mengalir di pipinya. Menselonjorkan kakinya mencari posisi ternyaman untuknya berdiam sesaat menenangkan hatinya sebelum kembali ke tengah sandiwara yang akan ia lakoni setelah melangkah masuk melewati taman Haneul dan bertemu kembali dengan orang-orang menyebalkan disana.

 

“Kau tidak ingin masuk ?” entah darimana datangnya suara itu, namun yang pasti Kyuhyun tak berniat untuk bertanya sebenarnya. Oh, mulutnya ini perlu dikondisikan. Ini benar-benar bukan gayanya.

 

“Aku hanya ingin disini lebih lama.” Tak banyak yang bisa Hye Ji jelaskan. Pikirannya dan hatinya terlalu kacau untuk bersikap ramah seperti biasanya pada orang lain. Cukup lama keduanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Kyuhyun yang bimbang haruskah ia tetap disini atau meuruti saran wanita ini untuk kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran. Lagipula tak ada alasan baginya untuk tetap disini. Namun, otaknya masih saja tidak sejalan dengan hatinya. Bukannya pergi, Kyuhyun justru bergabung dengan Hye Ji di bawah pohon. “Apa yang kau lakukan ?”

 

“Aku bukan tipe pria yang mudah menuruti keinginan wanita.” Bohong. Tentu saja itu hanya alibi belaka untuk menutupi fakta yang sebenarnya. Bahkan jika ia jujur, Kyuhyun tak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang disini, dengan yeoja yang bahkan belum pernah ia lihat. Benarkah ia belum pernah melihatnya ?.

 

“Jika alasanmu sebenarnya hanya kasihan padaku. Maaf, aku tidak butuh rasa kasihan itu.” Kyuhyun tak berniat menjawab ungkapan Hye Ji. Tangannya terulur menawarkan sapu tangan yang selama 18 tahun selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Mengingat asal muasal sapu tangan itu dari orang yang begitu ia sayangi lebih dari apapun di dunia ini.

 

“Usap air matamu itu. Kau terlihat menyedihkan.” Lelah berdebat dengan hatinya, Kyuhyun mencoba untuk menikmati keberadaanya disini. Bersama wanita yang jelas tidak sepadan dengannya. Tidak sulit untuk mengetahuinya, melihat sekilas saja semua orang akan tahu jika Hye Ji bukanlah seorang chaebol.

 

“Tidak perlu bersikap baik di depanku. Disini hanya ada kita berdua, tidak perlu berpura-pura baik padaku. Aku sudah tahu niatmu sebenarnya. Kalian semua sama saja.” Tanpa meminta penjelasan, Hye Ji yang kelewat sakit hati dengan perlakuan murid chaebol di Haneul langsung to the point menebak tujuan Kyuhyun datang menghampirinya disaat semua orang menjauhinya. Hanya ada satu alasan yang dapat ia pikirkan secara logis setiap salah seorang murid disini menhampirinya selain Soo Ya dan Chang Suk tentunya. Mereka hanya akan meminta Hye Ji untuk mengerjakan tugas matematikanya, dengan bersikap sok manis di hadapannya. Ia benar-benar muak sekarang.

 

“Kemarikan bukumu dan cepat pergi.” Hye Ji mengadahkan tangan kirinya, bermaksud meminta buku pekerjaan matematika Kyuhyun.

 

“Ne ?”

 

“Aku akan mengerjakan tugas matematikamu. Jadi berikan bukumu dan cepatah pergi. Aku tidak minat menerima sandiwara lagi.” Berbeda dengan Hye Ji yang masih bersikeras menduga alasan Kyuhyun kemari adalah hanya untuk tugas, Cho Kyuhyun sendiri mulai sadar kemana arah pemikiran Hye Ji tentangnya.

 

“Aku tidak berminat memintamu mengerjakan tugas matematikaku. Aku tidak sebodoh itu.” Kyuhyun dengan acuh menjelaskan pada Hye Ji. Tangannya yang terulur beberapa saat lalu kembali ia tarik.

 

Hye Ji yang sadar perihal kesalahannya, merasa bersalah telah mencurigai niat baik seseorang yang ingin membantunya. “Mianhaeyo. Aku tidak bermaksud menuduhmu.” Hye Ji tertunduk.

 

“Kau sudah menuduhku barusan. Tidak perlu minta maaf.” Dengan acuh dan nada dinginnya khas seorang Cho Kyuhyun, kalimat itu keluar dari mulutnya. “Ambilah.” Jika sebelumnya ia menolak, kali ini Hye Ji menerima tawaran Kyuhyun yang menawarkan sapu tangan untuknya.

 

“Kamsahamnida.” Keduanya kembali terdiam menikmati sejuknya angin yang berhembus di siang hari dengan daun-daun kering yang berjatuhan dari atas kepala mereka. Melewatkan jam pelajaran yang sudah berjalan 15 menit lamanya. Kyuhyun melupakan kebimbangan hatinya beberapa saat lalu dan kini justru menikmati tempat ini. Sunyi, terhindar dari kebisingan. Tempat yang sangat ingin ia temukan sejak dulu. Jika dikenal lebih jauh, sosok Cho Kyuhyun adalah orang yang tidak menyukai keramaian. Hanya saja belum banyak orang yang tahu akan hal itu kecuali mendiang ibunya dan sang ayah Cho Young Hwan.

 

“Kau tidak ke kelas ?.”

 

“Kau sendiri ?.” Hye Ji mendengus kesal mendengar jawaban Kyuhyun. Pantaskah itu disebut jawaban. Sejak tadi nada bicara namja asing ini begitu dingin, aku jadi tidak yakin apakah niatnya kesini benar-benar ingin membantuku ?. Batin Hye Ji mulai bicara.

 

“Aku yang bertanya duluan. Kenapa kau justru bertanya balik.” Sindir Hye Ji lirih.

 

“Kau mengatakan sesuatu ?”

 

“Aniya. Hanya menghafal judul novel favoritku.”

 

“Aku tidak ingin tahu apa yang kau katakan barusan.” Hye Ji serasa naik darah mendengar setiap kalimat pedas dari mulut namja asing yang kelewat tampan ini. Ingin rasanya ia menghajar mulut pedasnya itu, beruntung akal sehatnya masih bekerja untuk berpikir dua kali jika ingin melukai wajah rupawan yang kelewat sempurna. Menurutnya. Sesaat suasana kembali hening. Kyuhyun terlihat tidak ambil pusing dengan keheningan yang menyelimuti mereka, terpancar jelas dari ekspresinya bahwa namja itu santai-santai saja meskipun disana ada orang lain yang terintimidasi akibat keheningan yang tercipta. Kim Hye Ji berjuang sendiri dalam diamnya, memikirkan kira-kira topik apa yang cocok untuk ia bicarakan dengan namja asing yang bahkan namanya saja ia tidak tahu.

 

Nama ?. Kenapa tidak dimulai dengan perkenalan. Pikirnya.

 

“Ekhemm..” berdehem sebentar untuk mengalihkan perhatian Kyuhyun. Bingo, Kyuhyun mengerti isyarat yang ia lakukan. “Sejak tadi kita hanya berbincang tanpa tahu nama masing-masing. Naneun-”

 

“Kim Hye Ji. Na arra.” Hye Ji terbelalak tak percaya. Bukan karena namja asing ini tahu namanya. Tapi karena, ada orang lain di Haneul yang mengenalnya selain Soo Ya dan Chang Suk. Ternyata kisahnya dengan Haneul tidak seburuk yang ia pikirkan selama ini. Buktinya masih ada orang yang tahu namanya. “Wanita di perpustakaan tadi menyebut namamu.” Seolah mengerti dengan isi pikiran Hye Ji, Kyuhyun kembali mengeluarkan kalimat singkat yang menjelaskan semuanya.

 

Hye Ji menghembuskan nafas berat. “Ternyata benar. Tidak ada seorangpun yang benar-benar mengenalku sebagai murid Haenul.” Tanpa sadar ia mengeluarkan sebait kalimat yang membuat Kyuhyun menolehkan kepalanya, menatap lurus ke wajah putih Kim Hye Ji yang memasang senyum pahit disana. Kyuhyun hanya diam menunggu Hye Ji melanjutkan kalimatnya. Lebih tepatnya curahan hatinya. Mungkin.

 

“Ini sudah 2 tahun, tapi tetap saja mereka hanya memandangku sebelah mata. Aku tahu dimana posisiku, seharusnya aku tidak pernah mengambil beasiswa itu dan menyiksa diri sendiri dengan bersekolah disini.” Kyuhyun semakin tertarik mendengar kisah hidup Kim Hye Ji yang entah sadar atau tidak ia ceritakan pada orang asing yang bahkan Hye Ji belum tahu namanya. Kyuhyun belum mengenalkan siapa namanya tadi.

 

“Aku tidak punya pilihan lain. Jika aku tidak mengambil beasiswa itu dan bersekolah disini, maka mereka semua akan merendahkan appa dan eomma. Setidaknya aku pernah bersekolah di sekolah ternama selama hidupku. Hanya dengan bersekolah disini, satu-satunya jalan appa dan eomma terbebas dari cemoohan dan belas kasihan orang lain disekitar mereka.”

 

“Tuhan memang tidak adil. Memberikan kehidupan yang begitu berat padaku yang bahkan seumur hidup tidak pernah berbuat buruk pada orang lain. Setidaknya, Dia memberikan kehidupan yang lebih baik untuk appa dan eomma.” Mengingat kerja keras ayah dan ibunya, yang bahkan tak dihargai oleh orang di sekitarnya membuat dada Hye Ji sesak menahan tangis yang bisa saja pecah saat pertahannya tak kuasa lagi menahan genangan krystal bening yang siap meluncur kapan saja dari kelopak matanya. Hal yang selalu ia benci, adalah dimana saat ia menangis karena mengingat takdir buruk yang diterima orang tuanya di usia yang sudah tidak muda lagi.

 

“Menangis bukan jalan keluar dari semua masalah. Kau hanya akan terlihat lemah dan mereka akan semakin tertantang untuk terus mengganggumu.” Nadanya mulai melunak, nada dingin dan angkuh yang ia dengar kini berganti dengan nada lembut namun tegas di setiap kata yang keluar. Entah apa yang membuatnya menceritakan semua ini pada namja asing ini, namun satu yang ia yakin. Ia merasa nyaman karena kehadirannya. Bahkan Hye Ji jarang terbuka dengan Soo Ya dan Chang Suk yang sudah lama ia kenal.

 

Kyuhyun memutar tubuhnya menghadap Hye Ji sepenuhnya. Ia tidak yakin untuk melakukannya, lama ia berpikir hingga akhirnya dengan ragu tangan kananya terangkat menyentuh pundak Hye Ji. Menepuk-nepuknya pelan, mencoba menenangkan. Sebenci apapun ia dengan wanita cengeng dan lemah seperti halnya Hye Ji saat ini, namun ia tetaplah namja yang tak tega melihat seorang yeoja menangis di hadapannya. Terlebih setelah tahu alasan di balik kesedihan wanita itu. “Cho Kyuhyun.”

 

Hye Ji mengangkat kepalanya yang tertuduk begitu mendenger suara Kyuhyun. Alisnya saling bertaut, tak mengerti dengan maksud ucapan Kyuhyun barusan. “Namaku Cho Kyuhyun.” Baru setelahnya ia tahu. Cho Kyuhyun, siapa yang tidak kenal dengan pewaris tunggal perusahan terbesar di Asia itu. Hye Ji tahu perihal pewaris tunggal itu bernama Cho Kyuhyun, namun baru kali ini ia tahu wajah calon CEO Cho Corp itu.

 

Bel tanda pelajaran berakhir berhasil menyadarkan keduanya, dan memutus kontak mata yang tak sengaja terjadi. Kyuhyun yang salah tingkah beranjak dari duduknya dengan satu tangan ia masukan ke dalam saku dan tangan yang lain menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kebiasaan lama. Sementara Hye Ji berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah di bawah sana. “Ekhemm..” Kyuhyun berdehem guna menstabilkan kembali suasana canggung yang tiba-tiba tercipta.

 

“Aku akan mengembalikan sapu tanganmu besok.”

 

“Oo..”

 

“Terima kasih.”

 

“Untuk ?”

 

“Tidak ada, hanya ingin berterima kasih.” Kecanggungan telah membuyarkan akal sehatnya, membuat Hye Ji lupa kata-kata yang sebelumnya sudah ia susun di dalam otaknya. “Kalau begitu, aku pergi…Kyuhyun-ssi.” Dirasa perbincangan ini tak mungkin lagi di lanjutkan, Hye Ji memutuskan untuk pamit. Berniat membasuh wajahnya yang sembab sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah. Kyuhyun hanya mengangguk menanggapi Hye Ji.

 

“Kim Hye Ji-ssi..” baru 3 langkah ia melangkah, tubuhnya berbalik begitu Kyuhyun memanggilnya. Menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulut tebal itu. “Yakinlah. Selalu ada pilihan dalam hidup ini.” Hye Ji tersenyum simpul mendengar ungkapan yang baru saja Kyuhyun katakan padanya. Perasaannya lebih tenang dari sebelumnya dan Kyuhyun berperan besar dalam hal itu. Hingga akhirnya Hye Ji benar-benar pergi meninggalkan Kyuhyun sendiri di sana.

 

Sementara itu, kita kembali pada tokoh utama dalam cerita ini. Cho Kyuhyun, tak habis pikir dengan apa yang ia lakukan hari ini. Terlebih mendengar apa yang baru saja ia katakan pada Hye Ji. Ia tak habis pikir dirinya bisa secepat ini beradaptasi dengan Kim Hye Ji, mengingat dirinya bukanlah tipe orang yang mudah beradaptasi dengan dunia baru dan orang asing. Bahkan sampai sekarang Kyuhyun masih merasa belum bisa terbuka dengan sang kekasih. Kwon Sara. Mengingatnya membuat Kyuhyun kembali tersulut emosi dan kecewa besar saat otaknya kembali memutar kejadian beberapa hari yang lalu. Tak ingin berlama-lama mengingat hal yang menyakiti hatinya, Kyuhyun bersiap untuk pulang dan mengistirahatkan tubuh serta pikirannya. Memikirkan hubungannya dengan Kwon Sara membuatnya otaknya kelelahan, harus memikirkan hubungan mereka kedepannya.

 

“Cho Kyuhyun.” Hingga panggilan Jiwoon mengurungkan niatnya untuk melangkah. Tubuhnya berbalik mencari keberadaan pemilik suara itu. Mata elangnya menangkap sosok tinggi yang berjalan kearahnya.

 

“Hyung ?. Sedang apa kau disini ?” Kyuhyun mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ia pikirkan begitu mengetahui bahwa saudaranya itu ada di sini. To the point.

 

“Kau mengenal gadis tadi ?.” seperti halnya Kyuhyun, Kang Jiwoon juga tidak suka berbelit-belit tentang suatu hal. Mereka bukan saudara kandung tapi banyak kesamaan yang ada pada diri keduanya.

 

“Kim Hye Ji ?.” Jiwoon mengangguk membenarkan. “Ini pertemuan pertamaku dengannya.” Kurasa. Lanjutnya dalam hati karena ia sendiri merasa pernah bertemu Hye Ji sebelumnya, hanya saja Kyuhyun lupa dimana tempatnya. Atau lebih tepatnya ia belum yakin benarkah ini pertemuan paertamanya atau mungkin bukan ?. “Wae ?. Kau mengenalnya ?”

 

“Kami bertemu secara tidak sengaja di salah satu restoran milik Imo. Aku kesini untuk mengembalikan barangnya yang tertinggal disana.” Kyuhyun terlihat tak tertarik dengan penjelasan Jiwoon. Dan Jiwoon sadar itu. “Sepertinya kau lelah. Sebaiknya kau segera pulang dan istirahat.”

 

“Oo, aku akan segera pulang. Kau sendiri ?”

 

“Aku juga akan pulang setelah ini. Aku masih ada jam kuliah nanti sore. Sampaikan salamku untuk Young Hwan ahjushi.” Kyuhyun mengangguk paham sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana. Di susul Jiwoon tak lama setelah itu.

 

Hubungan keduanya begitu dekat mengingat Kyuhyun dan Jiwoon sempat tinggal bersama selama 3 tahun saat Jiwoon baru saja bergabung ke dalam keluarga tersebut. Cho Dong Pal yang saat itu harus melakukan perjalanan bisnis untuk proyek besarnya, menitipkan Jiwoon pada keluarga Kyuhyun hingga ia kembali. Awalnya Kyuhyun bersikap dingin karena kebiasaannya yang tidak bisa menerima begitu saja orang asing berada di dekatnya. Namun lama-kelamaan Kyuhyun mulai nyaman akan kehadiran Jiwoon.  Jiwoon tidak seburuk yang ia pikirkan pada saat itu, justru sebaliknya Jiwoon sangatlah perhatian padanya. Membantu Kyuhyun mengerjakan tugas rumah dan menemaninya bermain. Hingga hubungan keduanya terasa seperti adik kakak pada umumnya hingga keduanya beranjak dewasa seperti sekarang. Meskipun Kyuhyun tumbuh dengan sikap dingin dan acuhnya, dan Jiwoon dengan kesibukannya sendiri. Keduanya akan saling bertukar cerita begitu bertemu, meskipun hanya sekedar perbincangan ringan. Kim Jiwoon sudah menganggap Kyuhyun sebagai adiknya sendiri.

 

***

 

“Hye Ji-ah gwenchana ?. Maaf karena tidak ada disaat kau dalam keadaan sulit. Aku menyesal.” Han Soo Ya menundukkan kepalanya tak cukup berani untuk menatap kearah mata hazel milik Hye Ji. Merasa bersalah mendengar cerita Hye Ji beberapa saat lalu. Saat ini ia dan Hye Ji tengah menunggu bis di halte dekat sekolah mereka.

 

“Gwenchana Soo-ya. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kau sama sekali tidak salah dalam kejadian ini. Berhenti murung seperti itu.” Han Soo Ya tetaplah yeoja yang kerasa kepala. Ia tetap bersikukuh dengan pemikirannya, bahwa semua ini tetaplah salahnya. Harusnya ia buru-buru menyusul Hye Ji di perpustakaan tadi, maka hal ini tidak akan terjadi. Mana berani Lee Yoonbin memperlakukan Hye Ji serendah itu jika ada dirinya disana. Jika sampai Lee Yoonbin berani, maka mulut tak manusiawinya itu sudah Soo Ya sumpal dengan alat make up yang selalu yeoja itu gunakan di sekolah. Dasar gadis sosialita tak berperasaan.

 

“Aku tidak bisa diam saja. Anak itu harus mendapat balasannya. Aku akan meminta appa untuk menolak pasien yang berasal dari keluarga Yoonbin.”

 

“Soo-ya.. sudahlah. Kau tidak perlu melakukan hal itu. Jika kau sampai hati melakukannya maka kau tidak ada bedanya dengan dia.” Mendengar perkataan Hye Ji membuat emosinya berangsur pudar. “Lagi pula aku sudah melupakannya. Hal buruk untuk apa terus diingat.” Han Soo Ya menatap dalam ke mata hazel milik Hye Ji, mencoba mencari kebencian yang tersembunyi di balik kelopak matanya yang indah. Nihil. Ia tak menemukan satupun kebencian dan dendam disana. Tak bisa ia bayangkan betapa mulianya hati Kim Hye Ji. Gadis ini sungguh baik.

 

Tak banyak hal yang mereka bicarakan setelah itu. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga bus itu datang dan mengantar keduanya ke rumah masing-masing. Ada satu hal yang tidak Hye Ji ceritakan pada Soo Ya, mengenai pertemuannya yang tak sengaja dengan Cho Kyuhyun. Bukan ingin menyembunyikan rahasia dari sahabatnya, namun Hye Ji berpikir jika hal ini tidak penting untuk mereka bicarakan. Toh, itu hanya pertemuan biasa dimana Kyuhyun hanya berniat membantunya melupakan kejadian tadi. Tidak lebih. Sama seperti Kyuhyun, keduanya hanya menganggap perbincangan singkat hari ini hanya peristiwa kecil yang akan terlupakan saat mentari kembali muncul esok hari. Tanpa tahu hal apa yang telah direncanakan-Nya di masa depan.

 

Entah sadar atau tidak, sejak ia berpisah dengan Kyuhyun di bawah pohon, Hye Ji terus menggenggam sapu tangan yang Kyuhyun berikan padanya.

 

**Be Love You**

 

Hari-hari tetaplah sama, seharipun tak ada yang berbeda. Sebuah restoran di daerah Myungdong sudah menjadi tempatnya bekerja sejak 9 bulan terakhir ini. Cukup jauh dari rumahnya di daerah Apgujeong. Hye Ji cukup sibuk dari biasanya hari ini, karena restoran tempatnya bekerja sedang di pesan khusus untuk acara pesta ulang tahun salah seorang pengusaha di Seoul. Tamu yang hadir malam ini tidak bisa di bilang sedikit.

 

“Hye Ji, antarkan makanan ini ke meja di sudut kanan. Dan ini di depan panggung.”

 

“Ne algeseumnida.” Hye Ji bergerak cekatan mengantarkan makanan untuk meja yang disebutkan. Cukup lama ia bekerja disana membuat Hye Ji hafal dengan tata letak meja di restoran itu. Restoran ini tidak bisa dibilang kecil untuk ukuran restoran pada umumnya. Restoran 3 lantai yang menawarkan berbagia macam menu makanan dari 3 negara berbeda. Jepang, Korea, dan Italy membuat restoran ini selalu ramai dengan pangunjung. Hari dimana restoran ini sepi bisa dihitung dengan jari.

 

“Kim Hye Ji, cepat ambilkan minuman untuk meja utama.” Selesai mengantarkan makanan di dua meja. Hye Ji kembali mendapat intruksi baru dari salah satu pelayan senior disana. Tak ada jawaban lain selain menyanggupinya. Memang itu tugasnya.

 

“Hye Ji-ssi bawa ini..”

 

“Hye Ji, antarkan makana penutup ke meja..”

 

“Kim Hye Ji..”

 

“Hye Ji..” hingga acara itu selesai maka tidak ada waktu untuknya mengistirahatkan kakinya barang sebentar saja. Satu pekerjaan selesai, akan muncul pekerjaan baru hingga jarum jam menujukkan pukul 10 malam, satu per satu tamu mulai berkurang. Saat yang tepat untuk kakinya menikmati waktu santainya.

 

“Hye Ji-ssi,,” Oh tidak… bisakah ia mengumpat sekarang. Ia merasa diambang batas. Tungkainya benar-benar pegal dan butuh istirahat. “Buang kantung sampah itu ke tempat sampah di belakang. Setelah itu kau boleh pulang.”

 

“Nde.” Hye Ji mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa hari ini. Mengambil dua kantung sampah disana dan berjalan melalui pintu samping untuk mencapai tempat sampah di luar restoran. Menyelesaikan pekerjaan terakhirnya tanpa mengeluh.

 

Udara yang dingin tak mampu mencegah keringat yang meresap keluar dari pori-pori kulitnya. Hye Ji berjalan pelan memasuki restoran dengan sesekali mengusap peluh di pelipisnya. Berjalan menghampiri tas ranselnya dan bergerak masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakainnya. Tak berselang lama, Hye Ji keluar dari ruang ganti bersiap untuk pulang.

 

“Kim Hye Ji-ssi.” Oh tidak, jangan lagi. Hye Ji, gadis 18 tahun itu mengmbil nafas sejenak guna menetralkan mikik wajahnya sebelum berbalik menghadap atasannya.

 

“Kau ?” Pundaknya jatuh kebawah begitu mengetahui siapa yang memanggil namanya. Bukan atasannya, hanya orang asing baginya. “Restoran kami sudah tutup. Lalu kenapa kau masih ada disini ?. Dan tidak sembarang orang bisa masuk kesini.”

 

“Pertama..aku punya nama Nona Kim. Kang Jiwoon.”

 

“Aku tidak peduli dan aku tidak ingin tahu namamu. Maaf tapi aku harus segera pulang. Permisi.” Hye Ji berjalan menuju pintu keluar yang berada tepat di belakang Jiwoon, memaksanya untuk berpapasan dengan Jiwoon disana. Meskipun Jiwoon menunjukkan sikap sopan dalam berkenalan bahkan disertai senyuman di wajahnya, namun Hye Ji tetap memasang wajah tak bersahabatnya. Menurutnya Kang Jiwoon hanya pengganggu.

 

“Kim Hye Ji-ssi.. aku hanya ingin memberikan barangmu yang hilang.” Di saat kakinya mencapai langkah ke-5, Hye Ji terhenti tepat satu langkah di belakang Jiwoon. Posisi keduanya saling membelakangi.

 

“Tidakkah kau bertanya-tanya darimana aku tahu namamu disaat kita bahkan belum berkenalan.” Hye Ji baru sadar akan hal itu. Dahinya mengernyit heran sekaligus menyimpan tanda tanya besar di kepalanya. Benar juga. Jiwoon tersenyum melihat reaksi Hye Ji, ia berhasil menghentikan Kim Hye Ji.

 

Jiwoon mengalah, sadar bahwa Hye Ji tidak akan melangkah mundur. Maka dirinyalah yang akan maju hingga keduanya berhadapan seperti sekarang. “Apa kau menguntitku ?.” Pertanyaan itu muncul dari bibir ranum Kim Hye Ji. Sejauh ia memikirkan alasan yang logis perihal Jiwoon yang tahu namanya, hanya ‘Penguntit’ yang muncul dikepalanya.

 

Bukannya tersinggung atau merasa marah karena dirinya dituduh, Kang Jiwoon justru tertawa mendengar pikiran konyol dari Hye Ji. “Aku terlalu sibuk dengan tugas tengah semesterku Nona Kim. Untuk apa aku menguntitmu.” Hye Ji tertunduk malu. Kau terlalu percaya diri Kim Hye Ji. Batinnya.

 

“Bukankah ini milikmu ?” Hye Ji terbelalak melihat benda kecil bertuliskan namanya di atas telapak tangan Jiwoon. Tag namanya. Ia sadar tadi pagi saat dirinya hendak berangkat ke sekolah, benda itu tak lagi menempel di seragamnya. Ternyata namja ini pelakunya. Matanya mendelik marah menatap Jiwoon.

 

“Ternyata kau pencurinya. Kau mengambilnya saat aku memintamu untuk menjemur seragamku kemarin.”

 

“Nde ?” Jiwoon menunjukkan reaksi terkejut. Pasalnya bukan ini yang ia harapkan muncul dari mulut Hye Ji. “Kim Hye Ji-ssi chamkaman, kau salah paham. Aku-” tak ingin mendengar kalimat pembelaan muncul dari mulut Jiwoon, Hye Ji menyambar tag namanya secepat kilat.

 

“Tadinya aku pikir kau orang yang baik dan sopan. Aku bahkan berpikir untuk tidak lagi menggunakan bahasa banmal karena kau lebih tua dariku. Tapi aku salah.” Tidak ada bentakan atau nada tinggi, Hye Ji hanya mengutarakan apa yang ia pikirkan. Sebelum akhirnya diirnya berlalu pergi meninggalkan Jiwoon yang mematung disana. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami.

 

Mata sipitnya mengikuti arah Hye Ji pergi dan berakhir pada pintu di belakangnya. Senyum itu kembali terbit di wajah putihnya.”Gadis yang menarik.” Ungkapnya.

 

**Be Love You**

 

Lee Chang Suk, namja dengan rambut coklat itu berlarian di lorong sekolah membawa tiga es krim coklat di tangannya. Sesekali melirik jam digital yang melingkar di lengan kirinya. Dan seketika menambah kecepatan kakinya, mengabaikan tatapan aneh dan sebal dari murid lain yang merasa terganggu karenanya. Dari lorong hingga kini di taman, Chang Suk terus berlari tanpa niatan untuk berhenti meski nafasnya mulai tersengal. Disana ia bisa melihat dua yeoja yang menjadi pemberhentiannya.

 

“3 menit lebih 10 detik. Kau gagal Lee Chang Suk.” Seru Soo Ya begitu Chang Suk sampai di depan mereka. Disampingnya Hye Ji hanya bisa tertawa melihat wajah konyol sahabatnya itu. “Berikan es krim ku.”

 

“Yakk !!! bagaimana bisa aku pergi ke sana dan kembali kesini tepat 3 menit. Kau tahu sekolah ini bukan sekolah kecil. Terlebih ini jam istirahat, kantin begitu ramai sampai aku harus mengantri untuk mendapatkan 3 es krim. Neo molla ?” Chang Suk menyerukan protesnya. Mustahil ia pikir untuk memenuhi permintaan konyol dari sepupunya itu. Han Soo Ya, kau membuatku terlihat lemah di depan Hye Ji.

 

“Kau tahu itu mustahil tapi kau tetap melakukannya. Aku tidak menerima protesmu.” Soo Ya menyambar dua es krim dari tangan Chang Suk.

 

“Yakk !!! aku membeli satu untuk Hye Ji.”

 

“Na arra.” Soo Ya memberikan satu es krim coklat untuk Hye Ji, mengabaikan ekspresi satu-satunya namja disana yang mengambil posisi di samping Soo Ya dengan tampang lesu. “Lain kali lakukan hal yang luar biasa untuk menarik perhatiannya.” Bisik Soo Ya pada Chang Suk. Sepelan mungkin, takut jika manusia lain di sampingnya mendengar apa yang ia katakan.

 

Ketiganya menikmati es krim dengan santai. Sesekali Chang Suk melirik Hye Ji yang nampak asik dengan es krimnya. Dalam hati ia bersyukur Hye Ji menyukainya –es krim coklat-. Meskipun usahanya untuk terlihat hebat di depan Hye Ji gagal karena ulah sepupunya yang kelewat menyebalkan itu, namun ia bersyukur masih bisa melihat senyum dari cinta pertamanya.

 

Cinta Pertama ?

 

Lee Chang Suk menyimpan rahasia besar mengenai perasaannya pada Hye Ji sejak pertama kali mereka bertemu. Love at first sight, semacam itulah. Meskipun ia sering bertengkar dengan Soo Ya, namun jauh di dalam hatinya ia sangat berterima kasih karena 2 tahun lalu saat Han Soo Ya mengenalkannya dengan Kim Hye Ji.

 

Kim Hye Ji, nama itu telah terpatri sejak lama di dalam ruang hatinya. Ia akui bahwa tak ada hal menarik dalam diri Hye Ji seperti yeoja lainnya yang tak pernah lepas dari make up mereka. Hye Ji adalah gadis sederhana dengan senyum tulusnya yang mampu menarik seluruh perhatian dan dunia Chang Suk untuk terfokus padanya. 2 tahun ia menyembunyikan perasaanya yang sesungguhnya pada Hye Ji, dan 2 tahun pula ia menjadi sahabat Hye Ji. Ia belum cukup berani untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Hye Ji, ia ingin menanti moment yang tepat untuk mengungkap semuanya. Hingga di akhir tahun saat mereka masih duduk di bangku kelas 10, Han Soo Ya menyadari perasaan itu. Tak ada cara lain selain menceritakan semuanya pada sepupunya itu. Diluar pemikirannya bahwa Soo Ya justru membantunya untuk mendapatkan hati Hye Ji. Chang Suk semakin percaya diri setelah itu.

 

Meskipun kini ada orang lain selain dirinya yang tahu tentang perasaan ini, namun Chang Suk tetap berusaha dengan caranya sendiri untuk mendapatkan cintanya. Chang Suk juga telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan memaksakan perasaan Hye Ji terhadapnya jika suatu hari nanti Chang Suk mengungkapkan perasaanya. Semuanya sudah ia pikirkan dengan matang. Termasuk melindungi Hye Ji tanpa sepengetahuan gadis itu tentunya. Pernah saat itu, Hye Ji diganggu oleh beberapa orang yang sedang mabuk saat Hye Ji pulang dari pekerjaannya di salah satu toko buku tak jauh dari sekolahnya. Hye Ji berhasil melarikan diri saat itu, dan tak lama setelah itu Chang Suk menghampiri 2 orang yang tadi mengganggu Hye Ji dan bertarung melawan mereka hingga dirinya absen selama 3 hari karena luka memar di wajahnya. Tentu saja Soo Ya tahu akan hal itu dan ingin mengatakan segalanya pada Hye Ji, namun Chang Suk berhasil menghentikan niatnya itu.

 

‘Jika kau mengatakan semuanya pada Hye Ji sekarang, maka semua pengorbananku akan sia-sia.’ Kalimat itu berhasil megngurungkan niat Soo Ya. Alhasil mereka menyimpan rahasia itu hingga sekarang, mungkin akan seperti ini seterusnya.

 

“Ahh matta. Aku harus menemui Song seongsaenim. Aku lupa dengan pesannya.” Soo Ya berdiri dari duduknya, membuat dua orang di sampingnya mengalihkan pandang mereka pada Soo Ya. “Sepertinya aku harus pergi sekarang. Kita bertemu lagi nanti pulang sekolah.” Tanpa menanti jawaban dari Hye Ji dan Chang Suk, dirinya melesat pergi dengan es krim yang bahkan masih belum ia habiskan.

 

“Ada apa dengannya ?.” pertanyaan itu muncul dari mulut Chang Suk. Merasa aneh dengan tingkah Soo Ya yang tiba-tiba. Sepupunya itu punya daya ingat yang tajam, maka wajar jika ia merasa aneh akan hal ini.

 

“Akhir-akhir ini Song seongsaenim memberikan banyak tugas pada Soo Ya karena tempo hari Soo Ya berbuat kesalahan yang tak disengaja.” Chang Suk mangut-mangut mengerti dan tak ingin tahu lebih jauh.

 

“Kasihan sekali sepupuku itu harus berurusan dengan guru killer di sekolah ini.” Ujar Chang Suk tak benar-benar kasihan sebenarnya. Justru maksudnya mengejek.

 

“Chang Suk-ah, bagaimana jika nanti sore kita ajak Soo Ya keluar. Kurasa dia butuh semacam refresing.”

 

“Baiklah, aku akan menjemputmu nanti sore.” Tidak perlu waktu lama untuk memenuhi permintaan Hye Ji. Baginya itu hal termudah, toh juga meguntungkan untuknya karena bisa bersama dengan Hye Ji lebih lama. Selain pertemuan mereka di sekolah. “Tapi, apa kau tidak bekerja hari ini ?”

 

“Ani, aku libur hari ini. Seperti halnya Soo Ya, aku juga butuh istirahat dan bersenang-senang dengan sahabatku.” Hye Ji mengakhiri kalimatnya dengan senyum manis di wajahnya. Lagi-lagi senyuman itu mampu menjungkir balikkan dunia Chang Suk. Untuk kesekian kalinya Lee Chang Suk terpesona pada Kim Hye Ji. Oh… rasanya perasaan ini kian dalam.

 

***

 

Seperti hari biasanya, Kyuhyun harus mengabaikan kebisingan yang diakibatkan olehnya sendiri. Dirinya bukanlah orang yang mengumbar senyum manis untuk menanggapi ocehan mereka semua yang mengaguminya. Wajah dan ekspresinya sudah sedingin es di musim salju, namun tak urung membuat murid wanita di Haneul School berhenti mengaguminya.

 

“Waaaahhh. Kau bahkan bukan idola tapi penggemarmu semakin bertambah Kyu.” Suara itu keluar dari mulut tipis Hyukjae.

 

“Diamlah Lee Hyukjae. Aku sedang tidak ingin menanggapi mereka.”

 

“Ck.. Tidak ingin ?. Kau bahkan tak pernah menanggapi mereka sebelumnya. Garis bawahi itu, T-I-D-A-K P-E-R-N-A-H.” Kyuhyun hanya tertawa sinis mendengar ungkapan Hyukjae.

 

“Untuk apa aku menanggapi mereka. Cukup dengan sikap mereka yang membuatku malas, jangan sampai mereka membuatku muak dengan bersikap lebih dari ini.”

 

“Lihatlah caramu bicara sekarang. Mereka akan sakit hati dan berpaling darimu jika mendengar ucapanmu barusan.”

 

“Siapa yang peduli. Mungkin itu lebih baik.” Kyuhyun melenggang pergi meninggalkan Hyukjae yang sibuk tebar pesona di depan pengagum Kyuhyun. Siapa yang dikagumi, siapa pula yang menanggapi. Dasar Lee Hyukjae.

 

Kyuhyun dengan wajah dinginnya yang tak tersentuh bahkan oleh terik matahari di atas sana melangkahkan kakinya dengan kedua tangannya tersembunyi di balik saku celananya, menyusuri lorong sekolah di sayap kiri gedung Haneul. Mengabaikan teriakan Hyukjae yang memintanya berhenti untuk menunggunya yang sibuk menyapa para gadis dibelakang sana. Jangan harap.

 

“Cho Kyuhyun.”

 

“Wae ?” Langkah santainya dengan paksa terhenti, menanggapi dengan malas panggilan Hyukjae. Jika saja ia tak ingat bahwa Hyukjae adalah teman baiknya, mungkin sudah sejak tadi ia mematahkan mulut cerewetnya itu agar tidak selalu berisik di kelilingnya. Sayangnya takdir baik sedang menyertainya. Keduanya terhenti tepat di samping lapangan basket dimana sekelompok murid namja senior tengah bermain disana.

 

“Kenapa kau mengabaikan panggilanku eoh ?” Bola matanya berputar malas. “Kau tahu, aku baru saja mendapatkan salah satu kontak penggemarmu. Dia senior kita. Lihatlah wajahnya, cantik bukan ?” Hyukjae mengarahkan ponsel pintarnya ke depan wajah Kyuhyun, agar namja tinggi itu bisa melihat foto seorang yeoja yang baru saja Hyukjae kenal.

 

“Aku punya banyak hal yang perlu ku katakan pada Jieun.” Kyuhyun dengan wajah santainya mengatakan nama yeoja yang sudah 2 tahun menjalin hubungan asmara dengan Hyukjae. “Mungkin dia akan melakukan sedikit perubahan kecil di wajahmu yang akan membuatmu tidak masuk sekolah selama 3 hari. Atau..” Kyuhyun melirik wajah tegang Hyukjae yang terpojok disana. “Mungkin kau akan tinggal nama.” Smirk khas seorang Cho Kyuhyun muncul di akhir kalimatnya.

 

“Yakk !!! Jangan menggunakan Jieun untuk menggertakku eoh. Dia tidak akan setega itu.” Meskipun mengatakannya dengan lantang, namun Hyukjae tidak sepenuhnya yakin. Song Jieun memang berwajah lembut namun wajahnya akan berubah ganas jika ia tengah terbakar api cemburu.

 

“Geurae. Aku akan menghubunginya sekarang.” Kyuhyun mengeluarkan ponselnya bersiap menelpon Jieun yang berada di Busan. Belum sempat ponsel itu sampai di telinganya, Hyukjae dengan cepat merebut ponsel Kyuhyun dan menekan dial cancel untuk mengakhiri panggilannya.

 

“Neo michesseo ?. Aku bisa mati karenanya.”

 

“Baguslah kau sadar. Berikan ponselku.”

 

“Shireo, aku tidak akan memberikannya sebelum kau berjanji untuk tidak menceritakan apapun pada Jieun.”

 

“Arra.. arra. Cepat berikan ponselku.” Dengan cemas Hyukjae memberikan ponsel itu kembali ke empunya. Keduanya bersiap melangkah kembali menuju kelas mereka hingga niatannya terhenti oleh sebuah bola yang menghantam punggung Kyuhyun.

 

“Hei kau..” Baik Kyuhyun maupun Hyukjae menolehkan kepalanya kearah lapangan basket. Seorang namja tengah melambaikan tangannya meminta Kyuhyun dan Hyukjae untuk membawa bola itu kesana.

 

“Biar aku yang membawanya kesana. Kau pergilah dulu.” Hyukjae menawarkan diri, karena ia tahu akan timbul masalah jika Kyuhyun yang datang kesana. Diluar perkiraannya, Kyuhyun justu mendahuluinya untuk mengambil bola basket itu dan berjalan melewatinya menuju lapangan basket. “Cho Kyuhyun tunggu aku.”

 

“Kau.. kemarikan bolanya.” Pinta salah satu namja yang melambaikan tangannya pada Kyuhyun dan Hyukjae beberapa saat lalu. Kyuhyun dengan wajah datarnya menggelindingkan bola itu ke arah si namja. Tanpa berterima kasih atau sekedar minta maaf, namja itu melanjutkan permainan dengan masih adanya Kyuhyun disana.

 

“Kau…” Suara Kyuhyun berhasil menghentikan namja tadi. Telunjuknya terangkat tepat dihadapan si namja. Namja dengan tinggi yang hampir sama dengan Kyuhyun itu membuang nafas kasar melihat tingkah Kyuhyun padanya. Menunjuk seseorang dengan jari telunjuk mereka pertanda perang bagi kedua namja itu. “Lupakan. Lain kali gunakan otakmu untuk berpikir.” Bermaksud mengingatkan pada si namja untuk minta maaf saat melakukan kesalahan. Namun sepertinya namja di seberang sana tak mengerti maksud ucapan Kyuhyun, justru terpancing emosi dengan setiap kata yang ia dengar.

 

“Mwo ?.” melihat Kyuhyun yang masa bodoh dengan reaksi lawan bicaranya membuat namja itu kian tersulut emosi. “Berhenti disana.” Namja itu berjalan dengan tampang tak bersahabatnya mendekati Kyuhyun. “Kalahkan aku, maka dengan hormat aku akan mengakui semua ucapanmu barusan.”

 

Kyuhyun terdiam dengan wajah dinginnya, menunjukkan raut wajah malas meladeni orang semacam namja ini. Namun harga dirinya setinggi langit untuk menolak tantangan itu. “Kyuhyun pergilah selagi mereka masih bersahabat.”

 

“Mereka sudah tidak bersahabat Lee Hyukjae.”

 

“Pergilah, mustahil kau bisa mengalahkannya. Dia Lee Jong Suk, kapten basket di Haneul. Kemampuannya diatasmu asal kau tahu itu.”

 

“Baiklah.” Kyuhyun melangkah maju mendekati Lee Jong Suk, sementara Hyukjae terperangah di belakang sana. Kau akan kehilangan harga diri yang begitu kau junjung itu Cho Kyuhyun. Batin Hyukjae berteriak.

 

Mata keduanya saling menatap, memberi signal peperangan yang akan dimulai sebentar lagi. Melihat namja dingin setampan Cho Kyuhyun berhadapan dengan kapten basket menarik perhatian murid lain yang menyaksikan perseteruan mereka untuk lebih mendekat lagi ke pinggiran lapangan basket. Berbeda dengan Hyukjae yang setengah mati mencemaskan Kyuhyun, seluruh yeoja yang mendeklarasaikan diri mereka sebagai penggemar setia dari Kyuhyun maupun Jong Suk terus berteriak bahkan sebelum pertandingan dimulai.

 

“Ingin bertaruh ?” Jong Suk mengajukan tawaran menarik yang membuat permainan ini semakin memanas.

 

“Apapun itu.” jawaban Kyuhyun yang mengartikan bahwa ia akan menerima setiap taruhan yang Jong Suk ajukan nantinya. Tentu saja jika Jong Suk berhasil mengalahkannya.

 

Permainan dimulai sesaat setelah terdengar bunyi tiupan peluit. Bola melambung tinggi keatas, baik Kyuhyun maupun Jong Suk mengambil ancang-ancang untuk menggapai bola tersebut. Namun sayang, Kyuhyun harus menelan kekecewaan karena kalah start oleh Jong Suk. Secepat kilat Lee Jong Suk mendribble bola mendekati ring Kyuhyun. Shoot, satu poin berhasil ia cetak dengan sekali tembakan. Tak berselang lama, Kyuhyun berhasil mencetak angka untuk dirinya. Tak peduli siapapun yang berhasil mencetak angka, teriakan nama keduanya akan selalu terdengar.

 

Hingga mencapai menit akhir, peluh mulai bercucuran di pelipis Kyuhyun. Nafasnya tersengal kelelahan, lama tak menyentuh bola basket membuatnya kualahan menghadapi Jong Suk. Seperti yang Hyukjae katakan sebeluamnya. Cho Kyuhyun sanksi akan harga dirinya jika menyerah begitu saja. Di menit-menit terakhir, skor keduanya seimbang. Jong Suk terlihat menguasai boal, posisi ini jelas merugikan Kyuhyun jika Jong Suk berhasil menembus ringnya lagi.

 

“Kau masih ingat tentang taruhannya Cho Kyuhyun.” Kyuhyun tak menanggapi ucapan Jong Suk, matanya terfokus pada bola yang berada di tangan Jong Suk saat ini. Aku tidak bisa kalah begitu saja. Satu serangan dari Kyuhyun, membuat Jong Suk dengan cepat mengambil tindakan. Melempar bola itu kearah ring Kyuhyun. Suara peluit kembali terdengar bersamaan dengan bola basket yang menembus ring di depan sana. Kyuhyun kalah atas Jong Suk. Hal yang teramat sangat ia benci dalam hidup. Kekalahan.

 

Hyukjae menghampiri Kyuhyun yang masih tetap pada posisi akhirnya. Berhadapan dengan Jong Suk. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Jong Suk menyadari itu.  “Mwo ? Kau marah atas kekalahanmu ?” Hatinya terbakar, harga dirinya dirasa terinjak-injak oleh Jong Suk yang tertawa lepas di depan sana. Ingin rasanya ia melayangkan tinjunya hingga bibir itu tak mampu lagi mengumbar senyum dan tertawa, namun Hyukjae menahannya. “Kau tidak lupa satu hal bukan ?”

 

“Cepat katakan apa taruhannya ?” Hyukjae terkejut mendengar ucapan Kyuhyun. Taruhan ? taruhan apa ?. Batinnya.

 

Lee Jong Suk mengedarkan matanya mencari keberadaan bola basket yang mereka gunakan untuk bertanding tadi. Bola itu menggelinding keluar lapangan. Ketemu. “Kau lihat bola itu ?” Kyuhyun dan Hyukjae sama-sama mengikuti arah telunjuk Jong Suk yang menunjuk bola di bawah pohon tak jauh dari lapangan basket. “Siapapun yang mengambil bola itu entah wanita atau pria, kau harus berhasil mengajaknya ke pesta akhir semester awal bulan depan.”

 

“Itu mudah.” Tak ingin menunjukkan keberatan hatinya, Kyuhyun justru mengatakan bahwa taruhan mudah untuk ia lakukan. Hanya dengan sedikit mengeluarkan uang maka semuanya akan beres.

 

“Aku lupa satu hal. Kau juga harus menciumnya di tengah pesta. Uhhh.. itu akan menjadi pertunjukkan yang menarik.” Jong Suk menertawakan Kyuhyun yang semakin memanas disana. Semarah apapun dirinya sekarang, Kyuhyun tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengar tawa Jong Suk yang memuakkan baginya. Matanya terus terfokus pada bola disana.

 

“Kau takut Cho Kyuhyun ?” Mata elangnya melempar tatapan maut kearah Jong Suk. Susah payah ia menahan gejolak emosi dalam dirinya untuk tidak menyerang Jong Suk di depan sana. Namun kesabarannya mulai terkikis setiap mendengar kata per kata yang Jong Suk ucapkan. “Kau bisa mundur dari taruhan ini dan sebagai gantinya kau menjadi pelayanku sampai satu bulan ke depan. Adil bukan ?”

 

“Tutup mulutmu Lee Jong Suk.” Cukup. Habis sudah kesabarannya. Kyuhyun mengabaikan nasehat Hyukjae yang tak henti-hentinya Hyukjae bisikan untuknya. Dengan langkah lebar Kyuhyun bergerak mendekati Jong Suk. Menarik kerah leher Jong Suk hingga tubuhnya sedikit terangkat keatas. “Tutup mulut brengsekmu itu Lee Jong Suk.”

 

“Wae ?. Kau ingin memukulku ?.”

 

“Cho Kyuhyun keumanhae. Kau hanya akan memperkeruh keadaan.” Hyukjae berusaha menahan Kyuhyun agar tidak melayangkan tinjunya ke wajah mulus Jong Suk. Besar urusannya jika sampai Kyuhyun kehilangan kendali.

 

“Lepaskan aku Lee Hyukjae.” Kyuhyun menyentak pegangan Hyukjae yang menahan tangannya. Bersiap membuat wajah di hadapannya ini babak belur dengan tinjunya.

 

“Jong Suk-ah, yeoja itu mengambil bolanya.” Semua pergerakan disana terhenti. Terlebih lagi Jong Suk dan Kyuhyun yang langsung menoleh.

 

“Kau cukup beruntung Cho Kyuhyun. Sayangnya bukan kau yang akan menjadi pelayan. Tapi yeoja itu.” Kepalan tangannya di kerah baju Jong Suk mengendur bahkan terlepas. Matanya tak pernah lepas dari sosok yeoja dengan bola ditangannya. Tak lama setelah itu, seorang namja ikut menghampiri yeoja itu. Keduanya nampak berbincang sejenak sebelum yeoja itu menoleh kearahnya.

 

Kim Hye Ji. Kenapa harus yeoja itu.

 

Dilihatnya Hye Ji berjalan kearahnya dengan bola basket ditangannya. Kyuhyun mematung ditempatnya. Matanya tak lepas dari Kim Hye Ji yang semakin dekat dengannya. “Cho Kyuhyun-ssi, sepertinya ini bolamu.” Suara lembutnya menyapa daun telinga Kyuhyun. Membuat satu hal dalam dirinya mengernyit sakit.

 

Tak mendapat jawaban dari Kyuhyun, Hye Ji meletakkan bola itu dia atas tanah. “Kebetulan kita bertemu disini. Aku ingin mengembalikan barangmu.” Hye Ji mengeluarkan sapu tangan yang Kyuhyun pinjamkan padanya tempo hari. “Aku sudah mencucinya. Terima kasih untuk tempo hari. Kau sangat membantu.” Kyuhyun hanya bisa menatap dalam wajah Hye Ji yang tersenyum tulus untuknya. Mulutnya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab ucapan Hye Ji. “Kalau begitu aku pergi. Senang bertemu denganmu Kyuhyun-ssi.” Hye Ji mengakhiri pertemuan siangkatnya dengan Kyuhyun siang itu dengan senyum manis di wajahnya.

 

“Apa yang sudah kulakukan ?.” Ucapnya bebarengan dengan kepergian Hye Ji yang berjalan menjauh darinya. Menatap punggung itu menjauh membuat perasaan bersalah kian hinggap di dalam hatiny.

 

Hentikan semua ini Cho Kyuhyun. Kau tidak bisa melukai perasaan yeoja itu. Sisi baiknya berucap.

 

Pikirkan harga dirimu Cho Kyuhyun. Jika kau mundur maka mereka semua akan memandang rendah dirimu. Namun sisi buruknya lebih dominan menguasai otaknya. Kyuhyun menyerah akan sisi baiknya dan menuruti sisi buruknya. Ia akan melanjutkan taruhan ini.

 

Sekali lagi, Kyuhyun menatap kepergian Hye Ji bersama seorang pria yang tak ia kenal. Mengesampingkan kata hatinya dan melakukan apa yang Lee Jong Suk katakan. Hanya satu bulan. Dan semuanya akan berakhir. Ia hanya harus bertahan hingga pesta itu berakhir, dan dia akan mengatakan semuanya pada gadis itu. Itulah keputusan final yang ia ambil.

 

Permainan kecil yang menuntunya pada keputusan besar diakhir permaian, membawanya pada kisah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Cho Kyuhyun semakin dekat dengan takdir hidup yang sesungguhnya. Akan terasa menyakitkan di awal, banyak rintangan yang menantinya di depan. Tak ada jalan lain untuk menghindar, hanya ada satu jalan lurus kedepan hingga ia menemukan pintu yang akan membawanya ke cinta yang sesungguhnya.

 

 

To Be Continue…

Andalan
Diposkan pada chapter, Hurt, married life, Romance, SAD, Tak Berkategori

Don’t Forget Me Part 13

DON’T FORGET ME (Part 13)

 dont forget me gambar utama 3 

Title      : Don’t Forget Me

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Song Hyera/Kim Hara
  • Cho Jae Hyun

Other Cast :

  • Lee Hyukjae
  • Choi Eun Byul
  • Lee Donghae
  • Jessica Jung
  • Park Jung Soo

 

Category : Hurt, Married Life, Chapter.

 

************ Happy Reading ************

 

Awal musim semi menjadi awal sandiwaranya. Sungguh bukan musim yang pas untuk mengibaratkna kepergiannya. Musim gugur terdengar lebih pantas. Kaki jenjangnya membawa si pemilik mendekati sebuah pintu berpelitur putih gading dengan arsitektur yang megah seperti bangunan Yunani Kuno. Kediaman keluarga besar Cho di malam hari terlihat sangat indah seperti istana dengan lampu-lampu besar dan kecil yang menghiasinya. Hyera mengangkat tangannya hendak menekan bel pintu, sekali ia tekan pintu itu sudah terbuka. Tentu saja, di belakang pintu akan selalu ada maid yang berjaga jika ada tamu yang datang. Seperti inilah kehidupan keluarga terpandang itu.

 

“Oh Ra-ya.” Ahra yang tengah bermain dengan Jae Hyun sontak berjalan menghampiri adik iparnya dengan menyertakan Jae Hyun di gendongannya.

 

“Annyeong eonni. Apa Jae Hyun merepotkan eonni dan eommonim ?. Aku selalu merasa tidak enak jika harus meninggalkan Jae Hyun disini.”

 

“Kau ini bicara apa eoh. Aku dan eomma justru sangat senang jika Jae Hyun disini. Keponakanku ini sungguh pintar, dia tidak rewel sama sekali Ra-ya. Kalian mendidiknya dengan baik.” Hyera tersenyum manis menanggapi pujian Ahra. Tangannya terulur menggendong Jae Hyun. 2 hari Jae Hyun tinggal di kediaman Cho bersama dengan Ahra dan Cho Hana. Sedangkan Kyuhyun dan Hyera sudah kembali ke rumah mereka sendiri sejak Ahra dan Hana kembali ke Korea 3 hari yang lalu.

 

“Eommonim eoddiga ?” Hyera yang tidak menemukan ibu mertuanya sejak ia masuk ke dalam akhirnya mempertanyakan keberadaan Hana.

 

“Eomma sedang keluar untuk berbelanja keperluan rumah. Kau kesini sendirian ?”

 

“Nde eonni, oppa masih berada di Jeju.” Ahra sibuk ber’O’ria. Langkah mereka membawa keduanya menuju ruang tengah dimana banyak mainan Jae Hyun berserakan. Mobil-mobilan dengan berbagai jenis, robot dengan ukuran mulai dari kecil hingga besar dan masih banyak lagi. Putranya ini memang begitu dimanjakan oleh keluarga suaminya. Mengingat Jae Hyun adalah cucu pertama keluarga Cho dari anak termuda mereka, Cho Kyuhyun. Yang kelak akan menjadi pewaris dari Cho Corp.

 

“Kau sudah makan siang ?” Hyera menjawabnya dengan gelengan dan senyum keibuan diwajahnya. “Makanlah dulu, eomma sudah memasak sesuatu sebelum pergi tadi. Biar Jae Hyun aku yang mengawasi.” Tanpa menolak Hyera beranjak dari duduknya melangkah menuju dapur yang terletak di sebelah kanan ruang tengah. Tepatnya di balik tangga menuju lantai 2.

baek su min-91d

Dress lengan panjang warna putih membalut tubuh rampingnya dengan begitu pas. Menunjukkan bentuk lekuk tubuh Hyera yang masih terbilang sempurna untuk seorang ibu yang sudah pernah melahirkan tanpa operasi. Tubuhnya yang kecil dan ramping bahkan sering mengelabuhi mata orang asing di luaran sana yang akan beranggapan jika Hyera masih berstatus lajang. Kyuhyun terkadang merajuk karena tatapan penuh damba dari namja diluaran sana tatkala melihat Hyera dengan stelan gaun, bahkan Kyuhyun sempat berpikiran untuk membuang seluruh koleksi gaun Hyera saking cemburunya.

 

Hyera tersenyum geli mengingat ekspresi dan raut wajah Kyuhyun ketika merajuk padanya. Bibirnya yang tebal itu dibiarkan mengerucut dengan pipi nya menggembung. Seperti anak kecil saja. Pikir Hyera. Terkadang di waktu senggang, Kyuhyun selalu beradu pipi tembamnya dengan pipi temban putra mereka. Jae Hyun memang mewarisi pipi tembam Kyuhyun.

 

Untuk sesaat Hyera mampu melupakan penyakitnya, melihat Jae Hyun tertawa membuat bebannya sedikit berkurang. Ya, sejak waktu hidupnya di diagnosa hanya beberapa bulan ke depan, Hyera merasakan beban berat di pundaknya. Membohongi Kyuhyun, menyembunyikan semua ini dari keluarga dekatnya. Waktu yang ia lewati, Hyera gunakan untuk merekam senyum dari mereka semua, orang yang ia sayangi melebihi dirinya sendiri. Menjadikannya sebagai kenangan indah dan berharga dalam hidupnya.

 

TESS !!!

 

Gerakan tangannya terhenti saat hendak mengambil sebotol air minum di dalam lemari pendingin. Hyera merasakan cairan mengalir melewati lubang hidungnya dan menodai gaun putihnya. Darah. Hyera mendongakkan kepalanya menghalau laju darah tersebut agar tidak mengalir keluar. Tangannya beralih mengambil beberapa lembar tissue yang ada di atas counter dapur. Mengelap darah yang lolos dan menyumbat hidungnya dengan tissue. Tubuhnya bergegas masuk ke dalam kamar mandi utama untuk membersihkan noda darah di gaunnya yang kontras dengan warna darah yang merah pekat.

 

“Harusnya aku tidak memakai gaun dengan warna cerah. Ahra eonni akan curiga jika tahu nanti.” Beruntung warna merahnya tidak begitu terlihat sekarang. Hyera beralih membasuh wajahnya terutama di bagian hidung yang tercetak noda darah kering di sana.

 

Memikirkan semua ini membuat matanya memanas. Hyera sendiri sebenarnya tidak bisa percaya bahwa waktunya hanya tinggal menghitung bulan atau mungkin hari. Ia tidak mau mempercayai semua itu. Masih banyak impian hidupnya yang belum ia capai. Melihat Kyuhyun di masa tua-nya, melihat Jae Hyun menikah dan menimang cucunya kelak. Namun tak disangka jika Tuhan membuat takdir yang kelam untuknya.

 

Setetes demi setetes air mata jatuh mulus dari pelupuk matanya. Mengalir seperti air terjun dengan aliran air yang tenang. Lagi-lagi ia merasa bahwa Tuhan tak adil terhadapnya. Apa yang salah terhadapnya ?. Kenapa takdirnya begitu menyedihkan ?. Kenapa tak Kau ambil saja nyawaku saat Kyuhyun tak mengingatku ?. Batinnya terus menjeritkan pertanyaan yang sama. Takdir ini terasa amat kejam untuknya.

 

Darah kembali mengalir dari lubang hidungnya, beberapa bercampur dengan air mata yang tak sengaja membasahi pucuk hidungnya yang mancung. Hyera kembali menangis dalam diam, sekuat tenaga ia menahan suara isakannya. Takut-takut jika Ahra ataupun maid di rumah ini memergokinya menangis –tanpa sebab-.

 

“Apa yang harus aku lakukan ?. Tidak adakah harapan hidup untukku ?. Ya Tuhan.” Tubuhnya luruh merasakan dinginnya lantai kamar mandi di siang hari. Kakinya serasa tak mampu lagi menopang beban hidup yang ia jalani sendiri. “Oppa, aku tidak ingin berpisah denganmu. Apa yang harus aku lakukan Cho Kyuhyun. Cepatlah pulang, aku sangat ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu dan Jae Hyun.” Semakin ia memikirkan bahwa waktunya kian mnyempit, maka semakin banyak pula air mata yang keluar membasahi wajah pucatnya.

 

Tak ingin berlama-lama larut dalam keterpurukkan hidupnya, Hyera bergegas membasuh wajahnya. Menyembunyikan jejak air mata yang tercetak disana, membersihkan noda darah di dress nya dan di jejak darah kering di hidungnya.

 

“Ra-ya kau di dalam ?” Suara panggilan Ahra berhasil menyentak tubuhnya.

 

“N-nde eonni.”

 

“Kau sudah makan ?”

 

“Aku sudah mencicipinya eonni.”

 

“Neo gwenchana ?. Suaramu serak. Apa kau menangis ?” Hyera panik mendengar pertanyaan Ahra.

 

“Anio eonni. Aku hanya sedang flu.”

 

“Keluarlah. Eomma sudah pulang.” Hyera bergegas membereskan semuanya. Menteralkan suaranya kembali dan berjalan kearah pintu. “Benarkah kau tidak habis menangis ?. Matamu memerah. Waeyo ?” pertanyaan Ahra berhasil membuat otaknya berputar mencari alasan yang masuk di akal.

 

“Anio eonni. Mataku terkena saus jadi aku membasuhnya di kamar mandi. Eommonim oddiga ?” Hyera berusaha mengalihkan topik perhatian Ahra. Ia cukup tahu jika Cho Ahra akan terus mengajukan pertanyaan sampai rasa penasarannya itu terjawab.

 

“Eomma ada di ruang tengah bersama dengan Jae Hyun. Kajja.” Hyera berjalan beriringan dengan Ahra menuju ruang tengah. Terlihat Cho Hana yang tengah bercanda ria dengan cucu semata wayangnya. Keduanya nampak asik bermain sepasang robot Transformers.

 

“Annyeonghaseyo eommonim.” Hana tersenyum keibuan tatkala pandangannya menatap tubuh ramping menantunya. Keduanya saling bertukar senyum manis. Ahra memilih langsung bergabung dengan Jae Hyun membiarkan ibu dan adik iparnya itu sibuk dengan percakapan mereka sendiri. Jae Hyun lebih menggemaskan dan begitu menarik perhatiannya. Keponakannya ini sangat lucu.

 

“Bagaimana kabarmu nak ?. Kau semakin kurus dari terakhir kali kita bertemu. Apa kepergian Kyuhyun begitu berdampak padamu eoh ?” Hyera tersenyum cerah dan sesekali tertawa kecil mendengar lelucon yang ibu mertuanya ucapkan.

 

“Aniyo eommonim. Aku memang tidak begitu nafsu makan akhir-akhir ini. Oppa juga sering sekali memarahiku karena aku yang sulit makan.”

 

“Uri Kyuhyun memarahimu ?. Apa anak nakal itu berlaku kasar padamu Ra-ya ?”

 

“Aniya eommonim. Oppa sangat baik terhadapku. Oppa begitu menyayangiku, karena itulah ia sangat marah saat aku tidak menyentuh sedikitpun makananku.” Hana mengusap lembut surai Hyera yang bergelombang di bagian bawahnya.

 

“Aku sangat bersyukur kau menjadi pendamping hidup Kyuhyun, Ra-ya. Kau begitu sederhana dan tidak banyak menuntut terhadapnya. Aku percaya kau mampu membahagiakan uri Kyuhyun. Gomawo Hyera.” Hyera menggegam tangan Hana yang bertengger di atas rambutnya. Membawa tangan itu ke pangkuannya.

 

“Eommonim, aku bahkan jauh lebih bersyukur karena Kyuhyun oppa mau memilihku. Aku akan selalu berusaha dan terus berusaha untuk membuatnya bahagia bersamaku. Eommonim tidak perlu khawatir. Aku begitu mencintainya melebihi diriku sendiri.” Hana terharu mendengar penuturan tulus Hyera. Hatinya tersentuh merasakan ketulusan dan besarnya cinta kedua anak-nya ini. Hana menarik tubuh Hyera ke dalam pelukannya.

 

“Percayalah bahwa Kyuhyun begitu mencintaimu Ra-ya.” Hyera mengangguk pasti di pundak Hana. Matanya terlihat berkaca-kaca. Ingatannya kembali mengingat akan waktu hidupnya.

 

“Eommonim mianhae, jika suatu hari aku mengecewakan kalian semua. Tapi percayalah jika semuanya kulakukan demi kebaikan bersama.” Belum sadar dengan maksud ucapan Hyera, Hana yang telah larut ke dalam suasana melow itu hanya mengangguk dengan posisi yang masih berpelukan. Terlepas dari perhatian Ahra dan Hana, Hyera kembali meneteskan air matanya.

 

***Don’t Forgseoul-taman-danau-Ilsanet Me***

 

Dijalanan yang penuh sesak, sebuah mobil Hyundai metalik melaju sedang diantara puluhan kendaraan pribadi yang mengisi penuh jalanan Seoul sore itu. Si pengemudi dan penumpang nampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Suasananya begitu hening tak ada suara sekecil apapun yang terdengar. Hanya suara halus mesin dan klakson kendaraan lain yang terdengar bersahutan di telinga.

 

“Nona muda sedang tidak dirumah sajangnim.” Hingga salah satu namja yang duduk di bangku depan, tepatnya disebelah pengemudi mengeluarkan suaranya. Si-tuan muda yang sejak tadi terfokus memandang lalu lalang kendaraan dari kaca mobilnya berhasil teralihkan oleh berita dari salah satu pengawalnya tersebut.

 

“Nde ?. Hyera tidak dirumah ?. Lalu kemana dia ?”

 

“Sejak pagi Nona Hyera berada di rumah besar.” Rasa cemas yang sebelumnya muncul tatkala mendengar Hyera yang tidak berada dirumah kini mulai menyusut seiring dengan kepastian keberadaan istri tercintanya itu.

 

“Ahh.. geurae. Antarkan aku kesana.” Kyuhyun beralih berkutat pada layar ponselnya. Jari-jarinya bermain cantik mengetik pesan singkat untuk Hyera.

 

‘Apa kau sudah makan malam ?’

 

SEND !!!

 

1 menit, 2 menit, hingga 5 menit tidak ada balasan dari Hyera. “Mwoya ?. Apa dia mengabaikanku karena asyik bermain dengan putraku ?.” Jika terus mengingat kedua orang yang begitu ia cintai itu membuat rasa rindunya semakin membeludak. Tak mampu di sembunyikan lagi fakta bahwa Cho Kyuhyun tak sanggup terlalu lama jauh dari Hyera dan buah hati mereka, Cho Jae Hyun.

 

“Tunggu saja, aku akan membuat kalian semua terkejut dengan kepulanganku.” Pohon-pohon dengan hiasan lampu LED kecil berwarna-warni menjadi objek pandangnya sekarang. Senyum nan manis membuat wajah lelahnya kembali bersinar hanya karna membayangkan senyum cantik dan lembut milik Hyera.“Bogoshipeo Cho Hyera.”

 

***

 

Sementara itu di kediaman keluarga besar Cho, saat jarum jam menunjukkan pukul 9 malam suasana di dalamnya nampak begitu sunyi. Ahra sedang keluar untuk menghadiri sebuah pesta resmi bersama teman-temannya, sementara Cho Hana di umurnya yang memasuki kepala 50-an tidak baik untuknya tidur terlalu larut. Tersisa Hyera di ruang keluarga dengan sebotol soju sebagai temannya berbagi kesedihan.

 

Seteguk demi seteguk cairan bening dengan rasa pahit hambar itu mengalir di tenggorokannya, membuat tenggorokannya merasakan sensasi panas yang begitu menyengat seakan-akan keluar asap pengar dari hidungnya tiap kali ia meminumnya. Kebiasaan Hyera saat dirinya merasa stres, soju-lah jalan terbaik untuknya melupakan semua masalahnya sejenak. Pikirannya sesak dan mendapat jalan buntu hingga membuatnya stres akhir-akhir ini. Meski ia kesepian karena ketidakberadaan Kyuhyun disisinya, namun disaat seperti ini justru itulah harapannya. Meski sudah menikah selama 9 tahun, namun Kyuhyun sama sekali tidak mengetahui perihal kebiasaan Hyera seperti ini. Kyuhyun tidak tahu jika Hyera begitu akrab dengan minuman beralkohol khas Korea itu.

 

“Geurae.. sekeras apapun usahaku untuk sembuh, semua itu hanya akan berakhir sia-sia.” Hyera bergerak menuang kembali soju ke dalam gelasnya. “Ini tidak adil untukku. Takdir..” kalimatnya terhenti, perlahan gelas itu terangkat mendekati bibirnya. Meminumnya dengan tempo lambat menjadi ciri khasnya menikmati soju.

 

“Bahkan dikehidupanku selanjutnya, takdir itu akan selalu melawanku. Menyedihkan.” Rasa pening mulai merambat ke kepalanya, matanya berkunang menatap gelas kosong di depannya. Tangannya kembali bergerak menuang soju dan begitu seterusnya hingga satu botol tandas dalam waktu kurang dari 30 menit. Bisa kalian bayangkan betapa sesaknya hati dan pikirannya. Saat kehidupannya berada pada titik yang ia impikan, semuanya akan direnggut darinya.

 

Kepalanya terasa makin berat. Tak kuasa menahan pusing, Hyera menjatuhkan kepalanya pada tumpukan kedua tangannya diatas meja. Gadis yang malang. Dunia telah bertindak kejam padanya.

 

Tak lama, terdengar suara decitan pintu terbuka. Cukup keras namun Hyera terlihat tak terusik dengan kebisingan itu. Yeoja yang tengah merutuk takdir hidupnya itu, terjatuh pada alam bawah sadarnya karena pengaruh soju yang ia minum. Itulah sebabnya, Hyera sama sekali tak mendengar kebisingan yang tercipta di sekitarnya. Suara decitan pintu hingga derap langkah seseorang yang mendekat kearahnya.

 

Siluet seseorang dengan perawakan tinggi tegap berjalan makin dekat dengan meja makan dimana Hyera tertidur disana. Tangan pucatnya terulur menyentuh pundak Hyera, tanpa ingin mengeluarkan sepatah katapun. Hyera dengan sifat sensitifnya, langsung terbangun begitu merasakan sentuhan lembut dan mendadak itu di pundaknya. Kepalnya terangkat perlahan, matanya yang nampak sayu dengan pancaran kesedihan yang begitu mendalam menyusuri tubuh tinggi itu hingga mata almondnya terhenti pada mata elang yang memandang penuh rindu padanya. Itu Cho Kyuhyun. Kau memimpikan suamimu Cho Hyera. Batinnya.

 

“Kenapa kau tidur disini hmm..?” Suara lembut itu akan sangat ku rindukan. Tatapan tajam itu akan ku kenang Kyuhyun-ah. Dan ..

 

“Saranghae.” Matanya mulai berkaca, dengan posisi keduanya yg masih bertukar pandang membuat Kyuhyun melihat kesedihan dimata istrinya. Dan setetes air mata keluar dari pelupuk matanya, makin lama makin deras membuat Kyuhyun kelabakan.

 

“Wae geurae ?. Apa yang terjadi Ra-ya ?. Kenapa kau menangis eoh ?” Kyuhyun berjongkok guna mensejajarkan posisi keduanya. ‘Ra-ya’, di kehidupanku berikutnya akan kupastikan bahwa hanya kau yang akan memanggilku seperti itu. Yaksokae. Hyera hanya menggelngkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Kyuhyun. Matanya tak pernah lepas menatap wajah Kyuhyun yang masih ia kira sebagai bayangannya saja. Mimpi indah yg datang padanya.

 

“Bogosipoyeo. Jeongmal bogosipoyeo.”

 

“Nado, jeongmal bogosipoyeo chagi.” Kyuhyun menarik tubuh bergetar itu kedalam pelukannya. Berharap kehangatan yang ia salurkan lewat pelukannya bisa membuat rasa rindu Hyera yang membuatnya memangis seperti ini dapat berkurang.

 

“Kajima, jebal kajimayo. Tetaplah di sisiku hingga waktu yang telah ditentukan. Hanya denganku dan Jae Hyun, kita habiskan waktu sebanyak yang kita bisa. Jebal..”

 

Tanpa tahu sebabnya, Kyuhyun dengan senang hati menyanggupi permintaan Hyera. “Tentu Ra-ya. Hanya kita bertiga. Tidak akan ada batas waktu untuk kita habiskan bersama. Keurunika ulljima jebal.” Kyuhyun mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi istrinya. Melihat Hyera menangis adalah beban terberat dalam hidupnya 9 tahun ini. Sebisa mungkin ia berusaha keras untuk tidak membuat penghuni hatinya itu meneteskan air mata. Namun, malam ini saat ia memberikan kejutan untuk Hyera dengan kepulangannya yang lebih awal dari rencana justru membuat istrinya itu menangis tersedu. Apa semua ini begitu mengejutkannya ?

 

Sejauh ia berpikir tentang alasan yang mungkin menjadi penyebab Hyera menangis, Kyuhyun menyadari bahwa Hyera telah tertidur dalam pelukannya. Nafasnya teratur dan juga tubuhnya yang tak lagi bergetar. Cho Hyera jatuh kedalam alam mimpi yang sesungguhnya, meninggalkan kenyataan bahwa dirinya tengah tertidur di pelukan nyaman dan menenangkan dari Kyuhyun. Kenyataan itu membuat Kyuhyun tersenyum geli. “Lihatlah, secepat itu kau tertidur setelah menangis dan membuatku khawatir.”

 

“Nado saranghae Ra-ya.” Di tengah keheningan malam dan kesenyapan yang mengelilinginya, Kyuhyun menjawab apa yang seharusnya ia jawab sejak Hyera mengatakan kata cintanya beberapa saat lalu. Jika saja namja itu tahu bahwa waktu mereka tidak akan sebanyak yang ia pikirkan, mungkin kata cinta itu akan terucap dari mulutnya setiap waktu. Semua waktunya akan ia curahkan untuk Hyera, tak peduli dengan pekerjaan yang mungkin akan sangat membebaninya jika mengingat proyek besar yang tengah ia lakoni saat ini. Keinginan untuk selalu ada di sisinya tidak akan keluar dari mulut Hyera melainkan dari bibir Kyuhyunlah semua itu terucap. Sayangnya, takdir justru berkata lain. Namja malang itu akan mengalami penyesalan dan kepedihan yang bisa membunuh perasaan, hati, dan jiwanya sendiri dalam satu waktu karena kehilangan. Kyuhyun yang malang.

 

***Don’t Forget Me***

 

Kesibukan kembali terlihat di kediaman besar Cho Young Hwan. Kala mentari menunjukkan dirinya dengan malu-malu, Hyera telah lebih dulu terjaga di ranjangnya. Yeoja itu terbangun dari tidurnya saat merasa sebuah tangan melingkar di perutnya. Untuk sesaat ia merasa bahwa sosok yang saat ini terlelap di sampingnya hanyalah halusinasi belaka, namun kini ia sadar bahwasanya namja itu adalah suaminya, benar-benar suaminya. Cho Kyuhyun. Namja yang begitu ia rindukan setiap malam, namja yang membuatnya sekarat karena menahan rindu dengan memakai topeng ‘baik-baik saja’ di wajahnya.

 

Pandangannya teralih ke wajah sang suami yang terlelap bak bayi kecil yang polos. Menggemaskan, pikirnya. Tangan kanannya terulur ke depan, hingga jari lentik itu membelai lembut pipi tembam Kyuhyun. Tidak ada pergerakan serius yang menandakan bahwa tidurnya terusik karena sentuhan itu. Kyuhyun justru terlihat lebih nyenyak dari sebelumnya. Melihat wajah damai Kyuhyun membuat pikirannya kembali menjurus ke rahasia besar yang menjadi sebab utama ia memilih hidup dengan topeng di wajahnya.

 

Daun kering yang berjatuhan diluar jendela kini menjadi objek pandangnya. Musim dingin akan segera datang, pertanda jika umurnya akan segera berakhir. Mengingat bahwa dirinya tidak akan bisa bersama orang-orang yang begitu ia cintai bahkan melebihi nyawanya sendiri, membuat Hyera ingin menangis. Lebih tepatnya kini hatinya menangis, bahkan akan terus menangis setiap waktu meratapi takdir buruknya.

 

29 hari dari sekarang, semuanya akan berakhir. Bertemu denganmu adalah hadiah terindah dalam hidupku. Menjadi bagian dari cerita hidupmu adalah takdir terindah yang Tuhan berikan untukku. Mianhae Cho Kyuhyun.

 

***

 

“Kalau begitu kami pamit eommoni.”

 

“Sering-seringlah kemari Ra-ya, bawa serta Jae Hyun. Arrachi ?”

 

“Nde eommoni.” Kyuhyun bergerak tanpa disuruh, membukakan pintu diseberang kursi kemudi untuk Hyera. Sesaat ia melambaikan tangan pada Cho Hana dan Ahra yang berdiri di teras mengantar kepergian Kyuhyun dan keluarga kecilnya. Dan saat mobil itu benar-benar meninggalkan kediaman besar Cho, saat itulah daftar keinginan terakhirnya akan dimulai.

 

“Oppa.” Tak berselang lama setelah keluar dari gerbang rumah besar itu, Hyera bermaksud mengutarakan keinginannya.

 

“Hmm ?.” Kyuhyun yang terfokus ke jalan menjawab panggilan Hyera dengan deheman, menyertakan senyum yang hanya ia berikan untuk orang yang berharga dalam hidupnya.

 

“Apa kau punya rencana setelah ini ?” Kyuhyun nampak berpikir cukup lama seakan jadwal padat tengah menunggunya setelah ini. Membuat Hyera benar-benar berpikir bahwa keinginan pertamanya tidak akan terwujud hari ini. “Ah gwenchana. Dwesseo.”

 

Hyera mengalihkan pandangannya keluar kaca mobil. Begitu pula Jae Hyun yang duduk di pangkuannya. Dedaunan dengan warna orange berjatuhan ke tanah disertai angin yang berhembus menggerakkan ranting-ranting kering tanpa daun di sepanjang jalan. Selang beberapa saat tetap saja tak terdengar sepatah katapun keluar dari mulut namja yang kini tengah mengemudi di sampingnya itu. Hyera merasa kecewa namun dirinya juga tidak bisa menyalahkan Kyuhyun, sebab topeng yang ia kenakan saat ini telah membantunya menyembunyikan kondisinya dari Kyuhyun.

 

Hyera memutuskan untuk mengajak sang putra bercengkrama. Mengenalkan hal-hal kecil disekitarnya. Daun, jalan, mobil, langit, burung, dan hal lain yang tertangkap oleh mata coklat sang putra. Dan saat mobil yang mereka naiki berhenti di traffic light terakhir sebelum mereka sampai di rumah, Jae Hyun begitu antusias melihat lampu merah-kuning-hijau diatas sana. Putranya begitu aktif dan tanggap dengan hal-hal yang ada disekitarnya, tak urung mengundang senyum sang ibu sekaligus membuat namja di sampingnya yang sejak tadi hanya terdiam tersenyum makin cerah mengalahkan sinar mentari pagi itu. Tunggu kejutannya setelah ini. Ungkapnya dalam hati.

 

Lampu merah yang sebelumnya menghentikan perjalanan kini telah berganti menjadi hijau. Kyuhyun membelokkan mobilnya ke kanan, membuat Hyera menoleh cepat ke arah sang suami yang terlihat santai di belakang kemudi. “Ini bukan arah yang benar jika kita akan pulang ke rumah Kyuhyun-ah. Kita akan kemana ?”

 

“Igo..igo, kemana perginya panggilan ‘oppa’ yang kudengar sebelumnya ?.” Hyera menundukkan kepalanya saat Kyuhyun menyadari bahwa dirinya tengah merajuk sejak tadi.

 

“Mian.”

 

“Cho Hyera, kau harus menghilangkan kebiasaan merajukmu seperti itu eoh. Merajuk ataupun tidak kau harus tetap memanggilku Oppa. Neo arra ?” Hyera masih menunduk diam seperti halnya anak berusia belasan tahun yang tengah mendengar ceramah dari orang tuanya. Sementara Jae Hyun sibuk memainkan jari-jari mungilnya, menganggap percakapan dua orang dewasa itu sebagai angin musim gugur yang lewat.

 

“Keuromnika, uri oddigayo ?” mengabaikan pertanyaan Kyuhyun sebelumnya, Hyera justru mengajukan pertanyaan lain. Membuat Kyuhyun yang sebelumnya mengomel, kini justru kembali memasang senyum cerahnya. Heol.

 

“BI-MIL (Rahasia)” Kyuhyun kembali memfokuskan pandangannya ke jalan.

 

“Yaaa !!. Ingatlah umurmu Kyuhyun-ssi. Kau bahkan sudah mempunyai seorang putra yang sangat tampan..”

 

“Seperti appa-nya.” Kyuhyun memotong kalimat Hyera dengan kalimatnya sendiri, membuat Hyera membuang nafas tak menyangka. Lain halnya dengan Kyuhyun yang terlihat sangat santai menggoda istrinya.

 

“Aigo..aigoo. Aigo mwoya. Kau cukup tua untuk memainkan lelucon anak-anak Cho Kyuhyun. Palli marhaebwa, kau akan membawa kami kemana hmm ?.”

 

“Bimil. Sebentar lagi kau juga akan tahu.”

 

“Berhenti bermain-main Cho Kyuhyun. Sebelumnya kau mengabaikan pertanyaanku, bukankah kau punya jadwal yang sibuk hari ini.”

 

“Arra..arra. Mianhae karena tidak menjawab pertanyaanmu sebelumnya. Keundae, aku tidak menjawabnya karena aku sudah tahu apa yang akan kau katakan selanjutnya. Keuromnika, sebelum kau mengajakku lebih dulu akan lebih baik lagi jika aku yang memulainya.” Hyera menerka maksud dari kalimat panjang yang Kyuhyun ungkapkan barusan.

 

“Seolma… oppa neo ?.” sebelum Hyera sempat mendapatkan jawaban dari mulut Kyuhyun, lebih dulu fakta yang menjawabnya.

 

Hamparan rumput hijau dengan bunga bermacam warna dan danau di tengahnya. Taman rekreasi adalah destinasi Kyuhyun. “Butuh banyak hal saat kita akan keluar Seoul, jadi untuk sementara kita habiskan waktu lebih dulu di taman ini.”

seoul-taman-danau-Ilsan

“Oppaaa… kau yang terbaik. Jeongmal.” Hyera mengacungkan kedua jempolnya untuk Kyuhyun dengan senyum lucu yang menghias wajahnya.

 

“Neomu kyeopta.” Kyuhyun mencubit gemas pipi Hyera.

 

“Oppa saranghae. Jinjja.”

 

“Na arra.” Hyera bergegas keluar dari mobil bersama Jae Hyun. Tidak hanya Hyera, Jae Hyun-pun menunjukkan reaksinya tatkala melihat indahnya pemandangan disana. Angsa cantik yang berenang di danau, kupu-kupu yang terbang di sekeliling mereka. Sempurna. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah istrinya, membuat Kyuhyun hanyut dalam susasana tenang dan menyejukkan dalam relung hatinya. Ingatan akan tangisan pilu Hyera semalam membuatnya merencanakan ini semua. Entah apa yang membuat istrinya itu menangis seperti itu, namun yang ia tahu saat ini hanyalah membuat Hyera tersenyum seperti ini sepanjang hari itulah yang utama.

 

“Kesalahan terbesarku adalah membuatmu menangis selama aku melupakanmu waktu itu. Mianhae Ra-ya.”

 

“Oppaaa…” Hyera melambaikan tangannya bermaksud mengajak Kyuhyun bergabung bersama mereka di tepi danau. Dan canda tawa kembali muncul ke permukaan saat keluarga kecil itu menghabiskan waktu mereka bersenang-senang disana. Cho Kyuhyun dengan semua kejutannya, dan Cho Hyera dengan rahasia besarnya. Keduanya tertawa hari ini, mengabaikan hal besar yang menunggunya di depan sana.

kyu-040101-1-296x345

 

***

 

3 hari kemudian…

Kesibukan kembali menghampiri Kyuhyun di awal pekan ke 3 bulan ini. Hari senin memang awal dari segala macam aktivitas padat CEO muda itu. Cuti 3 hari terasa hanya sehari ia menghabiskannya bersama keluarga kecilnya. Ingin rasanya hati melepas status dan peran besar yang ia sandang untuk waktu 1 hari tambahan. Namun tumpukan kertas terus saja memanggilnya dari lantai 32 gedung Cho Corporation. Dengan berat hati ia harus mengesampingkan ego-nya kali ini.

 

“Oppa, pulanglah lebih awal hari ini. Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi denganmu malam ini.” Hyera dengan deretan daftar keinginannya, datang menghampiri Kyuhyun yang tengah merapikan berkas kantor.

 

“Akan aku usahakan. Akan kuhubungi setelah jam makan siang.” Kyuhyun mendekati Hyera yang sedang mengurus Jae Hyun di atas ranjang. “Kejutan apa lagi yang akan kau berikan padaku kali ini hmm ?” Sepasang tangan kekar itu tanpa perintah melingkar di perut Hyera. Kyuhyun memeluknya dari belakang.

 

“Heishh, bukankah selama 3 hari ini oppa yang selalu mencuri ideku.” Hyera membalikkan tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan. “Untuk kali ini, biarkan aku yang melakukannya. Setidaknya aku ingin melakukan hal yang membuatmu terkesan walau hanya sekali.” Mendengar ucapan Hyera membuat hatinya tersentuh. Kalimat yang barusan ia dengar tanpa Kyuhyun sadari menyimpan makna mendalam yang hanya Hyera ketahui.

 

Kecupan singkat namun berulang menghujani bibir Hyera. Rutinitas pagi yang tak pernah dilewatkan oleh Kyuhyun. Bibir ranum Hyera telah menjadi candu untuknya bahkan setelah 9 tahun mereka menikah. Dan sampai pada puncaknya, Kyuhyun menekan tubuh Hyera hingga membentur kaki ranjang guna memperdalam ciumannya. Hyera-pun ikut larut dalam sensasi Kyuhyun. Hingga sebuah suara mungil mengejutkan keduanya, memutus kontak fisik yang hampir melewati batas jika saja Jae Hyun tidak merengek.

 

“Ma..ma..brumm..brumm..” Jae Hyun merengek memaksa turun dari atas ranjang, bermaksud mengambil mobil mainannya di kotak mainan.. Naluri seorang bayi memang lebih kuat dari orang dewasa. Di usianya yang batita, Jae Hyun berhasil mencegah aksi nakal kedua orang tuanya. Heol, bagaiman bisa mereka melakukannya di depan anak kecil yang bahkan umurnya belum genap 4 tahun. Jika diterjemahkan mungkin seperti itulah ungkapannya dalam hati.

 

“Aigooo uri Jae Hyun-i. Mianhae, appa mencuri perhatian eomma-mu sebentar. Mianhae adult.” Kyuhyun meraih Jae Hyun dari atas ranjang, mengangkatnya tinggi diatas kepala. Tak urung hal tersebut membuat rengekkan Jae Hyun berubah menjadi gelak tawa yang terdengar renyah di telinga Hyera dan Kyuhyun. Kebahagiaan kecil itu berlanjut. Canda tawa bahagia kembali mengelilingi keluarga kecil Kyuhyun yang sebelumnya sempat musna karena kabar menyedihkan perihal keadaan sang istri yang membuatnya kalang kabut. Melihat senyum cerah Hyera benar-benar membuat seluruh beban dan gundah hatinya menguap hingga tak menyisakan satu-pun kesedihan disana. Semuanya kembali seperti semula sekarang.

 

Hanya dalam anganmu Cho Kyuhyun. Semua ini sebatas kebahagiaan semu yang Tuhan berikan untukmu, tanpa kau tahu arti sesungguhnya di balik senyum lepasnya menyimpan banyak beban yang bahkan di saat terakhirnya terasa berat untuk ia bagi denganmu.

 

***

 

7 hari kemudian…

Akhir pekan kembali datang. Hyera tengah bersiap untuk rencana yang entah ke berapa kalinya hari ini. Dengan setelan hangat plus syal coklat yang melingkar rapi dilehernya, Hyera siap untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersama Kyuhyun dan Jae Hyun. Keluarga yang kelewat bahagia itu akan pergi ke sebuah taman hiburan yang namanya telah tercatat dalam Guinness World Record. ‘Dibuka pada tanggal 12 Juli 1989, Lotte World adalah kompleks taman hiburan terbesar di Seoul, Korea Selatan’. Lotte World adalah destinasi Hyera selanjutnya.

 

***Don’t Forget Me***

 

Terik cerah mentari yang menggantung tepat di antara gumpalan putih di atas langit menyengat kulit pejalan kaki di bawahnya. Gesekan ranting kering tanpa daun di sepanjang jalan menjadi backsound tersendiri bagi Lee Hyukjae. Sejak kakinya melangkah meninggalkan kediamannya yang hangat, Hyukjae terus berkutat pada ponsel pintarnya. Sudah sepuluh menit ia menyusuri jalan tanpa tujuan yang pasti. Bukan tanpa alasan sebab seseorang yang mengajaknya bertemu justru belum memikirkan tempat pertemuan mereka.

 

“Oddieo ?” tanya Hyukjae sesaat setelah menggeser ponselnya ke mode ‘terima panggilan masuk’. “O.. aku sudah dekat. Gidaeryeo.” Hyukjae menyimpan ponselnya ke dalam saku dan berlari kecil menuju sebuah coffee bar tak jauh dari posisinya sekarang.

 

Bunyi lonceng terdengar nyaring saat pintu coffee bar terbuka, menandakan pelanggan datang atau malah sebaliknya. 4 orang nampak meninggalkan coffee bar tersebut, sosok yeoja yang sudah menempati salah satu meja disana merasa penasaran dan terus mengarahkan pandanganya ke arah pintu. “Kupikir sudah sedekat itu. Di luar sangat dingin, kenapa dia belum sampai juga.” hembusan nafas gusar mengakhiri kalimatnya. Menyerah dengan hati kecilnya, yeoja itu memutuskan untuk mencari sosok yang membuatnya khawatir di sekitar Coffee Bar.

 

“Wuahh jinjja, aku menghabiskan waktu berhargaku hanya untuk menunggunya. Awas saja kau Lee Hyukjae.” Yeoja itu terus menggerutu di depan pintu. Sesering mungkin ia menilik jam kecil di pergelangan tangannya. “Geurae, 3 menit tambahan untukmu Presedir Lee.” Pipinya yang chubby, ia gembungkan guna mengusir kejenuhan dan rasa kesalnya yang bercampur dan hampir mencapai batas. Kebiasaan mengusir penat yang unik.

 

Mata bulatnya mengecil saat antena semunya menangkap signal keberadaan Hyukjae tak jauh dari posisinya sekarang. Disana, 30 langkah dari tempatnya duduk saat ini. Lihatlah betapa santainya ia berjalan. Dengan tampang tanpa dosamu itu, kau pikir bisa membodohiku. Huhh, jangan harap.

 

“Neo wasseo.” Ungkapnya dengan nada bicara yang tenang seolah umpatannya beberapa saat lalu tak pernah muncul di pikirannya.

 

“Emmmm.. mian kau menunggu lama. Aku harus menemui seseorang terlebih dulu sebelum kesini.” Yeoja dengan jaket kulit hitam dan sepatu kets berwarna hitam putih itu menganngguk acuh tanda mengerti. Hyukjae menyadari sesuatu yang salah disini. “Kau marah ?” pertanyaan yang konyol.

 

Yeoja berkuncir kuda itu tak langsung menjawab pertanyaan Hyukjae, matanya kembali melirik jam di tangan kirinya,“10 menit yang lalu kau berjanji akan menemuiku disini, keundae aku sudah menunggumu selama 20 menit dari sekarang. Keureomnika, dari sini oppa sudah tau jawabannya. Keuchi ?”

 

“Se Young-ah mian. Oppa hanya mampir sebentar untuk menjemput seseorang tadi. Jeongmal mianata.”

 

“Molla, aku tidak ingin mendengar alasan oppa. Aku ingin hadiahku sekarang juga. Ppali.” Lee Se Young mengadahkan tangan kanannya meminta apa yang menjadi tujuannya menemui kakaknya pagi ini.

 

“Arra.. arra.” Kemunculan sebucket bunga dan cokelat di hadapannya, membuat Se Young menganga tak percaya. “Chaaa….”

 

“Mwoya.. Kkot (bunga) ? Cokelat ?. Oppa ige.. seolma.”

 

“Hadiahmu. Hadiah atas kepulanganmu.” Dengan senyum cerahnya Hyukjae menyerahkan bunga dan cokelat itu untuk Se Young.

 

“OPPA.. kkot ?. Wuahhh jinjja jinjja. Untuk usaha besarku dan tiba dengan selamat di Seoul, hanya ini hadiah yang diberikan oleh seorang presedir. Sulit di percaya, kau seirit ini pada adikmu.”

 

“Mwoya, kau tidak suka dengan hadiahnya ?.” Se Young tak menjawab pertanyaan Hyukjae. “Padahal ini baru awal.” Lanjutnya dengan lirih namun masih bisa tertangkap oleh telinga Se Young.

 

“Mwo ?. Mworagoyo ?” belum sempat terjawab, sosok lain muncul dari belakang tubuh Hyukjae.

 

“Annyenghaseyo Se Young-ssi.” Dengan bucket lain ditangannya dan sebuah bingkisan berukuran tanggung, Jessica tersenyum manis kearah Se Young. Gadis kecil itu kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Batinnya.

 

“Eonni.”

 

***Don’t Forget Me***

 

“Annyeonghaseyo Lee Taeppunim.”

 

“Ommo, bukankah itu desainer Choi.”

 

“Daebakk.. desainer muda paling terpandang di Seoul berjalan berdampingan dengan penguasaha tampan.”

 

“Mungkinkah mereka memiliki hubungan khusus ?”

 

“Eiiii.. seolma. Kudengar Lee taeppunim sudah punya kekasih dan akan segera melamarnya akhir tahun ini.”

 

“MWOOO..” langkah pasti Lee Donghae dan Choi Eun Byul serentak terhenti mendengar teriakan pegawainya. Donghae dengan setelan jas navy yang membalut indah tubuhnya menolehkan kepala mencari tahu hal apa yang sekiranya membuat para pegawainya berteriak sekencang itu. Tidak ada yang menarik rupanya. Pikirnya sesaat setelah para pegawai tadi membubarkan diri.

 

“Apa mereka mengejutkanmu ?” pertanyaan itu muncul dari bibir tipisnya saat arah pandangnya beralih ke raut wajah Choi Eun Byul.

 

“Aniya. Kajja.” Eun Byul mengulum senyum seraya melangkahkan kembali kaki jenjangnya memasuki lift diikuti Donghae di belakang.

 

***

 

Tumpukan kertas dengan sketsa di dalamnya memenuhi meja yang menjadi pemisah antara Donghae dan Eun Byul. Di ruangan seluas ini hanya diisi mereka berdua tanpa sepatah katapun terdengar. Keduanya larut dalam keheningan yang membuat suasana menjadi canggung. Donghae perlahan menyadari ada yang salah dengan Eun Byul hari ini. Seperti bukan Choi Eun Byul yang biasanya. Batinnya. Tarikan nafas panjang terdengar disambung dengan sebait kalimat yang keluar dari mulut Donghae.

 

“Chaa.. aku selalu menyukai semua sketsamu Eun Byul-ssi. Jika kau memintaku untuk memilih mana yang paling kusuka, saat itu pula aku akan memilih semua sketsa ini untuk model produk baruku.” Kalimat panjang keluar begitu saja dari mulut Donghae, namun siapa sangka jika kalimat panjangnya itu tidak mendapat tanggapan berarti dari lawan bicaranya. Eun Byul masih terdiam seribu bahasa di kursinya.

 

“Eun Byul-ssi.. Nona Choi ?… Choi Eun Byul ?.” Melamun rupanya. Donghae beringsut ke samping Eun Byul. Merasakan pergerakan di sofa yang ia duduki membuat Eun Byul tertarik kembali ke alam sadarnya. Kepalanya beralih ke samping kanan dimana Donghae mendudukan dirinya disana.

 

“Donghae-ssi wae ?” Merasa heran dengan pandangan dan ekspresi Donghae padanya. Kini justru sebaliknya, Donghae hanya terdiam dengan mata yang masih tertuju pada Eun Byul tanpa berniat menjawab pertanyaan yeoja bermarga Choi itu. “Waeyo ?. Kenapa kau malah terdiam. Cepat pilih sketsa mana yang akan kau pakai. Apa tidak ada yang sesuai dengan seleramu ?.” Eun Byul mencoba mencari kesibukan lain dengan membereskan lembar sketsa yang berserakan di atas meja. Dirinya sadar dan merasakan desiran aneh saat Donghae menatapnya seperti itu. Pikiran dan perasaannya tengah kacau saat ini, bukan hal yang bagus jika jantungnya ikut bekerja diatas kapasitasnya karena namja di sampingnya ini.

 

“Marhaebwa.”

 

“Nde ?” Donghae menarik pergelangan tangan Eun Byul untuk duduk dengan benar di sampingnya. Hingga sketsa yang sudah tergenggam di tangannya terlepas dan jatuh berhamburan di lantai.

 

“Ada hal yang menganggu pikiranmu. Marhaebwa. Aku akan membantu mencari solusinya.”

 

“Wae ?.” tawa hambar keluar dari mulutnya, mencoba terlihat sebiasa mungkin dan tidak terlalu kentara di depan Donghae. “Na gwenchana. Tidak ada hal berarti yang sedang kupikirkan saat ini.” Eun Byul memaksakan senyumnya di depan Donghae, memasang topeng untuk menyamarkan raut sedihnya saat ini.

 

Bukan Lee Donghae CEO Lee Company namanya jika ia dengan mudahnya percaya begitu saja. Jabatan ini tidak dengan mudahnya ia dapatkan tanpa pendidikan yang tinggi tentunya. Akan sangat memalukan jika petinggi di perusahaan ternama itu begitu mudah tertipu. “Baiklah. Kuanggap semua yang kau katakan adalah kebenarannya. Aku tidak ingin melihat wajahmu yang kusut lagi. Kau tahu apa yang kupikirkan saat ini ?” gelengan lemah menjadi jawaban Eun Byul.

 

“Aku bisa melihat kerutan di wajahmu saat kau melamun.”

 

“Yakkk.” Berhasil. Suasana kembali mencair seperti yang ia harapkan. Terlepas dari apa yang menganggu pikiran Eun Byul, Donghae akan lebih bersabar untuk mengetahuinya. Tawa renyah keluar dari mulut Donghae dan Eun Byul.

 

Untuk kesekian kalinya senyum itu mampu menarik seluruh pusat perhatiannya. Senyum manis alami tanpa ada kesan keterpaksaan itulah yang tanpa sadar telah membuat namja bermarga Lee itu menaruh hati terhadapnya. Hanya tinggal menunggu timing tepat untuk mengakui semuanya. Perasaannya.

 

“Kajja.” Disela tawa keduanya, Donghae beranjak dari duduknya. Menyambar jas navy yang tersampir apik di sandaran sofa. “Sudah waktunya makan siang. Aku tidak ingin seseorang kelaparan karena terlalu malu mengajakku duluan.”

 

“Ckck…” merasa dirinya yang menjadi subjek pembicaraan, Eun Byul hanya mampu memenuhi ajakan Donghae. Toh yang namja itu katakan juga tidak sepenuhnya salah. Keduanya meninggalkan ruangan lantai atas Lee Company menuju salah satu tempat makan China tak jauh dari perusahaan tenama nomor 3 di Seoul itu.

 

***

 

Lee Hyukjae mengemudikan Audi Facelift-nya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan lenggang Seoul. Sesekali mata sipitnya melirik dua yeoja yang asyik berbincang di kursi belakang lewat kaca spion depan. Dan saat itu pula Hyukjae berulang kali mendengus cukup keras, bosan karena keberadaannya terabaikan. Oh ayolah, aku cuti hari ini bukan untuk menjadi supir dadakan. Rutuknya.

 

Jenuh dengan suasana yang tercipta, Hyukjae berinisiatif untuk bergabung dengan percakapan keduanya. “Ekhem.. chogiyo. Apa yang sedang kalian bicarakan ?. Terdengar mengasyikkan.”

 

“Oppa fokus saja menyetir. Oppa tidak akan mengerti apa yang aku dan eonni bicarakan. Ini masalah wanita.”

 

“Ckk, Lee Se Young berhenti mengajak Jung bicara. Ada manusia lain di mobil ini yang menunggu kalian selesai mengobrol dan menunggu gilirannya bicara. Aku menjemputmu bukan untuk menjadi supir dadakan. Kau mengerti ?.” Se Young menjeda obrolannya dengan Jessica, mencoba mendengarkan ocehan kakaknya yang merajuk di depan sana.

 

“Oppa dengarkan aku.”

 

“Mwo ?. Kau merasa bersalah karena mengabaikanku sejak tadi dan ingin minta maaf. Lupakan. Aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah.” Se Young memutar bola matanya malas. Bukan itu yang akan ia katakan.

 

“Hyuk-ah, sudahlah. Dia hanya menceritakan beberapa pengalamannya saat di Eropa.” Jessica mencoba menjadi penengah antara kakak-beradik ini. “Benar apa kata Se Young, kau harus fokus menyetir. Akan sangat berbahaya jika kami mengajakmu bicara.”

 

Hyukjae hanya terdiam tak mampu mananggapi. Benar kata Jessica, tapi tetap saja Lee Se Young membuatnya naik darah. Selalu saja seperti ini setiap mereka bersama. Tidak akan pernah tercipta suasana tenang dan bersahabat. Masalah sepele bisa menjadi bahan perdebatan Lee bersaudara ini.

 

Suasana tenang untuk beberapa saat. Se Young asik memainkan gedget-nya, Jessica sibuk menikmati lalu lalang kendaraan lain lewat kaca mobil. Dan Hyukjae fokus pada jalanan. Tetap seperti ini hingga mobil yang mereka kendarai berhenti di tempat makan kecil dengan papan nama Hanwoo di jendelanya. “Kau makanlah dulu. Aku tahu kau belum makan apapun sejak tiba pagi tadi. Terlalu lama jika harus menunggu sampai rumah. Turunlah.” Hyukjae turun dari mobil setelah menyampaikan titahnya pada Se Young. Mungkin hal ini sudah biasa bagi Se Young, jadi tidak ada pengaruhnya. Berbeda dengan Jessica yang melihat sosok lain dari Lee Hyukjae. Mereka memang sudah berteman sejak lama, tapi ini adalah hal baru yang ia temukan pada diri Hyukjae. Untuk waktu yang lama Jessica terdiam sambil memandang Hyukjae yang masuk lebih dulu ke dalam sana.

 

“Eonni..” panggilan Se Young berhasil membuyarkan lamunannya. “..turunlah. Eonni juga harus makan. Aku akan menunggu eonni di dalam.” Dan hari mereka berlanjut hingga Se Young tiba kediaman keluarga Lee.

 

***

 

“Minumlah..” Jessica menerima segelas wine dari Hyukjae. Keduanya duduk berdampingan di salah satu kursi di taman bunga rumah Hyukjae. Suasana yang tenang membuat Jessica nyaman menghabiskan waktu cukup lama di taman ini, disuguhkan dengan pemandangan langit malam yang semakin membuatnya terpikat sampai-sampai melupakan keberadaan Hyukjae disampingnya. “Jung..”

 

“Hmm.” Jessica menjawabnya dengan deheman, mata hazelnya masih sibuk menghitung bintang di atas sana.

 

“Ada yang ingin kutanyakan padamu.” Hyukjae mengutarakan tiap kalimat yang ia keluarkan dengan hati-hati. Terdiam sejenak mencoba menimang kembali apakah ia harus menanyakan ini pada Jessica atau tidak. Tapi rasa penasaran yang melampaui batas wajarnya telah menguasai ruang pikirnya.

 

“Marhaebwa.”

 

“Ini tentang Hyera.” Mendengar nama itu seketika menarik seluruh fokus Jessica untuk menatap Hyukjae. Nama itu berkaitan besar dengan rahasia yang ia simpan atas permintaan Hyera sendiri. Mungkinkah ?. “Tempo hari saat aku mengunjungimu di rumah sakit, tidak sengaja aku melihatnya keluar dari salah satu ruang dokter. Apa kau tahu tentang itu ?” Jessica tak langsung menjawab. Pembicaraan ini membuatnya terpaksa keluar dari zona nyamannya, bergerak kesana-kemari mencari posisi yang nyaman untuk menjelaskan kebohongan pada Hyukjae. “Apa dia sakit ?”

 

“Aniya. Molla, aku kurang tahu tentang itu.” Jessica menyesap wine ditangannya dengan perasaan campur aduk. Otak dan hati kecilnya tak sejalan. Mampu ia dengar hembusan nafas di samping tubuhnya. Sepertinya Hyukjae menyerah akan rasa tahunya.

 

“Ada yang aneh dengan ekspresi wajahnya.” Dugaannya salah, Hyukjae hanya mengambil nafas untuk mengeluarkan sederet kalimat yang sekiranya membuat Jessica mematung disana. Kebohongan apalagi yang harus ia katakan pada teman kecilnya ini. “Aku mengenalnya sejak lama, aku tahu betul kebiasaan Hyera. Dan ekspresi itu benar-benar menggangguku akhir-akhir ini.”

 

Hatinya mencelos mendengar ungkapan Hyukjae barusan. Entah sadar atau tidak, Hyukjae seolah menunjukkan padanya betapa besar perasaannya pada sosok menantu kebanggaan keluarga Cho itu. ‘Bahkan setelah semua yang kulakukan untukmu, tetap saja kau hanya akan memandangku sebelah mata Lee Hyukjae.’

 

Tidak banyak yang Jessica lakukan selain mendengar kalimat panjang yang Hyukjae ungkapkan perihal Hyera kepadanya. “Aku tahu betul jika ada sesuatu yang ia sembunyikan. Matanya tidak bisa berbohong.” Hyukjae menggeser posisi duduknya hingga kini sepenuhnya menghadap Jessica di sebelah kanannya. Buru-buru yeoja bermarga Jung itu menundukkan wajahnya guna menghindari kontak mata dengan Hyukjae sekaligus menyembunyikan dengan apik raut kecewa yang terpasang jelas di wajahnya. Untuk beberapa saat kedepan keheningan menyelimuti keduanya di bawah langit malam penuh bintang diatas sana, Jessica mewanti-wanti kalimat yang akan keluar dari mulut Hyukjae. Cukup lama mereka terdiam hingga suara serak itu kembali terdengar. “Bantu aku Jung. Aku begitu khawatir sejak terakhir aku melihatnya tanpa sengaja di rumah sakit. Gunakan koneksimu di rumah sakit untuk mencari tahu tentang Hyera. Aku melihatnya keluar dari salah satu ruang dokter di lantai yang sama dengan ruanganmu. Kupikir kau akan mengenalnya.”

 

“Aku akan mencoba sebisaku. Tunggu saja kabar dariku.” Jessica berusaha keras menetralkan raut wajahnya untuk beradu pandang dengan Hyukjae di detik berikutnya. “Aku harus segera pulang. Hyun Woo akan mampir ke apartement untuk mengambil beberapa berkas pasien.” Jessica buru-buru beranjak dari duduknya dengan meninggalkan gelas wine-nya di kursi kayu berdampingan dengan milik Hyukjae.

 

“Aku akan mengantarmu. Tunggulah di ruang tengah aku akan mengambil kunci-”

 

“Ani. Aku akan pulang dengan taxi. Aku tidak punya banyak waktu, Hyun Woo sebentar lagi sampai.” Jessica dengan posisi yang membelakangi Hyukjae, tanpa sepengetahuan namja itu meneteskan krystal bening. “Terima kasih untuk hari ini. Aku pamit.” Tanpa mendengar teriakan Hyukjae yang bermaksud menahannya, Jessica mengambil seribu langkah untuk menghindarinya. Secepat mungkin menjauh hingga tak ada kesempatan bagi Hyukjae untuk mengetahui keadaanya saat ini.

 

Sementara di belakang sana, Lee Hyukjae terdiam seribu bahasa dengan tanda tanya besar di kepalanya. Menatap kepergian yeoja yang perlahan ia rasa memiliki tempat tersendiri dalam cerita hidupnya. Mengulang pertanyaan yang sama dalam kepalanya, ‘Apa ia melakukan sebuah kesalahan hingga membuat yeoja itu menangis ?’ dan kejadian beberapa waktu lalu kembali berputar dalam ingatannya.

 

“Aku tahu betul jika ada sesuatu yang ia sembunyikan. Matanya tidak bisa berbohong.” Hyukjae menggeser posisi duduknya hingga kini sepenuhnya menghadap Jessica di sebelah kanannya. DEG !!!

 

‘Ada apa dengan ekspresi wajahnya ?.’ hanya dengan sekali pandang Hyukjae tahu apa yang berusaha Jessica sembunyikan darinya.

‘Mungkinkah kau kecewa karena aku membicarakan Hyera saat bersamamu ?. Kukira hubungan kita belum sampai ke tahap dimana kau bisa cemburu Jung.’ Mendengar apa yang hati kecilnya katakan membuatnya tanpa sadar menyunggingkan senyum tanpa sepengetahuan sosok yang menunduk di hadapannya. Cukup lama ia menghabiskan waktu untuk menatap wajah Jessica yang sebenarnya tak sepenuhnya mampu ia lihat. Untuk sesaat terlintas di pikirannya untuk memastikan apa yang hati kecilnya jeritkan di dalam sana. Bisakah ?.

 

“Bantu aku Jung. Aku begitu khawatir sejak terakhir aku melihatnya tanpa sengaja di rumah sakit.”

 

***Don’t Forget Me***

 

2 hari berlalu semenjak pertemuan mereka dalam rapat. 2 hari pula Donghae tak mendengar kabar dari yeoja itu. Jangankan bertemu, bahkan satu pesan sekalipun tak menjamah ponsel pintarnya dua hari ini. Pertanyaan yang sama terus saja muncul di kepalanya. Kemana perginya yeoja itu dua hari belakangan ini ?. Mengingat ekpresi wajahnya saat terakhir mereka bertemu memanglah menunjukkan ada satu hal yang sedang memenuhi otak yeoja itu. “Seharusnya ku cari tahu apa masalah yang mengusiknya hari itu.” Donghae menyesali keputusannya hari itu yang memilih untuk tidak mencampuri urusan Eun Byul dan menunggu saat yang tepat dimana yeoja itu sendiri yang akan datang kepadanya untuk menceritakan perihal masalah yang menganggu fokusnya.

 

Jari-jari tegasnya menari cepat diatas papan keyboard, menciptakan sederet kalimat di layar PC-nya. Matanya terfokus pada layar bening di depannya, mengikuti setiap kata yang muncul disana akibat gerakan cantik jari panjangnya. Hingga deringan ponsel membuat fokusnya teralih. Secepat kilatan cahaya, tangannya menyambar benda pipih itu, mencari tahu siapa gerangan yang mengirim pesan padanya. Bulan sabit muncul di wajahnya sepersekian detik berikutnya. Tanpa berniat membalas, Donghae bergegas meninggalkan ruangannya.

 

***

 

Bibirnya tersungging membentuk bulan sabit di pertengahan hari yang terik tatkala mata coklatnya menangkap siluet seseorang yang membuatnya kelimpungan 2 hari ini karena tak ada kabar. Di salah satu sudut cafe di dekat kaca bening yang lebarnya hampir setengah ruangan, Eun Byul yang sibuk menikmati lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki di jalanan Gangnam tak sadar saat lonceng cafe berdentang menandakan seseorang baru saja masuk. Dengan pakaian casual dan rambut yang tergerai hingga 15cm di bawah pundak, Choi Eun Byul berhasil menjungkir balikan dunia pengusaha muda bermarga Lee yang kini tengah berjalan ke arahnya tanpa ia sadari.

 

Bunyi gesekan kaki kursi dengan lantai marmer cafe terdengar cukup nyaring untuk dapat tertangkap oleh daun telinganya. Ulah siapa lagi kalau bukan Lee Donghae. “Neo wasseo.” Ucapnya menyambut kedatangan Donghae. Sementara yang diajak bicara hanya menjawabnya dengan deheman. Senyum yang beberapa saat lalu menghiasi wajahnya kini bersembunyi di balik ekspresi wajahnya yang dingin. “Ingin pesan-”

 

“Pelayan..” menghiraukan Eun Byul, Donghae bergegas memesan minumannya sendiri. Sikap Donghae barusan tentu membuat Eun Byul tercengang untuk beberapa saat, hingga ia mampu mengatasi situasi kembali dengan memasang wajah se-biasa mungkin. “Ingin mengatakan sesuatu ?” tebak Donghae.

 

“Nde. Ada satu hal yang ingin ku tanyakan.” Donghae mangut-mangut mengerti, mempersilahkan Eun Byul untuk mengutarakan pertanyaannya. “Bagaimana kabarmu Donghae-ssi ?”

 

“Tidak sebaik kelihatannya.” Jika saja kau tahu bagaimana tersiksanya menahan diri untuk melihatmu Eun Byul-ssi.

 

“Kau sudah menerima design untuk model iklanmu ?” hanya pertanyaan-pertanyaan ringan yang dengan mudah Donghae jawab. Tak jarang satu-dua pertanyaan hanya ia tanggapi dengan deheman atau anggukan. Bukan semua pertanyaan ini yang ingin kudengar dari mulutmu Eun Byul-ssi.

 

“Donghae-ssi, kau masih menyimpan cincin yang tempo hari ku titipkan padamu ?. Hari ini aku akan mengambilnya.”

 

“Kebetulan sekali, cincin itu ada di mobil. Aku juga berniat mengembalikannya padamu secepatnya.” Mendengar setiap jawaban yang keluar dari mulut Donghae membuat Eun Byul kecewa. Berulang kali ia menelan pahit mendengar nada dingin dari Donghae untuknya. Selama ini kau hanya menunggu hal yang tak akan pernah kau dapatkan Choi Eun Byul.  Batinnya menjerit, meneriakan fakta yang sesungguhnya tak ingin ia akui selama ini. “Aku akan mengambilnya.” Donghae berdiri dari posisi nyamannya, menarik sisi bawah jasnya bersiap untuk melangkah.

 

“Aku merindukanmu.” Kalimat singkat yang terucap hampir tersamarkan oleh suara musik yang terdengar di dalam cafe, membuat Donghae mengurungkan niatnya dan berbalik hingga kini kembali berhadapan dengan Eun Byul yang tertunduk di seberangnya.

 

“Mworago ?” masih tak percaya dengan apa yang ia dengar 3 detik yang lalu, tanpa sadar lewat pertanyaan itu Donghae ingin mendengar apa yang ia dengar beberapa saat lalu. Perlahan kepala itu terangkat hingga pandang keduanya bertemu.

 

“Bogoshipeo Lee Donghae-ssi.” Ini bahkan lebih dari yang kuharapkan. Batin Donghae bersorak. “Tanpa alasan yang pasti aku memintamu untuk bertemu, menahanmu selama hampir satu jam bersamaku disini. Karena aku merindukanmu. Mianhae.” Masih di posisi yang sama Donghae hanya terdiam tanpa berniat untuk kembali duduk di kursi nyamannya. “Aku menyerah. Terlalu sulit untuk menghindarimu selama dua hari ini. Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang kurasakan saat ini. Kita hanya orang asing yang saling mengenal tanpa sengaja, aku tidak seharusnya menyimpan perasaan ini terhadapmu. Aku sempat berpikir bahwa ini hanyalah rasa simpati dan rasa saling menghargai karena kau telah membantuku saat aku berada di masa yang sulit. Namun hari itu aku sadar bahwa ini bukan sekedar simpati. Perasaan ini…. kurasa perasaan ini lebih dari itu. Keundae-” kalimatnya terhenti bukan karena keinginannya. Bukan karena ia gugup atau malu untuk mengungkapkannya, diluar semua dugaan itu. Donghaelah yang telah membungkamnya. Entah sejak kapan namja itu berada begitu dekat dengannya namun yang mampu ia tangkap dengan kesadaran penuh hanyalah sebuah fakta bahwa Donghae tengah menciumnya saat ini.

 

Jika saja ia punya kesempatan untuk berteriak kencang, maka hanya di dalam hatilah mampu ia lakukan. MWOOOYAAA… IGE MWOYA. Baru kali ini hati dan otaknya berjalan seiringan. Jantungnya bahkan melompat entah kemana sejak benda kenyal itu menyentuh permukaan bibirnya. Ruang geraknya terkunci karena akses Donghae pada bibirnya. Ayolah, ini bukan ciuman pertamanya tapi kenapa ia setegang ini. Kapan ini akan berakhir ?.

 

***

 

Entah yang keberapa kali, keheningan kerap kali datang menemani mereka. Seolah tak ada bosan-bosannya mengiringi kemanapun pasangan ini pergi. Pasangan ?. Benarkah mereka resmi menjadi pasangan setelah ciuman tak terduga tadi. Molla.

 

Hamparan air sungai Han dengan berbagai benda yang turut menghiasinya menjadi objek pandang Eun Byul dan Donghae sore itu. Langit senja berlatar orange bercampur ungu turut serta menjadi pelengkap suasan canggung diantara keduanya. Keduanya hanya terdiam sambil duduk berdampingan di tepi sungai Han. Hembusan nafas silih berganti keluar dari mulut keduanya, hawa yang semakin dingin nyatanya tak mampu membuka mulut keduanya. Eun Byul terlihat berusaha menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat meski akhirnya gagal. Angin berhembus terlalu kencang, menembus mantel panjangnya hingga menyentuh tulang.

 

‘Kenapa dia hanya diam ?. Tidakkah disini terlalu dingin. Kami berdua bisa sakit jika berlama-lama disini. Dia bahkan hanya mengenakan kemeja tipis dan meninggalkan jas hangatnya di dalam mobil. Pabbo.’ Otak dan hatinya untuk yang kedua kalinya kembali sejalan. Eun Byul mulai merutuki kebodohan Donghae yang menghabiskan waktu hampir satu jam untuk diam memandang genangan air di depan sana.

 

‘Apa dia marah karena ciuman tadi ?. Hffttt kau memang bodoh Lee Donghae. Seharusnya kau menahan hasratmu untuk menciumnya tadi. Dan sekarang kau terlihat seperti laki-laki pengecut yang tak berani meminta maaf atas kesalahan yang kau perbuat. Shit, kenapa disini begitu dingin.’ Tak beda jauh dengan Eun Byul yang berperang dengan kata hatinya, Donghae-pun juga terlalu sibuk memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan atau bicarakan dengan Eun Byul sekarang. Menerka-nerka berbagai hal yang bisa mengawali percakapan tanpa menyinggung masalah ciuman.

 

Satu tarikan nafas panjang mengawali keberaniannya untuk memulai pembicaraan. “Lebih baik kita bicara di dalam mobil. Disini terlalu dingin.”

 

“Nde.” Dengan kikuk keduanya berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir cukup jauh dari posisi duduknya. Tak ingin kembali larut dalam keheningan, Donghae berpikir keras untuk kembali memulai percakapan ringan.

 

“Ingin minum secangkir coklat panas ?”

 

“Ani. Mmmm..maksudku nde.” Donghae mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana tidak, ia telah merusak hubungan baiknya dengan Eun Byul karena ciuman tadi. Kini ia merasa bahwa Eun Byul semakin menjaga jarak terhadapnya. Semua ini tidak benar. Cukup jual mahalnya Lee Donghae. Hari ini semuanya harus menemukan titik terang.

 

“Eun Byul-ssi chamkkaman.” Seperti yang Donghae minta, Eun Byul berhenti di langkah selanjutnya. “Kau bilang perasaan itu lebih dari rasa simpati. Lalu seperti apa tepatnya perasaanmu itu ?. Mungkinkah rasa yang kau pendam itu sama dengan apa yang kurasakan terhadapmu ?”

 

“Aku ragu perasaanmu akan sama dengan apa yang kurasakan terhadapmu Donghae-ssi.” Eun Byul memutar tubuhnya menghadap Donghae. “Awalnya aku yakin bahwa kau juga menyimpan rasa yang sama terhadapku. Keundae, semua keyakinan itu sirna saat aku mendengar kabar yang bahkan tak pernah sedikitpun muncul di kepalaku. Aku terlalu naif untuk mengakui kebenaran itu.” kedua kalinya Donghae kembali menjadi pendengar yang baik disana. Setiap kalimat yang keluar dari bibir itu semakin membuatnya yakin bahwa perasaan yeoja di hadapannya saat ini adalah rasa yang sama dengan apa yang ia rasakan. Entah hal apa yang Eun Byul dengar hingga ia meragukan perasaannya sendiri.

 

“Aku..” katakan Choi Eun Byul. Luapkan perasaanmu. “Aku sudah memikirkan semua ini sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di tanah Seoul 2 minggu yang lalu. Dan sekarang aku mengaku Lee Donghae-ssi, mian jika ini membuatmu terganggu tapi sebenarnya…”

 

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu Lee Donghae.” Perfect. Itulah yang ingin kudengar selama ini. Maka saat dimana kau mengatakan ‘mencintaiku’, disaat itu pula aku akan menghampirimu dimanapun kau berada. Itulah janjiku. Dengan langkah lebar Donghae menghampiri Eun Byul yang berjarak 5 langkah dari posisinya saat ini. Terjawab sudah semuanya. Hari ini semuanya benar-benar terungkap. Di tengah angin yang berhembus menerbangkan tiap helai rambutnya, dinginnya yang menyengat kulit tak lagi mereka rasakan. Hanya kehangatan yang mereka curahkan satu sama lain untuk orang tercinta lewat ciuman yang menggebu di bawah lagit senja kota Seoul. Cahaya senja menjadi saksi bisu awal dimulainya hubungan Choi Eun Byul dan Lee Donghae hari itu.

 

***Don’t Forget Me***

 

Kakinya melangkah santai sepanjang lorong menuju ruangan di ujung bangsal 11 Rumah Sakit Hansang. Song Hyera, dengan anggun memaksa kakinya untuk terus mengikuti apa yang ia rencanakan hari ini. Yang mana salah satu diantaranya adalah mengunjungi salah seorang kenalannya. Dress cream selutut yang dipadupadankan long coat senada dengan warna dress yang Hyera kenakana hari itu membuatnya tampil anggun seperti biasanya. Rambut coklat lurus yang ditata dengan apik sedemikian rupa, simple namun tetap terlihat styles menambah pesona istri pewaris Cho Corp tersebut. Tangan kanannya bergerak memutar handle pintu sebuah ruangan dengan tag ‘Jung Uisanim’ di atasnya.

 

Kosong. Hal pertama yang ia temukan saat pintu putih itu terbuka sempurna hanyalah kursi kosong dengan jas dokter menyampir di atasnya. Nyatanya yeoja berumur 24 tahun itu tak mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Jessica sekalipun ia mampu menerka bahwa dokter muda yang tanpa sengaja ia kenal itu pastinya tengah sibuk menangani antrean pasien. Hyera memutuskan untuk menunggu Jessica di ruangannya.

 

5 menit. 10 menit. Hingga 30 menit ia menunggu tak sedikitpun muncul tanda-tanda kehadiran Jessica, membuat Hyera menghela nafas pasrah. Nampaknya ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Jessica. Kaki jenjangnya menapak di atas lantai putih, menopang tubuh rampingnya bergerak menuju pintu. Mungkin lain kali aku bisa menemuinya. Belum sampai menggapai handle pintu, terlebih dulu pintu itu terbuka. Sosok cantik dengan pakaian serba biru dan sebuah masker yang menggantung di dagunya muncul dari balik pintu.

 

“Hyera-ssi ?” berbeda dengan Hyera yang terlihat biasa, Jessica begitu kentara terkejut akan kehadiran tamu tak di undang di ruangannya.

 

“Lama tidak berjumpa Dokter Jung. Maaf karena masuk ke ruanganmu tanpa permisi.”

 

“Ye, gwenchanayo. Duduklah.” Jessica bergerak menuju kursi kebesarannya begitu pula dengan Hyera yang kembali ke kursi tunggunya. “Ada yang bisa ku bantu Hyera-ssi ?. Mungkinkah kau mencari Dokter Han ?.” Jessica menerka-nerka tujuan Hyera mendatanginya. Cukup canggung sebenarnya mengingat mereka tak sedekat itu untuk bicara lebih santai layaknya seorang teman lama yang kembali bertemu semenjak pertemuan terakhir mereka.

 

“Aniya Dokter Jung. Tujuanku kemari adalah untuk bertemu denganmu. Ini mengenai penyakit itu.” Jelas kemana arah pembicaraan ini akan berlabuh. Meskipun Hyera tak menyebutnya dengan jelas, Jessica tahu betul apa maksud ucapannya. Rahasia itu rupanya.

 

“Jika ini menyangkut penyakit yang tengah kau derita, aku juga akan menyampaikan satu hal mengenainya Hyera-ssi.” Mengingat apa yang Hyukjae katakan tempo hari membuat Jessica ikut andil bagian untuk meluruskan masalah ini yang menurutnya sudah tidak benar sejak awal. Seharusnya ia tidak terlibat dengan masalah ini sejak awal. “Menyembunyikan hal ini dari semua orang bukanlah keputusan yang tepat Hyera-ssi, terlebih lagi pada mereka orang yang begitu menyayangimu.”

 

“Percayalah Dokter Jung, aku tidak punya pilihan selain melakukan semua ini. Atau jika tidak, mereka semua hanya akan menelan kekecewaan hingga waktu kepergianku nanti. Aku tidak ingin menghapus senyum dan kebahagian mereka saat ini. Untuk terakhir kalinya aku ingin pergi dengan menyimpan kenangan indah bersama mereka, bukan tangis dan kesedihan yang justru akan membuatku menyesali kematianku.”

 

“Selalu ada pilihan dalam hidup ini Hyera-ssi. Pikirkan itu baik-baik. Pada akhirnya mereka semua juga akan tahu tentang kebenarannya. Keputusanmu untuk membohongi mereka semua justru akan membuat orang terdekatmu kecewa dan menyalahkan diri mereka sendiri karena terlalu bodoh untuk menyadari keadaan sebenarnya.” Jessica berusaha kerasa menyadarkan Hyera untuk menghentikan ide konyolnya ini. Merubah keras kepalanya itu demi orang terdekatnya yang mungkin akan menyalahkan diri mereka sendiri di hari kepergiannya –Hyera-.

 

“Aku tidak bisa Dokter Jung. Jika saja aku bisa memutuskan untuk mengakhiri semuanya saat ini, tidak akan semudah itu saat kulihat senyum bahagia Kyuhyun dan Jae Hyun. Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu untuk melihat senyum dan mendengar tawa mereka. Bisa kau bayangkan akan seperti apa mereka jika tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak bisa Dokter Jung.” Pertahanannya runtuh saat itu juga. Dengan cepat benda liquid itu mengalir deras diiringi isak tangis yang sekejap mampu memenuhi ruangan bernuansa putih gading tersebut. Melihat semua ini membuat Jessica menghentikan niatannya untuk meyakinkan Hyera. Jessica tahu betul apa yang Hyera rasakan saat ini. Menyimpan kenangan indah dengan orang yang dicintai adalah impian semua wanita. Jika ia berada di posisi Hyera saat ini, mungkin ia juga akan berpikiran sesempit itu. Cho Kyuhyun, apakah aku harus menyebutmu beruntung atau tidak tapi percayalah bahwa yang yeoja ini lakukan semuanya adalah untukmu.

 

Dan pintu di seberang sana terbuka dengan namja yang berdiri di belakangnya. Masih di tempat yang sama, Jessica merasa langit diatas sana runtuh menimpanya. Arah pandangnya bertemu langsung dengan mata coklat di seberang sana, yang bahkan tak sedang memandangnya. Sorot mata sendu yang kini tengah menjadi objek pandangnya terpaku pada sosok lain di depannya. Song Hyera. Sementara Hyera belum menyadari akan kehadiran orang lain di belakangnya. Jessica memaksa kakinya yang lemas karena terkejut untuk menopang berat badannya saat dilihatnya namja itu bergerak mendekat ke arah mereka. Dan saat itulah Hyera menyadari bahwa ada orang lain yang menuju kearahnya. Keduanya saling beradu pandang untuk beberapa saat, dan seperti halnya Jessica. Hyera merasa semua hal di dunia ini runtuh di depan matanya. Namja itu tidak seharusnya berada disini. Apakah ia mendengar semuanya ?. Selesai sudah.

 

To Be Continue…

Andalan
Diposkan pada chapter, Fantasy, Hurt, Romance, SAD, Tak Berkategori

Found You In Joseon Part 6

Found You In Joseon (Part 6)

 

joseon8

 

Title    : Found You In Joseon

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Kim So Eun / Kim Myung Hui

Other Cast :

  • Shim Changmin
  • Kim Sung Yeol / Kim Jaejoong
  • Cha Yang Sun
  • Jessica Jung
  • Lee Yoobi
  • Cha Min Seo
  • Kim Won Ill

 

Category : Fantasy, Romance, Sad.

 

************Happy Reading************

 

Preview..

 

“Myung Hui-ah..” kata itu terucap dari bibir Kyuhyun. Sungguh ia begitu merindukan Myung Hui. Nyawanya seakan melayang saat ia mendengar berita Myung Hui yang menghilang kemarin. Dan kini ia bisa bernafas lega saat melihat yeoja yang dicintainya itu dalam keadaan baik-baik saja.

 

“Hamba tidak sengaja bertemu dengan putri Myung Hui di taman istana jeonha. Sung Yeol bilang pada hamba jika putri Myung Hui datang ke istana untuk mengunjungi anda.” Jelas Won Ill dengan kepala tertunduk. Memang seperti ini seharusnya saat berbicara pada sang raja.

 

*

 

“Apa yang kau pikirkan eoh ?”

 

“Aku hanya sedang lapar orabeoni.” So Eun mencoba mencari alasan untuk menghindari hujan petanyaan dari ‘orabeoni’-nya itu.

 

‘Huh..sampai kapan aku berada disini ?’ batin So Eun.

 

*

 

“Apa sebaiknya kita singkirkan saja cenayang itu menteri Kim ?” sama seperti hari-hari biasanya. Keempat pejabat istana yang telah berkhianat dengan pemerintahan raja itu melakukan pertemuan untuk membicarakan rencana mereka. Bong Sa Nom, Lee Chang Suk, Yoo So Bang, dan Cha Yang Sun. Mereka berempat adalah lakon dari pemberontakan di kerajaan 10 tahun yang lalu. Namun karena segala macam akal busuk dan rencana licik, mereka berempat selalu lolos dari kecuriagaan raja.

 

“Biarkan saja cenayang itu mengatakn apa yang ingin ia katakan. Aku jamin sama sekali tidak akan mempengaruhi posisi kita. Cukup siapkan kata-kata yang tepat dan semuanya akan terselesaikan.”

 

“Bukankah lebih baik membiarkan se-ekor ayam menikmati kebebasannya lebih dulu, baru setelah itu kita jadikan ayam itu sebagai umpan.”

 

‘Tunggu tanggal mainnya Jusang Jeonha.’

 

***Found You In Joseon***

 

Istana akan selalu terlihat sibuk sekalipun terik matahari begitu menyengat. Tidak ada alasan bagi mereka untuk menunda-nunda pekerjaan. Bisa di bilang, tubuh dan tenaga mereka telah digantikan oleh sepetak tanah sebagai jaminan di awal mereka mulai bekerja untuk keluarga kerajaan. Pertanyaannya sekarang, apakah mereka semua benar-benar menjadi pekerja setia keluarga Raja ?.

 

Langkahnya makin cepat meninggalkan ruang peristirahatan Raja. Raut wajahnya menunjukkan kewaspadaan terhadap sekitar. Sesering mungkin dayang itu menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Tugas besar dengan nyawa sebagai taruhannya, itulah yang membuatnya gugup sekaligus ketakutan disini. Keringat dingin membasahi telapak tangannya yang terkepal erat di sisi tubuhnya saat kakinya melangkah memasuki Istana Ratu.

 

“Ratu sudah menunggumu di dalam. Sebaiknya kau membawa apa yang ratu minta jika kau masih sayang dengan nyawamu.” Dayang itu semakin bergetar setelah mendengar ucapan Dayang Suh –Dayang Ratu Cha-. Satu per satu pintu di depannya terbuka. Terasa begitu berat bahkan untuk melangkah masuk. “Masuklah.”

 

“N..N-nde.” Suaranya bergetar, begitu pula tubuhnya seiring dengan langkah kecil yang ia ambil. Kepalanya tertunduk sejak tadi seolah beban yang begitu berat telah mengunci kepalanya hingga tak mampu lagi untuk ditegakkan. Dan sampailah ia di hadapan Ratu Joseon, Cha Min Seo.

 

minseo-120223cinethemoon04

 

“Hormat hamba Junjong-mama.” Dayang muda itu menunjukkan rasa hormatnya kepada Min Seo begitu kakinya berhasil dengan sempurna melangkah masuk ke dalam ruang peristirahatan Ratu.

 

“Kau cukup berani membuat Ratu Joseon menunggu, Dayang Na.” Lembut namun menusuk, setiap kata yang terucap olehnya bagaikan belati yang secepat kilat menusuk tubuh dayang tersebut.

 

“J-jwesonghamnida Junjong-mama.” Dengan cepat Dayang Na, bersujud memohon ampun pada Min Seo. Keringat dingin berkucuran di setiap inci tubuhnya. Ratu ini benar-benar menakutkan. “Tidak sepantasnya dayang rendahan seperti hamba membuat Junjong-mama menunggu. Hamba pantas mati Mama.”

 

“Baguslah jika kau menyadari kesalahanmu. Sayang sekali, nyawamu masih kubutuhkan.” Setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah menjadi mantra sihir yang bisa saja membuat nyawa orang lain melayang. “Cepat katakan, apa saja yang kau dengar di Istana Raja. Katakan tanpa ada yang tertinggal.”

 

“Sejauh yang hamba dengar, Cenayang Jang membicarakan suatu hal yang berkaitan dengan mantra hitam pada jeonha. Cenayang Jang mengatakan bahwa penyakit Changmin jeonha dan Sejang jeonha adalah akibat dari mantra hitam.”

 

“Lalu, apa cenayang itu menyebut nama seseorang ?”

 

“Animnida Mama.”

 

“Baiklah. Mulai sekarang, kau tidak lagi bekerja untuk Raja jadi tidak ada alasan kau merasa menjadi pengkhianat dan terus ketakutan seperti ini. Arraseo ?” lengkap dengan senyum manisnya, Min Seo mengakhiri mantra kematiannya. Dayang muda itu hanya bisa tertunduk dengan wajah pucat dan tubuh yang bergetar.

 

joseon-the-moon-that-embraces-the-sun-e19-9

 

“A..A-algeseumnida Mama.”

 

“Pergilah.”

 

“Hamba mohon undur diri Junjong-mama.” Percaya atau tidak tapi moment inilah yang paling ia tunggu dari awal ia masuk ke Istana Ratu. Daripada masuk, dayang itu lebih memilih untuk keluar dan sebisa mungkin menjauhi Istana Ratu. Istana ini hanya berisi orang-orang jahat yang hanya peduli dengan kesenangan mereka saja. Seperti itulah menurut pandangannya.

 

“Ahh satu lagi.” Hingga suara lembut namun tajam itu kembali memenuhi ruang kecil ini. Dayang Na mematung ditempatnya. “Jaga sikapmu di hadapan Raja. Atau jika sampai Raja mencurigaimu karna tingkah bodohmu, akan kupastikan bukan hanya nyawamu yang hilang di hari itu. Tapi seluruh keluargamu akan menerima hukumannya.”

 

“Ye allgeseumnida Mama.” Selepas kepergian Dayang Na, Min Seo memerintahkan salah seorang pengawalnya untuk menemui Cha Yang Sun.

 

minseo-moon19-00103

 

“Panggil menteri Cha sekarang. Pastikan tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini.”

 

“Ye Mama.” Seperti yang telah diperintahkan. Dengan bantuan orang dalam yang juga berada di pihak Cha Yang Sun dan yang lainnya. Pengawal itu dengan mudah keluar masuk Istana tanpa ada satu orangpun yang menaruh curiga terhadapnya.

 

Wajahnya memucat, merah pada bibirnya kini pudar dan berubah menjadi warna putih kusam. Tatapannya menajam. Seluruh tubuhnya bergetar bahkan terasa sulit untuk digerakkan. Ketakutan yang tiba-tiba menyerangnya membuat Min Seo merasa terancam.

 

“Cenayang itu. Aku harus segera menyingkirkannya.”

 

***Found You In Joseon***

 

Menginjak sore, So Eun dan Sung Yeol meninggalkan istana. Keduanya berjalan bersisihan menyusuri pasar yang akan selalu buka hingga malam. Mengingat bahwa ini pusat kota dan pelanggan akan selalu datang setiap waktunya.

 

Tidak ada percakapan serius sejauh ini, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Atau lebih tepatnya, hanya So Eun yang sibuk berpikir saat ini. Sementara Sung Yeol, bukan kebiasaannya menjadi cerewet jika sedang bersama dengan anggota keluarganya. Kim Sung Yeol hanya akan dikenal sebagai putra yang bijak dalam berbagai hal. Tidak banyak bicara, dan hanya saat tertentu saja suara cemprengnya itu terdengar di lingkungan keluarganya.

 

Kim Sung Yeol adalah sosok yang penyayang sebenarnya, terlebih lagi pada adik perempuannya. Satu-satunya adik yang begitu ia jaga setiap saat. Jika boleh jujur, Sung Yeol telah mengabdikan jiwanya untuk melindungi sang adik suatu saat nanti jikalau keadaan genting tiba-tiba muncul. Betapa sayangnya Kim Sung Yeol pada adiknya, Kim Myung Hui.

 

Berat mengatakannya, tapi kau telah kehilangan adikmu yang sesungguhnya Kim Sung Yeol. “Hui-ah.” tak tahan dengan keheningan yang mereka ciptakan. Sung Yeol mencoba mencari topik ringan untuk menemani perjalanan mereka.

 

“Hmm ?” So Eun yang sejak tadi sibuk menghitung langkah kakinya sejak ia keluar gerbang istana. Teralihkan ketika Sung Yeol memanggil nama itu. Nama yang saat ini ia gunakan, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau seperti orang bodoh Kim So Eun.

 

“Apa yang kau lakukan ?” penasaran melihat begitu seriusnya So Eun sejak tadi membuat Sung Yeol bertanya-tanya.

 

“Ani, hanya menghitung langkah kakiku.”

 

“Apa itu menyenangkan ?.”

 

“Tidak juga.” So Eun terus melanjutkan langkahnya seiring dengan menjawab satu per satu pertanyaan yang Sung Yeol ajukan.

 

“Berapa langkah yang kau dapat ?”

 

“Sejauh ini 60 langkah. Wae ?” So Eun memutuskan untuk berhenti saat Sung Yeol tak berada di sampingnya lagi. Kakak masa depannya itu kini 2 langkah di belakangnya.

 

TUKK !!!

 

“Awww…YAKK Oppa appo. Kenapa kau menyentilku ?. Waeirae ?” So Eun tak habis pikir kenapa Sung Yeol menyentil dahinya. Cukup keras hingga terasa panas. Heoll orang ini sangat menyebalkan sejak dulu. Batinnya.

 

“Ige..ige, kau berani membentak kakakmu eoh.” So Eun mengerucutkan bibirnya, merajuk. “Itu hukuman untukmu karena mengabaikan kakakmu ini.”

 

So Eun membuang nafas kesal sebelum menjawabnya. “Kapan aku mengabaikanmu oppa ?, sejak tadi aku menjawab dengan baik setiap pertanyaan yang oppa ajukan.”

 

“Dwesseo. Mian, aku hanya ingin menggodamu saja Hui-ah.” Tanpa merasa bersalah Sung Yeol berjalan mendahului So Eun yang terbengong di tempatnya.

 

‘Aigo..aigo..aigo.. Kim Jaejoong, tunggu pembalasanku nanti.’ So Eun melanjutkan langkahnya mengikuti Sung Yeol. Setidaknya mulutnya itu tidak berulah lagi saat ini. Batin So Eun merasa bersyukur, karena jika kali ini ia mendengar kicauan Sung Yeol lagi. Maka tidak bisa ditolerir lagi kesabarannya ini.

 

“Dan lagi..” So Eun bersiap mengeluarkan sumpah serapahnya untuk membuat mulut cerewet Sung Yeol berhenti mengoceh. Hingga telinganya menangkap kalimat selanjutnya, “Kau terus saja memanggilku ‘Oppa’, apa itu semacam ejekkan ?. Darimana kau mempelajari bahasa itu ck ck ck..” Umpatannya kembali tertelan saat mendengar kelengkapan kalimat Sung Yeol. Kekesalannya kini berhamburan pergi entah kemana. Otaknya terfokus untuk mencari jawaban yang dapat Sung Yeol terima nantinya tanpa memunculkan serentetan pertanyaan yang lain.

 

“Keugae… Mmmm..” cukup lama So Eun mencari alasan yang tepat, namun otaknya gagal untuk diajak kompromi. Sejauh ia mencari, hanya jalan buntu yang ia temukan.

 

“Wae ?. Kau tidak bisa menjawabnya ?.”

 

“Ani, aku..” matanya berkeliaran hingga akhirnya terpejam, memaksa otaknya berpikir kerasa apa yang sepantasnya ia katakan. Berpikir Kim So Eun, berpikirlah jebal. Batinnya menjerit.

 

“Hui-ah..”

 

“Mimpi.” Satu kata yang keluar tanpa sadar dari mulutnya memotong kalimat yang akan Sung Yeol katakan. ‘Hui-ah dwesseo.’ Kalimat itu seharusnya terucap tadi.

 

“Mimpi ?”

 

“Ye, aku memimpikannya semalam. Seseorang memanggil kakak laki-lakinya dengan panggilan oppa. Karena terdengar aneh, tanpa sadar aku terus memikirkan kata itu hingga tak sadar saat mengucapkannya.” Daebak, darimana semua kalimat itu muncul Kim So Eun. Batinnya takjub pada kemampuan otaknya sendiri.

 

jaejoong-760b3c29gw1du28ck681wj

 

“Jinjja ?. Kenapa aku merasa bahwa….”

 

“Wuaahhh..” So Eun memotong ucapan Sung Yeol dengan mengalihkan perhatian ke arah sederetan souvenir yang dijual di pasar. Melihat betapa semangatnya adiknya itu menjelajahi tiap stand yang berjejer, membuat Sung Yeol tertarik untuk mengikuti kemanapun adiknya itu singgah.

 

“Orabeoni lihat. Otte ? Na yeppeo ?” So Eun yang semula hanya ingin mengalihkan perhatian, kini justru menaruh minat pada hiasan rambut yang dijual di salah satu stand di pasar. Nalurinya dalam hal membeli barang memang patut di acungi jempol.

 

Sung Yeol menggeleng sebagai jawabannya. Tanpa sepatah katapun Sung Yeol mengambil hiasan rambut yang ada di tangan So Eun. Menggantinya dengan hiasan rambut yang lain. “Cobalah.”

 

So Eun menempatkan wajahnya di depan cermin. Jepit rambut berbentuk bunga teratai berwarna ungu dengan burung phoenix diatasnya. “Otte ?. Kau menyukainya ?”

 

“Yeppeoda, nan cheowa. Orabeoni kamsahamnida.” So Eun tersenyum lepas disana. Wajah cantiknya terpantul jelas di dalam cermin. Melihat adik kesayangannya tersenyum membawa kebahagiaan tersendiri bagi Sung Yeol. Ia merasa sedikit demi sedikit telah berhasil menjadi sosok kakak yang baik dan sempurna untuk sang adik.

 

“Kajja.” Hari semakin gelap. Matahari semakin gencar bersembunyi di balik bukit menuju peraduannya. Sung Yeol dan So Eun melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Tidak jauh lagi untuk sampai ke rumah keluarga menteri Kim, hanya tinggal satu belokkan lagi. Hingga..

 

Meong..!!!

 

Suara seekor kucing menghentikan langkah keduanya. “Hui-ah, menjauhlah. Orabeoni akan segera kembali.” Sung Yeol dengan sigap menghampiri kucing dengan bulu putih susu itu, berniat memindahkannya sejauh mungkin dari adiknya. Sementara itu So Eun hanya terdiam tak mengerti apa maksud ucapan Sung Yeol.

 

“Orabeoni wae ?” penasaran dengan apa yang Sung Yeol lakukan. So Eun melangkah mendekat untuk mengetahui apa yang Sung Yeol sembunyikan di balik tubuhnya itu.

 

“Ani..ani Hui-ah. Menjauhlah. Ini hewan yang kau takuti.” So Eun justru makin penasaran. Hewan yang ia takuti adalah ular dan serangga. Mungkinkah itu ular ?. Aneh, ular adalah hewan yang ditakuti semua orang. Lalu kenapa Sung Yeol berani mendekatinya. Lebih musthail lagi jika yang tersembunyi di balik tubuh besar itu adalah serangga kecil.

 

So Eun semakin gencar mendekat. Kepakan ekor berwarna putih tertangkap oleh mata almond-nya. “Omoo..” So Eun begitu terkejut hingga tak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk beberapa saat.

 

Sung Yeol menghembus nafas kesal, usahanya untuk terlihat seperti kakak yang baik dan perhatian gagal sudah. Dan itu semua karena orang yang sangat ingin ia lindungi. Kim Myung Hui. “Geurae, itu adalah seekor kucing. Hewan yang paliiinngg kau takuti. Dwesseo, kajja kita pulang. Kau bisa gatal-gatal jika terlalu lama dekat dengan ku-”

 

“Kyeopta..” Sung Yeol buru-buru membalikkan tubuhnya tatkala melihat So Eun dengan cepatnya menghampiri kucing itu. So Eun duduk tepat di depan kucing yang tengah menikmati makanannya.

 

“Yak..yak.. apa yang kau lakukan eoh. Cepat kesini. Ppalli.” Sung Yeol menghentikan aksi So Eun yang hendak mengusap kepala kucing liar itu.

 

“Wae ?. Bukankah dia lucu. Hwaaa kyeopta.” So Eun kentara menunjukkan raut tertariknya. Kim So Eun memanglah pecinta hewan berbulu itu. Sejauh ini, ia telah memelihara 3 ekor kucing dari jenis yang berbeda tiap ekornya.

 

“Hui-ah, berhenti bermain-main. Kajja kita pulang. Menjauhlah dari kucing itu, aigoo.” Sung Yeol menarik tangan So Eun untuk mengajaknya pulang. Namun, tangan yang hendak dipegangnya itu justru bergerak mengelus bulu kucing di depannya. “YAK KIM MYUNG HUI..”

 

So Eun terperanjat mendengar bentakan Sung Yeol. So Eun terkejut melihat Sung Yeol semarah ini hanya karena seekor kucing. Hewan yang begitu ia sukai. Bahkan Jaejoong tidak pernah membentaknya. Ini pertama kali selama 20 tahun ia hidup ada orang yang membentaknya. “Apa yang kau lakukan ?. Apa kau bodoh. Kenapa kau menyentuh hewan yang bisa mencelakimu. Berapa kali aku memperingatkanmu tadi eoh ?.”

 

“Bagaimana bisa seekor kucing mampu mencelakaiku ?. Menyebalkan.” So Eun berlalu begitu saja dari sana. Ia kesal, marah, sedih, dan kecewa semuanya berkumpul menjadi satu diwajahnya. Terlepas dari fakta bahwa ia tidak tahu kemana tepatnya ia harus pergi, namun rasa kesalnya menuntunnya untuk terus melangkah maju.

 

Sementara di arah yang berlawanan, Sung Yeol terdiam di tempatnya. Ia merasakan suatu keganjalan disini. Begitu banyak pertanyaan dan tanda tanya muncul di benaknya. Pandangannya silih berganti memandang punggung So Eun yang makin menjauh dan kucing liar itu. Aneh. Batinnya.

 

jaejoong-tuong-quan-jae-joong-thu-sinh-voi-hanbok-379520

 

***Found You In Joseon***

 

Dibalik keheningan malam di istana. Tersembunyi mereka para pengkhianat dengan sejuta rencana jahatnya. Cha Yang Sun bersama dengan 3 menteri lainnya terlihat meninggalkan istana. Bagi mereka para pemberontak yang gila kekuasaan, mengadakan sebuah pertemuan saat kedoknya hampir terbongkar adalah suatu kewajaran. Cha Yang Sun bersama dengan menteri yang telah memutuskan untuk mengkhianati sang Raja akan berkumpul untuk menyusun rencana jahat mereka di kediaman Cha. Di malam yang larut dengan sinar bulan sabit yang meredup diatas sana karena tutupan awan, benar-benar memudahkan para menteri pengkhianat itu untuk bebas keluar masuk istana tanpa takut ketahuan.

 

“Tidakkah kita terlalu santai dalam menanggapi masalah ini Cha daegam ?” ujar Yoo So Bang dalam perjalanannya menuju kediaman Cha.

 

“Diluar dugaan kita bahwa cenayang itu akan membongkar semuanya secepat ini. Sebelum semuanya terbongkar, haruskah kita menyingkirkan cenayang itu ?” sahut Bong Sa Nom menimpali.

 

“Jangan membuatnya semakin kentara menteri Bong. Sekalipun penyebabnya terbongkar, namun cenayang itu tidak akan pernah bisa mengetahui dalang di balik semua ini. Semuanya hanya akan sia-sia tanpa adanya bukti.” Dengan santai dan wajahnya yang datar Cha Yang Sun menjelaskan semuanya kepada 3 rekannya.

 

“Keundae daegam, jika mereka menemukan dukun itu maka akan ada bukti untuk mengetahui dalang dari semua ini.”

 

“Hahahaha…” Cha Yang Sun tertawa sumbang mendengar ucapan Lee Chang Suk. Membuat ketiga rekannya mengerutkan kening. “Mungkinkah orang yang sudah mati bisa memberi kesaksian ?.” langkah mereka terhenti. Raut terkejut begitu kentara di wajah ketiga rekannya.

 

“A..a-apa maksudmu daegam ?” Cha Yang Sun tidak berniat untuk menjawabnya. Ia terus saja melanjutkan langkah meskipun 3 menteri lainnya masih terdiam penuh tanya di belakangnya.

 

Cha Yang Sun selalu bertindak lebih cepat dari siapapun.

 

***

 

Seperti apapun bentuknya, bulan yang menggantung di langit malam akan selalu memikat hati Kyuhyun. Memandang langit malam seperti yang tengah ia lakukan saat ini adalah kegiatan rutinnya sebelum tidur. Merekam bentuk bulan, sinar indahnya yang paling bersinar di antara ribuan bintang yang menemani. Membawanya ke alam bawah sadarnya untuk menjadi mimpi yang indah nantinya.

 

Bukan tanpa alasan Kyuhyun begitu menyukai bulan. Alasan yang begitu kuat telah tertanam di dalam pikirannya setiap ia melihat bulan. Raja Sejong pernah mengatakan bahwa Sang ibu suri akan selalu mengawasinya dari atas sana.

 

‘Saat kau merindukannya –Ibu Suri- pandanglah bulan disana. Ibu Suri selalu memperhatikanmu dari sana jeoha.’ Kalimat yang memberinya alasan kuat, betapa Kyuhyun sangat menanti munculnya bulan di malam hari.

 

“Omamama, dia telah kembali.” Senyum yang telah lama menghilang dari wajah tampannya, kini kembali bersinar secerah sinar bulan malam itu.

 

“Orang yang sangat aku cintai melebihi nyawaku sendiri telah kembali dengan selamat omamama.” Kyuhyun meluapkan rasa senang yang ia rasakan seharian ini. Rasa lega yang mendominasi hati dan pikirannya, terlalu besar rasanya untuk ia simpan sendiri.

 

“Jika saja Myung Hui kembali lebih awal.” Tak mampu ia tutupi perasaan menyesal akan keputusannya sendiri. Seharusnya ia menunggu sedikit lebih lama. Maka takdir bahagia itu akan hinggap dalam hidupnya.

 

Namun, Kim Myung Hui yang saat ini kembali padamu hanyalah bayangan semu Cho Kyuhyun. Akan tiba saatnya gadis itu kembali ke asalnya. Kim So Eun tidak di takdirkan untuk hidup di masa ini.

 

***

 

“Jadi maksudmu dukun itu …”

 

“Menurutku kau cukup pintar untuk menebaknya Yoo So Bang.” Cha Yang Sun menikmati minumannya tanpa beban sedikitpun. Seakan-akan menghilangkan nyawa orang lain itu adalah hal yang biasa.

 

“Keundae daegam, mungkinkah kau membunuhnya sebelum dukun itu mengirimkan mantra hitamnya pada putri menteri Kim ?” Pertanyaan yang Yoo So Bang ajukan berhasil membuat suasana menegang. Cha Yang Sun teringat akan satu lagi masalah yang sesegera mungkin ia selesaikan. Menyingkirkan Kim Myung Hui tentu saja.

 

“Geurae, Cha daegam putri menteri Kim terlihat baik-baik saja. Mungkinkah dukun itu belum melakukan tugasnya ?.” jelas Lee Chang Suk.

 

“Itulah yang harus kita cari tahu. Mustahil jika dukun itu belum menyingkirkan Kim Myung Hui. Kalian bahkan melihatnya sendiri saat dukun itu mengucap mantra hitamnya.”

 

“Aneh. Lalu bagaimana bisa anak itu terlihat baik-baik saja.”

 

“Kalian ingat satu hari menjelang pernikahan kerajaan, anak itu dinyatakan menghilang. Bukan tanpa alasan gadis itu menghilang tanpa jejak.” Keempatnya kembali memutar memori otak masing-masing. Kejadian itu masih terekam jelas di otaknya. Awal dari terbukanya kemudahan dari rencana besarnya.

 

“Kau benar. Kurasa ada yang salah disini.”

 

“Apapun itu, kita harus menemukannya. Jika perlu, kita singkirkan gadis itu dengan pedang kita sendiri.” Keinginan untuk berkuasa dan haus akan kemenangan telah mendominasi relung hati Cha Yang Sun dan ketiga menteri lainnya. Untuk mengakhiri nyawa seseorang pun seakan menjadi permainannya setiap hari.

 

“Haruskah kita bergerak malam ini juga Cha daegam ?” pertanyaan yang seolah menjadi tawaran ‘akankah kita memulai permainannya sekarang ?’ itu berasal dari mulut Lee Chang Suk.

 

“Tunggulah sebentar lagi. Jika keberadaan gadis itu belum mengancam, jangan menyulut api yang akan membahayakan kita. Bukankah memadamkan api yang mulai mengobar lebih penting sekarang ?” Kata-katanya yang ambigu mampu mengundang lipatan-lipatan di dahi ketiga rekannya. Mencoba menerka rencana jahat apalagi yang tengah ia rencanakan.

 

Ekspresinya yang tenang mampu menipu setiap orang. Cha Yang Sun bukanlah orang yang ekspresif, entah ketika ia sedang berpikir atau melakukan rencana jahat ekspresinya hanya akan datar seolah tak terjadi hal apapun. Topeng yang sangat mendukung disetiap geraknya.

 

Dapuk kekuasaan telah menggelapkan hati dan akal sehat mereka. Nyawa tak bersalah menjadi mainan yang bisa dibuang kapan saja jika itu mengancam. Rencana jahatnya akan selalu membutuhkan nyawa seolah-olah sebagai kunci suksenya. Satu nyawa, maka jalan menuju kursi tertinggi itu semakin dekat. Melupakan takdir hidup yang telah Sang Kuasa atur sedemikian rupa sehingga menjadi alur cerita yang sesuai. Namun apa daya jika nafsu telah mengalahkan hati kecilnya.

 

***Found You In Joseon***

 

Di waktu yang sama, So Eun merenung di depan sinar bulan yang menyorot wajahnya. Untuk yang kesekian kalinya, gadis berumur 22 tahun itu menghembuskan nafas besar. “Apa yang sebenarnya terjadi ?. Nan eoddiga ?.” So Eun seolah tersadarkan dari mimpi panjangnya. Akal pikirnya kini telah sepenuhnya kembali dan membuatnya sadar bahwa kehidupan yang ia jalani sebagai Kim Myung Hui selama 3 hari ini bukanlah skenario drama ataulah mimpi. Dirinya benar-benar berada di zaman Joseon. Di zaman nenek moyangnya, bahkan harabeoji dan haelmoni-nya belum lahir.

 

Bagaimana bisa ia terseret masuk ke zaman ini. Itulah pertanyaan yang terus berputar bak roll film di dalam otaknya sejak tadi. Ia mulai yakin bahwa semua ini nyata terjadi padanya saat tanpa sengaja ia melukai jari telunjuknya karena pisau petang tadi. Jika ini semua hanya mimpi maka rasa sakit yang ia rasakan akan membuatnya terbangun, namun jika ini adalah skenario film yang tengah ia lakoni maka syuting ini akan terhenti sejak ia mendapatkan luka akibat ketidak sengajaannya tadi. Keundae, sampai bulan berjalan melintasi langit malam semua ini tetap pada posisinya. Ia sebagai Kim Myung Hui dan adegan ini tidak terjeda sedikitpun.

 

Kembali ia membuang nafas kasar, mulai kesal dengan apa yang terjadi sekarang. Sebelumnya ia sempat bersyukur karena terhindar dari skripsi dan tugas-tugas dari dosen killer itu. Namun, sesaat berikutnya ia merasakan kerinduan yang teramat sangat pada keluarganya. Keluarga yang sesungguhnya.

 

“Aku ingin kembali. Aku merindukan keluargaku.” Lirih So Eun mengutarakan harapannya. Mata almond-nya menatap lurus bulan sabit diatas sana. Matanya terpejam untuk beberapa saat kedepan, kedua tangannya menyatu dengan jari-jari lentik pada tangan kanan yang menyelip disela jari tangan kirinya. Berdoa dalam hati.

 

‘Jika kau bisa mendengarku. Maka jawablah semua pertanyaan ini. Kenapa aku ada disini ?. Bagaimana bisa aku terseret masuk ke zaman ini ?. Kenapa harus aku ?. Semua ini mustahil. Ini hanya mimpi kan. Siapapun bangunkan aku dari mimpi panjang ini. Aku…’

 

“Hui-ah.” Pandangannya beralih menatap sayu langkah namja dengan hanbok berwarna merah maroon yang berjalan menghampirinya.

 

‘Aku benar-benar tidak mengenal mereka.’ Hatinya menjerit, ia bingung harus apa dengan orang-orang asing ini. Mendadak So Eun linglung apa yang sebaiknya ia lakukan sekarang.

 

“Apa yang kau lakukan diluar sini ?.” Sung Yeol menempatkan dirinya di samping So Eun yang terus menerus meamndangnya dengan pandangan sayu. Ada apa dengan adiknya ini. Batinnya penuh tanya.

 

Bibirnya terkatup, terasa berat untuk mengucapkan satu kata sekalipun. So Eun mengangkat tangan lemahnya menyentuh wajah Sung Yeol. ‘Nuguseo ?.’ batinnya menangis. So Eun merasa begitu merindukan keluarganya yang sesungguhnya. Bahkan Kim Jaejoong, namja yang ditakdirkan menjadi kakaknya di masa depan, yang selalu membuatnya berteriak setiap hari. So Eun begitu merindukannya. “Bogoshipeo..”

 

Seiring dengan tetesan liquid bening yang jatuh meluncur dari kelopak matanya, kata itu terucap. “Wae geurae ?. Apa yang terjadi hm ?.” Sung Yeol agaknya dibuat terkejut, tanpa sebab dan alasan adiknya itu meneteskan air mata. Dengan nada yang lembut, Sung Yeol bertanya. Tetap tidak ada jawaban. Tangan kanannya terangkat mengusap surai hitam yang terkepang rapi itu, Myung Hui akan selalu merasa tenang dan lebih baikan saat seseorang mengusap kepalanya seperti saat ini. Anehnya kebiasaan itu juga berlaku pada So Eun.

 

Perasaannya mulai tenang, tidak setegang tadi. “Ulljimma Hui-ah.” Mereka semua jelas orang asing untuknya, namun kasih sayang yang diberikan oleh keluarga ini membuatnya merasa seakan-akan berada di tengah-tengah keluarganya sendiri. “Masuklah, eomma dan abeoji sudah menunggu kita untuk makan malam.” Tanpa menjawab dengan kata-kata, So Eun mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah. Di ikuti Sung Yeol dibelakangnya.

 

Ia sadar sekarang, semuanya benar-benar asing untuknya. Tidak hanya satu dua pertanyaan yang terkumpul di otaknya. Sejauh ia memandang sekitar, semuanya terlihat nyata bukan karena settingan semata. ‘Harusnya kau sadari itu sejak kemarin Kim So Eun. Kau benar-benar bodoh.’

 

“Siksa hasipsio (selamat makan)” Sung Yeol dengan penuh semangat menyantap hidangan yang telah Nyonya Kim sediakan. Sesekali ia meletakkan beberapa lauk ke dalam mangkuk nasi milik So Eun. Adiknya itu terlihat tak berselera makan.

 

“Hui-ah, neo appo ?” suara lembut khas keibuan itu keluar dari mulut Nyonya Kim. Sejak tadi, dalam diam Kim Eun Hye memperhatikan putri semata wayangnya itu. Sebagai seorang ibu, sudah sepatutnya ia khawatir akan keadaan atau hal apapun yang menyangkut kedua anaknya sekalipun mereka berdua sudah berada di umur yang kita yakini bisa menjaga dirinya sendiri. Namun perhatian orang tua masih dibutuhkan disini. “Kau tidak terlihat baik-baik saja sayang. Cepat habiskan makananmu dan istirahatlah.”

 

“Ye eomma.” So Eun menyantap makanannya setengah berselera. Memikirkan bagaimana ia akan menjalani kehidupannya besok membuatnya kehilangan selera makan. Sekalipun perutnya sudah menjerit menyuarakan protesnya sejak tadi, So Eun lebih memilih menulikan telinganya dan terfokus pada pertanyaan yang memenuhi ruang pikirnya. Bagaimana caraku kembali .

 

Semangkuk nasi, hanwoo, tumis touge dengan kecap ikan, kacang hitam, dan sejenis sayur-sayuran yang di fermentasi atau yang lebih ia kenal dengan kimchi menjadi makanan yang paling ia minati. Tak perlu menunggu menit berganti, So Eun mengisi ulang energi tubuhnya dengan semua yang mampu ia lihat dan jangkau dengan sepasang sumpitnya. “Siksa hasipsio.” So Eun mulai melahap makanannya. Ia butuh energi untuk menyelidiki semua yang terjadi padanya. Ia butuh asupan untuk berpikir dan mencari jalan keluar dari sini.

 

“Makanlah ini sayang, kau terlihat lebih kurus dari biasanya.” Kim Eun Hye meletakkan sepotong hanwoo ke dalam mangkuk nasi So Eun. So Eun tidak langsung memakannya, terlebih dulu ia menambahkan kimchi dan kacang hitam sebagai pelengkapnya. Baru setelah semua makanan itu tertata rapi di atas sendok kayunya, So Eun melahapnya tanpa sungkan. Kim So Eun adalah gadis yang sangat menjaga bentuk tubuhnya, namun keadaannya saat ini memaksanya untuk mengingkari progam diet sehatnya.

 

So Eun melahap makanannya tanpa peduli keadaan sekitar. Menteri Kim, Kim Eun Hye, dan Sung Yeol menatap cara makan So Eun penuh heran. Cukup lama mereka memandangnya namun So Eun terlihat memakannya dengan penuh kesadaran. Bukankah putrinya itu sangat tidak menyukai kacang hitam.

 

“Yak Kim Myung Hui, sejak kapan kau menyukai kacang hitam ?.” tanya Sung Yeol. Sedikit khawatir melihat selera makan adiknya yang berubah hampir keseluruhan. Kim Myung Hui yang tidak begitu menyukai sayuran, kini terlihat begitu minat pada kimchi. Kim Myung Hui yang sangat-sangat tidak suka kacang hitam, justru terlihat begitu santai saat memakannya. Ada apa dengan anak ini sebenarnya, sejak kemarin ia melihat hal-hal baru dalam sosok adiknya.

 

“Huh ?” So Eun merasa ada yang ganjal disini, saat matanya menangkap pandangan aneh yang terpancar dari mata setiap orang di ruangan ini. So Eun menghentikan makannya. Apalagi sekarang ?. batinnya menjerit pilu.

 

“Huaaaa kenyangnya. Abeoji, eomma, orabeoni sepertinya perutku sudah terisi penuh. Dan sekarang seperti yang eomma katakan, aku akan istirahat. Annyeonghi Chumusipsiyo (Selamat beristirahat).” So Eun berlalu meninggalkan ruangan penuh ketegangan itu. Ia yakin sepenuhnya bahwa saat ini, mereka semua akan curiga padanya. Namun, untuk saat ini lebih baik menghindar lebih dulu daripada ia menjawab asal yang justru menimbulkan masalah untuknya.

 

“Ahh molla molla.. Kim Myung Hui, kenapa hidupmu begitu rumit. Aishhh jinjja.” Istirahat sejenak benar-benar ia perlukan sekarang untuk menjernihkan pikirannya. Dan malam itu berakhir untuknya. Hari yang berat dan memberatkan pikiran bagi Kim So Eun. Si gadis langit yang terseret ke dalam masalah di masa lampau, menjadi takdir khusus untuknya terlibat dalam sebuah peristiwa yang nantinya akan tercatat dalam sejarah dunia di masa depan. Hal yang tak pernah ia sangka akan terjadi dalam hidupnya, dan kejadian yang tak terduga akan menantinya disini.

 

***

 

Tepat di bawah langit malam, ditemani angin malam yang berhembus pelan namun begitu kentara menyentuh tulang. Sung Yeol berdiri dengan kedua tangan yang tertaut di belakang tubuhnya, dan menatap hamparan bintang yang berkelap-kelip di atas kepalanya. Malam telah larut namun Sung Yeol belum bisa memejamkan matanya. Hatinya resah sehingga otaknya menolak untuk diajak beristirahat.

 

Ingatannya kembali memutar hal-hal aneh yang terjadi seharian ini. Berawal dari sore tadi, Myung Hui yang tidak lagi takut pada kucing. Aneh, Kim Myung Hui sangat membenci seekor kucing sejak kecil. Bahkan hal ini bukan lagi menjadi rahasia keluarga, semua orang sudah tahu hal ini termasuk penghuni istana. Tapi hari ini. Dan lagi, gadis cantik berumur 20 tahun itu tidak menyukai sayuran terlebih dengan kacang hitam karena sewaktu kecil, Myung Hui pernah tersedak kacang hitam hingga membuatnya sulit bernafas. Tapi bagaimana bisa semua hal itu bisa berubah dalam sehari. Kebiasaannya, traumanya selama bertahun-tahun tiba-tiba hilang dalam sehari. Mustahil.

 

“Tingkahnya begitu aneh hari ini. Apa dia sakit ?.” Sung Yeol bermonolog, memikirkan bebagai kemungkinan yang mungkin terjadi pada Myung Hui berkaitan dengan keanehannya hari ini.

 

“Tapi, apa mungkin orang yang sakit bisa melupakan kebiasaannya selama bertahun-tahun ?.” sejauh ia berpikir, tidak ada alasan yang menguatkan dugaannya. “Aku akan mencari tahu hal ini besok. Kim Myung Hui, ada apa denganmu sebenarnya ?.”

 

***Found You In Joseon***

 

Mentari kini telah menyambut pagi, menggantikan bulan yang telah menggantikan posisinya sebagai raja langit di malam hari. Kehidupan terus berlajut dengan kegiatan yang sama setiap harinya. Pedagang akan sibuk menawarkan dagangannya di pasar, dayang akan sibuk melayani anggota kerajaan, pengawal akan sibuk mengangkat pedang mereka untuk melindungi orang yang sudah seharusnya mereka lindungi. Lantas bagaimana kabar sang Raja pagi ini ?.

 

“Kau akan terus sendiri jika selalu memasang wajah kaku itu.”

 

“Hamba hanya tidak ingin keberadaan kita terlalu mencolok Jeonha.”

 

“Untuk hari ini saja, santailah Won-ah. Anggap kau tidak sedang bertugas menjaga seorang Raja sekarang. Disini aku adalah teman baikmu.”

 

“Ye jeonha.”

 

Hari ini Kyuhyun dan Won Ill melakukan penyamaran untuk bisa berbaur dengan rakyatnya dan memantau secara langsung kemakmuran rakyatnya. Penyamaran ini sudah biasa Kyuhyun lakukan bahkan raja-raja sebelumnya juga melakukan hal yang sama, seakan-akan hal ini sudah menjadi agenda rutin bagi Raja Joseon. Tentu saja penyamaran ini tidak ada yang tahu termasuk keluarga kerajaan kecuali mereka para pengawal khusus Raja.

 

“Won-ah, aku akan berkeliling sebentar.” Mengerti dengan maksud Kyuhyun, Won Ill menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan sebelum pergi meninggalkan Kyuhyun sendirian disana. Won Ill tidak benar-benar pergi sebenarnya, setiap Kyuhyun mengatakan hal semacam itu maka itu tandanya bahwa mereka harus jalan terpisah. Dalam keadaan seperti ini, Won Ill hanya bisa mengawasi Kyuhyun dari jauh.

 

Kyuhyun melanjutkan perjalanannya mengelilingi pasar di pusat kota pagi itu. Hari yang masih pagi membuat pasar dalam keadaan ramai pengunjung. Mata elangnya menyisir kesibukan yang terjadi disekitarnya. Hingga dirinya tertarik pada pertunjukan boneka tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Kyuhyun berdiri diantara para penonton lain yang terlihat begitu menikmati pertunjukan tersebut.

 

2 boneka tengah berlakon di atas panggung kecil dengan satu orang yang menggerakan boneka tersebut dari balik tirai. Yang satu mengenakan kostum Raja dan yang satunya lagi sebagai Ratu.

 

“Mwoya ?. Apa itu aku ?” Kyuhyun menajamkan pandangannya penasaran dengan wajah boneka yang baru-baru ini ia ketahui berperan sebagai dirinya. “Aku harus melihatnya lebih dekat.” Kyuhyun melangkah susah payah melewati sekerumpulan orang yang telah lebih dulu mendapatkan posisi di depan.

 

“Mwoya..”

 

“Hey, tempatmu di belakang..”

 

“Hati-hatilah tuan..”

 

“Hey kau menghalangi kami..”

 

Kyuhyun tak terlalu mempedulikan keributan yang ia ciptakan. Dengan wajah tak berdosanya, Kyuhyun mendudukan dirinya di posisi paling depan. Raut wajahnya menunjukkan keseriusan, begitu serius hingga tak peduli dengan omelan dari penonton yang lain.

 

“Naeuri, kau harus membayar untuk bisa duduk di depan.”

 

“Ini pertunjukkan umum, kenapa aku harus membayar untuk menonton pertunjukan ini ?.” Kyuhyun tidak menyangka jika ia harus mengeluarkan uang untuk mendapat posisi terdepan. Tidak ada pungutan pajak untuk mendapat kursi depan dalam pertunjukan umum. Ini melanggar aturan negara. Pikirnya.

 

“Hey tuan, membayar untuk duduk di depan itu sudah biasa kami lakukan. Bahkan orang lain tidak keberatan dengan hal ini, lalu kenapa kau yang bangsawn justru mempermasalahkannya ?.”

 

“Tidak ada pajak untuk pertunjukan umum. Apa kau tahu itu ?” Kyuhyun masih tidak mau kalah. Heol, selama karirnya melakukan penyamaran seperti ini, baru kali ini ia tahu tentang penarikan pajak hanya untuk kursi depan. Kursi ?, ayolah dia hanya duduk beralaskan kulit bagaimana bisa disebut kursi.

 

“Ini bukan pajak. Ini adalah cara kami mencari uang untuk makan Tuan. Sudahlah jika kau tidak mau mengeluarkan uangmu lebih baik pindahlah ke belakang. Masih banyak orang yang mengantri untuk duduk disini. Jinjja.” Kyuhyun tak habis pikir orang ini, rakyat biasa sepertinya mengumpat pada seorang raja. Apa dia baru saja mengumpat padaku. Rutuk Kyuhyun dalam hati.

 

“Yakkk.. apa kau tidak tahu siapa aku ?” Kyuhyun meninggikan suaranya, membusungkan dadanya dan menajamkan mata elangnya.

 

“Tentu saja aku tahu.” Jawab orang tersebut tanpa memakan waktu yang lama untuk berpikir, tak khayal membuat Kyuhyun terperanjat kaget. Apa dia tahu bahwa aku seorang Raja ?.

 

“Jinjja ?” Kyuhyun melemahkan suaranya berusaha mendapat kejelasan yang lebih pasti.

 

“Kau itu bangsawan yang pelit. Sudahlah.” Kyuhyun mendengus kasar. Ternyata itu maksudnya. “Baiklah berikutnya.” Seru orang tersebut, mengabaikan Kyuhyun yang masih kesal berdiri di hadapannya.

 

“Minggirlah tuan. Kau menghalangi jalanku.”

 

“Hey duduklah. Jinjja.”

 

“Berisik.”

 

Kesal dengan keadaan ini, Kyuhyun tidak lagi menaruh minta pada pertunjukan itu. Kesabarannya habis, waktunya terbuang sia-sia hanya untuk mendebatkan tempat duduk. Astaga, kenapa rakyatnya bersikap ganas seperti ini ?. Dan apa dia bilang barusan ‘Bangsawan pelit’. Huh, kau hanya belum tahu saja bahwa aku bisa menyewa semua ini untuk pertunjukan di Istana. Batin Kyuhyun terus saja merutuk. Harga dirinya sebagai seorang raja, harga diri yang begitu ia junjung tinggi selama masa hidupnya kini ia rasakan jatuh hanya karena pertunjukan boneka. Heol.

 

“Bisa gila aku jika terus memikirkannya.” Kyuhyun melangkahkan kakinya meninggalkan area tersebut, hari makin siang dan sebentar lagi menginjak waktu makan siang. Jika ia tidak segera kembali ke istana, maka semuanya akan menjadi rumit.

 

“Myung Hui ?.” langkahnya terhenti saat mata elangnya menangkap sosok yeoja yang akhir-akhir ini membuat hatinya melompat kesana-sini, merindukan sosoknya. Kim Myung Hui. Niatnya untuk bergegas kembali ke istana teralihkan karena kehadiran Kim Myung Hui disana. Takdir yang tak terduga bukan. Kyuhyun dengan cepat melangkah mendekati Myung Hui yang berjalan berlawanan arah dengannya.

 

kim-so-eun-13fd2f170f69ca7ee2ac2ee394cefa6c

 

Wajahnya terlihat murung, pandangannya terarah ke bawah. Kenapa ia berjalan sambil melamun ?. Batin Kyuhyun berucap. Berjarak 3 langkah dari posisinya berdiri saat ini, Myung Hui tepat berada di depannya. Gadis itu belum sadar akan kehadirannya.

 

1…2…3… BRUKKK !!!

 

“Awww..” pekikan So Eun terdengar tatkala jalannya terhalang oleh dada bidang yang membentur kepalnya. “Jwesonghamnida.” So Eun belum menyadari bahwa Kyuhyun lah yang berdiri di hadapannya saat ini. Selepas meminta maaf, So Eun mencoba kembali melangkah dengan mengambil jalan samping. Bukan Kyuhyun namanya jika membiarkannya pergi begitu saja.

 

Kemanapun langkah So Eun mengarah, Kyuhyun terus menghalanginya. Sikap jahilnya yang telah lama tenggelam semenjak gelar baru yang ia terima, kini kembali muncul ke permukaan karena orang yang sama. Kebiasaannya menjahili orang sebenarnya telah ia miliki sejak dulu, dan semua ini berawal dari pertama kali ia mengenal Myung Hui.

 

“Tuan aku sudah minta maaf, jadi bisakah kau… Jeonha ?”

 

“Ssssttt !!!. Kecilkan suaramu, aku sedang melakukan penyamaran.” So Eun mengangguk mengerti akan maksud perkataan Kyuhyun. “Kau ingin pergi kemana ?”

 

“Aku hanya mencari udara segar.” Pandangan mereka bertemu secara tak sengaja membuat So Eun salah tingkah. Jantungnya melompat kesana kemari, gugup saat mata almondnya berbenturan dengan mata elang di depannya.

 

“Ingin kutemani ?” Suara bass milik Kyuhyun terdengar begitu merdu hingga membuat perasaannya yang gundah akibat fakta pahit yang ia sadari perlahan memudar. Rasanya angin musim semi sedang bertiup di dalam hatinya. Kupu-kupu bersayap cantik beterbangan di relung hatinya. Perasaan macam apa ini ?.

 

Cukup lama So Eun terdiam dengan pandangan kosong menatap wajah Kyuhyun. Hingga lambaian tangan di depan wajahnya mampu menarik kembali kesadarannya. “Ye ?”.

 

“Apa yang kau pikirkan ?.”

 

“Animnida jeo..” teringat akan pesan Kyuhyun beberapa waktu lalu, So Eun mendekatkan wajahnya ke arah Kyuhyun untuk membisikan satu kata yang tak bisa sembarang ia sebutkan di luar sini. “Jeonha”

 

Bulan sabit muncul diwajahnya, senyum yang begitu manis kembali memacu kerja jantung So Eun diatas normal. Pemandangan seperti ini, Kyuhyun yang tersenyuml lepas menunjukkan lesung pipinya yang samar-samar begitu jarang dijumpai sejak timbulnya berbagai masalah dalam kehidupannya. Dan hanya karena sosok yeoja dihadapannya inilah, fenomena langka itu kembali menampakkan indahnya.

 

“Hui-ah, bisakah kau menemaniku ke suatu tempat ?” So Eun mengangguk menyanggupi permintaan Kyuhyun dengan senang hati. Ia juga tidak memiliki tujuan saat ini, tidak ada salahnya jika saat ini ia memenuhi ajakan Kyuhyun. Entah kemana tujuannya.

 

***

 

Sebuah pohon besar dengan akar yang merambat di atas tanah tertangkap oleh mata coklatnya. Tanpa sadar senyum itu muncul di wajah cantiknya. Letak pohon yang berada di bibir bukit, menyuguhkan pemandangan Joseon yang begitu indah saat sinar matahari belum begitu terik menyinari kota tersebut.

 

joseon-tree-with-deep-roots-ep-12-avi_002871671

 

“Kemarilah..” Kyuhyun membantu So Eun untuk duduk di atas akar pohon tersebut yang menjuntai panjang di atas tanah. Keduanya duduk bersandingan menikmati pemandangan indah di depan sana. Angin yang tenang ikut menemani keduanya disana.

 

Tempat itu bukan tempat biasa yang Kyuhyun temukan tanpa sengaja hari ini. Tempat itu adalah awal pertemuan mereka berdua. Di musim gugur saat Kyuhyun yang tengah mengejar seekor kelinci untuk ia jadikan terget buruannya. Takdir telah mempertemukan keduanya di bawah pohon itu atas perantara seekor kelinci. Saat itu Myung Hui sedang mencari bunga krisan yang berada tak jauh dari pohon tersebut. Begitulah pertemuan mereka, sehingga pohon ini tanpa sadar telah mereka deklarasikan menjadi tempat favorit keduanya.

 

Kyuhyun sibuk memandang pahatan cantik dari Sang Pencipta yang duduk disampingnya saat ini. Hatinya kembali berandai-andai. Andai Myung Hui menjadi ratunya saat ini ?. Andai saat itu tidak timbul masalah ?. Andai ini, andai itu kembali memenuhi pikirannya. Persetan dengan dayang istana yang kelagapan mencarinya. Tidak peduli dengan Ming Sun yang berteriak histeris di Istana saat melihatnya belum kembali di waktu yang telah ditetapkan. Bersama dengan Myung Hui seperti ini, bukankah hal yang sulit ia lakukan mengingat posisinya saat ini.

 

“Yeppeoda.. bagaimana bisa jeonha menemukan tempat seindah ini ?.” Kyuhyun tercengang mendengar kalimat yang keluar dari mulut So Eun. Bukan kalimat yang ku perkirakan akan keluar dari mulutnya. Pikirnya.

 

“Ucapanmu terdengar seperti kau baru pertama kali kesini Hui-ah.” Kyuhyun berusaha menampik pikiran mustahil yang muncul di kepalanya.

 

Dengan senyum cerahnya So Eun menjawab lantang. “Geuremyeon, ini pertama kalinya aku mengetahui tempat ini. Pemandangan disini benar-benar indah. Jeonha, kau yang terbaik.” So Eun mengangkat kedua jempolnya kearah Kyuhyun. Raut bahagia begitu terlihat diwajahnya, namun tidak pada Kyuhyun.

 

Ada apa dengan Myung Hui ?.

 

“Hui-ah..” So Eun mengalihkan pandangnya ke wajah Kyuhyun. “Apa kau tidak ingat ?”. Kedua alisnya terangkat mendengar pertanyaan Kyuhyun. Raut penuh tanda tanya jelas muncul di wajah So Eun, membuat Kyuhyun sadar jika saat ini yeoja itu tidak sedang bercanda.

 

“Mungkinkah ada hal lain yang ku lupakan jeonha ?”

 

“Tidak. Tidak Hui-ah. Kau tidak melupakan apapun.” Mendengar penjelasan Kyuhyun, tidak ada masalah serius. So Eun kembali menikmati pemadangan di depannya. Sementara Kyuhyun larut dalam tanda tanya besar yang muncul di otaknya.

 

‘Kenapa Myung Hui melupakan tempat ini ?.’

 

‘Tidak, bahkan ia seakan tidak pernah tahu tentang tempat ini.’

 

‘Ada apa dengannya ?. Myung Hui terlihat asing dengan tempat ini ?. Entah perasaanku saja atau memang nyata bahwa Myung Hui yang ada di depanku saat ini bukanlah Myung Hui yang sama dengan gadis kecil yang kutemui dulu ?.’

 

‘Jika dia bukan Myung Hui, lalu… Siapa kau sebenarnya ?’

 

To Be Continue…

Andalan
Diposkan pada chapter, Fantasy, Hurt, Romance, SAD

Found You In Joseon Part 5

Found You In Joseon (Part 5)

joseon-5

 

Title    : Found You In Joseon

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Kim So Eun / Kim Myung Hui

Other Cast :

  • Shim Changmin
  • Kim Sung Yeol / Kim Jaejoong
  • Cha Yang Sun
  • Jessica Jung
  • Lee Yoobi
  • Cha Min Seo
  • Kim Won Ill

 

Category : Fantasy, Romance, Sad.

 

************Happy Reading************

 

Takdir, siapa yang tahu bagaimana jadinya. Sesuatu hal yang awalnya kita benci dan tidak sukai berubah menjadi suatu hal yang patut mendapat ucapan syukur. Terkadang takdir memanglah tak masuk akal, namun semua itu sudah tercatat di dalam buku yang Tuhan ciptakan untuk setiap manusia. Siapa yang bisa melawan takdir Tuhan ?. Semua hal yang terjadi di dunia adalah alur kehidupan yang telah Tuhan rancang sedemikian rupa. Percayalah bahwa takdirmu adalah hal yang indah untuk hidupmu kedepan, sekalipun kita harus kehilangan seseorang nantinya.

 

So Eun masih berkutat dengan ingatannya, mengabaikan orang lain yang ada disana. Dirinya hanya terfokus pada sosok Kyuhyun yang kini berjalan pasti kearahnya. Astaga, degup jantungnya bekerja lebih dari kata normal. Ingatannya kacau, So Eun terpaku melihat wajah tegas Kyuhyun namun tersirat pandangan rindu di mata elangnya. Kyuhyun tak peduli lagi pada sekitarnya, bahkan jelas-jelas masih ada Min Seo disana yang menatap keberadaan So Eun tidak percaya. Kyuhyun secara terang-terangan menatap wajah So Eun yang 100% mirip Kim Myung Hui.

 

“Myung Hui-ah..” kata itu terucap dari bibir Kyuhyun. Sungguh ia begitu merindukan Myung Hui. Nyawanya seakan melayang saat ia mendengar berita Myung Hui yang menghilang kemarin. Dan kini ia bisa bernafas lega saat melihat yeoja yang dicintainya itu dalam keadaan baik-baik saja.

 

“Ye ?” So Eun yang masih belum mengerti dan belum terbiasa dengan panggilan Myung Hui, tentu saja bingung akan semua ini. Otaknya masih harus mencerna sebelum akhirnya ia sadar bahwa dirinya disini berperan sebagai Kim Myung Hui. Seperti drama saja.

 

“Hamba tidak sengaja bertemu dengan putri Myung Hui di taman istana jeonha. Sung Yeol bilang pada hamba jika putri Myung Hui datang ke istana untuk mengunjungi anda.” Jelas Won Ill dengan kepala tertunduk. Memang seperti ini seharusnya saat berbicara pada sang raja.

 

“Ming.” Ming Sun dengan kepala tertunduk berjalan mendekat ke arah Kyuhyun.

 

“Aku ingin berjalan-jalan dengan Myung Hui di istana teratai. Tidak perlu mengawalku.” Ming Sun tak langsung menjawab. Seharusnya ini tidak boleh terjadi mengingat Kyuhyun sebagai raja dan disana ada sang ratu yang sejak tadi hanya mampu menatap punggung Kyuhyun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kyuhyun yang tidak mendengar jawaban dari Ming Sun, menengokkan kepalanya ke belakang menatap Ming Sun seolah tatapannya adalah tombak yang siap menusuk siapa saja. “Apa ada masalah ?”

 

“Jwesonghamnida jeonha. Sekarang jeonha sudah memiliki ratu, jadi hamba rasa berjalan-jalan berdua dengan putri Myung Hui bukanlah hal yang baik. Mohon jeonha petimbangkan kembali. Hamba hanya tidak ingin jeonha mendapat pandangan buruk dari para menteri dan pejabat istana yang lain.” Kyuhyun hanya diam, pandangannya beralih menatap Min Seo yang terdiam di belakang sana. Namun pandangan ratunya itu mengarah ke arahnya.

 

“Kalau begitu, apakah kau mengijinkanku… Ratu-ku ?” Kyuhyun meminta ijin pada Min Seo, tentu saja hal ini begitu mengejutkan bagi Min Seo. Bahkan Kyuhyun menyelipkan senyum tipisnya kearah Min Seo. Hatinya sakit, terlampau sakit mengingat Kyuhyun tersenyum padanya karena Kim Myung Hui bahkan itu hanya senyum tipis. Min Seo pernah berulang kali melihat senyum lepas dan menawan Kyuhyun saat pria itu bersama dengan Myung Hui. Bersabarlah Cha Min Seo. Kau selangkah lebih maju dari Kim Myung Hui. Batin Min Seo.

 

“Udara di luar begitu dingin jeonha. Jangan terlalu lama di luar istana.” Secara tidak langsung Min Seo mengijinkan Kyuhyun. Kakinya melangkah maju mendekati Kyuhyun, tatapannya tak lepas dari wajah So Eun –yang dianggap Myung Hui-. Sorotan matanya penuh dengan rasa benci. Awalnya ia tak merasa sebenci ini pada gadis bernama Kim Myung Hui itu, namun beda lagi sekarang. Kadar kebenciannya bertambah berkali-kali lipat.

minseo-c207e1f6cd8ee9c31102bef1e16c366bc85c08a9

 

“Kembalilah ke istana sebelum matahari mencapai puncak langit –siang hari-. Bukankah jeonha masih memiliki banyak gulungan untuk di periksa.” Min Seo menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa hormat pada Kyuhyun sebelum akhirnya berlalu pergi melewati Won Ill menuju Gyeonghuigung di ikuti dayang istana yang di tugaskan khusus untuk melayani ratu.

 

“Ratu tidak melarangku Ming, jadi pergilah.” Ming Sun hanya menunduk dan perlahan berjalan mundur menjauhi Kyuhyun. Selepas kepergian Ming Sun dan dayang istana yang mengwalanya. Kyuhyun kembali memfokuskan matanya pada So Eun. Kyuhyun mengalihkan tatapannya sejenak ke arah Won. Mengerti dengan arti pandangan Kyuhyun, Won-pun ikut pergi dari sana hingga kini tinggalah Kyuhyun dan So Eun.

 

So Eun terus menunduk sejak ia menyadari bahwa Kyuhyun menatapnya terang-terangan sejak tadi. Jantungnya seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Berhentilah menatapku seperti itu. Batin So Eun.

 

“Kenapa diam ?” So Eun terkejut mendengar suara Kyuhyun yang mengintrupsi dirinya. Sontak So Eun mendongakkan kepalanya hingga pandangan mereka berbenturan disana.

 

“Nde ?” pertanyaan yang bodoh Kim So Eun. Rutuk So Eun dalam hatinya.

 

“Ada tempat yang lebih bagus untuk bicara. Kajja.” Kyuhyun berjalan mendahului So Eun. Sekarang mengingat statusnya, tidak mungkin lagi bagi Kyuhyun untuk menggandeng sembarang tangan orang lain. Jadi ia hanya bisa terima jalan bersisihan dengan So Eun menuju istana teratai.

 

“Kita… akan kemana ?” So Eun merasa pening di kepalanya, semua bangunan disini terlihat sama. So Eun beranggapan jika ia hanya berputar-putar bersama Kyuhyun.

 

“Kau tidak tahu ?. Ini jalan menuju istana teratai.” Kyuhyun melempar senyum geli melihat wajah bingung So Eun. Sangat lucu. Kyuhyun sama sekali tak curiga akan perubahan dalam diri Myung Hui yang ada di sampingnya saat ini.

 

“Apa istana itu terbuat dari bunga teratai ?. Kenapa dinamakan istana teratai ?” tanpa sadar So Eun menanyakan hal yang membuat Kyuhyun tertawa sekaligus bingung.

 

“Hahaha.. Hui-ah, apa kau pantas menanyakan hal itu. Kau ini aneh sekali.” So Eun beranggapan jika Kyuhyun tengah marah padanya, namun nyatanya tidak.

 

“Jwesonghamnida, aku kan hanya bertanya.” Kyuhyun menghentikan tawanya saat melihat wajah takut So Eun. Apa ia pikir aku marah ?.

 

“Aku tidak marah Kim Myung Hui, hanya saja kau sedikit aneh dengan pertanyaanmu itu. Kau seperti orang baru saja.” Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli jika mengingat pertanyaan So Eun tadi. Kakinya melangkah perlahan begitu pun dengan langkah So Eun. Orang yang bersamanya saat ini adalah seorang raja. Kau mau kehilangan kaki-mu karena berjalan mendahului raja. Batin So Eun. So Eun meringis takut membayangkan hal itu.

 

“Aku juga tidak tahu pasti kenapa istana itu dinamakan istana bunga teratai. Tapi Omamama pernah bercerita padaku dan Changmin hyeongnim bahwa dulunya Haelma-mama membangun istana itu dengan arsitektur yang mirip seperti kelopak bunga teratai. Berlapis dan berjajar begitu banyak. Haelma-mama adalah pecinta bunga teratai.” So Eun mengangguk jelas sambil ber’O’ria. Terlepas dari fakta bahwa tak sepenuhnya ia mengerti penjelasan Kyuhyun karena So Eun merasa asing dengan nama-nama yang Kyuhyun sebutkan tadi.

 

“Bukankah aku pernah menceritakannya dulu ?. Kukira kau punya daya ingat yang tinggi Hui-ah.” So Eun hanya menyengir kuda, pura-pura membenarkan perkataan Kyuhyun bahwa dirinya pelupa. Tahu saja tidak, bagaimana aku melupakannya. Batin So Eun.

joseon-gyeongbokgung

 

Sebuah istana di seberang danau yang penuh dengan bunga teratai menjadi objek pandangnya sekarang. Istana itu terlihat mengagumkan. Apa di masa depan istana itu masih ada. Pikir So Eun. Jika ada maka nanti saat ia kembali ke masa depan, So Eun berencana akan mengunjungi istana teratai dan berfoto di depannya. Tapi bagaimana caranya ia kembali ?.

 

“Kenapa berhenti ?” Lagi-lagi suara Kyuhyun menyadarkan So Eun dari lamunanya.

 

“Tidak.” So Eun menghapus jarak yang tercipta antara dirinya dan Kyuhyun hingga mereka kembali berjalan bersisihan. Keduanya melangkah melewati jembatan yang akan mengantarnya ke istana teratai dalam keheningan. Kyuhyun menatap lurus ke depan, terkadang juga menyapukan pandangannya ke danau kecil yang penuh dengan teratai ungu.

 

“Aku selalu merindukan Omamama setiap aku datang kesini. Terkadang aku berpikir apakah omamama juga merindukanku disana ?.” So Eun yang sejak tadi sibuk mengagumi pemandangan disana, merasa tertarik dengan ucapan Kyuhyun. Wajah tegas Kyuhyun yang ia lihat beberaa saat lalu kini tergantikan oleh raut wajah sendu yang sarat akan kerinduan. Sebenarnya kemana ibu Kyuhyun pergi ?. Itulah yang mengganggu pikiran So Eun. Ia ingin bertanya namun ia takut akan mendapat pertanyaan yang akan memojokkan dirinya nanti. Karena dirinya berperan sebagai orang lain disini. Dan sepertinya Kim Myung Hui telah menjadi bagian dari hidup Kyuhyun. So Eun melihat tatapan yang berbeda di mata Kyuhyun saat menatapnya dan menatap orang lain.

 

“Percayalah jika Ibu Suri juga merindukanmu jeonha.” Meskipun So Eun tidak begitu suka dengan Kim seongsaenim –dosen sejarahnya- namun So Eun tetap mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut dosen killer-nya itu. Matanya memang tidak fokus kearah depan namun telinganya senantiasa ia pasang untuk mendengarkan penjelasan Kim seongsaenim.

 

Kyuhyun kembali tersenyum lepas menatap So Eun yang tersenyum canggung di sampingnya. Pandangan keduanya bertemu cukup lama. Kyuhyun yang larut dalam kisah cintanya pada Kim Myung Hui dan So Eun yang terpesona melihat sosok sempurna di hadapannya saat ini. So Eun yang tersadar segera memtuskan kontak matanya dengan Kyuhyun.

 

“Jwesonghamnida.” Dirinya cukup tahu diri untuk meminta maaf atas kelancangannya menatap sang raja begitu lama. Bahkan di masa depan So Eun tidak mungkin mau mengucap maaf hanya karena menatap seseorang. Bahkan ia sering melotot pada Jessica dan Yoobi.

 

“Tidak perlu minta maaf.” So Eun tersenyum kearah Kyuhyun. Ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan. “Apa kau baik-baik saja ?”

 

“Ne ?” So Eun kembali di buat bingung akan pertanyaan Kyuhyun. Tiba-tiba menanyakan keadaannya, sudah jelas dirinya baik-baik saja. Apa pria ini mengalami gangguan mata. Pikir So Eun menelisik.

 

“Aku belum tahu keadaanmu setelah ditemukan kemarin. Aku sangat khawatir.” So Eun mengangguk paham sekarang.

 

“Aku baik-baik saja jeonha.” Namun untuk yang ke-sekian kalinya, jantung So Eun berpacu diatas normal dan otaknya juga bekerja lebih keras mendengar pertanyaan Kyuhyun berikutnya. Raja ini banyak sekali bertanya. Membuatku pusing saja. Rutuk So Eun.

 

“Kenapa kau tiba-tiba menghilang ?” So Eun mencoba berpikir alasan apa yang akan ia katakan pada Kyuhyun. Seorang raja tidak mungkin begitu mudah di bodohi. Kyuhyun menunggu cukup lama untuk jawaban yang akan So Eun katakan. Kyuhyun bukanlah tipe orang yang suka menunggu namun semua itu tidak berlaku pada So Eun. Tentu saja karena wajah mereka yang sama dan Kyuhyun menganggap So Eun sebagai Kim Myung Hui sekalipun ia merasakan dengan jelas ada yang berbeda dari Myung Hui-nya yang sekarang.

 

“Igo.. emmm.. Aku sangat merindukan orabeoni. Aku memutuskan untuk menyusulnya tapi aku justru tersesat di hutan.” Kyuhyun tertawa geli mendengar alasan So Eun. Reaksi Kyuhyun membuat So Eun menghembuskan nafas lega. Kurasa dia percaya, syukurlah. Batin So Eun.

 

“Lain kali jangan berani melakukan hal semacam itu. Kau tidak pernah berani berada di luar sendirian. Aku cukup terkejut mendengar alasanmu.” So Eun tertawa hambar menyadari jika sosok yang ia perankan ternyata tidak pernah keluar sendirian. Manja sekali. Batin So Eun.

 

“Menteri Kim sangat mengkhawatirkanmu.” Akupun juga Hui-ah. Lanjut Kyuhyun dalam hati. Mata coklat tajamnya menatap penuh rindu So Eun. Rasanya ia ingin menenggelamkan So Eun ke dalam pelukannya, namun jika mengingat gelarnya kini rasanya mustahil ia bisa se-leluasa dulu. Terlebih sekarang posisi Ratu Joseon telah terisi oleh orang lain yang sangat tidak Kyuhyun harapkan.

 

“Jwesonghamnida, jeongmal jwesonghamnida.” Di tengah keheningan yang menyelimuti mereka, So Eun akhirnya berani mengeluarkan suara lirihnya. Kyuhyun tidak mengerti dengan maksud So Eun meminta maaf padanya.

 

“Untuk ?” Tanya Kyuhyun.

 

“Karena aku pergi tanpa memberitahu jeonha terlebih dulu. Orabeoni menceritakan pada hamba jika jeonha begitu khawatir saat itu. Jwesonghaeyo.” So Eun menundukkan kepalanya sebagai bentuk kesopanannya kepada raja. Perlahan ia mulai masuk ke dalam perannya, meskipun belum sepenuhnya ia tahu apa yang sebenarnya terjadi disini.

 

“Berjanjilah untuk tidak mengulanginya.” So Eun mengangguk tanpa ragu, bahkan sadar atau tidak kini dirinya tersenyum lepas ke arah Kyuhyun. Entahlah, ada rasa nyaman saat mendengar Kyuhyun mengatakannya itu untuknya. Begitu lembut dan menenangkan, seolah ia mendapat perlindungan dari ucapan Kyuhyun barusan.

 

‘Hey Kim So Eun sadarlah. Dia memperlakukanmu sebaik ini karena dia mengangapmu Kim Myung Hui. Perlakuan itu bukan untukmu.’ Batinnya berteriak menyadarkannya. Buru-buru So Eun menelan kembali senyum manisnya.

 

“Waeyo ?. Apa ada yang kau lupakan ?” Kyuhyun yang melihat perubahan ekspresi So Eun yang begitu cepat membuatnya bertanya-tanya. Hari ini ia menemukan ekspresi baru dari Myung Hui -So Eun- yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Myung Hui yang sekarang lebih ekspresif, dan cara bicaranya pun berbeda.

 

“Jwesonghamnida jeonha. Tapi aku harus segera pulang, aku akan mencari orabeoni terlebih dulu.” So Eun membungkuk memberi hormat sebelum kakinya hendak melangkah namun Kyuhyun berhasil menghentikannya lagi.

 

“Aku akan mengantarmu menemui Sung Yeol hyeongnim.” Tanpa mampu menjawab, So Eun berjalan mengekor di belakang Kyuhyun. Bagaimana bisa ia menjawab jika Kyuhyun bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjawab. Raja muda yang sialan tampannya itu berlalu melewatinya tepat setelah ucapanya selesai.

 

***Found You In Joseon***

 

Di sisi tenggara Istana Gyeongbokgung, terdapat bangunan yang dikhususkan untuk para cenayang dan shaman istana. Istana Bulan, nama itulah yang diberikan oleh pendiri bangunan tersebut. Nenek moyang dari Jusang Jeonha. Di setiap tahunnya akan terjadi pergantian te-tua atau bisa disebut juga dengan Kepala Shaman di Istana Bulan, hal ini di karenakan para shaman dan cenayang muda harus memiliki seoarang pemimpin yang mampu dijadikan ibu bagi mereka semua. Mengajarkan cara menggunakan ilmu magic mereka untuk perbuatan yang baik, menghalau segala macam ilmu hitam yang sekiranya membahayakan keluarga Raja.

 

“Cenayang Jang.” Dialah Jang Ok Nam, penghuni sekaligus cenayang baru dalam Istana Bulan. Ok Nam telah mendapat surat perintah dari Kyuhyun untuk menjadi cenayang tetap dan tinggal di istana. Tanpa mampu membantah Ok Nam menyanggupinya dengan senang hati.

 

“Ye.” Jawab Ok Nam sekenanya. Seorang pengawal istana berjalan menghampirinya.

 

“Jusang Jeonha memerintahkanmu untuk memeriksa keadaan Sejong jeonha dan Changmin jeonha.”

 

“Ye algesseumnida. Aku akan segera ke Istana Gyeong-huigung.” Pengawal istana itu menundukkan kepalanya sejenak sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Istana Bulan. Ok Nam hanya akan mengganti pakaian khusus untuk dapat memasuki istana dan setelahnya cenayang itu juga meninggalkan Istana Bulan menuju Gyeinghuigung.

 

***

 

Melangkah sendiri di pelataran istana, Ok Nam merasakan ada kekuatan gelap yang melingkupi tempat peristirahatan raja. Langkahnya yang kian dekat dengan kamar peristirahatan Sejong jeonha dan Changmin jeonha membuatnya merasakan pengaruh kekuatan gelap itu semakin besar. Jang Ok Nam menundukkan kepalanya saat berhadapan dengan orang kepercayaan raja seperti halnya Jung Ming Sun yang menjadi kepercayaan Kyuhyun. Setiap raja Joseon akan memiliki orang kepercayaan seperti layaknya Ming Sun dan Kyuhyun.

 

“Apa kau cenayang Jang ?” pengawal khusus Sejong jeonha –Gwon Pal- mengajukan pertanyaan pada Ok Nam. Tidak sembarang orang dapat memasuki tempat peristirahatan Raja, maka dari itu jangan heran jika kau harus berurusan dengan begitu banyak pertanyaan dan jika jawabanmu tidak meyakinkan maka bersiaplah untuk menerima hukuman dan pengusiran.

 

“Ye nari. Hamba mendapat perintah dari Kyuhyun jeonha untuk memeriksa keadaan Sejong jeonha dan Changmin jeonha.” Gwon Pal mengangguk ke arah dayang istana yang berdiri di sisi pintu, memberikan perintah untuk membuka pintu.

 

“Masuklah cenayang Jang. Kuharap kau mampu menyembuhkan jeonha.” Tersirat harapan besar dimata Gwon Pal bahwa Ok Nam akan menjadi orang pertama yang mampu menyembuhkan Sejong dan Changmin jeonha. Atau setidaknya mampu mengetahui jenis penyakit apa yang menyerang kedua raja terdahulu itu.

 

Ok Nam melangkah pasti memasuki kamar peristirahatan Sejong jeonha di-ikuti Gwon Pal. Kini jelas ia rasakan bahwa memang karena ilmu hitamlah Sejong jeonha menutup matanya untuk waktu yang lama. Ok Nam melihat bahwa kamar itu terisi penuh oleh kekuatan hitam, matanya menangkap kekuatan yang amat besar membentengi tubuh Sejong jeonha.

 

“Bisakah nari meninggalkan hamba sendiri ?.” Gwon Pal terkejut dengan permintaan Ok Nam, namun akhirnya dengan berat hati ia meninggalkan keduanya disana. Ok Nam berjalan lebih dekat ke arah Sejong jeonha, mengamati lebih khidmat kekuatan gelap yang menimpa kedua raja terdahulu itu sekaligus memeriksa keadaan jeonha. “Aku harus segera mengabarkan hal ini pada Kyuhyun jeonha.” Ok Nam berlalu meninggalkan Gyeonghuigung bermaksud mencari Kyuhyun di Gyeongbokgung. Tak perlu mengunjungi Changmin karena Ok Nam sudah melihat hal yang sama pada ruang peristirahatan Changmin bahkan dari luar saat ia melewatinya.

joseon-the-moon-that-embraces-the-sun-e11-31

 

Tujuan utamanya saat ini adalah ruangan Jusang jeonha dimana Kyuhyun akan menghabiskan waktunya untuk memeriksa gulungan-gulungan yang berisi laporan dari berbagai desa yang berada di wilayah Joseon. Untuk sejenak ia menghentikan langkahnya tepat di hadapan bangunan dimana Kyuhyun jeonha –mungkin- berada di dalamnya. Namun saat Ok Nam kembali melanjutkan langkahnya untuk mendekati pintu, sepasang penjaga Istana menyilangkan tombaknya membentuk ‘X’ hingga langkahnya terhenti.

 

“Siapa kau ?. Dan atas perintah siapa kau datang kemari.” Tanya salah satu penjaga itu.

 

“Jwesonghamnida, aku cenayang Jang Ok Nam. Aku ingin menemui Jusang Jeonha, ada hal penting berkaitan dengan penyakit Sejong jeonha yang akan aku sampaikan pada jeonha. Tolong ijinkan aku masuk.” Kedua penjaga itu saling bertukar pandang sebelum akhirnya mengijinkan Ok Nam masuk ke dalam Gyeongbokgung. “Kamsahamnida.” Ok Nam nampak terburu-buru ingin segera menyampaikan hal ini pada Kyuhyun.

 

“Cenayang Jang ?” langkahnya kembali terhenti saat terdengar seseorang menyapa dirinya. “Kau terlihat terburu-buru, ingin menemui siapa ?”. Sung Yeol dengan tumpukan buku di tangannya berdiri tak jauh dari posisi Ok Nam sekarang.

 

“Hamba hendak menemui Jusang Jeonha nari. Ada hal penting yang harus segera hamba beritahukan pada jeonha.”

 

“Kalau begitu ikutlah denganku. Aku tahu dimana Kyuhyun jeonha sekarang.” Tanpa berpikir panjang Ok Nam berjalan mengikuti Sung Yeol menuju Istana Teratai. Setelah melewati halaman Gyeongbokgung yang luas akhirnya mereka sampai di jembatan yang akan mengantarkannya ke Istana Teratai. Namun dari arah yang berlawanan, Kyuhyun bersama dengan So Eun berjalan pelan kearah mereka. Sepertinya mereka sudah akan kembali ke istana. Pikir Sung Yeol.

 

“Orabeoni.” Panggilan yang masih terasa hambar keluar dari mulut So Eun. Ada rasa lega karena namja yang mirip oppanya itu berada tak jauh dari posisinya saat ini. Jika boleh jujur, ia merasa tidak bisa berdua saja dengan raja muda ini. Jantungnya akan bekerja lebih jika hal itu berlangsung lebih lama. Tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

 

“Hyeongnim ?. Ada apa. Aku baru saja akan mengantar Myung Hui menemuimu.” Sung Yeol membungkuk hormat kepada Kyuhyun begitu pula dengan Ok Nam.

 

“Kamsahamnida jeonha, keundae kedatangan hamba kemari untuk mengantar cenayang Jang. Ada suatu hal yang hendak ia bicarakan dengan jeonha terkait keadaan Sejang jeonha.” Mendengar hal itu tentu saja Kyuhyun langsung tanggap. Memang hal ini yang ia tunggu-tunggu sejak kedatangan Ok Nam ke Joseon.

 

“Geurae, lebih baik mencari tempat yang nyaman terlebih dulu untuk membicarakan hal ini. Aku tidak ingin ada orang lain yang tau tentang hal ini.” Sung Yeol tau betul maksdu ucapan Kyuhyun. Tanpa membantah Sung Yeol menyingkir dari hadapan Kyuhyun untuk memberi jalan bagi sang raja.

 

Sementara So Eun yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi disini masih terpaku di tempatnya berdiri sejak tadi. Banyak hal yang muncul dikepalanya, mulai dari petanyaan hingga dugaan tentang keluarga raja. “Sebenarnya apa yang terjadi disini ?.”

 

Kyuhyun yang semula melangkah dengan Sung Yeol dan Ok Nam yang mengekor dibelakangnya sesaat terhenti dan berbalik. “Mau sampai kapan kau berdiri disitu Hui-ah ?” Suara bassnya begitu menggetarkan jiwa. So Eun dibuat gelagapan hanya karena kalimat sesederhana itu.

 

“A-Ah nde. Jwesonghaeyo.” So Eun memulai langkahnya hingga kini ia berada disamping Sung Yeol.

 

“Apa yang kau pikirkan eoh ?”

 

“Aku hanya sedang lapar orabeoni.” So Eun mencoba mencari alasan untuk menghindari hujan petanyaan dari ‘orabeoni’-nya itu.

 

‘Huh..sampai kapan aku berada disini ?’ batin So Eun.

 

***Found You In Joseon***

 

Semua hal di dunia ini tidak akan pernah semudah yang kita kira. Mereka yang merasa terancam akan suatu hal yang telah dibuat ataupun direncakan oleh pihak lain akan berusaha untuk mengagalkan rencana tersebut. Dengan menggunakan segala macam cara, mereka yang disebut pengkhianat menyusun segala macam cara jahat bahkan jika perlu nyawa orang tak bersalahpun akan dikorbankan. Dunia akan monoton jika hanya berisi orang-orang bijak.

 

“Cenayang itu akan membahayakan posisi kita. Semua rencana kita akan segera sampai ke telinga raja jika hal ini dibiarkan begitu saja.”

joseon-the-moon-that-embraces-the-sun-e11-70

 

“Kita tidak bisa membiarkan hal ini menteri Kim.”

joseon-the-moon-that-embraces-the-sun-e11-74

“Apa sebaiknya kita singkirkan saja cenayang itu menteri Kim ?” sama seperti hari-hari biasanya. Keempat pejabat istana yang telah berkhianat dengan pemerintahan raja itu melakukan pertemuan untuk membicarakan rencana mereka. Bong Sa Nom, Lee Chang Suk, Yoo So Bang, dan Cha Yang Sun. Mereka berempat adalah lakon dari pemberontakan di kerajaan 10 tahun yang lalu. Namun karena segala macam akal busuk dan rencana licik, mereka berempat selalu lolos dari kecuriagaan raja.

 

“Biarkan saja cenayang itu mengatakn apa yang ingin ia katakan. Aku jamin sama sekali tidak akan mempengaruhi posisi kita. Cukup siapkan kata-kata yang tepat dan semuanya akan terselesaikan.”

joseon-the-moon-that-embraces-the-sun-e11-67

 

“Wae ?. Apa kalian takut ?” melihat reaksi ketiga rekannya, Cha Yang Sun menjadi geram. “Apa kalian meragukanku ?.”

 

“Apa kau tidak terlalu santai menanggapi hal ini. Cha daegam, cenayang itu bisa menyulitkan kita. Apa kau tidak sadar tentang hal itu ?” Cha Yang Sun tak langsung menjawab, ia terlebih dulu mengedarkan pandangannya menatap satu per satu wajah dari rekannya.

 

“Kalian tenang saja. Aku telah menyiapkan semuanya bahkan sebelum cenayang itu masuk ke ibukota.” Masih belum ada suara yang keluar dari ketiga rekannya. Masih ragu rupanya. Pikirnya. “Geurae. Jika kalian mulai meragukanku, maka mulai sekarang urus saja diri kalian sendiri.”

 

“A..an-aniya daegam. Tentu saja kami percaya. Semuanya akan berjalan lancar jika Cha daegam yang mengurusnya. Bukankah begitu Lee daegam ?” Bong Sa Nom mencoba mencari dukungan dari kedua rekannya yang paling terlihat meragu disini. Masalah besar jika Cha Yang Sun tidak dipihak mereka lagi. Lebih baik mati bersama jika nanti akhirnya gagal, daripada mati sendiri.

 

“Bukankah lebih baik membiarkan se-ekor ayam menikmati kebebasannya lebih dulu, baru setelah itu kita jadikan ayam itu sebagai umpan.”

 

‘Tunggu tanggal mainnya Jusang Jeonha.’

 

Orang jahat akan memiliki segudang akal licik untuk menjatuhkan lawannya. Terlepas dari pikiran entah itu cara yang baik atau buruk, curang ataukah adil. Akal muslihat seseorang akan berkembang pesat seiring dengan rasa iri dan kebencian yang timbul dari dalam jiwanya. Namun perlu diingat jika tidak selalu orang berakal itu menempati posisi atas. Terlebih lagi mereka yang menggunakan akal sehatnya untuk melukai dan menjatuhkan orang lain.

 

To Be Continue..

Andalan
Diposkan pada chapter, Fantasy, Hurt, Romance, SAD, Tak Berkategori

Found You In Joseon Part 4

Found You In Joseon (Part 4)

joseonkg

 

Title    : Found You In Joseon

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Kim So Eun / Kim Myung Hui

Other Cast :

  • Shim Changmin
  • Kim Sung Yeol / Kim Jaejoong
  • Cha Yang Sun
  • Jessica Jung
  • Lee Yoobi
  • Cha Min Seo
  • Kim Won Ill

 

Category : Fantasy, Romance, Sad.

 

************Happy Reading************

 

Istana Cheongbokgung

 

joseon-Splash Splash Love Ekhsd01 (2)

 

Sinar matahari yang terik turut menjadi saksi ritual resmi penobatan Kyuhyun jeoha menjadi seorang Jeonha menggantikan Changmin. Semenjak Joseon berdiri, dirinya adalah raja ke 9 dari silsilah keturunan asli keluarga raja. Kini tak ada lagi jubah biru tua yang melekat di tubuhnya, hanya jubah merah kerajaan yang melambangkan keberanian seorang pemimpin Joseon.

 

joseon-semua-pejabat-berlutut

 

Setelah ritual penobatan raja selesai, kini tibalah saat penentuan sang ratu Joseon seperti yang telah di rencanakan. Jika ritual penobatan sang raja di lakukan di halaman Gyeongbokgung, maka dalam upacara penentuan sang ratu akan dilakukan di dalam Gyeonbokgung. Kyuhyun yang telah resmi menjadi raja berjalan melewati sederetan menteri kerajaan yang berbaris rapi di halaman menuju pintu masuk Gyeongbokgung di sebrang tempat penobatannya.

 

Joseon-The.Moon.That.Embraces.The.Sun.E11 (78)

 

Kyuhyun memberikan perintah pada Ming Sun untuk mempersilahkan calon ratunya masuk. Dari yang ia dengar ada 2 calon ratu yang telah lulus seleksi. Seperti inilah sistem pemilihian pendamping raja Joseon. Tak peduli sang raja telah memiliki tambatan hati sekalipun, jika yang terpilih bukanlah pilihan hati maka mau apalagi. Namun kali ini Kyuhyun yakin jika diantara 2 calon itu akan ada Myung Hui-nya yang sudah pasti terpilih menjadi ratunya. Membayangkannya membuat Kyuhyun tanpa sadar tersenyum sendiri di atas singgasana dengan para menteri yang duduk bersimpuh di depanya. Senyuman itu tak luput dari pandangan Ming Sun yang setia berdiri di sampingnya.

 

Pintu utama terbuka membuat hati Kyuhyun berdegup lebih kencang. Gugup itulah yang ia rasakan, bahkan saat penobatannya tadi tak ada rasa apapun yang ia rasakan. Apa Myung Hui juga akan merasakan perasaan gugup seperti yang tengah ia rasakan saat ini ?. pikir Kyuhyun. Ngomong-ngomong soal Myung Hui, sejak tadi ia tak melihat kehadiran menteri Kim. Penasaran akan hal itu, Kyuhyun membisikan pertanyaan pada Ming Sun.

 

“Ming, apa kau tahu kemana perginya menteri Kim ?”

 

“Dari yang hamba dengar, telah terjadi kecelakaan kecil di kediaman menteri Kim, jeonha.”

 

“Kecelakaan ? apa maksud-” belum selesai menyelesaikan kalimatnya, seluruh mata di dalam gyeongbokgung mengarah terfokus pada 2 sosok cantik yang melangkah masuk ke dalam istana.

 

Kyuhyun tak mampu menyembunyikan keterkejutannya, begitu pula dengan Ming Sun. Pandangannya tak teralihkan sedikitpun dari 2 yeoja yang baru saja masuk ke dalam istana itu. “Siapa mereka ?” refleks Kyuhyun mengeluarkan pertanyaannya yang tentu saja membuat seluruh menteri mengalihkan fokus mereka pada sang raja muda itu.

 

“Apa maksud ucapan anda jeonha. Mereka berdua adalah putri bangsawan yang telah lolos dalam seleksi pemilihan pendamping Jeonha. Cha Min Seo dan Go Hye Reun.” Cha Yang Sun dengan tenang dan lugas menjawab pertanyaan dadakan Kyuhyun, seolah-olah jawaban itu sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari.

 

“Tapi.. dimana Kim Myung Hui ?. Dimana putri menteri Kim ?” Kyuhyun agak meninggikan nada suaranya. Kini ia mulai panik. Ia sudah tak peduli dengan pandangan para menteri terhadapnya lagi meskipun ini adalah hari pertama ia menjadi raja. Seperti inilah memang sikap asli putra kedua dari Raja Sejong. Salah satu hal yang membuatnya setuju menjadi seorang raja adalah karena nantinya ia akan menjadikan Myung Hui sebagai ratunya. Permaisurinya.

 

“Jeonha, apa maksud perkataan jeonha ?. Kedua putri ini adalah calon yang telah terpilih setelah berhasil melewati berbagai seleksi.”

 

Joseon-The.Moon.That.Embraces.The.Sun.E11 (89)

 

“Aku tahu betul jika putri menteri Kim telah lulus dari semua seleksi. Lalu bagaimana bisa di hari penentuan ini, Kim Myung Hui justru tidak ada ?” Kyuhyun terus menunjukkan sisi emosinya atas ketidakadaan Kim Myung Hui sebagai calon ratu Joseon. Seluruh menteri saling berbisik mengetahui sikap Kyuhyun ini. Beberapa menteri bahkan berpikir bahwa mereka telah salah menjadikan Kyuhyun sebagai seorang Raja. Hal ini tertangkap oleh pandangan Ming Sun. Sebagai pengawal setia Kyuhyun sejak kecil, Ming Sun berusaha merubah kembali pandangan para menteri tersebut kepada Kyuhyun. Ia tahu betul sikap Kyuhyun, karena ia sudah mengabdikan dirinya selama 20 tahun lebih. Jika para menteri hanya melihat sisi buruknya saja, maka semua ini akan membahayakan Kyuhyun.

 

“Apa jeonha menaruh rasa pada putri menteri Kim ? Jeonha terlihat begi-”

 

“Ya, kau benar menteri Cha. Aku menaruh rasa pada Kim Myung Hui, dan aku sangat ingin ia menjadi ratuku.” Tak pernah siapapun sangka jika Kyuhyun akan berani dan begitu gambalang mengatakan perasaannya. Bahkan saat ia tengah berada di singgasana raja. Wajah Cha Yang Sun mengeras menatap amarah Kyuhyun. Bocah ini sudah berani membentakku. Batinnya geram.

 

“Jwesonghamnida Jeonha, tapi menteri Kim sendiri yang telah melaporkan bahwa putrinya mengundurkan diri dari pemilihan ini.” Ucapan itu seolah menjadi badai bagi Kyuhyun. Kenapa ? Bukankah menteri Kim sudah mengetahui perasaanya ?. Bahkan menteri Kim tak pernah melarang Kyuhyun dan Myung Hui untuk bertemu. Tapi bagaimana bisa ? Apa yang terjadi ?.

 

Kyuhyun seolah kehilangan jiwanya, ia kehilangan fokusnya. Keadaan di dalam gyeongbokgung kini tak setenang sebelumnya, pasalnya mereka baru saja menyaksikan drama singkat kisah cinta raja muda Kyuhyun. Semua menteri nampak menatap tak percaya pada Kyuhyun, membuat Ming Sun bertindak. Dirinya mendekati Kyuhyun dan membisikkan sesuatu disana.

 

Joseon-The.Moon.That.Embraces.The.Sun.E11 (92)

 

“Jeonha, hamba sangat tahu apa yang jeonha rasakan. Namun, alangkah baiknya jika jeonha tidak menunjukkan amarah jeonha di hadapan para menteri. Jebal jusseyo jeonha. Semua ini bisa membahayakan posisi jeonha.” Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru istana dimana para menteri tengah membicarakan sikapnya, membuat suasana di dalam istana menjadi riuh. Perlahan emosinya mulai mampu ia kendalikan.

 

Setelah cukup lama diam, Kyuhyun mengeluarkan suaranya yang membuat keadaan istana semakin tak terkendali. “Kita tunda saja pemilihan ratu.” Perintah raja tak terbantahkan meskipun banyak pihak yang menentang. Tak peduli dengan protes dari petinggi istana, Kyuhyun dan Ming Sun berjalan pergi meninggalkan gyeongbokgung dan suasana riuhnya. Melihat kejadian ini membuat Min Seo dan Yang Sun saling bertukar pandang. Jika seperti ini maka semua rencana kita akan gagal aboeji. Seperti itulah kalimat yang tersirat lewat pandangan Min Seo. Terkadang rencana tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang di inginkan Cha Yang Sun.

 

***

 

Kyuhyun berjalan menuju ruang kerja Raja, melewati lorong yang akan mengantarkannya ke sayap kanan istana Gyeongbokgung. Selama dalam perjalanan, ada kurang lebih 8 pasang barisan yang mengikutinya. 4 pengawal raja, 4 lainnya dayang istana.

 

Joseon-The.Moon.That.Embraces.The.Sun.E11 (95)

 

“Jeonha hamba mohon anda lebih menahan emosi selama Won sedang tidak berada istana. Hamba sangat mengkhawatirkan anda jeonha.” Ming Sun berusaha memberikan nasehat pada Kyuhyun. Setelah melihat reaksi dari para menteri tadi, Ming Sun sungguh khawatir jika akan muncul pemberontakan melawan pemerintahan Kyuhyun. Kyuhyun tak begitu menghiraukan ucapan Ming Sun. Langkahnya kian cepat menuju ruang kerja Raja.

 

“Cepat perintahkan pengawal istana untuk menyelidiki alasan menteri Kim membatalkan keikutsertaan Myung Hui dalam pemilihan ratu.” Kyuhyun langsung mengeluarkan perintah mutlaknya pada Jung Ming Sun. Tanpa membantah atau banyak bicara, Ming Sun melaksanakan perintah tersebut. Dengan segera mengirimkan 4 pengawal istana untuk menuju kediaman menteri Kim se-segera mungkin.

 

“Cha Yang Sun.. Cha Yang Sun.. CHA YANG SUN.”

 

BRAKKK…

 

Kyuhyun menggebrak meja dengan sekuat tenaga, meluapkan emosinya pada benda mati itu. Ia sudah merasakan keganjalan pada menteri itu. Ming Sun tak mampu membohongi dirinya sediri jika ia sempat terkejut dengan letusan amarah Kyuhyun. Letusan ? Mungkinkah ini puncak amarah Kyuhyun atau masih ada yang lain. Yang lebih menyeramkan dari ini.

 

“Ming, sudah berapa hari Won dan Sung Yeol hyeongnim pergi ?”

 

“Hari ini adalah hari ketiga jeonha. Malam ini seharusnya mereka sudah kembali.” Kyuhyun menyibukkan dirinya dengan tugas kerajaan. Hari pertama ia masih harus belajar banyak.

 

“Apa ada kabar mengenai keadaan Abamama dan Changmin hyeongnim ?”

 

“Sejauh ini keadaan Sejong jeonha dan Changmin jeonha belum ada perkembangan. Tabib masih terus menyelidiki sebab dan jenis penyakit yang menyerang keduanya jeonha.” Kyuhyun membuang nafasnya gusar. Kenapa begitu banyak masalah yang timbul akhir-akhir ini. Membuat kepalanya seakan mau pecah.

 

Hingga mentari bertengger tepat di atas kepala manusia, pengawal yang ia kirim ke kediaman menteri Kim baru kembali dan langsung menghadapnya untuk melaporkan apa yang ia dapat dari sana.

 

“Putri menteri Kim menghilang Jusang jeonha (Yang Mulia Raja), hingga sekarang belum ada kabar tentang keberadaannya. Menteri Kim telah menyebar orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan putri Kim Myung Hui.”

 

“M-mwo ?” watak keras dan tegas yang sejak tadi terpasang di wajah tampannya, kini tersapu angin dan terganti oleh wajah terkejut sekaligus terpukul disana. Kyuhyun kembali jatuh. Ia kehilangan orang yang ia sayangi untuk yang kesekian kalinya. Apa ini kutukan ?.

 

Kakinya melangkah perlahan dengan pelupuk mata yang penuh oleh air mata, yang siap menetes kapan saja ia mau jika kantung mata itu tak mampu lagi menampungnya lebih banyak. Panggilan Ming Sun yang berusaha menyadarkan Kyuhyun nyatanya tak berpengaruh sedikitpun. Kyuhyun dengan air mata yang mengalir terus melangkah tertatih dengan menyebut nama Myung Hui di tiap langkahnya. Tak jarang tubuhnya terhuyung dan menabrak pilar yang menjadi penyangga lorong istana. Ming Sun begitu sedih melihat Kyuhyun yang nampak terpuruk –Lagi-.

 

joseon1-The.Moon.That.Embraces.The.Sun.E12 (29)

 

“Ming..” suara serak khas orang menangis keluar dari mulut Kyuhyun. Ming Sun yang setia mengawal di belakangnya dengan suara yang juga serak menjawab panggilan Kyuhyun.

 

“Ye jeonha.”

 

“Cepat kerahkan pengawal istana untuk ikut mencari Myung Hui. Suruh mereka mencari ke dalam hutan. Jangan pernah kembali sebelum berhasil menemukan Myung Hui.”

 

“Ye jeonha.” Ming Sun memberi perintah hanya lewat anggukan kepalanya pada pengawal yang berada di belakangnya. Tak perlu menyampaikannya 2 kali karena sudah pasti pengawal itu mendengar semuanya.

 

“Ming.. apa ini semua kutukan untukku. Satu per satu orang yang ku sayangi dan berharga dalam hidupku pergi meninggalkanku.”

 

“Jeonha…”

 

“Jika benar begitu, apa yang telah kuperbuat hingga aku mendapat kutukan kejam seperti ini. Bukankah ini cara membunuhku secara perlahan Ming.” Ming Sun tak mampu lagi mengeluarkan kata-katanya, suaranya teredam oleh suara tangisannya.

 

“Siapkan kuda sekarang. Aku akan ke rumah menteri Kim.” Kyuhyun berlalu menuju ruang peristirahatannya di ikuti oleh dayang istana dan pengawal yang tersisa. Sementara Ming Sun memerintahkan pengawal yang lain untuk segera menyiapkan kuda.

 

***Found You In Joseon***

 

Fajar mulai terlihat di ufuk timur, saat itulah Sung Yeol dan Won Ill bersiap untuk melakukan perjalanan pulang menuju pusat kota bersama dengan seorang cenayang dari desa balik bukit. Tak disangka jika mereka mencari seorang cenayang, sebelumnya mereka kira itu adalah seorang tabib karena Kyuhyun hanya menyebutkan namanya saja tidak dengan profesinya.

 

Langit pagi yang berwarna orange bercampur dengan warna biru muda menjadi pemandangan yang menyegarkan untuk Sung Yeol. Dirinya lebih bersemangat dari sebelumnya, tak jarang Sung Yeol bersiul sambil berjalan mendahului Won Ill dan si-cenayang yang ia ketahui bernama Jang Ok Nam.

 

“Bisakah kita istirahat sebentar di sungai itu. Aku sangat haus Won. Tidak masalah kan cenayang Jang ?”

 

“Yeol, kita harus segera sampai di istana sebelum matahari terbenam. Kita baru berjalan dan kau ingin istirahat ?.”

 

“Ayolah Won, tenggorokkanku terasa sangat kering. Bagaimana jika suaraku tidak keluar nanti ?” Won tidak lagi menjawab. Percuma jika ia menjawabnya karena Sung Yeol akan terus menyanggah dan menjawabnya lagi hingga ia kalah bicara. Won hanya mampu menggelengkan kepalanya sembari mengikuti kemauan Yeol untuk mengambil air di tepi sungai yang penuh batu di depan sana.

 

joseon-Scholar.Who.Walks.At.Night.E03.150715.HDTV.H264 (28)

 

Dari ketiga orang tersebut, Sung Yeol-lah yang paling terlihat bersemangat dengan riak air di sungai itu. Meraup air sungai dengan kedua tangannya untuk diminum, membasuhkan air segar itu ke wajahnya hingga raut wajah yang semula kusut menjadi lebih bersinar terbiaskan oleh sinar matahari. Sementara Won mengisi kantong airnya untuk bekal mereka selama perjalanan nanti, dan cenayang Jang Ok Nam hanya berdiri di tepian sungai tanpa ikut menyentuh air tersebut.

 

“Ahh segarnya…” Selesai mengurus apa yang ia inginkan, kini Sung Yeol mengikuti apa yang Won lakukan, yaitu mengisi penuh kantong airnya.

 

“Jika sudah selesai, kita lanjutkan perjalanan.” Sung Yeol mengangguk menyetujui ucapan Won barusan. “Mari cenayang Jang.” Kini si cenayang berjalan lebih dulu di depan dengan Won dan Sung Yeol yang mengekor di belakangnya.

 

“Won, apa kau mau mendengar ceritaku. Ini tentang mimpiku semalam. Entah itu mimpi buruk atau bukan ?”

 

“Aku tidak tertarik dengan mimpimu Yeol.” Sung Yeol mendesis mendengar penolakan dari Won Ill. Tapi ia begitu penasaran dengan arti mimpinya semalam. Akhirnya Sung Yeol memutuskan untuk bercerita pada cenayang itu saja. Cenayang kan punya kekuatan untuk melihat hal-hal yang berbau gaib dan mistis. Siapa tau cenayang itu bisa mengerti arti dari mimpinya tersebut. Sung Yeol melangkah ke depan meninggalkan Won di belakang sendirian.

 

“Chogiyo, bisakah kau membaca arti sebuah mimpi ?” tanya Sung Yeol to the point.

 

“Ye nari (Tuan).”

 

“Bisakah aku menceritakan sebuah mimpi ?” Cenayang itu hanya mengangguk menyanggupi permintaan Sung Yeol. “Semalam aku bermimpi bertemu dengan adikku. Namanya Kim Myung Hui. Aku bertemu dengannya di sebuah lahan luas yang di tumbuhi dengan bunga krisan. Bukankah bunga krisan itu pertanda kematian. Apa ada hal buruk yang terjadi pada adikku ?.”

 

“Mimpi akan bunga krisan bukan berarti memberikan pertanda yang buruk nari. Lagipula itu hanya sebuah mimpi, mimpi hanyalah bunga tidur nari.” Namun Sung Yeol masih merasakan keganjalan pada mimpinya semalam. Jadi ia memutuskan untuk menceritakan hingga selesai.

 

“Adikku berpesan agar aku segera menemukan ‘orang itu’, orang yang membuatnya pergi. Dia juga berharap agar aku menemukannya kembali. Apa ini semua adalah pertanda bahwa telah terjadi sesuatu padanya cenayang Jang ?” si cenayang tak langsung menjawab. Langkahnya terhenti begitu pula dengan Sung Yeol dan Won Ill. Jang Ok Nam memejamkan matanya merasakan sesuatu, kehadiran seseorang di sekitar mereka.

 

“Apa ada sesuatu cenayang Jang ?” pertanyaan itu keluar dari mulut Won Ill. Sementara Sung Yeol kini mulai waspada akan sekitarnya. Siapa tau jika ada musuh yang menyerang mendadak.

 

“Aku merasakan kehadiran seseorang tak jauh dari sini.” Jang Ok Nam masih mencoba merasakan lebih dalam untuk menemukan dimana sosok itu berada.

 

“Apa orang itu berbahaya atau mengancam kita ?” tanya Sung Yeol. Ok Nam membuka matanya dan menatap Sung Yeol.

 

“Tidak ada senjata di tangannya. Saya juga tidak merasakan aura gelap di sekitarnya, jadi saya rasa orang itu tidak berbahaya. Namun sepertinya, dia membutuhkan pertolongan kita.” Mendengar penjelasan Ok Nam, Won Ill bergerak memasukkan pedangnya kembali.

 

“Kita tidak punya banyak waktu untuk membantu orang asing itu. Lebih baik kita melanjutkan perjalanannya cenayang Jang.” Won dan Sung Yeol sepakat untuk kembali melangkah, sementara Jang Ok Nam masih terdiam di tempatnya. Ia merasakan kehadiran sosok itu akan berpengaruh bagi kehidupan kerajaan.

 

“Nari, saya merasakan kekuatan besar pada sosok tersebut yang akan memberi dampak pada Joseon. Kita harus menemukannya.” Tanpa menunggu persetujuan dari Won maupun Sung Yeol, Ok Nam bergerak ke sisi kanan dari tempatnya berdiri. Meskipun dirasa percuma dan tak ada gunanya namun Won dan Yeol tetap mengikuti kemauan Ok Nam.

 

Semakin melangkah ke depan, ketiganya di hadapkan dengan semak-semak yang tingginya hampir setengah dari tinggi badan manusia. Keadaan juga berkabut sehingga menyulitkan mereka untuk melihat jelas ke depan. Ketiganya tak lagi berada di jalan setapak, masuk lebih dalam ke jantung hutan. Pohon-pohon semakin rimbun dan tinggi membuat sinar matahari sulit untuk menyeruak masuk ke dalam sisi hutan tersebut.

 

“Cenayang Jang, sepertinya tidak ada siapapun disini. Lebih baik kita-”

 

“Disana.” Ucapan Won terpotong oleh teriakan Ok Nam. Sung Yeol dan Won Ill mengikuti arah telunjuk Ok Nam. Disana mereka melihat seorang yeoja dengan pakaian yang aneh tergeletak di tanah. Sepertinya yeoja itu tak sadarkan diri. Buru-buru Won Ill dan Sung Yeol berlarian kecil mendekati yeoja tersebut. Wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang tergerai sehingga baik Won Ill maupun Sung Yeol tidak dapat melihat persis wajah yeoja tersebut.

 

“Bisakah kalian membantu menyandarkan tubuhnya ke pohon besar itu ?” Won Ill dengan senang hati menuruti ucapan Ok Nam. Dirinya sempat tak habis pikir bagaimana bisa di tengah hutan yang dingin dan gelap bahkan saat pagi hari seperti ini, yeoja ini berada disini dengan keadaan tak sadarkan diri.

 

“Oh Yeol, bukankah ini Myung Hui ?” Sung Yeol yang sibuk mengawasi keadaan sekitar takut jika ini adalah jebakan, seketika membalikkan tubuhnya mendengar pekikan Won Ill. Dari posisinya saat ini Sung Yeol belum bisa melihat jelas wajah yeoja tersebut karena terhalang oleh lengan Won Ill sehingga ia memutuskan untuk mendekat.

 

“Myung Hui-ah.” Sung Yeol berubah panik. Dirinya megambil alih tubuh yeoja itu hingga berpindah ke pangkuannya. “Myung Hui.. Kim Myung Hui ireona. Hui-ah..” Sung Yeol menepuk pipi yeoja itu berulang kali berharap si yeoja segera membuka matanya. Dapat ia rasakan bahwa tubuh itu bergetar menggigil kedinginan.

 

“Astaga Won, tubuhnya begitu dingin. Chogiyo cenayang Jang, bolehkah aku meminjam tudung kepalamu untuk menyelimuti adikku.” Tanpa berkata Ok Nam mengulurkan jubahnya kepada Sung Yeol.

 

Sementara Won dan Sung Yeol sibuk menghangatkan tubuh yeoja yang mereka anggap sebagai Kim Myung Hui itu, Jang Ok Nam justru hanya menatap yeoja yang belum sadarkan diri itu dengan pikiran dan anggapan yang tidak sama dengan Won Ill dan Sung Yeol. Nalurinya jelas mengatakan jika yeoja itu bukanlah Kim Myung Hui, adik dari Sung Yeol. Yeoja itu beraura asing dan Ok Nam tahu betul jika yeoja itu bukan berasal dari zaman yang sama dengan mereka. Sepertinya dari masa depan. Batinnya. Namun ia masih belum bisa sepenuhnya mempercayai nalurinya tersebut sebab tidak masuk di akal manusia. Bagaimana bisa manusia dari masa depan kembali ke masa lalu ?. Dan sepertinya yeoja itu memiliki kesamaan dengan putri keluarga Kim.

 

“Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanannya nari. Kita bisa menghangatkan putri Myung Hui di sisi hutan yang terkena sinar matahari sehingga hawa disana lebih hangat.” Sung Yeol menggendong tubuh Myung Hui dipunggungnya, berjalan mendahului Won Ill dan Ok Nam.

 

“Ada apa denganmu Hui-ah ?. Bagaimana bisa kau berada di hutan dengan pakaian seperti ini. Inikah arti mimpiku saat itu ?.” Sung Yeol berbisik sambil sesekali melirik wajah pucat adikknya yang tersandar di pundaknya. “Cepatlah sadar. Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk menemukanmu kembali.” Namun hingga mereka mencapai pusat kota di sore hari, yang dianggap Myung Hui itu belumlah sadar.

 

***

 

Kyuhyun melangkah lemas keluar dari kediaman menteri Kim, pasalnya ia baru saja mengetahui kebenaran yang terjadi. Istri menteri Kim bahkan terlihat kehilangan jiwanya akibat begitu terpukul saat mengetahui putri tunggalnya menghilang. Beliau tak berhenti manangis hingga kehilangan kesadaran. Kyuhyun sendiri tak kuasa membendung air matanya saat ia melangkahkan kaki memasuki kamar Myung Hui beberapa saat yang lalu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kerajaan.

 

Kyuhyun naik ke atas kudanya dan bersiap untuk melakukan perjalanan menuju istana. Dengan pengawalan ketat kuda yang Kyuhyun naiki membelah lautan manusia yang melakukan aktivitas mereka di pasar. Banyak gadis-gadis yang berbaris di pinggir jalan untuk melihat wajah tampan sang raja. Sekalipun Kyuhyun nampak murung dan sedih namun tak sedikitpun mengurangi kadar ketampanannya membuat gadis-gadis disana menjerit tertahan.

 

‘Pagi tadi saat pengasuh hendak membersihkan kamarnya, ia sudah tidak menemukan keberadaan uri Myung Hui. Kasur lantai dan selimutnya nampak berantakan. Saat itu juga aku memeriksanya sendiri. Tidak ada tanda-tanda kalau ini adalah ulah perampok karena pintu kamarnya atau jendela, semuanya tidak ada yang rusak dan barang berharganya pun juga tidak ada yang hilang. Mustahil jika ini ulah perampok.’

 

‘Jeonha, aku sudah mengerahkan seluruh pengawalku untuk mencari uri Myung Hui bahkan sampai ke daerah perbukitan. Namun hingga sekarang belum ada kabar dari mereka. Sebagai seorang raja, jeonha haruslah segera memiliki ratu. Hamba mohon dengan sangat, jangan mengharapkan Myung Hui untuk menjadi ratu Joseon. Jeonha tidak bisa menunggu lebih lama, karena akan muncul pemikiran buruk tentang jeonha nantinya. Hamba sungguh tidak ingin hal itu terjadi. Pilihlah salah satu dari calon ratu itu.’

 

‘Igo, hamba tahu binyeo (tusuk konde) ini adalah pemberian jeonha. Hamba menemukannya di kamar Myung Hui. Akan lebih baik jika jeonha segera memilih sang ratu. Uri Myung Hui tidak bisa menerima binyeo ini. Berikanlah pada ratu jeonha.’ Menteri Kim menyodorkan binyeo itu kepada Kyuhyun, namun Kyuhyun bur-buru menolaknya.

 

‘Anio menteri Kim. Aku membuatnya khusus untuk Myung Hui. Biarkan dia memilikinya. Aku yakin Myung Hui akan kembali. Secepatnya.’

 

Selama perjalanan, Kyuhyun tak pernah bisa melupakan percakapannya dengan menteri Kim. Memikirkan kata demi kata yang menteri Kim ucapkan padanya. Meminta dengan penuh hormat kepadanya untuk segera memilih sang ratu. Melepaskan keinginannya untuk menjadikan Myung Hui sebagai permaisurinya. Tapi mampukah ia melakukannya ?

 

Saat hatinya bimbang memikirkan apa yang akan ia putuskan, bayangan akan Abamama dan Changmin serta pesan dari sang ibunda yang mengharapkan kemajuan Joseon lewat pemerintahannya membuat Kyuhyun menelan pahitnya keputusan final yang ia ambil siang itu. Saat kudanya mencapai pintu gerbang istana. Kyuhyun memerintahkan Ming untuk mengumumkan sebuah pertemuan di Gyeongbokgung. Dan meminta kedua calon ratu itu untuk hadir. Ming agaknya terkejut namun perintah raja adalah mutlak hingga ia hanya mampu menuruti keputusan Kyuhyun.

 

Hari yang paling di nanti-nanti oleh keluarga Cha, dimana Kyuhyun menetapkan pilihannya pada Cha Min Seo sebagai ratunya. Raut bahagia muncul di wajah keduanya –Cha Yang Sun dan Cha Min Seo- namun tidak pada Kyuhyun. Bahkan kini Kyuhyun nampak terlihat lebih dingin dari sebelum-sebelumnya. Bukan masalah bagi Yang Sun selama jalannya menuju kursi kepemimpinan semakin dekat. Namun resah dan gelisah sedikit muncul di hati Min Seo. Bagaimana Kyuhyun akan bersikap padanya nanti ?. Mungkinkah Kyuhyun akan membuka hatinya dan melupakan Kim Myung Hui ?. Dua pertanyaan ini mendominasi otak dan hatinya.

 

Hari itu juga Kyuhyun menggelar upacara pernikahannya dengan Min Seo. Kabar akan pernikahan yang mendadak ini cepat tersebar ke seluruh penjuru Joseon bahkan ke kerajaan sahabat. Mereka semua yang mendengarnya turut senang atas pernikahan raja muda itu, namun rasa bahagia itu sama sekali tidak tersirat di wajah Kyuhyun. Bagaimana bisa ia tersenyum sementara ia menikahi wanita yang bukan pilihannya. Bahkan kabar keberadaan Myung Hui belum ia dengar hingga sekarang. Sebenarnya apa saja yang di lakukan oleh prajurit kerajaan yang ia perintahkan untuk mencari Myung Hui seharian ini ?.

 

Hari ini adalah hari yang melelahkan sekaligus penuh masalah bagi Kyuhyun hingga kepalanya terasa ingin pecah dan mengeluarkan semua isi pikirannya. Hari yang penat untukknya.

 

***Found You In Joseon***

 

Malam hari di kediaman Cha Yang Sun, sudah satu jam lebih mereka mengadakan pertemuan kecil disana. Cha Yang Sun bersama dengan 3 menteri lainnya yang juga memberontak dari pemerintahan raja.

 

“Satu langkah untukmu memperoleh kursi kekuasaan semakin dekat menteri Cha.” Ucap salah seorang menteri yang sejak tadi nampak menikmati arak putihnya.

 

“Tidak ku sangka akan semudah ini. Ternyata kedua anak itu tidak sepintar ayah mereka.” Sahut Yang Sun.

 

“Tentu kau tidak melupakan jasa kami bukan ?. Ku sarankan untuk memikirkan imbalan yang pantas untuk kami setelah kau menjadi raja joseon nanti. Bukankah begitu.” Celetuk menteri lain yang di setujui oleh kedua menteri yang lain kecuali Yang Sun.

 

‘Bermimpilah kalian. Aku sudah memikirkan untuk menempatkan kalian di tempat yang pantas bagi para pemberontak.’ Batin Yang Sun, memunculkan senyum sinis di wajahnya.

 

***Found You In Joseon***

 

Seperti pagi-pagi biasanya, sinar matahari akan bersinar menerangi bumi Joseon setiap harinya. Burung-burung terbang hinggap dari satu pohon ke pohon yang lain dengan mengicaukan suara merdunya seolah menjadi musik yang mengalun merdu tiap paginya. Kim Jaejoong berjalan santai menghampiri kamar tidur adiknya. Semalan ia, Won dan juga cenayang Jung baru tiba di pusat kota. Karena keadaan Myung Hui yang belum sadar membuat Sung Yeol memutuskan untuk tidak ikut serta ke istana. Ia harus segera menidurkan Myung Hui di kamarnya. Lagipula punggungnya seperti mau patah.

 

Sung Yeol menggeser pintu dengan hati-hati takut jika suara deritan pintu akan membangunkan tidur cantik adiknya. Namun dugaannya salah, adiknya itu sudah bangun dan mengenakan hanbok seperti biasanya. Meninggalkan pakaian aneh yang ia kenakan kemarain. Entah ia dapat darimana pakaian itu.

 

“Oppa..” yeoja itu berteriak saat mendapati tubuh Sung Yeol yang muncul di balik pintu.

 

“Kau sudah bangun ?. Bagaimana keadaanmu ?” Sung Yeol dengan penuturannya yang lembut dan penuh perhatian menghampiri Myung Hui dan duduk di sampingnya.

 

“Yak oppa. Kenapa kau kita berpakaian seperti ini ?. Kemarikan pakaianku ?” Sung Yeol mengerutkan dahinya bingung mendengar penuturan sang adik.

 

“Apa kau tidak senang dengan pakaianmu sekarang ?. Kalau tidak suka kenapa kau memilih warna itu, gantilah dengan warna yang kau suka.”

 

“Yak oppa. Aku ingin pakaianku kemarin. Jeans dan sweater merahku, kau kemanakan pakaian itu ?.” Sung Yeol melongo bingung mendengar bahasa asing yang tak ia mengerti keluar dari mulut Myung Hui.

 

“Myung Hui-ah, kau bicara apa ? Aku sama sekali tidak mengerti.” Myung Hui mendengus kesal. Sejak kapan kakaknya ini berotak unta.

 

“Oppa, kau pikir kita sedang syuting drama Joseon ?. Palli berikan bajuku.”

 

“D-drama ? Apa itu ?. Oppa ? Apa artinya ?. Yak, Myung Hui-ah darimana kau mendapat kata-kata asing itu ?” kini Myung Hui yang dibuat melongo. Apa oppa-nya sedang amnesia ? Tapi kapan kakaknya ini kecelakaan ?.”

 

“Neo… Jaejoong oppa ?” Myung Hui bertanya ragu.

 

“Jaejoong ? nugu ?. Hui-ah, kau menghilang sehari dan saat kembali kenapa jadi aneh seperti ini ?. Kau seperti bukan Myung Hui yang biasanya.” Sung Yeol menatap yeoja itu penuh selidik.

 

“Myung Hui ?. Dari tadi kau memanggilku dengan nama itu. Op-”

 

“Orabeoni. Aku tidak tahu siapa yang kau maksud ‘oppa’ itu. Kau selalu memanggilku orabeoni sejak kau lahir sampai sebelum kau menghilang kemarin. Aku akan mengingatkanmu jika kau lupa.” Sung Yeol mendengus kesal melihat wajah tanpa dosa adiknya itu. Tapi benarkah ia Myung Hui ?.

 

“Hahaha..” tiba-tiba Myung Hui tertawa tanpa sebab. “Oppa, sejak kapan kau pandai akting. Yak.. wajahmu benar-benar meyakinkan. Aku hampir tertipu olehmu. Wahhh daebakk.” Myung Hui mengacungkan 2 jempolnya mengagumi akting Sung Yeol. Akting ?.

 

“Kim Myung Hui hentikan leluconmu. Kenapa kau jadi aneh seperti ini ?”tawanya terhenti. Kenapa ia baru sadar jika Jaejoong memanggilnya dengan nama ‘Myung Hui’, sepertinya nama itu familiar di telinganya.

 

“Myung Hui ?. Kim Myung Hui. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya.”

 

“Sudahlah, kita tidak punya banyak waktu untuk leluconmu. Kau harus bertemu dengan Kyuhyun jeonha dan meminta maaf padanya. Kau membuatnya kecewa Hui-ah.” Kyuhyun ? nama itu juga terdengar tidak asing untuknya. Cukup lama ia berpikir hingga seberkas ingatan muncul di pikirannya. Kim Myung Hui. Kyuhyun jeonha. Dinasti Joseon.

 

“Hei..” Sung Yeol menghentikan langkahnya yang hendak keluar dari kamar Myung Hui dan berbalik hingga kini keduanya saling berhadapan. “Aku tidak tau kau itu siapa. Tapi wajahmu mirip dengan oppa-ku. Namanya Kim Jaejoong. Dan aku, aku bukan Kim Myung Hui seperti yang kau pikirkan. Wajah kami memang sama tapi aku Kim So Eun bukan Myung Hui. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi sepertinya aku tertarik ke masa lalu. Aku berasal dari masa depan yang kembali ke masa lalu entah karena apa dan entah bagaimana caranya aku bisa sampai ke zaman ini.” Sung Yeol terdiam mendengar penjelasan panjang So Eun. Ya, Kim So Eun. Sesaat hanya suara kicauan burung yang terdengar hingga gelak tawa dari Sung Yeol menggelegar di dalam kamar itu.

 

“Hahaha..Hui-ah, sejak kapan kau punya selera humor seperti ini. Aduh perutku sakit. Hahaha..” So Eun menghembuskan nafasnya kesal. Ia tidak sedang bercanda sekarang. Astaga. “Sudahlah, cepat bersiap-siap. Kita akan pergi ke istana bersama.” So Eun mengendurkan bahunya lemas. Semua ini benar-benar sulit dipercaya. Terakhir ia ingat dirinya tengah menyesap coffe latte di sebuah caffe serambi membaca buku tentang sejarah Joseon. Dan…

 

“Cahaya itu. Apa mungkin cahaya itu yang menarikku ke Joseon ?” So Eun bertanya pada dirinya sendiri. “Ahhh… molla. Bagaimana mungkin ini terjadi. Bagaimana caranya aku bisa kembali ke masa depan ??” dirinya benar-benar frustasi. Ini bukan zamannya, ia tak kenal satu orang pun disini. Ohh ini mengerikan.

 

“Ponselku ?” So Eun bergegas bangkit dari duduknya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan mencari keberadaan benda pipik berwana silver itu. Hingga pandangannya terkunci ke arah kasur lantai. Disana, dibawah selimut ponselnya tergeletak.

 

“Omo, kenapa tidak ada sinyal sama sekali ?” So Eun mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, mengarahkannya kesana kemari berharap ada singnal yang masuk ke ponselnya. Na’as nya satupun tak ada yang muncul. “Sial, kenapa aku begitu tidak beruntung.” So Eun mendudukkan tubuhnya kembali. Ia bingung sekarang. Ia terjebak di zaman nenek moyang. Oh, yang benar saja. “Oppa.. aku merindukan omelanmu. Eomma aku rindu masakanmu. Appa aku rindu suara lembutmu. Ahh.. disini ada orang yang mirip denganmu oppa, tapi tidak di masa depan atau di masa lalu kalian sama saja bersikap menyebalkan dan seenaknya sendiri. Jinja.” So Eun untuk yang kesekian kalinya hanya mampu mengendurkan bahunya, menghela nafas frustasi. Apa yang harus ia lakukan dengan dunia asing ini ?. Hingga suara pintu yang bergeser membuatnya menengokkan kepalanya ke arah pintu.

 

“Astaga Hui-ah, apa yang kau lakukan disana. Ppalli.” Kenapa kalian berdua sama-sama menyebalkan. Apa sudah takdirku memiliki oppa seperti kalian ?’ batin So Eun. Akhirnya dengan malas tubuhnya berdiri mengikuti kemanapun namja itu pergi.

 

***Found You In Joseon***

Joseon-The.Moon.That.Embraces.The.Sun.E11 (124)

 

“Hamba sudah mendengar kabar pernikahan jeonha dengan Junjong-mama (ibu ratu).”

 

“Sudahlah Won, tidak ada yang patut di banggakan dari pernikahanku. Kapan kau tiba di istana ?”

 

“Semalam jeonha. Hamba dan Sung Yeol telah berhasil menemukan cenayang Jang Ok Nam. Cenayang itu berada di istana bintang saat ini. Jika jeonha ingin menemuinya, hamba akan menjemputnya sekarang.”

 

“Tidak perlu. Setelah ini kau bawa dia ke istana Gyeonghuigung.”

 

“Ye jeonha.” Won Ill beringsut pergi setelah merasa cukup menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan pada Kyuhyun. Kini tinggalah raja muda itu sendirian di ruangannya. Wajahnya kembali murung dengan rasa menyesal yang mendominasi hatinya saat ini.

 

Pagi tadi ia mendapat kabar jika Kim Myung Hui telah di temukan, dan kini sudah sampai di rumah dengan aman bersama Sung Yeol dan Won Ill. Awalnya ia bingung bagaimana bisa Myung Hui ada bersama mereka, namun pengawal yang ia perintahkan untuk mencari keberadaan Myung Hui telah menceritakannya secara detail kronologi yang terjadi. Ada rasa lega sekaligus senang tidak terjadi apa-apa pada yeoja itu. Namun tak mampu di bohongi pula jika ia merasa menyesal karena terburu-buru melangsungkan pernikahannya dengan Minseo. Ya, ia menyesal. Teramat sangat menyesali semuanya.

 

Kyuhyun kehilangan fokusnya, kepalanya terasa pening memikirkan apa yang telah terjadi dalam kurun waktu kurang dari 2 hari ini. Gulungan yang berisi laporan kependudukan Joseon terlepas dari genggamannya. Entahlah, ia merasa marah pada dirinya sendiri. Andai saja ia lebih bersabar, andai saja ia berpegang teguh pada hati kecilnya. Hanya kata ‘andai saja’ yang memenuhi pikirannya saat ini. Menyesal memang datang di akhir bukan.

 

“Jeonha, Junjong-mama datang mengunjungi jeonha.” Begitu mendengar seruan Ming Sun, Kyuhyun kembali menegakkan tubuhnya. Menunggu pintu di depanya terbuka dan Min So masuk setelahnya.

 

minseo-kim-min-se2

 

Min Seo tersenyum cerah begitu kakinya melangkah masuk. Membungkukkan tubuhnya ke arah Kyuhyun sebagai bentuk penghormatan sebelum ia menyampaikan maksud tujuannya kemari.

 

“Ada apa kau kemari ?” Kyuhyun berucap ketus, pandangannya juga terang-terangan sinis menatap Min Seo yang tersenyum manis kearahnya. Justru membuatnya muak.

 

“Jeonha, cuaca sedang sangat baik hari ini. Tidakkah jeonha ingin menghirup udara segar ?” tak menghiraukan nada ketus dan tatapan sinis yang Kyuhyun berikan untuknya, Min Seo tetap mempertahankan senyum dan nada lembutnya. Semalaman ia tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya karena sudah berhasil menjadikan Kyuhyun miliknya, terlepas dari perasaan Kyuhyun padanya. Karena rakyat Joseon bahkan kerajaan sahabat mengetahui bahwa ratu Joseon adalah Cha Min Seo.

 

“Banyak laporan yang masih harus ku periksa. Kau lihat sendiri bukan.” Kyuhyun menunjuk tumpukan gulungan di mejanya.

 

“Jeonha, jangan terlalu memaksakan diri. Hamba tidak ingin jeonha jatuh sakit.” Kyuhyun benar-benar merasa muak dengan kata-kata lembut yang keluar dari mulut Min Seo. Namun ia masih memiliki hati nurani. Terlebih sebagai seorang raja, akan sangat tidak etis ia memarahi atau membentak ratunya sendiri tanpa ada sebab.

 

“Junjong, kau ingin jalan-jalan denganku ?. Mengelilingi istana bersamaku ?” tawaran Kyuhyun membuat senyum Min Seo kian merekah. Ia mengangguk membenarkan ucapan Kyuhyun. Mimpi apa ia semalam hingga Kyuhyun mengajaknya jalan-jalan. Meskipun dengan nada tak bersahabat dan tatapan yang cenderung tajam menusuk namun Min Seo tak ingin memperdulikannya.

 

“Baiklah, akan kutemani.” Kyuhyun meletakkan gulungannya asal. Dirinya beranjak dari duduk nyamannya. Berjalan mendahului Min Seo melewati pintu pertama dan seterusnya keluar dari ruangannya. Ming Sun bersama dengan pelayan istana yang lain ikut mengikuti Kyuhyun dan Min Seo mengelilingi istana pagi itu.

 

“Apa kau se-senang itu ?” Kyuhyun yang hanya diam akhirnya mengeluarkan suaranya. Pertanyaan yang begitu ambigu untuk memulai pembicaraan.

 

“Jwesonghamnida jeonha, tapi hamba tidak mengerti dengan maksud pertanyaan jeonha ?” jawab Min Seo –tetap- dengan nada lembutnya.

 

“Menjadi ratu Joseon dan menjadi ratuku. Apa kau begitu senang ?” Kyuhyun menghentikan langkahnya. Memfokuskan diri pada jawaban Min Seo.

 

“Jujur, hamba begitu mengagumi jeonha. Menjadi pendamping jeonha adalah salah satu impian hamba. Hamba sangat senang bisa menemani sisa hidup jeonha.” Kyuhyun tertawa sinis mendengar jawaban Min Seo.

 

“Apa kau akan tetap senang dan bersyukur bisa menjadi ratuku meskipun kau tahu bahwa ada wanita lain yang mengisi hatiku ?” Senyuman Min Seo pudar seketika. Terlalu terkejut dengan ucapan Kyuhyun, seolah tanpa pikir panjang Kyuhyun mengucapkannya.

 

“Kenapa diam ?. Kau menyesal sekarang ?. Kau tidak bahagia ?” Min Seo menatap tepat kearah manik mata coklat Kyuhyun. Tidak ada tatapan sayang atau setidaknya peduli disana. Hanya benci dan dingin yang ia temui saat Kyuhyun melayangkan pandangannya padanya.

 

“Sekalipun bukan hamba yang menempati ruang hati jeonha. Tapi semua orang diluar sana hanya mengetahui satu ratu. Ratu yang jeonha nikahi kemarin. Tidak peduli jika ratu itu ada di hati jeonha atau tidak.” Tatapannya mengeras namun ucapannya masih lembut. Min Seo jugalah wanita yang tentunya akan sakit hati, sejak tadi ia menahannya namun kali ini Kyuhyun sudah menyakitinya terlalu dalam. Bahkan ini baru hari kedua pernikahan mereka, namun kebahagiaan itu serasa mustahil bagi Min Seo dan ini semua karena Kim Myung Hui.

 

***

 

So Eun menendang-nendangkan kakinya hingga hanbok yang ia kenakan tersingkap sedikit keatas. Mulutnya mengerucut kadang-kadang juga mengeluarkan umpatan untuk Sung Yeol. Bagaimana tidak, namja yang bahkan So Eun tak hafal namanya itu. Namja yang berwajah mirip dengan Jaejoong itu meninggalkannya di tempat asing seperti ini. Dan parahnya ia tersesat di istana seluas ini. Di masa depan So Eun sama sekali tidak pernah berkunjung ke istana Joseon. Bayangkan saja bagaimana bingungnya ia sekarang.

 

“Ahh menyebalkan.. orabeoni itu meninggalkanku begitu saja. Dan apa dia bilang tadi, menemui Kyuhyun jeonha ? Rupa orangnya saja aku tidak tahu.” So Eun berjalan mengikuti keinginan kakinya. Sesekali ia mendapat anggukan –penghormatan- dari dayang istana yang berjalan melewatinya. “Ige mwoya.. aku tidak bisa hidup di zaman ini.” So Eun merengek pada dirinya sendiri. Ia tak tahu sama sekali berada dimana ia sekarang. Sekelilingnya hanya ada bangunan istana yang berbentuk hampir sama. Membuatnya bingung sekaligus pusing.

 

“Putri Myung Hui ?” So Eun tetap melanjutkan langkah lesu-nya, menghiraukan panggilan Won di belakangnya. Namanya bukan Kim Myung Hui jadi So Eun tak merasa bahwa diirnya di panggil Won Ill. “Putri Kim Myung Hui.” Hingga panggilan kedua, So Eun membalikkan tubuhnya menatap bingung pria berambut sebahu di belakangnya. Astaga, namja itu membawa pedang samurai.

 

“Apa kau mencari Kyuhyun jeonha ?” tanya Won. Kenal tak kenal, So Eun hanya mengangguk cepat. “Kalau begitu, ikutlah denganku. Akan kuantar kau menemui jeonha.” So Eun dengan langkah takut mengikuti Won Ill, matanya tak lepas dari pedang yang berada di genggaman Won Ill. Takut-takut jika tiba-tiba pedang itu menghunus kearahnya. Tak lama mereka berjalan dengan jarak yang begitu jauh, Won Ill menghentikan langkahnya.

 

“Kenapa berhenti ?” tanya So Eun spontan. Won Ill mengarahkan pandangannya kesatu arah dimana Kyuhyun dan Min Seo berjalan beriringan kearah mereka. So Eun mengikuti arah pandang Won Ill dan untuk pertama kalinya ia melihat namja itu. Dengan jubah merah kebesaran Joseon. Lambang dari negara Joseon.

 

kim so eun-yey

 

Kyuhyun yang menyadari keberadaan Won seketika menghentikan langkahnya. Dan pandangannya terfokus pada So Eun yang berdiri disamping Won Ill. Min Seo di buat terkejut setengah mati, hingga tanpa sadar ia melangkah ke belakang. Kyuhyun tak begitu menghiraukan reaksi Min Seo, seluruh pandanganya hanya jatuh pada yeoja itu. Kim So Eun.

 

“Myung Hui..” lirih Kyuhyun.

 

“Bukankah dia..” So Eun mengingatnya. Namja itu adalah Raja Joseon yang pernah ada di mata kuliah sejarahnya bersama Kim Seongsaenim. Kyuhyun jeonha.

 

Seperti itulah pertemuan mereka. Pertemuan pertama bagi So Eun seumur hidupnya namun dalam persepsi Kyuhyun, pertemuan pertama setelah Myung Hui di kabarkan menghilang. Awal pertemuan yang akan menjadi awal mula kisah cinta dari zaman yang berbeda. Kisah cinta yang membuat So Eun mengucap syukur karena bisa tertarik ke masa lalu. Melupakan segala macam keluhannya pagi ini. Dan untuk sesaat ia lupa akan kehidupan aslinya. Jaejoong, tuan dan nyonya Kim, serta sahabatnya. So Eun terbuai akan kehidupan Joseon dengan cintanya pada Kyuhyun.

 

 

TO BE CONTINUE…

Andalan
Diposkan pada chapter, married life, SAD

My Married Life Part 11 -END-

My Married Life (Part 11)

                                            

               my married life happpy ending

 

Title : My Married Life

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Park Jiyeon (Cho Jiyeon)

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Kwon Nara
  • Lay
  • Cho Youngjae

Genre : Angts , little NC , married life, temukan sendiri.

SELAMAT MEMBACA

 

 

            L4Y Company, 10.19 KST

 

Matahari bersinar terang pagi itu, meskipun bulatan-bulatan putih masih terlihat turun seakan menjadi teman setia sang surya 3 bulan terakhir ini. Cerahnya hari berbanding terbalik dengan suasana hati Lay pagi ini. Mungkin tidak akan pernah ada lagi cahaya yang menerangi ruang hati namja berdarah campuran itu, dan semua itu karena ulahnya sendiri. Semua ini berawal dari sepucuk surat yang tergeletak diatas mejanya. Surat dengan amplop yang diatasnya tertera sebuah tulisan bagaikan mantra pencabut nyawa.

 

SURAT PENGUNDURAN DIRI.

Mungkin tidak akan berdampak terlalu besar bagi Lay jika pengirimnya adalah orang lain, orang yang tak berpengaruh bagi kisah hidupnya. Namun kali ini kepahitan lah yang menyapanya. Kepemilikkan surat yang ada ditangannya saat ini adalah atas nama Kwon Nara. Yeoja yang telah menguasai hatinya itu akan menghilang dari jangkauannya. Nara telah membulatkan keputusannya untuk keluar dari L4Y Company, bahkan Lay tidak sempat melihat wajah tambatan hati untuk yang terakhir kalinya.

Lay seakan kehilangan semua ungkapannya kemarin. Ungkapan untuk selalu berjuang mendapatkan hati Nara, tak peduli sebenci apapun gadis itu padanya. Pasalnya ia berpikir meskipun Nara mengundurkan diri dari perusahaan, ia masih bisa datang keapartement gadis itu. Skenario berubah mendadak saat tadi pagi Lay mendapati bahwa Nara sudah tidak tinggal lagi di apartementnya sejak satu minggu yang lalu. Lalu kemana gadisnya pergi ?.

Gadisnya ? Pantaskah lelaki brengsek ini menyebutnya sebagai miliknya setelah apa yang ia lakukan kemarin. Mengambil paksa ciuman pertama Nara tanpa ada belas kasihan sedikit pun. Membuatnya seakan wanita murahan yang memberikan bibirnya semudah itu pada lelaki manapun. Kau pengecut Lay.

“Kemana kau Nara ?”

∞ My Married Life ∞

Cho’s House, 11.23 KST

 

 

Lain L4Y Company lain pula keadaan di kediaman Cho Kyuhyun. Siang ini, Nara yang memang sudah tidak memiliki pekerjaan hanya dapat berdiam diri dikamarnya sambil berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang. Baru saja ia mendapat kabar dari Jongin yang mengawasi gerak-gerik Jiyeon di kantor bahwa saja perempuan yang menjadi rivalnya itu baru saja keluar untuk makan siang dengan Kyuhyun. Orang lain akan biasa saja atau bahkan turut senang melihat pasangan Kyu-Yeon kita, namun lain halnya jika orang itu Nara. Yeoja yang saat ini geram, merasakan hatinya yang terbakar hangus oleh api cemburu membuat emosinya menggebu-gebu ingin segera mengakhiri semuanya.

“Aku sudah tidak tahan lagi melihat kebahagiaan mereka diatas penderitaanku. Kalian harus segera merasakan apa yang kurasakan sekarang.” Nara segera meraih ponselnya diatas nakas , menggerakkan jari lentiknya dilayar touchscreen mencari-cari kontak dial Jongin.

“Yeobeoseyo..”

“Kita rubah rencana. Percepat semuanya.”

 

 

“Kau yakin dengan keputusanmu. Aku tahu kau sedang tidak dalam suasana hati yang baik sekarang. Pikirkanlah lagi.”

“Aku sangat yakin Jongin. Jangan banyak bicara, lakukan saja apa yang aku rencanakan sebelumnya.”

“Baiklah jika itu keputusanmu. Kapan kau keluar dari rumah itu ?”

 

 

“Malam ini. Tunggu aku didepan gerbang tepat jam 7.”

“Arraseo.”

 

 

KLIK..

 

 

“Akan ku hancurkan kehidupanmu Jiyeon seperti kau menghancurkan kehidupanku.” Nara beranjak dari atas ranjang menuju lemari pakaian di samping kanannya.Mengeluarkan koper besar dan memunguti pakaian demi pakaian dari dalam almari untuk dipindah tempatkan kedalam koper.

∞ My Married Life ∞

Kyuhyun dan Jiyeon. Sepasang makhluk Tuhan yang di pertemukan lewat perjodohan dengan kedok bisnis, pasangan dengan awal pernikahan yang bisa dibilang jauh dari kata bahagia. Pernikahan yang awalnya sama sekali tak diharapkan dari pihak namja, kini justru berbuah manis. Tidak hanya bahagia yang mereka dapatkan, namun lebih dari itu hingga tak mampu diungkapkan dengan untaian kata.

Makan siang bersama seperti ini entah sejak kapan telah menjadi agenda rutin seorang Cho Kyuhyun. CEO yang terkenal paling sibuk dengan jadwal kunjungan yang super padat. Namun beda halnya jika sudah menyangkut waktu bertemu Jiyeon. Lelaki itu akan meninggalkan apapun agar bisa bertemu istrinya, bahkan rapat dengan kolega penting dari L.A sekalipun akan ia lakukan jika sudah menyangkut istri dan putra tunggalnya. Seperti siang ini, Kyuhyun yang sebenarnya mendapat jadwal rapat dengan CEO perusahaan dari Italy harus memindahkannya kehari lain karena Jiyeon mengajaknya untuk makan siang bersama.

Jika kalian bertanya apa Jiyeon tidak tahu mengenai rapat itu ?, tentu saja tidak. Kyuhyun menyembunyikan jadwalnya yang super padat dari Jiyeon. Karena Jiyeon akan selalu menolak ajakannya untuk keluar bersama seperti makan siang karena beranggapan itu hanya akan menghambat pekerjaan Kyuhyun. Lain dengan Kyuhyun yang berpikiran, tidak bertemu Jiyeon sehari saja itulah yang menjadi hambatannya. Pemikiran namja yang gila akan cinta memang terlihat aneh.

“Oppa yakin tidak sibuk hari ini ?” Jiyeon memandang Kyuhyun penuh curiga. Pasalnya lelaki itu tidak lepas dari ponsel pintarnya barang semenit pun.

“Ani. Kau pesanlah dulu, aku akan ke toilet sebentar.” Kyuhyun berlalu dengan ponsel yang berdering ditangannya. Jiyeon tahu betul jika Kyuhyun telah berbohong padanya. Jiyeon bukanlah anak usia belasan tahun yang dapat dibohongi begitu saja dan tidak tahu menahu tentang Kyuhyun yang sejak tadi mendapat puluhan atau bahkan ribuan pesan singkat dari sekertarisnya di kantor. Jiyeon yakin sepenuh hati jika suaminya itu sangat sibuk hari ini. Ralat, mungkin tidak hanya hari ini.

Di sela ia berpikir, ponsel di dalam saku blezer nya berdering menandakan ada panggilan masuk.

“Nara ? Tumben dia menelponku. Mungkinkah terjadi sesuatu di rumah ?” mengingat kata rumah membuat pikiran Jiyeon langsung tertuju pada Youngjae. Segera ia menggeser layar untuk menerima panggilan Nara.

“Yeoboseyo ?”

“Jiyeon-ssi, maaf menganggu makan siangmu. Bolehkah hari ini aku mengajak Youngjae jalan-jalan ke taman. Salju tidak begitu turun hari ini dan cuaca juga sedang cerah. Itupun jika kau mengijinkan.”

Jiyeon sedikit menimang-nimang keputusannya untuk memberi izin atau tidak. Pikirannya bilang untuk memberi izin mengingat Youngjae sudah lama tidak jalan-jalan keluar. Namun, hatinya berkata lain. Ada sesuatu yang mengganjal disana, membuatnya ragu untuk mengucapkan apa yang terpikir olehnya.

“Jiyeon-ssi, kau masih disana ?”

“A.. nde Nara-ssi. Kuharap kau menjaga Youngjae dengan baik.”

“Jadi kau mengijinkan Youngjae pergi bersamaku?”

 

 

“Tapi, kau harus berjanji untuk membawa Youngjae pulang sebelum pukul 3 sore. Udara masih cukup dingin diluar. Pakaikan pakaian hangat untuk Youngjae dan pastikan kau terus mengawasinya.”

“Arra Jiyeon-ssi. Youngjae pasti akan sangat senang bisa jalan-jalan dan menghirup udara luar.”

 

 

“Aku percayakan Youngjae padamu.” Sambungan berhenti setelah Nara memutusnya dari sana. Entah benar atau tidak keputusannya untuk memberi izin pada Nara membawa Youngjae pergi tanpa pengawasan pelayan. Ada rasa khawatir yang sembunyi dibalik tumpukan ungkapan untuk memastikan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ada rasa was-was entah karena apa. Hingga Kyuhyun kembali duduk didepannya pun Jiyeon seakan masih terjebak dengan perasaannya.

“Maaf membuatmu menunggu lama. Kau pesan ap-.” Kyuhyun yang baru sadar jika istrinya tengah bergelut dengan pikirannya sendiri alias melamun seketika menghentikan pertanyaannya. Mungkinkah Jiyeon marah ?.

Tapi, Kyuhyun merasa bukan karena dirinya melainkan ada hal lain yang menganggu pikiran Jiyeon. Mungkinkah ada masalah di perusahaan ?.

“Chagi..” Jiyeon terlihat tersentak mendapati usapan hangat di kepalan tangannya yang ia daratkan diatas meja. Ternyata usapan suaminya , Kyuhyun sudah kembali.

“Nde oppa. Mian, aku pasti melamun tadi.” benar dugaan Kyuhyun jika ada hal lain yang tengah dipikirkan Jiyeon.

“Ada apa hemm ?. Kenapa kau terlihat begitu cemas ?.”

“Andwae. Aku hanya kelelahan, Donghae tanpa belas kasihan melimpahkan semua tugasnya padaku. Lebih baik sekarang kita memesan makanan dan segera pulang.” Bukannya menurut akan permintaan Jiyeon untuk segera memesan makanan, Kyuhyun justru terlihat heran dengan 2 kata terakhir yang terucap dari mulut istrinya itu.

Segera Pulang ?. Tidak biasanya Jiyeon meminta pulang setelah makan siang. Biasanya, Kyuhyun akan mengantarkan Jiyeon kembali ke perusahaan Donghae begitu pula dengannya yang akan kembali ke Cho Corp. Apa ada sesuatu yang terjadi dirumah ?. Pada Youngjae ?.

“Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiba-tiba kau ingin pulang setelah makan siang. Kenapa tidak kembali ke kantor. Apa terjadi sesuatu di rumah. Apa terjadi sesuatu dengan Youngjae ?” Ingin rasanya Jiyeon bilang jika ia khawatir perihal Nara yang mengajak Youngjae pergi. Tapi ia merasa menjadi orang yang jahat jika khawatir pada seseorang yang jelas-jelas berniat baik pada Youngjae. Lalu atas dasar apa rasa khawatirnya ini ?.

“Aku hanya kurang enak badan oppa, jadi aku ingin cepat-cepat pulang.” Masih curiga memang, namun Kyuhyun membuang jauh-jauh curiganya itu saat melihat wajah Jiyeon yang memang agak pucat hari ini.

“Neo gwenchana chagi ?. Perlukah kita ke dokter ?”

“Gwenchana oppa. Aku sudah minum obat pereda pusing tadi, jadi oppa tidak perlu secemas itu.” Untuk kali ini, sedikitpun Jiyeon tidak berbohong. Ia memang merasa sedikit pusing hari ini. Itu sebabnya ia meminta Kyuhyun menemaninya makan siang hari ini. Berjaga-jaga jikalau sewaktu-waktu ia pingsan, orang pertama yang akan menolongnya adalah orang yang ia kenal.

∞ My Married Life ∞

Selesai meyakinkan Jiyeon untuk memberikan izin membawa Youngjae pergi keluar, Nara segera mengganti pakaian rumahnya dengan pakaian yang lebih hangat. Berjalan menuju ruang tengah dimana ada Youngjae bersama 2 pelayan yang ditugaskan Jiyeon untuk menjaga satu-satunya pewaris keluarga Cho itu.

“Kalian berdua, pakaikan baju yang lebih hangat pada Youngjae. Aku akan mengajaknya jalan-jalan ke taman kota.” Tanpa berkata lagi, kedua pelayan tadi berlalu pergi guna memenuhi perintah Nara. Setelah semua siap, Nara pergi bersama Youngjae dengan mengendarai salah satu koleksi mobil Kyuhyun.

***

Di taman kota, Nara terlihat mendorong kereta bayi dengan Youngjae di dalamnya mencari tempat duduk yang tepat untuk ia duduki. Kursi taman dibawah pohon persik dengan tumbuhan hijau disebelah kanan-kirinya menjadi tempat pilihan Nara.

“Kita tunggu disini bayi kecil. Sepertinya aku pandai dalam memilih tempat. Setidaknya tidak akan ada yang tahu jika kita disini.” Nara merogoh saku mantelnya, menggapai ponsel putih gading di dalamnya. Lagi-lagi ia menekan nomer dial untuk dihubungi, namun bukan Jongin yang menjadi tujuannya.

“Aku sudah ada di taman.”

“…”

“Cepatlah. Jika kau ingin bayaranmu tidak berkurang.” Nara menutup panggilan secara sepihak. Kini, senyuman khas Cho Kyuhyun muncul diwajah putih cantik seorang Kwon Nara.

“Kwon Nara…”

Senyuman licik itu hilang saat kedua mata beningnya menangkap sosok yang telah membuatnya mengirimkan surat pengunduran diri pagi tadi. Geuraeomyeon, Ahn Lay. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, kenapa lelaki ini bisa ada disini ?. Mungkinkah Lay mengikutinya ? Tapi Lay tidak tahu jika selama ini Nara tinggal di rumah Kyuhyun.

“Lay..”

GREP

 

 

Belum selesai dengan keterkejutannya mendapati Lay berdiri tepat di hadapannya sekarang, kini jantung Nara dipaksa kembali terkejut akan reaksi dadakan Lay yang secepat kilat bergerak memeluknya. Heol, dimana mereka berada sekarang. Apa lelaki ini sudah gila.

“Apa yang kau lakukan eoh ? Cepat lepas.” Lay memang melepas pelukannya namun tidak dengan cengkramannya di pundak Nara. Lelaki itu tidak akan melepas Nara untuk yang kedua kalinya begitu saja. Inilah saatnya Nara tahu yang sebenarnya tentang perasaanya.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Nara menepis keras kedua tangan Lay yang mencengkaram pundaknya. Menatap nyalang tepat kearah mata coklat Lay.

“Kau pikir aku mau mendengar semua omong kosongmu setelah apa yang kau lakukan padaku. Apa kau belum menerima surat pengunduran diriku tadi pagi ?”

“Nara-ssi, mianhae. Jeongmal mianhaeyo, aku mengaku salah. Maaf atas perbuatanku padamu, aku-”

“Baguslah jika kau sadar. Tapi sayang sekali, surat pengunduran diriku tidak hanya untuk mengakhiri hubungan kerja, tetapi juga untuk mengakhiri semuanya. Termasuk pertemanan kita. Anggap saja kita tidak pernah mengenal sebelumnya.”

“Tidak. Tidak Nara, aku tidak mungkin bisa melupakan smeuanya begitu saja. Kau tidak boleh melakukan ini semua padaku.”

“Maaf, aku masih ada kepentingan lain. Ada hal yang jauh lebih penting daripada obrolan penuh omong kosong seperti ini. Permisi.” Nara mendorong kereta bayi Youngjae menjauh dari Lay yang terpaku ditempatnya. Sudah ia putuskan untuk mengganti tempat pertemuan dengan rekan kerjanya. Tidak mungkin ia melancarkan aksinya dimana ada Lay disini.

“Nara dengarkan aku dulu.” Langkah cepatnya terhenti saat pergelangan tangan kanannya dicekal Lay dari belakang. Sial, mau apa lagi lelaki ini. rutuk Nara.

“Aku mengaku salah. Baiklah jika kau tak ingin memaafkanku tapi kumohon dengarkan penjelasanku kali ini saja. Jebal.” Suara lelaki itu bahkan terdengar lebih lirih dari suara yeoja. Se-berarti itukah perhatian seorang Kwon Nara bagi Ahn Lay, pewaris tunggal perusahaan terbesar ketiga di Korea itu. Sejahat apapun seorang Kwon Nara, ia masih punya rasa tak tega melihat Lay bertingkah seperti ini dihadapannya. Lebih-lebih itu hanya karena meminta perhatian darinya.

“Aku tidak punya banyak waktu. Cepatlah.” Seberkas senyuman terbit diwajah sendu Lay. Nara harus tahu bagaimana perasaannya hari ini juga. Tak peduli yeoja itu menerimanya atau tidak.

“Aku sudah memendamnya sejak lama. Sejak aku masih menyamar menjadi bartender. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan rasa ini ada, tapi yang jelas sekarang adalah rasa itu semakin kuat seiring bertambahnya hari.” Lay mengambil jeda sejenak untuk menghirup napas, menyiapkan mental menerima jawaban Nara setelah ungkapan terakhirnya ini.

“Kwon Nara aku-” belum selesai berkata, ucapannya harus terpotong suara dering panggilan dari ponsel Nara. Otomatis perhatian keduanya beralih ke benda persegi panjang dengan warna putih perak itu.

“Yeobeoseyo..”

“….” Lay hanya bisa diam dengan arah pandang yang tidak lepas dari gerak-gerik Nara. Lagi-lagi ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Nara. Tak lama setelah itu Lay baru menyadari jika sejak tadi Nara mendorong kereta bayi. Bayi ? Bayi siapa ? Tidak mungkinkan jika itu bayi Nara.

“Aku akan segera kesana 10 menit lagi.” Nara mematikan ponselnya dan beralih memandang Lay untuk mendengarkan kembali ucapan yang terpotong tadi, tapi tatapannya kembali menyalang saat Lay bergerak menelisik Youngjae yang terlelap dikereta bayinya. Bahaya jika Lay mengenali Youngjae.

“Aku harus segera pergi. Mungkin kita bisa bertemu lain waktu untuk membicarakan ini. Permisi.” Nara berhasil memasuki mobilnya , mengahalau Lay yang menelisik Youngjae. Tujuannya adalah Cafe di daerah Gangnam. Nara mulai menjalankan mobilnya untuk segera mencapai Gangnam, namun entah sadar atau tidak Lay sepertinya mengenali Youngjae. Ia masih ingat betul wajah bayi itu saat ia mengunjungi Jiyeon di rumah sakit beberapa bulan lalu saat Jiyeon baru saja melahirkan.

“Bukankah bayi itu putra Cho Kyuhyun. Kenapa Nara bisa bersamanya ?” banyak spekulasi yang muncul di otaknya. Mulai dari spekulasi positif hingga spekulasi yang mengatakan bahwa Nara menculik pewaris tunggal keluarga Cho. Namun beberapa detik setelah itu Lay menggeleng kuat menandakan jika semua pemikirannya sudah melantur kemana-mana. Tidak mungkin Nara menculik bayi, untuk apa juga.

Disamping itu, perasaannnya menggerakkan Lay untuk segera memasuki mobil dan mengikuti kemana Nara akan pergi. Beruntung ia masih bisa melihat mobil Nara didepannya. Ternyata mobil Nara berhenti di salah satu Cafe di daerah Gangnam. Nara terlihat turun dengan membawa serta Youngjae ke dalam. Selang 2 menit, Lay turun dari mobil dan ikut masuk ke dalam cafe tersebut. Di sana Lay duduk di dekat jendela sedangkan Nara terlihat duduk dengan seorang namja berbadan tinggi tegap dengan raut wajah yang imut namun ber ekspresi tegas. Entah apa yang mereka bicarakan, Lay mengambil tempat terlalu jauh dari tempat dimana Nara dan lelaki itu duduk.

“Apa yang harus ku lakukan ?” tanya namja dengan rambut hitam cepak serta setelan jas yang membalut tubuh ramping tegapnya, membuatnya yeoja mana saja akan jatuh hati padanya dalam sekali bertemu. Lain hal nya jika gadis itu Nara.

“Kau bawa bayi ini. Sembunyikan dia. Jangan pernah keluar sebelum aku menyuruhmu untuk menemuiku.” Nara menyerahkan Youngjae yang terlelap di pangukannya pada namja dihadapannya. Namja yang belum kita ketahui nama nya menerima Youngjae dengan ekspresi datar. Tak ada tampang konyol atau ragu saat ia menggendong Youngjae. Bahkan bayi itu tak bergerak sedikitpun , seolah tidurnya tak terusik sedikitpun.

Lay yang sejak tadi tak pernah mengalihkan pandangannya dari kegiatan Nara dan namja asing itu semakin keheranan saat Nara memindah alihkan Youngjae pada namja asing yang entah siapa itu.

“Apa aku salah lihat ?” Lay nampak menerawang jauh didalam pikirannya. Mencoba mengingat-ingat wajah bayi Kyuhyun dan Jiyeon yang ia jenguk beberapa bulan lalu di rumah sakit.

“Tidak, aku masih ingat betul wajah bayi itu. Bayi yang sama dengan bayi yang dibawa Nara sekarang. Lalu kenapa Nara membawa bayi yang notabenya adalah pewaris keluarga Cho itu ? dan untuk apa ia menyerahkan bayi Kyuhyun kepada namja asing itu ?” semakin banyak yang terpikirkan oleh Lay semakin membuatnya bingung dengan segala kemungkinan yang ada. Satu yang dapat ia tangkap dari semua pemikirannya, Mungkinkah Nara berniat menculik bayi Kyuhyun dan Jiyeon ?.

Lay bergerak cepat menutup wajahnya dengan buku menu yang ada diatas meja saat melihat Nara berdiri dari posisi duduknya bersamaan dengan namja asing itu keluar dari caffe. Tidak ingin kehilangan jejak, Lay buru-buru menyusul mereka. Lagi-lagi ia merasa di bingungkan. Nara dan namja asing yang membawa serta Youngjae masuk kedalam mobil yang berbeda dan menuju kearah yang berebda pula. Lantas, siapa yang harus ia ikuti sekarang. Akhirnya Lay memutuskan untuk mengikuti kemana Nara akan pergi sekarang.

“Aku rasa aku mengenal jalanan ini ?” Lay merasa familiar dengan jalanan yang ia lalui sekarang. “ Bukankah ini jalanan menuju kediaman keluarga Cho ? Untuk apa Nara pergi kesana ?” tidak mau ambil pusing Lay tetap menruskan aksi menguntitnya hingga ia menghentikan mobilnya saat pandangannya menangkap mobil Nara memasuki kediaman Cho.

“Mungkinkah Nara tinggal disini ?.” tidak ingin ambil pusing, Lay memutuskan untuk memastikan sendiri dengan tetap menunggu Nara dari tepatnya sekarang. Jika Nara keluar dari rumah itu dengan mobilnya maka Nara tidak tinggal disini atau sebaliknya.

10 menit kemudian, Lay menegakkan duduknya saat sebuah mobil yang ia yakini sebagai mobil Kyuhyun memasuki kediaman Cho.

“Kenapa ribut sekali ?. Apa terjadi sesuatu di dalam ?” sepulangnay Kyuhyun, Lay melihat banyak pengawal keluar dengan mobil sedan hitam menyebar ke semua penjuru arah. Lebih dari 5 mobil ia hitung telah keluar dari kediaman Cho. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam ? dan kenapa Nara tidak kunjung keluar dari sana ?. Segala macam pertanyaan terpendam di benaknya tanpa tahu siapa yang akan menjawab semua itu.

***

Suasana di dalam kediaman Cho penuh dengan suara isak tangis. Jiyeon yang sejak tadi merasakan perasaan yang tidak enak hingga ia memutusan untuk secepatnya pulang terjawab sudah. Kini ia hanya bisa menangis di pelukan Kyuhyun.

“Aku bersalah.. aku tidak pantas untuk dimaafkan. Andai saja aku tidak lengah mengawasi Youngjae, mungkin semua ini tidak akan terjadi.” Tidak jauh beda dengan Jiyeon, Nara juga menangis disana namun tidak separah Jiyeon yang bahkan untuk bicara saja ia kesusahan.

Inikah jawaban dari semua rasa gelisahnya tadi. Youngjae, putranya menghilang ditaman kota. Bahkan bayi itu masih beum genap berusia 2 bulan, sekarang bayi itu ada ditangan orang asing yang sewaktu-waktu bisa saja melukainya. Bisa apa bayi berusia 1 bulan itu untuk melawan, mungkin hanya bisa menangis jika ia merasa ketakutan. Bagaimana keadaanya sekarang ? Udara diluar masih dingin untuk ukuran bayi, apa Youngjae kedinginan ? Apa Youngjae baik-baik saja ? Dimana putranya sekarang. Kurang lebih seperti itulah perasaan kalut yang Jiyeon alami saat ini.

“Sudahlah Nara. Tidak ada yang salah disini, berhenti menangis dan membuat suasana semakin rumit. Ahjumma tolong buatkan minuman hangat untuk menenangkan Jiyeon.” Kyuhyun berusaha untuk meredakan tangis istrinya. Bukannya tidak khawatir akan keadaan putranya, hanya saja ia berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya dari Jiyeon. Bisa-bisa suasana menjadi semakin rumit jika ia juga ikut kalut.

Tidak hanya kecewa, bahkan Kyuhyun merasa murka dengan kelalaian Nara sehingga membuat putranya entah dimana sekarang. Beruntung Kyuhyun masih dikuasai akal sehatnya sehingga ia tidak memaki Nara.

“Sayang, minumlah ini dan tenangkan dirimu. Mereka pasti menemukan putra kita, percayalah.” Kyuhyun meyodorkan segelas minuman hangat yang dibawakan Shin ahjumma pada Jiyeon.

“Tapi dimana Youngjae oppa hiks..hikss. Bagaimana kalau penculik itu melukai putra kita hiks. Aku takut oppa hiks.. hiksss..” Kyuhyun membawa Jiyeon kedalam pelukan hangatnya mencoba mengurangi rasa takut yang melanda istrinya. Membagi rasa kalut itu padanya, setidaknya ia lebih kuat menahan semua itu ketimbang istrinya yang terlihat rapuh saat ini.

“Cih, kalian pikir akan begitu mudah menemukan Youngjae. Sekarang kalian bisa merasakan bagaimana sakitnya jauh dan kehilangan orang tersayang. Itulah yang kurasakan saat Kyuhyun meninggalkanku dan berpaling padamu Park Jiyeon.” Nara semakin geram dengan drama yang dilakoni Kyuhyun serta Jiyeon didepannya. Muak dengan semua keluh Jiyeon yang menurutnya berlebihan. Gadis cengeng.

“Aku akan ikut mencari Youngjae. Sekali lagi aku minta maaf atas semua yang terjadi.” Nara berlalu pergi menuju mobilnya yang masih terparkir tepat didepan teras. Mencari Youngjae ? tentu saja itu hanya alasannya agar dapat terjauh dari segala macam adegan drama yang salah satunya baru saja ia saksikan tadi.

“Kalian tunggu saja klimaksnya nanti.” Nara melajukan mobilnya melesat pergi entah kemana.

∞ My Married Life ∞

Setelah berkeliling cukup lama, disinilah kini Nara berada. Sungai Han, salah satu tempat romantis yang sering ia kunjungi dulu bersama Kyuhyun. Disalah satu bangku taman ia duduk menyendiri sambil menikmati matahari senja. Harusnya ia bahagia sekarang karena sebentar lagi rencananya akan berhasil dan ia bisa bersama Kyuhyun kembali. Namun, ada satu hal yang membuatnya sejak tadi hanya melamun dengan tatapan kosong. Ada satu hal yang mengintrupsinya untuk menghentikan semuanya sampai disini, jangan meneruskan lagi.

“Haruskah aku menghentikan semuanya. Sanggupkah aku melihat Kyuhyun oppa hidup bahagia bersama Jiyeon.” Nara mengucapkannya tanpa sadar. Yang sejak tadi berputar-putar menganggu pikirannya adalah bisakah Kyuhyun kembali padanya setelah nanti ia tahu bahwa dalang dari semua ini adalah dirinya.

“Hentikan semuanya Nara-ya.” Nara tersentak saat mendengar suara lain mengintrupsi pikirannya.

“Lay.” Terkejut saat mendapati mantan atasannya itu kini tengah duduk disampingnya. “ Se..sejak kapan kau disini ? A..ap.apa kau mendengar semuanya ?” dunianya seakan runtuh seketika saat melihat anggukan dari namja dihadapannya. Kebusukannmu telah diketahui orang lain Kwon Nara, orang yang menganggapmu sebagai orang baik selama ini.

Nara mengalihkan wajahnya dari jangkauan penglihatan Lay. Entah kenapa ada semilir angin yang berhembus diruang hatinya saat tak sengaja pandangannya bertemu dengan mata coklat emas milik Lay.

“Sekarang kau tahu wanita seperti apa aku ini. Berhentilah mengikutiku Lay, biarkan aku memutuskannya sendiri.”

“Kau tidak perlu melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan Cho Kyuhyun. Tidakkah kau berpikir jika Kyuhyun mengetahui semuanya apa yang akan ia lakukan padamu. Dia bisa saja menyeretmu kedalam penjara Nara.”

“Itu semua tidak akan terjadi jika aku sudah menyingkirkan penghalang diantara kami. Aku yakin itu.” Suara Nara terdengar mulai bergetar dan serak. Air mata sudah membendung dimatanya namun sebisa mungkin ia menahannya untuk tidak terlihat lemah didepan Lay. Ada rasa sesak yang menyelimuti ulu hatinya saat ia mengatakan keyakinannya. Orang awam pun akan tahu jika Kyuhyun sudah tidak memiliki rasa yang sama seperti dulu pada Nara. Rasa cinta dan memuja seorang Cho Kyuhyun kini telah berlabuh di lain hati. Dan Park Jiyeon lah pelabuhan terakhir yang menjadi tempat terakhir hati seorang Cho Kyuhyun akan berpijak.

“Itu tidak akan pernah terjadi Nara. Kyuhyun sangat mencintai istrinya, ditambah lagi kini ada Youngjae ditengah-tengah mereka. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dengan terus mengharapkan Kyuhyun kembali. Kumohon lupakan dia, lupakan Cho Kyuhyun.” Nara menatap nyalang kearah Lay yang terlihat sendu memohon padanya untuk mengehntikan semua ini.

“Lupakan kau bilang. Harusnya Jiyeon yang melupakan Kyuhyun karena pada kenyataannya akulah cinta pertama seorang Cho Kyuhyun. Seharusnya aku yang menikah dan menjadi pendamping Kyuhyun saat ini, bukan Jiyeon.” Beribu belati tajam seakan menyayat hati serta jantung Lay kala melihat Nara menangis tersedu dihadapannya hanya karena seorang Cho Kyuhyun, lelaki yang sampai saat ini mengisi ruang hatinya.

“Aku sangat mencintai Kyuhyun. Aku rela melakukan apapun asal Kyuhyun masih bisa terjangkau oleh jarak pandangku. Salahkah jika aku melakukan semua ini demi meraih kebahagiaan yang tak pernah datang pada kehidupanku. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai dan di puja oleh seseorang dengan tulus. Dan aku merasakan smeua itu saat aku masih bersama Kyuhyun.” air mata itu semakin deras mengalir seiring dengan matahari yang tenggelam kembali ke peraduannya.

“Akankah kau menghentikan semua rencana gila ini jika ada seorang namja yang ternyata mencintaimu dengan tulus seperti apa yang kau inginkan.”

“Itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan ada nam-”

“Aku mencintaimu Kwon Nara.” suara isakan itu memang sudah tak terdengar namun air mata tetap mengalir menganak sungai diwajah gadis berusia 25 tahun itu. Pandangannya bertemu dengan mata teduh milik namja yang baru saja mengutarakan perasaanya itu.

“Aku mencintaimu Nara, itulah yang ingin kubicarakan padamu tadi siang ditaman kota. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku mencintaimu setulus hatiku, jadi kumohon berhentilah mencintai Cho Kyuhyun.” Nara dapat merasakan kehangatan saat Lay menggenggam kedua tangannya. Kehangatan yang menjalar hingga kebagian terdalam dari tubuhnya. Bongkahan es yang mengeraskan hatinya perlahan mencair seirng dengan ungkapan-ungkapan manis yang keluar dari bibir tipis Lay.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya menahan perasaan ini selama hampir satu tahun lamanya. Menahan hasrat untuk tidak memelukmu setiap aku dekat dengamu. Aku selalu merasa menjadi lelaki yang tak berguna saat melihatmu menangis dan menolak untuk menceritakan sebabnya padaku.”

“Jadi.. Kwon Nara, maukah kau menjadi kekasihku. Kumohon lupakan Kyuhyun dan cobalah untuk mencintaiku.” Lay menarik Nara ke dalam pelukannya. Berusaha menguatkan hatinya mendengar keputusan Nara setelah ini.

Nara merasakan ketenangan dalam dirinya, berbeda dari beberapa saat yang lalu ketika pikirannya seakan terhimpit oleh dua dinding yang kian waktu kian menghimpit kinerja akal sehatnya. Dapat ia dengar dengan jelas degup jantung Lay yang bertalu-talu disana. Ternyata lelaki ini gugup mendnegar jawabannya.

Perlahan Nara menjauh lepas dari dekapan nyaman Lay. “ Kau sudah tahu seperti apa sifatku. Aku adalah wanita tak berperasan. Kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku Lay.”

Ada perasaan tak rela ketika mengucapkan penolakannya. Ada rasa kehilangan dihati seorang Kwon Nara. Bahkan tanpa ia sadari jika sejauh ini ia sudah tidak lagi memikirkan Cho Kyuhyun. yang ada dipikiran serta hatinya adalah lelaki yang duduk dihadapannya saat ini. Ahn Lay.

“Untuk apa aku mencari jika wanita yang kau sebut pantas untukku ada disini sekarang. Kau lah wanita itu Nara. Aku tahu ini semua bukan niat aslimu. Kau hanya menuruti asumsimu saja, ini bukanlah sikap aslimu Nara. Belum terlambat untuk mengakhiri semua ini.” Lay menangkup wajah Nara yang menunduk untuk menatap kedua matanya. Agar Nara tahu bahwa semua yang ia katakan adalah kejujuran dari dalam hatinya bukan hanya untuk menenangkannya saja.

“Percayalah padaku. Semuanya akan baik-baik saja. Ada aku yang akan melindungimu. Sekarang kita jemput putra Kyuhyun.” Nara seakan terhipnotis dengan segala tutur kata yang keluar dari mulut Lay. Tanpa disuruh, kepalanya sudah mengangguk merefleks ungkapan Lay tadi. Dengan itu pula, Nara merasa beban hatinya benar-benar hilang sekarang. Semua hal yang membelenggu hati dan pikirannya hingga membuatnya tertekan kini menghilag tanpa bekas entah kemana.

Ia bersyukur masih ada orang yang menganggapnya berharga. Yang bodohnya Nara, ia tidak sadar dengan semua perhatian Lay yang di berikan padanya selama ini. Satu hal yang patut dipertanyakan saat ini, sanggupkah ia membalas perasaan Lay dan melupakan Kyuhyun seperti yang lelaki ini inginkan. Sanggupkah ?.

“Kajja, udara semakin dingin.” Nara mengangguk canggung sebelum akhirnya berdiri mensejajarkan dirinya dengan Lay dan berjalan beriringan menuju mobil Lay.

“Kita naik mobilku saja. Aku akan menyuruh para pengawal untuk membawa mobilmu.”

“Emm..Lay chamkkaman. Aku akan menghubungi Kris dulu untuk membawa Youngjae keluar dari persembunyiannya dan menemui kita.” Nara mengeluarkan ponselnya bermaksud melakukaan panggilan ke nomor dial 9 dimana mewakilkan nomor Kris diponselnya. Baru saj ia menggeser layar touchscreen untuk membuka kunci otomatis, sebuah panggilan dari Jongin menghentikan niatnya.

“Yeobeoseyo Jongin..”

“Oddiga, kau ingin aku menjemputmu kapan ?”

 

 

“Jongin, kita batalkan saja semuanya. Aku sadar jika Kyuhyun tetap tidak akan kembali padaku meskipun aku menyingkirkan Youngjae dan Jiyeon. Aku baru sadar jika hidupku masih bisa tetap berlanjut tanpa seorang Cho Kyuhyun di sampingku. Lagipula… kurasa aku mulai menyukai orang lain.”

“Apa yang kau bicarakan eoh ? Setelah apa yang sudah kita lalui sejauh ini dan kau ingin membatalkannya begitu saja. Mudah sekali kau bicara. Tidak.. aku akan tetap melanjutkan rencana ini dengan ataupun tanpamu Kwon Nara.”

 

 

“Jongin.. dengarkan aku du-” Belum sempat ia mengutarakan ketidak setujuannya, Jongin sudah memutus panggilan secara sepihak. Nara berubah panik dan Lay melihat raut perubahan di wajah Nara.

“Apa sesuatu yang buruk terjadi ?”

“Lay jujur ini semua diluar jangkauanku. Jongin tetap bersikeras ingin melanjutkan rencana ini. Aku tidak sempat melarangnya. Eoteokhae ?”

“Tenang dan jangan panik, arraseo. Sekarang kita pergi ketempat Kris membawa Youngjae.” Tanpa ragu lagi Nara mengangguk menyetujui saran Lay. Lebih cepat lebih baik.

∞ My Married Life ∞

Sementara itu di kediaman keluarga Cho, keadaan Jiyeon masih seperti sebelumnya hanya saja saat ini Kyuhyun sedang tidak ada disampingnya. Kyuhyun memutuskan untuk ikut mencari Youngjae sejak pukul 5 sore tadi, dan sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit belum ada kabar sama sekali.

“Nona Jiyeon makanlah seuatu nona. Anda terlihat begitu pucat. Saya khawatir anda jatuh sakit nantinya.”

“Bagaimana aku bisa menikmati makanan disini sementara putraku entah dimana sekarang. Aku bahkan tidak tahu apakah Youngjae sudah makan atau belum. Aku ibu yang jahat ahjumma. Disaat semua orang mencari keberadaan Youngjae, aku justru tetap diam disini. Bukankah aku ini jahat ahjumma hiks..hikss.” Shin ahjumma merasa prihatin dengan keadaan nona mudanya saat ini. Sebagai sesama ibu, Shin ahjumma juga ikut merasa kehilangan.

“Tenanglah nona. Saya yakin tuan muda Youngjae akan segera ditemukan. Percayalah.” Tanpa sadar Shin ahjumma ikut meneteskan air matanya. Wanita yang sudah mengabdi sekian tahun lamanya untuk keluarga Cho itu merengkuh Jiyeon dalam pelukannya. Mencoba memberikan rasa aman dan tenang bagi istri majikan yang sudah ia anggap sebagai putra sendiri.

Drrt..Drrt..

 

 

Getaran ponsel Jiyeon sontak membuat pelukan mereka terlepas. Dengan cekatan Jieon mengangkat asal telpon yang entah dari mana asalnya. Namun ia berharap ini kabar mengenai Youngjae.

“Yeoboseyo ?”

“Apa kabar Cho Jiyeon..” Jiyeon merasa familiar dengan suara namja disebrang sana. Hanya saja karena pikirannya yang kalut membuatnya tak dapat mengingat dengan baik.

“Nuguseyo..”

“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang perlu kau tahu sekarang adalah putramu sedang berada bersamaku sekarang.”

“Dimana kau ? jangan berani-berani kau menyentuh putraku, jika tidak kau akan menyesal pernah hidup di dunia ini.”

“Uhh itu menakutkan… tolong siapapun lindungi aku.” Jiyeon semakin muak dengan tingkah konyol penculik putranya itu. Setiap kata yang ia lontarkan seolah mengejek dan menganggap remeh ancamannya.

 

“Kau pikir aku takut dengan semua ancamanmu itu. Justru sebaliknya, ancamanmu membuatku bersemangat untuk cepat-cepat menghabisi putra kecilmu ini.” tak dapat dipungkiri, rasa takut yang semakin mendalam membuat Jiyeon dilanda keanikan tingkat dewa saat ini.

“Maafkan aku, aku tidak akan melawanmu. Kumohon jangan sakiti putraku, dia hanya anak kecil tak berdosa. Aku akan menggantikan posisinya tapi kumohon jangan apa-apakan putraku.” Jiyeon kembali terisak disana. Shin ahjumma yang mengerti dengan siapa Jiyeon bicara saat ini segera beranjak menuju telpon rumah berniat menghubungi Kyuhyun.

“Temui aku di persimpangan jalan dekat rumahmu. Jangan membuang-buang waktu, asal kau tahu aku tidak suka menunggu. Jika kau terlambat maka putramu akan menjadi korbannya. Dan perlu kuingatkan sekali lagi, jangan berani-berani untuk menghubungi polisi.” Setelah panggilan terputus, tanpa menunggu lagi Jiyeon segera berlari meninggalkan ponselnya diruang tamu menuju tempat yang dimaksud penculik tadi. Tidak ada satu mobil pun yang ada di rumah membuta Jiyeon terpaksa menuju persimpangan dengan berlari.

“Tunggu eomma, Youngjae.”

***

“Kita terlambat Lay. Jongin sudah membawa Youngjae pergi dan sekarang kita tidak tahu dimana dia. Ini semua salahku. Andai saja sejak awal aku tidak merencanakan semuanya mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.”Tidak hanya Nara yang kalut sekarang, Lay sendiri juga merasakan takut. 2 hal yang membuatnya ikut kalut saat ini, pertama keadaan putra kecil Kyuhyun yang entah dibawa kemana sekarang. Dan alasankedua yang medominasi hatinya adalah ketakutan pada sesuatu yang akanterjadi pada Nara jika penjahat itu melukai Youngjae karena sejak awalnya Nara-lah yang merencanakan semua ini.

Lagi-lagi Lay merasa menjadi lelaki tak berguna saat Nara kembali terisak didepannya. Ia sendiri bingung harus mencari kemana. Haruskah ia menyerah pada apa yang akan terjadi. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Nara tidak boleh masuk penjara atas apa yang terjadi pada putra Kyuhyun nantinya. Ia sudah berniat baik untuk memulangkan kembali Youngjae pada Jiyeon, namun lagi-lagi takdir kembali mempermainkan mereka.

“Uljimayo.. pasti ada jalan keluarnya. Lebih baik sekarang kita kembali ke rumah Kyuhyun.” Lay menggiring tubuh bergetar Nara masuk ke dalam mobilnya.

“Aku akan mengakui semuanya. Aku akan mengaku pada Jiyeon dan juga Kyuhyun. Aku akan menerima semua resiko yang mungkin terjadi.” Melihat Nara yang kembali tersedu membuat Lay tak kuasa melihatnya.

“Aku akan membantu menjelaskan semuanya pada Kyuhyun dan juga Jiyeon. Aku cukup mengenal mereka. Jangan pernah merasa kau sendiri di dunia ini, ada aku yang selalu melindungimu. Percayalah padaku.” untuk kesekian kalinya Lay membawa Nara kedalam pelukan hangat tubuhnya. Andai saja ia bisa ikut merasakan ketakutan yang dirasakan Nara, ia bersedia menggantikan posisi Nara. Asalkan Nara bisa tersenyum, Lay bersedia melakukan apapun untuk yeoja-nya ini. Pegang itu.

Setelah dirasa sedikit tenang, Lay melajukan mobilnya menembus jalanan kota Seoul untuk selanjutnya menuju kediaman keluarga besar Cho. Beruntung posisi mereka sebelumnya hanya berjarak kurang lebih 7 km dari rumah Kyuhyun sehingga tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai di rumah berperawakan megah itu. Satu belokan lagi mereka akan samapai dirumah Kyuhyun.

“Lay berhenti..” dengan sigap Lay menginjak pedal gas mobil audynya mengikuti intrupsi Nara yang terlihat memfokuskan pandangannya kesamping jalan.

“Ada apa Nara-ya ?”

“Bukankah itu Jiyeon ? sedang apa dia jalan sendirian malam-malam begini.” Lay mengikuti arah telunjuk Nara yang mengarah jauh didepan meraka. Tepatnya dibelokkan yang akan mereka lewati untuk mencapai rumah Kyuhyun.

“Jika dilihat dari gerak-geriknya, sepertinya dia sedang mencari seseorang. Mungkinkah Jiyeon mencari Youngjae.” Raut muka Nara kembali murung mengingat kebodohannya yang berniat menyingkirkan Jiyeon juga Youngjae. Dan sekarang disaat ia sudah berada dijalan yang benar, kenapa tetap tak ada takdir yang baik dan lurus mengampiri hidupnya.

“Siapa lelaki yang sedang bicara dengan Jiyeon disana ?” Nara belum sadar dengan apa yang Lay lontarkan barusan. Ia masih terkurung emmikirkan takdir hidupnya yang tidak pernah menemukan kebahagiaan semenjak berpisah dari Kyuhyun. Berhenti memikirkan Kyuhyun, Kwon Nara. Bagaimana kau sanggup mengukir nama Lay dihatimu jika Kyuhyun terus yang menjadi topik utama setiap hari saat kau membuka mata.

“Nara-ya, kita harus keluar sekarang. Lelaki itu membawa Youngjae. Dialah penculiknya.” Nara seperti tertarik kembali kedunia nyata saat mendengar Lay melepas sealtbeltnya dan membuka pintu mobil. Apa dia bilang Youngjae barusan ?.

Sadar dengan apa yang Lay ucapkan barusan, Nara kembali mengamati Jiyeon disana. “Itu Jongin.” Dengan cepat Nara menekan tombol dial 2 di ponselnya yang mewakili nomor ponsel Kyuhyun.

“Ada apa Nara ?”

 

 

“Aku menemukan Youngjae. Cepat kemari Kyuhyun, ada Jiyeon juga disana. Kami ada dipersimpangan jalan dekat rumahmu. Cepatlah.” Nara bergerak cepat menyusul Lay yang sudah mendekat terlebih dahulu kearah Jongin dan Jiyeon.

Jiyeon terlihat sudah berderai air mata disana, sedangkan Jongin nampak tersenyum puas melihat kesengsaraan Jiyeon. Sementara Youngjae, turut menangis didalam gendongan Jongin. Sesekali Jongin membentak Youngjae yang menurutnya sangat berisik.

“Jiyeon-ssi, neo gwencahanayo ?” Lay yang tiba lebih dulu berusaha menenangkan Jiyeon yang terlihat menyedihkan didepan Jongin.

“Hiks..hiks.. Youngjae, putraku. Kumohon berikan dia padaku Jongin.”

“Kau pikir semudah itu eoh. Aku butuh Kyuhyun disini. Aku ingin melihat wajah frustasinya yang menyedihkan sama sepertimu. Aku ingin membuatnya merasakan bagaimana rasanya sakit hati dan kehilangan orang yang begitu kita sayangi di dunia ini.”

“Jongin-ssi, kau tidak pantas berbuat seperti ini pada atasanmu. Cepat kemarikan Youngjae pada kami. Kami tidak akan melaporkan semua perbuatanmu ini pada polisi, cepat berikan Youngjae pada kami.” Lay berusaha mengajukan negosiasi dengan Jongin, namun sepertinya Jongin adalah tipe orang yang sulit untuk diajak berdiskusi.

“Siapa kau berani mengaturku. Semua ini tidak ada hubungannya denganmu.”

“Jongin ber-”

“Jika kau berani ikut campur, maka nyawa anak ini akan segera berakhir saat itu juga.” Jongin mengangkat tubuh mungil Youngjae kelangit, mengambil ancang-ancang untuk melempar bayi tak berdosa itu ketengah jalan yang lumayan lenggang malam ini.

“ANDWAE… Jebal..hikss…hiks. jangan lakukan itu pada Youngjae. Bunuh aku.. bunuh aku saja sebagai gantinya, jeball..” Jiyeon semakin tak kuasa menahan laju air matanya. Lay juga tidak dapat berbuat banyak mendengar ancaman Jongin yang terlihat sungguh-sungguh.

“Jongin, berikan Youngjae padaku. Bukankah sudah kubilang untuk mengakhiri rencana ini. Aku tidak lagi mempermasahkan Kyuhyun yang tak disampingku. Sekarang berikan Youngjae padaku, kumohon.”

“Dasar bodoh. Kau wanita terbodoh yang pernah kutemui di dunia ini Kwon Nara.” amarah Lay tersulut mendengar umoatan Jongin yang jelas-jelas ditujukkan untuk Nara. Merasa tak terima dengan apa yang Jongin ucapkan mengenai Nara.

“Sialan. Jaga ucapanmu Kim Jongin.” Lay yang hendak melayangkan pukulannya kewajah Jongin seketika dihentikan oleh gerakan Nara yang menghalau dirinya.

“Semuanya tidak akan selesai jika dilawan dengan adu kekuatan Lay. Terlalu beresiko untuk keselamatan Youngjae.” Nara mengalihkan pandangannya pada Jiyeon yang tercengang mendengar penuturannya barusan yang secara tidak langsung mengakui bahwa dalang dibalik semua ini adalah dirinya.

“Maafkan aku Jiyeon-ssi. Aku mengaku bersalah, kau boleh melaporkanku ke polisi. Tapi percayalah jika aku tidak terlibat dengan apa yang Jongin lakukan sekarang.”

“Aku tidak menyangka semua ini terjadi padaku. Kau yang sudah kuanggap sebagai teman ternyata menusukku dari belakang. Kau berencana membunuhku dan putraku demi mendapatkan Kyuhyun oppa kembali. Seharusnya aku tahu itu sejak awal.” Lagi-lagi Jyeon menangis disana. Rasanya Tuhan telah bermain-main dengan hidupnya.

Nara juga ikut menangis mendengar penuturan Jiyeon. Teman ? harusnya ia tak melakukan semua ini sejak awal. Ia telah menghilangkan kepercayaan Jiyeon padanya, kepercayaan orang yang menganggap dirinya adalah seorang teman.

“Maafkan aku Jiyeon-ssi. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku.”

“Kalian para wanita lemah berhentila membuat skenario drama didepanku. Kau Jiyeon, cepat telpon suamimu yang sok bijak itu kemari. Jika tidak nyawa put-”

“BERHETI MENGANCAMKU….” tanpa diduga Jiyeon yang beberapa detik lalu menangis seakan wanita yang lemah, kini dengan cepat menyerang Jongin. Berusaha merampas Youngjae dari Jongin. Namun na’as, justru dirinya terpental hingga ke jalan.

“CHO JIYEON…” Kyuhyun yang baru saja tiba dan hendak menghampiri mereka karena melihat istrinya yang menangis kini hanya bisa membelalakkan matanya melihat istrinya terjatuh di jalanan dan terlihat sebuah truck pengangkut barang tengah melaju cepat kearahnya.

“Jiyeon…”

“AAAA…”

“KWON NARA ANDWAE…”

Kejadian itu berlalu begitu cepat, bahkan suara benturan masih berdengung ditelinga semua saksi mata yang menyaksikan bagaimana tingkah polah Nara yang terpental sejauh 1,5 meter akibat benturan dengan body truck. Jiyeon hanya bisa membelalakkan mata dengan kedua tangan membekap mulutnya. Nara mengorbankan nyawa demi menyelamatkan dirinya. Kyuhyun buru-buru memeluk Jiyeon yang terlihat syock disana.

Seolah tidak percaya, Lay berjalan tertatih mendekati Nara yang tergeletak dengan darah segar disana-sini. Jantungnya sekaan berhenti berdetak melihat keadaan Nara saat ini, bahkan ia melihat dengan jelas bagaimana tubuh ringkih itu terpental. Lay menjatuhkan dirinya disamping tubuh Nara. Dengan sisa kesadaran yang ada, Nara berusaha meraih wajah Lay untuk mengusap air mata yang berderai diwajah rupawan itu.

“U..U.Uljima..yo. Gw..gwen..ch..chana..huhhh..”

“Kenapa… Kenapa kau lakukan semua ini Nara. Aku tahu, kau bisa saja menghindar tadi. Tapi kenapa …” Lay berucap dengan nada suara menyiratkan rasa takut akan kehilangan. Merasakan sulit bernapas, Nara hanya tersenyum sebagai jawaban sekaligus untuk meyakinkan Lay bahwa dirinya baik-baik saja.

“Ss..sarang..hae. Ah…Ahn..Layhh..” kata terakhir yang mampu Nara ucapkan sebelum akhirnya mata teduh itu tertutup.

“Hiks..hiks..ireona.. jebal ireona Nara-ya. IREONA…BANGUNLAH NARA. JEBAL…jebal..” suara teriakan mengiringi tangis Lay memecah heningnya malam. Malam yang membuatnya kehilangan tatapan serta senyuman yeoja-nya. Mengantarkannya kembali pada saat-saat menunggu yang panjang.

∞ My Married Life ∞

3 Tahun Kemudian.

 

 

“Appa palli ireona. Eomma sudah menunggu di meja makan.” Satu-satunya pewaris utama keluarga Cho, Cho Youngjae terlihat mengguncang-guncang bahu Kyuhyun yang masih asik dengan dunia alam mimpinya dibawah naungan selimut hangatnya.

“Yak, appa ireona. Eomma akan marah jika appa tida segera bangun. Ahjussi akan segera tiba.” Tidak dapat dipungkiri betapa pintarnya putra Kyuhyun itu mewarisi otak cerdas ayahnya.

“EOMMAAA…APPA TIDAK MAU BANGUN.” Youngjae akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Kyuhyun yang masih bergelut dengan selimut tebalnya.

“Ada apa sayang..” Jiyeon yang melihat raut muka putranya cemberut sekeluarnya dari kamarnya dan Kyuhyun langsung bisa menangkap apa yang baru saja terjadi. Kebiasaan suaminya yang akan sangat sulit bangun di hari libur seperti ini.

“Kau pergilah keruang tengah untuk bemain. Eomma sudah membelikan game terbaru. Kau bisa memainkannya sekarang.” Seketika raut wajah Youngjae berubah binar. Itulah salah satu kebiasaan Kyuhyun yang mendarah daging dalam diri putranya, kesukaannya dengan game. Sementara Youngjae pergi keruang tamu, Jiyeon beranjak dari pekerjaan dapurnya untuk membangunkan Kyuhyun.

“Oppa, palli ireona.” Jiyeon membangunkan Kyuhyun sambil menyingkap korden jendela kamar mereka. Membiarkan cahaya matahari yang menyengat masuk menerangi kamar. Jiyeon berkacak pinggang melihat Kyuhyun yang sama sekali tak terusik oleh sinar mentari pagi.

“Oppa…” Jiyeon mengguncang tubuh Kyuhyun yang tenggelam di bawah selimut.

“Eungghhhh…” Jiyeon menghentikan guncangannya saat Kyuhyun mulai terlihat mengerjap. “Lima menit lagi chagi. Jeball…” Kyuhyun kembali menggulung diri dengan selimut.

“Ini bahkan sudah hampir pukul 8 oppa. Sebentar lagi mereka akan tiba. Cepatlah bangun dan bersihkan badanmu.” Jiyeon menarik lengan Kyuhyun hingga lelaki itu terduduk di ranjang dengan mata yang terpejam.

“Jika kau tidak membersihkan badanmu dan turun ke bawah dalam 10 menit, maka aku tidak akan mau kau sentuh Cho Kyuhyun.” mendengar ultimatum yang Jiyeon ucapkan membuat mata coklat yang terpejam erat tadi seketika terbuka lebar.

“Yak.. sejak kapan kau berani memutuskan seperti itu. Andwae.. mana bisa kau membatasi ku untuk menyentuhmu Cho Jiyeon.”

“Sudar berjalan satu menit, kurang 9 menit lagi. Keputusan ada ditanganmu suamiku sayang.”

“Aishhh.. benar-benar.” Kyuhyun melompat dari atas ranjang menyambar handuk yang tersampir di sofa kamarnya. Selangkah didepan pintu kamar mandi Kyuhyun menghentikan langkahnya, berbalik menatap Jiyeon yang melipat tangannya didepan perut. “Kau akan menerima pembalasanku setelah ini Cho Jiyeon.”

“8 menit lagi…” Jiyeon tidak kuasa menahan tawanya tatkala melihat Kyuhyun dengan wajah frustasinya tergesa masuk kedalam kamar mandi. “Pabboya.. mana mungkin aku sanggup hidup tanpa sentuhanmu Cho Kyuhyun, suamiku.” Jiyeon berlalu meninggalkan kamarnya kembali menuju dapur untuk melanjutkan aktivitas memasaknya yang memasuki tahap plateing.

“Nona muda Jiyeon, ini kue yang anda pesan.”

“Terima kasih, ahjumma sudah mau membantuku mengambilnya.”

“Sudah menjadi tugas saya nona. Adakah yang bisa saya bantu ?”

“Emm, tolong ahjumma pindahkan makanan yang sudah aku palteing kemeja makan. Termasuk kue itu. Sebentar lagi mereka akan segera tiba.” Tanpa menunggu perintah kedua kali, Shin ahjumma segera menata makanan yang sudah susah payah Jiyeon buat khusus untuk tamu mereka ke atas meja makan.

“Selesai…” senyuman puas muncul diwajah cantik Cho Jiyeon selesai menata semua hasil karya masaknya. Dari segi rasa, jangan diragukan lagi rasa masakan dari istri Cho Kyuhyun itu.

“Jika nona butuh bantuan, saya ada dibelakang nona.” Shin ahjumma berlalu pergi setelah mendapat jawaban mengerti dari Jiyeon.

“Kau memasak semua ini sendiri ?” Jiyeon membalikkan badannya kearah sumber suara yang sudah sangat ia hafal diluar kepala suara siapa itu, hingga kini ia dapat melihat Kyuhyun yang sudah bersih dan harum seusai mandi berjalan kearahnya. Tanpa canggung dan ragu lagi baik Kyuhyun maupun Jiyeon segera melakukan rutinitas pagi mereka untuk melakukan ‘morning kiss’.

Dengan senyum bangga Jiyeon menjawab pertanyaan Kyuhyun sebelumnya. “Geureuomyeon, aku yang memasak semua ini. Dan sekarang aku merasa seluruh tubuhku pegal.” Ujar Jiyeon dengan nada yang dibuat semanja mungkin.

Gemas melihat tingkah istrinya, Kyuhyun tak kuasa menahan tangannya untuk tidak mencubit hidung Jiyeon. “ Dasar istri manja.” Kyuhyun tertawa lepas melihat ekspresi Jiyeon yang memberengut kesal, membuatnya terlihat semakin menggemaskan dan… Menggoda.

“Kapan mereka akan tiba ?” Jiyeon memandang jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

“Sebentar lagi, kita tunggu saja.”

“Lalu dimana jagoan kecilku.” Kyuhyun celingukkan mencari keberadaan Youngjae.

“Dia marah padamu karena kau sulit dibangunkan. Jangan heran jika nanti putra kita mengacuhkanmu oppa.” Jiyeon berujar sambil bergerak menuju ruang tengah mengahmpiri Youngjae yang masih terlihat fokus dengan game playstation ditangannya. Belum sempat Kyuhyun melontarkan alasannya sulit dibangunkan, suara bel rumah yang berbunyi membuat perhatian ketiga orang itu teralihkan. “Mereka sudah tiba..”.

Kyuhyun berjalan beriringan dengan Jiyeon dan Youngjae digendongannya menuju pintu utama. Akhirnya setelah sekian lama mereka dapat bertemu kembali hari ini. Segala macam pertanyaan tanpa sadar muncul dibenak Kyuhyun dan Jiyeon. Sudah tiga tahun semenjak kejadian tiga tahun silam, sejak itu pula mereka harus terpisah dari Lay dan juga Nara. Tidakkah kalian bertanya apa yang terjadi pada Nara setelah kejadian na’as itu.

Singkatnya, Nara mengalami koma hingga harus berobat keluar negeri dengan Lay yang setia menemaninya. Lelaki itu seakan kehilangan nyawanya saat mendengar kabar mengenai kemungkinan kesembuhan bagi Nara yang hanya diperkirakan tidak lebih dari 20 %. Namun, entah karena apa. Mungkinkah ini karena ketulusan dan kekuatan cinta mereka sehingga 2 bulan yang lalu Jiyeon dan Kyuhyun mendapat kabar bahwa Nara baru saja siuman dan sedang dalam masa pemulihan saat itu. Perasaan lega tentu saja ikut dirasakan oleh pasangan suami istri itu, apalagi Jiyeon. Gadis itu terus merasa bersalah ketika mengetahui Nara koma karena berusaha menolongnya. Tapi syukurlah gadis itu baik-baik saja sekarang.

***

Selesai menyantap makanan yang Jiyeon masak, kini mereka berlima termasuk Youngjae berkumpul diruang tengah untuk melanjutkan perbincangan yang tertunda karena acara makan yang khidmat tadi.

“Kau yakin sudah benar-benar dalam keadaan yang sangat baik sekarang Nara-ya. Wajahmu masih terlihat agak pucat, aku khawatir kau belum sepenuhnya sembuh.” Jiyeon mengutarakan kekhawatirannya sejak tadi mengenai Nara yang terlihat agak terlihat pucat.

“Tidak perlu khawatir Jiyeon-ah. Aku benar-benar sudah dalam keadaan yang sangat sehat. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.” Lay menggenggam lembut jemari Nara. Jujur, tidak pernah sekalipun ia bayangkan Nara akan kembali menemani hari-harinya. Ia sempat frustasi dan putus asa mendapati sudah hampir 3 tahun penuh Nara belum juga bangun dari komanya. Beruntung rasa putus asanya itu tergantikan oleh semangat yang membara saat dokter mengabarinya tentang perkembangan kondisi Nara yang sudah mulai membaik dan ditargetkan akan segera sadar dalam kurun waktu kurang dari satu minggu.

“Nara-ya, kami ingin mengucapkan terima kasih atas pengorbanamu waktu itu untuk istriku yang ceroboh dan sembrono ini. Terima kasih juga kau segera menghubungiku saat itu. Kami sangat berhutang padamu.”

“Tidak perlu dipikirkan Kyuhyun-ah. Aku senang bisa melihat putra kalian tumbuh dengan sehat dan sangat tampan.” Nara melempar senyum hangat dan bersahabat kearah Youngjae yang duduk di tengah –tengah Kyuhyun dan juga Jiyeon.

“Eomma selalu bercerita tentang putri cantik yang menyelamatkanku dari penjahat saat aku masih kecil. Apa itu ahjumma ?” dengan wajah yang polos dan menggemaskan Youngjae bertanya pada Nara. Sungguh, Youngjae benar-benar membuatnya gemas dan selalu ingin mencubit kedua pipi tembab anak itu.

Senyum indah nan cerah mengiringi jawaban Nara untuk pertanyaan Youngjae. “ Ahjumma memang menyelamatkanmu, tapi kau juga harus berterima kasih pada eomma-mu. Karena disini dialah pahlawannya. Arrachi ?” Nara yang kini sudah berjongkok dihadapan Youngjae, menyamakan posisi wajahnya agar sejajar dengan putra Kyuhyun dan sahabatnya, Jiyeon. Youngjae terlihat mengangguk dengan semangat dan tersenyum menyembulkan deretan giginya yang sudah lengkap jumlahnya.

“Dan satu lagi.” Nara merubah raut wajahnya menjadi agak cemberut dengan bibirnya yang di buat maju seperti orang yang tengah marah. “Apa dimata Youngjae, noona sudah terlihat seperti ahjumma. Bahkan umurku baru 26 tahun, jadi panggil noona saja ya. Jangan ahjumma, arrachi ?” lagi-lagi dengan semangatnya Youngjae memanggut-manggutkan kepalanya kebawah keatas menyetujui apa yang Nara katakan padanya.

“Noona…”

“Nde..”

Chup…

 

 

Youngjae lari kepangkuan appanya setelah berhasil mencium pipi kanan Nara. Semua orang tertawa lepas melihat tingkah polah Youngjae yang menurutnya luar biasa di usianya yang baru menginjak 3 tahun. Semua orang semakin tertawa saat mendengar ungkapan Lay.

“Aku bahkan belum pernah menciummnya. Dan sekarang aku didahului anak kecil. Oh.. yang benar saja.” Tentu saja itu hanya akal-akalan dan lelucon Lay untuk membuat suasana menjadi semakin menyenangkan. Dan tentu saja kalian masih ingat tentang ciuman sore hari di L4Y Company 3 tahun yang lalu. Bukankah saat itu Lay mencium Nara tepat dibibir.

Percakapan itu berlanjut hingga beberapa jam kedepan. Entah bagaimana bisa mereka mendapat berbagai macam topik yang senantiasa sambung menyambung. Hingga waktu menjelang jam makan siang, percakapan itu berakhir.

“Oh ya, hampir saja kami melupakan tujuan kami kemari.” Lay merogoh tas ranselnya mencari benda persegi panjang yang nantinya akan ia berikan pada sepasang suami istri didepannya. Ketemu. “Ige..”

Kyuhyun menerima uluran tangan Lay yang memegang benda tipis persegi panjang dengan pita di pojok atas kirinya. “Undangan pernikahan ?” hanya sesaat kerutan itu muncul didahi pasangan Cho ini sebelum akhirnya mereka menyadari siapa yang akan menikah dalam waktu dekat ini.

“Kami akan menikah minggu depan.” Dengan tatapan lembut dan penuh puja Lay menggenggam jemari Nara hingga kini pandangana keduanya bertemu. Saling melempar senyum satu sama lain. Lay dengan Nara, lalu Kyuhyun dan Jiyeon yang nampak sangat senang bisa melihat akhirnya kedua insan ini akan merajut tali hubungan mereka dengan ikrar pernikahan. Membuat keluarga kecil sepertinya dan juga Jiyeon. Inikah akhir dari semuanya, semoag saja benar.

∞ My Married Life ∞

Wedding Day, 19.16 KST

 

Dengan balutan dress putih yang mengembang dibagian bawahnya membuat gadis yang menjadi ratu sehari itu nampak semakin cantik dari hari-hari biasanya. Membuat seorang namja yang baru saja sah menjadi pasangan hidupnya beberapa jam lalu itu seakan telah memakukan pandangan matanya ke arah Nara yang sedang berbincang dengan Jiyeon dan terkadang bermain-main dengan Youngjae.

“Tunggulah beberapa jam lagi. Kau akan segera menjadikan dia milikmu seutuhnya, jadi hentikanlah pandangan mesummu itu Tuan Lay.” Kyuhyun yang memang sejak tadi menjadi teman bicara Lay karena istrinya dan juga Nara kini juga sedang berbincang mengenai masalah perempuan yang tentunya lelaki tidak akan diijinkan ikut campur, mengintrupsi Lay agar mengehentikan tatapan memujanya pada Nara seolah ia ingin melakuakn ritual pertama disini saat ini juga dengan beberapa tamu undangan yang masih ada di ballroom tempat resepsi pernikahan di adakan.

“Yak..siapa yang bertatapan mesum. Aku hanya menatap biasa padanya.”

“Jelas-jelas aku melihat semuanya dimatamu Ahn Lay.”

“Sudah kubilang, aku hanya menatap istriku seperti biasa-biasnya Cho Kyuhyun . Hentikan pemikiran konyolmu itu. Bagaimana jika Nara men-”

“Ada apa oppa..?” Mati kau Lay. Kenapa Nara tiba-tiba ada disini ?. Apakah Nara mendengar semua yang Kyuhyun katakan tadi.

“Nara-ya, suami mu ini baru saja memmppp…” dengan sigap Lay menyekap mulut Kyuhyun dengan tangannya.

“Andwae chagi. Jangan dengarkan Kyuhyun. lebih baik kita bersiap-siap pulang saja. Tamu undangan juga sudah pulang. Aku yakin kau pasti lelah.” Kyuhyun memaksa lepas dari tangan Lay yang menghalau ucapannya.

“Yak. Kenapa kau menutup mulutku dengan tangamu yang kotor. Itu sangat tidak steril Lay.” Lay hanya mendengus mendengar keluh temannya yang menurutnya sangat berlebihan. Aneh.

“Kyuhyun-ah, Jiyeon sudah menunggumu di mobil. Youngjae merengek meminta pulang karena sudah mengantuk.” Nara menyampaikan pesan Jiyeon yang dititipkan padanya sebelum ia mengahmpiri Lay dan Kyuhyun.

“Eoh, geurae. Aku akan pulang sekarang. Dan ingat Nara, hati-hati dengan suamimu. Aku pulang.”

“Yak..” Kyuhyun berlalu begitu saja sebelum ia mendapapatkan ceramah singkat dari Lay yang tak terima dengan ungkapannya. Hati-hati dia bilang. Memang dia pikir aku ini binatang buas. Lay mengalihkan pandangannya ke arah Nara yang memegang lengan atasnya, mungkin ia ingin Lay perhatikan sekarang.

“Kita jadi pulang ?” dengan senyum menenangkan Lay mengangguk membenarkan pertanyaan istrinya. Oh.. jujur sampai saat ini pun ia masih belum percaya jika gadis dihadapannya ini adalah istrinya sekarang. Sulit dipercaya.

Tapi… semua yang terjadi telah diatur oleh Yang Kuasa. Segala jalan takdirnya telah tercatat dengan sistematik sesuai urutan di buku kehidupan. Masalah keturunan yang nanti dititipkan Sang Kuasa pada mereka juga tidak mungkin sesuai dengan kehendak hati pribadi. Dibalik semua yang ia hadapi dan lalui dulu demi mendapatkan yeoja yang saat ini menggandeng tangannya saat ini bukanlah jalan yang dibilang mudah. Perasaan cinta Nara pada Kyuhyun, ke-engganan Nara membuka hatinya untuk orang lain, dan jalan yang paling berat yaitu menghabiskan waktu hampir tiga tahun tanpa gadisnya adalah masa tersulit dalam sejarah hidupnya.

Kejadian 3 tahun lalu ku jamin tidak akan pernah terjadi lagi Nara-ya. Aku berjanji dengan segenap jiwa dan ragaku, bahwa mulai hari ini dan selamanya hingga kita merenggang nyawa. Aku, Ahn Lay akan melindungi dan menjagamu, membawamu ke kehidupan yang penuh kebahagiaan. Aku janji itu, Nara sayang.

 

 

∞ My Married Life ∞

Inikah akhir dari semuanya. Benarkah aku telah mendapat kehidupan yang bahagia sekarang dengan Kyuhyun. Mungkinkah tidak akan masalah lagi yang menghampiri kami di masa depan. Mungkin tidak hanya kami, tapi juga putranya Cho Yungjae.

Terlepas dari pemikiran tentang bagaimana masa depan kami nantinya, yang paling penting sekarang adalah kami tahu bahwa tidak akan ada lagi hal buruk yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Semuanya dirasa sudah ada ditempat yang benar. Dan kami berharap semua akan tetap seperti ini. Selamanya.

“Tidakkah kau ingin membuat adik untuk putra kita, chagi ?”

“Jawabanku masih sama. Tidak untuk saat ini.”

“Wae…”

“Karena…” Jiyeon tak melanjutkan ucapnnya hingga membuat Kyuhyun penasaran tentang alasan penolakkan Jiyeon.

“Wae chagi…? jangan membuatku penasaran..”

“Oppa yakin ingin tahu jawabannya ..”

“Tentu saja aku ingin tahu. Sangat ingin tahu.. Palli katakan pad-”

Chuppp…

 

 

“Karena aku masih ingin menghabiskan waktu berdua denganmu..”

*- FIN*-

Andalan
Diposkan pada chapter, married life, NC, SAD

My Married Life part 10

My Married Life (Part 10)

my married life 6

Title : My Married Life

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Park Jiyeon (Cho Jiyeon)

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Kwon Nara
  • Lay
  • Cho Youngjae

Genre : Angts , little NC , married life, temukan sendiri.

JSELAMAT MEMBACAJ

 

Malam pertama di musim dingin. Jangan tanya lagi berapa derajat suhu sekarang. Akan terasa sangat dingin bagi mereka yang harus menerima takdir tidur sendiri diranjang king size, meskipun itu dengan selimut tebal berlapis sekalipun. Pernyataan itu sangat tepat jika kita melihat keadaan Nara dikamar tamu rumah Kyuhyun.

Gadis dengan marga Kwon itu tak henti-hentinya mengumpat atas takdirnya. Dapat tidur satu rumah dengan pujaan hati walaupun usahanya penuh dengan kebohongan adalah salah satu impiannya, namun semua ini tidak akan berarti jika setiap harinya ia justru melihat drama mesra Kyuhyun dan Jiyeon serta putra semata wayang mereka Cho Youngjae. Menyebalkan.

“Nikmati saja kesenanganmu selagi bisa Cho Jiyeon. Tidak lama lagi aku akan menghancurkan semuanya. Tunggu saja tanggal mainnya.” Nara meraih ponsel putihnya di atas nakas, mulai mengetik pesan singkat dan mengirimnya dengan tujuan Kim Jongin.

Tidak butuh waktu lama untuk menyetujui niat jahat, terbukti dengan balasan pesan Jongin yang didapat Nara 15 detik setelah pesan sebelumnya dikirim. Melihat pesan Jongin membuat wajah cantik dengan mata sendu itu memunculkan senyum smirk mengerikan. Nara kembali memainkan jari kecilnya diatas layar touchscreen miliknya, lalu meletakkan kembali ponsel diatas nakas setelah berhasil mengirimkan pesan balasan dengan sukses ke Jongin. Perlahan matanya tertutup hingga beberapa detik setelahnya Nara telah terjun kedalam alam mimpi. Mimpi indah baginya namun bagi orang lain adalah mimpi buruk.

∞ My Married Life ∞

Keesokan Harinya…

 

Pagi hari dimusim dingin tentu saja sangat dingin. Bahkan suhu -4ºC di Seoul saat ini. Di kediaman keluarga Cho pagi ini tepatnya pukul 4.15 KST, terlihat Nara sibuk dengan aktivitasnya di dapur. Dengan apron pink ditubuhnya, rambut digelung keatas menampakkan leher putihnya dari belakang Nara sibuk mencuci sayur-sayuran dan bahan makanan lainnya untuk ia masak pagi ini. Nara sengaja bangun lebih awal dari semua penghuni kediaman megah ini termasuk para pelayan -yang pasti masih bergelung ria dengan selimut mereka dikamar- dengan tujuan membuatkan sarapan untuk mereka semua –Nara, Jiyeon, Kyuhyun-.

Menu yang akan ia masak di pagi yang dingin ini adalah sub daging sapi kesukaan Kyuhyun. Menjalin hubungan dengan Kyuhyun dulu dengan waktu yang bisa dibilang hampir 3 tahun membuatnya sangat tahu seluk beluk serta kebiasaan lelaki yang kini telah menjadi suami orang itu. Dulu saat udara tengah dingin seperti ini, mereka –Nara & Kyuhyun- akan menghabiskan waktu bersama di apartement Nara dengan semangkuk sub daging sapi dan teh aroma melati. Acara itu menjadi aktivitas rutin mereka setiap musim dingin menjelang dan kini Nara akan menunjukkan kenangan-kenangannya bersama Kyuhyun pada Jiyeon.

Asyik memasak makannya membuat Nara lupa waktu. Seluruh pelayan serta Shin ahjumma mulai menampakkan diri di dapur, sebagian lagi mulai bergerak membersihkan rumah. Shin ahjumma yang melihat Nara memasak cukup terkejut dibuatnya. Bisa gawat jika Kyuhyun tahu tamu-nya lah yang memasak sarapan pagi ini. Begitulah pemikiran Shin ahjumma, meskipun kenyataanya lain. Kyuhyun tidak pernah sekalipun marah ataupun berkata kasar pada orang yang lebih tua darinya. Itulah uniknya Cho Kyuhyun yang dingin dan acuh.

“Nona Kwon jwesonghamnida. Sebaiknya nona istirahat, saya akan melanjutkannya. Maaf membuat Nona melakukan semua ini. Jeongmal Jwesonghamnida.”

“Animnida ahjumma. Saya tidak merasa keberatan dengan ini, justru saya merasa tidak enak jika menumpang tidur dan makan begitu saja disini tanpa mau melakukan apapun. Biarkan saya menyelesaikan masakan ini, setelah itu saya akan istirahat.” Nara memasang topeng nya begitu sempurna. Tidak ada celah yang terbuka barang sedikitpun, semua kebusukan yang ia rencanakan tertutup sempurna. Dia berencana membuat semua orang berpihak padanya agar memudahkannya menjatuhkan Jiyeon, membuat Jiyeon kehilangan kepercayaan semua orang termasuk Kyuhyun. Rencana awal yang menarik bukan ?.

“Baiklah nona. Izinkan saya membantu.” Nara tersenyum palsu menyanggupi permintaan Shin ahjumma. Tidak ada salahnya orang ini membantu, lagi pula aku juga sudah lelah dengan semua ini. Batin Nara.

***

“Kau yang memasak semua ini ?” Jiyeon melontarkan pertanyaan nya paska keterkejutannya melihat banyaknya menu sarapan hari ini. Heran saja Shin ahjumma dapat membuat makanan sebanyak ini dalam waktu kurang dari 70 menit. Ternyata ada Nara yang membantu.

“Tidak semuanya, hanya sub daging sapi dan teh aroma melati lepas dari itu Shin ahjumma yang memasakknya.” Belum terlihat Kyuhyun di ruang makan. Hanya ada Shin ahjumma yang menata meja makan serta Nara dan Jiyeon yang sudah siap dengan pakaian kantornya. Seperti biasa Jiyeon akan menyerahkan urusan Youngjae pada salah satu pelayan rumah yang ia percaya. Jadi sebangunnya dari tidur Jiyeon akan menengok Youngjae sebentar sebelum akhirnya bersiap mandi dan berangkat kekantor bersama Kyuhyun.

“Kalau begitu aku akan memanggil Kyuhyun oppa sebentar.” Jiyeon memutar tubuhnya kearah tangga bersiap melangkah menuju kamarnya dengan Kyuhyun dilantai atas. Namun baru mencapai undakan kelima langkahnya harus terhenti karena panggilan salah satu pelayan yang bertugas menyuapi Youngjae.

“Nyonya Muda Cho, Tuan Muda Youngjae terus saja menangis dan tidak mau makan. Sepertinya Tuan Muda ingin minum ASI Nyonya..” Paham dengan kebiasaan putra tunggal mereka akhir-akhir ini yang akan meminta jatah ASI dari Jiyeon setiap pagi membuat gadis dengan mata lebar dan menyandang status barunya sebagai Nyonya Muda Cho itu mengurungkan niatnya memanggil Kyuhyun beralih fokus pada putra mereka.

“Baiklah, kau siapkan air hangat untuknya mandi. Aku akan mengurusnya sekarang, dimana dia ?” Jiyeon bergerak menuju tempat yang diberitahukan pelayannya tadi. Menemui sang putra mahkota yang terdengar rewel disana.

“Emm Jiyeon-ssi, mungkin ada yang bisa kubantu ?” Nara yang baru saja selesai bersiap untuk berangkat kekantor dan melihat Jiyeon yang tengah kesusahan mengurus Youngjae bermaksud menawarkan bantuan.

“Jika kau tidak keberatan tolong panggilkan Kyuhyun oppa untuk segera sarapan. Waktu semakin siang, dia akan terlambat nanti.” Dewi fortune memang sedang berpihak padanya pagi ini. Maksudnya hanya untuk terlihat baik didepan Jiyeon, tapi tanpa diduga ia harus memanggil Kyuhyun yang sepertinya masih didalam kamar untuk segera sarapan. Sebuah rencana jahat muncul didkepalanya.

Lihat saja,.. Kau akan menyesali permintaanmu sendiri Jiyeon. Batin Nara.

“Nde, akan aku panggilkan.” Nara bergerak menaiki tangga menuju kamar Kyuhyun dan Jiyeon biasanya tidur. Mengetuk pintu saat pintu kamar tujuannya sudah didepan mata.

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun yang sejak tadi sibuk menyimpulkan dasinya didepan cermin menoleh kearah pintu. “Nara ? Wae Geurae ?”

“Mian kalau aku lancang masuk kekamar mu. Kau tidak kunjung turun dari tadi, sarapan sudah siap. Tidak enak jika dingin.” Nara tidak benar-benar masuk kedalam, ia hanya berdiri di ambang pintu yang terbuka.

“Ahh mian, aku akan segera turun setelah ini. Apa Jiyeon ada di bawah ?” Kyuhyun kembali sibuk menyimpulkan dasinya menghadap cermin. Sedikit kesal dengan istrinya yang tak kunjung datang kemari untuk membantunya memasang dasi. Kyuhyun tidak pernah bisa memakai dasinya sendiri. Biasanya Jiyeon akan selalu kembali kekamar membantunya memasang dasi, selesai membantu ahjumma untuk menata meja makan. Tapi.. sejak tadi Jiyeon tak kunjung kembali dan Kyuhyun memutuskan untuk mencoba memasang dasinya sendiri. Sialnya, dasi itu tidak pernah berbentuk sempurna setiap ia merasa telah selesai menyimpul.

“Jiyeon sedang memberi Asi pada Youngjae. Pagi ini Youngjae sangat rewel.”

Melihat ke-frustasian Kyuhyun membuat Nara mengingat satu lagi kebiasaan Kyuhyun yang tidak bisa memasang dasi sendiri. Pantas sejak tadi Kyuhyun terus mengutak-atik dasi dilehernya mencoba membuat simpul yang benar namun berakhir dengan hembusan napas gusar pertanda jika percobaannya yang entah keberapa itu kembali gagal.

“Kyuhyun-ah, mungkin aku bisa membantu.” Kyuhyun menyerah. Ternyata memasang dasi itu begitu menyebalkan. Jika ia menunggu Jiyeon selesai mengurus Youngjae, dia bisa terlambat datang kekantor. Tidak ada pilihan lain, mungkin ia harus menerima tawaran Nara.

“Nara-ya, aku butuh sedikit bantuan disini.” Nara melangkah kearah Kyuhyun yang masih berdiri di depan cermin. Dengan senang hati Kyuhyun oppa. Batin nya menjerit kegirangan.

Nara melepas simpulan dasi yang Kyuhyun buat. Butuh waktu agak lama untuk melepas simpul sebelumnya karena Kyuhyun membuat simpul mati pada dasinya. Tidak masalah bagi Nara, justru ia bersyukur bisa berduaan lebih lama dengan Kyuhyun walaupun ia yakin hanya ia yang senang disini. Setelah berhasil melepas simpul matinya, Nara memulai simpul dasi yang benar.

***

Syukurlah Youngjae kembali tertidur setelah mendapat asupan Asi dari Jiyeon. Kini putranya tengah terlelap digendongan babysister. Jiyeon kembali ke meja makan dan mendapati semua kursi masih kosong disana. Kemana mereka semua ? Bukankah tadi aku sudah menyuruh Nara-ssi untuk memanggil Kyuhyun oppa ?. Batin Jiyeon keheranan.

“Ahjumma, apa Kyuhyun oppa sudah turun ?” Shin ahjumma yang kala itu mebawa menu sarapan terakhir menjadi sasaran pertanyaan Jiyeon. Namun hanya jawaban ‘belum’ yang Jiyeon dapat.

“Aneh, sudah berjalan 15 menit sejak aku meminta bantuan Nara tadi.” Berbagai macam spekulasi negatif  tiba-tiba muncul dipikran Jiyeon. Nara adalah mantan kekasih Kyuhyun yang sempat menjalin hubungan selama 3 tahun, dan mereka baru putus kurang lebih 1 tahun yang lalu. Besar kemungkinan jika rasa cinta itu masih mendapat ruang dihati mereka. Jika itu benar…

“Aku harus melihatnya sendiri..” disaat Jiyeon memutar badan hendak menuju kamarnya dan Kyuhyun di atas, dari arah tangga Jiyeon melihat Nara dan Kyuhyun turun bersama. Mereka berdua terlihat asyik dengan obrolan yang entah bertopik tentang apa. Keduanya saling melempar senyum yang terasa menohok hati Jiyeon dan membuatnya semakin khawatir mengingat spekulasinya. Mungkinkah mereka masih saling mencintai ?.

∞ My Married Life ∞

Selesai sarapan, Kyuhyun dan Jiyeon berangkat kekantor bersama. Walaupun kantor tempat mereka bekerja saling berlawanan arah, Kyuhyun tidak pernah merasa keberataan mengantar Jiyeon ke Lee Company. Jangan tanya alasannya, tentu saja karena rasa cinta Kyuhyun pada istrinya yang kelewat tinggi itu. Ditambah lagi sikap over protektifnya, Kyuhyun selalu berpikiran negatif saat membayangkan jika Jiyeon berangkat sendiri tanpa pengawasannya.

Lagipula, senyuman Jiyeon selama perjalanan ke Lee Company seakan memberi Kyuhyun energi tambahan untuk bersemangat. Namun ada yang aneh hari ini, suasana didalam mobil terkesan sunyi dan canggung. Tidak ada obrolan yang terjadi sejak mereka memasuki mobil tadi. Bahkan jika dipikir kembali, Jiyeon diam membisu dan terlihat murung sejak sarapan tadi.

“Neo gwenchanayo ? Kau terlihat memikirkan sesuatu chagi.” Kyuhyun mencoba mengorek informasi, apa yang sedang dipikirkan istrinya itu. Sepertinya istrinya melamun, terbukti dari Jiyeon yang berjingkat kaget saat Kyuhyun memegang pundaknya.

“Ohh, ada apa ?” muncul kerutan didahi Kyuhyun mendengar jawaban dari Jiyeon, ralat bukan jawaban malah Kyuhyun mendapat pertanyaan baru.

“Kau melamun ?”

“Mian. Aku hanya sedang memikirkan Youngjae, dia sedikit rewel akhir-akhir ini.” Kyuhyun mengusap lembut surai istrinya. Mencoba mengurangi beban pikiran Jiyeon dan membaginya pada Kyuhyun, dia juga orang tua Youngjae bukan. Tidak adil jika hanya Jiyeon yang berpikir keras disini.

“Gwenchana, bukankah biasanya Youngjae juga rewel. Jangan terlalu dipikirkan, jika kau mau kita bisa ambil cuti 2-4 hari untuk Youngjae.”

“Andwae oppa, kita baru saja masuk kerja setelah mengambil cuti 5 hari untuk berlibur. Mana mungkin kita akan mengambil cuti lagi, kita harus profesional.” Kyuhyun mengulas senyum diwajahnya. Senyum menenangkan yang ia tujukan pada istrinya. Senyum yang mengatakan bahwa ‘baiklah, kita tidak akan ambil cuti itu’.

Kyuhyun kembali melajukan mobilnya setelah sebelumnya berhenti di pinggir jalan karena obrolannya dengan Jiyeon. Kyuhyun tidak mau ambil resiko mengobrol sambil berkendara. Berbahaya untuk keselamatan mereka, khususnya Jiyeon.

Setelah dirasa Kyuhyun mulai fokus dengan kemudinya, tanpa sepengetahuan Kyuhyun Jiyeon kembali melamun, namun kali ini ia memutuskan untuk berpura-pura melihat pemandangan luar lewat kaca mobil.

‘Bukan itu yang kupikirkan oppa, bukan Youngjae yang rewel. Tapi kau dan Nara yang ku khawatirkan.’

∞ My Married Life ∞

Setelah bergelut cukup lama dengan pekerjaanya, Nara memutuskan untuk makan siang bersama dengan Jongin sekalian berbagi kabar berita tentang bagaimana perkembangan rencana mereka. Nara memutuskan untuk makan siang di daerah Myeongdong yang tempatnya agak jauh dari perusahaan tempatnya bekerja, takut-akut jika Lay mengikutinya dan mengganggu janjinya.

‘Aku sedang dalam perjalanan. Apa kau sudah sampai ?’ tulis Nara diatas layar touchscreen miliknya bermaksud mengirimnya ke Jongin. Hanya basa-basi, tidak lebih. Tidak elit jika wanita yang menunggu, setidaknya itulah prinsip hidup Nara.

‘Aku sudah hampir sampai. Cepatlah, aku ada rapat setelah makan siang.’ Nara sedikit mendengus dan mendecak membaca balasan dari Jongin. Seperti orang penting saja. Kau hanya seorang sekertaris bukan direktur atau general manager seperti atasanmu, terlambatpun tidak akan mengubah apapun.

‘Nde, aku sudah dalam perjalanan sekarang’ tidak sepenuhnya bohong, memang benar jika saat ini ia sedang dalam perjalanan. Perjalanan menuju tempat parkir lebih tepatnya.

Tidak ada balasan dari Jongin membuat Nara memutuskan untuk bergegas pergi jika tidak ingin kedatangan pengganggu hidupnya. Nara yakin seratus persen lelaki itu sedang kelimpungan mencarinya yang sudah hilang dari ruangan General Manager L4Y Company. Rasakan kau Lay. Batin Nara bersorak sambil memakai sabuk pengamannya.

“Menghindariku Nona Kwon.”

“OMO…” Nara terlonjak kaget hingga kepalanya membentur kaca pintu mobil disampinya. Sejak kapan lelaki gila ini disana, duduk dikursi depan tepat disampingnya. Mungkinkah Lay memiliki kekuatan teleportasi ?. Mustahil.

“Sejak kapan kau makan siang tanpaku. Cepat jalankan mobilnya, kita makan siang bersama.” Nara masih belum merubah posisi terkejutnya meskipun Lay sudah tidak begitu mempedulikan kejadian kagetnya tadi. Gadis itu masih terheran-heran dengan kejadian barusan hingga tidak sadar ia telah membuang waktu berharganya untuk segera menemui Jongin.

“Tunggu apa lagi. Palli..” Nara baru tersadar mendapat intrupsi kedua Lay.

“YAK… Sejak kapan kau ada disini ?. Bagaimana kau bisa masuk sementara aku tidak mendengar suara pintu terbuka ?. Dan apa kau bilang barusan, makan siang bersama ?. Anni. Aku sudah ada janji dengan orang lain hari ini jadi maaf aku tidak bisa menemanimu makan siang kali ini. Cepat keluar, aku sudah sangat terlambat karenamu.”

“Dengan siapa kau membuat janji ?. Temanmu ? Namja Chingumu ? Tunanganmu ? Nugu ?”

“Kau tidak perlu tahu. Lebih baik sekarang kau keluar aku sudah benar-benar terlambat Lay. Jebal.” Dengan berat hati Lay membuka pintu disampingnya dan menurunkan kedua kakinya hingga kini ia sudah benar-benar keluar dari mobil Nara. Saat itu pula Nara tancap gas begitu cepat mengendarai mobilnya keluar bassment perusahaan meninggalkan Lay yang memandangnya dengan tatapan terluka.

“Tidakkah kau melihat perasaanku Nara-ssi.”

***

“Yak kau darimana saja eoh ?. Kau yang membuat janji dan kau membuang waktuku hampir 30 menit lamanya.” Nara yang baru saja datang segera memesan makanan dan secangkir cappuchino nya sebelm berniat menjawab pertanyaan Jongin.

“Ada sedikit masalah dengan atasanku tadi. Mian membuatmu menunggu lama. Jadi sampai dimana perkembangan hubunganmu dengan Jiyeon ?.” sudah terlalu banyak waktu yang terbuang sehingga Nara langsung ke pokok pembicaraannya saja. Jam makan siang sebentar lagi akan berakhir. 30 menit tersisa.

“Tidak banyak, kami masih akrab sebagai teman sejauh ini. Kurasa hanya akan sebatas itu saja hingga nanti. Kurasa sudah cukup hanya dengan akrab, mengingat aku orang baru yang datang dikehidupannya jadi akan butuh waktu lama jika menunggu target kita. Lalu kau sendiri ?” Nara menyesap cappuchinonya yang baru saja datang. Diikuti Jongin yang juga mencicipi jus jeruk miliknya.

“Sangat pesat. Aku tidak menyangka pagi ini akan terjadi. Aku sudah bisa kembali dekat dengan Kyuhyun seperti dulu, walaupun kita tidak menjalin hubungan. Sepertinya ini awal yang bagus, apalagi tadi aku merasa jika Jiyeon cemburu padaku. Bodohnya gadis itu sama sekali tidak menyuarakan keresahan hatinya dan berkat kebodohannya itu jalanku mendekati Kyuhyun semakin terbuka.”

Perbincangan mereka terus berlanjut hingga 15 menit kedepan. 5 menit sebelum jam makan siang berakhir, Nara dan Jongin keluar dari caffe secara bersamaan menuju mobil masing masing yang terpakir dipinggir jalan, bergerak kembali menuju perusahaan tempat mereka bekerja masing-masing.

∞ My Married Life ∞

L4Y Company, 16.17 KST.

 

 

Sekembalinya dari makan siang tadi, Nara kembali menggeluti lembar-lembar kertas dimeja nya yang cukup membuat kepalanya pusing. Sedikit bingung pula, kenapa ada banyak lagi tumpukan berkas yang harus ia cek ulang padahal sebelum makan siang tadi Nara yakin sudah mengerjakan tugasnya hingga selesai. Mungkinkah ini ulah Lay yang balas dendam padanya. Ini tidak bisa dibiarkan.

“Tapi aku juga tidak bisa marah begitu saja padanya tanpa alasan yang jelas. Belum tentu ini semua ulahnya. Mungkin memang selama aku pergi, ada berkas tambahan dari proyek yang sedang perusahaan garap.” Nara bergumam sendiri sambil memandang kalimat demi kalimat yang tertera didalam lembaran ditangannya.

“Fighting Kwon Nara, kau pasti bisa.” Nara kembali bergelut dengan tumpukan kertas. Menumpas semua map yang didalamnya berisi lebih dari 15 lembar untuk dicocokkan dengan data yang tertera dilayar komputernya. Melelahkan memang, tapi inilah pekerjaanya.

***

“Taeppunim, ini berkas-berkas mengenai proyek di Jeju. Sudah saya refisi kembali dengan data aslinya. Semuanya sudah akurat, tidak ada salah apapun.” Nara dengan tumpukan map ditangannya berdri didepan meja dengan name diatasnya adalah Ahn Lay – CEO L4Y Company.

“Letakkan saja dimeja. Kau boleh keluar.” Singkat, padat, cuek. Tidak biasanya, Lay seakan mengacuhkannya. Bukankah orang yang akan terus merecoki hidupnya adalah Lay. Orang yang akan selalu mengganggu jam kerjanya adalah Lay. Orang yang selalu banyak bicara didekatnya adalah Lay. Orang yang selalu memanfaatkan waktunya hanya untuk mengganggu dan menahannya adalah Lay. Hanya Lay. Tapi sekarang, barusan….

‘Benarkah dia Lay ?’

 

 

Pertanyaan konyol Kwon Nara. Jelas-jelas orang yang duduk dikursi tertinggi perusahaan tempatmu bernaung itu adalah orang yang sama dengan lelaki yang tadi siang kau usir dari dalam mobilmu yang itu artinya dia adalah Lay, si-CEO gila. Waeire ?.

“Apa masih ada yang lain Nara-ssi ?” Nara tersadar dari lamunannya. Dia benar-benar Lay, tapi kenapa Lay begitu terlihat tenang dan tidak gempar saat melihatnya. Tidak biasanya.

“Nona Kwon, aku bertanya apa masih ada yang lain ?. Jika tidak, bisakah kau segera keluar dari ruanganku.”

“A..a..aa..nde Taeppunim. Jwesonghamnida. Saya permisi.” Nara keluar dari ruangan Lay dengan tanda tanya besar dikepalanya. ADA APA DENGAN LAY ?.

“Mungkinkah dia terbentur sesuatu tadi siang ?”

∞ My Married Life ∞

Salju turun lebat sore ini. Hari dimana masih turun bola-bola kecil putih pekat dari langit tiada jeda, menutupi tepian jalan hingga setebal kasur lantai. Dibawah guyuran salju yang menghiasi sore kota Seoul, Nara masih disibukkan dengan pekerjaannya. Lay benar-benar balas dendam padanya. Seharusnya saat ini ia sudah berada dirumah Kyuhyun, menikmati secangkir coklat panas atau apapun itu yang dapat membuat tubuhnya hangat. Walaupun saat ini sudah ada secangkir kopi panas yang ia buat sendiri tadi karena memang saat ini sudah diluar jam kantor dan semua OB sudah pulang, namun tetap saja ini berbeda.

“Arghh.. aku bisa gila jika terus menerus begini. Bagaimana mungkin aku menyelesaikan semua ini dalam waktu kurang dari 12 jam. Dia kira aku memiliki jin atau kekuatan semacam itu. Dasar namja gila.” walaupun rutukan dan umpatan terus bermunculan lewat mulutnya, namun mata dan tangannya tetap jeli memeriksa lembar demi lembar berkas proyek baru yang ia tangani bersama CEO tak berperasaan itu.

Terlalu fokus pada pekerjannya membuat Nara tidak menyadari bahwa saat ini ada sepasang mata yang memperhatikannya lengkap dengan lekukan senyum yang muncul diwajah tampannya. Kurang lebih 10 menit sudah Lay berdiri dengan kedua tangan yang tersembunyi dibalik celana kain yang ia kenakan. Penampilannya yang agak berantakan justru menambah kesan cool dan gentle dari pria berdarah campuran China-Korea itu. Jujur, bukan maksud Lay menyulitkan Nara hari ini apalagi balas dendam seperti yang Nara umpatkan tadi. Dia hanya merasa sedikit kesal dengan Nara perihal tadi siang. Yahh.. bisa dibilang Lay cemburu.

Meski hampir setengah jam Lay berdiri diambang pintu, namun Nara tak sedikitpun merasakan kehadirannya karena terlalu sibuk mengumpat dan fokus pada berkas didepannya. Lay sendiri juga tidak ingin mengintrupsi kegiatan Nara, mendengar umpatan Nara tentangnya setidaknya telah menghibur hatinya yang berkobar tadi siang karena cemburu. Lagipula, hanya disaat seperti inilah ia dapat memandang wajah Nara tanpa terhalang apapun. Biasanya, untuk fokus pada wajah Nara, Lay butuh konsentrasi penuh karena saat itu pula dia akan mendengar segala macam umpatan perlawanan Nara. Sulit memang.

“Argghh.. micheosoo..” cukup sudah. Hatinya sudah kelewat terhibur dan tidak tega melihat wanita pujaan hatinya kelelahan seperti itu. Hukumanmu berakhir Nara-ah.

“Siapa yang kau maksud gila Nara-ssi ?” gadis itu terlihat begitu terkejut dengan kehadiran Lay. Sejak kapan dia ada disana ?. Itulah pertanyaan pertama yang muncul di otak Nara dan pertanyaan keduanya adalah, Apa dia mendengar semua umpatanku tadi ?.

Lay bergerak mendekati meja kerja Nara. “Ku-tanya. Siapa yang kau maksud gila tadi nona Kwon Nara. Apa itu aku.” Nara terus mengerjab tak mampu beralih dari posisinya, bahkan hanya untuk menggerakkan jarinya saja ia tidak mampu. Lebih tepatnya tak memilki keberanian, terlalu gugup bahkan hanya untuk mengambil napas.

“Tae..taep..punim, ap-apa yang anda lakukan ?” Nara merasa nafasnya pendek. Tidak banyak ruang yang tersisa saat Lay tiba-tiba mencondongakan wajahnya kedepan, mengikis jarak antar keduanya. Mungkin ciuman bisa saja terjadi jika Lay tidak diteriaki oleh akal sehatnya.

“Dengarkan aku baik-baik Nara-ah. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Bagaimana bisa Nara menjawab pertanyaan Lay, untuk bernapas saja ia merasa kesulitan. Setiap Nara menarik napas yang tercium adalah aroma khas lelaki didepannya ini. Kumohon siapa saja, jauhkan lelaki ini dariku sekarang. Palli. Menjerit sekarang pun juga rasanya percuma karena yang ada di sini hanya mereka berdua.

“Lay-ssi… menjauhlah. Kau menakutiku.” Jangankan menjauh, bahkan untuk mengalihkan tatapannya saja tak Lay lakukan.

“Mian..aku tidak bisa menahannya lagi.” Menahan ? Menahan apa maksudnya ?.

Oh astaga.. apa ini. Apa yang lelaki ini lakukan. Ini keterlaluan, benar-benar tidak bisa dibiarkan.

Nara mengepal kuat disana, saat Lay dengan tidak sopannya mencium tepat dibibirnya. Apa sebenarnya yang lelaki ini pikirkan. Siapa dia yang dengan mudahnya menjamah bibirnya. Nara terus mencoba menjauhkan wajahnya dari jangkauan Lay namun saat itu pula Lay menarik paksa wajahnya untuk tetap mengarah kedepan.

“Chamkaman..” teriakan Nara seakan angin lalu bagi Lay. Lelaki itu terlalu fokus dengan apa yang menjadi prioritas utamanya saat ini. Lebih tepatnya prioritas hasrat lelakinya. Lay semakin gencar mengulum bibir Nara. Semakin keras Nara berusaha menolak semakin keras pulan Lay mencium bibirnya. Tidak ada niatan bagi Lay untuk berhenti. Biarlah setelah ini Nara akan membencinya, biarlah setelah ini Nara tidak ingin bahkan mengutuk hari pertemuan mereka. Kau benar-benar kehilangan akalmu Lay.

“Chamkamaneyo Lay..” berhasil.

Napas keduanya terlihat memburu. Dengan kekuatan dan dorongan dari emosi yang menguasai dirinya, Nara berhasil mendorong Lay kebelakang hingga tersungkur.

“Apa maksudmu ?.” Lay megusap sisa-sisa saliva disekitar bibirnya begitu pula dengan Nara. Namun bedanya disini, Lay terlihat lebih santai dibandingkan dengan Nara.

“Kuharap kau ingat dengan apa yang kukatakan sebelumnya. Karena aku tidak akan mengucapkannya lagi jika kau bertanya sekarang.”

“Keluar dari ruanganku sekarang..” Lay berdiri dari posisi duduk tersungkurnya. Hanya berdiri tanpa ada niat untuk keluar dari ruangan itu. Ada sesuatu yang menahannya dan memaksanya untuk tetap tinggal disini. Tak menghiraukan emosi gadis yang entah sejak kapan namanya sudah menempati ruang kosong dalam hati seorang Ahn Lay.

Nara semakin muak dengan tingkah Lay hari ini. Oh, kau seharusnya berpikir lebih dulu Kwon Nara. Dialah pemilik perusahaan ini, dialah yang memberimu pekerjaan ini, sudah pasti lelaki berengsek ini enggan untuk meninggalkan ruangan yang menjadi miliknya ini, kaulah yang harusnya keluar dari sini. Atau mungkin keluar selamanya dari perusahaan ini bukan ide yang buruk.

Tanpa menunggu lagi, Nara menyambar tas selempangnya diatas meja. Sudah ia putuskan jika mulai besok ia akan mengundurkan diri dari L4Y Company. Memutuskan untuk keluar dari ruangan ini, ruangan yang menjadi tempat terakhir yang ia tempati dihari terakhirnya. Ruangan dimana seorang lelaki yang beberapa minggu ini sudah ia anggap teman -namun tidak lagi- itu memperlakukannya layaknya wanita murahan.

Masih belum ada pergerakan dari Lay. Lelaki itu menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Hingga kesadarannya kembali saat satu kalimat kutukan menghampiri telinganya.

“Aku mengundurkan diri. Tunggu surat pengunduran diriku di mejamu besok pagi.” Petir kembali menyambar kehidupan didalam hati Lay. Lelaki lembut dan periang itu harus kembali mendapatkan penolakkan secara tak langsung dari yeoja yang sudah hamipir 3 bulan lamanya menempati ruang kosong dihatinya. Kejadian 2 tahun lalu kembali terulang karena kecerobohanmu sendiri yang tidak bisa menahan napsu brengsekmu Lay. Lantas apa yang akan kau lakukan sekarang. Dia pergi.

“Tidak..Tidak.. aku tidak akan mengulang kejadian menyakitkan itu lagi. Aku harus mendapatkannya kembali. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Tidak untuk sekarang.” Secepat kilatan petir yang menyambar hatinya, secepat itu pula Lay berlari keluar ruangan bertuliskan General Manager menuju Lift yang ia yakini Nara pasti masih disana. Benar saja, Nara terlihat baru memasuki lift, sayangnya pintu lift tertutup sebelum Lay sempat mengejarnya. Sialnya hanya ada satu lift dilantai ini. Terlalu lama jika harus menunggu lift ini kembali keatas.

Tangga darurat. Hanya itu jalan keluarnya.

Lay kembali melesat menuruni satu persatu anak tangga hingga kini ia sudah mencapai tangga darurat dilantai 4 menandakan kurang lebih 5 menit lagi ia akan mencapai bassment. Semoga Nara masih disana.

“Nara…Kwon Nara berhenti. Nara-ssi berhenti..BERHENTI..NARA !!.” sangat disayangkan, harapan memanglah tinggal harapan. Lay terlambat menghentikan Nara.

Keundae, Lay tidak akan begitu saja menyerah. Selama Nara masih di Seoul maka semua ini belum berakhir. Ia bersumpah akan mengejar cintanya sekarang. Tak peduli seberapa sulitnya nanti, bukan Lay jika ia menyerah begitu saja. Bahkan jika taruhannya nyawa sekalipun asal itu bisa membuat Nara mencintainya akan ia lakukan. Pegang itu.

∞ My Married Life ∞

Hari semakin malam, jam dinding menunjukkan kemampuannya dalam hal menentukan jam berapa sekarang. Jarum panjang tepat diangka 8 dan jarum pendek berada diantara angka 8 dan 9. Hari sudah malam tanpa dirasa, makan malam juga sudah terlewat. Kini adalah saat dimana para pekerja kantor untuk mengistirahatkan tubuh letihnya. Begitu pula yang dilakukan Jiyeon.

Hari ini ia pulang agak malam. Bukan niatan awal sebenarnya hari ini ia akan lembur, hanya saja tadi ia harus mengurusi beberapa berkas persetujuan kerja sama dengan perusahaan penerbit buku ke-6 nya. Mungkin kalian bertanya kenapa Jiyeon yang menyetujui persetujuan itu bukan malah Donghae yang faktanya seorang CEO disana. Awalnya memang seperti itu hanya saat tiba-tiba menjelang satu jam sebelum jam pulang kantor Donghae menghubunginya bahwa masih ada berkas yang memerlukan persetujuan darinya tapi karena sedikit urusan dengan calon istrinya akhirnya Donghae meminta Jiyeon yang menghandel semuanya.

Beruntung Youngjae tidak rewel seperti tadi pagi, jadi ia punya waktu lebih longgar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kyuhyun juga sudah terlelap disampingnya. Mungkin ia juga sama lelahnya dengan Jiyeon. Dia saja yang hanya menjabat sebagai general manager selelah ini, apalagi Kyuhyun yang CEO ditambah menghandel proyek cabang perusahaan di Jepang. Tidak terbayangkan lagi betapa lelahnya suaminya ini. Beruntungnya lagi, Kyuhyun bukanlah tipe suami yang menuntut dan marah-marah tak jelas jika sedang kelelahan. Hidupmu benar-benar beruntung Park Jiyeon.

Perlahan tapi pasti, usapan lembut dari tangan Jiyeon mendarat di kepala Kyuhyun. Mengelus surai hitam kecoklatan, menyingkirkan poni yang menutupi dahi putih lebar milik suaminya. Suami ?. Percaya atau tidak bahwa sampai saat ini pun, sampai buah cinta mereka lahir didunia Jiyeon terkadang merasa semua ini hanya lah mimpi indah untuknya. Mengingat semua ini sangat bertolak belakang dengan awal pertemuannya dan Kyuhyun. Bahkan hanya untuk melirik Kyuhyun saja rasanya malaikat maut sebentar lagi akan menghampirinya saat itu juga.

“Aku harap ini bukan mimpi.” Bisik Jiyeon yang bahkan mungkin hanya bisa didengar olehnya sendiri. “Jaljayo oppa. Mimpi indah nae nampyeon. ” Sebagai kesan terakhir, Jiyeon mengecup lembut kening Kyuhyun. Menyalurkan rasa syukurnya kedalam pikiran Kyuhyun agar didalam sana hanya terpikir dirinya dan Youngjae saja, tidak yang lain.

Bertepatan dengan Jiyeon yang sudah akan menutup mata menyusul Kyuhyun yang sudah terbang ke alam mimpi, ponsel pintar diatas nakas tak sependapat dengannya. Bukan poselnya tapi ponsel Kyuhyun. Siapa yang menelpon suaminya malam-malam begini. Apa penelpon ini tidak punya jam dirumahnya. Dengan kesal sekaligus penasaran Jiyeon meraih ponsel pintar suaminya diatas nakas, mendapati sebuah dial nama yang membuat alisnya nya terangkat.

“Untuk apa Nara menelpon Kyuhyun malam-malam begini ?” Jiyeon seakan diingatkan jika saat makan malam tadi ia tidak mendapati Nara di meja makan. Mungkinkah Nara juga tengah lembur hari ini, tapi kenapa ia menelpon Kyuhyun bukan malah segera pulang. Tidak ingin membangunkan Kyuhyun, Jiyeon mengangkat telpon itu.

“Yeobeoseyo ..”

“Kyuhyun-ah, kau-kah itu ?” Kyuhyun-ah ?, akrab sekali dia memanggil Kyuhyun. Oh jangan lupakan bahwa wanita ini mantan kekasih suamimu Jiyeon.

“Ini aku Jiyeon, Nara-ssi..”

“Oh mian,apa Kyuhyun ada ?”

 

 

“Dia sedang tidur karena kelelahan. Ada apa kau mencari Kyuhyun oppa malam-malam begini ? Dan kenapa kau belum pulang ?”

“Sebenarnya tadi aku berencana untuk lembur sampai besok agar aku bisa mengambil cuti dihari berikutnya, tapi aku mengubah rencanaku. Sialnya mobilku mogok ditengah jalan, bisakah kau mengirim jemputan kemari. Jalanan sepi disini, tidak ada satu taksi atau mobilpun yang bisa kutumpangi untuk sampai rumah.”

“Dimana tepatnya kau sekarang ? Aku akan meminta Kang ahjusi untuk menjemputmu.”

“Gomawo Jiyeon-ssi, aku ada di…” seperti yang sudah ia katakan tadi. Setelah mendapat posisi tempat Nara sekarang, Jiyeon segera mencari Kang ahjusi untuk menjemputnya di alamat yang Jiyeon pegang sekarang. Kang ahjussi langsung berangkat menjemput Nara setelah mengetahui dimana letak alamat tersebut.

Entah benar atau hanya kebohongan Nara mengatakan bahwa sekarang ia sedang terjebak di suatu daerah bersama dengan mobil mogoknya dan tidak ada satu kendaraanpun yang bisa ditumpangi untuk pulang, Jiyeon berpikir itu semua hanya akal-akalan Nara agar Kyuhyun menjemputnya dan mereka punya waktu berdua terlepas dari pandangan Jiyeon. Entahlah kenapa ia harus berpikiran seperti ini, padahal dulu dialah yang berinisiatif menjadikan Kyuhyun dan Nara kembali dekat sebagai teman namun semua ini justru membuatnya khawatir. Bagaimana jika Nara masih mencintai Kyuhyun dan Kyuhyun masih menyimpan rasa pada Nara walaupun itu sedikit, tapi bukankah ada pepatah sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.

“Kenapa belum tidur ?” Jiyeon dikagetkan dengan suara bass yang mengintrupsi kegiatan melamunnya diruang tengah.

“Oppa ? Kenapa oppa bangun ? Oppa membutuhkan sesuatu, biar kuambilkan.” Jiyeon mengira Kyuhyun membutuhkan air minum mengingat kebiasaan suaminya yang akan merasa haus setiap kali ia bangun tidur ssehingga tanpa mendengar jawaban Kyuhyun, Jiyeon bergerak menuju dapur.

“Kau mau kemana ?” tanpa diduga Kyuhyun menghentikan langkah Jiyeon yang hendak menuju dapur. Bukankah Kyuhyun haus ?.

“Kukira oppa haus, jadi aku ingin mengambilkan air minum di dapur.” Kyuhyun justru tersenyum geli melihat kepolosan wajah Jiyeon saat menjelaskan niatannya barusan. Wajah tanpa dosanya membuat Kyuhyun semakin jatuh cinta pada wanita bermarga asli Park ini.

“Siapa yang bilang aku haus eoh ? Aku hanya panik mencarimu yang tidak ada disampingku. Kenapa kau disini, bukan malah menemaniku tidur dikamar.” Kau salah mengira Jiyeon, Kyuhyun tidak haus ternyata. Jangan sampai Kyuhyun tahu alasannya ada disini karena ia menunggu Nara pulang, yang sebenarnya tadi meminta bantuan Kyuhyun untuk menjemputnya.

“Aku baru saja selesai dengan acara reality show favoritku. Baru saja aku berniat kembali kekamar, tapi oppa sudah mencariku kemari.” Kyuhyun menarik Jiyeon kedalam rengkuhannya, menghirup aroma strawberry khas Jiyeon yang selalu memanjakan indra penciumannya setiap ia membuka mata dipagi hari.

“Tidurlah. Aku tahu kau kelelahan karena si-ikan Mokpo tak berperasaan itu melimpahkan semua pekerjaanya padamu. Aku takut kau sakit nanti.” Hati Jiyeon yang awalnya gundah gulana kini kembali ditumbuhi bunga-bunga yang kuncup dan siap mekar saat mendengar ungkapan-ungkapan indah dari Kyuhyun.

“Oppa jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja dengan semua pekerjaan Donghae, lagipula ada Jongin yang membantuku. Seharusnya yang patut dikhawatirkan itu oppa. Kau seperti mesin yang gila kerja, tidak ingat waktu dan lupa makan jika sudah serius menekuni pekerjaanmu.” Kyuhyun menjauhkan tubuh Jiyeon dari tubuhnya. Hingga kini ia dapat melihat wajah berseri istrinya. Jiyeon refleks memjamkan matanya menerima sentuhan lembut bibir tebal Kyuhyun dipermukaan kulit keningnya. Cukup lama sebelum dilanjutkan dengan pertemuan dua material kenyal tak bertulang yang saling bertaut. Tidak ada penekanan, semua dilakukan dengan tempo lambat dan seakan memberi kesan indah bagi kisah cinta mereka. Satu lagi kenangan indah yang wajib mereka kenang saat tua nanti.

“Sepertinya Youngjae butuh adik untuk teman bermain.”

“Apa tidak terlalu cepat. Baagaimana kalau kita tunggu sampai Youngjae berusia 3 tahun.” Lagi-lagi wajah tanpa dosa itu muncul didepan Kyuhyun. Membuatnya selalu kesulitan menahan hasratnya sendiri untuk segera mengurung wanita ini dibawah kuasanya.

“Kyuhyun-ssi, Jiyeon-ssi …” lagi-lagi Jiyeon merutuki kedatangan Nara disaat yang tidak tepat. Kenapa harus disaat dirinya sedang dalam suasana yang romantis dan intim bersama Kyuhyun. Mungkinkah gadis itu sengaja.

“Eoh, Nara-ssi ?. Kau baru pulang ?”

“Ne, aku lembur tadi. Jiyeon bilang kau sedang tidur karena kelelahan.”

“Ya tadi memang aku sedang tidur, tapi saat aku tidak mendapati istriku ini terbaring disampingku membuatku khawatir dan akhirnya aku sampai disini.” Nara hanya mengangguk tanda mengerti.

“Nara-ssi, menurutmu apakah salah jika aku ingin membuatkan adik untuk Youngjae sekarang ?” Jiyeon mendelik kearah Kyuhyun yang sayangnya diabaikan, karena Kyuhyun lebih terfokus pada Nara. Menunggu jawaban dari wanita yang sempat singgah dihatinya itu.

Lain dengan Jiyeon yang mendelik karena Kyuhyun yang terkesan membeberkan aktivitas intim mereka ke-orang lain tanpa ragu sedikitpun, Nara justru seakan terhempas kedasar jurang yang paling dalam dari yang terdalam sekalipun hingga ia tak punya harapan lagi untuk hanya berdiri dari posisi jatuhnya. Membuat adik untuk Youngjae ? Itu berarti akan ada Kyuhyun junior  2 disini. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Kesempatanku akan semakin sulit untuk mendapatkan Kyuhyun kembali jika seperti ini.

“Nara-ssi, jangan dengarkan ucapan Kyuhyun oppa barusan. Dia hanya kelelahan dan kurang tidur, jadi bicaranya agak ngelantur. Kau tidurlah, jika kau lapar ada beberapa makanan dikulkas. Tinggal kau hangatkan saja.” Tak ada jawaban ataupun respon lain dari Nara sampai Kyuhyun dan Jiyeon berlalu kembali kekamar mereka meninggalkan gadis bermarga Kwon itu sendirian di ruang tengah dengan segala macam pikiran negatifnya.

“Aku harus mempercepat semuanya. Bukan hanya bayi itu yang harus kusingkirkan. Tapi juga ibunya. Kau adalah sumber dari semua ini Park Jiyeon.”

ᴥ To Be Continue ᴥ

Andalan
Diposkan pada chapter, married life, NC, SAD

My Married Life part 9

My Married Life (Part 9)

my married life last

Title : My Married Life

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Park Jiyeon (Cho Jiyeon)

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Kwon Nara
  • Lay
  • Cho Youngjae

Genre : Angts , little NC , married life, temukan sendiri.

SELAMAT MEMBACA

 

 

Running Cafe, Angnyang

            12.05 KST

 

 

Musim telah berganti. Mentari cerah kini akan setiap hari terasa hangat dimusim semi. Bunga ditaman kota bermekaran setelah hampir sebulan berguguran. Di hari yang cerah ini nampak seorang gadis cantik lengkap dengan pakaian kantornya nampak baru saja turun dari taxi dan kemudian berjalan tanpa beban memasuki cafe elit bergaya Eropa di daerah Angnyang.

Bunyi lonceng kecil didepan pintu menandakan jika ada pelanggan yang baru saja memasuki cafe membuat salah seorang pengunjung yang kurang lebih 10 menit duduk manis disalah satu meja menengokkan kepalanya terfokus kearah pintu. Saling melempar senyum saat pandangan mereka bertemu. Orang yang ditunggu akhirnya datang juga.

“Menunggu lama ?” tanya si wanita pada seorang namja yang menunggunya.

“Tidak juga, aku baru saja tiba kurang lebih 10 menit yang lalu.” Terlihat si wanita hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan kemudian mendaratkan pantatnya di kursi kosong satu meja dengan sang namja.

“Ingin pesan makanan atau langsung ke topik pembicaraan ?” tanya si namja.

“Setidaknya akan lebih nyaman jika ada makanan di meja ini. Kita pesan dulu.” Cepat tanggap si namja mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya memberi kode pada pelayan cafe bahwa mereka akan memesan makanan.

“Jadi apa rencanamu ?” tanya si-namja sambil menyesap moccacino-nya yang datang bersamaan dengan pesanan lainnya beberapa menit setelah mereka memesan.

“Simple, mendekat lalu menerkam.” Terlihat kening namja itu mengkerut menandakkan jika tidak sepenuhnya ia mengerti arah pembicaraan si gadis.

“Maksudmu ?”

“Kita dekati mereka, lalu disaat yang tepat kita serang kelemahannya.” Si namja sudah mulai mengerti dengan rencana yang disusun gadis dihadapannya ini. Rencana yang akan menghancurkan Cho Kyuhyun dan membuatnya bertekuk lutut.

“Itu berarti. Aku harus mendekati Jiyeon dan akrab dengannya.”

“Matja. Rencana kita akan berjalan lebih cepat karena aku sudah dapat masuk kedalam rumah tangga mereka dan mengetahui apa kelemahan mereka. Hanya tinggal kau dan kita cari waktu yang tepat.”

“Lalu… kau yakin kita akan berhasil ?”

“Kenapa tidak. Anak itu adalah kelemahan mereka. Sedikit bermain dengan Cho Youngjae akan mengasikkan, sebelum kita benar-benar menyingkirkannya.” Terlihat seringaian iblis muncul diwajah si-gadis. Lain dengan si namja yang justru merasa ini semua salah. Tidak seharusnya mereka melukai seorang bayi tak berdosa. Urusan mereka hanya pada kedua orang tua Youngjae.

Namun, kenangan kelam masa lalu kembali melintas di depan matanya membuat rasa bersalahnya musnah dalam sekejap jika mengingat bagaimana Kyuhyun memperlakukannya dulu. Mempermalukannya dihadapan seluruh murid Parah High School. Membuatnya harus dikeluarkan secara tidak terhormat dari sekolah karena suatu masalah yang sama sekali tidak ia lakukan. Membuatnya bersama keluarga harus pindah keluar negeri karena tidak ingin menanggung malu. Itu semua karena Cho Kyuhyun.

“Kau benar-benar licik Kwon Nara.”

“Bukankah ini juga menguntungkanmu, Kim Jongin.”

∞ My Married Life ∞

Pagi yang cerah dimusim semi. Angin berhembus lembut menerpa setiap permukaan wajah manusia yang baru saja membuka jendela kamarnya. Kicauan burung yang terbang mengelilingi pekarangan, berpindah dari pohon ke pohon seakan menghipnotis setiap manusia yang bergelung diranjangnya untuk segera bangun dan memulai paginya dengan pasangan hidup.

Kyuhyun perlahan membuka matanya saat dirasa ranjang yang ia tempati bersama Jiyeon bergoyang. Dengan pandangan yang agak kabur Kyuhyun mendapati Jiyeon terduduk dipinggiran ranjang sambil menguncir rambutnya keatas hingga menampilkan leher jenjang yang baru Kyuhyun sadari belum pernah terjamah sejak bulan terakhir kehamilan. Seakan mendapat suntikan semangat, Kyuhyun buru-buru mencekal pergelangan tangan Jiyeon yang hendak berdiri.

“Kau mau kemana hemm..?” Kyuhyun menyerukkan kepalanya dileher Jiyeon. Menghirup aroma tubuh Jiyeon yang menguar dari tubuhnya.

“Aku ingin melihat apakah Youngjae sudah bangun atau belum. Tunggulah sebentar, seteah itu aku akan menyiapkan air hangat untukmu.” Jiyeon yang belum mengerti dengan maksud Kyuhyun pun kembali berusaha berdiri, namun lagi-lagi harus gagal karena Kyuhyun kembali menariknya.

“Siapa bilang aku menyuruhmu menyiapkan air hangat.” Kyuhyun kembali menyerukkan kepalanya dileher Jiyeon. Bahkan kini tangannya sudah mengunci tubuh Jiyeon di dalam pelukannya. “Aku merindukanmu.”

Jiyeon mulai sadar apa yang maksud dari sikap suami manjanya ini. Bukan Cho Jiyeon jika tidak mewarisi sikap evil suaminya ini. Terlintas ide dipikirannya yang ia pikir dapat membuat pagi Kyuhyun hari ini berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Senyum evil menjadi tanda dimulainya rencana.

“Tapi aku tidak merindukanmu Oppa. Bukankah kita bertemu setiap hari, dan itu membuatku bosan. Aku merindukan orang lain sekarang.” Kyuhyun dengan sigap membalik tubuh Jiyeon hingga kini saling berhadapan. Dengan memberengut, Kyuhyun melontarkan pertanyaanya.

“Nugu… siapa yang kau rindukan ? Laki-laki atau perempuan ? Kenapa bosan denganku ? Apa kau sudah tidak mencintaiku ? Apa kau…”

CHUPP…

 

 

Jiyeon melumat lembut bibir Kyuhyun dengan mata tertutup. Berbeda dengan Kyuhyun yang terkejut akan gerakan cepat istrinya. Kejadian konyol dari seorang Cho Kyuhyun yang terkejut akibat ciuman istrinya sendiri.

“Pabbo. Bagaimana aku merindukan orang yang setiap waktu ada disampingku.” Jiyeon menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua telapak tangannya. Menatap wajah namja yang hampir satu tahun ini menemaninya, menjadi separuh dari kehidupannya. Mengusap lembut rambut kecoklatan Kyuhyun yang berantakan sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya dikening Kyuhyun.

“Jadi.. siapa orang lain yang kau rindukan ?”

“Oppa yakin ingin mendengarnya ?” Kyuhyun menganggukkan kepalanya scepat dan sebanyak mungkin, menunjukkan pada Jiyeon betapa penasarannya dia. Sebagai seorang Cho Kyuhyun, sudah menjadi fakta umum jika lelaki ini sangat protektif pada apa yang sudah menjadi miliknya. Dan disini Jiyeon dan Youngjae lah miliknya yang paling berharga.

“Orang itu adalah…” Kyuhyun merasa menelan ludahnya saja sangat susah saat ini. sanggupkah ia mendengar istrinya mengucapkan rindu pada orang lain, parahnya lagi jika itu seorang namja.

“Dia adalah…”

TOK..TOK..TOK..

 

 

“Jiyeon-Kyuhyun.. kalian sudah bangun ? Cepatlah keluar, Youngjae menangis dikamarnya.” Mendengar putra nya yang menangis membuat Jiyeon mengurungkan rencananya menjahili Kyuhyun yang mati penasaran di depannya. Dengan cepat Jiyeon meninggalkan Kyuhyun yang nampak gusar diranjang menuju kamar Youngjae tepat disebelah kamarnya.

“Yakk Cho Jiyeon. Kau berhutang penjelasan padaku. Aishh Jinja..”

∞ My Married Life ∞

Libur musim semi mungkin terdengar aneh bagi mereka yang memiliki jam kantor. Tapi siapa sangka jika sebutan aneh itu tidak dihiraukan oleh Kyuhyun. CEO Cho Corp ini memilih kembali mengambil cutinya untuk menghabiskan waktu bersama dengan istri dan putranya di awal musim semi.

Tepat pukul 10.17 KST, Kyuhyun bersama dengan Jiyeon juga Youngjae tiba di sebuah taman di daerah Gyonggju. Taman dengan beribu pohon hijau yang bersemi, berbagai macam bunga dengan warna yang berbeda menguncup disetiap jalan setapak yang mereka lalui. Taman yang dikenal dengan pusat surga Gyonggju ini telah mampu menghipnotis Jiyeon untuk selalu tersenyum hari ini. Kyuhyun pun tak kalah senang, sepertinya ide Hyukjae untuk datang kemari tidak salah. Hati dan perasaannya damai melihat senyum manis istrinya yang menjadi candu baginya itu. Jiyeon benar-benar cantik.

“Kau terlihat begitu senang disini ?” Jiyeon yang sejak tadi terhipnotis oleh pemandangan seolah melupakan keberadaan Kyuhyun disampingnya kini mampu mengusai diri kembali ke alam sadarnya.

“Tempat ini benar-benar cantik oppa. Darimana oppa tahu ada taman seindah ini di Gyonggju ?”

“Hyukjae yang memberitahuku. Awalnya aku berpikir tidak akan ada tempat seperti yang dikatakan Hyukjae, tapi setelah memastikannya kemarin akhirnya aku memutuskan membawamu dan uri Youngjae kemari.”

“Youngjae terlihat menikmati udara disini. Bagaimana kalau kita cari tempat duduk ?” Kyuhyun menyanggupi permintaan Jiyeon. Pandangannya mengedar mencari kursi taman yang kiranya terlihat nyaman untuk mereka.

“Disana.. kajja.” Kyuhyun berjalan beriringan dengan Jiyeon yang mendorong kereta bayi dimana ada Youngjae didalamnya. Kursi taman berwarna hijau dengan rumput-rumput yang berbentuk berbagai macam hewan dikedua sisinya, serta letaknya yang dibawah pohon sehingga membuatnya terlihat teduh dan sejuk menjadi pilihan Kyuhyun.

“Lihatlah uri Youngjae, wajahnya begitu damai saat tidur. Menggemaskan.” Kyuhyun hanya tertawa bahagia melihat wajah putranya. Benar kata Jiyeon, putranya sangat menggemaskan saat tidur.

“Kau juga menggemaskan saat tertawa seperti ini membuatku ingin menciummu chagi-ya..” Jiyeon menghentikan tawa senangnya melihat Youngjae terlelap dan melemparkan tatapan seram kearah Kyuhyun yang terlihat mengeluarkan smirk andalannya. Kau mencoba menggodaku Cho Kyuhyun.

“Jangan berpikir kau bisa melakukannya disini Cho Kyuhyun. Kau lupa kita ada dimana.”

“Hahaha.. kau semakin menggemaskan dan cantik saat marah chagi. Fiuhh.. aku sangat ingin menciummu sekarang.” Kyuhyun bergerak mendekat kearah Jiyeon.

“Cho Kyuhyun berhenti sekarang.” Tidak ada niatan yang terlihat dari Kyuhyun untuk berhenti, justru semakin mendekat hingga kini jarak keduanya hanya sepanjang jari kelingking.

“Menjauh sekarang Kyuhyun atau kau akan menyesal.”

“Kau ingat.. kau berhutang penjelasan padaku tentang siapa yang kau rindukan sekarang. Dan inilah saatnya kau menjawab siapa orang yang kau rindukan itu.” Jiyeon tersenyum gembira didalam hati. Ternyata Kyuhyun begitu penasaran dengan sosok yang ia bicarakan tadi pagi. Haruskah ia mengatakannya sekarang.

“Kau benar-benar ingin tahu ?”

“Tentu saja. Kau mengatakannya sekarang atau aku menciummu sekarang. Cepat ambil keputusanmu, aku bukan orang yang suka menunggu Cho Jiyeon.” Kyuhyun bersorak senang saat melihat wajah bingung istrinya. Sungguh membuatnya ingin segera meraup bibir chery itu, merasakan manisnya rasa chery dibibirnya. Sial, apapun keputusanmu aku akan tetap menciummu Cho Jiyeon. Kau benar-benar telah menggodaku.

“Aku…Aku merindukan…Donghae-oppa.”

***

“Oppa chamkamannyo.. Kyuhyun oppa.” Jiyeon berusaha menyamai langkah lebar Kyuhyun yang berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka. Semenjak pulang dari taman Gyonggju, Kyuhyun sepertinya marah padanya. Selama dalam perjalanan pulang tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Jiyeon tidaklah bodoh untuk tahu jika Kyuhyun sedang marah saat ini.

“Shin ahjumma tolong bawa Youngjae kekamarnya. Kyuhyun oppa chamkaman..” Jiyeon melanjutkan aksi mengejarnya setelah berhasil memindah tangan Youngjae dari gendongannya. Setidaknya langkahnya lebih ringan sekarang.

“Kyuhyun op-”

BLAMMM…

 

 

Belum sempat bicara Jiyeon harus dihadapkan dengan pintu kamar yang terkunci. “Apa dia semarah itu. Aku hanya merindukan sahabatku. Kekanakkan sekali sampai mengunci pintu, siapa sebenarnya yang perempuan disini.” Jiyeon bergerak turun keruang tengah untuk mengambil kunci cadangan dilaci dekat TV.

“Awas kau Cho Kyuhyun.” Jiyeon tidak henti-hentinya menghentakkan kaki sambil menaiki tangga menuju kamarnya. Apa salah jika dia merindukan sahabatnya yang saat ini sedang mengurus cabang perusahaan Lee Company di LA. Lagi pula ini semua juga karenanya, jika saja ia membiarkan Jiyeon bekerja mungkin dia tidak akan serindu ini pada Donghae. Pasalnya Kyuhyun melarangnya masuk kerja semenjak usia kandungannya menginjak 7 bulan dan hanya boleh melakukan pekerjaan ringan lewat email. Over Protektif.

CKELKK.. BLAMM..

“Dimana kau Cho Kyuhyun…” Jiyeon dengan emosi yang membuncah mengedarkan penglihatannya kesetiap penjuru kamar hingga indera pendengarannya menangkap suara gemericik air dikamar mandi. Seringaian muncul diwajah cantiknya. Oh…tinggal bersama Kyuhyun selama hampir satu tahun membuat Park Jiyeon yang kita kenal kini berubah menjadi Cho Jiyeon yang evil dan lebih sering mengeluarkan smirk setannya. Benar-benar istri seorang Cho Kyuhyun.

“Ketemu kau Cho Kyuhyun..” Jiyeon berjalan perlahan mendekati kamar mandi dengan tangannya yang bergerak melepas satu per satu pakaian yang ia kenakan, hingga tepat didepan pintu kamar mandi Jiyeon sudah benar-benar berdiri bebas tanpa sehelai benang-pun.

CKLEKK..

 

 

“Jiy-” bukan Jiyeon yang membuka pintu melainkan Kyuhyun yang baru saja selesai mandi dan terkejut dengan Jiyeon yang berdiri didepan pintu dengan tubuh yang full naked.

“Aku mendapatkanmu Cho Kyuhyun..” secepat kilat Jiyeon mendorong Kyuhyun kembali masuk kedalam dengan ciuman panas. Walaupun terkejut namun Kyuhyun tetap menerima perlakuan istrinya ini dengan senang hati. Jika dipikir ulang, sudah hampir 3 bulan mereka tidak saling ‘memasuki’ dan sepertinya inilah saatnya.

Selesai dengan ciuman panas, Kyuhyun mengangkat tubuh naked Jiyen keluar dari kamar mandi menuju ranjang yang serasa memanggil untuk segera ditempati sejak tadi. Sejenak melihat wajah terangsang istrinya yang menurutnya errr berkali lipat lebih cantik dan sexy. Tanpa menunggu detik berikutnya, Kyuhyun melepas kaos putih dan trainning yang ia kenakan hingga kini ia sama- sama full naked. Kejadian berlanjut sampai 3 jam kedepan. Kalian tahu sendiri apa yang akan dilakukan pasangan suami-istri seperti mereka.

∞ My Married Life ∞

Seperti pagi sebelumnya, dikediaman keluarga Cho tepatnya khusus untuk kehidupan keluarga kecil Cho Kyuhyun. Meja makan pagi ini kembali hanya 2 kursi yang terisi mengingat anggota keluarga lainnya baru saja berangkat ke bandara untuk melanjutkan perjalana bisnis mereka. Terlihat Shin ahjumma bersama dengan pelayan lainnya menata sarapan pagi untuk kedua majikan muda mereka.

“Pelayan Ja, tolong lihat Youngjae dikamarnya sudah bangun atau belum. Jika sudah mandikan dia dan buatkan sarapan seperti biasanya.” Jiyeon dengan pakaina kantornya mengintrupsikan pada salah satu pelayan rumahnya. Sudah ia putuskan jika mulai hari ini ia akan kembali bekerja. Jiyeon juga sudah membicarakannya dengan Kyuhyun semalam, walaupun awalnya menolak namun dengan sedikit rayuan Jiyeon mampu merubah keputusan Kyuhyun dalam sekejap.

“Kau yakin dengan keputusanmu. Kau tidak memikirkan bagaimana uri Youngjae nantinya jika kau juga bekerja.” Kyuhyun menyerukan ketidak setujuannya Jiyeon bekerja lagi.

“Aku hanya akan mengambil waktu kerja sampai jam makan siang. Oppa tidak perlu khawatir.” Lagi-lagi Kyuhyun hanya mampu mengangguk. Jika keputusannya sudah seperti ini mau diapakan lagi.

“Kita berangkat bersama.” Jiyeon mengangguk tanpa beban. Mengikuti Kyuhyun memasuki mobil sport miliknya setlah sebelumnya mereka berpamitan pada Youngjae.

∞ My Married Life ∞

“Semoga kita bisa bekerja sama Tuan Kim.” Jiyeon menjabat tangan seorang namja yang kini menjadi sekertaris barunya. Mengejutkan memang saat ia baru saja kembali masuk bekerja dan disuguhkan dengan kabar bahwa sekertarisnya yang lama telah dipindah tugaskan ke cabang perusahaan yang ada di Jeju. Meskipun tidak nyaman dan sedikit canggung, Jiyeon berusah menjadi orang yang profesional. Itulah yang ia pelajari dari Donghae.

Bicara tentang Donghae, kabar bahagia lain yang ia dengar pagi ini adalah sahabatnya yang kini berada di negeri sebrang itu akan bertunangan minggu depan. Lagi-lagi Jiyeon dibuat terkejut pagi ini. Jiyeon turut senang mendengar kabar Donghae yang akan segera bertunangan dengan wanita pujaannya, bukankah itu berarti Donghae sudah bisa melupakan perasaannya pada Jiyeon. Bukan maksud ingin menyombongkan diri, terlepas dari benar atau tidak ia tetap bersyukur mendengarnya. Kembali ke Tuan Kim, sekertaris barunya.

“Ahh, panggil saja saya Kim Jongin nona Cho.”

“Geureomyeon… silahkan lanjutkan pekerjaanmu.” Jiyeon berlalu masuk kedalam ruangannya menyisakkan Jongin sendiri di meja kerjanya. Seperginya Jiyeon , Jongin mengeluarkan ponsel pintarnya menekan number dial 3 untuk menghubungi Nara.

“Lebih mudah dari yang kupikirkan. Kurasa rencana kita tidak ada masalah. Mereka hanya kumpulan orang bodoh.”

“Lakukan bagianmu dengan baik. Aku menunggu kabar baik lainnya.”

“Dengan senang hati.”

∞ My Married Life ∞

“Jadi tidak sabar menunggu tanggal mainnya.”

“Kau merencanakan sesuatu nona Kwon ?” seketika Nara terdiam tegang di duduknya. Mungkinkah Lay mendengar pembicaraannya dengan Jongin tadi.

“A-a-ani taeppunim.” Nampak kerutan di dahi Lay menunjukkan bahwa ia merasa ada yang aneh dengan sikap sekertaris nya ini. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan keluarga Cho. Batinnya.

Dua hari yang lalu Lay telah resmi menggantikan posisi appa-nya menjadi CEO L4Y Company. Dan pada hari yang sama ia mengangkat Nara sebagai sekertaris barunya dan mengganti posisi Nara sebelumnya dengan orang lain. Tidakkah itu terlalu jelas menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.

“Apa jadwal ku hari ini nona Kwon ?” Nara bergerak mengambil notebooknya memeriksa apakah ada jadwal rapat untuk CEO barunya ini.

“Hanya rapat kecil dengan wakil perusahaan Lion Art.”

“Kapan ?”

“Tepat pukul 9 taeppunim.”

“Kalau begitu tidak ada jadwal saat makan siang. Kita makan siang bersama nanti.”

“Tapi taep-”

“Aaaa… aku tidak menerima penolakkan. Aku akan kembali saat jam makan siang.” Lay berlalu pergi meninggalkan ruangan Nara. Satu lagi usaha pendekatannya berhasil.

“Kau kembali menjadi menyebalkan Lay.” Nara merutuki sikap Lay yang kembali suka memaksakan keinginannya. Terkadang ia berpikir jika Lay sengaja melakukan semua ini tapi atas dasar apa ?. Sempat ia berpikir mungkinkah Lay menyimpan rasa padanya namun segera ia tepis jauh-jauh pemikirannya itu. Pemikiran yang konyol.

***

Seperti yang telah di janjikan. Makan siang bersama di restoran China, itulah pilihan Lay. Mungkin karena lelaki ini berdarah campuran Korea-China menjadi alasannya memilih restoran ini.

“Kau ingin pesan apa ?”

“Samakan saja denganmu.”

“Geurae..” Lay fokus memilih menu makanan apa yang akan ia pesan, sedangkan Nara terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya. Tentu saja ia sedang berhubungan dengan Jongin sekarang.

“Apa ponsel itu lebih penting dari pada CEO mu yang tampan ini eoh..” mendengar celetukan Lay membuat Nara memutar mata malas. Sepertinya ini akan menjadi makan siang yang lama.

“Jangan memulai Lay, sudah baik aku mau makan siang denganmu.” Lay terlihat hanya menanggapinya dengan tersenyum. Benar apa yang dikatakan Nara, sebuah keberuntungan baginya Nara mau makan siang bersamanya. Bagaimana tidak beruntung mengingat gadis ini adalah gadis no 1 yang sangat sulit untuk ditaklukan. Lain jika itu Kyuhyun.

∞ My Married Life ∞

1 Minggu Kemudian,

 

 

Entah bagaimana ceritanya kini hubungan Jiyeon dan Jongin semakin membaik layaknya sahabat yang bertemu kembali setelah bertahun-tahun berpisah. Siang ini mereka berencana makan siang bersama setelah setengah hari bergelut dengan berkas-berkas untuk penerbitan buku ke tiga Jiyeon.

‘Kau dimana ?. Aku ada diruangnmu sekarang dan tidak menemukanmu disini.’

“Kyuhyun-oppa..” Jiyeon mengetikkan balasan pesan untuk Kyuhyun.

‘Aku sedang makan siang diluar dengan sekertarisku. Datanglah ke restoran dekat perusahaan.’

 

“Nugu ?” Jongin bertanya setelah Jiyeon berhasil mengirim pesan balasan untuk Kyuhyun.

“Kyuhyun oppa, nae nampyeon. Dia akan segera kemari, kuharap kau tidak takut dengannya.”

“Kenapa harus takut.. aku tidak sedang menculik istrinya sekarang.” Suara gelak tawa akan sering terdengar jika mereka bersama. Begitulah kurang lebih hubungan mereka, sangat akrab. Jiyeon sendiri mengakui jika Jongin adalah tipe orang yang mudah bergaul dan asik diajak bicara, membuatnya merasa nyaman jika sedang mengobrol dengan Jongin. Kau hanya belum tahu saja sifat aslinya Cho Jiyeon.

“Nuguseyo..” percakapan mereka terhenti saat mendnegar suara bass dari arah belakang tubuh Jiyeon.

“Oppa…” Kyuhyun berjalan menarik salah satu kursi disamping Jiyeon dengan tatapan yang tidak pernah terlepas dari sosok Jongin. Entah ini perasaannya atau apa tapi ia merasa jika Jongin bukan tipikal orang baik-baik.

“Kau pasti Tuan Cho Kyuhyun, suami dari Jiyeon.” Celetuk Jongin justru membuat rasa tidak suka Kyuhyun padanya semakin bertambah. Jiyeon bilang dia makan dengan sekertarisnya, lalu pantaskah seorang sekertaris memanggil atasannya dengan hanya namanya saja.

“Kau tahu siapa yang kau panggil Jiyeon disini. Dia atasanmu, sudah sepantasnya jika kau lebih formal padanya.” Jiyeon merasakan aura kegelapan pada diri suaminya sekarang. Sepertinya mempertemukan mereka hari ini bukan waktu yang tepat.

“Oppa, aku yang menyuruhnya untuk tidak memanggilku terlalu formal saat diluar kantor. Jadi, jangan marah nde..??”

“Cepat pesan makanan. Aku sudah sangat lapar.” Sudah ia duga Kyuhyun tidak mungkin tidak marah. Seorang Cho Kyuhyun yang terkenal over protektif.

‘Tidak berubah Cho Kyuhyun. Kau akan menyesali sikapmu ini nanti.’ Gerutu Jongin dalam hati dengan tatapan yang sedikitpun tak teralihkan dari Kyuhyun yang duduk angkuh didepannya.

“Chagi-ah, kau tidak berinisiatif mengenalkan sekertarismu ini padaku.” Jiyeon yang baru saja selesai memesan makanan terkesiap mendengar penuturan Kyuhyun barusan. Apakah ini waktu yang tepat ?. Jiyeon berpikir meminta Jongin untuk kembali kekantor terlebih dulu tapi sepertinya rencana diubah darurat.

“Perkenalkan Tuan Cho Kyuhyun. Naneun Kim Jongin imnida, sekertaris baru nona Cho Jiyeon. Senang bisa berkenalan dengan anda.” Jongin mengulurkan tangan kanannya seperti oarng yang umumnya mengawali perkenalan mereka. Perlahan Kyuhyun meraih uluran tangan Jongin.

“Tentu Tuan Kim, senang bisa berkenalan denganmu. Bantulah istriku dalam setiap pekerjaanya, kuharap kau tidak menyusahkannya.”

“Oppa… aaaaa makanannya datang. Saatnya makan.” Jiyeon merasa tidak enak hati pada Jongin. Mulutmu itu Cho Kyuhyun. Gerutu Jiyeon.

***

Udara malam yang dingin seakan menembus kulit hingga menusuk tulang manusia. Namun rasa dingin malam ini tidak lah dirasakan oleh keluarga kecil Cho Kyuhyun. Sepulangnya dari kantor, Jiyeon dan Kyuhyun menghabiskan waktu mereka bermain-main dengan Youngjae yang terlihat bertambah menggemaskan seiring bertambahnya umur. Melihat pertumbuhan Youngjae yang bisa dibilang lebih cepat dari yang mereka bayangkan membuat kebahagiaan keluarga ini semakin terasa kian harinya. Impian seluruh keluarga untuk hidup harmonis.

“Bukankah dia sangat tampan chagi..” Kyuhyun mengelus pipi gembul putranya yang tengah terlelap dipelukan sang ibu.

“Dialah pangeran kita oppa. Aku berjanji akan menjaganya apapun yang terjadi. Meskipun nyawaku sebagai gantinya. Saranghae Cho Youngjae.” Jiyeon mengecup pelan kening putranya yang terlelap.

“Sebelum kau mengorbankan nyawamu, aku yang akan lebih dulu mengorbankan nyawaku untuk melindungi kalian berdua. Saranghae Cho Jiyeon.” Perlahan Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon, dan beberapa detik kedepan kedua bibir itu telah menyatu. Saling menyesap, menyalurkan rasa cinta yang teramat sangat membara dihati keduanya. Andai saja kalian tahu bahwa saat ini ada teror yang akan mendatangi keluarga harmonismu itu Cho Kyuhyun.

“Sebaiknya kita tidur sekarang. Kau pasti sangat lelah mengingat hari ini hari pertamamu kembali bekerja setelah berbulan-bulan cuti.”

“Itu semua karenamu Cho Kyuhyun. Kau yang mengambil paksa cuti ku.” Jiyeon memasang wajah cemberutnya namun entah kenapa semua itu justru terlihat menggoda bagi Kyuhyun.

“Hey… jangan melakukan hal-hal seperti itu Cho Jiyeon. Tidakkah kau tahu jika wajahmu saat ini begitu menggoda untuk di jamah.” Kyuhyun menekan hasrat dalam dirinya untuk segera menyerang Jiyeon detik ini juga mengingat ada Youngjae ditengah-tengah mereka. Namun sepertinya gertakan Kyuhyun justru membuat Jiyeon memutar otak untuk mengerjainya.

“Jadi kau ingin menciumku sekarang ? Tidakkah kau lihat ada Youngjae bersama kita saat ini. Jika hanya ciuman biasa kurasa tidak masalah, tapi sepertinya itu bukan hanya ciuman biasa. Benarkan Oppa….” Jiyeon membuat ucapan disetiap kata yang ia keluarkan dengan nada manja. Dan sialnya itu terdengar seperti panggilan alami untuknya hingga kini ia merasakan bagian bawahnya mengeras dan berontak untuk segera dikeluarkan.

“Sial… Cepat.Bawa Youngjae kekamarnya. Setelah itu kau harus menidurkanku Nyonya Cho.” Jiyeon tertawa puas melihat wajah memerah Kyuhyun karena terangsang. Setelah mendengar suara pintu kamarnya yang tertutup keras, Jiyeon segera menyusul Kyuhyun keatas dengan tujuan utama kamar Youngjae untuk menidurkannya disana dan setelah itu barulah ia menidurkan suami manjanya itu.

∞ My Married Life ∞

TING TONG.. TING TONG

            Kediaman Cho, 22.18 KST

 

 

“Annyeonghaseyo, jwesonghamnida ahjumma. Apa Jiyeon dan Kyuhyun ada dirumah ?” Shin ahjumma yang belum sepenuhnya tertidur tadi melesat keluar kamar setelah mendnegar bel pintu utama berbunyi. Takut-takut jika yang datang adalah Tuan dan Nyonya besar yang pulang mendadak.

“Nuguseyo ?”

“Choenenun Kwon Nara imnida, bisakah saya bertemu dengan Jiyeon dan Kyuhyun ?” Shin ahjumma mempersilahkan Nara masuk terlebih dulu dan menunggu di ruang tamu sementara ahjumma sendiri akan memanggil Kyuhyun juga Jiyeon.

***

“Lebihhh cepathhhh op…pahh…”

“Kau semakin sempithhhh chagihhh… kita keluarkan bersama.” Lenguhan dan desahan terdengar memenuhi penjuru kamar Kyu-Yeon malam ini. Setelah kembali dari kamar Youngjae dan masuk kekamar nya, Jiyeon langsung mendapatkan serangan dari Kyuhyun yang malam ini terlihat seperti kerasukan. Melakukannya tanpa jeda sedkitpun seperti tak ada lagi hari esok untuk mereka bercinta.

“Ahhhhhhh…..” hingga teriakan terakhir yang terdengar pertanda bahwa keduanya telah mencapai klimaks. Kyuhyun berguling ke sisi lain ranjang. Mendekap tubuh telanjang Jiyeon, menarik selimut yang hampir saja terjatuh dilantai guna menutupi tubuh naked mereka.

“Jaljayo chagi-ya…” hanya anggukan yang mampu Jiyeon berikan pada Kyuhyun mengingat betapa lelahnya ia malam ini. Mengurus keluarga kecilnya ditambah lagi kesibukannya di perusahaan membuat tenaga nya lumayan terkuras. Apalagi Kyuhyun bertindak rakus malam ini karena jarangnya mereka melakukan ‘itu’ akhir-akhir ini.

TOK..TOK..

 

 

“Chogiyo Tuan Cho, apakah anda sudah tidur ?” saat hampir mencapai alam mimpinya, Kyuhyun dan Jiyeon kembali ditarik oleh teriakan Shin ahjumma dari depan pintu kamar mereka yang terkunci. Aneh, tidak biasanya Shin ahjumma mengganggu malam-malam begini.

“Kau tidurlah, aku akan bicara pada ahjumma. Mungkin ini adalah hal penting.” Melihat Jiyeon meunurut membuat Kyuhyun menuruni ranjang hendak membuka pintu. Sebelumnya Kyuhyun mengambil kaos oblong serta trainingnya yang terkulai tak berdaya dilantai.

“Ahh Mianhamnida Tuan Muda saya mengganggu istirahat anda.” Shin ahjumma menbungkuk meminta maaf karena merasa telah menganggu istirahat Kyuhyun. Takut-takut Kyuhyun akan marah padanya, walaupun itu semua tidaklah mungkin.

“Gwenchana ahjumma. Wae ire ?”

“Dibawah ada seorang wanita yang mencari Tuan serta Nona muda. Namanya Nona Kwon Nara tuan.” Muncul kerutan didahi Kyuhyun, heran ada apa Nara mengunjungi rumahnya larut malam seperti ini. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan penerbitan buku Jiyeon. Pikirnya.

“Baiklah, aku akan segera turun bersama Jiyeon 5 menit lagi. Tolong ahjumma buatkan minuman hangat untuknya.”

“Algeseumnida Tuan Muda.” Shin ahjumma berlalu menuju dapur dilantai bawah sedangkan Kyuhyun kembali masuk kekamar dengan Jiyeon sebagai tujuan utamanya. Membangunkan istrinya itu dan memberitahunya tentang keberadaan Nara.

“Chagi-ya ireona.. Jiyeon…ireona..” Kyuhyun merasa bersalah melihat wajah kelelahan istrinya. Harusnya kau bertindak pelan-pelan Cho Kyuhyun.

“Wae oppa..?” baru dua menit yang lalu Jiyeon menutup mata dan saat ia kembali membuka mata, Jiyeon terlihat seperti orang yang sudah tertidur nyenyak. Mustahil orang akan tertidur begitu lelap dalam selang waktu kurang dari dua menit. Kecuali jika ia memang benar-benar kelelahan Cho Kyuhyun.

“Ireona Chagi, Nara ada dibawah sekarang dan ingin bertemu dengan kita. Kurasa itu hal penting, jadi aku membangunkanmu.” Kyuhyun membantu Jiyeon yang kesulitan berdiri dari posisi terlentangnya.

Jiyeon mengucek berulang kali matanya yang memerah dengan satu tangan menggegam erat selimut yang menutupi tubuh nakednya.

“Cepat pakai bajumu dan kita segera turun. Aku sudah meminta ahjumma untuk memberitahunya agar menunggu 5 menit.” Jiyeon menggangguk polos dan perlahan turun dari ranjang menuju walk clothes.

***

“Otte ?” tidak ada balasan kata yang terdengar dari mulut Jiyeon maupun Kyuhyun. keduanya nampak berpikir, memikirkan permintaan Nara.

“Jika kalian tidak mau juga tidak masalah. Aku mungkin akan mencari flat kecil di dekat perusahaan. Terima kasih untuk waktunya malam ini, maaf mengganggu istirahat kalian. Aku permisi.” Nara terlihat menarik pegangan pada koper kecil yang ia seret tadi. Bersiap meninggalkan kediaman Cho karena pemilik rumah tidak mau menampungnya.

“Chamkaman Nara-ssi. Kami diam bukan berarti kami menolak untuk membantumu. Geure.. kau boleh tinggal disini selama apartement mu di renovasi.”

“Jinjja ?.” baik Kyuhyun maupun Jiyeon terlihat menganggukkan kepalanya tanpa beban dengan senyum di wajah mereka.

“Ahjumma akan menunjukkan dimana kamar tamunya. Ahjumma tolong antar Nara kekamarnya agar ia bisa segera beristirahat.”

“Algeseumnida Nona Muda.”

‘Bagus.. kau memakan umpanku dengan baik Cho Jiyeon yang bodoh.’

ᴥ To Be Continue ᴥ

Andalan
Diposkan pada chapter, married life, SAD

My Married Life part 8

My Married Life (Part 8)

 

My married life 3 

Title : My Married Life

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Park Jiyeon (Cho Jiyeon)

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Kwon Nara
  • Lay
  • Cho Youngjae

Genre : Angts , little NC , married life, temukan sendiri.

SELAMAT MEMBACA

Cho’s House

            19.02 KST

 

Suasana meriah begitu terasa di kediaman Cho yang sedang mengadakan pesta perayaan malam ini. Perayaan akan keberhasilan sang pewaris Tuan Cho Younghwan, Cho Kyuhyun yang berhasil membuka cabang perusahaan di Mexico. Kebahagian juga tengah dirasakan sang istri, Cho Jiyeon mengingat kandungannya menginjak bulan kedelapan. Terpancar jelas raut bahagia diwajah pasangan suami istri itu malam ini, seolah menghipnotis para tamu untuk ikut tersenyum dan tertawa bahagia menyambut kelahiran calon pangeran keluarga Cho yang akan lahir kedunia sebentar lagi.

“Oppa, lihat. Itu Nara, dia datang oppa. ” Kyuhyun mengalihkan pandangannya dan fokus pada apa yang istrinya tunjukan padanya. Gadis cantik dengan gaun hitam yang menjuntai indah sampai menutupi mata kakinya berjalan anggun menuju kearah pasangan itu berdiri.

“Chukai untuk cabang perusaan Cho Corp Tuan Cho. Aku mewakili perusahaan mengucapkan selamat atas keberhasilan anda.”

“Tidak perlu seformal itu Nara-ssi, panggil saja aku seperti biasanya. Terima kasih atas kedatanganmu.” Nara hanya sanggup tersenyum palsu dihadapan pasangan bahagia ini. Nara benci saat-saat ini, saat ia harus melihat kemesraan Jiyeon dan Kyuhyun tepat didepan matanya. Membuat hatinya sakit dan hancur berkeping-keping tanpa sisa. Andai saja dulu ia tidak melepas Kyuhyun begitu saja. Andai saja dulu ia menantang keras perjodohan Kyuhyun, bukan hanya malah pasrah asal Kyuhyun ada disampingnya. Mungkin saat ini, dia-lah yang berdiri disamping Kyuhyun dan mengandung buah cinta mereka. Hanya ANDAI…

“Nara-ssi kau sendiri ..?” Pertanyaan Jiyeon sontak membuat Nara tertarik kembali dari dunia fana –nya. Sendiri ?. Tentu saja aku datang sendiri, memang dia pikir dengan siapa. Pria pujaanku ada disampingnya sekarang. Menyebalkan. Batinnya menggerutu.

“Nd-”

“Nara-ah ternyata kau disini ?” mendengar sahutan orang lain yang menyela percakapan kontan membuat ketiga orang itu menoleh kesumber suara. Nara dibuat terkejut saat mendapati lelaki bartender yang kemarin menolongnya kini berdiri disampingnya. Untuk apa dia disini, bukankah tidak sembarang orang bisa masuk. Kemana perginya para penjaga didepan gerbang tadi. Pikir Nara.

“Kau datang bersamanya ?” pertanyaan Kyuhyun membuat Nara kembali menolehkan kepalanya kearah pasangan yang menjadi tuan rumah malam ini. Ada raut terkejut juga penuh rasa penasaran muncul diwajah Jiyeon dan juga Kyuhyun.

“An-”

“Nde Tuan dan Nyonya Cho. Kami datang sebagai pasangan malam ini.” Nara dengan cepat memutar kepalanya kesamping. Pasangan dia bilang.

“Bukan seper-” lagi-lagi ucapan Nara harus terpotong oleh ucapan orang lain. Namun kali ini bukan Lay yang memotongnya melainkan Kyuhyun, si pujaan hati.

“Jadi kau menjalin hubungan dengan pewaris L4Y Company ?”

“Mwo?” Nara kembali dibuat terkejut atas pernyataan Kyuhyun barusan . L4Y Company ?. Bukankah itu perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Dan lelaki yang ia tahu bernama Lay ini pewarisnya. Ulangi lagi, PEWARIS. Itu berarti lelaki ini adalah putra dari atasannya, tuan Byun. Oh astaga… apa lagi ini.

Berbeda dengan ekpresi Nara yang masih belum percaya dengan semua yang ia dengar barusan dan menampakkan dengan jelas keterkejutannya, Lay justru tersenyum cerah kearah pasangan tuan rumah itu. Dengan santai Lay mengucapkan serentetan ungkapan bahagia dan ucapan selamat atas keberhasilan Cho Corp dan juga status tuan rumah yang sebentar lagi akan menjadi orang tua bagi anak pertama mereka.

Percakapan terjalin diantara mereka berempat. Ralat, mereka bertiga. Walaupun Nara ada disela-sela mereka namun sedikitpun gadis itu tak mengeluarkan sepatah dua patah kata untuk menanggapi pembicaraan ketiga orang tersebut. Percaya atau tidak bahwa pikiran gadis itu terhenti di menit saat ia mengetahui kebenaran tentang bartender tampan itu. Bukan masalah jika Lay berbohong tentang status aslinya hanya yang membuatnya penasaran, untuk apa ia mengaku menjadi pasangannya kepesta ini. Bahkan sebelumnya mereka tidak saling kenal dan hanya bertemu tanpa sengaja kemarin. Tidak mungkin jika hanya ingin membantunya didepan Kyuhyun dan Jiyeon.

“Tuan Cho.” Kyuhyun dan Jiyeon menoleh kebelakang saat mendengar panggilan yang menyerukan namanya. Ternyata salah satu kolega bisnisnya, Tuan Ahn.

“Sepertinya ada tamu penting yang harus kalian temui. Pergilah, aku akan disini bersama nona Kwon.” Kyuhyun berlalu menemui tuan Ahn bersama istrinya meninggalkan kedua insan itu disana. Entah kenapa Lay merasakan atmosfir kecanggungan menyelimutinya sekarang. Ada apa ini, tadi dengan semangat dan tanpa beban ia menghampiri Nara dengan maksud membantunya sekaligus membuka penyamarannya selama ini. Dia yang notabene adalah calon CEO L4Y Company dan alasan ia menyamar sebagai bartender adalah karena sosok gadis yang berdiri disampingnya saat ini.

“Ekhem.. ingin kuambilkan minum.” Lay mencoba membuka suara untuk membangun percakapan dan menghilangkan aura canggung disekeliling mereka. Namun bukan anggukan ataupun jawaban setuju dari Nara melainkan tatapan tajam yang menusuk, membuat nyalinya seketika menciut. Ayolah Lay, kau laki-laki disini.

“Kenapa kau bilang kalau kita pasangan pesta malam ini. Dan …” Nara menghentikan pertanyaanya. Menimbang kembali haruskah, pentingkah pertanyaan ini ia pertanyakan. Lay masih menunggu kelanjutan dari pertanyaan Nara yang ia yakini belum sepenuhnya terucap.

“Dan…” Lay mencoba memancing Nara.

“Lupakan…” Lay tidak bisa memaksa Nara bicara walaupun sebenarnya rasa penasaran selalu mendominasinya. Suasana kembali hening diantara keduanya, meskipun sekitar mereka bepuluh orang sedang berkumpul rasanya rumah keluarga Cho hanya berisi mereka berdua didalamnya. Itulah yang dirasakan Lay.

“Kau ingin kemana ?” Lay spontan mencekal pergelangan tangan Nara saat gadis itu ingin bergerak pergi entah kemana.

“Bukan urusanmu. Cepat lepaskan tanganku.” Tidak ada yang terjadi. Lay tidak berniat melepas Nara.

“Sebenarnya apa yang kau mau. Imbalan karena telah meolongku kemarin ?. Geurae, akan segera kukirim secepatnya jadi tolong sekarang biarkan aku pergi.” Nara menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya untuk Lay. Tidak habis pikir sebenarnya apa mau lelaki yang entah benar atau tidak adalah calon CEO barunya. Jika benar, makan hari dimana ia diangkat menjadi CEO akan menjadi hari terakhir Nara bekerja di L4Y Company. Catat itu.

“Aku hanya ingin tau kemana kau akan pergi. Aku datang kesini menggantikan appa yang berhalangan hadir. Beliau bilang akan ada general manager dari perusahaan yang juga datang di pesta malam ini. Jadi sudah sewajarnya jika aku bertanya kemana kau akan pergi, akan aneh jika sang CEO hadir tanpa pasangan bukan Nara-ssi ?”

Nara hanya mendengus mendengar serentetan penjelasan Lay yang menurutnya sangat-sangat membosankan. Lebih membosankan dari pada rapat dengan kolega China. Nara kembali menghadapkan dirinya tepat dihadapan Lay, memfokuskan tatapan nyalangnya menusuk kedalam kelopak mata laki-laki berdarah campuran itu.

“Aku. Ingin. Ke Kamar. Mandi. Tuan Lay yang terhormat, kau puas sekarang.” Nara menekan dalam-dalam emosinya yang beberapa menit lalu hampir saja meledak karena sudah mencapai batas normalanya. Lelaki ini benar-benar membuatku naik pitam. Batinnya sambil berjalan menuju toilet.

∞ My Married Life ∞

Seoul Hospital, 02.13 KST.

Satu bulan kemudian…

“Selamat Tuan Cho, putra anda lahir dengan selamat begitu pula ibunya.” Kyuhyun merosot kelantai mendengar berita yang kelewat membahagiakan, bahkan saking bahagianya tidak bisa jika hanya diungkapkan dengan kata-kata.

Putranya, anak pertamanya telah lahir kedunia dengan kondisi sehat begitu pula dengan istrinya. Setelah hampir 4 jam ia menunggu dengan anggota keluarga lain didepan ruang bersalin, setelah kepalanya terasa hampir pecah sebab hingga 4 jam dokter belum juga keluar dari ruang bersalin istrinya membuatnya khawatir tingkat dewa. Tapi semuanya terbayar, penantiannya, kekhawatirannya semuanya terbayar dengan kehadiran sosok anggota baru yang akan meramaikan keluarga kecilnya.

“Oppa…” Kyuhyun yang semula berdiri disamping box bayinya kini beralih berdiri disamping ranjang istrinya saat mendengar suara lirih Jiyeon. Selepas mendapat izin dari dokter Han untuk masuk menemani istri dan juga putranya. Tanpa menunggu detik berikutnya, Kyuhyun melesat masuk kedalam ruangan dimana ada Jiyeon dan bayi mungilnya disana.

“Ada apa Chagi ?”

“Aku ingin melihat bayi kita, bisakah oppa membantuku ?” Kyuhyun mengangguk tanpa ragu sebelum akhirnya mengambil 3 langkah menuju box bayinya dan membawa sang bayi kedalam gendongan hangat ibunya.

“Kau tampan sekali sayang… Kau juga sangat manis.” Kyuhyun tersenyum melihat sikap keibuan Jiyeon. Sungguh menyesal jika dulu ia sempat menyia-nyiakan Jiyeon dan tidak menganggap kehadirannya, dengan sesuka hati membawa Nara yang saat itu masih menjalin kasih dengannya keapartement mereka.

“Apa oppa sudah memutuskan ?” Kyuhyun menyatukan kedua alisnya sesaat setelah mendengar pertanyaan Jiyeon. Memutuskan apa ?.

“Tentang apa chagi ?”

“Tentu saja nama untuk putra kita.” Kyuhyun hanya bisa ber ‘O’ria menanggapinya. Nama putra mereka ?. Tentu saja sudah ia siapkan semenjak satu bulan yang lalu.

“Tentu chagi. Namanya Cho Youngjae. Bagaimana ?” Jiyeon mengangguk sambil tersenyum cerah kearah suaminya. Cho Youngjae, nama yang bagus untuk putra pertama mereka yang tampan.

“Cho Youngjae, ini eomma sayang. Dan orang yang berdiri disana itu adalah appamu.” Jiyeon mengangkat tubuh Youngjae putranya hingga pandangan bayi mungil itu menangkap sosok menjulang Kyuhyun disamping ranjang Jiyeon. Kyuhyun membungkuk hingga posisi tubuhnya sejajar dengan wajah putranya, mengecup kening serta pipi gembul Youngjae.

“Terima kasih oppa..”

“Untuk ?”

“Kebahagian, Cinta , dan Seorang putra. Terima kasih untuk semuanya. Aku mencintaimu.” Kyuhyun mengecup pelan kening Jiyeon, sedikit lama mendaratkan bibir lembutnya disana. Meresapi aroma buah strawberry yang melekat disurai panjang istrinya.

“Nado Saranghae Cho Jiyeon.”

∞ My Married Life ∞

Nara kembali menggerutu saat lagi-lagi akhir pekannya harus hancur karena ulah satu orang aneh. Sosok lelaki asing yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya, yang satu bulan lalu mengaku sebagai pewaris dari perusahaan tempatnya bekerja. Lelaki yang sejak satu bulan lalu pula, tepatnya sejak pesta perayaan Cho Corp, selalu mengrecoki hari harinya. Menjadi penghalang baginya untuk datang kerumah Kyuhyun dengan kedok ingin melihat kondisi Jiyeon padahal tujuan utamnya adalah agar ia bisa melihat wajah sang pujaan hati, Cho Kyuhyun-nya.

“Bisakah kau berhenti mengikutiku Lay. Aku sudah muak denganmu, jadi kumohon berhenti mengikutiku dan mengganggu hidupku. Kumohon.” Habis sudah kesabarannya sebulan ini membiarkan Lay menempel terus dengannya. Membuat semua aktivitasnya terganggu, sangat terganggu. Bahkan ia harus rela tidak melihat wajah Kyuhyun sebulan ini hanya karena takut jika nanti Lay mengikutinya sampai kesana dan kembali mengucapkan kata-kata yang menurutnya diatas kewajaran mengenai hubungan mereka berdua dan ujung-ujungnya Kyuhyun serta Jiyeon akan menganggap mereka sedang menjalin hubungan.

“Aku akan berhenti mengikutimu jika kau berjanji untuk menjadi temanku. Otte ?” Nara mendengus (lagi) mendengar permintaan yang sama setiap kali ia meminta Lay untuk menjauh darinya. Tidak ada jalan lain.

“Geurae, kita teman sekarang. Puas ?..” Lay mengangguk dengan senyum cerah diwajahnya dan untuk kesekian kalinya, Nara kembali mengakui jika Lay memanglah tampan tidak beda jauh dengan Kyuhyun. astaga, apa yang kau pikirkan Kwon Nara. “Sekarang berhenti mengikutiku, kumohon.”

“Aku akan pergi, tapi sebelumnya…” Lay menambil jeda singkat sebelum melanjutkan ucapannya. “kita makan siang dulu. Aku lihat kau tidak sempat sarapan tadi di-apartement. Kajja.”

Nara hanya bisa menurut saat Lay menggeret pergelangan tangannya agar ia mengikutinya. Tidak ada salahnya makan siang bersama, toh memang benar jika dia belum sempat sarapan pagi tadi. Jangan tanya alasannya (tentu saja karena pagi-pagi buta sudah ada tamu yang menurunkan moodnya).

“Kau ingin pesan apa ?” Nara nampak fokus dengan menu makanan didepannya.

“Aku ingin…”

***

Selesai makan siang, Nara memutuskan untuk mengajak Lay pergi berbelanja ke supermarket dekat apartementnya guna membeli bahan makanan yang sudah habis. Mungkin kata mengajak adalah pilihan kata yang tidak tepat disini, karena Nara sama sekali tidak pernah meminta Lay untuk menemaninya. Lelaki itu sendiri yang menawarkan diri. Karena tidak ingin ribut, akhirnya Nara membiarkannya.

“Kau selalu berbelanja sebanyak ini sendiri ?” Nara hanya bergumam membenarkan tebakan Lay. Matanya masih fokus pada sederatan rak berisi paprika merah dan hijau.

“Apa kau tidak kesulitan membawa semua ini sendirian ?” Nara hanya menggeleng, fokusnya kini berganti pada deretan ramen. Kesal dengan Nara yang seolah mengacuhkan keberadaannya, Lay pun mencoba membantu Nara memilih bahan makanannya.

“Pilih saja yang daging panggang. Aku tahu kau akan memasak apa dengan semua bahan ini. Aku akan membantu memilihkan bahan yang lain.” Tanpa menunggu Nara mengucapkan ‘baiklah’, Lay mulai bergerak mencari bahan-bahan yang ia pikir perlu. Nara sempat terkejut dengan Lay yang sepertinya sudah mengerti hal-hal tentang dapur. Apa selain bartender dia juga seorang chef ?. Pikirnya.

Tidak butuh waktu lama, kini Nara dan Lay sudah berada didalam lift yang akan membawa mereka kelantai 12 dimana apartement Nara berada. Tidak banyak hal yang mereka bicarakan selama perjalanan namun kini Nara yakin jika sebenarnya Lay adalah orang yang baik dan tidak se-aneh yang ia pikirkan. Mungkin benar jika keanehannya selama ini karena ia ingin berteman dengannya.

“Taruh saja disana.” Lay mengikuti arah tunjuk Nara dan meletakkan semua belanjaannya disana. “Kau ingin minum apa ?”

“Terserah kau saja. Aku akan menunggu diruang tengah, bolehkah ?” Nara mengangguk menyanggupi permintaan Lay. Melihat raut kelelahan diwajah lelaki itu membuat dirinya tak tega jika langsung memintanya untuk pulang. Lay mengikutinya sejak pagi buta dan hingga sekarang menjelang jam makan malam. Pasti dia sangat lelah.

“Aku ingin mandi sebentar, kau tidak apakan jika sendiri disini ? Aku tidak akan lama.”

“Aku akan pulang saja.” Lay bersiap berdiri namun tanpa diduga Nara menghentikannya.

“Tunggulah sampai aku selesai mandi. Aku akan membuatkan makan malam untuk kita berdua. Hitung-hitung balas budiku karena kau sudah membantuku tadi dan tempo hari.”

“Baiklah jika kau memaksa.” Lay kembali keposisi duduknya yang nyaman sambil menatap layar TV yang menampilkan acara reality show favorit masyaarakat Seoul, Running Man.

***

Setelah kurang lebih satu setengah jam kedepan, kini Lay dan juga Nara bersiap menikmati makan malam mereka. Sebelumnya Nara sudah menyuruh Lay untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu. Nara tahu bagaimana rasanya melakukan aktifitas jika kita dalam keadaan belum mandi, sangat tidak nyaman dan risih pastinya. Jangan tanya kenapa ia tahu ,karena dulu saat ia sakit Nara pernah satu hari penuh tidak menyentuh air sama sekali kecuali air minum pastinya hingga keadaannya pulih kembali. Dan itu benar-benar membuatnya merasa jijik sendiri.

“Kau memasak makanan sebanyak ini setiap hari ?” cukup terkejut dengan meja makan yang penuh dengan makan malam. Mereka hanya berdua dan Nara menguras habis bahan makanan yang mereka beli tadi untuk satu kali pakai. Borosnya wanita.

“Ani, hanya jika ada orang yang menemaniku makan. Wae ? Kalau tidak mau makan ya sudah jangan dimakan. Aku bisa menghabiskannya sendiri.” Nara bersiap merebut piring makanan Lay.

“Andwae… kau pikir aku tidak lapar setelah seharian menemanimu. Tentu aku akan makan.” Lay mengambil beberapa lauk untuk kemudian diletakkan diatas piringnya. Dilanjut ke menu berikutnya dan begitu seterusnya hingga piringnya penuh makanan. Nara yang melihatnya hanya mendengus kesal.

“Pikirkan tuan rumah Tuan Lay yang terhormat.” Lay menghentikan acara makannya mendengar cibiran Nara. Kenapa ? Ada yang salah dengan makannya. Pikirnya.

“Wae ?. Kau menyuruhku untuk makan dan setelah aku bergerak untuk memakan makananku kau mencibirku.” Terlihat Nara membuang napas gusarnya. Tidak pernah terbayangkan olehnya jika lelaki didepannya ini memang benar-benar menyebalkan. Kutarik kembali ucapanku beberapa jam yang lalu jika sebenarnya dia itu baik. Kutarik kembali.

“Lupakan.. cepat habiskan makananmu dan pergi dari sini.” Tidak lagi terdengar umpatan balik atau percakapan dimenit berikutnya. Hanya suara dentingan sendok dan garpu bertempur dengan piring yang terdengar. Suasana kembali hening beberapa saat hingga lagi-lagi Lay menyerukkan suaranya.

“Nara-ssi, apa kau sudah mendengar kabar tentang keluarga Cho ?” Nara mengehentikan kunyahan dan gerakan sumpitnya saat indra pendengarannya menangkap marga Cho disana.

“Wae ?” Lay mencari posisi duduk senyaman mungkin untuk menceritakan kabar bahagia yang ia terima dari ayahnya tadi sore.

“Pewaris keluarga Cho baru saja lahir tadi pagi.” Melihat raut bingung diwajah Nara membuat Lay melanjutkan ceritanya. “ maksudku putra pertama Cho Kyuhyun dan Cho Jiyeon baru saja lahir tadi pagi sekitar pukul 2.”

“Uhhukk..uhhukk..”

“Nara-ssi gwenchana ?” Lay segera menyodorkan gelas minumnya kepada Nara yang tersedak makanan. Apa ada yang salah dengan yang ia ceritakan tadi. Batinnya sambil memijat tengkuk Nara.

“Sudah merasa lebih baik ?”

“Apa kau yakin dengan yang kau ucapkan barusan ?” Lay terhenyak saat tiba-tiba Nara melemparinya dengan pertanyaan yang memastikan semua ucapannya mengenai keluarga Cho barusan.

“Tentu saja. Aku mendapat kabar langsung dari appa, dan appa mendapatkan kabar dari Tuan Cho Younghwan. Jadi aku yakin 100%.” Tanpa sadar sumpit dalam pegangannya terjatuh hingga menimbulkan suara.

Tidak ada lagi kesempatan untukku mendapatkan Kyuhyun kembali. Kehadiran putra mereka akan membuat hubungannya dengan Jiyeon semakin dalam. Batin Nara menatap kosong kearah piring didepannya.

‘Kau tidak boleh menyerah Nara. Kemana perginya Kwon Nara yang dulu ? Kwon Nara yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.’

‘Tidak Nara. Kali ini biarkanlah Kyuhyun dan Jiyeon bahagia dengan keluarga kecilnya. Lupakan Kyuhyun, Kwon Nara. Dia bukanlah jodohmu. Suatu hari nanti akan ada seorang lelaki yang dengan senang hati mencintaimu jauh lebih besar darinya mencintai dirinya sendiri. Hanya tinggal menunggu waktu. Lupakanlah Cho Kyuhyun.’

 

 

Tidak, aku tidak akan pernah bisa melupakan Kyuhyun. Dia tetap akan menjadi milikku, selamanya. Akan kulakukan segala cara untuk mendapatkan cintanya kembali. Batinnya berjanji.

“Nara-ssi gwenchana ?” Lay yang melihat perubahan raut muka Nara yang murung menampakkan luka yang terpendam selama ini, membuatnya beranggapan jika ada sesuatu antara gadis yang ia sukai ini dengan putra pemilik Cho Corp itu.

“Selesaikan makanmu dan pulanglah Lay-ah. Aku lelah, aku akan istirahat sekarang.” Nara meninggalkan Lay sendirian dimeja makan, berjalan menuju satu-satunya kamar yang ada diapartementnya. Lay membuang jauh-jauh pikiran negatifnya tentang Nara dan Kyuhyun, mungkin hanya perasaannya saja. Mungkin Nara kelelahan seperti yang barusan dikataknnya hingga membuatnya terlihat murung.

Lay memakan lahap makan malamnya hingga tak tersisa sebelum kemudian beranjak pergi dari apartement Nara.

∞ My Married Life ∞

1 Minggu kemudian

              Kediaman Keluarga Cho, 19.10 KST

 

“YAK NOONA.. jangan beberkan rahasiaku. Itu privasiku.” Kyuhyun berteriak menyela cerita Ahra tentang masa kecil Kyuhyun yang suka mengompol saat ia ketakutan. Kyuhyun tidak akan berteriak jika hanya ada mereka berdua diruang tengah. Masalahnya ada 2 keluarga besar yang sedang berkumpul diruang tengah termasuk mereka. Keluarga Cho dan Keluarga Park, ditambah lagi disini juga ada Jiyeon. Mau ditaruh dimana mukanya jika Jiyeon tahu kalau seorang Cho Kyuhyun yang terkenal dingin, cuek dengan orang asing, evil, dan sensitif dengan yang namanya harga diri itu dulunya memiliki kebiasaan yang bisa dibilang memalukan apalagi Kyuhyun adalah seorang namja disini.

“Itu memang benar, bahkan ia sempat demam selama 3 hari hanya karena aku meninggalkannya dikamar sendirian saat lampu padam.” Bukannya membela sang putra, Nyonya Cho justru membenarkan dan membuka satu lagi fakta tentang Kyuhyun masa kecil.

“Eommaa….” Kyuhyun merengek layaknya anak berusia 7 tahun yang sedang ditakut-takuti tidak mendapat permen. Semua keluarga besar baik keluarga Cho maupun Park tertawa melihat sikap Kyuhyun yang menurut mereka lucu itu. Apalagi Jiyeon yang selama ini belum pernah sekalipun melihat suaminya yang sangat menjaga imagenya itu merengek seperti itu dan terlihat frustasi karena terus dipojokkan keluarganya sendiri.

“Lihatlah appa-mu itu Youngjae sayang. Bahkan kau terlihat lebih dewasa darinya.” Celetuk Ahra yang kontan membuat Kyuhyun melemparkan tatapan setan kearah noona nya yang duduk disamping Jiyeon dengan Youngjae digendongannya.

“YAK.. jangan meracuni otak putraku seperti itu. Aishhh… Jinjja.” Kyuhyun bangkit dari posisi duduknya disamping Nyonya Cho Hana bergerak mendekati Ahra disebrangnya.

“Menjauhlah dari putraku. Kau akan membawa pengaruh negatif padanya Cho Ahra.” Kyuhyun mendorong Ahra untuk berpindah posisi menjauh dari putranya. Sedangkan Kyuhyun menempati tempat duduk Ahra sebelumnya yaitu disamping Jiyeon dan putranya.

“YAKK…”

PLAKK

“WAE ?? Kenapa memukul kepalaku ?”

“Siapa disini yang memberi pengaruh buruk pada Youngjae eoh ?. Kakak yang memarahi adik evilnya atau seorang adik yang dengan lantang menyebut nama kakaknya tanpa embel-embel noona dibelakangnya.”

“Kau yang memulai.” Kyuhyun bersikeras tidak ingin mengakui kesalahannya. Melihat perdebatan kedua anaknya yang entah sadar atau tidak dengan usia mereka itu membuat Tuan Cho Younghwan turun tangan.

“Sudah hentikan Ahra. Cepat duduk.” Kyuhyun tersenyum mengejek ke-arah Ahra yang dengan berat hati harus duduk ditempat Kyuhyun sebelumnya. “dan kau Cho Kyuhyun. Berhenti menggoda noona-mu dan tunjukanlah sikap yang baik pada putramu.” Mendengar ultimatum Younghwan membuat Kyuhyun menghentikan kikikannya dan kembali memasang wajah serius. Dingin dengan tatapan elang yang menusuk siapapun yang menatapnya.

“Jadi kalian akan kembali ke Amerika malam ini ?”

“Tentu Tuan Cho. Kami harus segera kembali kesana, tidak mungkin kami di Seoul terlalu lama walaupun kami ingin. Perusahaan disana masih terbilang baru, apalagi kami sedang mengadakan proyek besar.”

“Jiyeon, kau harus sering-sering menghubungi kami dan mengirimkan foto-foto perkembangan Youngjae. Kami akan sangat merindukan pangeran kecil Youngjae.” Seluruh keluarga nampak tersenyum mendengar pesan yang disampaikan Nyonya Park.

“Tenang saja eommonim. Aku berjanji akan mengajak Jiyeon serta Youngjae berkunjung jika usianya sudah menginjak 3 tahun dan selama 3 tahun kedepan aku dan Jiyeon akan sering-sering melakukan video call.”

Percakapan berlanjut dengan berbagai topik yang akan berganti setiap menitnya. Kadang membahas tentang bagaimana tampannya Cho Youngjae jika sudah besar nanti. Akankah calon pewaris Cho Kyuhyun itu memiliki kegilaan yang sama dengan appanya mengenai game. Lalu entah dari mana awalnya, terkadang mereka para wanita membicarakan fashion terbaru yang saat ini tengah trend tak khayal membuat para lelaki bosan. Hingga perbincangan pun harus terhenti karena pemberitahuan Shin ahjumma yang mengatakan bahwa ada tamu yang datang mencari Kyuhyun serta Jiyeon.

“Nara-ssi ?” Jiyeon menyerukan suaranya saat bersamaan dengan Kyuhyun berjalan menuju ruang tamu dan mendapati Nara duduk manis disana. Mendengar seruan Jiyeon, Nara beranjak dari duduknya dengan senyum yang bertengger manis diwajahnya.

“Annyeong Jiyeon-ssi, Kyuhyun-ssi.”

“Silahkan duduk.” Nara kembali mendudukkan dirinya ditempat semula dengan Kyuhyun dan juga Jiyeon yang duduk disofa lainnya. “Apa ada sesuatu yang terjadi sampai kau harus datang kemari ?”

“Ani. Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kelahiran putra pertama kalian. Maaf karena baru bisa berkunjung sekarang.”

“Gwenchana Nara-ssi, kami sudah senang kau mau berkunjung kemari. Kebetulan kami akan makan malam bersama yang lain didalam. Bagaimana jika kau bergabung ?” tawar Jiyeon.

“Apa tidak mengganggu ?”

“Tentu saja tidak. Kajja, sudah saatnya makan.” Jiyeon beranjak berdiri terlebih dahulu dengan Kyuhyun, berjalan menuju ruang makan dengan Nara yang mengekor dibelakangnya.

***

“Jadi kau bekerja diperusahaan yang sama dengan tempat Jiyeon bekerja ?”

“Nde Tuan Cho. Saya General Manager di L4Y Company. Senang bisa berada ditengah-tengah acara keluarga anda. Maaf jika kehadiran saya mengganggu.” Nara dengan senyum diwajahnya mengutarakan serentetan ungkapan manis yang berbanding terbaik dengan rutukan dihatinya.

‘Tentu saja aku senang berada disini. Karena menantumu yang bodoh itu, yang dengan mudahnya mengajakku bergabung membuat rencanaku semakin mudah tercapai. Aku akan mendapatkan Kyuhyun kembali.’ Rutuk Nara. Benar-benar berbanding terbalik dengan yang ia ucapkan.

“Tentu saja tidak Nona Kwon. Justru kami merasa terhormat atas kehadiran anda.” Meja makan dipenuhi canda tawa dan cengkrama keluarga Park serta Cho, tak sadar jika seorang penghancur ada ditengah-tengah mereka dengan kedok rekan kerja Jiyeon.

“Jiyeon-ssi, bolehkah aku melihat putra kalian ?”

“Tentu Nara-ssi, mari kuantar kekamarnya.” Jiyeon dan Nara beranjak menuju kamar Youngjae yang terletak tepat disamping kamar Kyu-Yeon dilantai dua. Sengaja mereka membuatkan kamar khusus untuk Youngjae mengingat permintaan dari Cho Younghwan dan Cho Hana yang ingin membuat Youngjae terbiasa dengan tidur sendiri. Sebab nantinya akan tiba waktu dimana Kyuhyun juga Jiyeon melakukan perjalanan bisnis seperti mereka.

“Dia berada dikamar yang berbeda dengan kalian ?” Nara sempat terkejut mendapati Kyuhyun dan juga Jiyeon menempatkan Youngjae yang masih berusia 1 minggu itu dikamar yang terpisah. Bukankah itu semakin menguntungkannya.

“Emm, eommonim dan abeoji yang memintanya.” Jiyeon mengalihkan perhatiannya pada sang putra yang tengah terlelap di box bayinya. Diikuti dengan Nara yang berjalan mendekat hingga mencapai sisi box yang lain.

“Dia sangat tampan seperti appanya. Lihatlah, bukankah bibir itu diturunkan darimu Jiyeon-ssi.”

“Kau benar Nara-ssi. Bukankah dia membuatmu gemas ?”

“Sangat.” Nara melempar senyum palsu kearah Jiyeon sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke Youngjae. Tapi sayang, sama sekali tidak membuatku merubah rencanaku. Lanjutnya di hati.

Kau harus kusingkirkan secepatnya Cho Youngjae.

 

 

ᴥ To Be Continue ᴥ

 

Andalan
Diposkan pada chapter, married life, NC, SAD

My Married Life part 6

My Married Life (Part 6)

 my-married-life

Title : My Married Life

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Park Jiyeon (Cho Jiyeon)

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Kwon Nara

Genre : Angts , little NC , married life, temukan sendiri.

Disclamire : terima kasih buat para readers yang udah nyempetin waktunya bat baca ff nggak jelas ini. Mian kalau alurnya kelambatan atau kecepatan, aku juga masih belajar buat ff. Dan lagi maaf kalau ada kata-kata yang sulit dimengerti/terlalu mudah/diulang-ulang. Masih amatiran nih buat ff.

SELAMAT MEMBACA

Part Preview …

“Yakk. Wae..palli katakan padaaku hyung.”

“Kau akan menjadi seorang ayah Cho Kyuhyun. Chukai, istrimu sedang mengandung. Usia kandungannya sudah berkisar antara 3-4 minggu. Gejala yang ia tunjukkan tadi hanya sebagian kecil dari efek kehamilannya, kau tidak perlu khawatir.”

Hamil ? Benarkah yang ia dengar barusan ? Istrinya hamil 4 minggu ? Jiyeon mengandung Kyuhyun junior ? Jinjja ?

Story begin…

1 Minggu kemudian

Aku hamil ? Benarkah ?. Walaupun sudah lewat satu minggu semenjak pemberitahuan bahwa Jiyeon tengah hamil, yeoja yang kadang dipanggil nona muda Cho itu merasa seakan-akan ini semua hanya mimpi indah baginya. Mimpi indah yang datang ditengah masalah yang menimpa rumah tangganya dengan Kyuhyun, mungkinkah ini jalan keluar dari masalahnya. Semenjak itu, Jiyeon lebih berhati-hati dalam segala tindak lakunya, mengingat kini ada nyawa lain yang harus ia jaga sembilan bulan kedepan.

Bagaimana dengan Kyuhyun ?.

Jiyeon sendiri juga bingung. Terkadang Kyuhyun perhatian namun beberapa saat setelah itu, sikap asli Kyuhyun yang cuek dan dingin kembali. Sepertinya Kyuhyun memang masih marah atas insiden antara Jiyeon dan Donghae, walaupun agaknya sedikit berkurang mengingat ada Kyuhyun kecil dalam perut istrinya itu.

Tn dan Ny Cho serta Tn dan Ny Park benar-benar bahagia mendengar kabar bahwa Jiyeon tengah mengandung saat ini. Setelah mendapat kabar mengenai Jiyeon, keluarga besar Cho dan keluarga besar Park berbondong-bondong mendatangi kediaman keluarga Cho. Saat itu adalah moment yang membahagiakan untuk Jiyeon. Setelah hampir setengah tahun orang tuanya diluar negeri, baru kali itu Jiyeon bisa berkumpul kembali dengan mereka walaupun hanya sehari. Pasalnya Tuan dan Nyonya Park tengah sibuk mengurus cabang perusahaan di New York dan akan kembali ke Seoul jika ada hal yang sangat penting saja. Dan lagi, Kyuhyun mau bicara dan bersikap hangat lagi padanya meskipun hanya saat didepan orang tua mereka. Sekejap lebih baik daripada tidak sama sekali bukan.

“Nona Jiyeon, anda dipanggil Presedir Lee diruangannya.” Jiyeon membuyarkan lamunannya, mengingat moment bahagia akibat kehamilannya. Belum lahir saja sudah banyak membawa kebahagiaan padanya, apalagi jika sudah lahir nanti.

“Nde, aku akan segera kesana.” Jiyeon bergerak santai menuju ruang kerja Donghae dilantai 12. Hanya butuh 3 lantai lagi dari posisinya saat ini.

“Tappeunim, anda memanggil saya ?” Donghae meletakkan pena yang sejak tadi ia gunakan untuk membubuhkan tanda tangan di atas lembaran kertas yang tidak bisa dibilang sedikit dimejanya. Tersenyum melihat Jiyeon yang juga tersenyum sambil berjalan masuk dan berhenti 2 langkah dari meja kerjanya.

“Kau sibuk ? Apa aku mengganggu jam kerjamu ?” Jiyeon menggeleng sebagai jawaban.

“Kalau begitu duduklah. Ada yang ingin kubicarakan padamu.” Jiyeon mendudukkan tubuhnya disalah satu sofa maroon diruangan Donghae dengan sang presedir yang duduk bersebrangan dengannya. Seperti inilah hubungan mereka semenjak 5 hari yang lalu, saat Donghae datang meminta maaf padanya atas kejadian beberapa hari yang lalu dan berjanji tidak akan menyimpan perasaan lebih dari sahabat pada Jiyeon. Jujur Jiyeon masih ragu tentang janji yang Donghae ucapkan. Bukannya Jiyeon sombong, hanya saja ia berpikir bagaimana bisa Donghae menghilangkan perasaan itu hanya dalam waktu sekejap sementara sebelumnya ada waktu bertahun-tahun dan buktinya Donghae belum bisa melupakannya. Keundae, tdak ada salahnya semua dicoba. Mungkin akan ada keajaiban yang dibawa calon ankanya nanti. Jiyeon yakin itu.

“Bicaralah..”

“Bisakah kau membantuku ?” Jiyeon mengerutkan dahi mendengar pertanyaan sahabatnya ini. Tidak biasanya Donghae meminta bantuan padanya. Apa ada hal yang penting. Batin Jiyeon ber-argument. “Memperbaiki hubunganku dengan Kyuhyun.”

Seakan mengerti dengan kerutan yang muncul diwajah Jiyeon, Donghae memberi penjelasan mengenai tujuannya meminta bantuan pada Jiyeon.

Jiyeon merasa sedikit ragu mendengar permintaan Donghae. Bagaimana Jiyeon bisa membantu Donghae sementara hubungannya sendiri saja masih mengambang. “Sepertinya akan sedikit sulit. Hubunganku dengannya juga masih kacau. Kyuhyun masih marah padaku,meskipun terkadang dia menujukkan perhatiannya. Kurasa perhatiannya hanya ia tujukan pada calon anak kami bukan aku.”

Sepertinya Donghae meminta bantuan disaat yang tidak tepat. Hal ini justru membuat Jiyeon mengingat masalahnya dengan Kyuhyun, Jiyeon tidak boleh terlalu banyak pikiran kan mengingat ia sedang mengandung saat ini. Jika Jiyeon sampai kenapa-kenapa karenamu Lee Donghae, mati kau ditangan Kyuhyun. Batin Donghae.

“Aku akan berusaha membantumu, kau tenang saja. Mungkin dengan membantumu Kyuhyun juga akan memaafkanku.” Donghae sedikit dibuat terkejut dengan keputusan Jiyeon. Ia kira Jiyeon akan menolaknya dengan perkataan sebelumnya. Menolak dengan cara yang halus.

Haruskah ia berterima kasih atau menolaknya. Donghae bimbang dengan keputusannya sendiri. Disatu sisi, Donghae berpikir dengan meminta bantuan Jiyeon akan leboh mudah uuntuk menjalin hubungan persahabatn yang sempat putus ini dengan Kyuhyun. sahabat keras kepalanya itu. Tapi disisi lain, Donghae merasa bersalah karena menjadi lelaki yang merepotkan Jiyeon, yeoja yang sampai saat ini masih menjadi dewi dihatinya. Kau pengecut Lee Donghae.

∞ My Married Life ∞

Tepat pukul 19.10 KST, Jiyeon menginjakkan kakinya dilantai teras kediaman keluarga Cho. Istana modern yang saat ini ia tempati bersama Kyuhyun, hanya mereka berdua karena yang lain masih dalam perjalan bisnis. Jiyeon pulang sedikit malam dari biasanya yang akan pulang pukul 18.00 mengingat hari ini ia harus menyelesaikan cover buku keduanya.

“Ahjumma, apa Kyuhyun oppa belum pulang ?” tujuan utamanya adalah dapur untuk menemukan dimana Shin ahjumma dan menanyakan Kyuhyun sudah pulang atau belum seperti biasanya.

“Sepertinya sudah nona Jiyeon. Saya baru pulang membeli bahan makanan yang habis, jadi saya kurang begitu tahu. Mungkin tuan muda ada diruang kerjanya.” Jiyeon berjalan meninggalkkan ahjumma dengan senyum ceria diwajahnya yang kelelahan. Tidak biasanya Kyuhyun sudah pulang. Jiyeon akan selalu mendapatkan jawaban ‘belum’ dari Shin ajumma setiap kali ia bertanya. Walaupun hari ini ahjumma menjawab dengan tidak yakin, namun entah kenapa Jiyeon merasa Kyuhyun memang sedang berada diruang kerjanya. Bergelut dengan tugasnya disana.

Sesampainya didepan pintu ruang kerja Kyuhyun, Jiyeon tidak langsung masuk. Yeoja yang tengah mengandung 5 minggu itu sibuk mengatur napasnya sebelum bertemu Kyuhyun. Tidak biasanya ia akan gugup seperti ini jika ingin bertemu suami tercintanya. Mungkin ini karena mereka jarang bertemu, jadi rasa gugup itu kembali muncul seperti saat pertama kali mereka menikah. Setelah merasa cukup tenang, tanpa mengetuk pintu Jiyeon memutar handle pintu dan dengan cerianya…

“Oppa kau sudah pu-”

JDERRRR…

 

 

Tidak ada angin, tidak ada hujan, langit jug tidak mendung. Bahkan ribuan bintang menunjukkan cahaya murninya diluar sana. Kenapa Jiyeon merasa baru saja tersambar petir hingga membumi hanguskan hatinya.

Kyuhyun-nya, suami yang setiap malam ia impikan kembali tidur disampingnya. Memeluknya dalam tidur, dan setiap pagi merengek meminta morning kiss padanya kini tengah mencumbu gadis lain didepan matanya. DIDEPAN MATANYA. Bahkan Jiyeon sendiri yang berperan sebagai istrinya belum mendapatkan ciuman seintens itu dari Kyuhyun hampir 3 minggu ini. Tapi lihatlah…

Kyuhyun masih bergelut dengan bibir yang kini ia cumbu, tak menyadari sedikitpun kehadiran Jiyeon disana. Diambang pintu, berdiri kaku dengan air mata yang sudah membanjiri wajah lelahnya berusaha sekuat tenaga untuk meredam isakannya agar tidak terdengar Kyuhyun. Desahan mulai keluar dari bibir si-yeoja yang kini duduk dipangkuan Kyuhyun, merasakan benda tumpul dibawah sana yang mulai mengeras.

Cukup !!. Suara laknat itu terdengar seperti panggilan malaikat pencabut nyawa bagi Jiyeon. Kyuhyun benar-benar berubah, tidak ada lagi Kyuhyun-nya yang dulu. Jiyeon masih sanggup jika dulu Kyuhyun dan Nara, tapi sekarang. Cukup !! Ini sudah sangat menyakitkan.

“Oppa…” Lirih Jiyeon berusaha menyadarkan Kyuhyun akan kehadirannya. Oh Shit, bahkan Kyuhyun mulai meremas dua gundukan yeoja iblis itu.

“Kyuhyun oppa…” berhasil. Kyuhyun menghentikan aksi penjelajahan bibir dan tangannya.

“Ji..Jiyeon..” hancur sudah pertahanan Jiyeon untuk menahan isakannya. Suara itu keluar seiring dengan air mata yang semakin deras mengalir diwajahnya.

“Apa yang oppa lakukan…” Kyuhyun masih diposisi yang sama dengan wanita yang masih duduk dipangkuannya. Tidak ada teriakan atau makian dari Jiyeon, gadis itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi dimasa depan nanti. Jiyeon terus ber-ucap dengan nada lirih, seakan tidak ada lagi tenaga ataupun suara yang mampu ia keluarkan.

“Pabbo, untuk apa aku bertanya. Aku sudah melihatnya, istrimu ini memang bodoh.” Jiyeon bahkan tersenyum disela tangisnya, mencoba menujukkan pada Kyuhyun jika ia baik-baik saja. Jiyeon, kau memang bodoh. Bagaimana kau tersenyum disaat kau menangis.

“Maaf mengganggu kalian, aku hanya ingin..aku ingin memberitahu Kyuhyun oppa untuk makan malam. Aku…aku…aku lelah, aku akan pergi tidur sekarang. Mianhae …” Jiyeon berlari meninggalkan ruangan terkutuk itu menuju kamar Kyuhyun yang ia tempati sekarang dilantai dua. Jangan tanya lagi apa dia menangis atau tidak, tentu saja dengan menangis. Bahkan sejak ia mengucap kata terakhir tadi. ‘Mianhae..’

“Nona Jiyeon jangan berlari.. Nona..” Shin ahjumma yang sedang menata makan malam dimeja makan dibuat terkejut dengan Jiyeon yang berlari sambil menangis dari ruang kerja Kyuhyun. Heol, wanita yang berlari menaiki tangga itu sedang hamil muda. Akan sangat berbahaya jika ia berlari seperti orang kesetanan.

Sementara itu di ruang kerja Kyuhyun.

“Apa yang kulakukan ?” hanya kalimat itu yang terus keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun paska larinya Jiyeon dari ruang kerjanya. Kyuhyun sengaja tidak mengejarnya karena ia sendiri pun juga bingung dengan apa yang telah ia lakukan bersama wanita yang entah darimana datangnya. Kyuhyun sedang dalam pengaruh alkohol dengan kadar yang lumayan banyak hingga membuatnya hilang kesadaran tadi, lalu wanita itu muncul diruang kerjanya. Seingat Kyuhyun yang ia lihat tadi adalah Jiyeon, istrinya. Itulah alasan kenapa ia mau melakuakn hal seintim itu pada yeoja yang saat ini entah kemana perginya. Sial, Kyuhyun serasa dibodohi sekarang.

“Arkkhhh Sial..”

***

Malam semakin larut, langit yang tadinya bertabur bintang kini hanya menyisakan awan mendung disana. Sama halnya dengan suasana hati Jiyeon yang kelam seperti awan mendung dimalam hari. Gadis itu bahkan belum berhenti menitikan air matanya walaupun kini sudah tidak terdengar suara isakan lagi.

Jiyeon melewatkan makan malamnya. Suasana hati yang buruk membuatnya kehilangan selera makan, dan lagi ia belum siap jika harus bertemu dengan Kyuhyun saat ini. Jiyeon takut tidak bisa menahan air matanya tiap kali bertatap langsung dengan Kyuhyun. Shin ahjumma sudah mendatanginya tadi, bermaksud membawakan makan malamnya kekamar. Tapi Jiyeon mengunci pintu kamarnya sehingga Shin ahjumma terpaksa membawa kembali makan malam dan segelas susu ibu hamil yang rutin Jiyeon minum. Dan untuk pertama kali ia melewatkannya.

“Bagaimana ahjumma ?” Kyuhyun semakin khawatir mendapati gelengan dari Shin ahjumma.

“Maaf tuan muda, jika boleh saya tahu. Sebenarnya apa yang terjadi pada nona muda. Sepertinya nona menangis dikamarnya, jika memang ada masalah lebih baik tuan muda mengalah untuk meminta maaf lebih dulu. Nona sedang hamil muda tuan, bahaya jika terlalu banyak pikiran.” Shin ahjumma meninggalkan Kyuhyun didapur. Beliau tahu jika Kyuhyun sedang berperang melawan harga dirinya yang terkenal setinggi langit itu. Biarlah Kyuhyun yang memikirkan keputusannya, menyarankan untuk meminta maaf lebih dulu dirasa sudah cukup membantu.

“Meminta maaf lebih dulu ?. Jika dipikir ulang seharusnya dia yang meminta maaf padaku lebih dulu. Dia bebas mencium Donghae, kenapa aku tidak. Aniya, aku tidak akan minta maaf lebih dulu. Sebentar lagi pasti dia akan turun dan memakan makanannya. Aku yakin itu.” Kyuhyun meyakinkan argumentnya, seyakin langkahnya yang masuk menuju kamar tamu. Banyak hal yang terjadi hari ini hingga membuatnya kelelahan. Pikirannya terlalu kacau karena masalah di perusahaan ditambah lagi dengan Jiyeon yang marah padanya membuatnya sulit berpikir jernih. Jangan lupa jika Kyuhyun masih dalam pengaruh alkohol.

Malam yang awalnya bertabur bintang berubah menjadi berawan gelap dengan kilatan yang menyambar menandakan jika sebentar lagi bumi akan menangis. Seperti Jiyeon yang selalu tersenyum semenjak 2 hari yang lalu karena kehamilannya, kini hanya bisa menangis di bawah selimut tebal yang melilit tubuh mungilnya. Satu langkah lagi menuju titik terang masalahnya dengan Kyuhyun dan sekarang semuanya musnah. Apa yang harus ia lakukan kedepannya ?. Haruskah ia menyerah kali ini ?. Kyuhyun tidak bahagia bersamaku, haruskah aku melepasnya. Membiarkannya mencari kebahagiaannya bersama orang lain. Haruskah ?. Lalu bagaimana dengan calon anak mereka yang bahkan belum terbentuk sempurna di rahimnya. Eotteokae ?

∞ My Married Life ∞

2 Hari kemudian…

 

 

Pagi yang indah di akhir pekan. Langit tanpa awan dengan matahari yang menjadi penghias satu-satunya. Burung-burung memulai aktivitas rutinnya dipagi hari, berkicau membantu penghuni rumah untuk segera bangun dari mimpi indahnya. Kata mimpi indah mungkin tidaklah tepat bagi penghuni kediaman Cho. Dua hari sudah rumah itu kehilangan kenyamanan untuk ditinggali.

Sudah dua hari Jiyeon berdiam dikamarnya tanpa secuil makanan dan susu ibu hamilnya. Bahkan beranjak dari ranjangpun tak ia lakukan. Hanya berbaring dan sesekali duduk diranjang dengan menangis, menangis, dan menangis. Wanita itu bahkan lupa dengan kehamilannya, calon bayi yang ada diperutnya. Tanpa makan, tanpa asupan nutrisi yang seharusnya ia konsumsi akan jadi apa bayinya nanti.

Jangan tanya apa yang dilakukan Cho Kyuhyun dua hari ini. Namja itu bahkan menahan emosinya untuk mendobrak pintu kamar Jiyeon. Memaki istri bodohnya itu karena telah mengurung dirinya sendiri dikamar tanpa makanan. Kyuhyun sengaja tidak mengganggu Jiyeon karena ia tahu Jiyeon butuh waktu untuk menenangkan diri. Kyuhyun mengakui semuanya, kebodohannya, kecerobohannya, dan kesombongannya karena tidak mau meminta maaf lebih dulu. Tapi Kyuhyun berani bersumpah, kejadian 2 hari yang lalu benar-benar diluar kendalinya.

“Apa Jiyeon masih tetap tidak mau makan ?” Kyuhyun bertanya pada Shin ahjumma yang baru saja ia suruh untuk mengirim sarapan kekamar Jiyeon, dan lagi-lagi Jiyeon tidak mau membukakan pintu.

Habis sudah kesabaran Kyuhyun. Sudah dua hari istrinya yang tengah hamil anak petama mereka itu mengurung diri dikamar tanpa mau makan. Hei, apa perlu diulangi jika wanita yang tengah hamil itu membutuhkan nutrisi lebih dari wanita biasanya. Kau melupakan satu hal Cho Kyuhyun, wanita hamil juga tidak boleh terlalu banyak pikiran dan membuatnya tertekan. Itulah yang dirasakan Jiyeon saat ini, Cho Kyuhyun.

“Ahjumma tolong ambilkan kunci cadangan dilaci ruang tengah. Sekarang.” Tak terbantahkan. Shin ahujmma berlari kearah ruang tengah sedangkan Kyuhyun berjalan penuh emosi menuju kamar Jiyeon. Sebenarnya Kyuhyun sangat tidak ingin marah pada istri yang teramat sangat ia cintai melebihi apapun itu, namun keadaan berkata lain hingga mengharuskan batas kesabarannya terlampaui.

“Jiyeon buka pintunya…Cho Jiyeon.”

DORR..DORR..DORR

CKLEK..CKLEK..CKLEK

 

 

“KUBILANG BUKA PINTUNYA..”

“Tuan muda ini kuncinya.” Tanpa menunggu detik kedua, Kyuhyun menyambar kunci cadangan memasukannya kelubang kunci.

KLIK..CKLEK..

 

 

Kyuhyun diikuti Shin ahjumma mengambil langkah seribu memasuki kamar dengan ranjang sebagai tujuan utama. Disana terlihat tubuh Jiyeon yang berbaring membelakangi mereka dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya hingga batas leher. Tubuh itu terlihat tenang tidak terganggu sama sekali dengan kegaduhan yang ditimbulkan Kyuhyun.

“Sepertinya nona masih tertidur tuan muda.” Kyuhyun menangkap satu keganjalan disana. Ini sudah hampir siang dan Kyuhyun tahu jika Jiyeon tidak pernah bangun lebih dari jam 8 pagi sekalipun itu hari libur.

“Maaf tuan muda, dibawah ada tuan Donghae menunggu anda.” Kyuhyun menghentikan langkahnya mendekati Jiyeon. Untuk apa dia kemari. Pikirnya.

“Baiklah, aku akan segera turun. Ahjumma tolong bangunkan Jiyeon, aku akan segera kembali.” Kyuhyun turun kebawah bersama supir Kim. Shin ahjumma bergerak membuka korden kamar, membiarkan sinar matahari masuk kedalam. Sepertinya nona mudanya ini membiarkan korden kamarnya tertutup selama dua hari. Kasihan.

“Nona Jiyeon..bangun. Anda harus makan nona.” Shin ahjumma meletakkan telapak tangannya didahi Jiyeon yang berkeringat, berniat mengusapnya.

“Astaga…” Shin ahjumma tersentak mendapati suhu tubuh Jiyeon yang tinggi. Ada apa lagi dengan majikannya ini.

“Nona ireona jebal.. Nona Jiyeon.” Jiyeon membuka perlahan kedua bola matanya. Mengerjap berkali-kali guna mendapatkan fokus pandangnya.

“Ah__ahjumma ap_appo-yoo…”

“Dimana..dimana yang sakit nona.”

“Appo ahjumma…pe__perutku sa_sakitt..” apa ini berhubungan dengan kandungannya. Oh Tuhan lindungilah bayi dalam perutnya.

“Saya akan memanggilkan tuan Kyuhyun. Bertahan sebentar nona.” Keringat dingin semakin megucur jelas diseluruh permukaan wajah Jiyeon. Gadis itu menahan sakit diperutnya semenjak kemarin malam, tubuhnya terlalu lemah untuk bangun dari ranjang hingga membuatnya pasrah dengan apa yang akan terjadi.

***

Ekspresi yang tidak bersahabat muncul diwajah Kyuhyun.

“Untuk apa kau kemari ?” Donghae terlihat santai menanggapi pertanyaan sengit dengan tatapan super tajam dari Kyuhyun. Jika boleh jujur baru pertama kali ini selama mereka bersahabat, Donghae mendapat tatapan itu dari Kyuhyun. Semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak ceroboh Lee Donghae. Batinnya.

“Aku hanya ingin menjelaskan semuanya Kyuhyun. Hentikan opinimu tentang Jiyeon, dia sama sekali tidak bersalah dalam kejadian itu. Aku yang menciumnya lebih dulu, aku juga yang membuatnya tidak berkutik saat aku menciumnya. Dia terlalu terkejut dengan perasaanku hingga membuatnya terpaku saat itu. Dia hanya terkejut Cho Kyuhyun. Jadi kumohon berheti memdiamkannya dan bersikap dingin padanya. Keumanhae jebal.”

“Bagaimana bisa aku percaya padamu. Kau bahkan bohong padaku tentang perasaanmu padanya. Kau mencoba merebutnya dariku. Kau yang sudah kuanggap sebagai hyung-ku sendiri, MENUSUKKU DARI BELAKANG DENGAN MEREBUT ISTRIKU…”

“Kyuhyun aku tidak bermaksud untuk merebut Jiyeon darimu. Kau salah paham Kyu. Geurae aku akui jika aku memang masih mencintainya keundae-”

“Tuan..maaf saya menyela ucapan anda tuan Donghae. Tuan Kyuhyun, nona Jiyeon mengeluh sakit dibagian perutnya.” Apa lagi ini, kenapa masalah tidak ada habis-habisnya menghampi kami. Batin Kyuhyun menjerit. Takdir dan jalan kehidupan manusia tidak bisa ditebak Cho Kyuhyun. Sebanyak apapun kekayaanmu, sebaik apapun kau didunia, jika takdirmu memang seperti ini maka tidak ada jalan untuk menghindarinya. Tapi percayalah bahwa dibalik semua ini pasti ada satu pesan yang terkandung didalamnya.

“Cepat siapkan mobil. Kita akan bawa Jiyeon kerumah sakit.” Detik berikutnya, ketiga orang itu sudah lari entah kemana. Shin ahjumma yang mencari supir Kim. Lee Donghae dan Cho Kyuhyun yang berlari kerah kamar untuk menjemput Jiyeon. Lupakan sejenak masalah utamanya, kita beralih ke keadaan Jiyeon sekarang. Keselamatan Jiyeon yang utama Kyuhyun, jangan utamakan egomu jika ingin dua nyawa yang kau sayangi selamat.

∞ My Married Life ∞

Seoul Hospital.

 

 

1 jam setelah pemeriksaan, Jiyeon dipindahkan keruang VVIP dilantai 10. Kyuhyun kembali memerankan perannya sebagai suami yang hangat seperti sebelumnya. Ia sadar telah melukai hati wanita yang teramat sangat ia cintai ini terlalu dalam. Menuruti egonya untuk tidak mengalah pada Jiyeon hingga membuatnya –Jiyeon- menderita depresi ringan seperti sekarang ini. Dokter yang menangani Jiyeon menjelaskan keadaan istrinya ini setengah jam yang lalu.

Jiyeon mendapat terlalu banyak tekanan akhir-akhir ini hingga membuatnya depresi ringan. Walaupun dalam kadar ringan namun sangat berbahaya bagi wanita yang tengah mengandung. Apalagi usia kandungan Jiyeon yang masih sangat rentan. Dokter menyarankan Jiyeon untuk dirawat dirumah sakit selama 3 hari dan memperbanyak istrihat juga mengonsumsi makanan dengan kandungan nutrisi cukup banyak. Ingat itu Cho Kyuhyun.

Hari sudah menginjak sore dan belum ada tanda-tanda Jiyeon akan membuka mata. Terlihat Kyuhyun tertidur dengan posisi duduk disamping ranjang rumah sakit sambil menggenggam jari jemari Jiyeon yang tidak tertusuk jarum infus. Lelaki itu bahkan masih memakai kaos rumah,tidak ada waktu baginya untuk berganti pakaian resmi. Tidak peduli lagi dengan imagenya, yang terpenting sekarang adalah keselamatan Jiyeon dan juga bayinya. Tidak hanya Kyuhyun yang ada diruang rumah sakit tempat Jiyeon dirawat, ada Donghae juga yang sejak tadi terjaga disofa.

2 menit..

5 menit..

15 menit kemudian, Dongahe terperanjat dari duduknya saat pandangannya menangkap jari tangan kiri Jiyeon bergerak. Gadis itu mulai sadar.

“Jiyeon-ah gwenchana ?. Apa perutmu masih sakit ?” Jiyeon yang baru membuka lebar kedua matanya sedikit terkejut dengan kehadiran Donghae didepannya. Apa yang dilakukan Donghae disini. Pikirnya.

Kyuhyun yang mendengar suara kegaduhan mulai mengerjapkan matanya dan mendapati Donghae yang tengah menatap kerah istrinya. Kyuhyun mengalihkan pandangannya kearah Jiyeon.

“Chagiya.. kau sudah sadar. Mana yang sakit ? apa masih ada yang sakit ? apa perutmu masih sakit ? apa perlu kupanggilkan dokter ?” tidak ada tanggapan dari Jiyeon. Gadis itu terlalu terkejut dengan reaksi Kyuhyun tentang kesadarannya. Bukankah sebelumnya Kyuhyun bersikap tidak peduli dan terkesan dingin padanya. Apa lagi semenjak kejadian malam itu..

‘Malam itu …’ Jiyeon teringat kembali akan kejadian dimalam terkutuk itu. Naluri untuk tersenyum dan bersikap lembut pada Kyuhyun hilang sudah saat ia teringat malam laknat itu. Jiyeon mengalihkan pandangannya kembali kerah Donghae disisi kirinya mengabaikan Kyuhyun yang menunggu jawaban disisi lain tubuhnya.

“Hae-ah, nan gwenchanayo. Kumohon tetaplah disini. Aku merasa aman jika kau disini, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku sendirian.” Donghae dibuat bingung dengan reaksi Jiyeon setelah Kyuhyun mengutarakan seribu pertanyaan untuk menunjukkan betapa khawatirnya dia. Gadis ini mengabaikannya dan malah memintanya untuk tetap tinggal menemaninya.

‘Bukankah ada Kyuhyun yang akan selalu ada untuknya, kenapa Jiyeon harus memintaku untuk tetap disini ?. Apa ini karena kejadian ciuman itu, tapi seingatku Jiyeon tidak mengacuhkan Kyuhyun seperti ini. Justru Kyuhyun yang mengabaikan Jiyeon. Mungkinkah ada masalah lain ? Jiyeon juga tidak masuk kerja 3 hari ini tanpa memberi kabar apapun padaku, ponselnya juga tidak aktif. Aku yakin ada masalah lain antara mereka.’ Batin Donghae.

“Jiyeon-ah, ada Kyu-”

“Hae-ah berjanjilah untuk tetap disini.” Donghae semakin yakin melihat reaksi Jiyeon yang memotong ucapannya. Apa ini ada hubungannya denganku. Jika benar, tidak seharusnya aku membiarkan Jiyeon menderita sendiri. Aku harus membantu menyelesaikan masalahnya. Tekad Dongahe.

“Geurae, aku berjanji akan tetap disini sampai Shin ahjumma datang, otte ?” Jiyeon mengangguk lemah. Tanpa bicara lagi, Jiyeon kembali memejamkan matanya, berusaha kembali kealam mimpinya. Melupakan segala masalahnya sampai keadaanya kembali pulih dan memikirkan jalan keluar yang tepat.

Tidak ada yang mampu Kyuhyun katakan atau sanggah disana. Ia tahu jika Jiyeon marah dan mengacuhkannya saat ini. Kau memang pantas mendapatkannya Cho Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, kita perlu bicara. Kajja.” Donghae berjalan lebih dulu kearah pintu dengan Kyuhyun dibelakangnya. Sedikit heran memang melihat Kyuhyun tanpa menolak mau menurutinya. Bukankah Kyuhyun masih marah padanya.

“Apa yang terjadi ?. Apa kalian punya masalah lain ?” Donghae menangkap raut frustasi diwajah sahabatnya ini. Apa ini masalah yang serius.

“Haruskah aku menceritakannya padamu ? Kau bahkan mengkhianatiku.”

“Kyu-ya, aku tahu kesalahanku tidak semudah itu kau maafkan. Kau boleh marah, membenciku, semuanya kau boleh lakukan padaku. Tapi kumohon jangan sakiti Jiyeon, dia sama sekali tidk bersalah malam itu. Aku yang memaksa menciumnya, mianhae.” Kyuhyun tetap pada ekspresi angkuhnya. Memandang Donghae dengan kedua tangan tersembunyi dibalik saku triningnya. Namun Donghae tahu, ada beban berat yang tersembunyi dibalik ekspresi tenang dan terkesan tegar itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi Kyu. Bicaralah..aku akan mencoba membantu jika aku bisa.” Kyuhyun mulai melunak. Jujur, dia sendiri pun juga mulai bingung mencari jalan keluar masalahnya. Disaat ia yakin untuk membicarakannya secara baik-baik dengan Jiyeon tadi, ternyata reaksi Jiyeon diluar perkiraan hingga membuatnya mengurungkan niatnya.

‘Bisakah aku kembali percaya padamu hyung ?’

 

 

“Aku melukainya hyung. Aku menyakiti hatinya. Jiyeon mengurung diri dikamar 2 hari ini tanpa makanan dan itu semua karenaku. Karena kebodohan dan kecerobohanku.” Donghae belum bisa menangkap inti dari ucapan Kyuhyun. Mungkin ia akan mendapatkannya dipenjelasan berikutnya dan benar saja, Kyuhyun kembali menjelaskannya pada Donghae. Semuanya. Kronologi cerita malam itu.

Donghae sempat tersulut emosi mengetahui kelakuan Kyuhyun namun ia tahan. Donghae menangkap ada keganjalan dicerita Kyuhyun. Gadis itu datang dan pergi begitu mudah, apa tidak ada yang tahu ada orang asing yang masuk kerumah. Itulah yang dipikirkan Donghae.

‘Siapa sebenarnya gadis itu , dan darimana datangnya ?’

 

 

***

“Ingin ku-kupaskan apel ?” Jiyeon mengangguk menerima tawaran Donghae. Satu hari ini Donghae benar-benar menepati janjinya untuk selalu ada disamping Jiyeon. Sahabat yang baik.

Kyuhyun tidak ada disini ? bahkan Jiyeon tidak lagi melihatnya sejak ia terbangun dari tidurnya tadi. Kemana sebenarnya Kyuhyun ?. Jiyeon merasa kehilangan. Meskipun disini ada Donghae yang menghiburnya, tidak adanya Kyuhyun membuatnya terasa kurang. Donghae menangkap perubahan ekspresi diwajah Jiyeon yang masih pucat meskipun tidak sepucat kemarin. Gadis itu terlihat tengah mengharapkan kehadiran seseorang yang Donghae yakini adalah Kyuhyun.

“Dia sedang rapat hari ini dikantor dan akan kembali saat jam makan siang.” Donghae mengangkat sebelah tangannya bermaksud melihat jam tangan yang melingkar disana. “Sebentar lagi jam makan siang, dia pasti sudah dalam perjalanan kemari.”

“Nugu ?” Jiyeon tidak sedang berpura-pura, ia memang bingung dengan apa yang dikatakan sahabatnya ini. Siapa yang akan kesini.

“Bukankah sejak tadi kau mengharapkan Kyuhyun eoh ?.” tepat sasaran Lee Donghae. Lihatlah pipi merona temanmu ini.

“Ani. Aku sedang marah padanya, mana mungkin aku mengharapkannya. Kau ini aneh sekali. Sudah berikan apelnya padaku.” Jiyeon menyambar apel yang belum terkelupas seluruhnya ditangan Donghae. Mengupas sisa kulit apel yang masih menempel.

Donghae membiarkannya saja, hingga suara pintu yang terbuka membuat keduanya mengalihkan fokus pandangan mereka. Donghae tersenyum melihat Kyuhyun yang berjalan kearah mereka dengan sekantung plastik penuh makanan. Sedangkan Jiyeon, bahkan gadis itu tidak berkedip sejak mendapati Kyuhyun berjalan masuk kekamarnya. Kyuhyun terlalu tampan untuk dilewatkan barang itu mengerjap sekalipun. Suaminya itu terlihat lebih tampan dari biasanya, bukan berarti dihari biasanya Kyuhyun tampak buruk. Entahlah, Jiyeon berpikir ini adalah penampilan tertampan Kyuhyun kedua selain saat mereka menikah dulu. Itulah penampilan tertampan Kyuhyun yang pertama.

“Kebetulan sekali aku sudah sangat lapar Kyu. Kau memang sahabat paling baik.” Donghae bergerak mendekati plastik makanan yang Kyuhyun letakkan dimeja kamar rumah sakit Jiyeon. Sedangkan Kyuhyun bergerak mendekati Jiyeon yang tertunduk diranjangnya. Mencium puncak kepala Jiyeon, dan sukses membuat Jiyeon kembali mendongak dengan mata yang mengerjap tidak percaya.

“Bagaimana keadaanmu chagi ?” Kyuhyun tersenyum. Siapapun disana-sini lihatlah betapa tampannya namja didepanku ini saat ia tersenyum seperti itu. Ohhhh… jantungku seakan ingin melompat keluar dari tubuhku sekarang juga. Suaminku sangat-sangat-sangat tampan.

“Ige mwoya…” Kyuhyun yang mendengar teriakan Donghae seketika mengalihkan wajahnya dari jangkauan pandang Jiyeon. Terkutuk kau Lee Donghae, beraninya kau menganggu kesenanganku. Batin Jiyeon menjerit menyumpahi Donghae.

“Ini semua untuk Jiyeon ?” Kyuhyun mengangguk. “ Yakk, kau mengurungku disini bersama istrimu seharian dan kau tidak membawa satupun makanan untukku.” Kyuhyun lagi-lagi mengangguk. “Aishh.. kutarik kembali ucapanku bahwa kau teman yang baik. Kukira semua ini untukku, tapi seluruh isinya hanya susu ibu hamil dan vitamin.”

“Aku tidak bilang itu untukmu kan. Kau saja yang terlalu percaya diri.”

“Kalau begitu, aku akan mencari makan siangku sendiri. Dasar sahabat tak berperasaan.”

“Hyung..”

“Wae..” Donghae yang hendak berjalan keluar untuk mencari makan terhenti karena panggilan Kyuhyun. Mau apalagi setan ini.

“Gomawo.”

“Nde ?”

“Terima kasih sudah menjaga Jiyeon untukku. Kau boleh pulang setelah ini jika kau mau.”

“Baiklah..baiklah. Aku akan pulang setelah mendapat makan siangku. Cara mengusirmu memang sangat halus. Jaga istrimu yang tengah hamil itu. Aku akan memberinya waktu cuti selama satu minggu. Aku pergi.” Itulah Lee Donghae. Sosok yang akan berkorban perasaan demi sahabatnya yang bahkan pernah memukulnya hingga babak belur. Perasaannya pada Jiyeon, itulah korbannya.

Kyuhyun meendapat satu fakta lagi. Donghae benar-benar berusaha keras untuk menghapus perasaanya pada Jiyeon kali ini. Kau memang yang terbaik hyung, gomawo. Batin Kyuhyun.

“Oppa pulanglah. Ada Shin ahjumma yang akan menemaniku.” Jiyeon membuyarkan lamunan Kyuhyun yang masih menatap kearah pintu hingga kini Kyuhyun beralih padanya. Berpikir sejenak, haruskah ia membicarakannya sekarang.

“Jiyeon-ah, aku tidak tahu ini waktu yang tepat atau tidak untuk membicarakannya padamu tapi aku sudah tidak sanggup lagi jika harus seperti ini terus denganmu.” Jiyeon membeku ditempatnya dengan kepala menunduk. Sanggupkah ia mendengarkan penjelasan Kyuhyun. Bagaimana jika nanti penjelasan itu tidak seperti yang ia harapkan. Bagaimana jika nanti Kyuhyun meminta cerai dengannya dan menikah dengan wanita itu.

“Mianhae, jeongmal mianhaeyo. Saat itu aku berada dibawah pengaruh alkohol. Kau tahu apa alasannya ?” Jiyeon semakin menunduk menyembunyikan matanya yang sudah mulai berkabut. “Karena aku memikirkan hubungan kita yang tidak kunjung menemukan jalan keluar. Aku putus asa Yeon-ah. Aku tidak sanggup lagi jauh darimu. Kumohon percayalah padaku.”

“Oppa..” cairan bening meluncur turun dari kelopak mata Jiyeon melihat Kyuhyun yang bersujud disamping ranjang rumah sakit. Tidak hanya itu, bahkan Kyuhyun juga menitikkan air matanya.

“Mianhae. Aku hampir saja membunuh bayi kita, jeongmal mianhaeyo.”

“Oppa berdirilah kumohon. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Berdirilah oppa hiks..hiks.” Kyuhyun mendongak mendengar isakan Jiyeon. Astaga, wanitanya menangis lagi karenanya. Kau memang brengsek Cho Kyuhyun.

“Uljimmayo. Kenapa kau menangis hmm..” Kyuhyun menyapu air mata Jiyeon dengan kedua ibu jarinya.

“Mianhae oppa..”

“Ssssttt.. aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Mianhae.” Jiyeon mengangguk tanpa beban dengan senyum yang terukir diwajah pucatnya. Bukan hanya Kyuhyun yang putus asa dan tersiksa sebenarnya, Jiyeon pun juga merasakannya. Kyuhyun merengkuh tubuh Jiyeon masuk kedalam pelukannya. Jiyeon kembali merasakan kehangatan yang 2 minggu ini hilang. Kyuhyun-nya kembali.

“Kau harus cepat sembuh dan jangan pernah mencoba untuk terlambat makan. Arra ?” Kyuhyun tersenyum merasakan anggukan antusias Jiyeon dipelukannya. Seakan teringat satu hal, Jiyeon mendorong tubuh Kyuhyun kebelakang hingga pelukan mereka terlepas.

“Wae..” Kyuhyun bertanya dengan nada lembut. Bukan jawaban yang ia dengar melainkan bibir kenyal Jiyeon yang melumat bibirnya. Kyuhyun sedikit terkejut mendapati reaksi Jiyeon yang begitu agresif tidak seperti biasanya yang terkesan kalem dan pemalu.

Kyuhyun membuka mulutnyanya saat Jiyeon menggigit bibir bagian bawahnya. Secepat kilat Jiyeon menyapukan lidahnya pada deretan gigi putih Kyuhyun sebelum benar-benar bergelut dengan lidah Kyuhyun disana. Sementara itu, Kyuhyun sedikit geli dengan Jiyeon yang agresif. Biasaanya ia yang akan memimpin permainan namun kali ini, untuk pertama kalinya Jiyeon mengusaianya. Ada apa dengan istrinya ini.

Perlahan Jiyeon bergerak menjauh dari wajah Kyuhyun. Nafasnya tersengal dengan bibir bengkak membuat Kyuhyun terkikik melihatnya.

“Kau begitu agresif hari ini, wae ?. Apa karena sudah lama kita tidak berciuman eoh ?” Jiyeon merengut mendapat ejekan dari Kyuhyun. Bukan itu alasanannya Cho Kyuhyun. Jiyeon beringsut semakin dekat dengan Kyuhyun, menangkup wajah sempurna suaminya itu dengan kedua tangannya.

“Mulai saat ini dan selamanya, bibir ini hanya milikku. Semuanya milikku. Kau adalah milikku Cho Kyuhyun.” Jiyeon mengecup singkat bibir Kyuhyun sebelum kembali berucap.

“Kau tidak boleh lagi mencium wanita lain selain aku. Kau harus janji itu.” Kyuhyun mengangguk tanpa ragu. Ia cukup tahu jika saat ini istrinya tengah mengidam. Kebiasaan wanita hamil di trimester pertama. Lagipula, bukankah semua ini benar. Kyuhyun seutuhnya milik Jiyeon begitu pula sebaliknya.

“Ingin bermain denganku..??” Kyuhyun merangkak naik keranjang ramah sakit. Jiyeon tahu betul apa yang dimaksud dengan ‘bermain’ ala Cho Kyuhyun. Oh ayolah, Jiyeon bahkan masih dirumah sakit.

“Oppa, aku masih dirumah sakit.”

“Lalu..” Kyuhyun semakin memojokkan Jiyeon. Demi Neptunus, Jiyeon benar-benar dibuat gugup saat ini.

“Bagaimana jika ada yang lihat.” Kyuhyun menghentikan gerakannya yang akan mulai mencium Jiyeon. Berpikir sejenak sebelum akhirnya bergerak menuju pintu. Jiyeon terus memperhatikan Kyuhyun yang mengunci pintu dan menutup semua korden jendela. Oh, Kyuhyun tidak akan berhenti.

“Bisa kita mulai sekarang..?” Kyuhyun kembali bergerak kearah Jiyeon dengan pandangan seduktif membuta bulu leher Jiyeon meremang.

“Oppa chamkammppphhfftt…” terlambat, Kyuhyun bergerak cepat menyambar bibir Jiyeon. Ciuman Jiyeon sebelumnya sudah membuat libidonya naik. Hampir sebulan Kyuhyun menahan napsunya untuk menyentuh Jiyeon, dan hari ini adalah puncak dari semua yang ia tahan.

Siang itu menjadi siang yang indah bagi sepasang insan yang hampir satu bulan merenggang hubungan. Cinta memang tidak kenal ruang dan waktu. Dimanapun dan kapanpun selama ada kesempatan maka cinta akan bertindak. Hidup seakan dikendalikan oleh rasa cinta bagi mereka yang telah menemukan pasangan hidup. Romantis.

ᴥ To Be Continue ᴥ

Andalan
Diposkan pada married life, NC, SAD

My Married Life part 3

My Married Life (Part 3)

my-married-life

Title : My Married Life

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Park Jiyeon (Cho Jiyeon)

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Kwon Nara

Genre : Angts , little NC , married life, temukan sendiri.

SELAMAT MEMBACA

1 Bulan Kemudian, akhir pekan.

 

Terhitung sudah satu bulan Kyuhyun dan Jiyeon menikah namun belum ada tanda-tanda hubungan mereka akan mengarah ke yang lebih baik. Justru sebaliknya, Jiyeon semakin gencar menjaga jarak dari Kyuhyun ditambah lagi dengan adanya Donghae yang selalau setia menemaninya berbagi keluh kesah bersama.

“Hari ini appa dan eomma meminta kita untuk makan malam dirumah. Aku tidak akan menjemputmu jadi jangan terlambat.” Kyuhyun mengutarakan pesan yang ia terima kemarin malam dari Ahra tanpa menatap wajah Jiyeon yang sedang menyantap sarapan paginya, Kyuhyun masih fokus dengan PSP ditangannya. Hari ini hari libur dan Kyuhyun sudah ada janji dengan Nara untuk berkencan jadi tidak ada jaminan ia akan menjemput Jiyeon di apartement.

“Arra.” singkat, padat, jelas, dan menyebalkan itulah yang Kyuhyun rasakan. Seperti inilah Jiyeon yang selalu mengacuhkannya, membuatnya –Kyuhyun- seperti orang bodoh yang berkepanjangan. Cukup, habis sudah kesabaran Kyuhyun. Ini bahkan sudah terhitung satu minggu Jiyeon mengacuhkannya. Emosinya sudah tidak bisa ditolelir lagi.

Kyuhyun melempar PSP putihnya kelantai, membuat Jiyeon mengalihkan pandangan dari sarapan paginya kearah Kyuhyun. Setelah cukup lama menghindari Kyuhyun, akhirnya hari ini ia melihat lagi tatapan elang itu. Takut, ohh jangan tanya lagi. Jiyeon sudah sangat ketakutan kali ini, tatapan mata itu bahkan lebih menakutkan dari terakhir kali ia melihatnya dan baru kali ini ia melihatnya. ‘Apa ada yang salah dengan ucapanku ?’. Jiyeon berusaha keras menyembunyikan ketakutannya saat Kyuhyun beranjak dari duduknya diseberang Jiyeon dan bergerak mendekat.

“Ka-kau m-mau apa Kyuhyun-ssi ?” gagal, usahanya benar-benar gagal untuk terlihat berani didepan Kyuhyun. Jiyeon semakin ketakutan lebih dari sebelumnya saat Kyuhyun mencengkram kedua bahunya membuatnya berdiri dan mendorongnya ketembok. Mengurungnya hingga Jiyeon tidak bisa berkutik bahkan untuk memandang kearah Kyuhyun pun Jiyeon merasa tidak bertenaga.

“Wae ?. Kau takut sekarang ?.” Kyuhyun berbisik lirih disamping telinga kanan Jiyeon membuat bulu lehernya meremang terkena terpaan lembut napas Kyuhyun. Jiyeon mendorong pelan dada Kyuhyun agar menjauh darinya. Jiyeon akan sulit bernapas jika Kyuhyun berada sedekat ini dengannya, jika saja Kyuhyun tahu bahwa Jiyeon mati-matian menahan napasnya sejak ia menghimpitnya ditembok. Bukannya menjauh, Kyuhyun justru mencekal tangan Jiyeon yang berusaha menjauhkannya.

“Kyu-hyun ssi menjauhlah jebal. Kenapa kau seperti ini, kau membuatku takut.”

“Kau yang membuatku seperti ini. Kau yang menghindariku dan itu membuatku geram Park Jiyeon.” Kyuhyun bicara dengan nada yang sarat akan emosi yang selama ini ia pendam. Memberi tekanan pada nama Jiyeon menyiratkan jika ia sangat kesal.

“Aku menghindarimu bukan tanpa alasan Kyuhyun-ssi, kau yang membuatku melakukan hal yang sangat aku benci.”

“Jika membencinya kenapa kau tetap melakukannya. Apa kau bodoh ?. Tidak bisakah kau membandingkan mana suka dan mana benci ?.” Jiyeon hanya menatap Kyuhyun tepat dimata coklat elang miliknya. Mudah memang jika hanya diucapkan lewat bibir namun akan terasa sulitnya jika kau mengalaminya.

“Itu tidak semudah yang kau pikirkan Kyuhyun-ssi.”

“Ck..Kau memang bo-”

“Geurae, aku bodoh. Aku gadis terbodoh yang mencintai seorang namja yang jelas-jelas tidak akan pernah membalas cintanya. Dan sialnya lagi namja itu adalah suaminya sendiri. Kau puas mendengar pengakuanku.” Kyuhyun tercengang mendengar pengakuan Jiyeon. Kedua tangan yang awalnya mengurung Jiyeon ditembok merosot jatuh kembali ketempat semula disisi tubuh Kyuhyun. Matanya tak beralih sedikitpun dari gadis yang tengah menahan isak tangis tepat dihadapannya.

“Apa yang baru saja kau bicarakan ?”

“Nde, aku mencintaimu Kyuhyun bahkan sejak hari pertama kita menikah. Dan sampai saat inipun aku akan terus mencintaimu, bodoh bukan. Bahkan aku masih mencintaimu setelah yang kulihat tempo hari, kau dan Nara,..kalian..” air mata Jiyeon terlepas begitu saja dari bendungannya. Pertahanannya hancur seiring dengan rasa sesak yang tiba-tiba mendera relung hatinya. Kesekian kalinya alasan ia menangis adalah Kyuhyun, suami yang seharusnya membuat hidupnya berwarna bukan malah menjerumuskannya pada gelapnya kehidupan. Suara isakan mulai terdengar disetiap sudut apartement, siapa lagi jika bukan Jiyeon. Kyuhyun hanya mampu menatap Jiyeon yang berusaha keras mengatur napasnya, sepertinya ia akan melanjutkan penjelasannya.

“Aku selalu berharap..bisa mengukir namaku dihatimu, keundae..” Jiyeon menggigit bibirnya menahan isakan yang akan kembali keluar mengingat kelamnya kehidupannya bersama Kyuhyun. Setelah merasa lebih baik, Jiyeon mengatur napasnya bersiap melanjutkan ceritanya.

“ Semua itu pupus setelah melihatmu semakin dekat dengan Nara. Kesempatanku menjauh Kyuhyun, bahkan lenyap. Aku berpikir dengan menjauhimu kau akan merasa bersalah dan meminta maaf padaku tapi-…. Kau malah terang-terangan berkencan dengannya.” Air mata itu kembali mengalir bahkan lebih deras dari sebelumnya. Jiyeon membekap mulutnya dan berlari pergi meninggalkan Kyuhyun yang hanya berdiri mematung. Bunyi pintu tertutup menandakan jika Jiyeon tidak pergi kekamarnya melainkan keluar meninggalkan apartement.

“Ck, dia pikir pengakuannya dapat meluluhkan hatiku. Jika jalan pikiranmu seperti itu, kau salah besar Park Jiyeon. Bukankah tertulis jelas jika tidak boleh ada rasa cinta selama pernikahan. Gadis bodoh.”

***

‘Dia bahkan tidak mengejarku. Apakah pengakuanku tidak menyadarkanmu oppa ?.’ Jiyeon terus berlari dengan air mata yang terus mengalir menjauhi apartement berusaha menemukan tempat yang nyaman untuk hatinya. Bukan hanya ruang hatinya yang porak poranda tapi juga pikirannya.

TINN…

 

“Jiyeon awasss…”

“Aaakhh..”

SRET-BRUKK.

 

“Do-donghae ah neo gwenchanayo ?. Donghae-ah..” Jiyeon menepuk-nepukkan telapak tangannya dipipi Donghae melihat Donghae yang memejamkan mata namun napasnya berhembus lega saat Donghae membuka mata.

“Kau gila eoh ?. Kenapa menyebrang tanpa melihat jalan,kalau aku tidak ada apa yang akan terjadi pada-” kata-kata yang sudah Donghae rancang untuk memarahi Jiyeon karena telah membuatnya khawatir hilang entah kemana saat tanpa diduga Jiyeon memeluk erat tubuhnya yang masih terduduk dipinggir jalan sambil menangis. ‘Apa kata-kataku begitu menyakitkan ?’ Donghae berpikir Jiyeon menangis karena dia memarahinya.

“Yak Yongie… ulljimayo. Aku hanya bercanda tadi, jangan pernah menganggap omonganku se-serius ini. Ulljima jebal.”

“Mianhae Hae-ah hiks, aku hampir saja mencelakakanmu hiks. Kenapa kau menyelamatkanku ? biarkan saja aku tertabrak tadi asal kau tidak terluka. Aku membuat lututmu terluka hiks hiks jeongmal mianhaeyo.” Donghae tertegun mendengar pengakuan Jiyeon yang mengungkapkan jika alasan ia menangis bukan karena kemarahan Donghae melainkan karena telah membuat lutut Donghae terluka. Oh ayolah ini hanya luka kecil dan bagi seorang lelaki bukanlah suatu masalah yang dapat membuatnya tumbang. Donghae bergerak menjauhkan tubuh Jiyeon yang masih memeluknya, menangkupkan kedua tangannya diwajah Jiyeon yang basah karena terlalu lama menangis.

“Gwenchana Yongie, kau lupa jika aku ini seorang lelaki. Luka sekecil ini tidak akan pernah membuatku tumbang, dan lihatlah bahkan kau memiliki lebih banyak luka daripada aku. Jja kita obati lukamu dimobil.” Jiyeon mengangguk dan berdiri bersama Donghae menuju mobil Donghae yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka. ‘Aku menangis karena masalahku dengan Kyuhyun oppa Hae-ah, mian aku membohongimu.’

∞ My Married Life ∞

Waktu siang dimusim panas sangat terik di Seoul namun itu semua tidak akan meyurutkan semangat para pasangan kekasih yang memilih menghabiskan waktu liburan kerja mereka untuk berkencan. Seperti yang dilakukan Kyuhyun dan Nara siang itu, setelah puas berkeliling mall terbesar di Seoul, kini mereka memutuskan untuk makan siang berdua di rumah makan langganan mereka didaerah Myeongdeong.

“Oppa, kau ingin memesan apa ?.” Nara mendengus kesal melihat Kyuhyun yang melamun lagi. Terhitung sudah ketiga kalinya Kyuhyun melamun, entah apa yang membuatanya melamun namun yang pasti itu membuat Nara kesal. Terkutuk orang yang membuat pikiran Kyuhyun terganggu.

“Bawakan kami dua steak dan jus jeruk.” Pelayan itu bergerak mencatat pesanan Nara dan berlalu pergi setelah sebelumnya membungkuk hormat. Dan sampai saat pelayan pergipun Kyuhyun masih melamun menatap kearah luar jendela kaca yang berada disamping mereka.

“Lain kali jangan mengajakku berkencan jika pikiranmu tidak terfokus padaku.”

***

’Nde, aku mencintaimu Kyuhyun bahkan sejak hari pertama kita menikah. Dan sampai saat inipun aku akan terus mencintaimu, bodoh bukan. Bahkan aku masih mencintaimu setelah yang kulihat tempo hari, kau dan Nara,..kalian..’

‘Aku selalu berharap..bisa mengukir namaku dihatimu, keundae..’

‘Semua itu pupus setelah melihatmu semakin dekat dengan Nara. Kesempatanku menjauh Kyuhyun, bahkan lenyap. Aku berpikir dengan menjauhimu kau akan merasa bersalah dan meminta maaf padaku tapi-…. Kau malah terang-terangan berkencan dengannya.’

 

“Lain kali jangan mengajakku berkencan jika pikiranmu tidak terfokus padaku.” lamunan Kyuhyun buyar tatkala mendengar suara Nara yang terdengar kesal.

“Mianhae chagi, banyak yang harus kupikirkan akhir-akhir ini. Kau tau sendiri kan kita dihadapkan dengan banyak proyek bulan ini.” Bohong besar. Kyuhyun sama sekali tidak terpikir oleh proyek-proyek yang akan mereka jalani karena sesungguhnya semua proyek itu sudah ia serah tangankan pada Kibum, satu-satunya orang yang ia percaya.

“Kau tidak sedang berbohongkan ?.” bingo. Tepat sasaran. ‘Apa sejelas itu ?’

 

“Anniya, jeongmal. Ahh, tidakkah kau lapar. Aku sangat lapar, jja kita makan.” Kyuhyun berusaha mengalihkan pembicaraan dengan memanfaatkan pelayan yang datang membawa pesanan Nara. Meskipun begitu seorang Kwon Nara tidak bisa dibodohi begitu saja, ia tahu jika Kyuhyun sedang berbohong. Kyuhyun tidak berani menatap matanya saat ia mengutarakan alasan kenapa ia melamun. ‘Kau pembohong yang buruk oppa.’

Selepas makan siang, mereka melanjutkan kencan mereka dengan berkeliling daerah Myeongdong. Walaupun Jiyeon kesal pada Kyuhyun namun ia benar-benar memanfaatkan waktu liburnya untuk bersenang-senang tanpa melibatkan pekerjaan ataupun orang lain dalam topik pembicaraan.

∞ My Married Life ∞

Kediaman Keluarga Cho, 19.00 KST

 

Seperti yang sudah dijanjikan, malam ini Kyuhyun dan Jiyeon akan makan malam bersama dirumah Keluarga Cho. Tepat didepan teras tengah terparkir mobil Donghae, yang ada Jiyeon didalamnya begitupun dengan Donghae. Keduanya baru saja tiba sekitar 1 menit yang lalu. Jiyeon sadar jika Kyuhyun belum datang, terbukti belum ada mobil audy hitam yang terparkir disana.

“Sepertinya dia belum datang. Apa yang dilakukan anak itu diapartement sendirian ?.” Donghae menyapu pandangannya kesetiap sudut halaman rumah keluarga terkaya ketiga di Korea itu. Jiyeon hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Wae.. ? kau terlihat terpaksa makan malam bersama mereka.” Jiyeon menoleh cepat kearah Donghae. Apa dia sedang bercanda, tentu saja makan malam bersama keluarga Cho justru moment yang ia tunggu-tunggu sejak dulu.

“Anni. Jeongmal anniya.” Jiyeon meninju cukup keras bahu kanan Donghae membuat si-empu berteriak kesakitan. Melihat Donghae kesakitan, seketika Jiyeon panik. Sesakit itukah pukulannya, dia hanya bercanda tadi. Jiyeon tidak benar-benar memukulnya.

“Donghae-ah gwenchana ?. Yak Lee Donghae neo gwenchanayo ?.” Jiyeon semakin panik saat Donghae semakin mengeraskan suara erangannya. Sungguh dia hanya bercanda tadi. Jiyeon kelabakkan didalam mobil, bingung harus berbuat apa. Membawanya kerumah sakit ?, ayolah Jiyeon tidak pandai menyetir mobil. Membawanya masuk kerumah keluarga Cho, apa yang akan ia jawab jika keluarga Cho menanyakan penyebab Donghae kesakitan. Jiyeon merasa tersudut sekarang.

Sementara itu, Donghae yang melihat Jiyeon yang mulai panik sendiri berusaha menahan tawanya untuk menambah kesan nyata dalam leluconnya. Donghae sengaja mengerjai Jiyeon untuk mengalihkan pikiran sahabatnya itu dari masalah yang menimpanya. Donghae tidak tahu pasti masalah apa itu, tapi firasat Donghae mengatakan jika ini semua ada hubungannya dengan kehidupan rumah tangga Jiyeon dan Kyuhyun. Ekspresi Jiyeon selalu berubah sendu dan mata coklat itu akan berganti sayu jika Donghae menyangkut pautkan nama Kyuhyun didalam percakapannya.

“Bwahahaha, lihat wajahmu Jiyeon. Hahaha…” setelah berusaha namun akhirnya akan lepas juga. Donghae tertawa sekeras yang ia bisa menertawai wajah Jiyeon yang sangat lucu saat sedang panik. Wajah itu akan memerah menyerupai warna kepiting yang tengah direbus, dan mata coklat itu akan selalu berkaca-kaca jika tidak segera mendapat solusi.

“Yakkk, ini tidak lucu Lee Donghae. Kau membuatku khawatir.” Jiyeon bergerak memeluk Donghae dan seketika tawa Donghae lenyap. Kembali ia rasakan detak jantungnya bekerja diatas normal seperti saat ia menatap mata Jiyeon dipesta Cho Crop satu bulan yang lalu. Perlahan tangan Donghae terangkat membalas pelukan Jiyeon.

“Aku benar-benar khawatir kau terluka untuk kedua kalinya Hae-ah.” Jiyeon melepas pelukannya, kembali keposisi semula. “Mianhae, aku membuat lututmu terluka.” Jiyeon menudukkan kepalanya sebagai ungkapan sungkannya pada Donghae yang rela melukai dirinya sendiri demi menyelamatkan Jiyeon.

“Aissshh kau ini bicara apa eoh. Sebagai sahabat sudah sewajarnya aku menjagamu setelah Kyuhyun. Bukankah begitu nyonya Cho yang terhormat.” Seperti yang sudah Donghae jelaskan sebelumnya, wajah Jiyeon akan berubah sendu setiap mendengar nama Kyuhyun seperti saat ini. Sesaat tidak ada satupun yang berani bersuara, keduanya larut pada pikiran masing-masing. Hening.

‘Aku hampir tertabrak karena aku memikirkan Kyuhyun oppa. Entah bagaimana ekpresinya nanti saat melihat keadaan ku seperti ini. Mungkinkah dia akan peduli padaku seperti mu Hae-ah.’

‘Apa yang salah dengan rumah tangga mereka ?. Mungkinkah Kyuhyun memperlakukan Jiyeon dengan buruk.’

 

“Gomawo.” Jiyeon kembali membuka percakapan dengan ungkapan terima kasih untuk Donghae. “Terima kasih untuk hari ini. Berkat kau, aku merasa lebih baik. Dan maaf ntuk lututmu. Aku akan lebih berhati-hati lagi.”

“Nde, chonma. Masuklah, mereka sudah menunggu.” Jiyeon mengangguk dan bergerak perlahan keluar dari mobil Donghae. Kaki kanannya yang terkilir membuatnya jalannya sedikit pincang. Dokter bilang kakinya akan sembuh sekitar 2-3 hari. Maka dari itu Donghae memberi cuti untuk Jiyeon sampai kakinya benar-benar sembuh. Ditambah lagi, luka disiku lengan kanan Jiyeon cukup dalam sehingga mengharuskannya mendapat tiga jahitan disana.

“Kau yakin tidak ingin makan bersama kami ?.” Jiyeon mensejajarkan tubuhnya dengan jendela mobil Donghae, mencoba sekali lagi menwarkan makan malam bersama pada Donghae.

“Anni, aku ingin cepat sampai dirumah dan istirahat. Aku bisa makan dirumah.”

“Berhati-hatilah, jangan terlalu memaksakan diri. Kabari aku jika sudah sampai.” Jiyeon menegakkan kembali tubuhnya, melambaikan tangan sseiring dengan mobil Donghae yang bergerak mendekati pintu gerbang.

Selepas mobil audy merah milik Donghae meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Cho, tiba satu mobil lagi dari arah yang berlawanan dengan jalur yang dilalaui Donghae. Mobil camero itu berhenti tepat didepan teras, tempat mobil Donghae terparkir sebelumnya. Jiyeon tahu pasti siapa pemilik mobil itu, maka dari itu ia tetap melanjutkan langkahnya yang tertatih mendekati pintu utama. Salah jika kalian mengira Jiyeon marah pada Kyuhyun yang masih mengurung diri didalam mobil kuningnya, Jiyeon hanya berusaha menghindari pertanyaan yang mungkin akan Kyuhyun lontarkan melihat kondisinya saat ini.

Berhasil, Jiyeon berhasil masuk kedalam terlebih dulu. Membiarkan pintunya terbuka untuk jalan masuk Kyuhyun. Jiyeon tersenyum saat melihat seluruh keluarga Cho sudah berkumpul dimeja makan, langkahnya terhenti tepat 3 langkah dari meja makan.

“Jwesonghamnida aboenim, eommonim, eonni, kami terlambat datang.” Jiyeon membungkuk menunjukkan rasa hormatnya pada 3 orang didepannya yang sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.

“Gwenchana Yongie, kami juga baru saja berkumpul. Duduklah.” Ahra mengarahkan Jiyeon dan juga Kyuhyun yang sudah berada dibelakang Jiyeon untuk duduk dikursi yang masih kosong. Jiyeon membalasnya dengan tersenyum dan mulai berjalan perlahan kearah kursi yang kosong. Semua keluarga menatap heran pada cara Jiyeon berjalan termasuk Kyuhyun. ‘Seingatku tadi pagi dia baik-baik saja. Kenapa sekarang..’. Sementara Jiyeon tetap melanjutkan laku langkahnya dengan sangat pelan, kakinya tiba-tiba berdenyut. Sebisa mungkin ia mencoba terlihat sewajar mungkin, walaupun sebenarnya anggota keluarga yang lain sudah tahu.

“Yongie, ada apa dengan kakimu ?.” Jiyeon menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan yang sungguh sangat tidak ingin ia dengar untuk saat ini. Namun, Cho Ahra dengan segudang rasa penasarannya telah berani melontarkan pertanyaan yang sama dengan yang terpikir oleh ke-3 anggota keluarga Cho lainnya. Jiyeon menghembuskan napas sebelum berbalik menjawab pertanyaan dari Ahra, sungguh ia merasa takut untuk berhadapan dengan Kyuhyun sekarang. Jiyeon melihat tatapan Kyuhyun padanya begitu tajam malam ini, membuat Jiyeon merasa seakan dikuliti olehnya.

“Kakiku terkilir, tadi siang ada sedikit kecelakaan kecil. Nan gwenchana, dokter bilang kakiku akan sembuh sekitar 2-3 hari. Jangan terlalu khawatir.” Jiyeon menyematkan senyuman tulus di akhir penjelasannya dan melanjutkan kembali langkahnya hingga ia brehasil terduduk di salah satu kursi kosong didepan Ahra. Sementara itu, seluruh keluarga Cho masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Jiyeon. Meskipun kecelakaan kecil namun itu juga KECELAKAAN bukan, dan mereka tidak harus khawatir ? oh yang benar saja.

“Yakk Cho Kyuhyun. Suami macam apa kau ini eoh ?, istrimu baru saja kecelakaan dan kau diam saja. Dilihat dari ekspresimu, kau juga baru tahu kan. Aishh dasar bocah ini.” Disaat Ahra sibuk mengomel, Kyuhyun justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Kyuhyun bergerak menuju kursi disamping Jiyeon, tatapannya tidak pernah lepas dari sosok Park Jiyeon yang tengah tertunduk dikursi. ‘Mungkinkah dia kecelakaan setelah pertengkaran kami diapartement ?’. Tuan Cho yang merasa ada yang aneh dengan sikap Jiyeon maupun Kyuhyun mencoba untuk mencairkan suasana dengan merubah topik pembicaraan.

“Tidakkah kalian lapar. Ahh, aku sudah sangat lapar. Jja kita makan. Jiyeon makanlah banyak sayuran agar kondisimu membaik.” Jiyeon mengangguk dan mulai memakan apa yang tersaji dihadapannya. Sedangkan Kyuhyun, mengalihkan pandangannya saja tidak. Kyuhyun merasa sikapnya sudah keterlaluan hingga membuat Jiyeon celaka. Memang sedari tadi yang membuatnya melamun saat berkencan adalah rasa khawatir pada Jiyeon yang tiba-tiba muncul. Akhir-akhir ini ia sulit mengendalikan pikirannya, Kyuhyun sangat ingin menyingkirkan pikiran tentang Jiyeon karena dirasa itu salah. Namun, akhirnya Kyuhyun menyerah saat Jiyeon mengabaikannya, ia merasa ada yang hilang saat Jiyeon berusaha menjauhinya. Dan ia merasa sedikit takut saat Jiyeon semakin dekat Donghae, entah apa yang ia rasakan saat ini pada Jiyeon, karena jujur Kyuhyun belum pernah merasa jantungnya bekerja diatas batas normal sebelumnya.

“Uri Kyuhyun-i, sampai kapan kau akan memandangi Jiyeon dan tidak memakan makan malammu eoh.” Saat itu juga Kyuhyun seakan tersadar dari kegiatan bodohnya. Kau melupakan 3 orang yang berada satu ruangan dengan mu Cho Kyuhyun, pabbo. Kyuhyun memperbaiki posisi duduknya dan menyantap hidangannya yang sengaja disajikan berbeda dengan yang lainnya, tanpa sayur. Sementara ketiga keluarga sibuk menertwakan Kyuhyun, Jiyeon memilih untuk mencerna apa yang dikatakan Nyonya Cho. ‘Apa maksud eommonim, Kyuhyun sejak tadi memandangku ?’.

“Jiyeon, apa kalian tadi datang bersama ?”

“Anni eommonim, aku datang bersama Donghae oppa. Kyuhyun oppa bilang akan bertemu klien penting jadi sebelumnya dia sudah mengingatkanku untuk datang kemari sendiri.”

“Kenapa tidak kau ajak dia makan malam bersama ?” tanya eomma Kyuhyun.

“Sudah aku coba tapi dia bilang ingin segera sampai dirumah dan beristirahat. Aku membuat lututnya terluka karena harus menyelamatkanku tadi. Jika saja Donghae oppa tidak ada, mungkin aku sudah dirawat dirumah sakit malam ini.”

Uhukk..Uhukkk

 

Semua perhatian yang awalnya berpusat pada Jiyeon kini beralih pada Kyuhyun disamping Jiyeon. Kyuhyun khawatir melihat wajah Kyuhyun yang memerah padam, mungkinkah ia kesakitan. Pria itu tersedak karena mendengar ceritanya. Jiyeon menyodorkan gelas minumnya pada Kyuhyun, tanpa pikir panjang Kyuhyun menerimanya dan meneguk habis isinya. Wajahnya perlahan kembali kewarna yang sewajarnya, putih pucat khas Cho Kyuhyun.

“Neo gwenchanayo oppa ?.” Kyuhyun hanya mengangguk sebagai jawaban dengan mata yang tertutup dan bersandar pada sandaran kursi. Kedua kalinya, harga diri seorang Cho Kyuhyun hancur didepan keluarganya dan Jiyeon. Memalukan kau Cho Kyuhyun.

“Ck bocah ini. Jiyeon lanjutkan ceritamu, bagaimana keadaan Donghae sekarang ?.” Jiyeon mengalihkan pandangannya kembali kearah Kyuhyun setelah sebelumnya sempat memandang Ahra dan kedua orang tua Kyuhyun. Haruskah ia melnjutkannya ? Kyuhyun tersedak karena ceritanya. Dan Jiyeon tidak mau melukai orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.

“Eonnni, oppa tersedak kaarena memdemgar ceritaku. Bisakah aku menceritakannya lain ka-”

“Lanjutkan..” Jiyeon memandang Kyuhyun yang masih memejamkan matanya dengan tatapan tak percaya. Baru saja Kyuhyun memintanya melanjutkan cerita tentang kecelakaan kecil yang menimpanya. Mungkinkah ia khawatir ?.

“ Keadaan Donghae oppa baik-baik saja sekarang. Hanya lecet kecil dilututnya. Kalian tidak perlu khawatir.”

“Lalu bagaimana dengan kakimu dan adakah yang lain selain kakimu yang terkilir ?.” kini giliran tuan Cho yang mengajukan pertanyaannya.

“Belum bisa dikatakan baik aboenim dan aku mendapat 3 jahitan disiku lengan kanan ku karena tergores.” Keterkejutan kembali menyapa keluarga Cho termasuk yang paling terkejut tokoh utama kita, Cho Kyuhyun. Separah itukah sampai harus dijahit dan Jiyeon bilang kita tidak harus khawatir. Gadis ini memang bodoh.

“Aigo uri Jiyeon.” Nyonya Cho menyuarakan simpatinya setelah sebelumnya melirik ke-siku kanan Jiyeon yang terbalut perban. “Cepat habiskan makananmu dan segera istirahat. Menginaplah disini malam ini.”

“Eommonim, aku masih kuat untuk pulang keaparement, Kyuhyun oppa harus bekerja besok. Jaraknya akan lebih dekat jika kami pulang keapartement. Jadi-”

“Kami akan bermalam disini.” Untuk yang kedua kalinya Jiyeon menolehkan kepalanya kearah Kyuhyun secepat kilatan cahaya, heran dengan sikap Kyuhyun yang menurutnya sangat aneh hari ini. Melihat Kyuhyun yang tidak menghiraukan keterkejutannya membuat Jiyeon tahu jika Kyuhyun tidak ingin ada perdebatan lagi. Entah ia harus merasa senang atau sebaliknya bermalam dirumah keluarga Cho, sudah pasti jika ia akan tidur sekamar bahkan seranjang dengan Kyuhyun. Sekalipun tak pernah terlintas dalam benak Jiyeon harus tidur disamping Kyuhyun. Perasaan senang, cemas, gugup bercampur menjadi satu dihatinya.

“Kalau begitu, eomma akan menyuruh Han ahjumma untuk membersihkan kamar Kyuhyun. Kalian lanjutkan saja makannya, kami sudah selesai makan. Dan Kyuhyun, kau tidak berpikir untuk membiarkan Jiyeon naik sendiri keatas kan.” Tanpa menunggu jawaban dari Kyuhyun yang terkejut mendengar ucapan eommanya, ketiga orang itu meninggalkan mereka berdua dimeja makan. Kyuhyun merutuki keputusannya untuk bermalam disini, niatnya bahkan baik mengingat keadaan Jiyeon namun justru ia terjebak dalam permainannya sendiri. Kyuhyun sangat tahu jika eommanya menyuruhnya untuk menggendong Jiyeon menuju kamarnya yang ada dilantai dua. Bagaimana bisa ia melakukannya, mengingat kejadian tadi pagi diapartment. Ada apa denganmu Cho Kyuhyun, kemana larinya otak cerdasmu itu.

“Gwenchana, aku bisa menaikinya sendiri. Kau tidak perlu melakukannya.” Kyuhyun tersadar dari rutukan hatinya. Menatap tajam kearah Jiyeon. Hancur sudah imagemu Cho Kyuhyun, bagaimana Jiyeon tahu jika kau berpikir untuk menggendongnya dan secara tidak langsung baru saja dia menolakmu.

“Siapa yang ingin menggendongmu. Terpikir saja tidak pernah.” Jiyeon tersenyum miris memandang Kyuhyun yang berjalan menaiki tangga meninggalkannya diruang makan. ‘ Bodoh kau Park Jiyeon. Darimana kau bisa yakin jika Kyuhyun akan menggendongmu. Sampai dunia berakhir pun itu tidak akan pernah terjadi padaku.’

Selepas menghabiskan makan malamnya Jiyeon beranjak menaiki tangga yang akan mengantarkannya kekamar Kyuhyun dilantai dua. Belum benar-benar menaikinya, bahkan satu anak tanggapun belum terlintasi. Jiyeon nampak berdiri didepan anak tangga pertama, berpikir sejenak ‘haruskah aku mamaksakan diri’, untuk berjalan tiga langkah saja kakinya benar-benar berdenyut nyeri, apalagi jika harus digunakan untuk menaiki lebih dari 15 anak tangga. Keadaan rumah sudah sangat sepi mengingat ini sudah jam orang beristirahat dan Jiyeon masih bertahan diposisi awalnya. Andai saja Donghae disini sekarang mungkin ia sudah sampai dikamar Kyuhyun sejak 5 menit yang lalu.

Akhirnya dengan tekad bulatnya, Jiyeon menaiki satu persatu anak tangga. Memberi jeda disetiap anak tangga yang berhasil ia lewati untuk meredakan nyeri dikakinya. Hingga 5 menit berlalu Jiyeon baru bisa melewati seperempat anak tangga yang ada dan gawatnya nyeri dikakinya tidak kunjung hilang dipijakan tangga ke-8. Jiyeon mendudukkan dirinya pada salah satu anak tangga, menselonjorkan kakinya disana.

“Jebal, bertahanlah sebentar lagi.” Jiyeon kembali melanjutkan perjuangannya hingga … “Omona..” tepat dianak tangga kesepuluh Jiyeon merasa tubuhnya melayang keudara. ‘Apa aku terjatuh.’ Jiyeon belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi karena ia menutup rapat matanya, pikirannya kacau antara takut dan juga lega.

Hingga ia mendengar suara pintu yang terbuka kemudian kembali ditutup dan beberapa detik setelahnya tubuhnya mendarat diatas material empuk yang ia yakini adalah sebuah ranjang. Jiyeon membuka matanya setelah sadar ia tidak sedang berkhayal. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah orang yang berhasil memporak porandakan hatinya, siapa lagi jika bukan suaminya, Cho Kyuhyun. Jarak wajah mereka terlalau dekat hingga membuat pipi Jiyeon memerah tanpa sadar dan Kyuhyun melihatnya. ‘Kyeopta.’ Tanpa sadar senyuman itu terukir diwajah tampan Cho Kyuhyun, melihat rona merah dipipi istrinya.

“Berhenti memandangku seperti itu K-kyu..hyun-ssi” refleks Kyuhyun melepas tangannya yang masih menyangga punggung Jiyeon dan menegakkan tubuhnya. Berdehem sesekali guna mengembalikan image dinginnya. “Aku akan tidur di sofa, kau kemari dan tidurlah.” Jiyeon berniat menurunkan kakinya bermaksud pindah kesofa di samping kanan ranjang.

“Tetaplah diranjang. Kita tidur bersama.” Usai menyelesaikan ucapannya, Kyuhyun bergegas naik diatas ranjang menarik selimut hingga batas pundak, menggambil satu-satunya guling yang ada dan tidur membelakangi Jiyeon.

Jiyeon hanya bisa mengerjapkan mata beberapa kali, masih belum percaya dengan apa yang baru saja Kyuhyun lakukan. ‘ Kenapa semenjak tiba, sikapnya berubah aneh seperti ini. Aku justru semakin takut melihatnya.’ . Jiyeon membaringkan tubuhnya dan dengan cepatnya ia larut dalam dunia mimpi saat dirasa sudah menemukan posisi ternyaman untuknya tidur. Sementara disisi lain, Kyuhyun tersenyum merasakan ranjangnya bergoyang menandakan Jiyeon tetap tidur diranjang. ‘Aku tidak akan berpura-bura lagi Jiyeon. Kuakui jika aku nyaman ada didekatmu.’

∞ My Married Life ∞

Hari senin. Hari yang menurut kebanyaakan orang adalah hari pembawa petaka, hari yang membuat mereka kembali keaktifitas rutin yang menyebalkan dan hari yang mengakhiri hari libur mereka. Jalanan Seoul kembali dipadati kendaraan roda empat pagi itu, salah satunya adalah mobil camero kuning yang terdapat Kyuhyun serta Jiyeon didalamnya, bergerak menuju kawasan apartement elit tempat mereka tinggal. Jiyeon sibuk dengan ponsel pintarnya dan Kyuhyun sibuk dengan kemudi mobilnya membuat suasana dimobil begitu sunyi hingga mereka tiba dibasecamp.

Kyuhyun keluar terlebih dulu dan membantu Jiyeon keluar dari mobil. Mereka berdua nampak seperti sepasang suami-istri yang sesungguhnya saat Kyuhyun menuntun perlahan Jiyeon menuju lift. Hubungan mereka sedikit membaik sepertinya. Lift bergerak cepat menuju lantai 13. Kyuhyun kembali memapah Jiyeon keluar dari lift menuju pintu apartement mereka, namun langkahnya terhenti saat dari jauh ia lihat kekasihnya -Nara- berdiri kesal didepan pintu apartmentnya. Kyuhyun melepaskan tangannya yang memegang pundak Jiyeon sebelumnya dan berjalan lebih dulu kearah Nara yang baru saja menyadari kedatangan Kyuhyun dan Jiyeon.

Jiyeon tahu ini akan terjadi, Kyuhyun hanya simpati padanya karena kecelakaan yang menimpanya, dan cepat atau lambat ia akan kembali pada Nara. Jiyeon melanjutkan langkahnya tanpa Kyuhyun disampingnya. Langkahnya masih pincang seperti kemarin, namun rasa nyeri sudah agak berkurang setelah tadi pagi eomma Kyuhyun mengurutnya.

“Ra-ah, apa yang kau lakukan ? bukankah aku sudah menghubungimu jika aku libur hari ini. Jiyeon sedang sakit, kemarin dia kecelakaan. Eomma menyuruhku untuk merawatnya.” Kyuhyun meminta pengertian dari Nara, setidaknya ia harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa Jiyeon. Kyuhyun yakin kecelakaan itu karena pertengkarannya kemarin. Dan bukankah Kyuhyun sudah bertekad untuk mengikuti perasaannya, rasa nyaman yang ia rasakan tiap kali berada didekat Jiyeon. Namun sepertinya niatnya untuk berdua dengan Jiyeon harus kandas saat Nara mengeluarkan tujuannya datang sepagi ini keapartement.

“Kalau begitu kita jaga Jiyeon bersama. Aku juga akan libur hari ini. Oppa bogoshipeo..” Nara bergerak memeluk manja Kyuhyun tepat saat Jiyeon sudah dekat dengan tempat mereka berpijak. Kyuhyun panik mendapat perlakuan cepat dari Nara, ia bahkan tidak sempat menghindar. Perasaanya mengatakan untuk menghindar, namun napsunya memintanya untuk membalas pelukan Nara. Jiyeon berusaha keras menekan sesak yang tiba-tiba menyapa hatinya, membuang pandangannya saat Kyuhyun bergerak membalas pelukan Nara.

“Kyuhyun-ssi…” Kyuhyun tertarik kembali kealam nyata setelah sebelumnya sempat terbawa terbang oleh pesona Kwon Nara, suara Jiyeon terdengar bergetar. Kyuhyun baru sadar jika Jiyeon sudah berada tepat disampingnya. “Masuklah, diluar dingin. Kau juga Nara-ssi, masuklah. Akan kubuatkan kalian minuman hangat.” Jiyeon berjalan tertatih kearah pintu yang hanya berjarak beberapa langkah lagi didepannya. Menekan kombinasi nomor yang menjadi password apartement Kyuhyun, bergerak masuk setelah pintu berhasil terbuka. Nara meraih tangan Kyuhyun dan mengajaknya masuk.

Jiyeon langsung bergerak menuju dapur untuk membuat dua gelas coklat panas. Sementara Nara menarik Kyuhyun untuk duduk disampingnya diruang tamu. Tatapan Kyuhyun sedikitpun tak terlepas dari gadis yang saat ini berusaha sekuat tenaga menggerakkan kakinya menuju dapur, ingin rasanya ia memeluk Jiyeon meminta maaf atas perilakunya selama ini. Namun semua itu hanya khayalan mengingat kekasihnya yang saat ini bersandar dipundaknya.

“Aku tahu kalau kau mulai menyukainya.” Nara membuka matanya yang sempat terpejam. Kyuhyun membeku mendengar ungkapan Nara yang langsung tepat sasaran, lagi-lagi ia ketahuan. Sejelas itukah ?.

“Apa maksudmu Ra-ah..” Kyuhyun berusaha keras menutupi kebenaran dari Nara, tapi jangan pernah panggil dia Kwon Nara jika kalian berpikir ia akan tertipu begitu mudahnya. Menjalin asmara dengan Kyuhyun selama hampir 2 tahun membuatnya tahu jika lelakinya ini telah membohonginya. Kyuhyun tidak akan pernah berani menatap tepat kemanik matanya jika ia sedang berbohong, itulah kelemahannya.

“Kau tidak bisa berbohong oppa. Tatap aku dan yakinkan aku jika ucapanku salah.” Oh Shit !!. Nara tahu kelemahannya yang tidak bisa menatap kedalam manik mata orang yang tengah ia bohongi. Bodoh kau Kyuhyun.

Nara tersenyum miris melihat Kyuhyun yang salah tingkah didepannya. Baru kali ini ia melihat Cho Kyuhyun mati kutu oleh tebakan seorang yeoja. Nara hanya menebak tentang ungkapannya tadi dan sialnya ternyata tebakannya itu menyakitkan hatinya. Ia tidak bisa begitu saja melepaskan Kyuhyun, Jiyeon harus disingkirkan.

“Aku tidak akan marah, aku juga tidak akan membiarkan perasaan itu semakin berkembang nantinya. Jadi, pikirkanlah baik-baik jika kau tidak ingin jauh dari Jiyeon.” Kyuhyun cukup tahu jika saat ini Nara tengah mengancamny dengan memanfaatkan Jiyeon. Kau benar-benar licik Kwon Nara, dan brengseknya aku yang justru menyukaimu.

“Aku sudah mendapatkan jawabanku jadi aku akan pergi sekarang.”

“Nara-ssi, kau sudah akan pergi. Minumlah dulu, agar tubuhmu lebih hangat.” Jiyeon bergerak mendekat kearah Nara dan Kyuhyun yang sudah berdiri dari duduknya. Nara terlihat mendengus kesal melihat Jiyeon yang berlagak sok akrab padanya. Namun Nara berakting menerima kebaikan Jiyeon dengan sikap ramahnya. Bukankah semua rencana akan berjalan dengan baik jika diawali dengan sandiwara.

“Oo, kurasa itu tidak begitu buruk. Kemarilah Jiyeon-ssi bergabung bersama kami.”

“Anniya, aku ingin keruang tengah. Ada reality show favoritku hari ini. Kalian lanjutkan saja.” Kyuhyun kembai didera rasa bersalah melihat Jiyeon yang lebih memilih menjauh dan membiarkan Kyuhyun berdua dengan Nara yang baru ia ketahui sangat licik. Kyuhyun melempar tatapan elangnya yang dipenuhi kilatan amarah kearah Nara yang tampak tenang menikmati coklat panasnya.

“Jangan memandangku dengan tatapan seperti itu oppa. Aku tidak suka.” Kyuhyun semakin geram dengan sikap gadis yang saat ini tersenyum licik kearahnya. Gadis yang beberapa hari lalu menjadi prioritas utamanya kini justru menjadi gadis nomor satu yang sangat ingin ia singkirkan.

“Kwon Nara, aku ingin mengakh-”

“Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hubungan denganku oppa, atau jika tidak. Dengan sangat menyesal aku harus melakukannya.” Kyuhyun tahu jika yang dimaksud Nara adalah melakukan sesuatu pada Jiyeon. Nara adalah gadis yang mengerikan, Kyuhyun kembali menangkap satu fakta baru. Nara tidak pernah mencintainya, gadis ini hanya terobsesi padanya. Tidak peduli dengan apa yang Nara lakukan, Kyuhyun beranjak pergi berniat menghampiri Jiyeon diruang tengah.

“Pikirkan baik-baik oppa, keputusan ada ditanganmu.” Kyuhyun mengepalkan jari-jari tangannya hingga kepalan itu memutih pucat. Satu yang Kyuhyun tidak suka dari dulu, diancam. Kyuhyun akan sangat membenci atau kesal pada orang yang berani mengancamnya apalagi hingga tidak bisa berkutik. Dan Kyuhyun sangat membenci moment seperti ini, ia yang tengah diancam hingga tak berkutik.

“Terserah apa yang kau katakan. Aku tidak akan takut dengan ancamanmu. Mulai besok, aku akan mencari sekertaris baru dan berhenti mengganggu rumah tanggaku dengan Jiyeon.” Nara terkejut mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Kyuhyun. Nara berpikir jika Kyuhyun sudah tidak bisa melawannya lagi setelah menggunakan nama Jiyeon sebagai jaminan, dan sekarang apa. Rencananya gagal dan sialnya ia dipecat. Oh Shit.

Nara menyambar tas selempangnya dan berlalu pergi meninggalkan apartement Kyuhyun. ‘Kau salah mencari musuh Cho Kyuhyun.’ Sementara itu, Kyuhyun bergerak cepat keruang tengah memastikan jika Jiyeon dalam keadaan baik-baik saja. Kyuhyun sudah memutuskan untuk memulai kembali semuanya dari awal. Tidak akan ada pernikahan 2 tahun, tidak akan ada surat perjanjian dan syarat-syarat terkutuk itu lagi. Semuanya akan membaik setelah ini, Kyuhyun yakin itu.

“Jiyeon kau-” Kyuhyun menghentikan ucapan serta langkahnya saat ia mendapati Jiyeon yang tengah tertidur pulas di sofa ruang tengah dengan TV yang menyala. Perlahan Kyuhyun bergerak mendekati Jiyeon dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jiyeon. Cantik, sangat cantik bahkan lebih dari Nara. Kenapa kau baru menyadarinya Cho Kyuhyun.

“Jiyeon-ah mianhae. Aku menyesal meperlakukanmu dengan buruk satu bulan terakhir ini. Bahkan aku pernah menamparmu beberapa kali hanya karena kau melakukan kesalahan kecil.” Kyuhyun mengusap pipi kiri Jiyeon yang bebas, posisi tidur yang terbaring menyamping membuat pipi kanannya terhalang. Senyuman itu terukir diwajah tampannya, tidak pernah sebelumnya ia berpikir melakukan hal seperti yang ia lakukan saat ini. Mengusap pipi, memandang wajah yeoja yang kita cintai saat ia sedang tertidur, atau mungkin mencium-..

“Menciumnya… bolehkah ?” Kyuhyun menyapukan tatapannya keseluruh lekuk wajah Jiyeon. Mulai dari dahi, mata coklat yang terpejam, hidung yang tidak terlalu mancung, pipi yang selalu memerah saat Jiyeon tersipu malu, dan terakhir pandangannya terkunci pada bibir merah cherry yang kemarin mengutarakan ungkapan bahwa Jiyeon mencintainya. Mengingat insiden itu membuat Kyuhyun kembali merasa sesak mengingat Jiyeon yang menangis tepat dihadapannya. Mulai hari ini Kyuhyun berjanji tidak akan pernah membuat Jiyeon menangis, ia akan melakukan apa saja asal Jiyeon bahagia bersamanya.

Jiyeon mengerjapkan matanya saat terus merasakan hembusan napas yang menerpa wajahnya. Mata coklat bening itu membulat melihat Kyuhyun yang tengah memperhatikannya dengan jarak yang hampir terkikis. Kyuhyun sengaja bertahan diposisinya guna memanjakan matanya menatap karya Tuhan yang kini juga tengah menatap tepat kebola matanya. Sempurna.

“Kyu-kyuhyun ssi ap-apa yang kau lakukan ?” Kyuhyun bergerak menjauh dan tersenyum tulus kearah Jiyeon. Jiyeon mengerjapkan matanya berkali-kali, benarkah Kyuhyun tersenyum padanya barusan. Apakah ini hanya mimpi, jika benar tolong jangan biarkan aku terbangun. Jebal.

“Bagaimana keadaanmu Jiyeon-ah ?”

“Su-sudah lebih baik Kyuhyun-s-”

“Oppa, panggil aku oppa Yeon-ah. Itu terdengar lebih baik.” Untuk kesekian kalinya Jiyeon benar-benar memohon jangan membiarkan ia terbangun dari mimpi terindah ini. Perlakuan seperti ini tidak akan pernah ia dapatkan didunia nyata. Jiyeon berusaha bangkit dari posisi tidurnya, namun ia merasa nyeri dikaki kanannya dan juga perih disiku lengan kanannya yang terbalut perban. Aneh, bukankah kita tidak bisa merasakan sakit jika kita bermimpi tapi kenapa…

“Kau tidak bermimpi Yeon-ah. Kau bahkan sudah terbangun dari tidurmu, bagaimana kau bisa bermimpi eoh ?.” Kyuhyun terkekeh melihat ekspresi bingung yang Jiyeon keluarkan, membuatnya terlihat menggemaskan dan Kyuhyun ingin sekali mencubit kedua pipi yang memerah itu. Jiyeon mengalihkan pandangannya kearah Kyuhyun, meminta penjelasan atas apa yang ia alami barusan. Perhatian, sikap manis, dan lembut dari Kyuhyun, ia butuh penjelasan tentang semua itu.

Sadar akan tatapan Jiyeon yang mengisyaratkan meminta penjelasan membuat Kyuhyun mengatur napasnya dan meyakinkan hatinya bahwa inilah saatnya. “Ayo kita mulai semua dari awal Jiyeon-ah. Kita bangun rumah tangga kita, hidup bahagia bersama anak-anak kita nantinya. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Nara. Aku sadar jika dihatiku tidak lagi ada nama Kwon Nara, aku baru menyadari jika nama itu sudah terhapus sejak kau mulai mengacuhkanku. Dan selamat, kau telah berhasil mengukir namamu dihatiku Cho Jiyeon.”

Jiyeon membekap mulutnya menahan sesuatu yang ingin keluar dari pelupuk matanya. Benarkah yang ia dengar barusan. Benarkah Kyuhyun mengucapkan semua kata-kata yang menyentuh hatinya, membuat hatinya menghangat. Benarkah… terlalu banyak hal yang sulit ia percaya. Mimpi apa ia semalam, hingga Kyuhyun mengajaknya membangun rumah tangga yang ahrmonis dan bahagia bersama anak-anak mereka nanti. Jiyeon merasa menjadi wanita paling beruntung hari ini.

Jiyeon mengangguk tanpa ragu. Air matanya meluncur seiring dengan senyuman yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Jiyeon benar-benar bahagia saat ini, ia bersyukur pada Tuhan yang telah membuatnya bertahan disisi Kyuhyun sampai saat ini. Jujur, setelah bertemu dengan Donghae, ia sempat berpikir untuk menyerah dengan Kyuhyun. Entah apa yang ia pikirkan saat itu sampai ia berpikir untuk menjalin hubungan dengan Donghae. Pikirannya sedang kacau kala itu.

“Maaf atas sikapku selama ini. Aku berbuat terlalu kasar padamu, meyakiti hatimu terlalu dalam. Mianhae Yeongie.” Kyuhyun mengangkat tubuhnya untuk duduk datas kursi disamping Jiyeon. Mengusap air mata yang mengalir dipipi Jiyeon, bukankah ia sudah berjanji untuk tidak membuat Jiyeon menangis. Kyuhyun menarik tubuh Jiyeon kedalam pelukannya, sudah lama ia ingin melakukan ini namun rasa gengsinya terlalu tinggi. Tapi sekarang semua bukan lagi masalah, ia tidak peduli lagi dengan harga dirinya jika itu menyangkut istrinya. Satu lagi fakta yang ia tangkap hari ini, Kyuhyun benar-benara mencintai istrinya, Cho Jiyeon.

∞ My Married Life ∞

Keesokan harinya, 08.00 KST

 

Hiruk pikuk kota Seoul dapat dirasakan kembali oleh Jiyeon setelah sehari mengambil cuti untuk memulihkan kakinya. Pagi ini semuanya membaik, kakinya sudah dapat digunakan untuk berjalan sebagaimana mestinya hanya tinggal menunggu luka jahitan yang belum mengering sempurna. Tidak hanya keadaanya yang membaik tapi juga hubungannya dengan Kyuhyun berangsur membaik melebihi apa yang ia perkirakan. Mulai dari mereka yang tidur seranjang dikamar Kyuhyun, sarapan pagi bersama dengan disertai perbincangan hangat bukan lagi pertengkaran seperti sebelum-sebelumnya. Dan saat ini Kyuhyun mengantarnya berangkat bekerja kekantor Donghae. Jiyeon sudah menolaknya tapi Kyuhyun bersikeras mengantarnya, apa boleh buat jika sudah begini. Tidak banyak yang mereka bicarakan dimobil selama dalam perjalanan, hingga mereka sampaipun yang dilakukan hanya diam didalam mobil.

1 menit

2 menit

3 menit

4 menit

5 menit sudah mereka sampai didepan gedung Lee Company dan masih belum ada yang berani mengeluarkan suara. Jiyeon menunduk diam sambil sesekali melirik Kyuhyun lewat ekor matanya. Tidak beda jauh dengan Kyuhyun yang merasakan atmosfir canggung disekililingnya, bahkan untuk menoleh kearah Jiyeon-pun ia tidak punya nyali.

“Ekhem..ki-kita sudah sampai.” Akhirnya Kyuhyun memberanikan diri membuka suara lebih dahulu meskipun gugup diawal. Jiyeon memberanikan diri menatap Kyuhyun yang kini juga menatapnya, mata mereka bertemu namun dengan cepat Kyuhyun membuang tatapannya kearah lain. ‘Ini bahkan lebih sulit daripada memenangkan game.’

“Gomawoyo op..pa. Aku turun sekarang, kau berhati-hatilah.” Jiyeon melepas safebeltnya bersiap membuka pintu. Kyuhyun membuang napas kecewa,memandang Jiyeon yang sudah membelakanginya ‘Hanya itu..’. Namun, tanpa diduga dan terbayangkan sebelumnya, Jiyeon berbalik dan megecup kilat pipi Kyuhyun. “Saranghae..”

DUARRR…

 

Hatinya meledak didalam sana. Ia tidak salah dengar kan, ‘Saranghae’ satu kata yang mampu menjungkir balikan hatinya bahkan meledakannya, menumpahkan lautan bunga yang tumpah ruah didalam tulang rusuknya. Senyuman itu muncul bersamaan dengan Jiyeon yang bergerak turun dari mobil sedangkan Jiyeon merasakan wajahnya kini memanas, ia yakin jika saat ini pipinya tengah memerah semerah tomat.

“Nado Saranghae Cho Jiyeon..” Kyuhyun menyembulkan kepalanya keluar lewat jendela pintu mobil yang tadi dilewati Jiyeon, membalas ungkapan Jiyeon sebelumnya dan itu membuat wajah Jiyeon semakin memanas. Kyuhyun menyalakan mesin mobilnya dan bergerak perlahan meninggalkan Jiyeon yang masih berdiri sambil melambaikan tangannya di teras gedung Lee Company.

‘Ini awal kita Jiyeon, awal kehidupan kita bersama. Aku berjanji akan terus membuatmu tersenyum dan menebus semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu. Mianhae chagi, Saranghae. Jeongmal Saranghaeyo Cho Jiyeon.’

 

 

ᴥ To Be Continue ᴥ

Andalan
Diposkan pada married life, SAD

My Married Life part 2

kyu10576958_447973365344584_4864755540044269272_n

Title : My Married Life

Author : LinaElf144

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Park Jiyeon (Cho Jiyeon)

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Kwon Nara

Genre : Angts , little NC , married life, temukan sendiri.

SELAMAT MEMBACA

Malam semakin larut dan angin malam pun semakin berhembus kencang menerpa korden jendela kamar gadis yang masih terjaga didalamnya. Sejak pulang dari pesta tepatnya sejak pertemuannya dengan Donghae, pikirannya terganggu.

 

‘Mungkinkah dia Donghae yang kukenal dulu ?’

Pertanyaan itulah yang mendominasi otaknya saat ini. Melihat sikap dan perilaku Donghae yang baru dua kali bertemu dengannya tanpa sengaja, sangat tidak mencerminkan Lee Donghae yang ia kenal dulu. Tapi setelah mendengar penjelasannya tadi, membuat Jiyeon berpikir untuk yang kedua kalinya. Ditambah lagi mengingat reaksi Kyuhyun saat sengaja Donghae menggodanya dengan memanfaatkan Jiyeon. ‘Mungkinkah Kyuhyun cemburu ?’.

“Molla..” Jiyeon mendesah frustasi dengan semua hal yang ia pikirkan. Semuanya seperti benang kusut yang menyumbat kerja otaknya.

 

FLASHBACK ON

“Jadi kau sudah menikah. Ahh..sayang sekali. Padahal aku berniat menikahimu tahun depan”

“Lee Donghae-ssi”

“Sepertinya aku mengingatmu”

“Nde ?”

Donghae menunjukkan wajah seriusnya sebelum mengeluarkan kata-kata untuk menghilangkan rasa penasaran Jiyeon.

“Aku tidak yakin. Tapi sepertinya aku familiar dengan nama dan wajahmu. Sejak kita bertemu di minimarket, potongan-potongan memori itu selalu muncul di ingatanku. Wajah gadis yang ada di ingatanku sama persis denganmu hanya saja dia masih mengenakan seragam sekolah. Dan kita (Donghae dan gadis yang ada di ingatannya) sekolah di tempat yang sama. Paran High School.”

“Paran High School ?” Donghae hanya mengangguk dan menggumam sebagai jawabannya.

“Apa kau…amnesia ?” Jiyeon nampak ragu untuk menanyakan hal se-privasi itu namun karena rasa penasarannya ia pun memberanikan dirinya. Dan jawabannya benar-benar membuatnya tercengang.

“Hmmm, 1 tahun yang lalu saat aku pulang dari Jerman mobil ku mengalami kecelakaan. Aku koma selama 2 bulan dan setelah sadar aku mengalami amnesia. Sebagian memori terpentingku hilang, itulah yang dijelaskan dokter padaku. Dan sepertinya salah satunya adalah gadis yang mirip denganmu itu.” Jiyeon semakin bimbang. Benarkah lelaki ini adalah Lee Donghae yang pernah ia kenal.

 

‘Dongahe-ah, benarkah ini kau. Jujur aku berharap kau benar-benar Lee Donghae yang kukenal.’

“Mungkinkah kau gadis yang sama dengan yang ada di pikiranku Jiyeon-ssi ?”

“Mungkinkah kau Lee Donghae yang pernah kukenal dulu?”

“Entahlah, aku tidak yakin.”

Sesaat hanya helaan napas yang terdengar. Donghae memilih menikmati bintang-bintang yang tersebar di atas kepalanya. Sedangkan Jiyeon, ia termenung memikirkan semua kemungkinan yang ada. Hati kecilnya berkata bahwa lelaki yang ada dihadapannya sekarang adalah orang yang sama dengan 5 tahun yang lalu. Terbukti dia juga ber-sekolah di Paran High School, sekolah yang sama dengan Jiyeon. Terlepas itu bohong atau tidak yang pasti Jiyeon harus memastikannya. Namun belum sempat ia mengeluarkan kata-katanya untuk kembali mengorek informasi dari Donghae, suara yang sangat familiar di telinganya selama kurang lebih 1 bulan membuatnya mengurungkan niatannya untuk kembali memulai percakapan.

“Hahh, ternyata kau disini adik ipar. Eoh, Donghae kau juga disini. Apa yang kalian lakukan?” Ahra datang dengan segala macam pertanyaannya.

“Adik ipar ?.” sesaat Donghae bingung dengan panggilan yang Ahra tujukan pada Jiyeon namun detik berikutnya ia sadar siapa gadis yang hampir 30 menit menemaninya ini adalah istri Kyuhyun.

“Jadi kau istri bocah setan itu. Wahh, ternyata benar dugaanku. Pantas saja bocah itu enggan menunjukkan istrinya didepanku. Pasti dia takut istrinya yang cantik ini terpesona padaku.” mendengar pujian Donghae sebagai gadis normal tentu saja Jiyeon tersipu malu.

“Mwoya Ige ?. Pipimu merah eoh.” Jiyeon semakin menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah tomat. Beruntung di sekitar mereka keadaan tidak begitu terang.

“Kajima..kajima Hae-ah. Kyuhyun bisa marah jika tau kau menggoda istrinya. Lebih baik kita masuk sekarang, udara diluar semakin dingin. Jja Jiyeon-ah.”

“Eonni..” Ahra menghentikan langkahnya mendengar panggilan Jiyeon begitu pula Donghae.

“Wae Yeon-i ?”

“Emmm, tadi kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya berbincang dan berkenalan itu saja. Jadi eonni jangan salah paham nde.!”

“Aku tahu. Sudahlah ppali.” Jiyeon berjalan beriringan dengan Ahra tepat di depan Donghae yang mengikuti di belakang. Tepat di depan pintu ruangan pesta mereka melihat Kyuhyun yang tengah berdiri tegap dengan kedua tangan yang bersembunyi dibalik saku celananya.

“Darimana saja kau ?” pertanyaan itulah yang langsung didapat Jiyeon saat mereka mulai dekat dengan Kyuhyun.

“Mian oppa, aku hanya mencari udara diluar sebentar.” Kyuhyun tak berniat menanggapi jawaban Jiyeon dan beralih memandang Donghae yang ada di belakang mereka.

“Hyung, kenapa kau datang bersama mereka. Seingatku aku hanya meminta Ahra noona untuk mencari Jiyeon.” Bukannya menjawab Donghae justru berjalan maju mendekat kearah Jiyeon dan berhenti tepat disampingnya.

 

SRET.

“Donghae-ssi apa yang kau lakukan eoh ?. Lepaskan.” Jiyeon membelalakan matanya ke arah Donghae yang merangkul pundaknya. Sedangkan Ahra hanya menggelengkan kepala kemudian berlalu meninggalkan ketiganya di depan pintu.

“Jadi ini nyonya Cho yang berusaha kau sembunyikan itu eoh ?. Aku akui dia cantik, sangat cantik. Jika saja aku yang bertemu dengannya lebih dulu mungkin aku langsung menikahinya di hari pertama kami bertemu.” Jiyeon hanya menundukkan kepalanya setelah mendapati tatapan mata Kyuhyun yang menusuk kearahnya.

“Bukan maksudku menyembunyikannya hyung, hanya saja dia tidak begitu suka keramaian.” Kyuhyun menjawab dengan volume rendah namun penuh ketegasan.

“Hey bocah setan. Apa kau tidak marah atau cemburu aku memeluk istrimu seperti ini, suami macam apa kau ini. Kenapa nada bicaramu terkesan tak peduli.” Jiyeon baru sadar. Ya, nada bicara Kyuhyun sama sekali tidak menyiratkan seseorang yang tengah marah atau cemburu. Semuanya terkesan biasa, sangat biasa.

“Untuk apa aku cemburu pada hyung-ku sendiri. Sudahlah hyung, aku lelah. Jiyeon jja kita pulang.” Kyuhyun berlalu begitu saja setelah mengajak Jiyeon untuk bergegas pulang tanpa menunggu Jiyeon yang masih ada di rangkulan Donghae.

“Hey bocah setan, istrimu masih disini eoh. Aishh anak itu.” Donghae melepas rangkulannya di pundak Jiyeon. “Mian, aku hanya bercanda tadi.” Jiyeon mendongak menatap Donghae dan saat itulah tatapan mata mereka bertemu.

 

DEG

“Gwenchana, maaf atas perkataan Kyuhyun tadi. Kalau begitu aku permisi. Annyeong.” Jiyeon berlalu meninggalakan Donghae yang terpaku ditempatnya.

 

‘Ada apa ini ?. Apa aku terkena serangan jantung ?. Tidak mungkin, aku tidak pernah punya riwayat penyakit jantung. Lalu kenapa jantung ini berdegup di atas normal ?.’

Donghae menatap punggung Jiyeon yang mulai menjauh, ada rasa tak rela yang hinggap dihatinya.

“Sadar Lee Donghae. Dia istri adikmu.” Donghae menggelengkan kepalanya saat tiba-tiba pusing melandanya.

“Akhhh…” Donghae merogoh kantung jasnya mencari sesuatu yang dapat menghilangkan pusing-nya. Donghae cukup tahu jika pusing ini berhubungan dengan amnesianya. Setelah menemukan obat pereda, Donghae memutuskan untuk segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya terutama pikirannya yang sejak satu jam yang lalu terdominasi oleh Jiyeon. Park Jiyeon.

 

FLASHBACK END

Keadaan Donghae juga tidak jauh berbeda dengan Jiyeon. Entah kenapa malam ini ia sulit tidur walaupun Donghae sudah berbaring sejak 1 jam yang lalu. Yang ia lakukan hanya berguling-guling di atas tempat tidur dan sesekali mencoba memejamkan matanya walaupun hasilnya nihil.

“Gila. Kau gila Lee Donghae. Kenapa kau selalu memikirkan Park Jiyeon.” Donghae kembali memejamkan matanya dan didetik berikutnya mata coklat itu kembali terbuka.

“Apa yang kau lakukan padaku Park Jiyeon. Mata itu, senyuman itu, lembut suaranya. Ahhh lupakan..lupakan..lupakan.” Donghae membenamkan tubuhnya dibalik selimut. Berusaha memejamkan mata untuk yang kesekian kalinya dan untuk kali ini ia berhasil berpetualang menembus pulau mimpi.

∞ My Married Life ∞

1 Minggu Kemudian

Suara sendok dan garpu yang berbenturan melawan piring terdengar sangat jelas di ruang makan sebuah apartement berbintang milik Cho Kyuhyun. Seperti inilah kehidupan pernikahan mereka, selalu diisi dengan kesunyian, pertengkaran , dan tangisan Jiyeon. Kata bahagia, harmonis, tentram tidak akan pernah ada di kamus kehidupan mereka. Ralat, tepatnya di kamus kehidupan seorang Cho Kyuhyun karena sejujurnya kata-kata itulah yang tertulis dikamus hidup Jiyeon di halaman paling depan semenjak ia menikah. Mungkin jika dilihat dengan mata telanjang, sikap dan impian mereka sangat bertolak belakang mustahil jika mereka berjodoh. Keundae, jika takdir berkata lain apa yang bisa kita lakukan.

“Kyuhyun-ssi, ada yang ingin aku bicarakan.”

“Bicaralah.” Jiyeon nampak ragu dan takut untuk mengatakannya. Takut jika Kyuhyun akan marah padanya.

“Ak-aku ingin bekerja.” Kyuhyun melempar sendok dan garpunya hingga menimbulkan suara benturan yang begitu keras menggema memenuhi ruang makan. Benar dugaan Jiyeon, Kyuhyun marah.

“Kyuhyun-ssi dengarkan penjelasanku dulu.” Jiyeon terlalu takut untuk mendongakkan kepalanya menatap Kyuhyun. Mata coklat elang itu terlalu menakutkan jika sedang marah.

“Apa uang yang kuberikan terlalu kecil ?.” kali ini tidak ada teriakan namun tersirat jelas nada penuh emosi yang tertahan disetiap katanya.

“Anni. Jeongmal anniya. Uang yang kau berikan sudah lebih dari cukup. Aku hanya ingin mengejar impianku menjadi seorang penulis.” Kyuhyun beranjak dari duduknya menyambar jas dan tas kerjanya bersiap untuk melangkahkan kakinya namun sebelum itu.

“Dengar Park Jiyeon. Aku sudah tidak peduli dengan semua yang berhubungan denganmu. Terserah apa yang ingin kau lakukan. Jangan pernah berpikir untuk membaginya denganku. Ada hal yang jauh lebih penting dari pada kau.” Seakan terhempas ke dasar jurang yang dipenuhi dengan ribuan tombak yang siap menusuk tubuhnya. Sesakit itulah hati Jiyeon mendengar pernyataan Kyuhyun.

 

‘Ada hal yang jauh lebih penting dari pada kau.’

Kalimat terakhir itu begitu menyayat relung hatinya, membuat lubang yang belum kering kembali tersayat habis. Sakit sekali. Sialnya kalimat itu terus berputar dikepalanya hingga membuat pandangannya terhalang cairan bening yang siap meluncur kapan saja.

“Secara tidak langsung kau bilang, aku tidak berarti untukmu oppa.” Seiring dengan kalimatnya, cairan itu meluncur dari mata coklat indah milik Jiyeon melintasi pipi putihnya.

“Hiks…hiks…hiks…hentikan oppa..hiks…jebalyo. Berhenti menyakitiku hiks..Aku tidak ingin membencimu dikemudian hari. Jebalyo oppa hiks..” hingga akhirnya Jiyeon menangis sepanjang hari di apartement. Lalu bagaimana dengan Kyuhyun ?.

***

Setibanya dikantor, seperti biasa Kyuhyun akan langsung menuju ruang kebesarannya. Namun ada yang berbeda dengannya hari ini. Entah kenapa semenjak ia keluar dari apartement, pikirannya selalu tertuju pada Jiyeon. ‘Apa kata-kataku tadi terlalu menyakitkan?’. Hingga ia duduk di kursi singgasananya yang baru ia dapatkan 1 minggu yang lalu, bayang-bayang Jiyeon yang menangis selalu berputar di kepalanya seperti role film.

Merasa gusar reflek Kyuhyun mengacak rambut coklat yang sudah tertata rapi sebelumnya. Menghasilkan style rambut yang acak-acakan namun tidak mengurangi sedikitpun kadar ketampanan seorang Cho Kyuhyun. Hingga suara ketukan pintu pun terdengar memecah keheningan ruang CEO Cho Corp tersebut. Kyuhyun mendongakkan kepalanya menatap yeoja yang tengah berdiri tepat di ambang pintu. Sepersekian detik kemudian sudut bibir itu tertarik keatas membentuk senyuman khas seorang Cho Kyuhyun.

“Annyeong tappeunim. Boleh aku masuk ?” yeoja yang diketahui sebagai sekertaris pribadi Kyuhyun tersenyum cerah sambil melangkahkan kaki jenjangnya mendekati meja CEO tampan di depannya.

“Mwoya ige eoh ?” terdengar kekehan kecil keluar dari mulut Kyuhyun. Kejadian langka melihat Kyuhyun tertawa seperti saat ini, mengingat kepribadiannya yang terkenal sangat dingin dan cuek. Namun lain halnya jika sudah berada dihadapan sekertarisnya. Kwon Nara. Satu-satunya gadis yang beruntung dapat melihat senyuman bahkan kekehan Kyuhyun. Bahkan Cho Ahra sekalipun tidak pernah melihat kesempatan langka ini.

“Jika kau terganggu tidak apa. Aku akan kembali saat jam makan siang nanti.” Nara bersiap membalik tubuh rampingnya berniat keluar namun niatnya terhenti saat tangan Kyuhyun mencekal pergelangan tangannya.

“Wae chagiya. Kau merindukanku eoh ?” Nara melempar senyum manisnya bersamaan dengan tubuhnya yang beringsut mendekati Kyuhyun. Berdiri tepat dihadapan Kyuhyun, mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun.

“Aku sulit bertemu denganmu semenjak kau menikah. Salahkah jika aku merindukan kekasihku sendiri. Jika aku merindukan manajer Lee baru itu bisa dibilang kesalahan.” Kyuhyun terkekeh mendengar ungkapan Nara kekasihnya. Alasannya menolak keras perjodohannya dengan Jiyeon.

“Arrata, kau ingin kita berkencan malam ini ?.” Nara tampak berpikir, mencoba mengingat apakah ia ada acara malam ini.

“Geurae, ayo kita berkencan. Kebetulan semua pekerjaanku sudah aku selesaikan kemarin hanya untuk berjaga-jaga jika kesempatan seperti ini terjadi.”

“Kau memang penuh perhitungan Nona Kwon Nara.” Nara mengerucutkan bibirnya mendengar penuturn Kyuhyun, namun tersirat ide jahil di otaknya. Nara mencodongkan wajahnya semakin mendekat kewajah Kyuhyun. Tidak ada ekspresi terkejut ataupun gugup diwajah keduanya.

“Justru itu lah daya tarik seorang Kwon Nara. Bukankah begitu taeppunim ?” Kyuhyun menampakan smirk andalannya. Menjalin hubungan asmara dengan Cho Kyuhyun selama kurang lebih satu tahun membuatnya cukup tahu arti smirk yang dikeluarkan Kyuhyun. ‘Kau berhasil Nara.’

Kyuhyun bergerak cepat meraup bibir ranum nan mungil milik Nara, melumatnya intens hingga menimbulkan suara-suara decakan khas ciuman memenuhi ruangan petinggi Cho Corp pagi itu. Lidahnya dengan lihai mengabsen setiap deret gigi putih Nara, dan sesekali melakukan perang lidah dengan Nara. Ciuman itu dirasa semakin panas saat tangan Kyuhyun bergerak lihai meraba pinggang Nara menelusup kedalam kemeja putih yang ia Nara kenakan.

“Eungghhh..” lenguhan Nara lolos seketika tangan Kyuhyun merangkak naik kearah dada sintal Nara.

“Apa hari ini ada rapat ?” Kyuhyun melontarkan pertanyaan kepada Nara sebagai sekertaris pribadinya. Dengan nafas yang tersengal karena permainana yang mereka lakukan Nara menjawab.

“Anni, wae ehm..?” Nara kembali menggoda Kyuhyun denagn mengusap berulang kali dada Kyuhyun yang masih tertutup kemeja biru gelapnya. Posisinya yang berada di pangkuan Kyuhyun memudahkan Kyuhyun untuk melakukan apapun yang ia inginkan pada tubuh Nara. Sebagai lelaki normal tentu gairahnya akan tersulut melihat Nara yang dikenal karyawan ter-Sexy di kantornya yang tak lain adalah kekasihnya sendiri kini tengah menggodanya.

Tanpa menjawab pertanyaan Nara, Kyuhyun dengan cepat mengangkat tubuh ramping Nara ala bridal style kearah pintu yang akan mengantarkannya kesebuah ruang yang biasa Kyuhyun gunakan untuk mengistirahatkan tubuhnya jika ia sedang lembur dikantor. Membuka pintu dan menidurkan Nara diatas ranjang king size ditengah ruangan yang lebih terlihat seperti kamar pribadi itu. Kyuhyun berbalik kearah pintu yang masih terbuka,menutup dan memutar kuncinya dari dalam.

Kyuhyun melangkah mendekati Nara yang tengah berbaring diatas ranjang. Tangannya bergerak melepas dasi yang sebelumnya terpasang rapi dilehernya. Membuka 2 kancing teratas dan merangkak keatas ranjang, berhenti tepat saat tubuhnya berada diatas tubuh Nara. Sedetik kemudian dengan brutal Kyuhyun menyambar bibir Nara yang agak membengkak akibat ciuman mereka sebelumnya. Tangannya berhasil membuka blazer yang Nara kenakan dan menjatuhkannya kebawah ranjang. Untuk yang kesekian kalinya Kyuhyun kembali berulah dengan melepas satu persatu kancing kemeja Nara memperlihatkan dua gundukkan yang masih tertutup satu kain penghalang lagi. Nara melenguh keras saat Kyuhyun meraup buah dadanya dengan tempo yang menggila. Seakan tidak ada lagi hari esok untuk bercinta dengannya.

Beberapa menit kedepan, pakaian yang dikenakan Nara sudah terkulai dilantai. Bebeda dengan Kyuhyun yang hanya menanggalkan kemejanya saja. Seperti biasa Kyuhyun hanya akan bercinta dengan Nara sebatas ini saja tidak sampai merebut keperawanan Nara. Walaupun ingin namun Kyuhyun masih menggunakan akal sehatnya saat bercinta. Bagaimana jadinya jika Nara hamil akibat ulahnya. Bagaimana nasib orang tuanya, dan bagaimana jadinya perasaan gadis yang kini tinggal dengannya ?.

‘Tunggu.. apa barusan aku kembali memikirkannya..??” Kyuhyun menghentikan aktivitasnya yang tengah menikmati dua gundukan Nara sekaligus tanggannya yang bergerak aktif didalam miss V Nara seketika terhenti hanya karena satu nama yang tiba-tiba muncul dikepalanya. Park Jiyeon. Nara yang hampir sampai klimaks terpaksa harus menelan kekecewaan saat gerakan jari-jari Kyuhyun terhenti didalam pusat wanitanya.

“Wae eoh ?. Ada sesuatu yang kau lupakan oppa ?.” Nara meraba dada Kyuhyun yang terekspos tepat dihadapannya. Merasakan kehangatan yang melekat didada Kyuhyun yang bidang. Tidak ada jawaban yang terdengar dari mulut Kyuhyun. Nara kembali menelan kekecewaan saat tiba-tiba Kyuhyun turun dari ranjang dan kembali mengenakan kemejanya yang sempat terbengkalai dilantai. Nara heran, tidak biasanya Kyuhyun meninggalkannya seperti ini walaupun ada rapat yang mendesak sekalipun.

“Oppa eoddiga ?. Oppa..Kyuhyun oppa eoddiga eoh ?.” Nara berteriak berharap Kyuhyun akan menghentikan langkahnya yang berjalan menjauhi ranjang menuju pintu yang tadinya ia kunci. Nara sedikit merasa lega saat Kyuhyun berhenti sejenak saat pintu telah terbuka. Setidaknya Kyuhyun tak melupakannya.

“Aku ada janji dengan Donghae hyung. Rapikan penampilanmu sebelum keluar. Aku pergi.” Nara kembali menelan kekecewaan untuk yang kesekian kalinya hari ini dan jujur baru kali ini ia kecewa karena Kyuhyun. Setelah satu minggu lebih mereka sulit bertemu tepatnya setelah Kyuhyun menikah dan sekarang, hari ini mereka baru bisa melepas rindu dan mengungkapkannya dengan bercinta namun dengan mudahnya Kyuhyun meninggalkannya setelah sukses membuatnya full naked. ‘Kau benar-benar terlihat seperti wanita murahan Kwon Nara’.

 

∞ My Married Life ∞

Lee Company, 10.15 KST

 

Dengan gugup Jiyeon melangkahkan kakinya memasuki ruang petinggi Lee Company. Aneh memang, jika dipikir ulang. Untuk apa ia dipanggil langsung oleh CEO perusahaan tempatnya akan bekerja, ingat AKAN bukan sudah. Bahkan ia baru mendapat panggilan dari perusahaan ini tadi pagi-pagi sekali setelah pengajuannya 2 hari yang lalu. Mungkinkah ia akan dimarahi karena datang terlambat, atau dia akan diminta menandatangani surat kontrak kerja ?. ‘Molla’.

Jiyeon meremas jari-jarinya hingga memerah menunggu sekertaris presedir mempersilahkannya masuk ke ruang CEO. Bahkan wajahnya kini meutih pucat akibat terlalau gugup. ‘Apa presedirnya memiliki wajah yang garang dan mata yang tajam seperti Kyuhyun ?. Atau mungkin presedirnya adalah orang yang sudah berumur lanjut dan berhati lembut ?. Pemikiran kedua lebih baik.’.

“Nona Park, anda udah boleh masuk.” Jiyeon melangkahkan kakinya mendekati pintu yang akan mempertemukannya dengan sang presedir. Jujur, seluruh tubuhnya terasa gemetar. Dengan sangat hati-hati Jiyeon mengangkat tangannya memegang knop pintu. Napasnya kembali berhembus bersamaan dengan terbukanya pintu. Luas. Jiyeon melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang teramat luas tersebut mendekati meja yang terdapat tulisan Presedir Lee Company diatasnya. Rasa kagumnya pada ruangan ini sedikit membuat gugupnya hilang, Jiyeon memang pernah mengunjungi Tuan Park di kantor miliki keluarga Park, namun ruangan milik ayahnya tidaklah seluas ruangan CEO milik Lee Company tempatnya akan bekerja.

“Annyeonghaseyo. Jeoneun Park Jiyeon inmida.” Jiyeon mengenalkan dirinya perlahan-lahan. Belum dapat dipastikan apakah CEO nya ini sesuai dengan salah satu pemikirannya tadi karena posisi CEO yang duduk membelakanginya. Terdengar CEO itu bergumam menerima perkenalan Jiyeon. Sesaat setelah itu Kiyeon dipersilahkan duduk hanya dengan gerakan jari yang menunjuk kursi kosong didepan Jiyeon. ‘Tidak bisakah dia berbalik. CEO macam apa dia. Tidak sopan.’ Jiyeon menggerutu sambil bergerak mendudukkan tubuh rampingnya ditempat yang disediakan.

“Jwesonghamnida taeppunim, keundae sampai sekarang anda belum memperkenalkan diri anda. Suatu kehormatan bagi saya jika anda berkenan mengenalkan nama anda.” Tidak ada respon. Jiyeon semakin jengkel dengan sosok presedir yang sangat dihormati oleh seluruh karyawan Lee Company ini. Rasa gugupnya hilang seketika berganti dengan geram dan emosi yang lebih mendominasi. Hening. Kedua manusia itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Setelah dirasa cukup lama, Jiyeon pun mengeluarkan kata-katanya memecah keheningan.

“Jwesonghamnida taeppunim, jika tidak ada yang ingin anda bicarakan saya mohon undur diri. Annyeong.” Jiyeon beranjak dari duduknya menuju pintu keluar bersiap memutar knop pintu sebelum langkahnya kembali terhenti tatkala menedengar suara sang presedir yang memintanya untuk berhenti.

“Chamkaman.” Jiyeon memutar tubuhnya, kesabarannya sudah diujung tanduk. Namun, matanya membola mendapati siapa presedir yang membuat emosinya memuncak. Dengan gusar Jiyeon melangkah maju kembali mendekati meja. Menelisik secara teliti wajah orang yang ada dihadapannya memastikan jika saat ini ia tidak sedang berkhayal. Jiyeon kembali menegakkan tubuhnya saat dirasa ia memang sedang tidak berkhayal pagi itu.

“Terkejut Nona Park Jiyeon yang tidak sabaran.” Dengan tampang innoncent nya lelaki yang dipanggil taeppunim itu melangkah mendekati Jiyeon yang masih terkejut. Dunia memang sempit.

“Neo ?. Apa yang kau lakukan disini ?. Dan kenapa kau ada di kursi itu ?.” Jiyeon melemparkan semua pertanyaan yang tersimpan dibenaknya semenjak mengetahui orang yang duduk dibalik kursi kebesaran CEO Lee Company. Bukan jawaban yang didapat Jiyeon melainkan anggukan dari CEO seolah bicara ‘benar, aku lah CEO Lee Company’.

“Sudah cukup terkejutnya. Sebentar lagi jam makan siang. Jja kita pergi, ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu.” Tanpa menunggu jawaban dari Jiyeon, lelaki itu sudah menariknya terlebih dulu.

“Ya, Lee Donghae apa yang kau lakukan eoh. Lepaskan, hey Lee Donghae.” Jiyeon terus mencoba melepaskan genggaman Donghae dipergelangan tangannya. Namun apa boleh buat, kekuatan lelaki jauh lebih besar dari wanita. Dengan berat hati Jiyeon menuruti ajakan Donghae untuk makan siang. Toh, tidak rugi juga kan.

∞ My Married Life ∞

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.10 KST, Jiyeon terlihat mondar-mandir di-lobi apartement menanti Kyuhyun yang belum pulang. Tidak biasanya Kyuhyun pulang selarut ini sekalipun ia akan lembur Kyuhyun akan memberinya kabar walaupun hanya sekedar pesan singkat. Namun kali ini tidak satupun pesan ia terima bahkan ponsel Kyuhyun tidak dalam keadaan aktif. Jiyeon semakin gusar saat mencoba menelpon karyawan Cho Corp menanyakan apakah Kyuhyun masih dikantor atau tidak dan jawabannya benar-benar membuat Jiyeon semakin khawatir. ‘Presedir sudah pulang sejak jam makan siang tadi Nyonya.’

“Kau kemana Cho Kyuhyun ?.” Jiyeon menggiggit jari telunjuknya sambil bergerak gusar sesekali mencoba menelpon Kyuhyun dan lagi-lagi yang ia hadapi hanya suara wanita dari operator memintanya untuk meninggalkan pesan. Jiyeon kembali mondar-mandir mengabaikan semua sapaan penghuni lain yang berlalu lalang melewatinya. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama, Cho Kyuhyun.

Setelah hampir 2 jam Jiyeon menunggu dilobi, tepat pukul 23.53 KST Jiyeon memutuskan menunggu Kyuhyun didalam apartement mereka. Tidak beda jauh saat ia dilobi, yang ia lakukan selepas tiba diapartement hanyalah mondar-mandir serambi jari-jari lentiknya bergerak lincah mengetikan beberapa kalimat di atas touch screen ponsel pintarnya untuk kemudian dikirimkan pada Kyuhyun.

‘Kau dimana ?. Malam semakin larut, tidakkah kau pulang ?. Setidaknya kabari aku jika ada urusan mendadak.’

‘Kau sudah makan ?. Sesibuk apapun, kau jangan lupa makan.’

‘Kau dimana ?. Kapan pulang ?. Tolong balas pesanku agar aku tidak terlalu mengkhawatirkanmu. Jebalyo !’

 

Jiyeon membuang ponselnya kearah sofa diruang tengah seiring dengan keluarnya napas gusar dari hidung dan mulut Jiyeon. Kyuhyun tidak membalas pesannya, satupun tidak membuat Jiyeon benar-benar merasa sangat khawatir dan juga ada sedikit rasa kecewa yang menyusup dihatinya. Kelelahan menunggu ditambah rasa lelah yang menderanya akibat hari pertama bekerja yang cukup menguras tenaga membuat Jiyeon dengan mudahnya larut kedalam alam mimpi dengan posisi tidur yang duduk bersandar disofa.

***

Jiyeon terbangun keesokan harinya dengan leher yang pegal karena harus tidur dengan posisi tidak nyaman sepanjang malam, yeoja itu memukul pelan lehernya lalu memijatnya untuk menghilangkan rasa kaku di lehernya. Jiyeon melirik jam yang tergantung didinding ruang tengah menunjukkan pukul 04.23 KST masih terlalu pagi untuk terbangun dihari libur. Teringat akan sesuatu yang membuatnya tertidur disofa membuat Jiyeon sesegera mungkin bangkit berlari menuju kelantai dua apartement Kyuhyun menuju kamar Kyuhyun memastikan bahwa sang empunya sudah pulang atau belum.

Jiyeon membuang napas lega saat dibukanya pintu kamar Kyuhyun dan mendapati pemiliknya tengah terbaring diranjang king size satu-satunya dikamar itu. Perlahan Jiyeon melangkahkan kakinya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara ketukan kakinya dengan lantai dingin yang menjadi pijakannya saat ini agar tidak membangunkan Kyuhyun. “Kau pergi kemana saja eoh ?. Kenapa tidak membalas satupun pesanku ?. Kau benar-benar membuatku cemas oppa.” Jiyeon mengusap rambut coklat Kyuhyun menyalurkan rasa sayangnya disetiap usapan lembut jari lentiknya.

“Berbuatlah sesukamu oppa, lakukan apapun yang kau suka selama itu tidak melibatkan wanita lain. Aku akan menerima kau membenciku selama kita masih terikat dalam pernikahan tapi kuminta jangan pernah bermain dibelakangku. Aku mencintaimu oppa.” Jiyeon menundukkan wajahnya bermaksud mengecup kening Kyuhyun yang masih setia memejamkan matanya sebelum niatnya terhenti mendengar suara pintu terbuka. Setahunya saat dia masuk kekamar Kyuhyun pintu kamar ia biarkan terbuka, hanya ada satu pintu yang tertutup dikamar ini, kamar mandi.

Mata coklat indah dengan bulu mata lentik itu membola mengetahui siapa yang membuka pintu kamar mandi dikamar Kyuhyun, suaminya. Seorang yeoja dengan hanya mengenakan kemeja Kyuhyun yang kebesaran yang hanya menutupi tubuhnya sampai paha bagian atasnya dan menampilkan kaki jenjangnya yang putih. Rambutnya nampak masih basah, jelas jika yeoja itu baru selesai mandi. Dan, oh Tuhan lihat. Satu gerakan kecil saja sudah memperlihatkan celana dalam yeoja itu.

“Nuguseyo ?” yeoja itu melemparkan pertanyaan yang seharusnya keluar terlebih dulu dari mulut Jiyeon.

“Seharusnya aku yang mengeluarkan pertanyaan itu agassi. Nuguseyo ? dan apa yang kau lakukan dikamar suamiku ?.” yeoja itu terkejut mendengar Jiyeon memanggil sosok lelaki yang tengah terlelap diranjang sebagai suaminya. Itu berarti..

“Jadi kau istri Kyuhyun oppa. Kebetulan sekali kita bertemu diwaktu yang tepat. Perkenalkan aku Kwon Nara, kekasih Kyuhyun oppa. Kau pasti Park Jiyeon kan gadis asing yang membuat hidup Kyuhyun oppa hancur.” Jiyeon membelalak mendengar untaian kata yang keluar dari mulut Nara. ‘Kekasih, jadi Kyuhyun tetap menjalin hubungan dengan kekasihnya setelah menikah denganku.’ Jiyeon mengalihkan pandangannya menatap Kyuhyun yang masih setia memejamkan matanya, tidak terganggu sama sekali dengan perbincangan sengit antara dua wanita yang mencintainya. Disaat itulah baru Jiyeon sadar, jika Kyuhyun tidak sedang mengenakan sehelai pakaian pun. Hatinya hancur berkeping-keping menangkap satu fakta yang begitu menyakitkan. Kyuhyun bercinta dengan kekasihnya diapartement dimana Jiyeon ada didalamnya, tertidur disofa bahkan dengan posisi yang tidak sepantasnya orang tertidur karena menunggunya yang tidak kunjung pulang tanpa kabar. Cairan bening mengalir deras tanpa bisa dikomando. Jiyeon membekap mulutnya meredam isakannya dan berlari keluar. Nara tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Jiyeon yang sarat akan rasa sakit,kecewa, dan terkhianati. Tidak salah kemarin ia mengajak Kyuhyun berkencan diclub malam.

∞ My Married Life ∞

Setelah insiden dihari libur pertamanya menjadi penulis, saat ia mengetahui fakta yang benar-benar menjadikan harapannya untuk membuat Kyuhyun mencintainya hangus tak tersisa, membuat Jiyeon memutuskan untuk menjaga jarak dengan Kyuhyun sampai suasana hatinya kembali normal. Jujur, Jiyeon sangat marah mengetahui Kyuhyun mengkhianatinya namun mengingat perkataan Kyuhyun dan juga Nara yang kompak mengatakan jika kehadiran Jiyeon menghancurkan kehidupan Kyuhyun membuatnya berpikir ulang. Sudah sepantasnya jika Kyuhyun melakukan hal itu, jika saja Kyuhyun tidak menikah dengan Jiyeon mungkin saat ini Kyuhyun sudah menikah dengan Kwon Nara, kekasihnya.

“Sedang memikirkanku nona Park.” Jiyeon tersadar dari lamunannya, memandang Donghae yang berdiri tegap dihadapannya.

“Kumohon jangan sekarang Lee Donghae. Aku sedang tidak dalam mood yang baik. Pergilah, kau boleh kembali saat jam makan siang.”

“Kau mengusir atasanmu. Woahh, bertahun-tahun aku menjadi presedir disini baru kali ini aku menemukan pekerjaku yang berani mengusir atasannya yang tampan. Ada sesuatu yang mengganggu kerja otakmu nona Park ?, tidak biasanya kau memanggil namaku kecuali diluar kantor.”

“Sudah kubilang aku tidak sedang dalam mood yang baik taeppunim. Jebal, kembalilah nanti saat jam makan siang. Aku butuh ketenangan untuk mencari tema dan konsep yang tepat untuk buku pertamaku.”

“Ck, baiklah aku pergi. Aku tidak mau tahu kau harus makan siang denganku hari ini. Benar-benar makan siang bersama. Ada sebuah kejutan yang akan membuatmu senang, dan mengembalikan mood mu.”

“Bukan kejutan lagi jika kau mengatakannya sekarang taeppunim.”

“Terserah kau ingin berpikir seperti itu, yang penting ada satu hal yang ingin kubicarakan denganmu Park Jiyeon.”

“Terakhir kau bilang ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku, bukan suatu hal yang penting.”

“Kali ini aku bersungguh-sungguh Jiyeon. Aku akan kembali nanti. Selamat bekerja.” Jiyeon memandang punggung Donghae yang bergerak menjauhinya untuk kembali keruang kerjanya. Memperhatikan tingkah polah Donghae yang tidak hanya jahil padanya tapi juga pada seluruh karyawannya. Tanpa sadar senyuman itu tersungging disudut bibir mungil Jiyeon. Selalu seperti ini, Jiyeon akan selalu tersenyum setiap bertemu, bersama, atau bahkan melihat Donghae. Andai saja alasannya tersenyum adalah karena Kyuhyun, bukan hanya wajahnya yang akan tersenyum namun juga hatinya.

***

Seperti yang sudah dijanjikan, siang itu Donghae dan Jiyeon makan siang bersama dirumah makan Italy yang terletak cukup jauh dari Lee Company. Tentu itu membuat Jiyeon akan bersemangat makan karena sejak dulu Jiyeon sangat suka makan masakan Italy. Dulu sekali saat ia masih bersama Donghae sahabatnya, Jiyeon selalu menyempatkan makan dirumah makan Italy bersama Donghae sepulang sekolah. Perlu digaris bawahi sahabatnya bukan Donghae yang saat ini mengajaknya makan siang walaupun sempat terpikir oleh Jiyeon bahwa mereka adalah orang yang sama. Mereka berdua memilih tempat duduk yang bersebelahan dengan jendela kaca luas, menampakkan hiruk pikuk kendaraan dan lalu lalang penghuni Seoul.

“Aku ingin memesan satu-”

“Bawakan kami dua gelas es krim coklat. Moodnya sedang buruk, hanya es krim coklat yang mampu mengembalikan mood baiknya.” Pelayan itu mengangguk mencatat pesanan Donghae dan berlalu pergi. Sementara itu, Jiyeon terheran melihat Donghae yang bicara dengan lancarnya tanpa ada rasa ragu atau kesan menebak disetiap ucapannya. ‘Darimana Donghae tahu kebiasaanku itu, selama hidupku hanya ada satu orang yang tahu kebiasaanku memakan es krim coklat saat moodku sedang tidak baik. Lee Donghae, sahabat kecilku.’

 

“Donghae kau…”

“Geurae, ini aku Jiyeon. Lee Donghae sahabatmu. Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu ?.” Jiyeon tak mampu berkata, hanya mengerjapkan kedua matanya sampai pesanan mereka datangpun Jiyeon tetap setia menatap kearah Donghae.

“Apa kau tidak akan memakan es krim-mu. Jika kau tidak mau, aku akan mengambilnya.” Donghae menjulurkan tangannya bersiap mengambil gelas es krim Jiyeon. Namun tanpa diduga, Jiyeon mencengkram tangan itu dengan pandangan yang tak beralih se-centi pun.

“Kau bercanda kan taeppunim ?.” setelah sekian lama terdiam, justru sebuah pertanyaan yang menanyakan bahwa ia bercanda atau tidak. Konyol.

“Kau tidak senang bertemu denganku. Kenapa kau malah berharap aku sedang bercanda eoh. Aishhh kau benar-benar membuatku gemas.” Donghae menarik kedua sisi pipi Jiyeon seperti yang pernah ia lakukan 5 tahun yang lalu. Kebiasaan Donghae jika ia sedang gemas pada Jiyeon karena ekspresi yang Jiyeon tunjukan.

“Benarkah ini kau Lee Donghae ?. Chamkaman, akan kupastikan sekali lagi.” Jiyeon menarik napas dalam-dalam sebelum melayangkan kepalan tangannya ke-kepala Donghae.

PLAKK.

 

“Yak, kenapa kau memukulku. Terima ini.” Donghae mengangkat tangan kanannya kedepan. Menekuk 3 jarinya, menyisakan jari tengah dan telunjuk mengarahkannya kedahi Jiyeon, mendorongnya kebelakang dengan dua jarinya.

“Kita impas sekarang.” Jiyeon yakin, 100% yakin sekarang jika ini benar-benar Donghae sahabatnya. Pasalnya, hanya Donghae sahabat kecilnya lah yang berani menyentak kepalanya kebelakang dengan dua jari seperti yang barusan dilakukan. Jiyeon beranjak dari duduknya dan berdiri tepat dihadapan Donghae yang mulai menyilangkan kedua tangannya guna menutupi kepalanya. Ia cukup ingat jika Jiyeon akan membalas perbuatannya yang barusan dengan menyentil dahinya.

“Kau mau apa eoh ?. Bukankah yang tadi itu hanya untuk meyakinkanmu. Sentilanmu sangat menyakitkan pikirkanlah sekali lagi, kita masih harus kembali kekantor. Kau mau aku menjadi bahan lelucon para karyawan karena dahiku merah.” Jiyeon terkikik mendengar permohonan Donghae, bukan itu maksud Jiyeon mendekat. Jiyeon hanya ingin memeluk Donghae, menyalurkan rasa rindunya pada sahabat kecil yang sudah 5 tahun meninggalkannya. Jiyeon bergerak mendekat, memeluk Donghae.

“Aku hanya ingin memelukmu Donghae-ah, sudah lama aku tidak memeluk sahabat kecilku. Aku merindukanmu Hae-ah.” Dongahae membalas pelukan Jiyeon, sama-sama menyalurkan rasa rindu yang juga menderanya.

“Nado Yeong-i. Aku berusaha keras untuk mengingatmu dua hari ini dan pagi ini aku berhasil.” Jiyeon melepas pelukannya dan kembali ketempat duduknya.

“Walaupun begitu, aku harus tetap menghukumu. Kau melupakanku selama 3 tahun, dan sebagai ganti aku tidak menyentilmu Ikan Mokpo.”

“Baiklah, katakan saja apa hukumannya.”

“Temani aku menemukan konsep untuk buku pertamaku akhir pekan nanti. Eotte ?”

“Geurae. Kita akan berkencan akhir pekan nanti.”

“Yak, kau tuli eoh. Aku hanya memintamu menemaniku bukan berkencan. Lagipula aku sudah menikah sekarang, kau lupa.”

“Usia pernikahan kalian masih terlalu muda, aku bisa merebutmu dari Kyuhyun.”

“Yak.”

“Aku hanya bercanda nyonya Cho yang terhormat. Sudahlah, lebih baik kita pesan es krim yang baru. Lihat, es krimnya meleleh karena butuh waktu berjam-jam untuk menjelaskan semuanya padamu Park Jiyeon.”

“Yakk.” makan siang, siang itu adalah makan siang paling berkesan dalam kehidupan Jiyeon selama ia menyandang status sebagai istri Kyuhyun. Walaupun bukan Kyuhyun yang menemaninya, namun ia tetap bersyukur akhirnya Donghae mengingatnya. Setidaknya kini ia tidak sepenuhnya merasa sendirian jika mengingat tentang rumah tangganya. Ada Donghae disisinya, membuat Jiyeon agak bernapas lega. Donghae menceritakan banyak hal yang terkadang membuat tawa Jiyeon keluar membuat suasana rumah makan itu jadi agak ramai karena canda tawa mereka.

“Sebaiknya kita pergi dari sini Kyuhyun-ah.”

“Anni Kibum-ah, aku ingin lihat sejauh mana kedekatan mereka.”

“Aissh kau tidak sedang cemburu pada Donghae kan, mereka hanya makan siang bersama sebagai atasan dan pekerjanya. Bukankah kau mengizinkan Jiyeon bekerja di perusahaan Donghae.”

“Sejak kapan cerewet sekali seperti noona eoh. Geurae, kita pergi dari tempat ini.” Bukan sengaja Kyuhyun makan siang ditempat yang sama dengan Jiyeon dan Donghae. Kebetulan saat itu ia sedang ada janji dengan klien dan memutuskan makan siang dirumah makan yang paling dekat dengan tempatnya bertemu. Saat itulah ia mendapati pemandangan yang entah kenapa membuat hatinya seperti terhimpit dua tembok hingga tak ada celah sedikitpun. Jiyeon memeluk Dongahae,mereka terlihat sangat mesra seperti sepasang kekasih. Pikiran Kyuhyun yang selama dua hari ini terganggu karena sikap Jiyeon yang seolah menghindarinya semenjak ia membawa Nara ke-apartement mereka. Kyuhyun tahu jika Jiyeon marah, namun rasa gengsi untuk meminta maaf lebih menguasai hatinya. Lagipula untuk apa ia minta maaf pada Jiyeon, bukankah sudah jelas tertulis di surat perjanjian jika mereka tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing. Jadi Kyuhyun bercinta dengan Nara kekasihnya dimanapun bukan masalah bukan, dan bukan hak Kyuhyun untuk melarang Jiyeon berpelukan dengan siapapun termasuk Donghae, sekalipun Kyuhyun suaminya.

‘Itu hanya pelukan Kyuhyun bukan apa-apa jika dibandingkan denganmu yang bercinta diapartment dimana ada Jiyeon didalamnya. Kenapa reaksimu berlebihan.’ Satu sisi pikiran Kyuhyun berkecamuk, disisi lain..

‘Itu salah Kyuhyun, dia istrimu. Kau harus memberinya hukuman karena telah mengkhianatimu.’

 

ᴥ To Be Continue ᴥ

Andalan
Diposkan pada SONG

LIRIK LAGU WENDY- YOOK JIDAM RETURN

ROMANIZATION TRANSLATE

[Wendy] I believe I believe
Tto neomeojiji anha
I believe I believe
Tto nunmureun eopseo
Naeirui taeyangi tteul georan geol neodo algo isseo…
You never cry

[Yuk Jidam] Nan eodikkaji wassneunji
Neon eodijjeuminji
Al su eopsneun duryeoumi
Nae ape seo issji
Nan tto eodum sok neoui soneul chaja
Nega neukkyeojil ttaen biroso haneureul nara Fly
Ne gaseume geu kkumeul geuryeo
Himi deul ttaen gikkeoi badadeuryeo
Naui neolpeun eokkaewa gaseumi jichin neol gamssani
Neon amugeosdo duryeoulge eopseo
Ani jeonhyeo ul piryo eopseo
On sesangi neol hyanghae noraehae

[Wendy] I believe I believe
Tto neomeojiji anha
I believe I believe
Tto nunmureun eopseo
Naeirui taeyangi tteul georan geol neodo algo isseo…
You never cry

[Yuk Jidam] Kkaman bamhaneure deo balkge bicci naneun byeol hana
Ttak hanbeon neomeojyeosseul ppun tuk teolgo ireona
Himeul nae gwaenchanha
Yeogi naega issjanha
Neon geudaero areumdawo
Nunbusin chanranhan
Miraega nae nunape pyeolchyeojine
Naedijneun hangeoreum han georeummada
Geungjeongui eneoji nae mome gamssane
Barame jamsi sseureojin kkocc
Hwaljjak pigi jeone
Onmomeul deonjyeo budijhyeobwa
Keuge sorichyeo

[Wendy] Hanaman hanaman
Tto gieokhagil barae
Deo isang deo isang
Seulpeumeun eopseo
Sesangi apeuge neol sogyeodo naega neol gamssalge

[Yuk Jidam] Nae kkumeul hyanghaeseo himchage nae onmomeul deonjyeo
Jeo neolpeun bada wiro geop eopsi daibinghae cheombeong

[Wendy] I’m not afraid 3x
Uhh~

[Yuk Jidam] Ne nune goin neoui nunmul naega dakkajulge
Biga ol ttaen neoui usani doeeojulge
Nalgaereul hwaljjak pyeo
You’ve got to fly high

[Wendy] Sigani jinago seulpeumi jinamyeon….
Sangcheodo sarajyeo…

[Wendy] I believe I believe
Tto neomeojiji anha
I believe I believe
Tto nunmureun eopseo
Naeirui taeyangi tteul georan geol neodo algo isseo…
You never cry 2x

Diposkan pada chapter, Comedy, Romance, SAD, school story, SUPER JUNIOR

IMMOLATION [2a/2 end]

IMMOLATION [2a/2 end]

 

immolation

 

Title      : IMMOLATION [Twoshoot]

Author : LinaElf144

Cast :

  • Song Hyera
  • Lee Hyukjae
  • Lee Donghae

Other Cast :

  • Cha Min Seo

Category : School life, Sad romance, Little comedy.

 

—Happy Reading—

 

Hanya tinggal menghitung detik, ujian kelulusan murid tingkat 3 SHS akan berakhir. Benar saja, bel tanda waktu usai menggema di seluruh ruang tempat diadakannya ujian. Satu per satu lembar jawaban terkumpul di meja guru, disusul dengan ruang kelas yang nampak lenggang ditinggal penghuninya. Ujian sudah usai jadi tak ada alasan bagi para murid untuk tetap tinggal di kelas.

Berbagai macam jenis ekspresi dapat kita lihat saat ini. Lega, bebas, tertekan, penuh beban, lelah, dan masih banyak lagi. Yang pasti semua jenis ekspresi akan kalian dapatkan disini. Song Hyera, gadis itu lebih memilih ekspresi datar terkesan tenang dengan senyum tipis di bibirnya. Sementara disampingnya, Lee Hyukjae berjalan lemas dengan pundak yang jatuh ke bawah. Namja itu memilih menggunakan ekspresi penuh beban dipadukan dengan raut lelah di wajahnya. Keduanya berjalan beriringan menuju tempat parkir.

“Naiklah.” Titah Hyukjae dengan nada lesu. Wajahnya tertekuk entah sudah berapa tekukan.

“Yak, neo waegurae ?.” Alih-alih menjawab pertanyaan Hyera, namja yang sudah duduk di motornya itu menarik pergelangan tangan Hyera. Memintanya untuk tak banyak bicara dan langsung naik saja.

“Naiklah Ra-ya, aku sedang tidak tertarik untuk berdebat. Aku ambil cuti berdebat denganmu hari ini.”

“Kau pikir aku mau berdebat denganmu. Keadaan yang memaksaku mendebatmu Lee Hyukjae.” Mata sipit itu menatap Hyera dengan sayu. Hari ini moodnya benar-benar down. Jika kalian tanya apa penyebabnya, dengan senang hati ia jelaskan. 50 soal dari mata ujian yang paling tidak ia sukai membuatnya kelabakan selama 2 jam ujian tadi. Hingga waktu tersisa 2 menit, meski berat ia mengakui hanya mampu mengerjakan 20 soal. Dengan kapasitas otak yang pas-pasan tentu hal ini membuat kepalanya penuh sesak, menebak-nebak nilai akhirnya nanti. Jika berakhir buruk bersiaplah menerima ocehan 7 hari 7 malam dari eommanya.

Ingin rasanya ia buru-buru pulang dan merendam kepalanya yang serasa mengepulkan asap ini ke dalam bathup, sayangnya ada makhluk lain yang keberadaannya tak mampu ia lupakan. Apa semua gadis menyebalkan seperti Hyera ?. Kenapa gadis kuncir kuda ini tak bisa mengerti perasaannya sama sekali. “Kau ini kenapa ?. Aku sanksi bisa sampai rumah dengan tubuh yang utuh. Aku masih ingin menikmati masa-masa kuliah sebelum meregang nyawa karenamu Lee Hyukjae.”

Hyukjae melepas paksa helm yang sudah ia kenakan. Menatap sebal Hyera yang bersedekap disampingnya. Gadis ini mengajakku berdebat. “Dengar. Hari ini aku lelah karena soal-soal terkutuk itu. Aku hanya ingin cepat pulang dan mendinginkan kepalaku yang berasap ini di dalam bathup. Sekarang kau mengerti ?. Jadi cepat pakai helm-mu dan naiklah.” Hyukjae menjelaskannya hanya dengan satu tarikan nafas. Menggunakan sisa tenaganya berharap Hyera mengerti akan situasinya saat ini.

“Arraseo.” Jawab Hyera bergegas mengenakan helm dan naik keatas motor. Baguslah ia mengerti. Tanpa sadar senyum tipis tertarik di wajah Hyukjae. Tak ada yang menyadarinya karena helm yang ia pakai berhasil menyembunyikan seluruh wajahnya dengan apik. “Kita ke kedai ahjumma sebelum pulang. Aku lapar, dan kau butuh makanan untuk mengganti tenagamu. Sekarang cepat jalan.” Bermimpi saja kau Lee Hyukjae. Gadis ini tidak akan pernah sejalan denganmu.

“Ani. Makan dirumah saja.” Hyukjae menstarter motornya bersiap untuk melaju pulang, hingga pukulan di kepalanya membuatnya urung menarik gas. “Kau ingin membuatku gegar otak ?. Kenapa memukulku sekeras itu huh ?”

Mendengar bentakan Hyukjae yang teredam helm membuat nyalinya sedikit menciut. Pasalnya Hyukjae belum pernah membentaknya seperti tadi, meski kelewat sering bertengkar yang identik dengan teriakan. Namun kali ini Hyukjae membentaknya, bukan berteriak seperti biasanya. Bentakan dan teriakan itu tidaklah sama, meski perbedaannya tipis tapi tetap saja berbeda. Apa ia sudah keterlaluan ?. Dirinya membatin.

Tak mendengar jawaban dari sosok di belakang tubuhnya, Hyukjae memacu motornya menjauh dari tempat parkir. Membelah jalanan Seoul yang nampak lenggang di bawah langit sore dengan warna biru berhias awan putih diatas sana. Sangat indah. Mata sipitnya melirik ke arah spion yang menampilkan wajah Hyera. Gadis itu nampak murung dengan kedua tangan yang memegang kedua sisi tubuhnya. Menggenggam jaket yang Hyukjae kenakan. Hatinya dirundung rasa bersalah, seharusnya ia lebih bisa mengontrol emosinya. Bibirnya merutuki kebodohannya yang hilang kontrol hingga membentak Hyera. Seumur mereka saling mengenal baru kali ini dirinya membentak yeoja itu. Tentu saja hal ini yang membuat Hyera sedih.

‘Bagus sekali kau Lee Hyukjae. Kau berjanji membuatnya tersenyum tapi.. see, karena ulahmu sendiri kau membuatnya sedih.’

Hyukjae memacu motornya lebih cepat, refleks membuat Hyera memeluk tubuhnya. Sekarang tak hanya laju motornya yang bertambah cepat tapi kerja jantungnya juga. Sangat disayangkan semua itu tak berselang lama, tubuhnya yang menegang mampu dirasakan oleh Hyera. Membuat yeoja itu berpikiran bahwa Hyukjae tak nyaman hingga ia melepas pelukannya. Kehilangan, itulah yang ia rasakan saat ini. Ingin rasanya menarik tangan mungil itu untuk kembali mengurung tubuhnya dalam sebuah pelukan hangat, lagi-lagi akal sehatnya masih bisa mengontrol saraf motoriknya untuk tidak bertindak demikian. Alhasil, Hyukjae mengurangi kecepatan motornya.

5 menit yang ia butuhkan untuk mencapai kedai yang menjual makanan favorit mereka berdua. Jjangmyeon. Kedai yang ingin Hyera kunjungi. Hal ini tentu membuat tatapan heran di mata Hyera. Hanya saja dirinya belum memiliki keberanian untuk bertanya maksud Hyukjae membawanya kemari. Kenapa ia bisa setakut ini setelah mendengar bentakan Hyukjae ?.

“Tidak ingin turun ?.” suara serak milik Hyukjae berhasil membuatnya tersadar.

“Kenapa kemari ? Kau bilang ingin segera pulang. Kita pulang saja, aku tidak lapar.” Elak Hyera mencoba mengabaikan demo cacing di perutnya. Pasalnya sejak pagi ia belum sempat menyentuh makanan apapun. Sebelum masuk ujian, Hyera lebih sering menggunakan waktu luangnya untuk berteman dengan buku-buku pelajaran. Si kutu buku.

“Terserah. Aku lapar dan ingin makan. Jarak rumah masih terlalu jauh, sementara perutku sudah berdemo.” Lee Hyukjae melepas helmnya dan bergegas turun dari motor. “Turunlah. Berat badanmu membuatku kesulitan memarkir motornya.” Tetap dengan wajah murungnya, Hyera menginjakkan ujung sepatunya ke tanah. Melepas helm kemudian menyisir surai panjangnya dengan jari.

“Kau lapar ?” Hyukjae hanya berdehem sebagai respon. “Jika lapar kenapa tadi menolakku. Bahkan kau membentakku.” suaranya terdengar lirih saat mengucapkan kata ‘membentak’. Takut-takut menyinggung perasaan Hyukjae untuk kedua kalinya. Meski niatnya agar Hyukjae tak mendengar kalimat terakhirnya, sayangnya jarak mereka yang terlampau dekat membuat pendengaran Hyukjae menangkap seluruh kata yang keluar dari bibir ranum Hyera tanpa terkecuali.

“Temani aku makan. Kajja.” Sarafnya bergerak lebih cepat dari kemampuan berpikir otaknya. Tangannya menggenggam lembut jemari Hyera tanpa diperintah. Tentu saja hal ini kembali membuat jantungnya melaju kian cepat. Berbeda dengan Hyukjae yang dirundung rasa gugup, gadis itu nampak lebih tenang dari sebelumnya. Dasar monyet tengil, kau mana bisa marah padaku.

Satu hal yang Hyera suka dari seorang Lee Hyukjae. Namja berambut coklat ini tidak akan pernah bisa marah padanya. Padanya saja ?. Entahlah, sejauh ini Hyukjae tidak pernah menunjukkan emosinya pada Hyera dan Min Seo. Mungkin karena dua gadis berbeda karakter itu adalah sahabatnya. Lalu bentakan tadi ?. Song Hyera mencoba berpikir dari sisi positifnya bahwa dialah yang salah dan Hyukjae mencoba untuk membenarkan kesalahannya. Ya, seperti itu.

Kedai tempat mereka makan –yang katanya tempat favorit mereka- ini bernuansa klasik. Meski hanya kedai kecil, namun penataan ruang yang amat rapi membuat keduanya berdecak kagum saat pertama kali datang kesana. Saat itu keduanya pulang terlambat, ditambah hujan tengah mengguyur di musim semi tahun lalu. Bus yang mereka tunggu tak kunjung datang. Berbekal payung yang Hyukjae bawa, keduanya berjalan bersama di bawah guyuran hujan hingga menemukan kedai kecil ini di persimpangan pertama kearah kanan dari sekolahnya. Udara yang cukup menyentuh hingga tulang membuat keduanya memutuskan untuk menghangatkan badan disana dengan semangkuk sup atau makanan hangat apapun. Sekali lidah mengecap manisnya maka nikmatnya akan membuatmu tak pernah melupakannya.

“Mashitta..” Hyera menyeruput Jjangmyeon miliknya, merasakan saus kacang hitam yang rasanya tidak akan ia temukan di kedai atau restoran manapun. Saus di kedai ini seperti resep rahasia turun temurun milik nenek moyang. Begitu unik di lidahnya. Membuat gadis berbadan kurus itu selalu merasa kurang jika makan disana.

“Pelan-pelan Ra-ya. Tidak akan ada yang mengambil makananmu.”

“Cobalah Hyuk-ah. Jinjja mashitta. Kau tidak akan kenyang jika hanya memandangnya saja.” Hyera bicara tanpa berhenti mengunyah. Membuat ludahnya sesekali terlempar kearah Hyukjae.

“Yakk!! Telan makananmu baru bicara. Kau membasahi wajahku Hyera.” Si tersangka hanya nyengir kuda sambil mengucap maaf dengan mulut penuh makanan. Hyukjae menggeleng sambil tersenyum tak habis pikir dengan yeoja dihadapannya ini. Jika kebanyakan yeoja akan menjaga imagenya di hadapan namja, lain halnya dengan Hyera. Gadis ini bertindak semau hatinya, apapun yang ia kira nyaman untuknya. Satu poin yang membuat hati Lee Hyukjae memilih sosok Hyera sebagai penghuninya.

Disaat keduanya sibuk berurusan dengan nasib perutnya, sosok lain terlihat memasuki kedai yang sama. Hyera yang duduk berlawanan arah dengan pintu masuk masih tak menyadari sosok lain yang kini berjalan kearah mereka. Hyukjae yang menyadarinya lebih dulu. “Ohh Hyuk-ah.”

“Rupanya kalian disini. Kami mencari kalian sejak tadi.” Kalimat itu menguar dari mulut Lee Donghae, namja yang kini berdiri di samping Min Seo dengan jarak begitu dekat. Mereka datang bersama. Satu fakta yang kembali menampar hati Song Hyera.

“Kenapa hanya berdiri. Duduklah.” Titah Hyukjae. Baik Min Seo maupun Donghae, keduanya mengangguk berniat mengambil posisi di kursi yang kosong, masih satu meja dengan Hyukjae dan Hyera.

“Lee Donghae, kita perlu bicara.” Hingga suara Hyera menghentikan gerakan keduanya dan mengejutkan Hyukjae tentu saja. Sejak tadi yeoja itu hanya diam dan memasang senyum seolah semuanya baik-baik saja. Sayangnya sandiwara seorang Song Hyera bukanlah lawan yang tepat untuk mata jeli Hyukjae. “Ttarawa.” Hyera melangkah lebih dulu ke arah pintu keluar.

“Seo-ah pesanlah makanan lebih dulu. Aku tidak akan lama.” Donghae bergegas menyusul Hyera yang sudah keluar dari kedai. Mata sipit milik Lee Hyukjae tak lepas menatap pintu keluar yang beberapa saat lalu di lewati Hyera. Pikirannya melayang kemana-mana, memikirkan banyak kemungkinan mengenai apa yang ingin Hyera bicarakan dengan Donghae. Hanya berdua. Seperti bukan Song Hyera yang ia kenal terlebih lagi, jelas-jelas Donghae datang bersama Min Seo. Mungkinkah Hyera menyerah menyakiti hatinya, dan berniat mengungkapkan segalanya pada Donghae. Kebenaran akan perasaannya.

“Hyuk-ah, apa sesuatu terjadi pada Hyera ?. Dia terlihat tidak baik hari ini.” Min Seo mencemaskan Hyera. Seperti itulah yang tertangkap oleh matanya. Hyera membantu orang yang ia sukai untuk bersama dengan sahabatnya, dilain sisi sahabatnya yang tak lain adalah dirinya sendiri menyukai seorang Song Hyera. Dan diluar cinta ketiganya yang rumit ini, sosok Min Seo seolah menjadi pihak ketiga yang tak tahu apa-apa seperti halnya Donghae. Keempat sahabat yang terlibat jalan cerita cinta yang begitu rumit. Dunia seolah begitu sempit.

“Tidak perlu kau pikirkan. Pesanlah makanan untuk kalian berdua, sebentar lagi mereka pasti kembali.” Benar apa yang Hyukjae katakan. Tak berselang lama bahkan sebelum Min Seo sempat memesan makanan, keduanya sudah kembali bergabung.

“Seo-ah, kajja.”

“Nde ?. Kemana ?”

“Seo-ah, kau kemari untuk berkencan dengan Donghae. Machi ?” kalimat ini muncul dari mulut Hyera. Gadis itu kembali dihiasi senyum cerah seperti biasanya. Membuatnya -Min Seo- menatap heran ke arah keduanya. Donghae dan Hyera, sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Pikirnya.

“Ani Ra-ya, kami akan makan bersama kalian. Seperti bisanya.” Min Seo tak menampik kenyataan bahwa dirinya memang sedang berkencan dengan Donghae. Niat awalnya kemari adalah untuk makan berdua dengan Donghae, hanya saja semua diluar dugaan bahwa mereka semua akan bertemu di tempat yang sama. Bukan berarti Min Seo mengutuk pertemuan mereka disini, sungguh ia tidak keberatan jika harus satu meja dengan kedua sahabatnya ini. Baginya berkumpul bersama seperti ini lebih berkesan ketimbang menuruti egonya untuk duduk berdua dengan Donghae. Ia yakin Donghae juga sependapat dengannya.

“Eishhh apa yang kau bicarakan. Cepat berdiri dan cari meja kalian sendiri. Disini aku yang mengusir kalian eoh.” Min Seo masih enggan untuk beranjak meski Hyera sudah ‘mengusirnya’ dengan caranya sendiri. “Hae-ah, kenapa hanya berdiri disana. Cepat bujuk Min Seo.” Donghae seperti mendapat perintah langsung dari gurunya.

“Seo-ah, kajja. Kita akan tetap makan disini jika kau khawatir tak bisa melihat wajah mereka. Hanya tidak di meja yang sama. Asal kau tahu, mereka ini mencoba untuk lebih dekat.” Masih belum sadar dengan kalimat terakhir yang Donghae lontarkan, Hyera hanya mangut-mangut membenarkan.

“Yakk !!, Apa yang kau ucapkan barusan. Kau ingin mati eoh ?” protesan itu keluar dari mulut tipis Hyukjae. Dirinya yang sejak tadi hanya diam menikmati drama yang tersaji di depannya, cukup tanggap dengan maksud ucapan Donghae barusan. Sementara yang diajak bicara hanya tersenyum jahil.

“Benarkah ?”

“Ne matta. Jadi cepatlah cari meja kalian sendiri eoh.” Rupanya Hyera belum sadar dengan kalimat Donghae sebelumnya. Tanpa beban gadis kuncir kuda itu membenarkan pertanyaan Min Seo. Tak ada penolakan setelahnya, dengan senang hati keduanya pergi ke meja yang lain. Agak jauh dari meja Hyera dan Hyukjae. Sementara duo ‘H’ –Hyera dan Hyukjae-  disana kembali menempati kursi masing-masing. Hyera kembali menekuni Jjangmyeon yang sudah mulai dingin karena terlalu lama ia tinggalkan. Sementara Hyukjae, ohh jangan tanyakan bagaimana ekspresinya sekarang.

“Song Hyera, kau sadar apa yang kau katakan barusan ?”

“Mwo ?. Sudah jangan urus mereka. Ppalli Mokko.”

“Pabbo.”

“Uhukk..uhukkk..” Hyukjae menyetil kening Hyera saat yeoja itu tengah menyeruput Jjangmyeon, membuat Song Hyera tersentak hingga sedikit saus kacang hitam muncrat ke hidungnya. Membuatnya tersedak.

“Aigoo.. aigo. Kau membuat riasan di wajahmu dengan saus kacang hitam eoh. Apa ini sejenis perawatan kulit ?” Cibir Hyukjae, jarinya menarik beberapa lembar tisu untuk digunakan mengusap saus kacang hitam yang menempel di wajah Hyera. Membuat wajah cantik itu terlihat konyol di matanya. Melupakan fakta bahwa semua ini akibat ulahnya yang mengganggu singa betina disaat tengah menyantap makanannya.

“YAKK LEE HYUKJAE. KAU INGIN MATI HUH ?”

®IMMOLATION®

Saat sendiri adalah waktu yang tepat untuknya melepas topeng ‘baik-baik saja’ dari wajahnya. Berteman malam dengan beribu bintang yang berkelap-kelip di atas langit, Hyera membagi sedihnya. Tiap malam menjelang dimana langit berubah kelam, saat itulah Hyera berdiri di balkon kamarnya. Bercerita sepanjang malam pada langit dan angin yang menemaninya. Daripada menulis pada selembar kertas mengenai apa yang ia rasakan, Hyera lebih gemar bercerita lisan dengan benda abstrak di sekitarnya.

“Hari ini aku bertemu dengannya di kedai favorit kami. Aku terkejut asal kalian tahu. Aku panik dan gugup saat Hyukjae meminta mereka bergabung di meja yang sama denganku. Jika sampai itu terjadi, sudah kupastikan jika Jjangmyeon yang enak itu hanya akan terasa hambar di mulutku.” Kekehan ringan menguar dari mulutnya. Tertawa bersama angin malam yang berhembus kearahnya. Sontak membuat Hyera mengeratkan selimut yang mengalung di pundaknya.

“Kalian tahu apa yang kubicarakan dengannya ?. Terdengar konyol karena aku memintanya untuk mengajak Min Seo menjauh dari kami dengan alasan agar kencan mereka berjalan lancar. Keundae.. bukankah yang kulakukan adalah benar. Secara umum kencan hanya melibatkan 2 orang bukan 4 orang. Dasar Lee Hyukjae pabbo.” Sejauh ini raut wajahnya masih terlihat wajar. Hingga di kalimat berikutnya, senyum dan tawa ringan pudar begitu saja dari wajahnya. Merelakannya tersapu angin malam yang melintas.

“Entah yang keberapa kalinya, aku mendorong orang yang kucintai untuk bersama orang lain. Ini semua benar bukan ?. Yang kulakukan tidaklah salah kan ?. Dia bahagia saat bersamanya, satu hal yang tak bisa kuberikan padanya jika dia bersamaku. Keundae…” tangannya bergerak lemah meraba dada sebelah kiri tempat jantungnya berdetak. “Appo. Rasanya begitu sakit.” Keningnya berkedut hingga berakhir dengan liquid bening yang tumpah dari pelupuk matanya. Hyera menangis tanpa suara. Hal yang begitu jarang ia lakukan meski ia kerap kali merasa sakit hati.

“Semuanya akan berakhir 2 hari lagi. Di malam itu semuanya akan berakhir. Benar-benar final. Donghae bahagia begitupun Min Seo. Kenapa aku justru menangis.” Hyera mengusap kasar air mata dengan punggung tangannya. “Aku harus tersenyum untuk bersatunya mereka. Cinta mereka.” Dan membuang jauh-jauh perasaan ini. Hatinya menjerit.

“Geurae, di malam mereka resmi bersama. Saat itu pula perasaan ini akan berakhir.” Ucapnya bak sebuah kutukan untuk dirinya sendiri. Ultimatum yang harus ia penuhi di pekan akhir musim semi bulan ini.

Kalian ingat saat Lee Donghae mengatakan niatannya pada Hyera bahwa di malam Final Party kelulusan mereka, saat itulah Lee Donghae akan mengungkapkan perasaannya pada Min Seo. Jika melihat sikap Min Seo yang menerima sosok Donghae akhir-akhir ini, sepertinya rencana namja itu akan menang telak. Sukses besar tanpa takut menanggung resiko penolakan. Lalu tugasnya ?. Tugas terakhir untuknya hanyalah menyatukan keduanya dan memastikan kebahagiaan tengah bersama mereka. Dengan itu, ia bisa pergi dengan tenang. Melepas semuanya tanpa kecemasan dan penyesalan.

Kaki pendek ramping dengan jari-jemari yang menyentuh langsung permukaan lantai terasa begitu dingin. Malam belum begitu larut hanya saja angin malam membuat tubuh kurusnya menggigil. Alhasil, Hyera memutuskan untuk menyudahi aksi ‘menceritakan buku hariannya’ pada sunyinya malam, bersiap menuju ranjang untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah. Sebelum itu tangannya menyambar benda pipih yang disebut ponsel di atas sofa disamping pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon.

“Untuk apa monyet ini menghubungiku sebanyak ini ?.” Jari lentik dengan kuku yang berlapis cuttex pink soft itu menggeser layar ponsel ke bawah. 14 panggilan tak terjawab dari Hyukjae, panggilan terakhirnya sekitar 15 menit yang lalu. “Apa hal penting ?” Hyera mencoba menerka namun nihil. Otaknya dalam mode low saat ini. Ingin ia abaikan saja, sayangnya Song Hyera tumbuh dengan rasa keingintahuan yang besar dalam dirinya. Melupakan niat awal untuk menyelam ke alam mimpi, Hyera mengetikkan pesan singkat untuk Hyukjae.

‘Kenapa mengangguku malam-malam seperti ini.?’ Tak berselang lama satu pesan balasan dari Hyukjae menggetarkan ponselnya. “Cepat sekali. Benar-benar hal penting ya ?” Gumam Hyera bermonolog pada dirinya sendiri.

‘Jam dirumahmu mati ?. Ini masih jam 8 malam. Kau mengeluh seperti aku mengganggumu di tengah malam.’ Jiwa mendebatnya muncul berselang detik ia membaca balasan Hyukjae.

‘Buka matamu lebar-lebar, bagian mana yang mengatakan tengah malam. Kau tidak lulus sekolah dasar ya ?’

‘Kau sendiri menutup mata saat membaca pesanku. Jelas aku menulis SEPERTI sebelumnya. Sudahlah, kenapa kita justru berdebat. Hari ini kau lupa kalau aku ambil cuti berdebat denganmu ?’

“Kau yang mulai monyet tengil.” Kepalan tangannya terangkat membuat gerakan seolah hendak memukul ponsel yang menampilkan balasan pesan dari namja ‘absurd’ di seberang sana. Seperti itulah julukan Hyera yang baru untuk Hyukjae. Akhir-akhir ini sikap Hyukjae lebih labil, kadang-kadang baik berselang menit kembali menyebalkan tanpa sebab yang jelas. Absurd kan ?. “Menyebalkan memang sikapmu sejak lahir.”

‘Jika ingin bilang sesuatu. Marhae. 10 detik tidak ada balasan, aku tidur.’

SEND !

Hyuk’s calling ….

“Cepat juga reaksinya.” Jari telunjuknya menggeser tombol hijau menerima panggilan Hyukjae. “Wae ?” ucapnya malas begitu panggilan itu terhubung.

“Jadilah pasanganku untuk malam party.”

“Naega wae ?”

“Eomma yang minta. Sudah jangan banyak tanya, kepalaku akan pecah jika kau banyak bertanya.”

“Kepalamu yang pecah kenapa melarangku bertanya ?.” Celetuk Hyera tak ingin kalah.

“Aku tidak ingin berdebat denganmu malam ini. Turunlah, aku ada di depan.”

“Kenapa di depan ?. Masuklah, aku malas keluar.”

“Turun Song Hyera.” Perintah Hyukjae tak terbantahkan.

“Ck, arra. Gidaeryeo.” Sambungan terputus, Hyera memutus teleponnya. Kakinya kembali menapak lantai yang dingin menuju kotak persegi berbahan kayu yang disebut almari di sisi kanan ranjangnya. Menyambar mantel berwarna pink dan membalut tubuhnya dengan apik sebelum keluar dari kamar.

“Ahjumma, jika eomma mencariku katakan padanya kalau aku keluar sebentar bersama Hyukjae.” Setelah mendapat jawaban kesanggupan dari maid di rumahnya, Hyera bergegas keluar rumah menemui Hyukjae.

Dengan bantuan lampu jalan di depan gerbang rumahnya, Hyera melihat jelas tubuh Hyukjae yang bersandar di gerbangnya. Membelakangi dirinya. Terbesit sebuah ide di kepalanya untuk menjahili namja menyebalkan semacam Lee Hyukjae. Senyum devil terbit di wajahnya saat punggung itu makin terlihat jelas dalam jangkauan matanya. Selangkah, dua langkah, tiga langkah ia mengendap-endap. Dalam hati ia tertawa senang, merasa yakin jika kali ini ia bisa membalas namja menyebalkan ini. Sebagai pembalasan dendam atas apa yang Hyukjae lakukan padanya di kedai tadi sore. Huh, perawatan kulit dia bilang ?.

Hana.. Dul.. Set..

“HUWAAAA…”

“Aaaaa..” Tubuhnya limbung karena terkejut, jika saja Hyukjae bereaksi lambat meraih pinggangnya maka tubuh mungil itu akan langsung membentur tanah. Niatnya untuk mengejutkan Lee Hyukjae justru sebaliknya. Tanpa terduga namja itu telah mempersiapkan segalanya. Dengan topeng ‘joker’ yang terpasang di wajahnya, Hyukjae berhasil membuat Hyera kelabakan terkejut.

“YAKK NEO MICHESSEO..” Bukannya kata terima kasih yang ia dapatkan, justru bentakan keras dari Hyera yang menyapa telinganya. Masih di posisi yang sama, hampir tak ada jarak antara keduanya. Mata sipit itu enggan berkedip barang sekali, mencoba menyelam ke dalam mata almond milik Hyera.

Cantik. Itulah kesan pertama yang Hyukjae dapat tak berselang lama setelah dua pasang mata itu saling menatap. Bukan kali pertama jika hatinya memuji Hyera cantik. Tak terhitung sejak 3 tahun yang lalu, kesan pertama ia mengenal Hyera hingga rasa itu tumbuh dalam hatinya. Jantungnya berdebar, detakannnya terasa begitu kuat hingga rasanya mampu membobol dadanya. Berdekatan dengan Hyera dalam jangka waktu lama tidak baik untuk kerja jantungnya. Secepat itu Hyukjae memutus kontak matanya dan perlahan melepas rengkuhannya di pinggang Hyera. Keduanya berdiri canggung dengan pandangan mengarah ke semua penjuru arah, menghindari untuk saling menatap satu sama lain.

“Gwenchana ?” Meski canggung, dirinya tetaplah namja yang pantang untuk terlihat lemah di depan yeoja. Terlebih yeoja yang ia sukai. Hyukjae mencoba bersikap wajar seolah biasa saja dengan hal ini. Nyatanya dadanya semakin berdebar.

“Hmmm gwenchana.” Kemana perginya semua bentakan Hyera. Yang ada sekarang hanyalah Song Hyera dengan pipi merah tomat dan suara canggung. Keduanya hanya saling berhadapan tanpa mengubah posisi atau bahkan suara yang keluar dari mulut masing-masing. Cukup lama seolah puas hanya dengan mendengar deru nafas, Hyukjae orang pertama yang memutuskan untuk keluar dari zona canggungnya.

“Kita akan menjadi pasangan di last party. Eomma memintaku untuk mengajakmu, jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak.” Jelas Hyukjae.

“Aku tidak yakin ahjumma yang memintanya. Ucapanmu tidak ada yang bisa ku percaya dengan mudah Lee Hyukjae.” Selera berdebatnya mulai kembali.

“Lalu kau pikir aku yang berniat mengajakmu ?. Heol, masih banyak yeoja di luaran sana yang mengantri untukku. Kau seharusnya bersyukur, aku mau menuruti eomma dan mengabaikan jutaan wanita cantik yang mengantri dengan sukarela. Aku yakin sampai saat ini tidak ada namja yang memintamu menjadi pasangannya bukan ?” Skakmat. Hyera menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya seperti belati yang menyayat tenggorokannya, merobek pita suaranya paksa hingga suara tak lagi muncul dari mulutnya. Ohh ia berharap bisu sementara ini. Ia benci mengakuinya tapi yang Hyukjae katakan memang benar. Akurat.

Melihat Hyera yang tak kunjung menyanggah ucapannya membuatnya bangga. Akhirnya kejadian bersejarah ini terjadi. Seorang Lee Hyukjae membuat Song Hyera tak bisa mendebatnya lagi. Catat hari ini tanggal 23 Maret pukul 20.23 KST sebagai hari kemerdekaan Lee Hyukjae mengalahkan si ratu debat Song Hyera.

“Bukan tidak ada tapi belum. Lagipula masih ada banyak waktu, dan aku yakin namja itu akan datang padaku.” Muncul keraguan di kalimat terakhirnya. Dirinya saja tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan barusan. Namja mana ? siapa yang ia maksud ?. Jika yang ia harapkan adalah Lee Donghae, lebih baik sekarang kau naik ke atap rumah dan lompat dari sana jika tidak ingin ditertawakan oleh monyet ini.

“Geurae, jika dalam waktu dua hari ini ada seorang namja yang mengajakmu datang bersama ke party. Kau boleh menolak ajakanku. Tenang saja, aku yang akan bicara pada eomma nanti.” Hyera masih diam, bingung untuk menjawab. Sesaat mata almondnya melirik Hyukjae yang menatapnya terang-terangan. Ia tidak ingin mengakuinya di depan Hyukjae karena dirinya tidak pernah ingin kalah dari namja bermarga Lee ini. Hanya saja saat kepalanya membayangkan kemungkinan terburuk ia datang ke party sendirian, itu lebih memalukan lagi daripada mengakuinya sekarang.

“Tidak perlu. Aku akan pergi bersamamu. Aku tidak ingin membuat ahjumma sedih, hanya itu.” Senyum geli tersungging di wajahnya yang tampan.

“Alasan yang bagus. Call. Besok temani aku ke suatu tempat, ada hal yang harus kulakukan.”

“Oddi ?”

“Kau akan tahu besok. Aku akan menjemputmu jam 9. Sekarang masuklah, angin malam sangat dingin.”

“Cihh, kau baru sadar Tuan Muda Lee. Jika tahu kenapa meminta bertemu malam-malam begini. Jika hanya untuk mengajakku pergi besok kurasa lewat satu pesan tidak akan membuat jarimu lelah.” Tukas Hyera dengan sekali tarikan nafas.

“Aku tidak jamin kau langsung menyanggupinya. Jariku memang tidak lelah mengetikkan satu pesan padamu tapi akan sangat melelahkan jika harus membalas ocehanmu yang penuh alasan dan berakhir perdebatan. Sudahlah, aku absen berdebat.”

“Ck, kau sudah mendebatku sejak tadi monyet tengil.” Hyukjae mendelik mendengar panggilan Hyera padanya. Bukan pertama kali ia mendengar sebutan itu hanya saja, ‘bagian mana dari diriku yang patut disamakan dengan hewan primata itu’. Pikirnya. Belum sempat bibir tipisnya mengudara. Hyera lebih dulu berlalu pergi meninggalkannya.

“Yakk Song Hyera.”

“Ahh wae ?. Apa kau tidak kedinginan ?. Jika ingin berdebat kita lanjutkan besok saja. Aku selalu ada waktu untuk adu mulut denganmu. Pulanglah.” Dengan kesal dan kaki yang menghentak berulang kali Hyera berjalan memasuki rumahnya. Sementara dibelakang sana, Lee Hyukjae lengkap dengan tampang cengonya tak percaya menatap punggung Hyera yang semakin menjauh hingga lenyap di balik pintu berplitur putih.

“Jika saja hati, otak serta sarafku tidak kompak berteriak merindukanmu, tidak mungkin juga aku mau datang kemari. Brrrrrr..” Meski tubuhnya terbungkus mantel tebal, angin malam masih sempat mencuri celah untuk menyentuh kulit pucatnya hingga tubuhnya menggigil. Kedua tangannya saling menggosok guna menghalau dinginnya malam sambil kakinya melangkah meninggalkan kediaman keluarga Song. Jarak rumahnya dengan kediaman Song hanya sela 2 rumah dengan halaman luas, tidak cukup jauh sebenarnya. Hanya saja kondisi malam yang begitu dingin membuat Hyukjae berlari menuju rumahnya. Tanpa sepengetahuannya sosok cantik dengan kuncir kudanya mengawasinya dari balkon kamar di lantai dua. Mata almond yang selalu nampak jernih meski di waktu malam itu menatap Hyukjae yang berlari memasuki gerbang rumahnya dan hilang di balik pintu utama. Bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Aku tahu kau kedinginan monyet tengil.”

®IMMOLATION®

Mentari bersinar terik di atas sana, namun awan mendung mulai merayap mendekatinya. Hyera mendengus saat mata jernihnya menatap jarum jam di tangannya. 11.16 KST, itu tandanya Lee Hyukjae si monyet tengil itu telah meninggalkannya sendiri di taman kota selama hampir 30 menit. Astaga apa yang sebenarnya monyet itu lakukan ?. Dan kemana perginya ?. Batinnya merutuk.

Dirinya seperti orang bodoh yang menunggu seorang diri di taman kota saat awan mendung mulai menyapa mentari tepat di atas kepalanya. Akan turun hujan, anak usia 5 tahunpun akan tahu bahwa saat ini sibuk-sibuknya orang mencari tempat perlindungan dari hujan yang akan turun sebentar lagi. Bodohnya ia melupakan payungnya di rumah karena Hyukjae yang terlambat menjemputnya membuatnya gelagapan. Namja mata sipit itu bangun kesiangan sehingga melupakan janjinya untuk keluar bersama di jam 9 dan baru menjemputnya jam 10. Kebiasaan.

“Ck, kemana kau Hyuk-ah ?” Hyera tak beranjak dari kursi taman yang ia tempati atas perintah Hyukjae. Dirinya sibuk mengutak-atik ponselnya mencoba menghubungi Hyukjae. Lebih sial lagi saat suara wanita yang ia dengar dengan perintah untuk meninggalkan pesan suara saja karena si pemilik ponsel sedang tidak bisa mengangkat telponnya. “Mati kau Lee Hyukjae.”

“Siapa yang mati ?” suara serak khas Lee Hyukjae menguar di telinganya tanpa perintah ataupun aba-aba. Membuat Hyera terlonjak kaget hingga reflek memukul kepala Hyukjae. “Yakk, wae ?. Appo jeongmal.”

“Kenapa mengejutkanku jika tidak ingin dipukul ?.” sentak Hyera.

“Siapa yang mengejutkanmu ?. Aku hanya tanya siapa yang akan mati Ra-ya, apa itu mengejutkan ? Wahh seolma jinjja.”

“Kau muncul tiba-tiba dengan pakaian serba hitammu. Langit mendung dan suaramu yang begitu dekat dengan telingaku membuatku terkejut. Kau seperti Jeosangsajja (Malaikat Pencabut Nyawa)” Jelas Hyera dengan sekali tarikan nafas. Meluapkan semua emosinya karena memang seorang Song Hyera sangat membenci yang namanya ‘terkejut’, jantungnya berpacu berkali-kali lipat saat dirinya terkejut. Dalam keadaan yang serius bahkan kepalanya akan pusing dan tubuhnya mendadak lemas.

“Apa yang salah dengan pakaiannku. Mwo ? Mwo ?. Jeosangsajja ? Wahhh jinjja mwoya..” Keduanya kompak saling melempar deathglare. Mata sipit miliknya justru nampak lucu saat dipaksa melebar, sedangkan Hyera tatapan mautnya didukung dengan dahi yang memunculkan lipatan. Kekanakkan memang, mendebatkan hal kecil di tempat umum. “Huhh, lagipula jika aku Jeosangsajja maka aku akan menolak perintah untuk menjemput nyawamu.” Celetuk Hyukjae.

“Lee Hyukjae.” Teriak Hyera. Telinganya benar-benar kebas mendengar celotehan Hyukjae.

“Mwo ? Wae ?”

“Neo.” Hyukjae mengangkat dagunya seolah menantang, membuat Hyera semakin tersulut emosi. “Kubunuh kau monyet tengil.”

“Tangkap saja jika kau bisa.”

“YAKKK LEE HYUKJAE BERHENTI KAU.” Hyukjae tentu tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya, niat awalnya hanya ingin menggoda Hyera. Bukankah sudah menjadi hobinya membuat tekanan darah Hyera naik hingga ke ubun-ubun ?. Hal kecil berlanjut dengan adu mulut dan saling mengolok hingga berakhir dengan kejar-kejaran. Sangat kekanakkan untuk mereka yang duduk di bangku SHS di tahun ketiga. Hanya saja perlu digaris bawahi disini. Lee Hyukjae, namja pewaris tunggal Lee Inc itu memiliki maksud tersendiri saat menjahili Hyera. Dan saat ini, usahanya membuahkan hasil. Gadis yang lama menempati hatinya itu mampu tertawa lepas saat berusaha mengejarnya.

“Meski mentari tak lagi menunjukkan kuasanya menerangi muka bumi. Langit tak lagi ada sebagai latar bias cahaya mentari hari ini. Meski langit gelap karena bumi akan menangis. Namun, aku memiliki duniaku sendiri disini bersamamu. Mentari yang sinarnya kupastikan tak akan pernah sirna menerangi dunia. Karena senyum dan tawamulah sinar abadi yang hanya ada di duniaku. Dunia Lee Hyukjae dengan senyum Song Hyera sebagai mataharinya.”

“Ra-ya, tetaplah seperti ini. Na yaksokhae. Dengan cara apapun akan kubuat kau tersenyum meski dengan tindak menyebalkanku. Bersabarlah menghadapi kejahilanku yang membuatmu emosi atau bahkan sangat ingin memukulku. Pukul saja sepuasmu, lakukan. Keundae.. aku ingin kau tertawa seperti ini sebagai imbalannya.”

Lee Hyukjae yang faktanya begitu menyukai olahraga hingga mendapat sebutan khusus dari Hyera, terlihat baik-baik saja meski sudah 10 menit mereka berlarian di taman kota. Sementara jauh di belakang, Hyera mulai kuwalahan dan lelah amat sangat. Kakinya seakan patah jika ia paksa untuk berlari lebih jauh lagi. “Hyukjae-ah keumanhae eoh ?.”

Melihat Hyera yang terduduk di atas rumput hijau dengan peluh yang mengucur di pelipisnya membuat Hyukjae berlari mendekat. “Masih ingin membunuhku ? Huhh dasar payah.” Ledek Hyukjae. Menggoda Hyera tak akan pernah ada kata ‘selesai’ di kamusnya. Yeoja kuncir kuda dengan topi navy yang menutup kepalanya itu tak mampu membalas, dirinya sibuk mengatur nafasnya yang tersengal. Uluran tangan di depan wajahnya membuat kepalanya mendongak. “Bangunlah.” Tak sungkan Hyera menerima uluran tangan Hyukjae dan membantunya bangun. Keduanya memutuskan mencari tempat berlindung dari hujan yang sebentar lagi turun ke muka bumi.

“Kau darimana saja ?. Jika tahu begini kenapa tidak pergi saja sendiri.” Hyukjae menggelengkan kepalanya sebagai respon singkat menanggapi ucapan Hyera. “Kau memintaku menemanimu hari ini entah kemana. Lalu meninggalkanku begitu saja di taman kota selama 30 menit seperti orang bodoh. Sebenarnya kita akan kemana Hyuk-ah ?”

“Pulang.” singkat, padat, jelas Hyukjae menjawab kalimat panjang Hyera. Tak peduli dengan amukan ‘singa betina’ yang berpotensi menghancurkan wajah tampannya.

“MWO ?” Langkah kakinya terhenti begitu Hyera ‘mengerem’ kakinya. Dengan wajah santainya Hyukjae menatap heran sekaligus bingung kearah Hyera dibelakangnya. “Monyet tengil, kau bercanda ?.”

“Ani. Wae ?” Oh My God, bolehkah aku membunuh namja ini.

“Kau mengajakku ke taman kota ?. Ani. Lebih tepatnya kau membuatku menunggu di taman kota dan sekarang kita pulang ?. Ohh leherku terasa kram. JINJJA…” Hyukjae menutup sebelah telinganya yang berada dekat dengan mulut Hyera, terasa berdengung begitu mendengar lengkingan suara yeoja bertubuh mungil ini.

“Ra-ya, apa tenggorokanmu tidak sakit berteriak seperti itu ?. Telingaku sampai berdengung mendengarnya.” Habis sudah kesabarannya. Kesal dengan tingakh Hyukjae yang membuatnya muak. Hyera berlalu begitu saja dengan hati dongkol menuju salah satu mini market tak jauh dari posisi mereka saat ini. Tubuhnya mendidih luar dalam menghadapi monyet menyebalkan di belakangnya itu. “Oddiya ? Gidaeryeo.” Hyukjae tersenyum lepas, puas menjahili Hyera. Lagi.

Bukan tanpa alasan dirinya meminta Hyera ikut bersamanya hari ini. Apa yang kalian pikirkan jika ingin menghadiri sebuah pesta ?. Hal pertama pastilah pakaian yang akan kalian kenakan bukan ?. Itulah tujuan sebenarnya Hyukjae mengajak Hyera keluar hari ini. Hari ini Lee Hyukjae telah memesan setelan khusus untuknya dan juga Hyera yang akan mereka gunakan esok lusa. Tentu saja ini adalah kejutan, itu sebabnya ia meminta si-designer untuk melihat Hyera dari jarak jauh. Butik tempat biasa eommanya –Nyonya Lee- memesan pakaian sejenis tuxedo dan setelan resmi lainnya. Bisa dibilang sudah langganan. Terjawab sudah pertanyaan kenapa Hyukjae mengajak Hyera keluar hari ini.

“Jangan mengikutiku Lee Hyukjae. Kka.” Hyukjae melangkah lebih cepat hingga ia mampu menghalangi kaki Hyera untuk melangkah lebih jauh. “Minggir dari hadapanku.” Hyukjae hanya menggeleng. Hyera mendengus kesal, namun tubuhnya begitu lelah hingga tak ada niat untuk mendebat Hyukjae kali ini. Alhasil tubuhnya beringsut kesisi lain, namun Hyukjae kembali menghadangnya. “Kau ingin mati eoh ?”

“Tidak masalah, asal kau berjanji untuk selalu tersenyum dan jangan pernah menangis. Call ?”

“Michesseo.” Hyera berhasil melewati tubuh Hyukjae, namun pergelangan tangannya harus tertahan cekalan Hyukjae. “Lee Hyukjae.” Matanya mendelik menatap garang tepat ke mata sipit Hyukjae.

“Aku sungguh-sunnguh dengan ucapanku tadi Hyera.” Namun apa yang ia dapat, justru mata sayu penuh kesungguhan milik Hyukjae yang ia lihat saat ini. Tubuhnya mendadak kaku, tak lagi memberontak. Lidahnya kelu untuk mengungkapkan satu kata pun tak mampu. Keduanya hanya diam dengan saling menatap. Lee Hyukjae, namja mata sipit itu menjadi orang pertama yang memutus kontak mata keduanya disusul gengamannya yang terlepas di pergelangan tangan Hyera. “Tunggu disini. Aku akan membeli minum.” Hyera hanya mengangguk patuh. Hingga tubuh Hyukjae melewatinya, Hyera ikut membalikkan tubuhnya menatap punggung namja yang sudah 3 tahun lamanya menjadi sahabatnya itu.

“Untuk kedua kalinya aku melihat sisi lain darimu Hyuk-ah.” Senyum cerah terbit di wajahnya. Senyum mentari di dunia Lee Hyukjae. Kepalanya kembali mengingat kejadian tempo hari saat insiden bola basket, ketika dirinya berjalan menjauh dari Donghae dan Min Seo yang tengah merencanakan kencan pertama mereka. Saat itulah ia melihat sisi lain dari seorang Lee Hyukjae, sosok yang tidak ada kata menyebalkan melekat dalam dirinya. Sosok yang membuatnya tersenyum tanpa beban maupun sandiwara seperti yang biasa ia lakukan. Dan sosok yang membuat jantungnya berdebar.

Mata itu, mata sipit yang akan selalu terlihat sayu saat sisi lain dari dirinya muncul. Hyera menyukainya, tatapan mata yang membuat jantungnya berdebar. Bukankah jantung berdebar identik dengan rasa suka atau bahkan cinta ?. Itulah yang menjadi pertanyaannya akhir-akhir ini. Saat dirinya merasakan kerja jantung yang dua kali lipat lebih cepat, saat tiba-tiba dirinya tersenyum tanpa sadar hanya dengan menatap punggung Hyukjae. Ada apa dengannya ? Kenapa ia seperti ini ?. Percayalah bahwa dua pertanyaan itu yang mengusik pikirnya sejak 2 minggu yang lalu.

“Song Hyera sadarlah. Lee Hyukjae, dia sahabatmu.” Hyera berusaha mensugesti dirinya sendiri, namun siapa sangka jika salah satu ruang di hatinya justru memihak perasaan yang masih abstrak itu. Benarkah itu ? Dirinya memiliki perasaan untuk Hyukjae ?.

“Kau melamun ?” suara Hyukjae berhasil menyentaknya tersadar dari pikiran-pikiran ‘anehnya’. Otak dalam kepalanya sedang tidak akur dengan kata hatinya. “Minumlah.” Hyukjae menyodorkan sekaleng soda untuk Hyera.

“Gomawo.” Yeoja dengan kaos putih polos dan celana jeans yang mencetak jelas bentuk kakinya itu meneguk sekaleng soda yang baru saja Hyukjae berikan padanya. Tandas tak tersisa. Ayolah, tenggorokkannya terasa kering setelah adu mulut dengan Hyukjae.

“Sudah kubilang jangan sering berteriak. Tenggorokkanmu bisa sakit Ra-ya.” Tutur Hyukjae. Tangan kanannya terulur mengusap sisa soda yang menempel di ujung bibir Hyera. Entah sadar atau tidak namun perlakuannya barusan membuat jantung yeoja kuncir kuda itu berdegup diatas normal. Mata almondnya terfokus kearah wajah tampan Hyukjae.

“Hyuk-ah…” suara panggilannya berhasil menarik perhatian Hyukjae sepenuhnya hingga tatapan keduanya kembali bertemu. Astaga, apa yang terjadi padaku ?.

“Hmmm..” sejak kapan suaranya terdengar merdu ?. Na michesseo, jinjja. Hatinya bertarung dengan akal pikirnya.

“Anio. Kita pulang sekarang. Kajja.” Tanpa sadar yeoja itu meraih tangan Hyukjae untuk ia genggam, namun tak berselang lama ia tersadar hingga genggamannya terlepas. “Mian.” Hyera tertunduk dalam tak mampu menatap Hyukjae yang menyatukan alisnya di depan sana. Heran sekaligus bingung dalam waktu bersamaan. Apa Hyera tengah malu ? padanya ? karena apa ?.

“Hari ini tingkahmu aneh ?. Kau marah, berteriak tanpa sebab dan sekarang kau malu tanpa sebab pula. Neo wae gurae ?. Seolma…” Hyukjae menggantung kalimatnya memberi efek penasaran pada diri Hyera. “Apa kau….”

“Mwo ? Wae ?” Hyera mendadak gugup saat Hyukjae melangkah maju lebih dekat kearahnya.

“Song Hyera, apa kau…”

“Mwoo..”

“Berkepribadian ganda ?” Ujar Hyukjae dengan raut kurang yakin tepat di depan wajah Hyera. Ekspresi yang dibuat-buat membuat Hyera tak enggan menghabisi wajah tampan ini.

“MWO ? LEE HYUKJAE.” Dengan tawa menggelegar bak petir di hujan badai, Hyukjae berlari meninggalkan Hyera yang masih mengumpat di belakang sana. Kenapa disaat seperti ini, justru sisi aslinya yang muncul. Rutuk Hyera mengambil ancang-ancang untuk mengejar Hyukjae yang masuk lebih dulu ke dalam sebuah caffe di ujung jalan. Bagi kalian yang baru saja mengenal mereka, jangan terlalu ambil pusing dengan tingkah keduanya. Hanya akan menambah beban pikiran jika kalian memikirkannya. Saranku, abaikan saja.

®IMMOLATION®

1 hari sebelum Final Party..

“Ige mwoya ?” Hyera melangkah menaiki tangga menuju kamarnya dengan bingkisan di tangannya. Kotak persegi panjang yang dihias sedemikian rupa menyerupai sebuah kado ulang tahun baru saja sampai di rumahnya atas bantuan kurir. Aneh saat bingkisan ini ditujukan untuknya. Ulang tahunnya masih 2 bulan lagi jadi tidak mungkin ini hadiah ulang tahunnya. Kemudian jika dipikir lagi ia tidak pernah memesan barang apapun yang harus diantar. Lalu siapa pengirimnya ?.

Hingga kakinya memasuki kamar, menutup pintu kemudian naik keatas ranjang. Hyera bersiap membuka kotak persegi dengan pita ungu itu. Sepucuk surat menempel diatasnya, terlebih dulu Hyera membaca isi surat kecil itu.

Aku memesannya tidak gratis Song Hyera. Kau harus membayar mahal untuk gaun ini. Mudah saja, jangan membuatku malu besok. Arrachi ?. Kuharap kau suka. Lee Hyukjae.

Dirinya dibuat terkejut begitu mengetahui siapa pengirimnya. Hyukjae ?. Jadi ini sebuah gaun dan dia bilang memesannya ?. Apa gaun ini dipesan khusus untuknya ?. Penasaran, Hyera tak sabaran membuka penutup kotak persegi warna ungu itu. Membuang kertas putih yang digunakan untuk menutup isinya. Seketika mata almondnya menatap tak percaya sebuah gaun berwarna putih dengan hiasan berlian di bagian dadanya membuatnya terkesan glamour walau di desain dengan bentuk yang simple. Panjangnya hanya sebatas lutut dengan bagian bawah yang mengembang nampak indah. Gaya Song Hyera. Bibirnya tertarik keatas hingga membentuk bulan sabit, membuatnya terlihat begitu cantik. Secantik gaun malam yang dibuat khusus untuknya. Lee Hyukjae daebak keurigo gomawo.

®IMMOLATION®

Hari telah berganti, langit cerah kini berubah warna menjadi abu-abu bercampur orange di sebelah barat. Di sisi lain matahari kembali ke peraduannya, di arah yang berlawanan sang bulan mulai menunjukkan kehadirannya sebagai penguasa langit malam. Hyera baru saja selesai dengan ritual mandinya. Kini dirinya tengah sibuk merias wajah dengan sapuan make up tipis yang membuat wajahnya nampak ayu dengan kesan natural. Bibirnya ia warnai dengan lipstick berwarna pink soft khas anak remaja. Wajah cantiknya kini kian sempurna setelah mendapat sedikit polesan. Masalahnya adalah pada rambutnya. Hyera tidak pernah mengganti gaya rambutnya selain kuncir kuda yang menjadi ciri khasnya. Membuatnya kesulitan untuk menentukan style yang tepat untuk rambutnya malam ini. Tergerai ? Itu membuatnya risih. Digelung ? akan membuat lehernya terekspos jika mengingat gaun yang Hyukjae buat khusus untuknya itu hanya sebatas dada dengan hiasan kain sifon yang menutupi satu sisi pundaknya. Lalu ia apakan rambutnya kali ini ?.

“Ada yang bisa eomma bantu sayang ?”

“Eomma.” Kepalanya mengangguk pasti, meyakinkan sang eomma bahwa dirinya memang tengah membutuhkan sedikit bantuan disini. “Aku kesulitan mengatur gaya rambutku eomma. Hyukjae sebentar lagi menjemputku. Eomma bisa membantuku ?”

“Tentu sayang. Serahkan pada eomma. Lebih baik kau kenakan gaunmu terlebih dulu. Eomma akan mengambil beberapa aksesoris yang cocok untukmu.” Hyera menuruti perintah Nyonya Song. Dan gaun itu telah melekat pas ditubuhnya. Benar-benar pas tanpa ada ruang sisa sedikitpun.

“Mwoya ?. Lee Hyukjae, neo..” Hyera kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang hatinya rasakan saat ini. Yang mampu ia jelaskan secara gamblang hanya, ia menyukianya –gaun-. Sangat.

“Yeppeuda. Uri ddal neomu yeppeuda.” Puji Nyonya Song begitu dirinya masuk kedalam kamar Hyera dan mendapati sang putri terbalut gaun putih yang sangat cantik. “Kemarilah, eomma akan memberikan sentuhan terakhir agar semua mata hanya tertuju padamu malam ini.” Goda Nyonya Song.

 

dress_2

 

“Eomma..” 10 menit berlalu. Kini Hyera telah siap dengan semua hal yang melekat ditubuhnya. Si kuncir kuda telah berubah menjadi putri angsa dengan nuansa putih dan belian yang melekat ditubuhnya.

Gaun pas badan dengan aksen berlian di dadanya. Rambut yang tergerai lurus dengan jepitan rambut berlian yang tersemat manis di surai halusnya. Hyera sangat cantik malam ini. Yeoja bermarga Song itu menuruni tangga dengan langkah perlahan karena masih harus beradaptasi dengan sepatu hak tinggi setinggi 12 centi yang terpaksa ia kenakan karena paksaan Nyonya Song.

Sementara di ruang tamu, Lee Hyukjae sudah menunggu kedatangan Hyera dengan jantung yang berdebar serta kepala yang terus membayangkan bagaimana penampilan Hyera malam ini. Apakah gaunnya cocok ? sesuai seleranya ? Kebesarankah atau justru tidak muat ? Itulah yang terpikir di kepalanya sejak tadi sore. Namja bermarga Lee itu terlihat sangat tampan dengan setelan jas hitamnya. Begitu kontras dengan gaun Hyera.

 

eunhyuk-tumblr_n00aj2PjtE1qbtf5qo1_500

 

Benturan sepatu Hyera dengan lantai rumah yang dingin menciptakan suara yang begitu jelas ditelinga Hyukjae. Semakin dekat dan munculah sosok cantik Hyera dari balik dinding pembatas antara ruang tamu dengan ruang tengah. Seketika tubuhnya beranjak dari duduknya. Kakinya berhasil menopang seluruh berat bdannya. Mata sipitnya hanya terfokus pada Hyera yang berada tak jauh di depannya. Menunduk. Kenapa ?.

Kakinya melangkah tanpa sadar mendekat kearah Hyera yang hanya terdiam 5 langkah dari posisinya. Lagi-lagi saraf motoriknya tidak berfungsi sesuai perintah otaknya. Bisakah ia mengakui satu hal yang pasti saat ini bahwa dirinya telah terpesona olehnya. Song Hyera. “Kau menggerai rambutmu malam ini ?” pertanyaan atau pernyataan Lee Hyukjae. Sangat tidak pantas untuk memulai percakapan.

“Nde. Apa terlihat aneh ?. Jujur aku tidak terlalu suka. Membuatku risih.” Tutur Hyera dengan wajah melas. Jika saja bukan karena waktu yang menghalanginya, maka Hyera sudah minta style lain yang lebih nyaman untuknya.

“Yeppeo.” Satu kata itu bak mantra yang keluar dari mulut Hyukjae, membuat Hyera melempar pandang kearahnya. Hingga keduanya bertukar tatap. Satu kata itu berhasil mengubah kerja jantungnya. Jantung keduanya, karena Hyukjae pun merasakan hal yang sama.

Untuk sesaat keduanya tak mampu mengucap sepatah katapun, dan hanya terfokus menatap lawannya. Hingga suara Nyonya Song membuyarkan aksi pandang-memandang Hyukjae dan Hyera. “Kalian belum berangkat ?. Kupikir kalian akan terlambat jika terlalu lama disini.” Ujar Song Hyeomi, ibu Hyera.

“Nde ahjumma. Keureom.” Hyukjae menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan kepada Hyeomi, sebelum berjalan lebih dekat menghampiri Hyera. Mengangkat tangan kanannya ke hadapan Hyera, memberi isyarat untuk mengapitnya.

“Mwo ?” Tanya Hyera tak mengerti maksud perlakuan Hyukjae. Saat seperti inilah kalian boleh berpikir bahwa Song Hyera adalah gadis yang kolot. Hyukjae mendengus saat aksi gentle-nya hancur akibat kekolotan Hyera. Dengan wajah memberengut, tangan kirinya menuntun tangan kiri Hyera untuk menggelantung di lengan kanannya. “Monyet tengil apa yang kau lakukan ?”

“Aishh, aku sudah setampan ini berhentilah memanggilku monyet. Kau menurunkan citraku.” Jelas Hyukjae sambil melangkah beriringan menuju mobil sport putihnya yang terparkir di pelataran rumah Hyera. Malam ini untuk pertama kalinya ia menggunakan mobil kesayangannya itu ke sekolah, mengingat kali ini acaranya berbeda dan mungkin akan menjadi jumpa pertama dan juga terakhir bagi mobil putihnya itu di Paran High School. Bukan untuk pamer, dirinya masih cukup pintar untuk tahu resiko apa yang akan terjadi jika ia memilih membawa motor sport ketimbang mobil. Panjang urusannya jika riasan seseorang hancur karena motornya. Siapa lagi jika bukan Hyera.

“Kau benar. Kau sangat tampan jika dilihat dari puncak Himalaya.”

“YAKKK..” Langkah keduanya terhenti. Berlanjut dengan saling menatap garang mengirim sengatan-sengatan listrik bertegangan tinggi ke arah lawan. Tak ada hari tanpa pertengkaran. Jika Korea saja memiliki tanggal merah sebagai libur nasional, maka dalam dunia Lee Hyukjae dan Song Hyera yang namanya tanggal merah itu tak pernah ada. Libur untuk bertengkar, beradu mulut ? Mimpi saja.

Setelah mendapat teguran dan ceramah singkat dari Hyeomi, disinilah mereka akhirnya. Berada dalam satu mobil yang Hyukjae kemudikan dalam suasana hening selama hampir 10 menit. Hyera lebih tertarik dengan kerlap-kerlip lampu LED di sepanjang jalan daripada menatap atau bahkan memulai percakapan dengan Hyukjae. Tidak bisa ia jamin jika yang muncul hanya pertengkaran karena hal sepele. Memang dasarnya mereka berdua itu keras kepala.

Tak jauh beda dengan Hyera, Hyukjae pun juga lebih tertarik menatap ke depan meski sesekali mata sipitnya melirik pergerakan Hyera. Hingga saat ini, jantungnya bekerja aktif membuat Hyukjae mengucurkan keringat dingin tanpa ia sadari. Berada pada jarak sedekat ini bukan hal yang bagus untuknya, tapi jika tidak menangkap siluet Hyera dalam pandangnya maka hatinya akan menjerit rindu. Serba salah.

Tak berselang lama, mobil sport sekelas Ferrari itu memasuki pelataran Hall Paran School. Hebatnya sekolah itu memiliki fasilitas layaknya universitas besar. Auditorium dan Hall. Hyukjae bersiap turun namun cekalan Hyera menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu. “Neo gwenchana ?. Udara malam ini mustahil membuatmu berkeringat Hyuk-ah.” Tanya Hyera. Awalnya ia tak begitu memperhatikan hingga dirinya yang berniat melihat pintu masuk justru menangkap benda cair yang disebut keringat itu merembes di pelipis Hyukjae. Sontak Hyera dihinggapi rasa khawatir.

“Gwenchana. Ini hal biasa Ra-ya. Kajja.” Hyukjae beranjak turun dari mobil, melangkah ke sisi lain berniat membukakan pintu untuk Hyera.

“Kau yakin ?.” Hyera tak bisa melupakan kekhawatirannya ditambah lagi sifatnya yang ‘kepo’ membuatnya menghujani Hyukjae dengan berbagai macam pertanyaan. “Kita pulang saja jika kau merasa kurang sehat.” Pinta Hyera.

“Kau bercanda ?. Rugi besar jika kita tidak hadir malam ini. Gaunmu itu aku pesan khusus untuk malam ini, mana mungkin kita tidak hadir. Dan kau harus ingat untuk membayarnya malam ini.”

“Ckk, aku akan membayarnya nanti. Kita pulang saja, kau sakit.” Hyera bersiap masuk kembali ke dalam mobil namun Hyukjae menghentikannya. Jarinya menyentil kening Hyera yang tertutup poni malam ini. “Yakkk… kenapa menyentilku ?. Kau ingin mati malam ini huh ?”

“Beginilah Hyera yang ku kenal. Sudahlah, aku tidak sakit. Kajja.” Mengabaikan tatapan maut Song Hyera, Lee Hyukjae dengan warna rambut yang dibuat berbeda malam ini menggenggam tangan Hyera. Menggandengnya masuk ke dalam Hall yang sudah dipenuhi murid kelas 3 Paran High School.

“Lee Hyukjae kau benar-benar membuatku kesal.” Gerutu Hyera begitu dirinya dan Hyukjae masuk ke dalam Hall. Tentu saja ucapannya barusan terdengar jelas di telinga Hyukjae meski musik yang berdentum mendesak masuk ke telinganya.

Mata sipitnya menyapu ke seluruh penjuru ruangan mencari keberadaan 2 sosok yang seliweran di kepalanya. Min Seo dan Donghae. DAPAT. Keduanya terlihat mengobrol di dekat panggung. Tak menunda waktu lagi, Hyukjae bergegas menarik Hyera untuk bergabung dengan kedua temannya itu. Hall milik Paran School tidak bisa disebut kecil, luasnya bak kelipatan lapangan sepak bola, dan letak panggung dengan pintu masuk berada di ujung utara dan selatan. Panggung di ujung utara dan pintu masuk di ujung selatan, bayangkan saja.

Hyera kesulitan mengikuti langkah cepat Hyukjae. Sialnya sepatu hak tinggi yang ia kenakan benar-benar membuat harinya buruk. Niatnya malam ini kakinya hanya akan berteman dengan flat shoes dengan warna senada, namun sang eomma melarangnya dan memaksanya memakai sepatu setinggi ini. Rasanya kakinya lecet di dalam sana. Baru sampai setengah jalan, lampu sorot berhasil menangkap pergerakan mereka hingga seluruh fokus orang di dalam sana menatap kearahnya dan Hyukjae yang bergandengan tangan. Langkah mereka terhenti seketika.

“Inilah Song Hyera, peraih nilai tertinggi di tingkatnya. Seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya bahwa peraih nilai tertinggi akan menjadi Ratu malam ini.” Hiruk pikuk tepuk tangan menguar di telinganya begitu MC selesai membacakan pengumumannya. Ratu Pesta ?. Ohh astaga, apa yang akan terjadi malam ini.

Hyukjae menatap Hyera yang tertunduk, merasa tak nyaman dengan sorot lampu dan banyak pasang mata yang menatap kearahnya. Lee Hyukjae, namja dengan tinggi 176 cm itu mengenal sosok Hyera, sangat. Hyera bukanlah pencari perhatian, tentu saja di tatap begitu banyak pasang mata membuatnya tak nyaman.

“Benarkah dia Song Hyera, si kuncir kuda ?.”

“Dia terlihat berbeda malam ini.”

“Gaunnya sangat indah, aku ingin memilikinya.”

“Hyera sangat cantik malam ini.”

“Dia beruntung. Pintar, cantik, menjadi pasangan Lee Hyukjae pula. Tuhan begitu tidak adil.”

“Aku juga ingin bersama Hyukjae oppa.” Dan masih banyak bisikan lain yang tertangkap daun telinganya. Begitu lampu sorot beralih ke orang lain –si peringkat dua- barulah Hyera bisa menghela nafas lega. Fokus semua orang juga ikut berpaling darinya.

“Gwenchana ?” Hyukjae yang sejak tadi hanya diam, kini melangkah lebih dekat ke arah Hyera. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawabannya. Hyukjae menuntun tubuh Hyera menuju salah satu kursi yang terletak tak jauh darinya. “Tunggu disini, akan ku ambilkan minum.”

“Ra-ya gwenchana ?” selepas kepergian Hyukjae, Min Seo dan Donghae datang dari arah panggung. Seketika itu pula Hyera merasa seakan dihempaskan dari atap sekolah yang tingginya tak bisa di anggap remeh. Bagaimana ia bisa melupakan malam ini ?. Malam dimana mereka –Min Seo dan Donghae- akan bersatu. Terikat dalam sebuah hubungan kekasih dan jangan lupakan janjinya untuk membantu Donghae menjalankan rencananya malam ini. Sekaligus menjadi akhir dari cinta sepihaknya. Tak ada lagi ‘Lee Donghae’ yang menghuni ruang hatinya esok hari.

“Mmm na gwenchana Seo-ah.” Min Seo mengambil tempat di samping kanannya sedangkan Donghae berdiri tepat di depannya. Namja itu terlihat sangat tampan, jauh lebih tampan memakai setelan hitam sama seperti Hyukjae dengan dasi kupu-kupu yang menempel di lehernya.

“Kau ini aneh sekali. Hanya karena lampu sorot tubuhmu berkeringat dingin seperti ini.” Oceh Min Seo mengelap keringat yang merembes keluar di pelipis Hyera dengan tissue yang diberikan Donghae.

“Hanya gugup. Aku benci menjadi pusat perhatian.” Jawab Hyera seadanya. Memang itu faktanya.

“Kemana Hyukjae ?” Setelah cukup lama hanya diam, akhirnya Donghae mengeluarkan suara lembutnya itu.

“Dia pergi mengambil minum.” Donghae terlihat mangut-mangut mengerti. Namun jika kalian lebih perhatikan lagi, dari raut wajahnya sudah bisa ditebak bahwa Donghae tengah berpikir saat ini. Hyera melihatnya jelas. Ia ingin bertanya, sayangnya Donghae lebih dulu mengutarakan maksudnya.

“Ra-ya, bisa ikut denganku sebentar.”

“Oddie ?” pertanyaan itu justru muncul dari mulut Min Seo. Cukup aneh saat mendengar Donghae mengajak Hyera bicara empat mata. Ada apa dengannya ?. Cemburukah ?. Batinnya. Jangan konyol Cha Min Seo.

“Hanya sebentar Seo-ah. Gidaeryeo hmm ?” Donghae menarik pelan tangan Hyera menjauh dari Min Seo. Melihat jari-jari Donghae menggegam tangan Hyera, ada sedikit rasa tak rela di hatinya. Mwoya ?.

“Seo-ah, kemana Hyera ?” Belum hilang bayangan Hyera dan Donghae yang pergi meninggalkannya Hyukjae datang dari arah yang berlawanan.

“Hyuk-ah, Hyera sedang bersama Donghae. Tunggu saja disini. Mereka tidak akan lama.” Ada raut kecewa di wajahnya begitu mengetahui fakta bahwa Donghae dan Hyera tengah bersama saat ini. Muncul sebersit rasa menyesal karena meninggalkan Hyera sendirian, lepas dari penjagaannya. Alhasil, Donghae memanfaatkan kesempatan ini. Sudah ia duga bahwa malam ini Donghae akan merecoki Hyera karena sejatinya sahabatnya itu membutuhkan Hyera untuk melancarkan rencananya malam ini. Mereka berempat adalah teman baik, namun sudah menjadi hukum alam bahwa seorang teman tidak selamanya bisa mengerti kita. Bisa dibilang, Song Hyera dan Lee Hyukjae menjadi buktinya.

Kebenaran yang telah ia ketahui membuatnya berencana menjauhkan Hyera dari jangkaun Donghae. Tidak selamanya, hanya sampai rencana Donghae untuk meresmikan hubungannya dengan Min Seo berjalan seperti yang sudah direncanakan tanpa bantuan Hyera. Lee Hyukjae, namja bermata sipit itu tak ingin lagi melihat raut kecewa sarat akan rasa sakit hati yang berusaha Hyera sembunyikan dari mereka semua. Jika saja Min Seo dan Donghae tahu kebenarannya, mungkinkah semua ini akan tetap berjalan sesuai rencana ?. Sempat terpikir di kepalanya untuk membeberkan fakta ini namun Hyukjae tidak ingin jadu egois dengan mengorbankan kebahagian kedua sahabatnya demi orang yang ia sukai. Hyera. Dan ia yakin bahwa Hyera akan sangat membencinya jikalau hal itu benar terjadi. Alhasil, hanya menjauhkan Hyera dari beban rencana-rencana romatis Lee Donghae untuk Min Seo yang mampu Hyukjae lakukan selama hampir satu minggu ini. Amat sangat disayangkan malam ini ia kecurian.

Sementara di tempat lain, Donghae menjelaskan rencananya pada Hyera. Wajahnya berbinar saat membayangkan reaksi Min Seo nantinya. Sesampainya di samping panggung yang lenggang dari lalu lalang murid lain, Donghae langsung menjelaskan rentetan rencana romantis yang disiapkan khusus untuk Min Seo malam ini. Hyera seperti terlupakan dan dianggap seonggok manekin yang berperan menjadi pendengar yang baik saat ini. Sejak tadi dirinya hanya diam dan sering kali mengangguk sebagai bentuk jawaban yang ia berikan ketika Donghae mengajukan pertanyaan yang meminta kesanggupannya. Dirinya yang berpenampilan 360 derajat berbeda dari biasanya itu bukan tanpa alasan sebenarnya, sejak matanya terbuka di pagi hari ini keinginan untuk berpenampilan cantik di depan Donghae adalah motivasi untuknya. Menerima segala paksaan Hyeomi untuk menggerai rambutnya, memasang aksesoris rambut yang mempercantik penampilannya dan jangan lupakan high heels yang begitu menyiksanya ini. Hanya bermodal harapan Donghae akan menatapnya malam ini. Semua murid menganguminya malam ini, tapi kenapa tidak berpengaruh pada Donghae ?. Wae ?. Mendengar Donghae mengungkit tentangnya seperti menanyakan hal sepele pun tidak. Sejak mereka bertemu malam ini Donghae langsung menghujaninya dengan segala hal menyangkut Min Seo. Apa hanya ada Cha Min Seo di matamu Lee Donghae.

“Kajja.” Genggaman Donghae di pergelangannya membuat Hyera tertarik sepenuhnya dari lamunannya. Hyera hanya mampu melepas senyum palsu sebelum kakinya melangkah mengikuti Donghae kembali ke tempat sebelumnya dimana kini sudah ada Hyukjae disana. Belum sampai sepenuhnya, Hyukjae sudah menghampiri mereka lebih dulu disusul Min Seo dibelakangnya.

Seketika genggaman Donghae terlepas begitu saja meninggalkan kehampaan di hatinya. Kehilangan. Cahaya yang meredup membantu Hyera menyamarkan raut wajahnya, pengecualian untuk seorang Lee Hyukjae. Fokusnya tak pernah lepas dari wajah Hyera. Mata almond yang dihiasi eyeliner itu menatap sayu kearah dua anak manusia yang sebentar lagi akan resmi menjadi sepasang kekasih. Hingga tiba saat pesta dansa, seluruh murid tengah bersiap dengan pasangannya masing-masing. Alunan instrumen mellow mengalun merdu memenuhi Aula tempat diadakannya pesta, seluruh murid mulai menggerakkan kaki mereka ke kiri dan ke kanan bersama dengan pasangan masing-masing. Hyera dan Hyukjae hanya terduduk ditempat semula, menatap tanpa minat ke tengah hall yang ramai orang berdansa ria.

“Yakin tidak ingin bergabung ?” tanya Hyukjae, mencoba peruntungannya dengan menawari Hyera untuk yang ketiga kalinya. Yeoja itu hanya terdiam sejak tadi dengan tatapan kosong menatap jauh kedepan sana. Siapa lagi yang dipandangnya jika bukan Donghae dan Min Seo.

“Hyuk-ah, apa aku begitu buruk ?” Bukan jawaban yang ia dapat melainkan sebuah pertanyaan ambigu yang terlontar dari bibir Hyera.

“Apa maksudmu ?”

“Semua orang memujiku malam ini, hanya satu orang yang sama sekali tak melihat kehadiranku.” Perlahan Hyukjae menangkap maksdu dari ucapan Hyera. Kini pandangannya ikut fokus pada Donghae di depan sana. Tertawa lepas bersama pujaan hatinya. Akankah mereka bisa tetap tertawa seperti itu jika tahu kebenarannya ?. Hyukjae sanksi akan hal itu.

“Kenapa menganggap satu orang sebagai masalah ?. Satu orang saja tidak akan menang melawan 100 orang. Jangan terlalu dipikirkan, kau sangat cantik malam ini.”

“Kau mengejekku ?”

“Bagian mana yang menyebutkan aku mengejekmu.”

“Kau tidak tulus mengatakannya.”

“Sejak kapan kau mengharapkan hal seperti itu ?. Kepalamu terbentur ya ?” untuk sesaat ia sempat terbuai dengan pujian Hyukjae namun hal itu tak bertahan lama karena Lee Hyukjae bukanlah ‘manusia’ biasa. Mulutnya mungkin akan langsung mengujar cantik pada hewan sejenisnya sekalipun. Monyet. Mulutmu Lee Hyukjae, manis pahitnya sangat terasa. Huh.

“Diamlah. Kau semakin membuat moodku down.” Selanjutnya tak ada lagi suara yang terdengar selain alunan lembut menyentuh telinga siapa saja yang berada di hall Paran School.

“Apa seseorang yang kau maksud itu adalah namja yang kau sukai ?. Cinta 3 tahunmu ?” Hyera tak perlu terkejut jika Hyukjae mampu menebaknya dengan akurat. Mereka sudah pernah bertukar cerita satu sama lain. Gadis yang nampak ayu dengan balutan gaun putih mengembang itu mengangguk lemah memberi jawaban. “Jadi namja itu ada disini ?” Hyukjae memasang tampang terkejutnya seolah-olah dirinya dibuat penasaran dengan sosok cinta 3 tahun Hyera. Lagi-lagi hanya anggukan lemah yang ia dapatkan. “Assa.”

“Apanya yang asyik ?. Jangan pernah berpikiran untuk mencari tahu siapa namja itu Hyuk-ah.” Cegah Hyera mencekal tangan Hyukjae yang sudah berdiri dari duduknya. Monyet ini tidak benar-benar berniat mencari tahu bukan ?

“Wae ?. Aku penasaran siapa namja malang itu. Jika aku berhasil menemukannya akan kuselamatkan dia darimu selagi belum terlambat.” Celetuk Hyukjae dengan nada mengejek. Jika dalam keadaan normal Hyera akan mendebat Hyukjae dengan teriakan, namun siapa yang menyangka jika yeoja berponi itu hanya menundukkan kepala sambil menghela nafas. Lelah.

“Keumanhae. Kau tidak perlu repot mencarinya. Malam ini semuanya akan berakhir..” Hyera menjeda kalimatnya, hatinya mendadak perih ketika mengingat janjinya tempo hari. “Tidak akan ada lagi cinta 3 tahunku esok hari Hyuk-ah. Aku akan mengakhiri perasaanku setelah hari berganti tengah malam nanti.”

Lee Hyukjae, namja itu terhenyak mendengar sederet kalimat yang baru saja meluncur mulus dari bibir ranum Hyera. Jangan tanya apa yang tengah ia rasakan saat ini ?, semuanya nampak semu ia rasakan. Antara harus senang, lega atau justru sedih. Tapi satu yang pasti bahwa keputusan ini sangat menyakiti hatinya sendiri. Song Hyera menyakiti hati dan perasaannya sendiri untuk kesekian kalinya. Hyukjae melepas pegangan Hyera dan berganti kini dirinyalah yang menggenggam kedua tangan Hyera, berjongkok di depannya. Menatap lembut wajah Hyera yang nampak murung.

“Kau yakin ?” Tidak. Pertanyaan macam apa ini ?. Mulut sialan, kenapa berucap tanpa diperintah ?. Rutuk Hyukjae menyesali pertanyaannya sendiri. Bagaimana jika Hyera merubah keputusannya karena pertanyaanmu barusan ?. Bodoh sekali kau. Tapi siapa sangka jika Hyera justru mengangguk penuh keyakinan.

“Dia.. namja itu…” Ucap Hyera begitu lirih dengan pandangan mata yang menatap jauh ke depan tepatnya kearah Donghae yang tak lepas dari senyum simpulnya. “Telah menemukan kebahagiannya. Aku tidak ingin menjadi penghalang untuknya dengan memaksakan egoku Hyuk-ah. Keurigo..” Menarik sebelah tangannya dari genggaman Hyukjae, kemudian menuntunnya ke sisi jantungnya berada. “Sangat menyakitkan jika terus menyimpan perasaan ini lebih lama lagi.” Akhirnya kau mengakuinya.

Mata itu nampak jelas mulai berkabut, siap kapan saja menumpahkan cairan yang ditampung di dalam kantung matanya. Tanpa ragu Hyukjae menarik Hyera ke dalam pelukannya. “Menangislah jika itu membuatmu lega.” Ucap Hyukjae sambil mengelus punggung Hyera mencoba menenangkannya.

“Aku akan menangis, tentu saja. Tapi tidak saat ini karena ada yang membutuhkan kita sekarang.” Hyera menarik tubuhnya dari pelukan Hyukjae yang entahlah terasa sangat nyaman. Hyukjae belum mengerti maksudnya, hingga kepalanya menoleh kebelakang mengikuti gerakan dagu Hyera. Donghae memberi ‘kode’ untuk memulai rencana. Belum sempat ia bertanya apa maksudnya, Hyera telah lebih dulu menariknya pergi menuju panggung. Apa yang hendak dilakukannya ?

“Apa yang akan kau lakukan ?. Jangan bilang kau akan bernyanyi disana.” Ujar Hyukjae lengkap dengan tatapan horor ke arah panggung membayangkan Hyera tengah bernyanyi dengan suara kelewat ‘merdunya’ itu.

“Bukan aku tapi kau. Aku tahu semuanya, selama ini kau menyembunyikannya dengan sangat baik Lee Hyukjae. Sayangnya itu pengecualian untukku. Ahjumma gemar sekali menceritakan impianmu menjadi penyanyi dan komposer. Bukankah ini saat yang tepat untuk menunjukkan bakat terpendamu ?.” Kepalanya terasa pening mendengar serentetan kalimat penjelasan Hyera. Lehernya mendadak kaku. Ingin rasanya ia menjerit sekarang. EOMMAAA…..

“Chamkamman. Ini terlalu mendadak. Tidak, aku tidak bisa melakukannya.”

“Jika saja suaraku tidak ‘semerdu’ dalam artian sebenarnya, dengan senang hati aku akan bernyanyi Lee Hyukjae. Jangan membuat semuanya hancur, cepat naik.”

“Kenapa harus aku ?” Hyukjae tetap kukuh dengan pendiriannya menolak melakukan permintaan Hyera. Bernyanyi itu memang kegemarannya, menciptakan sebuah lagu apalagi. Bermusik adalah hal yang paling ia sukai dan ia impikan untuk diwujudkan kelak kemudian hari. Tentu saja menyanyikan sebuah lagu bukan hal yang sulit ia lakukan, hanya saja semuanya butuh persiapan juga bukan ?.

“Lakukan demi mereka Hyuk-ah, teman kita.” Hyukjae masih menimang-nimangnya, hingga kalimat Hyera selanjutnya tak dipungkiri berhasil mencairkan tembok es yang ia pasang sebagai benteng pertahanan. “Lakukan demiku. Bernyanyilah untukku Lee Hyukjae.” Tak mampu lagi menolak, tanpa sepatah kata Hyukjae mantap menapaki tangga kecil menuju atas panggung. Lampu sorot seketika mengarah ke arahnya.

“Hyukjae ?. Apa yang dilakukannya disana ?” Min Seo melempar tanya pada Donghae yang menyembunyikan sesuatu dibalik senyum manisnya. Tak mendapat jawaban apapun kecuali senyum menawan Lee Donghae, Min Seo kembali mengalihkan perhatiannya keatas panggung.

“Ekkhemm… tes. Annyeonghaseyo yeoreobeun.” Hyukjae memulainya dengan sekujur tubuh yang kaku bahkan suara yang tertangkap mikrofon sarat akan kegugupannya. Ayolah, aku Lee Hyukjae idaman semua gadis. Kenapa harus gugup. “Jigeum… ” nampaknya orang yang gugup tidak semudah itu meyakinkan dirinya. Demam panggungkah ia saat ini ?. Hyukjae menyapu seluruh ruangan dengan mata sipitnya, Hyera yang baru saja muncul dari samping panggung kini berdiri dengan anggun di depan panggung. Memperhatikannya. Kehadiran Song Hyera memiliki arti tersendiri untuknya. Otak dan hatinya berteriak seirama ‘Bernyanyilah untuknya. Buat dia terkesan dan tersentuh dengan suaramu Lee Hyukjae.’

“Malam ini seseorang memintaku.. ahh anni, orang itu memaksaku untuk menyanyikan sebuah lagu. Tentu saja aku menolaknya. Keundae.. sesuatu menyadarkanku. Suatu hal yang semu baginya namun tidak bagiku, hal itu mendorongku untuk berdiri disini.” Hyukjae mengunci pandang matanya ke arah Hyera sebelum melanjutkan ucapannya. “Keputusanmu benar, lupakan dia. Lepaskan perasaan yang menyiksamu selama ini karena aku akan selalu ada disampingmu.” Suasana sekitar mendadak hening, semua yang hadir malam itu seolah memaksa otak di kepalanya untuk mencari makna tersembunyi dari ucapan Hyukjae dan siapa gerangan yang beruntung itu. Beruntung karena sepertinya Hyukjae memendam rasa terhadapnya. Tak jauh beda dengan yang dilakukan Hyera, ia tahu pasti siapa yang dimaksud Hyukjae. Tentu saja dirinya. Lalu apalagi yang ia pikirkan saat ini ketika semuanya sudah jelas. Otaknya menolak untuk menjawab justru hatinya yang berbicara. Pengakuan Hyukjae untuk selalu berada disampingnya tak urung membuat dirinya lebih tenang dan tanpa sadar mengikis perlahan beban pikiran akan nasib cinta 3 tahunnya.

Debaran jantungnya bertalu lebih cepat dari kadar normalnya. Tatapan Hyukjae untuknya saat ini membuat pikirannya serta ruang di hatinya porak poranda hingga tak berbentuk lagi. Berhenti menatapku seperti itu Lee Hyukjae. Dan ada apa denganku sebenarnya ?.

Musik intro dari lagu yang akan Hyukjae nyanyikan menguar masuk hingga menyentuh gendang telinganya. Hyera mengenal intro ini, lagu favoritnya. Lagu yang dinyanyikan subgroup dari boyband idolanya. Winter Love by D&E, astaga darimana namja itu tahu. Tak hanya dirinya, seluruh murid yang hadirpun tahu, dibuktikan dengan bisik-bisik kagum serta jeritan tertahan dari sekumpulan yeoja yang berdiri tak jauh dari dirinya sekarang. Great!, kumpulan fansmu Lee Hyukjae. Hyera membatin. Tiba saat dimana lirik pertama keluar dari mulut Hyukjae, Hyera dibuat terhenyak tak percaya sekaligus terkagum olehnya. Lee Hyukjae bernyanyi rap ?.

Cham manheun ge byeonhaesseo neorang na ttag dumyeong ppaego
nan dareun sijag e nae nun biceun hangsang buranhaetgo
himdeulgetji machi uri ap jogeuman chotburi dwaetgo …

Modeun ge kkum in deus hae
saehayahdeon nae juwiga da nogabeorin deuthae
nal gamssa aneun chuwiga itjanha na mianhan mallo neoreul ullijido molla 
huin nun e deopyeobeorin baljagug doragal goseul molla

Di awal penampilan Hyukjae hanya berdiri di tengah panggung dengan gerakan kecil ditangannya sebagai bumbu pelengkap penampilan dadakannya ini. Dari rap berganti ke main vocal, dan suara Hyukjae tak perlu diragukan lagi. Hyera memujinya dengan hati tulus, “Kerja bagus Hyukjae-ah. Kenapa tidak dari dulu saja aku memintamu bernyanyi.” Tiba di bagian reff, tubuh Hyera agaknya terhuyung saat tiba-tiba sekumpulan ‘fansgirl’ Hyukjae berlari mendekat ke arah panggung. Entah sengaja atau tidak menabrak tubuhnya yang berdiri dekat dengan panggung saat itu.

Gaseumi apaseo nunmuri na
ireohgeneun nan neol mos nwa (no way)
du nuneul gam a naega neol bol su eobseo no more yeah
meomchul su eobneun ibyeorui sigan
uri ajig aswibjanha (aswibjanha)
ijen no more no more
Oh no kkeuteun aniya Baby

“Heol.. lihat betapa tenarnya kau Lee Hyukjae.” Tinggi badannya yang rata-rata membuatnya tak leluasa melihat penampilan ‘memukau’ Hyukjae karena terhalang kerumuman di depan sana. Merasa tak terima Hyera ikut bergabung berdesakkan dengan fans fanatik Hyukjae untuk mencapai tempat paling depan. Persetan dengan penampilannya saat ini, yang terlintas di kepalanya hanya ‘ini lagu favoritnya dan dirinyalah yang meminta Hyukjae untuk bernyanyi malam ini. So pasti dia yang berhak melihat penampilannya di barisan paling depan.’

“Apa aku tidak salah lihat ?. Benarkah itu Hyera ?” Donghae yang di lempari pertanyaan hanya mengangguk cengo melihat kejadian tak terduga di depan sana. Rasa khawatir hinggap dalam dirinya, takut jika rencananya akan gagal karena semua diluar perkiraannya. Rencana awal ia akan mengajak Min Seo berdansa di tengah aula hingga semua perhatian terfokus pada mereka dan akan dilanjutkan dengan rencana berikutnya. Tapi yang ia dapat bukanlah perhatian seluruh murid melainkan punggung mereka yang kini justru menikmati penampilan Hyukjae. Jangankan perhatian orang lain, sosok yeoja di sampingnya saja kini nampak menikmati nyanyian Hyukjae. Kesalahan besar Song Hyera karena membagi tugasnya pada Hyukjae.

Saat kaki jenjangnya hendak maju lebih dekat kearah panggung karena suara merdu Lee Hyukjae seolah telah menghipnotisnya, sebuah tangan berhasil menghentikan niatannya. “Tetaplah disampingku Cha Min Seo.” Cegah Donghae dengan lembut.

“Aku hanya..”

“Kumohon.” Melihat kesungguhan di mata Donghae membuatnya luluh, kepalanya mengangguk. Apa yang baru saja ia pikirkan, meninggalkan Donghae untuk ikut bergabung dengan ‘fans dadakan’ Hyukjae. Kenapa dirinya terkesan seperti gadis gampangan.

Kita tinggalkan mereka berdua dan kembali pada nasib Hyera saat ini. Lagu sudah akan mencapai ujung dan dirinya belum mendapat akses untuk mendekati panggung. Sepadat apa kerumunan ini sebenarnya ?. Pikirnya. “Yakkk.. menyingkirlah.” Teriakan itu bukan dari mulutnya, justru dialah yang di minta menyingkir. Astaga Lee Hyukjae, fans mu sangat ganas. Pasrah, tubuhnya kembali terdorong ke belakang, ingin hati menjambak satu per satu rambut mereka semua dan melemparnya ke belakang. “Seharusnya aku tetap diatas panggung saja tadi.” Gerutu mulutnya sebal. Hyera menyerah, tubuhnya berbalik hendak menghampiri Donghae dan Min Seo yang tengah menatapnya di belakang sana.

“Bagaimana bisa aku melupakan rencananya ?. Donghae-ah mianhae.” Bisiknya pada diri sendiri merutuki kebodohannya yang terbuai akan suara emas Lee Hyukjae hingga melakukan hal bodoh layaknya fansgirl seperti mereka semua dan melupakan rencana awal. Raut menyesal jelas kentara di wajah cantiknya. Kaki nya mulai melangkah hendak mendekat namun terhenti karena suara di belakang sana mengintrupsi namanya.

“Song Hyera.” Hyukjae melafalkan namanya melalui mikrofon ditangannya. Membuat seisi ruangan mendengar panggilannya, bersamaan dengan lampu sorot yang kembali menyorotnya. Tubuhnya membeku dengan pikiran yang berkecamuk. Apa yang monyet itu lakukan ?. Pasalnya lagu Winter Love belum benar-benar mencapai puncaknya, saat musik mengalun cukup lama seakan memberi jeda. Hyukjae menggunakannya untuk merapal namanya hingga seisi ruangan menoleh kearahnya. Mau tak mau dengan kaku Hyera membalik tubuhnya menghadap panggung dengan pemandangan awal seluruh mata yang tertuju padanya.

Hyukjae melangkah pasti penuh gaya layaknya penyanyi profesional menapaki anak tangga menuruni panggung. Melewati kerumunan yang menyingkir memberi jalan dengan sendirinya menuju kearahnya. Tiba saatnya Hyukjae kembali menyanyikan lirik selanjutnya, benar-benar bagian akhir dari lagu favorit Hyera itu.

Bulleobonda neoreul (dasi neoreul bureunda) 
Buleobonda neoreul (hello hello)
Bulleobonda neoreul (ajikdo nan)
Buleobonda neoreul (I’m calling you)

Lee Hyukjae, putra tunggal keluarga Lee itu berhasil memikat seorang Song Hyera dengan suara emasnya dan tatapan mata yang membuat kerja jantungnya melompat sangat tinggi di dalam sana. Keduanya berdiri berhadapan di tengah aula masih saling menatap dalam diam. Melupakan kenyataan bahwa mereka menjadi pusat perhatian malam ini. Lagu telah berakhir, menyisakan intrumen lembut yang memberi kesan romantis disana. Hanya menatap dalam diam menyelam ke dalam kelopak mata sang lawan mencoba menemukan jawaban dari kerisauan hatinya. Hyukjae memulai lebih dulu dengan dua langkah pelan mengikis jarak yang ada. “Bernafas Ra-ya.” Bisikan Hyukjae membuat dirinya tersadar, Hyera menghirup rakus oksigen hingga penuh dan menghembus kasar berulang kali. Sejak kapan dia menahan nafas ?.

Tiba-tiba gejolak panas dalam tubuhnya naik mencapai wajahnya, membuat kedua pipinya merona. Tentu saja hal ini tak luput dari mata sipit Hyukjae, terbukti dengan tarikan di bibir tipisnya. “Apa aku baru saja membuat Song Hyera merona malu ?” Ledek Hyukjae.

“Yakk keumanhae.” Sergah Hyera berpura-pura marah agar Hyukjae tak mengetahui penyebab sebenarnya pipi ini merona. Berharap namja ini mengira pipinya merah karena marah meski sebenarnya Hyukjae sudah mengetahui penyebabnya. Sungguh Hyera sangat menggemaskan, jika saja ia tak mengingat tempat dan kondisi saat ini mungkin Hyukjae sudah mengecup kedua pipinya yang memerah itu. Membayangkannya membuat Lee Hyukjae terkikik sendiri. Aku masih ingin hidup Tuhan. Jadi, ingatkan aku untuk tidak sampai melakukannya. Meski sangat ingin.

“Cepat katakan padaku !”

“Mwo ?” Tanya Hyera dengan wajah tanpa dosa. Justru terlihat lebih menggemaskan.

“Berhenti memasang wajah itu Ra-ya..” Geram Hyukjae namun ia ungkapkan dengan nada datar, sebiasa mungkin.

“Apa yang salah ?. Jika yang kau masalahkan adalah wajah cantikku. Jangan salahkan aku karena ini sudah dari sana-nya.” Tukas Hyera penuh percaya diri. Sayangnya justru dihadiahi sentilan di dahinya yang tertutup poni.

“Rencana selanjutnya Ra-ya, katakan padaku jika tidak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama lagi.” Seakan tertampar kenyataan yang ia lupakan, Hyera melirik kerumunan di balik tubuh Hyukjae. Sialnya tidak hanya itu tapi semua yang hadir berada di sekeliling mereka, tak memberi tempat barang secelahpun untuknya sembunyi dari rasa malu.

“Katakan apapun dengan mikrofonmu Lee Hyukjae. Cepat lakukan..” Perintah Hyera telak tanpa mampu dibantah mengarahkan mikrofon ke depan mulut Hyukjae. “Katakan saja bahwa ada teman kita yang ingin mengejutkan seseorang malam ini. Katakan apapun untuk membantu Donghae memulai aksinya. Ppalli.” Hyera melangkah maju semakin dekat dengan tubuh Hyukjae, menundukan kepalanya mencari persembunyian di depan dada bidang Hyukjae. Ohh jantungnya yang abnormal mulai berulah manakala aroma shampo khas Hyera menguar ke dalam penciumannya.

“A..ap-pa yang kau lakukan ?” Hyukjae gugup setengah mati hingga suaranya tergagap, namun yeoja ini hanya menggeleng dengan posisi tetap membuat si namja sendiri merasa panik. Panik jika Hyera sampai mendengar degup jantungnya yang menggila.

“Katakan apapun untuk mengubah fokus mereka ke arah Donghae dan Min Seo. Aku benci di tatap seperti ini Hyuk-ah.” Jelas Hyera masih dalam posisi menunduk, tatkala Hyukjae tak kunjung mengeluarkan suara. Dengan sisa-sisa akal sehat yang tertanam di kepalanya, Hyukjae mengangkat mikrofon dengan tangan kanannya mendekat ke depan bibirnya.

“Yeoreobeun.. bukankah malam ini sangat indah ?.” Tak hanya dirinya yang nampak tak percaya dengan apa yang baru saja terucap. Hyera yang tertunduk pun seketika mendongak tak percaya. Dengan tatapan mata yang seolah berbicara, ‘Kalimat yang bodoh Lee Hyukjae’. “M-maksudku.. malam ini akan menjadi malam yang paling kita kenang nantinya. Kalian tahu kenapa ?.” Keheningan yang tercipta sebelumnya perlahan terganti dengan bisik sana-sini mempertanyakan apa yang sebenarnya Hyukjae maksud.

“Malam ini bukan kami tokoh utamanya. Sebenarnya kami hanyalah tokoh pembantu. Jika kalian ingin tahu siapa tokoh utamanya mudah saja. Senang hati aku akan memanggilnya.” Hyukjae mengubah arah pandanganya menatap Donghae yang berdiri tegang di samping Min Seo. Mungkin namja itu tegang karena semua ini diluar rencananya. Lampu sorot yang semula menyorot penuh ke arah Hyukjae dan Hyera kini bergeser dengan pasti hingga terhenti di atas kepalan Donghae dan Min Seo. “Lee Donghae kurasa ada yang ingin kau katakan pada seseorang malam ini. Tunggu apalagi ?.”

Si tokoh utama dengan susunan rencana romantis yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari namun nyatanya berjalan tak sesuai rencana, Lee Donghae sejenak menegang di tempatnya. Bukan karena ulah Hyukjae melainkan tatapan penuh tanya dari sosok di sampingnya. Tatapan Min Seo seolah mengulitinya saat ini. Aula yang mulanya hening mendadak ‘ricuh’ mempertanyakan sebenarnya apa yang hendak dilakukan oleh 2 namja tampan ini. Bertambah ramai manakala Donghae pergi begitu saja entah kemana. Namun tak berselang lama namja itu kembali dengan sebucket bunga mawar merah ditangannya. Teriakan tertahan dari siswi yang hadir malam itu lebih mendominasi, dibuat kagum dengan keromantisan Donghae yang entah untuk siapa. Hingga kembali ke tempatnya yaitu di samping Min Seo, keduanya kini saling berhadapan dengan lampu sorot yang masih anteng di atas kepala.

Menyelipkan senyum terbaiknya, Donghae memulai kalimatnya. “Semuanya berjalan diluar rencanaku karena nyanyian Hyukjae bahkan merebut perhatianmu. Maaf jika mengejutkanmu Seo-ah, malam ini ada satu hal yang harus kau tahu.” Mengambil jeda sejenak untuk menghirup oksigen yang semakin menipis di rongga dadanya. “3 tahun aku memendamnya untukmu, mencoba banyak hal untuk merebut perhatianmu dan setelah 3 tahun lamanya barulah kau melihat kesungguhanku. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini karena itu aku akan mengakhirinya sekarang.” Mendengar kata akhir membuat kepercayaan dirinya menciut. Min Seo berpikir bahwa Donghae akan mengakhiri hubungan semu ini. Disaat dirinya mulai melabuhkan hati pada satu nama dan namja ini akan melepas pegangannya ?. Min Seo menunduk tak kuasa menerima fakta menyakitkan yang mungkin akan segera terjadi. Ditolak sebelum terikat dalam suatu hubungan kekasih.

“Cha Min Seo… ” Aku mulai menyukaimu Lee Donghae, ani.. mungkin sudah mencintaimu. Jangan lanjutkan kalimatmu atau itu akan sangat menyakitiku. Donghae menyodorkan sekumpulan bunga mawar yang dirangkai cantik dengan harapan besar yeoja di depannya ini mau menerimanya. “Aku mencintaimu. Jadilah kekasihku Seo-ah.”

®IMMOLATION®

Jarum jam sudah menunjuk angka 10 dan 2 kala itu saat Hyukjae dan Hyera keluar dari Aula tempat final party berlangsung. Jelas terlihat senyum yang tak absen menghias wajah cantiknya lenyap begitu saja saat keduanya melewati pintu keluar. Pesta belum berakhir namun Hyera memilih untuk segara pulang dengan alasan Hyeomi menelponnya berulang kali memintanya untuk pulang. Tak ada pilihan lain selain meng